Sena memalingkan wajahnya yang sangat merah. Apa-apaan posisi ini? Kenapa bisa membuat jantungnya tidak aman. Dia menggigit jarinya bingung mau bagaimana.
“Udah pergi, orangnya!” celetuk Tristan kembali menegakkan tubuhnya.
“Hah?” Sena justru bingung dengan apa yang dimaksud oleh Tristan. Siapa yang pergi?
“Bukannya kamu tadi ngelihatin cowok yang nggak lebih tampan dari aku yang berjalan ke arah rumah kamu? Sekarang cowok itu udah pergi.”
‘Nggak lebih tampan dari dia?’ Sena memutar bola mata malas. Selain mesum, om-om di depannya ini juga narsis rupanya.
“Sudah minggir, Om! Jangan cari kesempatan!” Sena sedikit mendorong tubuh Tristan sehingga dirinya bisa menghindar dari tubuh Tristan. Setelahnya gadis itu keluar dari rumah milik tetangga dudanya itu dengan wajah kesal.
Tristan hanya tersenyum melihat tingkah Sena. Gadis itu benar-benar mengejutkan dan sangat galak. Tristan masih melihat Sena dari balik jendela. Gadis itu berkali-kali menoleh ke arah belakang sembari menggumam tak jelas, yang justru membuat Tristan semakin terkekeh. Hari-harinya kini tidak akan membosankan lagi.
Selama ini dia tidak pernah berhubungan dengan wanita dengan selisih umur yang sangat jauh seperti ini. Dan ternyata sedikit menyenangkan. Tristan hanya senyum-senyum sendiri jika teringat gadis bau kencur itu.
***
Pagi tiba, seperti biasa sang duda akan olahraga di depan rumahnya sembari menunggu Sena berangkat kuliah. Sudah menjadi kebiasaan baginya menggoda sang dara. Seolah jika tidak melihatnya sehari saja, hidupnya menjadi hampa.
Tristan sedari tadi terus mengintip dari depan rumahnya, menunggu sang gadis keluar dari rumahnya. Dengan berpura-pura melakukan stretching. Ah, dia lebih mirip seperti remaja yang sedang kasmaran saja.
“Itu dia!” Tristan menjadi salah tingkah saat melihat Sena keluar dari pintu. Dia segera merapikan rambutnya yang telah basah oleh keringat.
Sena yang sudah melihat Tristan hanya bisa memutar bola mata malas. ‘Bisa nggak sih, gue nggak harus ketemu sama makhluk itu?’ keluh Sena dalam hati.
“Nggak dong, kamu nggak bisa menghindari aku, Sena.” Tristan nyengir setelah mengatakan hal itu. Seolah dia baru saja mendengar apa yang baru saja Sena katakan dalam hati. Sena pun hanya melotot tajam ke arah duda matang itu.
Sena sedikit merinding karena merasa Tristan bisa mendengar suara hatinya. “Om bukan dukun, ‘kan?” tanya Sena sembari menampilkan wajah ngerinya.
“Enggaklah! Masa ganteng gini dukun, sih. Om ini calon suami kamu.” Tristan nyengir, menampilkan deretan giginya yang putih, seputih iklan pasta gigi.
“Idih ... jangan ngarep, deh.” Sena melewati Tristan begitu saja. Dia bisa gila jika lama-lama bersama dengan lelaki itu. Sena berjalan dengan kesal menuju ke arah halte. Dia harus naik angkutan umum untuk menghemat pengeluaran. Maklum, dia tidak mau merepotkan orang tuanya lebih lagi.
Tristan hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah Sena. Gadis itu lugu dan polos. Sangat membuatnya penasaran. Setelah memastikan Sena hilang dari pandangannya, duda itu masuk kembali ke dalam rumahnya. Dia harus pergi ke suatu tempat setelah ini.
Masih dengan bibir manyun dan wajah kesal, Sena menunggu angkutan yang akan membawanya ke kampus. Paginya kini berubah menjadi menyebalkan semenjak ada duda rese yang tinggal di sebelah rumahnya.
“Kenapa Om rese itu malah tinggal di sebelah gue coba? Kan bikin kesel.” Sena membuang napas kasar. Bersamaan dengan itu, ada bus yang berhenti di depannya. Dia langsung naik karena itu jurusan yang membawanya ke kampus.
Sena berkali-kali mengatur napasnya, dia harus melupakan tentang Tristan jika ingin suasana harinya menyenangkan.
“Nggak penting mikirin om mesum itu. Bikin darah naik aja.” Sena melangkahkan kakinya menuju ke halaman kampus. Sudah sekitar dua tahun dia menimba ilmu di sini. Awalnya dia tidak yakin dengan keputusannya tentang hal ini. Akan tetapi, akhirnya dia bisa sampai sejauh ini.
Sena langsung menuju ke kantin. Dia belum sarapan dan butuh sesuatu untuk membuat perutnya tetap diam.
“Soto sama teh anget, Bik.” Setelah memesan, Sena duduk di kursi yang masih kosong. Dia mengambil buku dari tasnya untuk belajar. Dia tidak boleh membuat orang tuanya kecewa. Yang bisa dia lakukan hanya belajar dengan rajin dan saat pulang membawa gelar sarjana.
“Pagi, Sena ....” Seorang gadis manis dengan pakaian yang sangat fashionable menghampiri Sena. Dia langsung duduk di depan dan menyambar buku yang dibaca Sena.
“Apa-apaan lo, Tiara? Gue lagi belajar tahu.” Sena tampak kesal karena temannya ini selalu saja mengganggu kegiatannya.
Gadis yang bernama Tiara itu berdecak. “Belajar mulu. Kapan lo nikmati masa muda lo, Sena? Nggak bosen apa belajar terus?” Dengan malas, Tiara atau yang lebih sering dipanggil Ara itu mengembalikan buku itu. Dia sangat kesal jika terus melihat Sena belajar, seolah hidupnya hanya untuk belajar.
“Gue ‘kan nggak kaya sama lo. Gue nggak mau bikin keluarga gue kecewa.”
“Ck! Alesan aja lo. Belajar nggak salah, tapi sesekali seneng-seneng ‘kan nggak salah.” Jika Sena adalah anak dari keluarga biasa, maka berbeda dengan Tiara. Gadis itu berasal dari keluarga kaya yang memiliki sebuah perusahaan. Sifat keduanya pun berbalikan. Tiara termasuk gadis yang senang dengan pesta dan suka dugem.
Sena hanya geleng-geleng kepala jika sudah seperti ini. Mereka berdua berbeda, tetapi anehnya mereka bisa berteman hingga dua tahun. Sena dengan sikapnya yang suka belajar, sedang Tiara yang kebalikannya, dia datang ke kampus hanya untuk absen saja.
Pesanan datang sehingga membuat pembicaraan mereka berakhir.
“Ini sotonya, Neng.” Mangkuk soto diletakkan di depan Sena, aromanya yang menguar membuat perutnya bertambah lapar.
“Aku juga mau, Bik. Soto satu sama es jeruk, ya.” Tiara rupanya ikut tergiur akan aroma soto itu.
“Baik, Neng.”
Setelah sarapan di kantin, mereka pun masuk ke dalam kelas. Sena tidak suka jika harus terlambat masuk kelas. Baginya waktu itu sangatlah berharga.
“Selamat pagi!” Seorang dosen masuk ke dalam ruangan. Dosen wanita yang masih muda, mungkin usianya di awal tiga puluhan.
“Pagi ....”
“Bu Citra katanya sudah pernah nikah, lho.” Tiara berbisik di sebelah Sena. Dia terlihat begitu antusias jika membicarakan tentang orang lain.
“Maksud lo ... Bu Citra janda gitu? Bukannya sekarang nggak punya suami?” Entah kenapa Sena ikut-ikutan tertarik. Padahal biasanya juga dia tidak peduli.
Tiara mengangguk senang. Berita ini dia dapatkan baru-baru ini, dan dia merasa bangga karena termasuk salah satu orang yang mengetahui tentang hal ini pertama kali.
“Kita kedatangan mahasiswa baru.” Seorang pemuda berusia sekitar awal dua puluhan masuk ke dalam kelas. Tiara langsung menyenggol lengan Sena yang sedang memperhatikan bukunya.
“Sena. Angkat kepala lo. Ada cowok cakep,” bisik Tiara pada Sena. Sena yang awalnya tidak tertarik langsung mengangkat wajahnya. Betapa kagetnya dia saat melihat siapa yang saat ini berdiri di depan kelas.
Saat matanya bersinggungan dengan mata Sena, pemuda itu tersenyum miring. Seolah dia sedang memberikan sebuah sapaan untuk gadis berusia dua puluh tahun itu.
Sena menelan ludahnya berkali-kali saat melihat mahasiswa yang baru saja masuk. Bahkan dia sama sekali tidak mendengarkan penjelasan Bu Citra tentang mahasiswa itu.
Sena tidak percaya jika lelaki itu bahkan mengejarnya hingga ke kampus. Bukankah ini terlihat sangat mengerikan? Tanpa sengaja Sena bergidik ngeri, apa sebenarnya mau dari Fabian?
“Lo kenapa, Sena? Kemana nggak fokus gitu?” Tiara menyenggol lengan sahabatnya yang wajahnya kini berubah pucat. Apa Sena tiba-tiba sakit?
“Gue ... gue ....” Sena melirik ke arah Fabian yang kini telah duduk di salah satu kursi. Bahkan saat ini dia kesulitan dalam menelan ludahnya. “Gue nggak papa, Ra. Mungkin ngantuk karena semalam begadang,” bohong Sena. Dia tidak mungkin mengatakan jika dia takut dengan Fabian, mahasiswa baru yang menurut Tiara tampan itu.
“Ah, iya.”
Waktu istirahat pun tiba. Seperti biasa jika Sena dan juga Tiara akan bersama ke kantin. Mereka layaknya kembar dampit yang tidak terpisahkan. Tiara dan Sena selalu memilih tempat di pojokan.
“Boleh aku duduk di sini?” Seorang pemuda tampan memasang senyum menawannya, menatap ke arah dua gadis yang saat ini sedang bengong.
‘Ngapain Fabian duduk di sini?’ batin Sena. Dia merasa tidak nyaman dengan kehadiran pemuda itu.
“Boleh ... boleh ...! Silakan duduk!” Berbeda dengan Sena yang sebenarnya enggan, Tiara justru memberi tempat pada pemuda itu. Sena hanya bisa mendelik tajam ke arah sang sahabat.
“Apa kabar, Sena?” Fabian tersenyum ke arah Sena yang membuat gadis itu merasa kesal. Fabian memang tampan, tetapi ... ah, sudahlah. Sena hanya ngeri sama sikapnya.
“Kalian saling kenal?” Pupil Tiara membulat sempurna saat ini. Dia merasa kesal, kenapa Sena tidak memberitahukan masalah ini.
“Itu—“
“Kami teman SMA,” jawab Fabian memotong ucapan Sena.
‘Mantan pacar tepatnya,’ lanjut Sena dalam hati. Sena tipe orang yang tidak mau kembali mengingat masa lalu. Dan hubungannya dengan Fabian telah dia anggap sebagai masa lalu yang tidak ingin dia ingat kembali. Tetapi, kenapa justru Fabian yang kembali datang menemuinya.
“SMA? Kok lo nggak ngomong sih, Sena.” Tiara menampilkan wajah kesalnya.
“Lo nggak nanya,” jawab Sena enteng sembari memakan makanannya. Dia mengalihkan pandangannya ke arah lain, seolah sedang menghindari mata Fabian yang sedari tadi terus menatap ke arahnya.
“Ck!” Tiara hanya bisa berdecak kala mendengar jawaban dari Sena. Dia yang tidak mau ambil pusing akhirnya mengajak bicara Fabian.
“Eh! Kita belum berkenalan secara pribadi. Gue Tiara. Lo fabian, ‘kan?” Tiara mengulurkan tangannya, dengan senyum cerah di wajahnya tentunya.
“I-iya. Aku Fabian.” Fabian menerima uluran tangan Tiara, tetapi matanya selalu saja melirik ke arah Sena.
“Kalau dia, lo nggak perlu kenalan lagi tentunya.” Tiara terkekeh sembari menyenggol lengan Sena, membuat gadis itu mau tak mau harus ikut tersenyum.
Waktu istirahat berakhir. Sena dan Tiara berpisah di depan kelas karena mereka mengambil mata kuliah yang berbeda.
“Da ... Sena.”
“Da ... Ara.” Sena masuk ke dalam kelas sembari geleng-geleng kepala. Temannya itu memang selalu saja bisa membuatnya tertawa.
“Untung ada Tiara. Jadinya kalau gue lagi kesel sama om duda itu, ada yang ngehibur,” gumam Sena saat mendudukkan bokongnya di kursi.
“Aku boleh duduk di sini?” Sena langsung mendongak ke arah suara yang berbicara padanya. Wajah tersenyum orang itu membuat Sena tidak bisa berkedip.
“Lo mau apa?” tanya Sena tanpa sadar. Fabian telah berada di hadapannya.
‘Apa mau orang ini, sih? Kenapa seakan dia emang sengaja ngikutin gue?’ batin Sena menjerit ngeri. Kemarin dia terpaksa harus ngumpet ke rumah duda tetangganya karena melihat Fabian berjalan ke arah rumahnya. ‘Apa dia nggak ada kerjaan selain ngikutin gue?’ Semoga saja apa yang dia pikirkan tidak terbukti.
“Aku? Aku Cuma mau duduk di sini. Sudah tidak ada tempat lagi.”
Sena segera mengedarkan pandangannya. Memang kursi di kelas itu penuh semua. Tinggal sebelahnya saja yang masih kosong.
“Ya udah. Duduk aja!” ucap Sena malas. Dia sungguh enggan bertemu kembali dengan Fabian. Kejadian masa lalu sungguh membuatnya merasa benci pada lelaki yang saat ini sudah duduk di sebelahnya.
“Kamu apa kabar?” tanya Fabian sembari mengeluarkan buku dari dalam tasnya.
“Seperti yang lo lihat. Gue sangat baik,” ketus Sena. Entah kenapa perasaan benci Sena pada Fabian sangat awet. Bahkan setelah dua tahun, dia tetap tidak bisa memaafkan Fabian.
Fabian menghela napas panjang. “Aku selama ini masih bertanya-tanya tentang kesalahanku padamu. Kenapa kamu mutusin aku waktu itu?”
“Selamat siang, semua!” Pak Harun, dosen berusia sekitar lima puluh tahun masuk ke dalam ruangan. Semua mahasiswa menjawab serentak sapaannya.
“Selamat siang, Pak.”
Sena bernapas lega. Akhirnya dia memiliki alasan untuk tidak menjawab pertanyaan Fabian. Matanya kini fokus pada penjelasan Pak Harun. Fabian tampak kesal karena Sena sama sekali tidak menanggapinya.
Saat materi berlangsung, Sena sama sekali tidak melepaskan pandanganya dari arah Pak Harun. Bahkan dia enggan untuk melihat ke arah Fabian. Padahal lelaki itu sedari tadi terus melihat ke arah Sena. Dia sangat ingin berbincang dengan gadis itu.
“Sena. Tidak bisakah kamu menjawabku?” bisik Fabian. Dia bukan orang yang sabar menunggu jawaban.
Sena tidak tahu jika saat ini mereka berdua menjadi pusat perhatian. Fabian, mahasiswa baru yang tampan, terlihat menghampiri Sena dan mengajak berbicara.
Sena melihat ke arah Fabian malas. “Lo tahu ‘kan gue lagi ngapain? Lo juga liat depan. Jangan banyak ngobrol.”
Fabian hanya bisa meremas tangannya kesal. Dia tidak menerima penghinaan ini. Setelah mendapat balasan ketus dari Sena, Fabian tidak lagi berbicara. Dia menatap ke arah depan, seperti apa yang Sena katakan. Akan tetapi, pikirannya tidak berada di sana.
Kuliah berakhir. Sena buru-buru ingin keluar dari ruangan. Dia merasa risih berdekatan dengan Fabian. Dia tidak menyangka jika Fabian bakal mengejarnya hingga rela pindah tempat kuliah.
“Sena, tunggu!” Fabian menahan lengan Sena. Dia tidak suka jika Sena terus menghindar darinya.
“Apa lagi sih, Bian?” tanya Sena malas. Dia melihat ke arah tangan Fabian yang saat ini mencengkeram lengannya.
“Aku mau kita bicara. Aku nggak bisa kayak gini terus.” Sena melihat ke sekitar. Jika dia tetap bersikukuh untuk menolak berbicara dengan Fabian, maka sudah dipastikan jika semua orang bahkan melihat ke arahnya.
“Oke! Tapi, lepasin ini dulu.”
“Oke! Oke! Aku bakal lepasin.”
Mereka pun akhirnya memilih untuk berbincang di belakang kampus. Ada sebuah taman di sana. Sena memilih duduk di bawah pohon besar yang memiliki daun yang rindang. Ada sebuah kursi panjang di sana.
“Lo—“ Saat hendak berbicara, Sena melihat sesosok yang sangat menyebalkan. Matanya menjadi fokus pada sosok itu dan mengabaikan Fabian.
‘Ngapain om mesum itu ke kampus ini?’ batinnya. Entah kenapa meski kesal, dia tetap tidak bisa menolak pesona sang duda. Nyatanya dia sampai tidak berkedip saat ini.
“Sena ... Sena ....” Fabian melambaikan tangannya ke depan wajah Sena. “Kamu nggak papa, ‘kan?”
“Eh ... nggak! Gue nggak papa.” Sena berdehem. “Mau lo apa ngajak bicara gue?” lanjutnya.