Bab 2

Melihat pria yang hadapannya itu sangat menyebalkan. Jelas membuat wanita itu merasa kesal. Ia melirik pria itu sambil duduk di hadapan pria itu.

“Apa dia gila? Kenapa pria ini sangat menyebalkan sekali!” ucap Quin di dalam hatinya.

Quin adalah seorang wanita muda. Ia bekerja di sebuah Perusahaan ternama. Di tempat bekerjanya, ia memiliki seorang mantan kekasih. Mantan kekasihnya seorang manager di perusahaan di mana ia bekerja. Sedangkan Quin sendiri juga seorang manager. Tapi mereka beda divisi.

Quin masih diam. Ia hanya memerhatikan pria yang ada di hadapannya itu dalam diam.

Arion melihat wanita itu sambil menatapnya dengan tatapan yang tajam.

“Makanlah, aku tidak memberikannya racun! Tidak perlu kau berterima kasih padaku! Tapi setelah ini, aku akan membuat perhitungan denganmu!”

Quin mengernyit. “Perhitungan apa? Sedangkan kau sudah merenggut mahkotaku!” ucap Quin ketus.

“Perhitungan karena kau sudah mengotori jaket mahalku! Aku jelas akan meminta kau untuk mengganti rugi!” sahut Arion yang tak kalah ketusnya.

Quin menelan salivanya. “Tapi kan aku tidak melakukan kesalahan! Aku juga tidak sengaja.”

Arion mendorong sebuah box yang ada di bawah meja makan miliknya dengan menggunakan sebelah kakinya.

“Itu, kau boleh mencucinya atau kau boleh menggantinya dengan yang baru, terserah kau saja!” ucap Arion lalu ia memakan potongan rotinya yang terakhir.

Quin menatap kotak itu. Ia ingin membukanya lalu Arion langsung menginjaknya dengan sebelah kakinya.

Quin kaget. “Aku sedang makan, itu sangat bau dan menjijikan,” ucap Arion lalu meminum kopi buatannya sambil menatap Quin yang masih diam membisu.

Quin masih diam. Ia jelas kesal. Memangnya siapa pria ini? seenaknya saja membuat keputusan. Tapi kalau bukan dia yang sudah menyelamatkanku. Tidak mungkin juga aku selamat hari ini. Bisa saja, sesuatu akan terjadi padaku, batin Quin.

“Dimakan dulu, aku tidak suka di bantah! Kau sudah menyusahkanku. Dan aku sudah membantumu. Jadi jangan membuat aku susah lagi!” ucap Arion kesal karena sejak tadi wanita itu seperti orang bodoh saja. Diam terus dan jelas itu sangat membuatnya kesal sekali.

Quin menatap rotinya lagi. Ia sebenarnya ragu, takut roti itu diracuni atau diberikan obat yang entah apalah itu. Tapi ia juga tidak enak dengan pria sinting ini.

Quin mau tidak mau memakannya saat mendengar perutnya kembali bernyanyi.

‘Dasar perut sialan!’

Arion yang mendengarnya hanya menggelengkan kepalanya. Ia memilih meninggalkan wanita itu sendirian. Arion paling malas berurusan dengan wanita. Pasti akan sangat menyebalkan sekali.

Quin menghabiskan rotinya dengan cepat. Mumpung tidak ada pria itu ia memakannya dengan sangat lahap sekali. Quin tak bisa menahan rasa lapar ini. Dan perutnya juga tidak bisa diajak kompromi sama sekali.

Arion menuju kamarnya untuk mengambil jaket miliknya. Pakaian yang ia gunakan selalu saja casual walau ia harus pergi ke kantor.

Siapa yang ingin memarahinya? Bahkan orang tuanya juga tak mau ambil pusing selagi pakaian yang digunakannya sopan.

Quin menatap pria yang baru saja turun dari kamarnya. Ia sudah menunggu Arion sejak tadi.

Arion memerhatikan Quin. Ia memberikan kartu nama miliknya.

“Hubungi aku jika kau sudah membersihkan jaket milikku. Takutnya aku tidak ada di apartemen ini.”

Quin mengambil kartu nama itu. Lalu ia mengambil kotak yang berisi jaket milik Arion.

Mereka berdua langsung keluar dari dalam apartemen lalu menuju basement.

Arion membuka pintu mobilnya. Ia mencari tas milik wanita itu. Ia hanya berharap setelah ini, dirinya tidak akan pernah bertemu dengan wanita ini lagi. Sangat menyusahkan sekali.

“Ini?” ujar Arion sambil memberikannya.

“Iya, terima kasih karena sudah menolongku. Aku akan segera mengembalikan jas milikmu,” ucap Quin lembut.

Arion hanya mengangguk. Ia langsung masuk ke dalam mobil lalu meninggalkan Quin sendirian di sana.

Quin jadi bingung. Ia harus keluar lewat jalan mana? Lift yang digunakan ini adalah lift khusus yang langsung menuju apartemen Arion.

Quin membaca kartu nama yang diberikan pria itu. Ia membaca nama lengkap Arion Madava.

Quin mengerucutkan bibirnya lalu ia membuang nafasnya panjang sambil melihat sekeliling.

Quin jadi merasa takut sendiri. Bagaimana jika ada seseorang yang akan membunuhnya di sini. Basement ini terlihat sangat sepi dan juga menyeramkan.

Quin mencoba melangkahkan kakinya. Ia memerhatikan sekelilingnya sambil mencari apa ada seorang security yang bisa menolongnya agar ia bisa keluar dari dalam sini.

Quin semakin merinding. Ia benar-benar merasa takut. Bagaimana jika ada hantu yang tiba-tiba muncul di hadapannya. Ia harus berbuat apa nanti.

Quin memeluk kotak yang berisi jas milik Arion. Ia semakin kesal dengan pria yang tidak bertanggung jawab itu. Bisa-bisanya meninggalkan dirinya di basement. Kenapa bukannya meninggalkan dirinya di pinggir jalan saja yang jelas ia bisa tahu ke mana arah tujuannya.

Quin melihat sebuah cahaya. Ia pikir itu jalan keluar. Tapi ternyata bukan. Ternyata itu cahaya mobil yang menyilaukan wajahnya.

Quin menutup wajahnya dengan kotak itu. Lalu ia menurunkan perlahan-lahan kotak itu dari wajahnya. Quin melihat siapa yang datang.

“Masuk!” perintah Arion.

Arion terpaksa kembali lagi karena ia tahu jika basement miliknya sangat jauh jika harus menuju keluar dari dalam sini. Quin harus berjalan kaki ke beberapa lantai agar bisa keluar dari ruang basement yang gelap ini.

Quin melihat sekelilingnya. Ia langsung membuka pintu mobilnya setelah merasa sangat merinding.

Arion tidak melihat wajah wanita yang ada di sampingnya sama sekali. Ia langsung melajukan mobilnya dan Quin memerhatikan jalannya.

“Jauh juga ternyata, pantas dia kembali lagi,” ucap Quin di dalam hatinya.

Quin melirik sejenak. Memerhatikan pria yang ada di sampingnya. Ternyata pria ini cukup tampan jika diperhatikan dengan baik.

Quin membuyarkan lamunannya saat Arion sudah menghentikan mobilnya tepat di halte depan apartemen miliknya.

“Turun,” usir Arion ketus.

Quin mengangguk. “Terima kasih,” ucapnya lalu ia turun dari mobil.

Arion langsung pergi begitu saja. Dan Quin memerhatikan mobil Arion yang semakin menjauh sebelum ia memerhatikan dirinya sendiri. Tubuhnya masih memakai gaun yang ia gunakan tadi malam. Quin menghembuskan nafasnya lalu ia menyetop sebuah taksi yang kebetulan lewat di hadapannya.

Quin kembali bersedih saat ia mengingat kejadian sebelum dirinya mabuk. Quin tidak menyangka jika tepat di hari jadinya dirinya dengan sang kekasih. Ia justru mendapati kekasihnya sedang memadu kasih dengan wanita lain.

Air matanya kembali mengalir begitu saja. Quin mencoba melupakan luka itu tapi entah kenapa bayang-bayang saat melihat kekasihnya dan selingkuhannya sedang bercinta terus terlintas di kepalanya.

Quin mencengkram erat kedua tangannya. Lalu ia memerhatikan kotak yang ada di tangannya.

Tak lama Quin tiba di apartemennya. Ternyata apartemen miliknya tidak jauh dari apartemen milik Arion. Quin tahu jika apartemen yang ditinggali Arion adalah apartemen yang sangat mewah. Pasti pria itu bukan orang biasa.

Sesampainya di apartemen Quin membuka kotaknya dan bau muntahan pun langsung tercium olehnya.

“Uuuhhh bau sekali. Pantas saja dia melarangku membukanya. Apa ini benar muntahanku?” ucap Quin sambil mencoba mengingatnya. Dan sebelah tangannya terus ia gunakan untuk menutup hidungnya.

Bersambung

Bab 3

Quin menatap merk jaket yang ia pegang itu. Wanita itu menelan salivanya. Ia tidak percaya jika jaket ini memiliki merk yang luar biasa. Di tambah ia tahu berapa harga jaket tersebut.

Quin mengecek isi kantong jaketnya. Ia takut jika saat dicuci nanti ada barang di dalam sana. Dan ia takut jika nanti dirinya akan disalahkan lagi.

Quin hanya bisa pasrah, karena kecerobohannya membuat dirinya harus bertanggung jawab atas jaket mahal ini.

“Bahkan gajiku saja tidak cukup untuk membeli jaket ini,” gumamnya lalu ia memasukkan jaket tersebut ke dalam kantung plastic. Ia akan melaundry saja jaket itu.

“Semoga saja pria aneh ini tidak meminta ganti dengan yang baru,” ucapnya lagi. Lalu Quin pergi meninggalkan apartemen miliknya.

Quin mendatangi laundry langganannya yang berada di lantai bawah apartemen yang ia tinggali.

“Mbak, tolong cuci yang bersih ya. Kalau perlu kasih parfum yang super wangi biar nggak bau lagi,” pinta Quin.

“Ia siap,” jawab staff laundry yang sudah hapal dengan Quin.

Quin keluar dari tempat laundry. Lalu ia melihat mini market yang ada di sana. Quin mengusap perutnya yang sudah mulai lapar lagi.

Wanita itu masuk ke dalam mini market. Ia melihat beberapa jenis sayuran segar lalu mengambilnya.

Patah hati tidak membuat Quin terpuruk. Bertemu dengan Arion membuat ia lupa jika dirinya sedang patah hati. Yang ada sekarang ia kesal karena harus bertemu pria macam Arion yang sangat menyebalkan itu.

Quin kembali ke apartemennya usai mendapatkan apa yang dibutuhkannya. Ia langsung berkutik di dapur. Menyiapkan bahan makanan yang akan ia makan sendiri.

Di sisi lain.

“Pak, meeting hari ini ditunda. Klien kita mengalami kecelakaan,” ucap Rian yang merupakan asisten sekaligus sekretaris Arion saat ia baru tiba di kantor.

Arion yang tadi masih kesal karena tadi malam ia tidak bisa tidur dengan pulas langsung kaget saat mendengar ucapan Rian.

“Lalu bagaimana kondisinya? Kirim seseorang untuk menjenguknya,” ucap Arion.

“Saya akan meminta seseorang untuk menjenguknya,” jawab Rian.

“Satu lagi. Coba cari info tentang Quin. Saya ingin tahu dia siapa, kerja di mana dan latar belakangnya apa,” perintah Arion.

“Baik Pak,” jawab Rian yang langsung menjalankan perintah bosnya itu.

Arion menyandarkan pungungnya di bangku kerjanya. Ia memainkan pena yang ada di atas meja. Bayang-bayang Quin mulai menghantuinya.

Arion yang tersadar langsung membuyarkan lamunannya. Ia kesal jika mengingat kejadian tadi malam. Bisa-bisanya ia bertemu wanita yang sangat menyebalkan.

Arion mengambil kunci mobilnya. Ia bergegas meninggalkan kantor miliknya.

“Saya pergi dulu. Kalau ada sesuatu segera hubungi saya,” ucap Arion.

“Baik Pak,” sahut Rian.

Pria itu mengemudikan mobilnya. Sudah lama ia tidak mengunjungi kedua orang tuanya. Saat itu Arion diminta untuk membawa calon istrinya. Mamanya sudah tidak sabar ingin menikahkannya.

Sesampainya di rumah. Arion melihat adik perempuannya. Ia tersenyum lalu menghampiri adik kesayangannya itu.

“Kakak, kau tidak bekerja lagi?” tanya Bella.

“Baru dari kantor. Aku kan merindukanmu. Apa kamu tidak senang jika aku pulang ke rumah?” tanya Arion sambil mencubit kedua pipi adiknya.

“Aaaahhh Kakak, sakit. Kebiasaan deh,” ucap Bella manja.

“Ada apa sih ribut-ribut?” tanya Maria yang baru saja keluar dari dalam kamarnya.

“Kakak nih Mah. Rese banget jadi orang,” adu Bella.

“Lho, kamu tidak kerja? Apa kamu pulang ingin memberikan kabar baik?” tanya Maria yang sudah tidak sabar ingin memiliki menantu.

“Ayolah Mah, kasih aku kesempatan. Biarkan aku menikmati kesendirian dan kebebasanku. Lagi pula ada Bella yang bisa aku ajak buat kondangan,” ucap Arion.

“Enak saja, anak perempuan Mama kan nanti juga akan memiliki seorang kekasih. Jika sudah waktunya. Nanti malah disangka dia sudah memiliki kekasih lagi,” ucap Maria dan Bella langsung menganggukkan kepalanya dengan sangat cepat sekali.

“Ah, tidak masalah. Kenapa Mama cerewet sekali. Ada makanan apa? Aku kan lapar,” ucap Arion yang memilih mengalihkan topik pembicaraan.

“Eheemmm,” deham Aksa. Pria paruh baya yang masih terlihat gagah. Bahkan wajah tampannya tidak menunjukkan jika ia sudah berusia empat puluh lima tahun.

“Papa,” ucap Arion pelan sambil memperlihatkan deretan giginya.

“Bagaimana dengan pekerjaan kamu?” tanya Aksa lalu ia duduk di samping istrinya sambil merangkul belakang bahu istrinya.

“Aman dong Pah,” jawab Arion.

“Tumben pulang ada apa?” tanya Aksa yang tahu jika belakangan ini putranya jarang sekali pulang ke rumah. Ia bisa memakluminya karena pekerjaan yang Arion kerjakan bukan hanya satu Perusahaan saja. Belum lagi anak cabang Perusahaan yang ada di mana-mana dan cafe yang kini sudah memiliki cabang di beberapa daerah.

“Mau minta makan sama Mama,” jawab Arion hingga membuat Bella tertawa terbahak-bahak.

“Apa Kakak sudah tidak memiliki banyak uang lagi? kalau gitu aku tidak ingin menemani Kakak buat pergi kondangan ah,” ucap Bella.

Arion terkekeh. “Mana mungkin aku tidak memiliki uang? Kau itu mata duitan sekali ya,” ucap Arion sambil menjewer telinga adik perempuannya.

“Aaaahhh sakit Kak. Papa, Kakak Arion nih. Dari tadi cubit-cubit aku terus,” adu Bella.

“Ya sudah sana kamu belajar lagi saja. Dari pada kamu digangguin Kakak kamu terus,” ucap Maria.

Bella mengerucutkan bibirnya. Ia menatap kesal ke arah Kakak lelakinya yang suka sekali menggodanya. Tapi kalau terus-terusan di cubit seperti ini ya jelas ia juga merasakan sakit.

“Sana belajar yang rajin. Nanti Kakak ke kamar kamu,” goda Arion.

“Tidak usah, pergi saja kerja, lalu bawakan aku uang yang banyak buat belanja,” teriak Bella sambil berjalan menuju kamarnya.

Aksa dan Maria menggelengkan kepalanya. Kadang ada rasa rindu jika anak lelaki mereka tak ada di rumah. Tanpa Arion memang terasa sangat sepi. Apa lagi melihat Arion yang suka usil terhadap adiknya. Itu semua membuat suasana rumah jadi semakin ramai. Tapi siapa sangka jika di luar rumah. Arion akan menjadi pria dingin yang super menyebalkan.

Arion tersenyum melihat kepergian adik perempuannya. Biar bagaimana juga ia rindu dengan keluarganya. Rindu dengan adiknya yang suka mendengarkan curhatannya. Apa pun yang Arion lakukan di rumah. Selalu membuat warna tersendiri.

“Kamu mau makan apa sayang? Biar Mama masakkan untuk kamu,” ucap Maria.

“Apa saja, aku akan memakannya, asal jangan batu saja yang mama masak,” jawab Arion.

Maria tertawa. “Hahaha. Ya sudah, kalian berbincang saja. Biar Mama siapkan dulu,” ucap Maria yang langsung menuju dapur.

Maria melihat bahan makanan yang ada di dalam lemari pendingin. Ia ingat sekali jika anak lelakinya sangat menyukai pasta. Maria langsung mengambil bahan makanannya.

“Lasagna enak juga,” gumam Maria yang langsung membuatnya.

Di ruang keluarga.

“Papa dengar kau membawa seorang wanita ke apartemenmu? Siapa dia? Apa dia wanitamu?” tanya Aksa.

DEG!

“Bukan begitu Pah. Aku bahkan tidak mengenalnya!”

Aksa mengernyit. “Tidak kenal? Tapi tidur di apartemenmu?”

Arion menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. Ia jadi bingung bagaimana menjelaskannya. Baru saja ia mau bicara. Papanya sudah berbicara lebih dulu.

“Papa harap kamu bisa mempertanggung jawabkan apa yang terjadi. Biar bagaimana juga dia seorang wanita. Bawa wanita itu pulang ke rumah. Papa akan melamarnya untuk kamu,” ucap Aksa hingga membuat Arion membulatkan kedua matanya.

Bersambung

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED