Aku menutup mulutku dan langsung pergi ke kamarku lagi.
Aku masih tidak percaya tentang apa yang mereka bicarakan. Suami yang selama 5 tahun bersamaku ternyata membohongiku, semua kasih sayang dan cinta yang ia berikan hanya kepalsuan, mengapa aku sebodoh ini, mengapa aku tak menyadarinya?"
"Aku terlanjur mencintaimu mas, begitu besar luka yang kau berikan, hatiku sakit dan hancur seperti debu yang terbawa angin entah ke mana."
"Tenang Arum ... tenang ... jangan bertindak gegabah, kamu harus rileks Arum," batinku menyemangati diri sendiri.
"Aku harus mencari bukti, karena tidak ada tanda-tandanya kalau Mas Ariel selingkuh, aku tak mau disebut pelakor karena aku tak tahu kalau dia sudah mempunyai istri. Ya Allah apa yang harus kulakukan, aku bingung mulai dari mana."
"Inikah hadiah kejutan darimu Mas Ariel, hadiah untuk ulang tahun pernikahan kita, mengapa aku harus mendengarkannya, apakah ini petunjuk- Mu ya Allah, Allahu Akbar ...
"Kamu harus kuat Arum ... harus kuat, kalian pikir orang kampung ini tidak bisa berbuat nekat, kamu tahu mas jika ternyata aku bukan istri satu-satunya dalam hidupmu, jangan panggil aku Arum kalau aku tidak bisa membalasnya, tunggu saja Mas, akan kucari buktinya sebelum kamu duluan menceraikanku," batinku mengatakan dengan senyuman sinis.
Aku berpikir keras, sepertinya mas Ariel masih didalam kamar ibu. Lebih baik aku tidur kembali sebelum dia memergoki aku yang seperti ini. Kutarik selimut menutupi seluruh badanku, dan berusaha untuk tidur agar aku bisa berpikir jernih apa yang akan aku lakukan besok.
Selang beberapa menit terdengar suara langkah kaki, pasti itu Mas Ariel. Dia membuka pintu lalu masuk dan langsung merebahkan tubuhnya disampingku.
Namun tidak ada tanda-tanda mas Ariel yang selalu membisikkan kata-kata cinta di telingaku, atau dia sudah melupakannya, mengapa mas?"
Air mataku hampir saja membasahi pipi ini, tapi berusaha tidak jatuh.
Tiba-tiba tangan kekarnya melingkari di pinggangku, ingin sekali kutepis tangan itu, tapi kuurungkan niat ini, karena jika kulakukan pasti membuat mas Ariel curiga.
Mata ini tidak mau terpejam, kulirik jam menunjukkan jam 3 dini hari. Pelan-pelan aku menggeser tangan mas Ariel, akhirnya aku terlepas darinya. Ku pergi ke kamar mandi berniat mengambil air wudu dan melaksanakan sholat Tahajud. Kebetulan di rumah ini dibuatkan ruangan khusus untuk sholat dan letaknya persis di samping kamarku.
Dengan khusyuk meminta, memohon, kepada Yang Maha Kuasa agar aku bisa menjalani ini semua, sampai aku membuka Al Quran sebagai pedoman hidupku. Ku lantunkan ayat-ayat suci Alquran sampai menitikkan air mata sendiri.
Ku peluk Al Quran itu karena buku itu adalah saksi bisu sewaktu mengikrarkan janji suci tali pernikahan kami. Warna putih keemasan menjadi pilihanku sewaktu memilih sampul kitab suci Al Quran ku.
Tiba-tiba kepalaku mendadak pusing dan akhirnya tak sadarkan diri.
Saat terdengar suara azan, kuterbangun dan melihat jam sudah menunjukkan jam 5 subuh.
Sangat indah suaranya, mendayu-dayu hampir mirip suara azan di Saudi Arabia. Ya itu suara mas Ariel setiap subuh dia akan mengumandangkan azan. Aku terhanyut dalam suaranya yang begitu indah tapi air mata ini kembali jatuh.
"Duh cengeng amat kamu Rum kamu harus semangat ...batinku.
Segera kutunaikan sholat Subuh. Setelah selesai aku kembali ke kamarku untuk mencari bukti perselingkuhan mas Ariel.
Aku harus menemukannya sebelum dia datang dari masjid. Ku buka laci tadi malam yang menyita perhatianku.
"Ah, sial ternyata struk-struk pembelian itu sudah tidak ada disana, mengapa baru ingat sekarang," gerutuku.
Hilang sudah harapanku untuk mencari bukti, sebentar lagi mas Ariel datang, aku akan cari lagi, lebih baik aku ke dapur dulu untuk memasak takut jika tidak ada hidangan diatas meja makan mereka akan curiga, lebih baik bersikap seperti biasanya.
Ku bergegas ke dapur seperti biasa memasak dengan cepat, karena memang hobiku memasak jadi setiap hari menunya selalu berbeda, mereka kumanjakan lidahnya lewat masakanku yang mereka bilang sangat enak.
"Wah, wangi banget masakanmu, Rum ...masak apa sih wanginya sampai ke kamar, tuh lihat si Raina sampai bangun cari in kamu," ucap mbak Sukma yang sambil menggendong Riana.
"Eh, mbak Sukma, ini lagi coba menu baru lihat di geogle pengen nyoba, maaf ya mbak jadi ke bangun," jawabku.
"Nggak apa-apa, tapi mbak bisa minta tolong nggak jagain Raina sebentar, soalnya mba mau mandi dulu ada meeting di kantor," ucap mbak Sukma tanpa basa basi langsung menaruhnya di ruang tengah, agar aku bisa menjaganya.
"Tapi mbak, lagi nanggung nih masaknya," jawabku tanpa menoleh lagi kearahnya.
"Duh, sebentar aja, dimatiin aja dulu kompornya, lagian kalau kamu mau masak itu mbok ya pagi-pagi bangunnya, jangan kesiangan gini jadikan aku bisa tolong kekamu, ya udah aku tinggal bentar aja kok mandinya cuma 1 jam ndak lama kan?" terangnya lagi dan pergi ke kamarnya.
"What 1 jam dibilang sebentar, aku aja mandi paling cepat 5 menit kata orang mandi bebek, kebiasaan mbak Sukma kalau nyuruh, kenapa nggak sekalian mandi dari tadi sebelum dibawa Raina keluar, jangan-jangan Raina belum dimandiin juga," gerutuku.
"Ini, nggak bisa dibiarkan memang aku baby siternya apa, kasihan Raina sudah nggak ada bapaknya sekarang ibunya nggak peduli, semua kebutuhan Raina aku siapkan, tetapi jika keluarga besar mas Ariel berkunjung seolah-olah dia yang mengurus segala keperluan Raina.
Untung sudah selesai tinggal ditata di meja makan, lengkap dengan nasi panas yang masih mengepul, buah-buahan, tak lupa dengan air putih, dan dua teko sedang satu untuk susu dan yang satu berisikan jus jeruk, mereka tinggal menikmatinya, sungguh baikkan aku?"
Akhirnya aku ambil alih juga Raina, sudah hampir satu jam mbak Sukma belum muncul batang hidungnya masih ngendap di kamar.
"Assalamualaikum."
"Walaikumsalam, mas udah pulang kok lama, padahal masjid kan dekat rumah mas?" selidikku.
"I ...iya, tadi di ajak ngobrol-ngobrol dulu sama Pak Ustaz, nggak enak 'kan langsung pulang.
"Selamat hari pernikahan sayang, I love you," kata mas Ariel dengan mengecup keningku.
"Tumben baru sekarang, biasanya jam 12 malam," sahutku dengan kesal.
"Maaf ya sayang, tadi malam mas lihat kamu tidur nyenyak, mungkin kecapean berbenah rumah, jadi nggak enak ngebangunin," kilah suamiku.
Eh, Dek tau nggak apa yang diomongin Pak Ustaz tadi, sejuk banget kalau beliau bicara, tapi bentar ya mas mau ganti baju dulu," terangnya dan langsung menuju ke kamar.
Selang beberapa menit, mas Ariel sudah berpakaian rapi dengan kemeja lengan pendek berwarna biru pastel di padupadankan dengan celana levis berwarna biru tua, terlihat sangat cocok dipakai mas Ariel dan kelihatan lebih tampan.
"Loh mas, bukannya kata mas kemarin libur, kok ini dandanannya rapi mau ke kantor? ucapku dengan heran.
"Tadi bilang mbak Sukma ada meeting dadakan, soalnya klien dari Singapura mau datang, tidak jadi hari Senin, terpaksa harus ke kantor," jawabnya.
"Tadi mas lupakan, sampai dimana tadi, oh ya Pak Ustaz bilang kalau suami boleh menikah lebih dari satu orang istri, yang penting bisa bersikap adil terhadap kedua istrinya, menurut Adek gimana?" tanya suamiku berlagak polos.
"Mas-mas, kamu sok lugu, polos padahal kamu sudah melalukannya, tinggal cari bukti apakah aku ini istri pertama atau istri keduamu, tamat riwayatmu mas?" gerutuku dalam hati.
"Maksudnya gimana apanya mas?" balik aku bertanya dengan polos juga.
"Kok balik tanya sih, maksud mas Adek setuju nggak seandainya mas nikah lagi," jawabnya enteng.
Aku yang mendengarkan itu, hampir limbung tapi aku tetap mempertahankan tubuhku agar tidak melayang.
"Memang Pak ustaz nggak ngomong kalau yang mau dinikahi itu para janda tua renta, bukan janda cantik bahenol atau gadis muda yang seksi, nah kalau yang begituan berarti itu namanya nafsu sesaat atau memang doyan kawin, dan kalau itu terjadi sama kamu terserah kamu mas pilih dia atau aku," jawabku sekenanya.
"Uhuhhuuk ... uhuuk...
"Kenapa mas, batuk-batuk minum air dulu mas," sahutku.
"Kamu dek, nggak kira-kira ngomongnya 'kan seandainya, mas ini cinta mati sama kamu nggak pindah kelain hati," ucapnya serasa ingin muntah.
"Akhirnya keluar juga lama banget mandinya mbak, katanya sebentar," gerutuku.
"Iya, sorry biasalah namanya juga wanita, banyak perawatannya bukan kaya kamu di kampung yang mandi di kali ... hahaha.....
Aku sudah biasa diperlakukan seperti itu pertama disanjung lalu dihempaskan.
"Ini kamu semua yang masak Rum, wah menu baru langsung pas bumbunya, enak Rum, bisa gagal aku diet nih," ucapnya yang nyeleneh.
"Mbak, Arum mau ke kamar dulu, mau ngambil cucian kotornya mas Ariel."
"Iya sana, sekalian ya Rum punyaku dan Raina, kamu 'kan tau aku sibuk banget ngurus perusahaan papah, jadi nggak ada waktu dan kuku juga baru dicat nanti rusak, maaf ya Rum," titahnya dengan enteng.
Aku berlalu meninggalkan mereka di meja makan dan pergi ke kamarku.
Saat ingin mengambil pakaian kotor suamiku, tiba-tiba HP- ku berbunyi dan kulihat nama dilayar ponsel itu Pak Alex.
"Ada apa Pak Alex menghubungi pagi-pagi? "
"Halo, Assalamualaikum, Bu Arum?"
"Walaikumsalam Pak Alex, tumben Bapak telepon saya, biasanya langsung ke Mas Ariel, ada apa ya Pak?" tanyaku penasaran.
"Maaf sebelumnya Bu, saya sering telpon ke kantor tetapi selalu dialihkan ke Pak Ariel, katanya Bu Arum sudah memberikan wewenang untuk mengurus perusahaan milik Almarhum Pak Ali," terangnya.
"Saya mau telepon ke ponsel ibu, selalu dilarang katanya sudah dipercayakan sama Pak Ariel, dan Alhamdulillah akhirnya yang mengangkat ibu sendiri," terangnya lagi.
"Memang Pak Alex, soalnya mas Ariel yang memintanya karena beralasan saya memang tidak mengerti masalah di perusahaan itu," jawabku.
"Atau begini saja bu Arum, bisa tidak Bu kita ke temuan jam 10 pagi ini di Cafe melati saja, tapi ingat Bu jangan sampai orang rumah tau apalagi dengan Pak Ariel, ini penting Bu Arum," ucap Pak Alex.
"Baiklah Pak, saya akan ke sana," jawabku.
"Apa maksudnya ini, mengapa Pak Alex tiba-tiba ingin bertemu," selidikku.
Sebaiknya aku telepon ibu dulu, kalau aku mau ke sana dengan Raina.
"Ini kesempatan yang bagus, siapa tau Pak Alex punya sesuatu yang bisa dijadikan bukti kalau mas Ariel lagi bermain api denganku.
Aku memandikan Raina terlebih dahulu, setelah selesai aku pun berganti pakaian gamis dan sekaligus minta izin ke Mas Ariel kalau aku mau keluar ke tempat ibu.
"Loh dek, kok kamu juga sudah rapi mau ke mana kamu?" tanya suamiku yang masih asyik makan dengan lahapnya.
"Mas, kan sudah janji hari ini mau ke tempat ibu, lupa ya?" gerutuku.
"Iya, tapi kan mas lagi ada meeting dadakan, nggak mungkinkan mas ninggalin gitu saja," jawabnya.
"Maka dari itu Mas, numpung libur boleh dong Arum refresing dulu ke tempat ibu," jawabku dengan enteng.
"Terus yang bersih-bersih rumah siapa dong kalau kamu ikutan pergi, ndak mungkin 'kan ibu kamu suruh-suruh!" ucap Mbak Sukma yang ikut nimbrung.
"Sewa aja pembantu mbak, Arum juga kan mau jalan-jalan suntuk di rumah terus, setiap hari berkutat di sini-sini aja, lihat nich tangan Arum sudah kapalan semua nggak ada bagus-bagusnya dilihat. Arum juga pingin kesalon mas, mau manjain diri sendiri, anggap aja untuk hadiah pernikahan kita," jawabku.
"Alah orang kampung tau apa sich dengan namanya fashion, kecantikan, nggak bakalan tau, udah nggak usah neko-neko di rumah aja," protes Mbak Sukma.
Kulihat Mas Ariel nggak suka melihatku pergi keluar, ada sesuatu yang ia sembunyikan sampai-sampai setiap aku mau pergi keluar selalu ada saja yang diperdebatkan. Namun untuk kali ini aku harus bisa keluar dari rumah ini bagaimanapun caranya.
"Ada apa pagi-pagi ribut, coba kalau makan itu mbok ya tenang," sahut ibu mertua yang baru keluar dari kamarnya.
"Ini loh mah, si Arum mau keluar, mau refresing dulu katanya," ucap Mbak Sukma dengan tersenyum sinis.
"Oalah, ngapain toh Rum, nanti setelah refresing kamu bawaannya jadi malas nggak ngapain-ngapain, masa mamah yang bersih-bersih, kamu nggak kasihan sama mamah yang sudah tua renta ini?" ucap ibu mertua dengan lembutnya.
"Justru itu Mah, Arum sudah mendatangkan dari yayasan untuk jadi pembantu disini. Arum kan nggak tega kalau Mamah yang bersih-bersih," jawabku sekenanya.
Nampak dari raut wajah mereka tidak menyukai tindakkanku. Mereka semanis mungkin di depanku tetapi di belakang dengan gampangnya mereka hempaskanku ke tanah
"Kamu nggak ngomong-ngomong kalau mau ngambil ART, kenapa nggak bilang Rum?" tanya mas Ariel dengan kesal.
"Habis, Arum cape mas membersihkan semua di rumah ini, belum kerjaan lain, terus jagain Raina, waktu istirahat Arum cuma malam itu gin Arum tidur hanya 5 jam sehari, itu juga sudah nggak bagus loh buat kesehatan," jawabku lagi.
"Aku 'kan kerja Rum, mana sempat lah aku ngurusin Raina, lagian kamu kamu 'kan tantenya jadi wajar dong kalau kamu ikut ngerawat," tukas mbak Sukma tak mau kalah.
"Sekali-kali lah, sekarang Arum tanya sama mas, kapan sih mas terakhir kali ngajak Arum jalan-jalan?" nggak pernah kan biar cuma ke mall aja dari nikah sampai sekarang bisa dihitung pakai jari," kilahku.
"Pokoknya Arum mau keluar, atau ada yang kalian sembunyikan dari Arum?" tanyaku.
Mereka bertiga saling berpandangan entah apa yang ada di benak mereka. Dan sekilas mamah memberi kode mata ke Mas Ariel.
"Nggak ada kok, kamu itu ngomong apa ngawur aja, ya sudah kalau pergi mas antar ke rumah ibu nanti pulangnya mas jemput disana," ucap suamiku.
"Gitu dong, makasih ya mas, kamu memang suami yang pengertian," jawabku dengan tersenyum sinis,
"Bentar ya mas Arum siapkan dulu perlengkapan Raina," kataku sambil berlalu pergi mengambil keperluan Raina.
Aku sengaja menguping pembicaraan mereka dibalik pintu kamar Raina, walaupun mereka berbisik-bisik masih samar-samar aku mendengar, berarti aku harus menyadap pembicaraan mereka agar tahu apa saja rencana yang mereka susun untukku.
"Ya Allah maafkan hambamu ini yang baru pertama kali menguping pembicaraan orang lain," batinku.
"Riel, kenapa kamu biarkan Arum pergi sendiri keluar, Mamah takut dia menghubungi Pak Alex pengacara kita," ucap mamah yang merasa cemas di wajahnya.
"Nggak apalah Mah, sekali-kali, kalau kita nggak ngasih izin nanti ketahuan semua rencana kita, lagian Ariel kasih nomor Arum asal kok, terus untung aja ada Surat Kuasa yang ditandatangani si Lugu itu, jadi Pak Alex sudah tidak banyak bertanya lagi.
"Dan Ariel sudah cari informasi, kalau Pak Alex lagi di luar kota selama 2 bulan, jadi untuk saat ini kita mah bebas, mau ngapain kan?"
"Benar juga kamu Riel, enak aja warisan papah dia yang menikmati, kita loh anak-anaknya masa percaya sama Arum yang kampungan itu, bagusnya dia itu jadi pembantu, bukan Nyonya, hahaha ...gelak tawa mereka.
"Astagfirullah ya Allah ... ternyata selama ini kalian membohongiku, baiklah sayang sebelum kamu melangkah lebih jauh, aku harus maju dua langkah didepanmu, kamu belum tau si lugu Arum ini," gumanku.
Setelah selesai mempersiapkan semua keperluan Riana, aku kembali keruang makan.
"Sudah semua Rum, nggak ada ketinggalan," tanya mamah yang masih asyik makan dengan lahap.
"Iya Ma, sudah," jawabku singkat.
"Oh ya Ma, nanti jam 10 orang dari yayasan akan datang kesini, minta tolong ya Mah jelaskan apa saja yang mau dikerjakan," ucapku lagi.
"Loh, kamu jadi ambil pembantu dari yayasan, 'kan tau sendiri Mama nggak suka ada pembantu di rumah, kerjanya pasti main HP melulu," sahutnya.
"Iya tapi Arum capek Ma, mengurus rumah sendirian, belum kerjaan lain, yang penting kan selalu diawasi, lagian 'kan Ada Arum juga yang bantuin, pokoknya Mamah nggak usah khawatir," jelasku.
"Ya sudah terserah kamu saja," jawabnya yang terlihat tidak suka dengan tindakkan aku ini.
"Mas, sampai jam berapa meeting nya?" tanyaku sambil menyuapi Raina makan.
"Kayanya sampai malam, makanya nanti aku jemput malam aja ya, kamu juga'kan lagi tempat ibu nggak apa-apa ya?"
"Oh, kalau gitu Arum bawakan makan siang ya ke kantor?"
"Nggak usah," jawab mereka serentak.
"Kok kalian serentak jawabnya, kan yang Arum tanya Mas Ariel, bukan mbak Sukma atau Mamah," jawabku bingung.
"Eh, maksudnya gini Rum, nggak usah ke kantor bawa makan siangnya Ariel, kita bisa makan diluar soalnya yang klien satunya ngajak lunch bareng di restoran, jadi sayang kan kalau cape-cape ke kantor Ariel nya nggak ada," kilah mbak Sukma.
"Ya udah," jawabku.
Setelah selesai acara makannya, kami pun segera pergi, sebelum ke kantor Mas Ariel mengantarku ke rumah Ibu. Jarak antara rumah Ibu dengan rumahku hanya sekitar 6 km saja.
Sampailah kami di rumah ibu yang asri, karena beliau suka bercocok tanam. Kami pun disambut dengan suka cita, maklum aku jarang sekali ke rumah ibu lantaran Mas Ariel beralasan sangat sibuk, padahal dia malas sekali bertemu dengan ibuku.
Ya, ibuku itu memang cerewet, tapi beliau cerewet karena ibu memang punya kebiasaan menilai penampilan setiap orang. Aku dulu sebenarnya sudah diwanti-wanti ibu agar jangan terlalu mencintai keluarganya, terutama mas Ariel, karena dia punya niat yang tidak baik, itulah yang selalu kuingat perkataan Ibu dan ternyata terbukti.
Karena aku buncin, budak cinta yang tidak tahu mana yang baik dan yang buruk.
Hanya karena perjodohan kami dipersatukan. Selama 5 tahun ku berlayar tetapi ternyata akan kandas di tengah jalan, sebelum itu terjadi maka aku harus bertindak dengan cepat.
"Assalamualaikum, Bu!" seruku dan langsung menghambur memeluk ibu yang melahirkan aku itu dengan sedikit air mata.
"Walaikumsalam sayang, akhirnya kamu datang juga, kangen banget ibu sama kamu nak?"
"Apa kabar nak Ariel?" tanya ibu kepada Mas Ariel.
"Alhamdulillah baik Bu," jawab suamiku.
"Maaf Bu, Ariel cuma ngatarin Arum, soalnya di kantor mau meeting, nanti malam Ariel jemput Arum lagi," jelasnya lagi.
"Ya udah, nggak apa-apa, tapi lain kali kesini jangan alasan sibuk di kantor ya," kata ibuku dengan memicingkan matanya ke suamiku.
"Ba... baik bu, saya pamit dulu, Assalamualaikum ...
"Walaikumsalam."
Setelah kepergian Mas Ariel, aku pun menceritakan semuanya kepada ibu apa yanh baru saja aku dengarkan.
Ibu sangat marah, geram dengan tingkah laku keluarga mas Ariel.
Dengan bantuan ibu, aku pun menyusun rencana yang matang untuk membalas sakit hatiku ini.
"Tunggu saja Mas apa yang bisa dilakukan oleh seorang si Lugu Arum ini," gumanku.