Bab 2

Bab 2 Di rumah sang mafia

Setelah aku terbangun, aku memandangi

Langit - langit ruangan ini.

Tempat ini tampak asing karena baru kali ini aku melihatnya.

" Apakah ini di surga" aku mengucek ke dua mataku seakan tidak percaya.

Mataku terpana kala melihat sebuah foto keluarga di dinding kamar ini.

Ada sepasang suami istri dan di tengah - tengah mereka seorang lelaki tampan, pasti anaknya.

Siapa mereka? Aku belum pernah melihat ataupun bertemu orang - orang itu.

Aku mencoba mengingat kejadian semalam dimana aku di bawa beberapa orang laki - laki berseragam jas serba hitam.

Jangan - jangan ini rumah penculik itu, tapi kenapa aku ada di kamar mewah ini?

Bukannya kalau di tv itu di culik di bawa ke gudang?

Atau........

Aku langsung membuka selimut yang menutupi tubuhku dan memperhatikan seluruh pakaianku.

" Lengkap, sepertinya aman dia tidak macan - macan" aku masih kebingungan dengan tempat ini.

Tiba-tiba pintu terbuka dan membubarkan lamunan ku.

Tampak seorang lelaki tinggi dan berbadan atletis menghampiriku.

" Sudah bangun!" Kata lelaki itu.

" Kamu siapa? Kenapa saya ada disini?" Setenang mungkin ku coba bertanya.

" Hahaha.......

Apa Fajar tidak memberi tahumu ?" Dia balik bertanya padaku.

" Bang Fajar maksudnya?

Ada apa ini?" Aku masih bingung kenapa dia mengenal Bang Fajar lagian sepertinya tidak mungkin.

Aku tahu betul siapa saja teman Bang Fajar.

" Abang kamu butuh uang dan kamu jaminannya!" Katanya.

" Apa!!!!!

Nggak mungkin!

Bang Fajar memang punya utang, tapi tidak mungkin dia menjual adiknya!" Tegas ku. Rasanya seperti tertimpa beban ber ton - ton dan tak percaya Abangku menjual adiknya sendiri hanya untuk membayar hutang yang entah dia berhutang pada siapa.

Aku menangis sejadi jadinya tanpa malu di depan pria itu.

" Udahlah nggak usah nangis.

Dasar cengeng!" Dia membentakku sambil berlalu meninggalkan ku dan mengunci pintu kamar ini.

Fix dia orang jahat dan tak punya hati.

Tak ada rasa prihatin dan kasihan malah membentak.

" Hei keluarkan aku dari sini" ku gedor dan pukul pintu kamar sekuat tenaga, tapi tidak ada yang membuka.

" Tolong buka pintunya!".

Sepertinya percuma dan buang - buang tenaga saja.

Hingga aku merasa mengantuk dan tertidur lelap di kasur empuk itu.

Terasa bagaikan mimpi di siang bolong, baru tadi pagi kami bertengkar masalah hutang tak percaya Abangku menjual ku bagaikan barang yang sudah tidak berguna lagi.

Apa salahku Bang, sampai kau begitu tega padaku.

Dari kecil ibu mengajari kita untuk saling menyayangi dan menjagaku sebagai adik, meskipun kita tidak terlahir dari rahim yang sama.

Tiba-tiba ada yang membuka pintu kamar dengan hati - hati dan membuatku tersentak.

Ternyata sudah pagi lelap juga tidurku malam ini.

" Selamat pagi non! Silahkan di makan ini sarapannya" sepertinya dia asisten di rumah ini.

Masih muda, mungkin usianya sekitar 30an.

Dengan sopan dia meletakkan nampan di meja dekat ranjang.

Aku masih terpana dengan panggilan "Non" apa maksudnya?

" Terimakasih Mbak. Kenapa memanggilku dengan sebutan Non?" Ku pandangi wajahnya yang terlihat menunduk.

" Saya di minta Tuan Raska untuk melayani Non Riana" oh jadi namanya Raska.

" Untuk apa" aku masih bingung apa maksud Raska memperlakukanku seperti Nona di rumah ini.

" Entahlah Tuan Raska tidak bilang apa - apa" benar - benar aneh orang itu.

" Aku ingin keluar dari sini Mbak, aku merasa bosan berada di kamar ini sendirian. Aku ingin melihat suasana di rumah ini" aku memohon pada perempuan itu.

" Maaf saya tidak berani jika tidak mendapat perintah Non.

Tuan Raska itu sangat kejam dan tidak segan - segan menghabisi kami" terlihat sekali dia ketakutan pada Tuannya.

" Apa!!! Lalu kenapa Mbak kerja di sini?" Aku membulatkan mata sangat terkejut.

Memang ada ya orang se kejam itu, aku fikir hanya ada di sinetron saja tapi ternyata ada di dunia nyata.

" Dulu saya ini korban dari prostitusi dan perdagangan manusia Non, lalu Tuan Raska membeli kami semua dari para pelaku dan menjadikannya pelayan.

Tuan Raska seorang pengusaha terkenal dan paling sukses di kota ini tapi beliau juga seorang Bos mafia yang sangat kejam.

Tapi dia tidak pernah mengotori tangannya dengan menghabisi musuh atau tawanannya, dia punya orang yang di pekerjaan sebagai pembunuh " panjang lebar Mbak Titin menjelaskan profesi Tuan nya yang membuatku bergidik merinding.

Ternyata aku di jual pada seorang Bos mafia yang kejam.

Tuhan lindungilah hamba Mu ini dari kejahatan orang - orang di sini, berilah jalan keluar untuk ku lari dari penjara ini.

Mbak Titin berpamitan keluar untuk melanjutkan pekerjaannya.

Aku hanya mengangguk sambil memikirkan bagaimana nasibku nantinya.

Jangan sampai aku bernasib tragis di sini.

Jendela disini terbuat dari kaca yang sangat sulit di buka bahkan untuk mengintip ke luar jendela pun susah. Sepertinya aku berada di lantai atas karena samar - samar terlihat jauh dari tanah.

Entah rumah ini tingkat berapa terlihat ada pepohonan di depan jendela suasananya seperti di dekat pegunungan.

Di kamar ini juga ada banyak buku - buku besar seperti novel dan buku tentang bisnis.

Tertata sangat rapi dan bersih seperti ada penghuninya sebelum aku.

Tak terasa hari sudah sore, dan Mbak Titin membawakanku sepasang baju yang sangat bagus dan terlihat sangat mahal.

" Mandi dulu Non ini baju gantinya" Mbak Titin menyodorkan baju berbahan satin nan halus itu padaku.

" Kok pendek banget Mbak?" Aku menenteng dan menempelkan baju itu di badanku.

" Saya tidak tahu Non, itu udah dari Tuan Raska segitu" Mbak Titin berlalu meninggalkanku.

Aku buru-buru mandi karena badan berasa lengket dari pagi belum mandi. Kamar mandi ini sangat luas dan bersih, wangi lagi.

Kamar mandi orang kaya memang sangat terawat ya.

Setelah selesai, aku duduk di depan cermin dan merasa tidak nyaman dengan baju dress yang sangat pendek di atas lutut ini.

Di rumah pun aku tidak terbiasa mengenakan pakaian minim, apa lagi ada Bang Fajar!

Ah sial, aku jadi teringat Fajar sialan itu.

" Ayo keluar" tiba-tiba pintu terbuka dan terlihat Raska sudah berdiri di depan pintu sambil memperhatikan ku dari ujung kaki sampai ujung kepala.

Seketika aku risih dan malu karena ini penampilan pertama di depan pria.

Aku menghampirinya dengan langkah was - was, aduh ada apa lagi ini?

Ternyata rumah ini sangat mewah seperti istana, banyak ukiran dan pernak-pernik berlapis emas di setiap sudut dan meja.

Lampu gantung yang cantik dan kerlap - kerlip menghiasi langit - langit rumah ini.

Luar biasa surga dunia, tapi sayang ini neraka bagiku.

" Duduk dan makanlah" kata Raska begitu tiba di tempat makan.

Tersedia banyak makanan dan berbagai jenis lauk terhidang di meja makan.

" Cepetan setelah itu tidur" dia sudah mulai makan duluan, sementara aku masih bingung memilih makanan yang mana.

Akhirnya aku memilih ikan gurame bakar dan lalap timun .

Makanan di sini sangat enak dan sambal terasi pun sangat berasa .

Pasti juru masaknya bukan sembarangan.

Setelah selesai, Raska mengantarkan ku ke kamar.

Loh ngapain pintunya dikunci!

Dia mengambil baju dari lemari dan membawanya ke kamar mandi, mungkin ganti baju.

Dia keluar dari kamar mandi dengan kimono dan menghampiriku .

" Ayo tidur" dia menarikku dengan kasar dan melemparku ke ranjang.

Astaga, apa yang akan terjadi padaku?...

Bab 3

" Apa yang kamu lakukan?" Ujarku sambil mencoba untuk bangkit dari ranjang.

Dia pun kembali mendorongku dan aku melawannya tapi kalah tenaga dengannya.

Dia semakin ganas menyerang dan menarik tanganku.

" Diam!

kalau kamu mau selamat, turuti saja apa mau ku" matanya melotot dengan suara keras membentak ku.

Rasanya ingin menangis dan berteriak "ibu tolong Riana".

Tuhan tolong jauhkan aku dari orang jahat ini.

Tak kuasa melawan dan tubuhku lemas seketika, dia pun langsung memeluk tubuhku dengan erat.

Sesak dada ini sampai untuk bernafas pun berat karena pelukan Raska yang sangat kuat.

" Tidur!" sekali lagi dia membentak ku.

Rasanya aneh, deg-degan dan takut sekali.

Berasa seperti suami istri, dia mendekap tubuhku dari belakang.

Untuk bergeser pun sulit karena posisi ini.

Mudah mudahan semua ini hanyalah mimpi belaka.

Mata terasa mengantuk dan sulit untuk di ajak kompromi.

Jangan - jangan makanan yang sudah ku makan tadi di beri obat tidur.

Hoaam... Aku tertidur di pelukan Raska.

Tidak pernah terbayangkan hidupku akan seperti ini.

Berapa duit yang sudah di keluarkan nya pada Bang Fajar untuk membeli ku?

Keesokan paginya Raska sudah bangun terlebih dulu.

Mata ini terasa seperti di lem dan sangat susah untuk di buka.

Terlihat Raska baru keluar dari kamar mandi.

" Sepagi ini" pikirku dalam hati.

Baru juga jam 05.00 apa ada kerjaan mendadak.

" Hari ini aku ke luar kota untuk cek lokasi pembangunan apartemen" katanya sembari membuka lemari pakaiannya.

Aku hanya mengangguk sambil tersenyum senang, karena malam ini bisa terbebas dari Raska.

" Pergi aja nggak usah balik sekalian" dalam hati aku bersorak penuh harap.

" Kamu pasti senang kan aku pergi" dia menoleh sambil memakai dasi warna coklat yang terlihat serasi dengan warna jasnya.

" Hah!" mulut ku seketika menganga.

Kok dia tahu yang di pikiranku, batinku.

Jangan - jangan selain jadi Bos mafia dia juga ahli baca pikiran orang.

" Aku bisa melihat dari raut wajahmu" ujarnya sambil mengeluarkan koper dan mulai memasukkan baju - bajunya.

Aku hanya tersenyum menanggapinya. Syukurlah, gumamku sembari mengelus dada.

Sepertinya dia terbiasa mempersiapkan keperluannya sendiri.

Aku memberanikan diri bertanya soal semalam.

" Apa yang sudah kamu lakukan padaku semalam?" Tanya ku.

" Hahaha...... Kamu pikir aja sendiri apa yang dilakukan oleh dua orang lelaki dan perempuan ketika sudah dewasa saat berduaan di dalam kamar" jawab Raska sambil tertawa penuh kemenangan.

Tak terasa air mata ini menetes membasahi pipi.

" Kenapa kau tega melakukan semua ini padaku" aku menangis sesenggukan meratapi nasib.

" Kau sudah ku beli dari Abang mu, jadi ya terserah mau ku apakan kau sudah jadi milikku" kata Raska sambil memegang daguku dan mengangkat mendekati wajahnya.

" Apakah aku bisa kembali pulang setelah ini?" Tanyaku lagi.

" Hahaha... Lucu sekali kau ini!

Apa yang sudah di dapat seorang Raska tidak akan pernah bisa lepas" jawab Raska sambil melepaskan daguku dengan kasar dan berlalu menghadap kaca di depan ranjang.

Aku masih terpana melihatnya.

Bagaimana ini, sampai kapan aku harus seperti ini?

Aku ingin bebas, ingin menikmati kehidupan seperti biasanya.

Aku juga punya keinginan bekerja di sebuah perkantoran.

Yah meskipun rasanya tidak mungkin, karena aku hanya tamatan SMA. Rencananya setelah tabungan ku cukup, aku ingin kuliah sambil kerja.

Tapi impian - impian itu hancur kala aku harus berada di rumah seorang mafia karena Bang Fajar.

Aku sangat benci dengan Fajar lelaki brengsek dan mata duitan itu.

Semoga saja dia mendapatkan balasan yang setimpal dengan apa yang sudah di lakukan nya padaku.

Ingin sekali aku menemuinya dan memukuli sampai babak belur.

Aku benci kamu Bang Fajar........

" Kamu boleh keluar dari kamar tapi tidak untuk keluar rumah" kata Raska sambil melangkah sembari menyeret kopernya keluar dari kamar.

Aku pun mengikutinya dari belakang.

Setelah dia turun sampai lantai bawah, aku segera masuk kamar dan menjatuhkan tubuhku di ranjang.

Aku menangis sejadi jadinya, aku tidak peduli lagi jika ada yang mendengar. Sampai - sampai aku tidak tahu Mbak Titin masuk dan membawakan ku sarapan.

" Maaf Non saya langsung masuk karena pintunya terbuka.

Sabar ya Non" kata Mbak Titin sambil meletakkan nampan di meja.

Lalu dia menghampiri ku dan duduk di tepi ranjang.

Aku tidak menjawab, hanya suara tangis yang keluar dari mulutku.

" Ya udah kalo Non Riana gak mau cerita, sekarang hapus air matanya dan mandi nanti saya ajak jalan - jalan" hibur Mbak Titin menenangkan dan menghapus air mataku.

Aku mengangguk lalu bangkit dari ranjang menuju kamar mandi.

Semoga saja ada jalan keluar untuk kabur dari rumah ini, mumpung Raska pergi ke luar kota.

Setelah selesai, aku di suruh sarapan terlebih dahulu baru turun ke bawah.

Rumah ini memang luas dan asisten rumah tangganya juga lebih dari sepuluh.

Mereka bekerja sesuai tugas yang sudah diberikan oleh ketua asisten.

Ya, saking banyaknya sampai harus ada ketuanya.

Dan Mbak Titin asisten khusus untuk melayani ku dan mengantarkan kemanapun aku pergi.

Mereka tersenyum dan menundukkan kepalanya saat melihatku melewati mereka.

Aku membalas senyuman mereka dengan tulus.

Apa aku nantinya akan jadi seperti mereka?

Tapi itu jauh lebih baik daripada menjadi budak nafsu Raska.

Memang sih semalam dia hanya memeluk saja tapi kan nggak tahu nantinya.

Ku perhatikan setiap sudut demi sudut rumah ini dan aku sangat takjub sampai rencana akan kabur pun sempat terlupakan.

Mbak Titin memberi tahu ku semua ruangan yang ada di sini seperti seorang pemandu wisata.

Ya, sangat detail dan jelas.

Saat kami sampai di depan pintu keluar sudah ada satpam yang berjaga.

Waduh kalo begini caranya akan susah untuk kabur.

" Selamat pagi Non, mau kemana" satpam di depan pintu itu menyapa ku.

Aku hanya mengangguk sambil tersenyum.

" Saya di minta Tuan Raska untuk mengajak Non Riana jalan - jalan di taman samping, biar nggak bosan Man" Mbak Titin menjelaskan tujuannya pada satpam yang bernama Salman itu.

Mbak Titin mengajakku duduk di bangku taman yang penuh dengan berbagai jenis bunga yang cantik dan warna - warni tersebut.

Banyak kupu-kupu yang menghampiri dan berebut hinggap untuk menghisap madunya.

Mbak Titin menceritakan awal mula bagaimana dia bisa berada di sini.

Mulai dari masa kanak-kanak yang sangat menyenangkan dan tertipu sebuah agen penyalur tenaga kerja ke Hongkong.

Hingga mendapat perlakuan kasar di penampungan untuk di jual sebagai pelayan pria kesepian.

Hingga akhirnya ia di tebus Raska untuk di jadikan pembantu di rumahnya.

Dunia memang sangat kejam dan tidak berpihak pada orang miskin seperti kami.

Bahkan di permainkan oleh orang - orang yang berkuasa.

Setelah bosan di taman Mbak Titin mengantarkan ku ke kamar kembali.

Sesampainya di kamar ku rebahkan tubuh ini di ranjang.

Sepertinya akan susah keluar dari sini huft . .. aku menghela nafas panjang sambil memandangi langit - langit kamar.

Bosan juga tidak ada tv.

"Orang kaya pelit" gumam ku sembari membenamkan wajahku ke bantal.

Di saat aku membalikkan tubuh tiba-tiba ada seorang lelak

i duduk di tepi ranjang.

" Astaghfirullah" aku berteriak kaget dengan kehadiran laki - laki itu.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED