Hari-hari berlalu dengan cepat, dan Alina merasa dirinya semakin tenggelam dalam rutinitas yang hampa. Setiap pagi, ia bangun dengan perasaan yang sama: seolah seluruh dunia terus bergerak maju, sementara ia terjebak dalam kebisuan dan kedinginan rumah yang sepi. Arjuna pergi bekerja pagi-pagi sekali, dan anak-anaknya lebih memilih bermain di luar, jauh dari perhatian dan pengasuhan yang ia tawarkan. Bahkan para pelayan di rumah besar itu tampaknya lebih mengenal keinginan Arjuna daripada dirinya.
Alina sering kali bertanya-tanya pada dirinya sendiri, apa sebenarnya yang ia perjuangkan? Apa yang ia harapkan bisa berubah jika ia terus bertahan dalam pernikahan yang tidak ada cinta ini?
Di luar, cuaca tampak cerah. Tetapi di dalam rumah itu, kebisuan yang pekat seolah membekukan setiap langkahnya. Ketika Alina berdiri di depan jendela besar di ruang makan, matanya memandang ke luar, melihat mobil-mobil mewah berlalu di jalan, orang-orang yang tampaknya hidup penuh dengan harapan dan tujuan, sementara dirinya-ia merasa seperti hantu yang mengambang di tengah dunia yang tidak pernah mengenalnya. Bahkan rumah yang megah ini terasa lebih seperti sebuah penjara, menunggu untuk menelan habis impian dan kebahagiaannya.
***
Sore itu, Alina sedang duduk di ruang tamu, dengan secangkir teh di tangannya, ketika Arjuna pulang. Seperti biasa, ia tidak mengatakan apa-apa-hanya berjalan melewati Alina, memberikan sekejap pandangan tanpa ada kata-kata. Dia menghilang ke kamar kerjanya, membiarkan Alina sendirian lagi.
Tapi kali ini, Alina merasa ada sesuatu yang berbeda. Sebuah perasaan yang membara dalam hatinya, sebuah kemarahan yang tak bisa ia bendung lagi. Ia meletakkan cangkir teh di meja, langkahnya tegas menuju kamar Arjuna. Setiap langkah yang ia ambil seperti semakin mendekatkannya pada sebuah keputusan besar-sebuah pilihan yang mungkin bisa mengubah segalanya.
Ketika ia sampai di depan pintu kamar Arjuna, ia mengetuk dengan keras. Sebuah ketukan yang memecah kesunyian rumah itu.
"Arjuna!" suara Alina terdengar lebih kuat dari yang ia duga, bergetar penuh dengan emosi yang sudah lama ia pendam. "Kita perlu bicara!"
Pintu kamar terbuka perlahan, dan Arjuna berdiri di sana, dengan wajah yang seperti biasa-dingin dan tak terungkapkan. Tapi ada sesuatu yang berbeda kali ini. Ada kekosongan di matanya, sesuatu yang tidak bisa Alina baca.
"Ada apa, Alina?" suaranya datar, seperti tidak ada urgensi dalam pertanyaannya.
"Apa yang kita lakukan di sini?" jawab Alina dengan suara yang hampir serak, mencoba menahan air mata yang hampir tumpah. "Aku bukan istri yang kamu inginkan. Aku hanya seorang pengasuh untuk anak-anakmu, dan seorang pelengkap untuk hidupmu. Aku bukan bagian dari hidupmu, Arjuna! Aku hanya ada di sini untuk memenuhi kewajiban. Apa yang sebenarnya kamu inginkan dariku? Apa yang sebenarnya kamu harapkan?"
Arjuna terdiam sejenak, matanya memandangnya kosong. Ia duduk di tepi ranjang, lalu melipat tangannya di depan dada. Alina menunggu jawabannya dengan napas yang terhenti. Sudah berhari-hari ia mencoba memahami, mencoba mengisi kekosongan itu, tetapi setiap upayanya terasa sia-sia.
"Aku tidak tahu apa yang kamu harapkan, Alina," kata Arjuna dengan suara pelan, namun tetap penuh ketegasan. "Aku hanya berusaha untuk menjalani kehidupan yang harus dijalani. Kamu tahu apa yang kita jalani ini. Kamu tahu apa yang aku inginkan, dan apa yang aku butuhkan dari pernikahan ini."
Sesuatu yang patah di dalam hati Alina. Kata-kata itu seperti pisau yang menembus jantungnya, menusuk dalam, mengoyak segala impian yang sempat ia bangun sejak hari pertama mereka bertemu. Apa yang ia harapkan-kehangatan, cinta, perhatian-semuanya hilang dalam kata-kata dingin Arjuna.
"Aku tahu," jawab Alina, suaranya tertahan. "Aku tahu kamu hanya menginginkan seseorang untuk mengurus semuanya. Aku tahu aku bukan siapa-siapa bagimu, Arjuna. Tapi aku juga manusia. Aku butuh lebih dari sekedar peran sebagai istri yang tak terasa. Aku butuh dihargai, aku butuh dicintai. Apa salahnya jika aku menginginkan itu?"
Arjuna tidak menjawab. Ia hanya menatap Alina dengan mata yang tidak bisa dibaca, seolah kata-kata itu tidak pernah mencapai hatinya. Setelah beberapa saat hening, ia berdiri dan berjalan menuju meja kerjanya, seolah perbincangan ini sudah selesai baginya. "Kita akan berbicara lebih lanjut nanti, Alina. Aku sedang sibuk."
Tubuh Alina terasa kaku, seperti diserang oleh ribuan jarum yang menembus kulitnya. Ia ingin berteriak, ia ingin meruntuhkan semuanya, tetapi ia tahu-ia sudah terlalu lama berjuang untuk sesuatu yang tak pernah ada. Dengan hati yang semakin rapuh, Alina berbalik dan keluar dari kamar, menuju ruang yang semakin terasa asing baginya.
***
Malam itu, Alina tidur dengan mata yang terpejam rapat, tetapi pikirannya terus berputar. Ia tidak bisa lagi membohongi dirinya sendiri. Apa yang ia lakukan di sini? Apa yang membuatnya bertahan jika tidak ada cinta, tidak ada rasa saling menghargai?
Ia sudah mencoba untuk menahan semuanya. Ia sudah mencoba untuk menyesuaikan diri, untuk menerima bahwa hidupnya kini adalah bagian dari dunia Arjuna. Tetapi semakin ia bertahan, semakin ia merasa kehilangan dirinya sendiri. Arjuna tampaknya tidak peduli, anak-anaknya tidak membutuhkan dirinya, dan rumah ini bukanlah rumah bagi hatinya.
Apakah ini harga yang harus ia bayar untuk mendapatkan segala kemewahan ini? Atau apakah ia hanya seorang pion dalam kehidupan yang lebih besar, sebuah permainan yang tidak pernah ia pilih?
Di tengah kegelapan malam, air mata Alina jatuh, membasahi bantalnya. Ia tahu, ada sesuatu yang harus ia pilih-tetap bertahan dalam pernikahan yang penuh luka ini, atau pergi dan meninggalkan segalanya. Tetapi, memilih salah satu berarti menghancurkan hatinya. Apakah ada jalan tengah, atau ia harus merelakan kebahagiaannya demi mempertahankan apa yang sudah ada?
Alina terjebak, dan ia tidak tahu berapa lama lagi ia bisa bertahan.
Hari demi hari berlalu dengan perasaan yang semakin menyesakkan. Alina merasa seperti ia sedang tenggelam dalam samudra yang luas, tanpa ada yang bisa menolongnya. Rumah besar itu kini terasa seperti sebuah penjara, penuh dengan kenangan kosong dan harapan yang sirna. Setiap sudutnya tampak mengingatkan pada sesuatu yang hilang, sesuatu yang tidak pernah ada-cinta.
Malam itu, setelah hari yang panjang dan penuh keheningan, Alina duduk di meja makan sendirian, menatap sepotong roti yang tidak menyentuh mulutnya. Makan malam seharusnya menjadi waktu yang dihabiskan bersama, tetapi untuknya, itu hanyalah rutinitas yang sepi. Arjuna kembali terlambat, dan anak-anaknya sudah tidur. Sekali lagi, ia merasa seperti hanya menjadi bayangan di rumah ini-tanpa suara, tanpa pengakuan.
Ponsel Alina bergetar, menariknya keluar dari pikirannya. Sebuah pesan dari sahabat lamanya, Maya, muncul di layar.
*"Gimana kabarmu? Aku kangen! Kita harus ketemu, aku ingin tahu bagaimana hidupmu."*
Alina menatap pesan itu, sedikit tersenyum, tetapi rasa sakit yang mendalam mengisi dadanya. Sudah lama sejak terakhir kali ia merasa benar-benar dipedulikan. Sejak pernikahannya, hampir semua teman-temannya menjauh, tidak mengerti kenapa ia memilih jalan ini. Mereka tidak tahu bahwa hidupnya sekarang penuh dengan kesendirian yang mengiris hati.
Alina mengetik balasan yang singkat.
*"Aku baik-baik saja, cuma sibuk. Nanti kita ngobrol ya."*
Namun, hatinya merasa kosong. Apa yang bisa ia katakan pada Maya? Apa yang bisa ia ungkapkan tentang hidupnya yang hancur tanpa menunjukkan bahwa pernikahannya adalah kebohongan besar? Bagaimana ia bisa menjelaskan kepada sahabatnya bahwa ia merasa seperti hantu di rumah yang penuh dengan kemewahan, namun miskin dalam hal kasih sayang?
***
Beberapa hari kemudian, Arjuna kembali pulang larut malam setelah perjalanan bisnis yang panjang. Seperti biasa, ia masuk tanpa sepatah kata pun, melewati Alina yang duduk di ruang tamu. Ia menghilang ke kamar tidurnya, meninggalkan Alina dengan perasaan yang semakin berat. Malam ini, sepertinya ia tidak bisa menahan diri lagi.
Alina berdiri dan melangkah menuju kamar mereka, menahan napas di setiap langkah. Pintu kamar terbuka perlahan, dan ia melihat Arjuna tengah duduk di tepi tempat tidur, menatap ponselnya dengan wajah datar.
"Arjuna," suara Alina terdengar lebih kuat dari biasanya, penuh dengan emosi yang ia coba tahan. "Aku tidak bisa terus seperti ini. Aku lelah... aku lelah merasa seperti aku tidak ada di hidupmu."
Arjuna menoleh pelan, namun tidak ada kehangatan di matanya. Wajahnya kosong, hampir tidak terlihat terkejut dengan kata-kata itu. "Apa maksudmu?" jawabnya, tetap dengan nada datar, seolah tidak ada yang penting di balik perkataan itu.
"Apa maksudmu?" Alina mengulang, kali ini suaranya pecah, penuh dengan air mata yang ia tahan terlalu lama. "Kamu tidak melihatku. Kamu tidak mendengarku. Aku di sini, Arjuna, tapi aku bukan siapa-siapa bagimu. Kamu hanya memandangku sebagai orang yang bisa mengurus rumah ini dan anak-anakmu, bukan sebagai istrimu. Aku merasa seperti aku tidak berarti sama sekali. Apa yang harus aku lakukan untuk membuatmu melihatku? Untuk membuatmu peduli?"
Arjuna menatapnya tanpa bergerak, matanya kosong. "Aku tidak tahu apa yang kamu inginkan, Alina. Aku sudah memberimu semuanya-rumah, uang, kenyamanan. Apa lagi yang perlu aku beri?"
Kata-kata itu seperti tamparan keras yang membuat Alina terdiam. Semua yang ia harapkan-semua yang ia impikan tentang cinta, perhatian, dan kehangatan-tiba-tiba terasa begitu jauh, seperti mimpi yang hancur berkeping-keping. Apa yang ia cari tidak pernah ada di dunia Arjuna. Semua itu hanya ilusi yang ia ciptakan dalam pikirannya sendiri.
"Apa yang aku inginkan?" Alina hampir tidak bisa berkata-kata. Suaranya serak dan tercekat. "Aku ingin kamu melihatku, Arjuna. Aku ingin kamu peduli padaku. Aku ingin menjadi bagian dari hidupmu, bukan hanya seorang penghuni di rumahmu."
Arjuna tetap diam, tidak ada kata-kata yang keluar dari mulutnya. Keheningan yang terjadi membuat hati Alina semakin rapuh. Ia merasa seolah-olah suaminya tidak lagi ada di hadapannya-hanya seorang pria yang terjebak dalam rutinitas dan kewajibannya. Arjuna bukanlah seseorang yang bisa ia harapkan lagi. Ia menyadari itu.
Alina menghela napas panjang, langkahnya mundur sedikit. "Aku tidak bisa terus seperti ini. Aku ingin merasa hidup, Arjuna. Aku ingin merasa dihargai. Tetapi aku tahu, aku tidak bisa mendapatkannya darimu."
Ketika ia berbalik, langkahnya terasa berat, seolah kakinya tertanam dalam tanah. Air mata mulai mengalir di pipinya tanpa bisa ia tahan lagi. Bagaimana bisa ia bertahan dalam pernikahan yang tidak ada kebahagiaan ini? Sejak awal, ia tahu Arjuna tidak pernah menginginkan pernikahan ini, tetapi entah kenapa, ia terus berjuang. Untuk apa? Untuk siapa?
Tiba-tiba, dari belakang, suara Arjuna terdengar pelan, hampir tak terdengar. "Alina..."
Alina berhenti, namun ia tidak berbalik. Apa yang bisa ia dengar lagi dari pria yang begitu jauh darinya? Apa yang bisa ia harapkan setelah semuanya berakhir dengan luka seperti ini?
"Apa kamu benar-benar ingin pergi?" tanya Arjuna, kali ini ada sedikit penyesalan yang terperangkap di suaranya.
Alina menggigit bibirnya, berjuang untuk menahan isaknya. Ia ingin berbalik, ia ingin melihat apakah ada perubahan di wajah Arjuna, tetapi ia tahu bahwa jawaban atas pertanyaannya sudah jelas. Arjuna hanya merasa terjebak dalam kewajiban, sementara hatinya tidak pernah ada untuknya. "Aku tidak tahu lagi, Arjuna. Aku hanya ingin tahu apakah kamu benar-benar peduli padaku."
Dengan perlahan, Alina meninggalkan kamar itu, meninggalkan Arjuna dengan pertanyaan yang masih menggantung di udara-pertanyaan yang tidak pernah bisa dijawabnya. Keputusan itu terasa semakin dekat. Bertahan dalam pernikahan yang penuh luka, atau pergi dan melukai hati orang yang sudah lama ia cintai? Namun, dalam hatinya, Alina tahu-pilihan apapun yang ia buat, hatinya akan tetap hancur.
***
Malam itu, Alina duduk di tepi tempat tidurnya, menatap ke luar jendela dengan mata kosong. Hujan turun perlahan, dan dunia di luar tampak suram. Tidak ada kebahagiaan yang bisa ia temukan di dalam dirinya, hanya kekosongan yang semakin dalam.
Apakah ini akhir dari segalanya? Apakah ia harus memilih untuk pergi dan meninggalkan semuanya, atau tetap bertahan meski setiap detik semakin menyakitkan?
Di dalam dirinya, sebuah suara berbisik dengan lembut, "Jika kamu terus bertahan, kamu hanya akan kehilangan dirimu. Tetapi jika kamu pergi, kamu juga akan kehilangan segalanya."
Alina meremas tangan di atas lututnya, air mata jatuh tanpa bisa ia tahan. Hatiku hancur, ia berpikir. Tetapi mungkin, inilah jalan yang harus aku pilih.