Bab 2

Mentari pagi mulai terbangun dari peraduannya, tetapi netra ini seakan engan untuk menyambutnya. Dekapan hangat dari seseorang yang kini telah berbagai ranjang denganku semakin membuatku terlena, dia adalah Ryan Ahmad Salim, pria yang sudah 6 bulan ini menjadi suamiku.

Aku harus segera bangkit dari lilitan kokoh lengannya, karena jika tidak bisa dipastikan kalau kami akan semakin kerepotan, apalagi 'dia' pasti sebentar lagi akan menjerit heboh karena tidak menemukanku di ada sampingnya. Alshad Ahmad Salim, putra semata wayang kami.

"Bunda!"

Nah kan! kalau sudah begini mau tidak mau aku memang harus beranjak dari dekapannya. "Mas, lepasin itu Alshad sudah teriak-teriak," Dia hanya bergumam dan menggeser lengannya yang semula melingkar di pinggangku.

Segera kuhampiri anak itu, sebelum teriakannya berubah menjadi tangisan yang sangat menggangu. Dan ya, beginilah rutinitasku setiap harinya, semenjak resmi menyandang status sebagai istri dan juga ibu. "Selamat pagi, Al! Gimana tidurnya, nyenyak nggak?" sapaku sambil kupeluk tubuh mungilnya dengan sayang.

Dia lantas mencari posisi ternyamannya, yaitu segera naik ke atas pangkuanku, "Bunda lama, Al sudah panggil dari tadi tapi nggak datang-datang." Rajuknya.

"Bunda sudah tau kalau Al sudah bangun. Sengaja mau lihat Al, nangis atau tidak pagi ini kalau bunda terlambat datang, ternyata anak bunda ini sudah hebat?" ucapku mencubit gemas pucuk hidungnya.

"Nanti ayah marah lagi, kalau Al nangis," adunya.

Kemarin ayahnya sempat marah, karena dia menangis dan tidak mau diam kalau bukan aku yang menenangkannya, saat itu aku tengah kerepotan menyiapkan sarapan.

"Marahnya ayah kan karena sayang sama Al. Ayah nggak mau kalau anaknya ini jadi anak yang cengeng."

"Iya, tapi Al takut, Bunda," adunya lagi memberingsut kedalam pelukanku.

Aku lantas menyuruhnya untuk membangunkan sang ayah, karena kulihat jarum jam yang menggantung di dinding sudah menunjukkan angka 06.00 pagi, dan ini sudah sedikit terlambat dari biasanya.

Artinya aku harus segera menyiapkan sarapan dan keperluan anak semata wayang kami untuk pergi ke sekolah, sekaligus day care buat dia. Tidak setiap hari juga, karena ada neneknya yang menjemput saat aku dan Mas Ryan masih bekerja.

Setelah semuanya selesai aku segera kembali ke kamar untuk bersiap diri, kulihat mereka juga sudah rapi dengan pakaian masing-masing. Mas Ryan cukup bisa diandalkan dalam mengurus anak itu, mungkin karena sudah terbiasa.

Dari Al masih bayi, Mas Ryan pernah bilang jika dirinya lah yang mengurus Alshad, jangan tanyakan kenapa karena aku tidak tau dan tidak mau tau, karena itu urusan Mas Ryan dengan masa lalunya.

"Sudah mas siapin air untuk mandi segera bersiap ya, mas tunggu di meja makan sama Al," titahnya tak lupa kudapatkan kecupan lembut mendarat di keningku, selalu setiap pagi dilakukan olehnya.

Selama 6 bulan usia pernikahan kami, aku selalu diperlakukan sangat manis olehnya. Begitupun denganku yang selalu berusaha melakukan tugasku sebaik mungkin, sebagai seorang istri, sekaligus ibu.

Tidak pernah terbayang sebelumnya, jika seorang Nisya Kailandra, akan menikah dengan seorang duda sepaket dengan anaknya. Awalnya aku takut tidak bisa menjadi ibu sambung yang baik buat anaknya. Namun satu kejadian yang langsung membuatku tersadar akan arti ibu yang sesungguhnya.

Ketika 'dia', Alshad Ahmad Salim, pertama kali dipertemukan denganku. Diluar dugaan bahwa Alshad langsung memanggilku 'Bunda' serta memeluk erat diriku. Saat itu juga rasanya akulah yang sudah melahirkan dia di dunia.

Tidak bisa berkata-kata lagi, kubalas pelukannya saat itu dengan tak kalah eratnya, sampai netra ini terasa panas menahan lelehan air mata yang berusaha aku tahan, namun akhirnya luruh juga.

Bukan hanya aku, bahkan semua yang melihatnya pun ikut terharu. Mulai saat itu juga aku berjanji kalau akan menganggapnya sebagai anak kandungku sendiri.

Karena untuk menjadi seorang ibu menuruku tidak harus melahirkankan terlebih dahulu, seperti yang kualami ini. Bukan aku yang melahirkannya, tapi ketika melihat tatapan polos dan mulut mungilnya memanggilku dengan sebutan 'Bunda' itu sudah membuatku merasakan jika akulah yang telah melahirkannya.

Terlepas dari rumitnya hubungan kami orang tuanya, aku memilih untuk tidak memikirkannya, karena tujuanku sekarang hanya akan fokus untuk merawatnya saja.

Kurasa Mas Ryan juga sadar akan hal itu, jika huhungan kami tidak melibatkan perasaan, sebagaimana mestinya pasangan suami-istri yang lain.

Namun itu tak lantas membuatku lalai akan tugasku sebagai seorang istri, aku tetap melayani suamiku baik lahir maupun batin.

Mas Ryan juga tidak mempermasalahkan hal ini, dia cenderung pendiam orangnya, tidak terlalu banyak bicara dan lebih suka menunjukkan perhatiannya itu lewat tindakannya langsung.

Dia hanya tidak suka jika keberadaannya diabaikan, makanya aku tidak pernah berani bermain ponsel atau menyibukkan diri ketika sedang bersamanya.

Masih terngiang ucapannya kala itu.

"Mas, nggak masalah jika kamu mau bermain ponsel atau sibuk dengan pekerjaanmu, tapi tolong jangan lakukan itu ketika sedang bersama mas. Karena mas enggak suka keberadaan mas diduakan apalagi sama benda mati."

Cukup satu kali, dan aku tidak pernah mengulanginya lagi sampai saat ini. Aku sudah cukup mengerti apa yang diinginkan olehnya, dan tidak pernah sekalipun aku membantah setiap ucapannya.

Karena memang apa yang diucapkannya itu selalu tentang kebaikan, bagaimana mungkin aku bisa membantahnya, kan?

Setidaknya keputusanku untuk menerima perjodohan ini tidak sia-sia, karena aku bisa merawat anak selucu dan sepolos Alshad, hanya karena dia yang bisa membuatku bertahan sampai sekarang.

Kehadirannya bagaikan magnet buatku dan Mas Ryan, yang awalnya hubungan kami dingin menjadi lebih hangat karena adanya Alshad di tengah-tengah kami.

Aku masih heran sampai saat ini, bagaimana bisa orang sebaik dan selembut Mas Ryan bisa mengalami kegagalan dalam rumah tangganya. Sungguh betapa bodohnya wanita itu yang sudah meninggalkan orang sebaik Mas Ryan.

Lantas bagaimana denganku? Apakah aku merasa beruntung sekarang, karena sudah menjadi istrinya.

Atau malah sebaliknya Mas Ryan yang tidak beruntung mendapatkan aku sebagai istrinya? Entahlah, hubungan kami memang serumit itu. Karena masing-masing dari kami masih menyimpan misteri dari kisah masa lalu yang membelenggu.

Ataukah hanya aku saja di sini yang membuat hubungan ini rumit. Karena sampai saat ini Mas Ryan terlihat biasa saja, aku tidak tau apa yang sebenarnya dirasakan oleh suamiku karena diusia pernikahan kami yang sudah menginjak setengah tahun, dia tidak pernah mengungkapkan perasaannya kepadaku.

Bab 3

"Percaya sama papa, Ryan orang baik, papa yakin kalau kalian akan cocok nantinya. Lagian papa juga nggak mungkin asal memilih jodoh buat kamu, putri semata wayangnya papa."

Teringat ucapan papa saat beliau memutuskan untuk menjodohkanku dengan Mas Ryan, awalnya aku menolak dengan tegas keinginan papa, bagaimana bisa aku menikah dengan seorang yang sama sekali belum pernah aku kenal. Terlebih dengan statusnya yang seorang duda dengan satu anak.

Atas paksaan papa dan juga mama akhirnya mau nggak mau aku terpaksa harus menerima Mas Ryan sebagai suamiku. Tentunya melalui banyak drama dariku yang berusaha agar papa luluh dan membatalkan niatannya itu. Namun ternyata tak seburuk bayanganku, aku mengira akan sulit menjalani pernikahan ini. Terlebih aku juga harus terpaksa menjadi ibu saat itu juga, aku tentu saja takut jika nantinya tidak bisa menjalani kewajibanku sebagai seorang ibu yang baik. Nyatanya ketakutanku terbantahakan pada akhirnya, karena justru kehadiran anak itu lah yang kini membuat hubungan kami berjalan dengan baik.

Kembali ke rutinitasku pagi ini aku bangun lebih awal dari biasanya, karena beberapa hari terakhir aku selalu datang mepet waktu. Kesibukanku saat pagi memang memakan waktu yang cukup lama.

Mengurus suami serta anak terlebih dulu, nggak mungkin aku abai sama keperluan mereka terutama dalam hal makanan, sebisa mungkin aku membiasakan untuk sarapan bersama setiap pagi. Dan untuk itu tentu saja akulah yang harus menyiapkannya sendiri.

Karena tuntutan pekerjaan, aku diharus kan berangkat lebih dulu dari Mas Ryan, dan juga Alshad. Sebagai seorang guru di sekolah menengah atas, kami para pengajar dituntut untuk datang lebih awal dari para murid didik kami. Sebagai contoh bagi semua siswa di sekolah kami agar disiplin waktu.

Sudah jalan dua tahun aku mengabdikan diri sebagai pengajar, yang sebenarnya bukan cita-cita yang aku inginkan. Karena sesungguhnya cita-citaku sudah sepenuhnya aku realisasikan.  Ini semua aku lakukan bukan murni dari hatiku, melainkan hanya sebagai bentuk penghargaanku kepada seseorang yang namanya bahkan sampai saat ini masih bertahta di dalam hatiku.

Apa aku jahat? Karena masih menyimpan perasaan kepada orang lain, padahal statusku sudah menjadi seorang istri. Aku sendiri tidak tau, ingin aku melupakannya dan mengganti dengan nama suamiku tapi tidak bisa.

Semakin aku berusaha melupakannya perasaan itu malah semakin kuat aku rasakan dan tak mungkin bisa tergantikan oleh siapapun.

Sampai sekarang Mas Ryan tidak tau akan hal ini, yang dia tau hanya aku yang belum bisa mencintainya. Selebihnya dia tidak pernah mau tau tentang masa laluku. Tapi bukankah ini sudah adil? Sebab dirinya pun punya masa lalu yang sampai saat ini mungkin belum ada kata selesai di antara mereka. Karena sama seperti Mas Ryan, aku pun tidak pernah menanyakan perihal masa lalunya.

"Mas, sarapan sudah siap aku berangkat kerja dulu, ya," pamitku kepada Mas Ryan.

"Sarapan dulu, Nis, Nanti mas antar cuma nunggu sebentar bisa, kan?"

"Nggak usah Mas, aku langsung berangkat sendiri aja mumpung masih jam segini, belakangan aku mepet terus datangnya."

"Cuma lima menit, kamu juga pasti belum sarapan."

"Nggak sempat Mas, nanti aku sarapan di kantin saja," ucapku menolak tawarannya.

Aku segera mengulurkan tangan bermaksud untuk pamit kepadanya, namun Mas Ryan malah menarikku untuk duduk di sampingnya dan selanjutnya menyuapiku dengan makanan yang telah kusiapkan untuknya.

Akhirnya kami sarapan dalam diam, dengan Mas Ryan yang masih terus menyuapiku bergantian dengan dirinya sendiri. Dia melarang saat aku hendak mengambil piring untuk aku gunakan mengambil makananku sendiri.

"Biar mas saja kamu bawa Alshad, ke mobil dan juga barang-barang lainya jangan ada yang tertinggal," cegahnya saat aku akan membereskan meja makan.

Aku tidak bisa membantah setiap ucapannya, segera kuajak Alshad untuk bersiap dan menunggu di dalam mobil.

"Sudah semua kan? Nggak ada yang ketinggalan?" tanyanya setelah dia masuk dan duduk dibalik kemudi mobilnya.

Aku hanya menggeleng menanggapi pertanyaannya, agak kesal sebenarnya tapi entah kenapa aku selalu tidak bisa melawan setiap perintahmya. Sebenarnya apa yang terjadi sama diriku ini, kenapa aku bisa begitu menurut terhadapnya? Alam bawah sadarku seolah menolak setiap kali Mas Ryan bersikap seperti ini, tapi entah kenapa ragaku selalu saja tak berdaya dibuatnya. Sehingga selalu saja menurut dan seolah menikmati setiap tindakan yang dilakukan olehnya.

"Al, yang pintar ya sekolahnya nurut sama ibu guru dan nggak boleh rewel," pesanku ketika mengantar Alshad sampai depan pintu gerbang sekolahnya.

Setelah memastikan anak itu masuk dan disambut oleh gurunya, aku langsung kembali masuk mobil untuk melanjutkan kembali perjalanan menuju sekolah tempatku mengajar.

"Marah sama, mas?" tanyanya melirik ke arahku sekejap.

Mungkin dia ngerasa kalau aku sedang kesal padanya, "enggak, kenapa?" jawabku, dia hanya menghendikan bahu acuh dan kembali fokus dengan kemudinya.

Sesampainya di sekolah, aku langsung pamit dengan mencium punggung tangannya, dan dibalas kecupan hangat di keningku juga usapan lembut di puncak kepalaku. Hubungan kami memang tanpa cinta, tapi sebisa mungkin kami menjalani pernikahan ini selayaknya pasangan normal lainnya. Seperti ritual ini yang sudah wajib kami lakukan, terlebih Mas Ryan sendiri yang memulainya sejak awal aku resmi menyandang status sebagai istrinya.

"Hubungi mas, jam berapapun kamu selesai mengajarnya."

"Aku pulang sendiri saja, Mas. Lagian jam pulangnya Nisya juga nggak menentu."

"Nggak masalah, bukanya tadi sudah mas katakan jam berapapun kamu selesai."

"Aku bisa pulang sendiri ...."

"Mas tau, cuma tolong Nis mulai sekarang gunakan mas ini sebagai suamimu, bisa?" pintanya.

"Selama ini selalu kamu yang direpotkan untuk mengurus kami, kali ini biarkan mas sedikit berguna untuk kamu," sambungnya.

"Nggak gitu, Mas. Cuma ...."

"Mas berangkat, ingat pesan mas tadi," putusnya tanpa mau mendengarkan ucapan yang akan aku lontarkan.

Sepeninggal Mas Ryan, aku langsung melangkah menuju ruanganku. "Senangnya yang pagi-pagi sudah diantar mas suami," celetuk salah satu guru di sini yang sialnya dia adalah sahabatku.

Pastinya dia akan terus menggodaku seharian ini. "Biasa aja," balasku cuek tanpa mau menoleh ke arahnya dan terus melangkah menuju ruang guru.

"Masih pagi sudah judes aja Mbak, kenapa? Nggak dapat jatah dari Mas Ryan, tah, semalam?" ucapannya kubalas dengan pukulan di lengannya.

"Nggak sadar tempat banget kalau ngomong." Dia malah terkekeh geli menanggapi kekesalanku.

Arsena Nadhira, sahabatku yang sudah tau seluk beluk perjalanan hidupku selama ini. "Nanti mau mampir nggak? Maaf minggu kemarin aku ada urusan jadi belum sempat ke sana."

"Kayaknya nggak bisa, Sen. Mas Ryan maksa mau jemput, nitip salam aja, ya."

"Cie, yang sekarang sudah ada yang antar jemput," ujarnya mulai menggodaku.

Sena, dia tidak akan berhenti untuk cengin aku. Maka aku putuskan untuk lekas meninggalkannya. Mengabaikan ocehan Sena yang masih bisa kudengar, aku nggak mau tambah badmood pagi-pagi karena membahas masalah ini. Kasian nanti murid-muridku kalau sampai kena imbasnya.

Bukan tidak sadar jika belakangan ini Mas Ryan mencoba untuk mendekatkan diri padaku, tapi aku tidak menyangka kalau akan secepat dan sedrastis ini Mas Ryan melakukan niatannya. Dan yang aku sesalkan kenapa aku seolah-olah nyaman dan tidak mampu untuk menolak setiap perhatian juga perlakuan manis darinya. Seperti pagi tadi, aku bahkan tidak dapat menolak saat dia menyuapiku makan.

Apa aku sudah mulai menerimanya? Kurasa tidak karena sampai saat ini aku masih belum bisa melupakan 'dia' dari ingatanku. Bayang-bayang wajahnya masih bisa aku ingat bahkan sampai saat ini.

Sebelum masuk kelas untuk mengajar, ponsel yang berada di dalam tas berdering. Masih ada sedikit waktu untuk membuka pesan tersebut dan mencari tau siapa gerangan yang sudah mengirimkan pesan itu padaku.

Hanya satu baris kalimat singkat dan nama pengirim yang tertera di atas layar, tetapi efeknya bisa sedahsyat ini buatku. Bahkan jantungku terasa semakin kuat detakannya dan juga aku merasa seperti ada kupu-kupu yang sedang berterbangan di dalam perutku.

"Selamat bekerja!"

Beserta emoji love diakhir kalimatnya.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED