.
.
Entah apa yang telah terjadi, Angel juga tidak mengerti, namun, malam itu Angel tidur dengan ayah tirinya, yaitu Dexter.
Bukan tidur dalam artian bercinta atau semacamnya, hanya tidur biasa. Dexter memeluk pinggang Angel, memberikan kehangatan yang membuat Angel nyaman sekaligus berdebar-debar.
Tangan Dexter sangat besar jika dibandingkan pinggang mungil Angel. Dexter memiliki tinggi sekitar 188 cm, tubuhnya bagus dan berotot, tidak terlalu besar, juga tidak terlalu kurus, sangat pas.
Aroma tubuh Dexter juga sangat menyenangkan, wanginya maskulin dan lembut, membuat Angel merasa sangat nyaman berada dalam pelukannya.
Setelah Angel ingat-ingat, dulu saat awal-awal pernikahan, saat umur Angel masih 12 tahunan hampir 13 tahun, ayah tirinya itu juga tidur dengannya seperti itu, namun berhenti setelah Angel menginjak umur 14 tahun.
Saat itu mata Angel mulai terasa berat, dia pun hampir terlelap dalam tidurnya, jika saja Dexter tidak membuatnya terkejut.
Tiba-tiba saja, tangan besar Dexter mulai meraba tubuhnya, menciumi tengkuknya, kemudian meremas dadanya yang masih terbalut pakaian rapih.
“Mmhh!”
Angel segera menutup mulutnya saat suara desahannya keluar, namun setelah itu Dexter berhenti, merekapun kembali tertidur.
Di pagi harinya, Angel terbangun dia sudah berada di kamarnya sendiri, lengkap dengan selimut yang menutupi tubuhnya.
Angel bangun dan duduk, mengerjapkan matanya beberapa kali, memikirkan apakah yang semalam itu sungguhan atau hanya khayalannya saja?
Angel mendesah frustasi, kemudian mulai beranjak menuju kamar mandi.
Hari itu Angel harus berangkat ke sekolahnya, karena dia sudah kelas tiga, dia harus banyak belajar dan lebih rajin belajar lagi. Angel ingin lulus dengan nilai yang baik, kemudian masuk ke universitas terbaik pula.
Selesai mandi, Angel keluar kamar mandi yang ada di kamarnya dengan hanya memakai bath robe. Angel terperanjat melihat ayah tirinya sudah ada di kamarnya, duduk di tepi ranjang sambil tersenyum tampan.
Ini gila, Angel berdebar lagi hanya dengan melihat senyumannya. Seperti magnet, Angel dengan sendirinya menghampiri Dexter.
“Kenapa papa ada disini?” tanya Angel, Dexter menarik lengan Angel hingga duduk di pangkuannya.
Debaran jantung Angel makin terpacu, apalagi dirinya sedang tidak mengenakan pakaian, hanya bathrobe saja.
“Aku ingin bertanya, apakah semalam Angel yang mengantarku ke kamar?” tanya Dexter.
Angel mengangguk pelan, Dexter membelai pipi Angel yang kian memerah.
“Apakah aku berbuat sesuatu yang tidak pantas?” tanya Dexter lagi.
Angel menggeleng lagi, “Papa hanya mengajakku tidur, sudah lama kita tidak tidur bersama” ucap Angel.
“Kau yakin aku tidak berbuat sesuatu yang membuatmu tidak nyaman?”
Angel tersenyum dan menggeleng pelan, sebenarnya Angel hanya malu untuk mengungkapkan jika saat Dexter menyentuhnya, dia merasa senang. Lagipula, Angel mengerti jika Dexter melakukannya karena mabuk saja. Pasti Dexter tidak bermaksud seperti itu, Angel tidak mau ayah tirinya menjadi canggung dengannya.
“Kau yakin?” tanya Dexter lagi.
Wajah Angel tiba-tiba merona malu, lalu kembali menggeleng kecil, “ya-yakin....”
Dexter menghela nafas panjang, kemudian mengecup pipi Angel, membuat Angel merasa sedikit merinding, rasanya geli, namun dia menyukainya.
Ada desiran aneh lagi dalam diri Angel saat Dexter mengecup pipinya.
Entah itu hanya perasaan Angel, atau memang pegangan tangan Dexter pada pinggang Angel semakin mengerat.
Pandangan mata keduanya bertemu saat Angel mendongak untuk menatap wajah Dexter.
Keduanya terperangkap dalam pesona masing-masing, hingga tanpa mereka sadari, wajah keduanya juga semakin mendekat.
Perlahan namun pasti, bibir mereka akhirnya bertaut, awalnya Angel sangat terkejut, namun dia sendiri tidak ingin melepas tautan itu, sampai kemudian Dexter melumat bibirnya atas dan bawah dengan lembut dan penuh perasaan.
Angel yang baru pertama kali merasakan berciuman dengan pria merasa sangat berdebar dan sekaligus gelisah.
Apakah yang mereka lakukan itu benar? Ataukah salah? Angel sudah tidak tau lagi, dia merasa terlena hingga tidak bisa berpikir.
Begitu juga dengan Dexter, dia tidak mau berhenti mencumbu Angel, putri tirinya. Bahkan kini Dexter memasukkan lidahnya ke dalam mulut Angel, menjelajahi seluruh isi mulut Angel, melilit lidahnya.
Tangan besar Dexter juga tidak bisa diam, tanpa sadar tangan itu telah menyelip ke dalam bathrobe yang Angel kenakan, meremas dada Angel, memelintir puncak dadanya dan menariknya pelan. Membuat Angel merasa dimabuk kepayang.
Dexter membuatnya merasa gila, lebih gila lagi karena dia sangat menyukai perlakuan Dexter padanya.
“Aah!”
Desahan kecil yang Angel keluarkan menyadarkan Dexter. Dia segera menghentikan apa yang sedang dia lakukan.
“Angel, maaf, aku –”
Dexter tidak meneruskan ucapannya, dia segera meletakkan tubuh Angel diatas ranjang, kemudian pergi begitu saja dan menjauh, keluar dari kamar Angel.
Sementara itu, Angel sendiri merasa kecewa karena Dexter pergi, padahal harusnya dia lega karena Dexter cepat tersadar.
Entahlah, harusnya Angel tahu jika hal itu tidak boleh bagi mereka, hubungan mereka adalah ayah tiri dan anak, tidak boleh melewati batas.
Angel segera bersiap memakai seragam sekolahnya seperti biasa, memakai make up tipis, kemudian turun untuk sarapan.
Di ruang makan, ibu Angel sudah duduk disana, mengenakan pakaian yang mahal dan juga dandanan yang cukup mencolok, belum lagi perhiasan yang nilainya sangat mahal. Tidak semua pakaian dan perhiasan itu ibu Angel, atau Sandra, dapatkan dari ayah tiri, atau Dexter.
Malah, kebanyakan yang seperti itu di dapatkan dari selingkuhan ibunya.
“Angel, apa menurutmu ini bagus?” tanya Sandra.
Angel melirik kalung yang Sandra tunjukkan padanya, Angel mengangguk pelan, “yah, bagus ... apa itu dari selingkuhan lain lagi?”
Sandra berdecak kesal, “bukan selingkuhan, tapi calon ayah tirimu!”
“Aku tidak suka jika mama –”
“Jika aku apa? Dexter tidak pernah menyentuhku sama sekali, meski dia seksi dan tampan, tapi bagaimana bisa aku puas jika mencium pipiku saja tidak pernah! sebenarnya aku lebih memilih dia tapi, Dexter itu suami tapi seperti bukan suami, dia hanya baik saat di depan rekan kerjanya saja, dia pikir aku ini pajangan apa? Jangan-jangan dia itu impoten! Aku akan mencari lelaki kaya lain untuk ku nikahi, kalau dapat yang kaya raya, paling tidak setara dengan Dexter lah” ucap Sandra.
Angel tidak tau harus berkata apa, dia juga bingung, kenapa Dexter tidak mau menyentuh ibunya yang sudah sah menjadi istrinya? Mencium pipi saja tidak pernah ... lalu, yang Dexter lakukan pada Angel tadi itu apa?
“Ngomong-ngomong, ma, papa kemana?” tanya Angel.
“Dexter sudah pergi, sebelum kamu turun dia berangkat, katanya ada urusan , yang aku tau sih, urusannya di luar kota, jadi aku bisa bebas pergi hari ini, mama akan mengantarmu berangkat ke sekolah, tapi setelah itu kamu pulang sendiri ya? Bisa nebeng dengan Lucas atau David” kata Sandra.
Angel hanya mengangguk dan tersenyum, Lucas dan juga David adalah teman Angel, anak dari teman-teman Dexter, yang tentu saja jauh lebih tua dari Dexter.
Umur Dexter saat ini baru 30 tahunan, namun kebanyakan temannya sudah berumur sekitar 40-50 tahunan, memang kebanyakan teman bisnis.
Jika ayah kandung Angel beda lagi, itu adalah teman dari sebelum Dexter lulus SMA, jadi ayah Angel dulu sudah seperti kakak yang membimbing Dexter.
Mungkin karena itu, Dexter menikahi ibunya, karena kasihan pada mereka.
Tapi, arti ciuman itu apa?
Kenapa Dexter melakukannya?
.
.
.
.
Dexter mengusap wajahnya frustasi, kemudian dia menggeram kesal, masih dia sesali kenapa dia sampai tidak bisa menahan dirinya untuk tidak menyentuh Angel. Padahal saat itu status mereka masihlah ayah dan anak, Dexter sangat bodoh sehingga menghancurkan status tersebut.
Setelah ini mungkin Angel akan membencinya, karena Dexter telah berbuat buruk padanya.
Dexter menunduk menatap celananya sendiri, hanya dengan memikirkan kejadian tadi pagi saja, milik Dexter sudah terbangun dibawah sana.
Entah perasaan itu mulai kapan muncul, yang pasti tiada hari tanpa memikirkan Angel, padahal Dexter telah berjanji kepada mendiang ayah kandung Angel, untuk menjaga Angel jika ayah kandung atau orangtuanya telah tiada.
Lalu karena itu, Dexter memutuskan untuk mengadopsi Angel. Namun, Sandra tidak mengijinkan hal tersebut karena dia merasa dia berhak atas Angel. Dexter tau itu hanya akal-akalan Sandra saja, karena Sandra menyukainya dan ingin menikah dengannya.
Dexter tidak menyukai Sandra, dan hal itu tidak bisa dipaksakan, namun Dexter setuju untuk menikah dengannya agar bisa menjaga Angel.
Dulu Dexter sudah berjanji dengan diri sendiri untuk menjadi ayah yang baik bagi Angel, namun Dexter sendiri yang malah merusak semuanya.
Bodohnya dia malah terbawa suasana dan mencumbu anak tirinya dalam keadaan sadar, jika dia masih mabuk itu masih mending karena dia bisa beralasan bahwa dia mabuk, tapi jika sudah sadar, dia tidak bisa memberi alasan apapun.
Dexter mengacak-acak rambutnya frustasi.
Dia sudah berada di ruangan kantornya, bersama dokumen dan berkas yang harus dia tanda tangani. Dia harus segera menyelesaikan pekerjaannya, namun bagian bawah dirinya telah berdiri tegak.
Dexter paling tidak suka menuntaskan hasratnya pada sembarang wanita, dia juga bukan tipe yang suka meniduri wanita bayaran ataupun wanita-wanita yang menggodanya.
Padahal, ada banyak wanita yang mengantri dan siap menjadi simpanannya, atau sekadar untuk ditiduri saja. Namun, Dexter menolak semuanya, dahulu dia seperti itu karena banyaknya pekerjaan dan tanggung jawab, namun sekarang ... Mungkin itu karena Angel?
Yang pasti, Dexter sekarang sadar, jika dirinya telah terjerat dalam pesona anak tirinya, Angel.
Namun jika Angel marah karena kelakuan tidak senonohnya di pagi hari, maka Dexter akan memilih untuk menjauh dan menjaga Angel dari belakang. Tapi semoga Angel bisa memakluminya.
Terpaksa Dexter mengocok miliknya sendiri, ada sosok Angel mengenakan bath robe sama seperti tadi pagi dalam pikiran Dexter.
Dexter sudah merasa seperti pria mesum, namun ... Pria mana yang bisa menolak pesona Angel? Dia cantik, seksi dan memiliki senyuman yang memikat.
Dexter bisa tergoda hanya dengan melihat senyuman manisnya.
Tok tok tok.
Sial! Ada orang yang ingin masuk, untungnya pintu ruangan Dexter itu adalah pintu pintar, dia bisa mengatur untuk mengunci atau membukanya lewat sebuah remote. Itu satu remote untuk mengatur seisi ruangan, seperti AC, tirai, pintu dan lainnya.
Dexter mempercepat gerakan tangannya, ini semua karena Angel.
Inginnya Angel tanggung jawab, tapi tentu saja itu jadi tidak mungkin.
“Aku sudah mulai gila” gumam Dexter.
***
Angel benar-benar tidak bisa fokus, pikiran dia terus saja tertuju pada Dexter, ingin tau Dexter sedang apa, apakah dia juga sedang memikirkan Angel juga, atau malah Dexter menyesali perbuatannya pada Angel, Angel ingin tau.
Sebenarnya, Angel takut Dexter malah menjauhinya setelah itu, Angel tidak ingin Dexter menjauh.
Memikirkan hal itu membuat Angel menjadi semakin pusing.
“Angel, bisa kau mengajariku ini?” seorang remaja pria tampan mendekat, dia adalah Travis, anak dari salah satu rekan bisnis ayah tirinya, yang cukup pintar dan selalu berambisi menjadi yang nomor satu di kelas bahkan sekolah.
Meskipun begitu, Travis ini jika dia tidak bisa, dia tidak akan segan-segan untuk bertanya kepada siapa pun yang bisa dan yang paling sering dimintai pertolongan adalah Angel.
Dia anaknya blak-blakan dan bodo amat, meski begitu, Angel sangat menyukainya, tapi hanya sebagai teman, tidak lebih.
Padahal sebenarnya Travis mendekati Angel bukan karena dia tidak bisa dengan rumus matematika atau fisika, akan tetapi karena Travis ingin mendekatinya saja, seluruh penghuni kelas mengetahuinya, hanya Angel yang tidak peka.
Saat Angel dengan telaten mengajari Travis, Travis malah terbengong menatap wajah cantik Angel.
“Bagaimana, kau sudah mengerti?” tanya Angel setelah selesai menjelaskan, Travis sadar dari lamunannya kemudian mengedipkan matanya.
“Oh? Eum, kalau yang ini?”
Angel kembali menjelaskan apa yang Travis tunjuk.
“Ah, begitu ya ... Aku mengerti sekarang, terima kasih, oh iya kamu pulang dengan siapa? Apa dijemput lagi?” tanya Travis basa-basi, dia memang berniat untuk pulang mengantarkan Angel, kalau Angel mau, Travis akan dengan senang hati mengajak Angel ke cafe atau restoran, mana pun yang Angel mau.
Kebetulan Angel menggelengkan kepalanya pelan. “Hari ini orang tuaku sibuk, mungkin aku akan meminta diantar Lucas atau –”
“Biar aku saja! Kebetulan aku sedang longgar, ingin jalan-jalan, kamu mau ke cafe?” tawar Travis, debaran jantung Travis terus terpacu, menunggu jawaban dari Angel selanjutnya.
Angel berpikir sebentar, dia juga jenuh dan butuh sesuatu yang baru. Travis sudah mendapatkan SIM nya, jadi aman untuk pergi dengan Travis, anaknya juga baik, karena itu Angel memilih untuk mengangguk setuju.
“Boleh, tapi bukankah lebih baik jika kita pergi ke restoran keluargamu saja? Aku sedang ingin lobster atau cumi” ucap Angel.
Betapa senangnya hati Travis mendengar ucapan Angel, seakan dia sudah mendapat restu untuk menikahinya – oke, itu berlebihan, tapi Travis sangat senang, namun dia menyembunyikan ekspresinya dengan baik.
“Baiklah, aku akan menghubungi orang sana untuk menyiapkan meja saat kita datang nanti” setelah mengatakan itu Travis pun pergi meninggalkan bangku Angel, dengan hati berbunga-bunga, senyuman lebar pun tak luput tercetak indah di wajah tampannya.
Angel juga tersenyum bahagia, karena dia sudah lama tidak makan seafood, sedangkan keluarga Travis memiliki restoran seafood pinggir pantai yang tersebar di beberapa kota besar di negara ini, merupakan restoran bintang lima yang cukup terkenal karena rasa masakannya yang sangat enak.
Angel tau ayah tiri dan ibunya tidak akan ada di rumah, jadi tidak apa-apa kan Angel pergi dengan Travis saja? Lagipula, ayah Travis juga teman dekat ayah tirinya, Dexter.
“Angel, kau mau pergi dengan Travis?”
Tiba-tiba seorang teman mendekat, gadis cantik bernama Danielle yang lebih sering dipanggil Elle.
Elle itu cukup dekat dengan Angel, terutama jika ingin hangout ke mall atau cafe hits, pasti Elle akan mengajak Angel. Mungkin itu karena Elle juga merupakan model remaja untuk salah satu brand pakaian terkenal lokal. Angel pernah ikut suatu event brand itu, dari sanalah mereka dekat, tidak menyangka akan satu kelas saat kelas tiga, membuat mereka makin lengket saja.
“Iya, kenapa Elle? Kau mau ikut?” tanya Angel.
Elle duduk di samping Angel lalu tersenyum kecil malu-malu, awalnya Angel agak bingung dengan tingkahnya, tapi setelah dua detik dia baru sadar, sepertinya Elle menyukai Travis.
“Tidak lah, aku tidak enak denganmu, Travis kan menyukaimu” ucap Elle.
“Apa yang kau katakan sih? Travis bukan tipe ku” sahut Angel.
“Kau setiap hari melihat ayah tiri yang hot seperti itu, pasti Travis tidak ada apa-apanya kan?” sindir Elle, Angel hanya terkekeh mendengarnya.
Ah, Angel jadi mengingat Dexter lagi.
Dadanya berdebat tanpa alasan lagi, astaga.
.
.