Mentari pagi yang hangat menyelusup ke segala arah dan setiap sudut yang bercelah. Jaden menatap intens Juliana di pelukannya. Menyentuh-nyentuh wajah wanita itu dengan telunjuknya. Memutari keningnya ke pipi, lalu hidung ... Hingga turun ke bibir, tak sanggup ia tahan hasrat untuk tak mengecup bibir seksi Juliana yang sedikit bengkak lantaran ulahnya semalam.
Wanita itu mengerang, menggeleng wajah enggan dicium lagi. Perlahan ia mendorong dada bidang Jaden yang terekspos. Namun pria itu malah menarik kembali tubuh sintal Juliana ke pelukannya. Juliana mengerutkan kening merasakan urat-urat di pelipisnya yang berdenyut-denyut.
Menggeliat, merasakan sesuatu menguncinya kuat. Perlahan kesadarannya terkumpul, ia pun mengerjap-ngerjapkan matanya. Menguceknya pelan, dan mengerjapkannya lagi.
‘Eh?’ batinnya tersentak kaget.
”Morning, my queen ....” sapa Jaden dengan suara parau khas bangun tidur.
Sontak Juliana bangkit sekaligus.
Jedug!
“Aw!” ringisnya.
Jaden ikut bangkit mengusap-usap pucuk kepala Juliana yang terbentur atap mobil.
“Hati-hati dong Na,” ucap Jaden panik.
“Ah ...!” Juliana malah berteriak, menutupi tubuh depannya dengan kedua tangan yang disilangkan, menyadari tubuhnya terekspos tanpa sehelai benang pun.
“Sssst ....” desis Jaden sambil menempelkan telunjuknya di bibir Juliana.
Gegas ia menutupi tubuh Juliana dengan jaketnya. “Aku udah lihat semuanya semalam,” bisiknya membuat pipi dan telinga Juliana memerah malu.
Bugh!
Wanita itu memukul dada Jaden membuatnya mengaduh kesakitan.
“Arghh ....” Jaden memegangi dadanya sambil meringis kesakitan, seperti sesak nafas.
“Ka ... Kamu gapapa?” tanya Juliana panik. Namun Jaden malah terkekeh menahan tawa. Membuat Juliana mencebik, menyadari ia baru saja dipermainkan.
Teringat kembali situasi saat ini, Juliana membuang nafas kasar, frustrasi.
“Apa yang kita lakukan?” tanyanya penuh sesal.
“Padahal semalam kau sangat menikmatinya,” seloroh Jaden. Juliana mendelik tajam.
Gegas wanita itu memunguti pakaiannya yang berserakan, lalu memakainya.
“Aku akan bertanggung jawab,” ucap Jaden dengan nada pasti. Kini Juliana yang terkekeh, dengan wajah frustrasi.
“Kamu, tak mengerti ....” gumamnya.
“Apalagi yang kamu pertahankan dalam pernikahanmu?” tanyanya sambil hendak meraih lengan Juliana. Namun wanita itu menepisnya.
“Aku pulang sekarang,” ucap Juliana tanpa menunggu respon Jaden.
“Biar kuantar!” ucap Jaden sedikit berteriak, namun Juliana terlanjur keluar dan setengah membanting pintu mobil.
Jaden tak langsung mengejarnya. Ia belum mengenakan pakaian. Menepuk dahi, Jaden mendengus frustrasi.
“Juliana ....” gumamnya tanpa ekspresi.
Sedangkan Juliana dengan wajah semrawut berjalan cepat, menuju parkiran ia gegas menyalakan motor dan melajukannya secepat kilat. Melewati jalanan yang ramai kendaraan berlalu lalang. Menyalip setiap kendaraan yang menghalangi lajunya. Sesekali ada yang meneriakinya lantaran membawa motor seperti pembalap gila.
Bulir air matanya berjatuhan, lalu menghilang terbawa angin kencang dari laju motornya. Pikirannya kacau, harga dirinya seperti hancur. Kehormatan yang ia jaga untuk suaminya kini sudah tersentuh pria lain. Ia tak menyalahkan Jaden. Sungguh. Ia mengakui kesalahannya. Kekhilafannya.
15 menit Juliana sudah sampai di halaman rumahnya. Tak ada seorang pun di sana. Raffa dan Rasya bujang tanggungnya, sudah berangkat sekolah.
Kriet!
Gerbang besi ia buka perlahan, lalu ia memasukkan motornya.
“Dek?” tiba-tiba seseorang menegurnya dari balik pintu ruang tamu. Menatapnya heran seolah bertanya, ‘dari mana?’ Sontak Juliana membulatkan netra tak mengira akan kehadirannya.
“Mas Rafli?” tanya Juliana pelan.
Rafli mengucek mata, ia terlihat seperti baru bangun tidur.
“Ah, maaf aku membangunkan mas ya?” tanya Juliana asal.
“Ah! Tidak, kok. Cepat masuk, pegal berdiri terus,” titah Rafli membuat Juliana melongo lalu mengekori Rafli masuk ke dalam rumah.
‘Dia tak menanyaiku habis dari mana?’ batin Juliana.
“Mas kapan pulang?” tanya Juliana memberanikan diri.
“Semalam jam 12, kata Raffa kamu menemui teman. Iya ... Begitu lebih baik. Dari pada kamu bosan terus di rumah gak ada mas. Main, atau ngumpul teman sesekali boleh,” ujar Rafli tanpa diduga. Juliana menunduk tanpa ekspresi.
Bukan itu yang ingin ia dengar dari seorang suami yang pulang lebih dari sebulan sekali. Rasanya ... Berbeda. Meskipun hasratnya sudah tersalurkan semalam, ia masih ingin menuntut sesuatu dari Rafli.
Rafli yang duduk di sofa bangkit, saat Juliana ikut duduk di sampingnya.
“Mas mandi dulu, gerah banget kipasnya rusak,” ucapnya sambil beranjak lalu bangkit. Juliana bengong menatap punggung suaminya itu, sedikit rasa ngilu terasa di hatinya seperti cubitan-cubitan kecil.
“Ah iya. Uang bulanan mas taruh di atas lemari,” ucapnya bangga sambil melirik Juliana dengan senyuman simpul. Juliana mengangguk hampa.
‘Apa yang aku lewatkan? Biasanya pun sama. Cinta? Sepertinya hal itu sudah lama berlalu. Sudahlah, Juliana,’ monolog Juli dalam batin.
Juliana berjalan ke arah kamarnya. Kamar utama berada di lantai dua rumah mini malis bernuansa hitam dan putih itu. Ia menaiki satu persatu anak tangga, yang baru saja Rafli lewati juga. Sambil memegang lengan tangga, ia berjalan lunglai.
Kelebatan ingatannya semalam dengan Jaden, terlintas kembali di benaknya. Sentuhan demi sentuhan seolah terasa kembali olehnya. Bahkan suara parau pria yang baru saja bercerai itu ‘katanya’ terngiang-ngiang di telinganya. Seketika darahnya berdesir kembali. Tubuhnya menggigil menginginkan lagi perasaan seperti itu.
Setibanya di kamar ia menghempaskan tubuh mungilnya yang sintal ke atas ranjang. Nyaman. Perlahan matanya terpejam.
“Dek ... Dek? Naya? Dek?” Sayup-sayup Rafli membangunkan Kanaya. Menggoyangkan lengannya pelan, ia mendekat lalu duduk di tepi ranjang.
Juliana mengerang, sedikit menggeliat lalu meregangkan tubuhnya.
“Kenapa mas?” Juli memicingkan mata, nampak sosok Rafli dengan bertelanjang dada. Rambutnya yang basah terlihat menggoda. Dengan hanya mengenakan celana bokser, ia menatap Juli penuh arti.
Juliana bangkit lalu beringsut mundur, ia mengerti. Rafli sedang ingin melakukannya. Namun ia tak mungkin melakukannya sekarang. Juli yakin, tubuhnya pasti dipenuhi tanda yang dibuat oleh Jaden. Namun ia tak tega jika harus menolak keinginan Rafli.
‘Apa yang harus kulakukan?’ batin Juli kebingungan, dan ketakutan.
Darahnya berdesir, saking bingung, dan takut ketahuan. Apa yang harus ia perbuat? Hening. Rafli masih menatap Juliana penuh harap. Tak mencoba meminta, namun Rafli terlihat sedikit memaksa. Dalam bingung tanpa sadar Juliana menggigil menahan panik.
“Kenapa de?” tanya Rafli sedikit heran.
“Kamu sakit?” tambahnya.
Mendengar pertanyaan kedua Rafli, seolah muncul lampu bohlam dari kepalanya. Ia pun mengangguk cepat.
“Iya nih mas. Badanku sakit semua. Kayaknya masuk angin,” lirihnya.
Refleks Rafli menyentuh keningnya. “Duh panas banget badan kamu dek,” ucap Rafli khawatir.
“Sudah minum obat?” tanyanya. Juliana menggeleng lemah.
“Ya sudah, kamu istirahat saja. Tidur. Biar mas makan di luar,” ucapnya lalu bangkit.
“Abis itu mas mau ke rumah teman,” ucapnya sambil berlalu.
Juliana menghela nafas lega. Namun lagi-lagi ia merasa tak puas oleh perlakuan Rafli.
‘Dia tahu aku sakit, tapi meninggalkanku begitu saja?’ batinnya mendengus.
‘Apa aku terlalu menuntut? Ah. Tidak. Jika Jaden yang tahu aku sakit, ia akan segera membawakan bubur dan obat lalu memijat keningku.’ Juliana mencebik.
Namun beberapa saat kemudian ia sadar sudah melewatkan sesuatu yang biasanya selalu ia inginkan. Dia baru saja menolak hak Rafli darinya. “Ck!” decaknya kesal.
Ia pun bangkit ke arah kamar mandi. Berendam air hangat, sambil menggosok-gosok sabun ke tubuhnya yang memerah berharap bekas-bekas dari Jaden itu menghilang. Namun nihil. Bekas itu malah semakin memerah.
‘Bodohnya aku,’ sesalnya. Ia sendiri tahu sabun tak membuat warna kemerahannya menghilang. Ia hanya merasa lebih tenang saja saat melakukannya. Juga berharap dengan membersihkannya tubuhnya juga terbersihkan kembali dari sisa perbuatan kotornya itu.
Setelah dua jam berendam di kamar mandi air hangat pun sudah menjadi dingin. aku pun bangkit dari bath tub menuju kamar. Sedikit berjalan sempoyongan lantaran kakiku mulai keram dan kaku. Terpincang-pincang, kucoba meraih daun pintu untuk dijadikan topangan. Perlahan aku berjalan keluar menuju kamar.
Dengan susah payah aku menutupi beberapa tanda merah di tubuhku dengan CC krim wajah, untuk menyamarkan warnanya. Leher, tengkuk, dada, perut, ternyata banyak sekali Jaden membuat kepemilikannya. Lalu di selangkangan dan ... Sempurna. Tubuhku terlihat mulus kembali. Gegas kukenakan baju, lalu menghempaskan tubuhku ke atas ranjang.
Beberapa menit aku hanya berbaring santai. Setelah merasa sedikit bosan aku beringsut ke tepi ranjang hendak kuraih ponselku di atas nakas. Tanpa di duga ponselku berdering, sebuah panggilan masuk dari ...?
“Jaden?” sontak aku bangkit sambil mengedarkan pandangan seperti maling takut ketahuan.
Gegas kutekan tombol berwarna hijau. Lalu terdiam sejenak memikirkan dengan nada seperti apa aku harus mengatakan sesuatu. Mengabaikan Jaden yang sudah memanggil-manggil namaku dengan resah.
“Ada apa?” ucapku ketus.
[Kamu sampai rumah dengan aman?] tanyanya khawatir.
Kukerlingkan bola mataku lalu mencebik, “ya. Kenapa?” ketusku lagi.
[Aku ke rumahmu sekarang,] ucap Jaden sontak membuatku bangkit, tanpa sadar berdiri di atas ranjang.
Hampir aku memakinya, namun kuatur ekspresi dan menarik nafas, “Suamiku ada di rumah, jangan ke sini,” ucapku dengan nada penekanan.
[Aku tahu, lalu?] tantangnya membuatku menjambak rambutku sendiri frustrasi.
“Tolong jangan menyulitkanku,” ucapku datar.
[Yasudah. Nanti aku ke sana kalo suamimu tak ada, aku sudah pesankan bubur untukmu sarapan, sebentar lagi sampai di depan rumahmu]
Jaden menutup telepon setelah mengatakan bahwa dia mencintaiku. Seketika aku ambruk, menatap kosong ke udara. Aku berpikir bahwa ini tidak akan selesai dengan mudah. Aku baru saja menggali kuburanku sendiri, dan bersiap dikubur hidup-hidup. Sejauh ini hidupku nyaman dan tenteram, selain kekurangan kasih sayang dan perhatian dari suami. Ah! Tidak, apa justru aku terlalu banyak diam dan bersyukur? Bahkan mas Rafli jarang sekali memberiku nafkah.
Aku pun bangkit, dan berjalan menuju ruang tengah. Belum sampai aku menuruni anak tangga, pintu rumahku diketuk dua kali. Gegas kuberlari, sudah pasti tukang bubur.
Klik!
Pintu kubuka, benar saja. Bubur ayam komplit kesukaanku datang dengan cepat. Sedikit semringah kuraih keresek hitam itu lalu kubuka setelah mengucapkan terima kasih pada abang gojek yang mengirimnya. Gegas aku duduk di ruang tamu lalu menyendok bubur itu tanpa mengaduknya. Baru satu suap aku mengunyahnya, seseorang mengetuk pintu masuk yang baru beberapa saat kututup itu.
“Eh mamah, sehat mah?” Aku berhambur memeluk wanita dengan kacamata bertali itu setelah menyalaminya.
Ya. Dia mamah mertuaku. Mama Wardah. Sejak pertama menikah dengan mas Rafli hingga sekarang, aku tak pernah akrab dengannya. Meski sudah kulakukan dengan segala cara pendekatan sebisa mungkin. Aku dan dia seolah terhalang garis batas yang dibuat olehnya. Entah apa yang membuat dia tak nyaman denganku. Atau dari awal dia memang tak setuju mas Rafli menikahi aku. Entahlah.
“Rafli mana?” tanya mamah sambil mengedarkan pandangan. Tak segera kujawab, aku sibuk merapikan bantal di atas sofa lalu mempersilahkannya duduk. Sembari berpikir harus kujawab apa pertanyaannya.
“Duduk mah, biar Ana bawakan minum,” tawarku.
“Mas Rafli lagi keluar buat makan,” tambahku lalu menutup bungkus bubur yang belum selesai kumakan itu.
“Makan?” tanya wanita itu dengan heran.
“Memangnya kamu gak masak?” tanyanya lagi.
“Eng ... Nggak mah. Ana lagi gak enak badan,” ucapku ragu.
“Lah itu kamu lagi makan apa?” tanyanya sambil menunjuk bungkusan bubur ayam yang kubereskan, hendak kutaruh ke dapur.
“Bubur mah ....” gumamku dengan senyuman setulus mungkin.
“Ck! Suamimu itu sudah lelah bekerja. Minimal sebagai istri kamu harus berbakti dengan menyiapkan makan dan minumnya,” omelnya membuat kerongkonganku terasa pahit tercekat.
Bukannya dia harusnya mengerti, baru saja kubilang kalau aku sedang sakit. Jadi apa yang dia pikirkan? Memangnya aku ini pembantu yang harus selalu siap melayani dalam kondisi apa pun? Memangnya lelah putranya itu untukku? Ya tuhan. Andai dia tahu Rafli bahkan sudah tak tahu menahu tentang SPP anak-anak, jangankan bayar listrik atau beli air minum. Rumah pun sempat ia gadaikan untuk taruhan berjudi. Namun aku mengesampingkan semua unek-unekku. Biarlah setidaknya mas Rafli baik dimata orang tuanya. Pikirku.
Tak ambil pusing, aku undur diri meninggalkannya di ruang tamu utama setelah mengatakan bahwa aku sudah menyiapkannya kamar jika ingin menginap.
“Kamu gak nyaman ya sama mamah, padahal mamah hanya kasih kamu saran sesama perempuan saja. Jangan sampai kamu mengadu yang tidak-tidak ke Rafli.”
Apalagi ini? Rasanya semua yang kulakukan serba salah di matanya. Lagipula memangnya apa yang akan aku lakukan jika terus duduk di sampingnya? Toh hanya memperhatikan dia menggeser-geser layar ponselnya? Tak ada pembicaraan yang bisa kita bahas juga kan?
“Ana mau tiduran dulu mah, agak pusing soalnya,” jawabku memaksakan dengan nada sebiasa mungkin. Dia hanya mengangkat alis dengan sedikit memajukan bibir bawahnya yang sudah keriput.
Sungguh. Aku membenci sifat angkuhnya. Tidak! Bukan dirinya. Hanya sifatnya saja. Bagaimana pun dia mertuaku, ibu keduaku. Aku harus selalu berusaha mencintainya sepenuh hati. Ya walaupun jujur saja jika melihat tingkahnya, nada bicaranya, dan gayanya yang seperti keturunan ningrat terkadang aku merasa malu sendiri. Di jaman sekarang dengan penampilan seperti itu? Ah. Sudahlah.
Segera aku meninggalkannya, duduk santai dengan banyak camilan yang juga sudah kusiapkan. Aku menghempaskan tubuhku lagi ke atas ranjang King size dengan seprai lembut dan dingin kesayanganku itu. Menggesek-gesekkan kakiku di sana untuk membuatku nyaman. Melepaskan hawa panas tubuhku, perlahan aku terlelap.
Entah berapa lama aku tertidur. Aku pun terbangun oleh suara pintu yang dibuka perlahan. Sontak aku bangkit mengucek mata lalu memicingkannya. “Mas Rafli?” gumamku, mendapati suamiku itu mendekat ke arahku. Ia lalu duduk di tepi ranjang.
“Mamah dateng kok kamu malah tidur di sini?” tanyanya.
“Aku masih agak pusing mas,” jujurku. Toh memang aku masih merasa sangat pening.
Aku beringsut turun dari ranjang, tiba-tiba ....
Kruyuk~
Tanpa diduga perutku berbunyi. Ah! Memang aku belum memakan apa pun selain sesuap bubur tadi. Aku menoleh melirik jam dinding. Pukul satu siang. Pantas saja, lemas sekali. Aku tertidur dengan perut kosong selama hampir tiga jam.
“Aku masak dulu mas,” ucapku, mas Rafli hanya menjawab dengan anggukan.
Meninggalkan mas Rafli yang kini berbaring di ranjang sambil memainkan gawainya, aku turun hendak memasak untuk anak-anak.
Aku menghela nafas, saat mendapati mamah masih di sofa ruang tamu, dengan gawai di tangannya. Tanpa sadar aku menggeleng pelan. Entah apa yang ia lakukan dengan gawai itu. Main sosmed kah? Atau main game bareng Rasya di seberangnya?
Melihat putra keduaku sudah duduk santai di bawah, aku mengedarkan pandangan mencari seorang lagi bujangku.
“Abangmu mana dek?” tanyaku.
“Main dulu katanya mah,” jawabnya seadanya. Aku hanya ber oh lalu melewati sofa, menuju dapur.
“Anakmu diperhatikan Na. Masa ibunya gak tau anaknya kemana,” ujar mamah sambil tetap bermain gawai.
“Iya mah,” jawabku singkat. Gegas aku menuju dapur, dengan tidak sopan meninggalkannya yang masih mengomel soal Raffa yang usianya menginjak masa remaja, pergaulan, pacaran, dan entahlah aku keburu sampai di dapur untuk mendengar kelanjutan celotehnya.
Dengan telaten aku menyiapkan makanan. Menanak nasi, menggoreng ikan, tahu, tempe, memasak sayur, sambal, dan lalap. Semua memang selalu tersedia di kulkasku. Siapa lagi yang menyiapkan semua persediaan itu kalau bukan Jaden. Bahkan ia sudah berlagak seperti suami saja padaku. Sampai hal seperti itu saja rutin ia belikan olehnya sendiri, di luar uang jajan bulananku.
Sedang asyik memasak, tiba-tiba Raffa datang berdiri di belakangku.
“Om Jaden ke sini gak mah?” tanyanya tanpa basa-basi. Sontak aku kaget lalu mengangkat telunjukku sambil mengedarkan pandangan.
“Eh- lupa. Kalo gitu aku main ke rumahnya boleh gak?” tanyanya tanpa beban.
Ya ampun. Andai aku bisa menyebutkan namanya seperti Raffa. Dengan tanpa beban, tanpa dosa. Aku menggeleng.
“Yah ... Kenapa mah?” rengeknya sambil menaruh gawainya di atas kitchen set.
“Gak baik juga kita terlalu dekat dengan orang itu,” ucapku seolah Jaden adalah orang lain bagiku.
“Raffa pengen mabar lagi sama dia mah, seru orangnya. Baik banget malah,” serunya antusias.
“Jangan ngomongin dia depan papa sama nenekmu ya. Gak baik, nanti malah salah paham ke mamah,” ucapku menuntut.
“Iya gak akan,” jawab Raffa meyakinkan, dengan telunjuk di depan mulutnya lalu nyengir.
Aku pun merasa sedikit tenang. Saat sedang bertukar tawa kecil sambil menutup mulut tiba-tiba mama Wardah datang dengan gaya berjalan khasnya seperti kanjeng Mami.
“Lagi ngobrolin apa nih?” tanyanya dengan gaya bicara medoknya.