Bab 2

Di satu jalan yang menuju gerbang belakang asrama milik mendiang Maria, tampak seorang perempuan berpenampilan seperti pemuda mengendap-endap mendekati gerbang tersebut sambil kedua manik indahnya mengawasi ke sekitar.

Perempuan itu adalah Keily putri Maria yang sudah berusia 20 tahun. Paras wajah si nona sangat cantik dengan kulit seputih mutiara. Sayangnya sedari lahir dibesarkan di wilayah pondok saja, tidak diperbolehkan keluar oleh Sinta. Lantas agar dia tidak kesepian, asisten Maria itu membangun beberapa pondok, kemudian ditempatkan beberapa perempuan yatim piatu seusia dia.

Keily merasa jenuh karena setiap hari hanya berada di wilayah pondok saja, lantas hanya mendengar cerita mengenai dunia luar dari Baba, Rika, dokter Alex, dan Dena. Teman-temannya hanya gadis-gadis yatim piatu yang tinggal di pondok-pondok dalam wilayah tersebut.

Si gadis sebenarnya berkali berusaha keluar dari sangkar indah itu, tetapi selalu tertangkap oleh Sinta, membuatnya mendapat hukuman dikurung di dalam pondok selama beberapa waktu.

Keily kini sudah berada di depan pintu gerbang, di mana tidak ada penjaga, karena Baba sudah mengatur upaya melarikan dirinya tersebut, lantas mengeluarkan plakat emas yang untuk kesekian kali berhasil dicurinya dari Sinta dengan tipu muslihatnya. Dia segera mengarahkan permukaan plakat tersebut yang berukiran bunga teratai emas, sambil mulutnya mengucapkan mantra untuk membuka kunci gerbang.

Namun belum juga mantera yang diucapkan selesai, melayang sebuah cambuk dari arah belakang mengenai tangannya yang memegang plakat itu.

“Akh!!” terdengar pekikan kagetnya, lantas melihat plakat melayang di udara akibat terlepas dari tangannya, cepat dia melayangkan badannya ke arah plakat itu, tetapi tangan Sinta memukul salah satu pundaknya, membuat dia mental ke belakang, landing di atas cornblok. “Bibi Sinta!” jeritnya kesal melihat Sinta memegang plakat tersebut, di mana sang bibi berdiri di depan gerbang. Lantas tangan lain si bibi memegang cambuk.

Dia segera berdiri, memasang kuda-kuda,

“Baik!” ujarnya, “Hari ini Kei kalahkan bibi dengan satu jurus, agar bibi memberikan plakat itu ke Kei seperti janji bibi.”

“Dengan senang hati jika Kei bisa mengalahkan bibi, maka bibi akan memberi izin Kei keluar dari wilayah yang dibikin nyonya Maria.” Sahut Sinta tenang.

“Bersiaplah bibi!” seru Keily lantang, lantas berlari cepat ke arah Sinta, tidak lama dilancarkan jurus tangan kosongnya ke sang bibi.

Namun kemampuan kungfu si bibi satu level di bawah Maria, sehingga dengan mudah mengalahkan Keily. Gadis itu menyerusuk jatuh di atas rumput di sebelah jalanan corn blok.

“Ha eh anak ini.” Desau Sinta mengelus dadanya, “Sudah berusia 20 tahun, tetapi tidak ada kemajuan, baik kungfu, mau pun pengobatan.”

Keily mendengar ini segera melompat bangun, di dekati sang bibi dengan wajah cemberut.

“Bibi, gimana Kei ada kemajuan, kalau terus dalam sangkar ini?”

“Apa kamu tahu di luar sana banyak bahaya dan tipu muslihat, maka jika mau keluar juga, harus membekali dirimu dengan banyak kemampuan yang matang.”

“Hayah bibi, Kei sudah besar. Lantas selama ini selalu bisa mengatasi bahaya dan tipu muslihat.”

Sinta menjadi gemas mendengar ini, dijitak kening gadis ini,

“Bahaya apa yang ada di sini, hmm?”

“Bahaya menghindari omelan bibi, dan bibi Rika.”

Tuing, Sinta kembali menjadi gemas, lantas menjewer telinga Keily,

“Kalau kamu anggap bibi ini bahaya, mengapa sampai sekarang kamu tidak bisa mengatasi bibi, hmm?” dipandang gemas anak asuhnya ini yang konyol, lugu, akibat dikurung dalam sangkar emas bikinan Maria.

“Karena bibi terlalu sakti.”

“Sudah!” hardik Sinta bertambah gemas, “Ayo kembali ke pondokmu, lantas latih kungfumu itu.” Dibawanya si nona di mana telinga sang nona tetap dijewernya.

“Akh!” pekik Keily kesakitan, “Hais bibi, pelan kenapa jalannya! Ini telinga Kei sakit.”

“Bodo amat! Kamu selalu nakal!”

+++

Di sebuah pabrik milik Collins Company di Bogor, tampak para buruh melakukan aksi demonstrasi di mana meminta pihak perusahaan mengusut kematian Sumarno kepala para buruh yang menghadap Marsud direktur pengelola pabrik tersebut untuk menyampaikan keinginan mereka seputar penghapusan kontrak kerja mereka yang tidak mendapatkan tunjangan hari raya dan 2x bonus tahunan.

Para buruh hanya mendapat gaji pokok, tunjangan kesehatan, dan bonus satu kali dalam setahun. Hal ini tidak sepadan dengan tingginya biaya hidup sehari-hari. Lantas Marsud membawa Sumarno ke Jakarta untuk menghadap Simon HRD direktur Collins Company cabang Jakarta, tetapi tidak pernah kembali ke pabrik yang berlokasi di Bogor tersebut.

Tidak lama terdengar kabar dari sang istri, Sumarno ditemukan tidak bernyawa terapung di permukaan sungai, di mana kepolisian mengatakan pria itu bunuh diri karena gagal memperjuangkan keinginan para buruh. Pernyataan ini sudah tentu tidak masuk akal karena menurut kabar angin, Issac Collins pemilik dan presdir perusahaan terkenal berhati dingin bertangan bara api, di mana jika ada yang menentang semua peraturan yang dibikinnya akan dikirim ke alam abadi.

Para buruh pun menuntut perusahaan mengusut kematian tersebut, lantas meminta keinginan mereka mengenai tunjangan dan bonus dipenuhi, atau jika tidak mereka sepakat menghanguskan pabrik.

Namun belum datang utusan dari Issac menemui para buruh tersebut sehingga mereka mulai melakukan beberapa pengrusakan, menyebabkan berbenturan dengan pihak polisi dan penjaga pabrik.

Sementara di Jakarta, Ethan putra Issac dari Laura memacu cepat jip mercynya menuju lokasi, karena dia adalah deputi satu di Collins Company pusat, tinggal di ibukota untuk mengelola Cakra Hospital yang dilepas oleh Theodore sepupu sang ayah sejak kematian Maria. Sang paman pun fokus mengelola perusahaan sendiri, tidak lagi berhubungan dengan Issac sekeluarga.

Laura ibunda Ethan menjadi cemas luar biasa karena putranya nekat pergi sendiri untuk mengatasi kerusuhan di pabrik tersebut. Meski dia tahu sang anak selalu berhasil meredakan kerusuhan yang suka terjadi di unit-unit bisnis Collins Company. Namun Ethan sedang diupayakan olehnya menjadi presdir berikut perusahaan, maka keselamatannya harus benar-benar di jaga.

Dia saat ini berada di dalam ruang kerja sang suami di Collins Company Jakarta. Bersama mereka ada Samuel putra sulung pria itu dari mendiang selirnya, Manuel asisten Samuel, dan Herbert asisten sang billionaire.

“Pa!” terdengar suara perempuan itu menegur Issac yang tampak tenang, karena kerusuhan seperti itu sudah sering terjadi, bukan masalah serius bagi pria tersebut.”Papa kok tenang-tenang aja sih? Papa ngga sayang Ethan kah?” diomelin sang suami dengan raut wajah cemas dan kesal.

Issac mendengar ini hanya menghela napas, karena puluhan tahun hidup bersama Laura, tidak ada lagi rasa cinta karena merasa sang istri ambisius, lantas pencemburu berat. Dia adalah pria yang mudah jatuh cinta, ingin punya istri lebih dari Laura. Apa daya, dua selirnya yang salah satunya Maria disingkirkan Laura.

Lantas sang istri membuatnya mendapat gelar pria berhati dingin bertangan kejam, karena semua yang bertentangan dengannya pasti dikirim sang istri ke alam abadi atau cacat tidak bisa menuntut mereka ke jalur hukum.

“Dan kamu!” terdengar lagi suara perempuan itu yang memiliki postur tubuh langsing dengan paras wajah awet muda, menunjuk Samuel yang duduk di single sofa di sisi kanan Issac, “Sebagai kakak tertua, apa kerjamu?” didamprat putra tirinya ini, “Kamu sudah tahu Ethan nekatan, kenapa tidak mencegahnya, atau menemaninya?” imbuhnya memandang kesal sang putra tiri, “Atau kamu sengaja melakukan semua itu? Agar kelak menjadi presdir Collins Company?”

“Cukup ma!” terdengar suara Issac menghentikan uring-uringan sang istri, “Papa masih hidup, kamu terus membicarakan pengganti papa kelak di Collins Company. Mama ingin papa segera meninggal kah?” dipandang si istri yang tampak kecut mendengar suara hardikannya.

“Bukan begitu maksud mama, pa.” Laura mencoba membela diri, “Sudah tentu mama ingin papa berusia panjang, agar kelak bisa momong anak-anak Ethan, juga Sam.”

“Cucu katamu? Kedua anak itu sampai saat ini belum punya kekasih. Mereka sibuk membantu papa di Collins Company karena Theodore memisahkan diri dari papa.”

“Papa, bukannya Ethan ada Santana, pasti segera memberi kita cucu.”

“Mana Ethan menyukai Santana keponakanmu itu, hmm?” Issac berbicara dengan raut wajah kesal, “Hal lain, semua kerusuhan di pabrik awalnya dari kamu kan?” imbuhnya menatap sang istri dengan tajam.

Laura tersentak kaget mendengar ini, “Apa maksud papa?”

“Kamu menyuruh orang untuk menghabisi Sumarno setelah Ethan memberi keputusan untuk memenuhi permintaan para buruh yang disuarakan Sumarno?”

Sebenarnya keinginan para buruh sudah diterima Ethan dari Simon, lantas sang dokter memenuhi itu di mana segera membicarakannya dengan Issac. Sumarno pun merasa lega, tetapi dalam perjalanan pulang, dia dihadang segerombolan orang, lantas dicekokan segelas kecil racun, tidak lama nyawa pria itu ke alam abadi, di mana setelah itu dibuang ke sungai.

Dalang yang melakukan memang Laura, karena perempuan itu mendapat laporan mengenai kasus para buruh dari Sungkar tangan iblisnya yang dulu menghabisi Winata, bahwa Ethan memenuhi keinginan buruh. Laura menjadi geram merasa para buruh tidak tahu diri, sudah bagus digaji umr Indonesia, diberikan satu kali bonus tahunan, dan tunjangan kesehatan, masih menuntut lebih. Maka diminta Sungkar mengirim orang untuk menghabisi Sumarno, sekaligus kordinasi dengan kepolisian agar mengatakan kematian kepala buruh itu murni bunuh diri.

Issac mengetahui semua itu dari Herbert yang diminta Ethan mengawasi Sumarno melalui orang-orang sang asisten karena sang dokter feeling Sumarno akan mendapat celaka karena menyuarakan keinginan para buruh. Oleh karena itu tuan muda kedua tersebut segera berangkat ke pabrik demi mengatasi efek buruk kematian Sumarno.

“Papa jangan sembarangan menuduh.” Terdengar suara Laura, “Mama hanya minta orang untuk memberi peringatan ke Sumarno, agar menyampaikan ke para buruh harus tau diri. Kita sudah memberikan yang memang harus diberikan ke buruh, mengapa minta lebih dari itu dengan alasan kebutuhan hidup kian mahal dan lainnya?” ujarnya menjelaskan demi menutupi belangnya, “Memang para buruh itu pikir hanya mereka yang bekerja untuk kita? Sangat banyak buruh bekerja di semua pabrik, tambang minyak, dan lainnya yang kita punya. Semua mendapat upah layak.”

Samuel menghela napas, ada sesalnya karena di masa lalu ikut Laura, meninggalkan Sarah ibundanya yang tidak pernah dinikahi resmi oleh Issac. Saat itu Laura baru melahirkan Ethan, juga berusaha menyingkirkan Maria perempuan lain yang hendak dinikahi Issac.

Meski Laura mengakuinya sebagai putra tertua Issac, tetapi kedudukannya tetap dibawah Ethan. Sang ibu tiri pun berusaha sedemikian rupa agar Ethan kelak menjadi presdir. Sementara Issac pria yang adil kepada kedua putranya. Ketika mereka dewasa, dan dinilai berkemampuan, dijadikan deputinya di Collins Company. Lantas karena Ethan adalah dokter spesialis internist, maka diberi tugas tambahan yaitu mengelola Cakra Hospital.

“Sam!” terdengar lagi suara sang billionaire memanggil putra sulungnya, di mana raut wajahnya tampak enggan meneruskan berdebat dengan sang istri mengenai kematian Sumarno, “Kamu susul adikmu itu. Bawa beberapa tentara kita untuk membantu adikmu itu. Papa tahu dia pasti sudah mengerahkan orang-orangnya untuk membantu dia di sana, tetapi ibu kalian over mencemaskannya.”

“Baik pa, Sam kerjakan tugas itu.” Samuel berdiri, dicium bergantian pucuk tangan kanan orang tuanya, lantas meninggalkan ruangan ini bersama Manuel.

“Papa selalu mengandalkan dia.” Terdengar lagi kekesalan Laura, “Ingat pa, meski Sam darah dagingmu, tetap saja lahir dari selir, bukan istri sah seperti mama. Papa terus mengandalkannya, bagaimana Ethan anak sahmu?”

Issac mendengar ini menghela napas, “Terserah apa katamu lah.” Ujarnya berdiri, lantas meninggalkan ruangan ini diikuti Herbert, “Maria, mengapa kamu meninggalkanku demi Theodore? Aku sudah berjanji menikahimu, menjadikanmu nyonya utama di keluarga Collins?” ujarnya pelan teringat mendiang Maria perempuan yang sangat dicintanya melebihi cintanya ke Laura dan Sarah.

+++

Di jalan raya tidak jauh dari wilayah asrama, tampak Ethan mengemudikan mobilnya dengan gesit di mana pandangannya terlihat waspada karena dikejar segerombolan orang berkendaraan motor tril dipersenjatai senjata api. Pria ini sebenarnya sudah dinanti orang-orang itu di ujung jalan raya yang menuju pabrik yang melalui wilayah asrama milik Maria.

Salahnya dia tidak menginstruksikan orang-orangnya untuk menantikan dia di sepanjang jalan menuju pabrik. Dia juga tidak membawa Gandy asistennya, Sunil dan Dakar dua ajudan setianya. Kini dia hanya mengandalkan dirinya yang punya kemampuan kungfu sehebat Issac dan Theodore.

Kini tampak satu motor tril berhasil menjajari laju mobilnya, lantas penumpang dibelakang memuntahkan beberapa butir peluru timah dari senjata api ditangan ke Ethan. Peluru dengan cepat menembus kaca mobil.

Pria ini dengan gesit merebahkan setengah badannya ke belakang, membiarkan peluru-peluru melesat menembus kaca lain dan hilang di luar mobil. Kedua tangannya pun dengan cepat memutar stir ke arah motor itu agar menghantam kuda besi bermesin itu hingga mental keluar jalan raya.

Tidak lama dari ponselnya yang terpasang di atas layar LED televisi di dasbor tengah masuk otomatis video call.

“Ethan!” terdengar suara Samuel sang kakak yang sedang memacu cepat jip, “Loe di mana sekarang?”

“Kilometer 4 jalan raya bukit selatan arah ke pabrik, Sam!” sahut Ethan kembali merebahkan setengah badannya mengelak serangan peluru yang dimuntahkan pengemudi motor lainnya, “Loe menyusul gue disuruh papa kah?” ditanya si kakak, feeling diutus ayah mereka untuk menyusulnya.

“Gue segera bantu loe!” terdengar suara si kakak yang melihat si adik dihadapkan dengan bahaya maut. Dia menambah kecepatan jipnya agar segera sampai ke lokasi yang dibilang adiknya ini. Wajahnya terlihat sangat cemas, hatinya penuh doa, tetapi,

“Ethan!” jeritnya karena dari layar tabletnya melihat sang adik terkena dua peluru, membuat adiknya kehilangan konsentrasi sehingga laju mobil ogal-ogel, “Tuhanku!” jeritnya panik segera menambah kecepatan jipnya, “Ethan!” jeritnya kembali terdengar karena merasa mobil si adik keluar jalur jalan raya, lantas meluncur sendiri karena sang adik jatuh terkulai di atas stir.

Bab 3

Keily dengan bersunggut-sunggut jalan sendirian di halaman belakang pondoknya. Kali ini dia tidak dikurung di dalam pondok oleh Sinta, tidak juga berlatih kungfu, karena Baba berhasil membujuk si bibi mengampuninya. Namun sang bibi tetap memberikan hukuman lain yaitu menghapalkan salah satu buku mengenai pengobatan yang ditulis Maria.

Sayangnya gadis ini yang sukanya bermain, bosan membaca buku itu, keluar dari pondok, lantas jalan-jalan di halaman belakang ini.

“Kenapa sih nyonya Maria kejam ke aku? Hanya aku yang dikurung dalam sangkar emasnya.” Dia merasa sangat kesal karena hanya dia yang dikurung dalam sangkar emas ini. Meski apa pun yang diperlukan pasti Sinta berikan.

Bahkan saat dia kepengen es Doger yang didengar enak dari cerita Baba, Sinta datangkan itu ke pondok berikut pedagang dan gerobak jualannya.

“Apa gunanya aku belajar ini itu tetapi seumur hidup dalam sangkar ini.” Dia terus mengomeli nasibnya yang malang, “Padahal menurut Baba, di luar sana banyak hal indah, juga banyak berkenalan dengan orang selain warga di asrama dan sangkar emas ini. Hais betapa aku ingin melihatnya.” Imbuhnya lantas berhenti di tepi sungai, kemudian duduk di hamparan rumput, kedua manik indahnya yang berwarna coklat muda memandang air sungai yang jernih di depannya.

“Astaga!” terdengar pekikannya karena melihat seorang pria mengambang dibawa air sungai menuju ke tempatnya ini. Dia cepat masuk ke dalam sungai, mendekati pria itu yang adalah Ethan.

Jari tangannya segera mengecek denyut nadi di salah satu pergelangan tangan pria itu.

“Masih hidup.” Dia merasa lega karena sang dokter masih bernyawa, “Baiknya aku bawa ke pondok di halaman belakang pondokku, biar aku bisa mengetahui mengapa dia pingsan di sungai.” Imbuhnya lantas memindahkan dirinya menghadap ke belakang kepala sang dokter, kemudian kedua tangannya memeluk si dokter dari belakang, lalu dengan sekuat tenaga ditarik tubuh pria itu hingga sampai ke tepi sungai.

Sementara di lokasi kejadian kecelakaan putra kedua Issac, Samuel cepat menghentikan jipnya tepat dipinggir jalan raya. Dua mobil jip lain yang adalah tentara asuhan Issac juga berhenti tepat dibelakang jip tuan sulung itu.

Dia pun bergegas keluar dari mobil, lantas dengan langkah panjang menyisiri sekitar lokasi, sambil meneriakan nama sang adik.

“Ethan! Ethan! Loe di mana, dek? Kalau masih hidup berteriaklah, gue segera menolong elo!”

Para tentara yang bersamanya juga menyisiri ke sekitar mencari tuan muda kedua yang dicelakai orang-orang tidak dikenal.

Gandy asisten Ethan menemukan ceceran bensin di permukaan rerumputan, segera mengecek ceceran tersebut dengan tangan dan penciuman hidungnya. Dia merasa ceceran bensin masih baru, sangat ini berasal dari jip yang dikemudikan sang atasan. Dia pun segera mengikuti ceceran bensin yang mengarah ke satu tempat yang pasti tempat terakhir jip si tuan muda kedua.

Samuel melihat yang dilakukan si asisten, segera mendekatinya.

“Gandy, kamu menemukan petunjukkah?” tanyanya feeling sang asisten menemukan petunjuk yang bisa mereka menemukan Ethan.

“Iya, tuan muda pertama.” Sahut Gandy, “Ceceran bensin. Masih basah dan baunya sengat. Saya duga berasal dari tangki bensin jip tuan muda kedua yang dibobol orang-orang yang mencelakai tuan muda kedua.”

“Astaga! Mereka dikirim siapa?”

“Saya feeling dari keluarga Sumarno, atau dari musuh tuan Issac yang memanfaatkan situasi ricuh di pabrik.”

“Jika musuh papa, siapa yang kuat kamu duga bisa melakukan ini?”

“Saya belum mendapat gambaran, tuan muda pertama.”

Kedua pria itu sampai di bibir jurang, tempat terakhir ceceran bensin.

“Jurang?!” Samuel terperanjat melihat ini, “Astaga! Ethan masuk ke jurang kah?” dia memandang Gandy yang mana menyisiri jurang dari tempat mereka berdiri.

Sementara di Jakarta, Laura histeris setelah diberitahu Manuel mengenai kecelakaan yang didapat Ethan.

“Ethan! Ethan, anakku! Kenapa kamu ceroboh? Kenapa nekat sendirian ke pabrik! Ethan!”

Air mata perempuan itu berlinang, sedangkan Issac yang memeluk punggungnya tampak berpikir keras.

“Papa!” terdengar jeritan ibunda Ethan sambil melihat ke suaminya, “Lakukan sesuatu! Kirim tim untuk menemukan Ethan!” jeritnya sambil mencengkram kedua sisi lengan sang suami, “Mama yakin dia masih hidup! Papa, lakukan sesuatu! Temukan anak kita!” dia meraung menangis meminta pria itu mencari Ethan sampai ketemu. Air matanya terus berlinang, “Apakah semua ini rencana Sam?”

“Hais sembarangan kamu!” terdengar suara Issac menghardik sang istri yang mengira kecelakaan yang menimpa Ethan dibikin Samuel, “Sam sangat sayang adiknya itu. Berkali-kali menolong adiknya.”

“Bisa saja itu pura-pura. Aku tahu anak itu ingin menguasai Collins Company untuk membalas dendam Sarah ke kita.”

“Cukup Laura!” hardik Issac lantang, “Aku tegaskan ke kamu, Sam putraku, aku mendidiknya adil seperti mendidik Ethan. Aku menanamkan kuat kasih sayang agar dia menyayangi Ethan adiknya. Jadi jangan kamu terus menuduhnya ingin menyingkirkan Ethan.”

Issac lantas melepaskan pelukannya dari punggung sang istri,

“Herbert!” dipanggil asistennya yang berada bersama mereka saat ini, “Apa ada kabar dari Sam dan Gandy?” ditanya si asisten karena memantau ke lokasi melalui Manuel.

“Mereka sudah turun ke jurang untuk menemukan tuan muda kedua, tuan besar.” Sahut sang asisten, “Karena melihat jip tuan muda kedua menyangkut di salah satu permukaan landai jurang.’

Mendengar ini, Laura histeris lagi,

“Ethan! Tidak! Jangan ambil anakku!”

Lantas pingsan ke arah depan akan menimpa meja, cepat Issac menangkap tubuh istrinya, dibawa ke gendongannya, menjerit lantang ke Herbert.

“Herbert! Lekas bawa mobil saya ke depan teras lobby! Laura butuh penanganan medis!”

+++

Keily dengan susah payah menaikan Ethan ke atas tempat tidur di dalam pondok kecil di belakang pondoknya, lantas disandarkan tubuh itu ke dinding ranjang, kemudian cepat dilepas pakaian pria itu yang basah oleh air sungai berbaur red liquid dari luka tembak yang mengenai pundak dan dada.

“Hais!” desaunya melihat luka tembak tersebut, “Pria ini kena tembak rupanya. Ish, siapa yang jahat ke dia?” dia menjadi bertanya-tanya apa yang terjadi sama sang dokter.

Lantas dia baringkan Ethan di tempat tidur, diselimuti bagian bawah tubuh sang dokter, kemudian bergegas ke pondok lain tempat menyimpan peralatan medis dan obat-obatan yang disiapkan Sinta untuk bahan pelajaran dan prakteknya.

“Keily!” terdengar suara Sari teman baik Keily, “Kamu kenapa kemari?” tanyanya heran, “Bukannya kamu dihukum Bu Sinta untuk menghapal buku yang ditulis Nyonya Maria?” didekati gadis ini yang mulai mengambili peralatan medis dan obat yang dibutuhkan untuk mengobati Ethan.

“Kamu sendiri kenapa di sini? Apa bibi menyuruhmu membersihkan pondokku ini?”

“Aku disuruh Bu Sinta mengambil beberapa obat untuk kamu racik sesuai hapalan kamu dari buku nyonya Maria.”

“Hais, aku belum perlu itu.” Tukas Keily sedikit cemberut.

“Kamu ngapain di sini?”

“Sudah diam saja lah.”

“Tapi semua ini,” Sari melihat barang-barang yang dikumpulkan Keily di meja, “Seperti untuk mengobati orang yang terluka.” Dia mengenali barang-barang itu.

“Memang.”

“Kei, kamu mengobati siapa?”

“Aku tidak kenal. Aku menemukan dia pingsan mengambang di sungai.”

“Astaga!” Sari terperanjat, “Aku beritahu paman Baba, biar dia bisa membawa orang itu ke klinik di asrama.” Ujarnya hendak meninggalkan Keily demi minta bantuan Baba.

“Eh jangan!” seru si nona cepat menghadang sahabatnya ini, “Kalau Baba tahu, pasti bibi Sinta pun tahu, maka celaka orang itu. Kasian tauk. Dia terluka parah, masa kena diomelin bibi? Udah kamu rahasiakan ini dari siapa pun.”

Sari menghela napas, “Iyalah.” Dia setuju perkataan nona besar ini, “Mari aku bantu kamu bawa semua ini ke orang itu.” Dia segera membawa sebagian barang yang ada di meja.

Tidak lama kedua gadis itu berada di pondok tempat Ethan masih terbaring pingsan.

“Sari!” terdengar suara Keily, “Kamu lekas ambil kemeja dan celana panjang punya Baba.”

“Katamu aku tidak boleh menemui beliau.”

“Kamu ambil diam-diam dari lemarinya, atau dari jemuran di belakang pondoknya.”

“Tapi untuk apa semua itu?”

“Untuk orang ini lah.” Keily menunjuk Ethan yang hanya berselimut. “Pakaiannya basah dan penuh noda darah, jadi aku lepas semua dari badannya.” Imbuhnya menjelaskan kondisi sang dokter.

Sari terkejut mendengar ini, “Kamu melepas semua pakaiannya? Hais, Kei, dia ini pria.”

“Lantas? Apa kubiarkan dia dengan baju basah kuyup? Dia sudah terluka luar, apa musti ditambah masuk angin?” Keily menerangkan mengapa melepas semua pakaian sang dokter sambil menjitak kening sahabatnya, “Sudah, lekas kamu ambil pakaian Baba!” imbuhnya sambil mendorong si sahabat keluar dari pondok.

Setelah itu dia kembali ke Ethan, tidak lama dia dengan hati-hati mengeluarkan dua peluru yang mengenai sang dokter dengan peralatan medis miliknya ini. Dia menuruni kemampuan Maria dalam medis, hanya saja karena sukanya bermain dan terlalu polos, sehingga malas-malasan belajar dan praktek.

Setelah peluru keluar, dia membersihkan luka itu dengan kapas yang dibasahi cairan NaCl, baru dibubuhi obat luka bikinan dia dari resep milik Maria yang dihapal otak cerdasnya. Langkah terakhir dijahit luka itu, baru memasang infusan di salah satu pergelangan tangan si dokter.

“Selesai juga.” Dia merasa lega, “Akhirnya aku praktek nyata. Pria ini pasien pertamaku.” Ujarnya tersenyum karena baru Ethan pasien nyatanya.

Sari pun kembali ke pondok ini membawa satu stel pakaian milik Baba, diberikan ke Keily yang sedang merapihkan peralatan medis dan bekas-bekas kapas pengobatan.

“Kei,” ditegur sahabatnya ini, “Gimana pria ini?”

“Sudah selamat karena dua peluru sudah keluar dari badannya.”

“Astaga!” Sari terperanjat, “Kei, apa pria ini buronan polisi?”

“Maksudmu?”

“Seperti cerita-cerita paman Baba, buronan polisi pasti mengalami luka tembak.”

Tuing, Keily terkesiap mendengar ini, lantas menjitak kening Sari,

“Memang hanya borunan yang kena tembak? Sudah sana kamu keluar, aku mau pasangkan pakaian ke dia.”

Sari menghela napas, lantas keluar. Keily segera memasangkan kemeja Baba yang berukuran double xl ke badan Ethan. Tidak di duga, sang dokter siuman ketika dia beralih hendak memasangkan celana boxer, lantas terkejut melihat gadis itu bergerak ke bagian sensitif tubuhnya.

“Astaga!” terdengar pekikannya, bahkan terlonjak menegakan badan, kedua tangannya menutupi senjata berharganya, membuat tusukan selang infusan terlepas dari lubang jarum infusan dipergelangan tangannya, dipandang Keily yang terkejut melihatnya berkelakuan seperti ini, “Siapa kamu?” ditanya siapa si gadis.

“Aku?” Keily menunjuk dirinya sendiri, sambil cepat menurunkan roda pengontrol di selang infusan, lantas meletakan selang ke tiang infusan di sisi tempat tidur.

“Iya kamu.” Sahut sang dokter mengamati si gadis dengan pandangan penasaran karena apa yang dilakukan nona ini persis yang dikerjakan para perawat di rumah sakit, “Kamu perempuan, kenapa seenaknya melihat rudalku!” dia protes kenapa sang gadis berani melihat senjatanya itu.

“Melihat itu maksudmu?” Keily malah menunjuk rudal yang ditutupi kedua tangan si dokter.

“Iya ini.” Sahut tuan muda ini melirik rudalnya.

“Kalau aku melihatnya kenapa? Aku mau memasang celana boxer di sana!” sahut si gadis memamerkan celana boxer di tangan kirinya ke sang dokter, “Aku menemukanmu pingsan mengambang di sungai.” Imbuhnya karena si dokter tidak mengerti semua keadaan saat ini.

“Aku?”

“Iya kamu. Kamu pingsan mengambang di sungai. Aku membawamu kemari, lantas tahu kenapa kamu pingsan. Kamu terluka tembak.”

Ethan menyimak semua ini, sambil mengingat kejadian terakhir sebelum dia pingsan, lantas bicara ke Keily,

“Lantas? Aku masih hidup kah saat itu?”

“Kamu masih hidup saat itu, maka aku obatin kamu.”

“Kamu dokter kah?”

“Bukan.” Keily memberikan celana boxer ke Ethan, “Karena kamu sudah bangun, silahkan pakai sendiri celana ini.” Ujarnya menjelaskan kenapa memberikan celana itu ke sang dokter.

“Pakaianku mana?” si dokter malah menanyakan pakaiannya.

“Aku rendam dalam sabun cuci di halaman luar pondok ini karena penuh darah. Jadi sementara kamu pakai baju punya Baba pengasuhku.”

Ethan menyimak semua ini, lantas menghela napas,

“Maafin aku tadi kasar ke kamu.”

“Tidak mengapa, karena kamu baru mengalami peristiwa buruk, lantas bertemu aku yang perempuan tidak kamu kenal.”

Ethan menjadi tidak enak mendengar ini,

“Sudahlah.” Terdengar lagi suara si gadis, “Aku keluar dulu biar kamu bisa pakai celana. Kalau sudah selesai, panggil aku, biar kupasang ulang infusan. Kamu butuh cairan infusan yang sudah kucampur obat pereda nyeri dan demam. Sebentar lagi aku suntikan antibiotik agar lukamu tidak mengalami infeksi.” Imbuhnya lantas segera keluar dari pondok.

Ethan mengamati kepergian gadis itu, di mana kedua matanya tampak bertanya-tanya siapa si gadis. Apakah saat ini semuanya nyata, atau ilusinya? Benarkah dia masih hidup?

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED