Bab 2

Aku menatapnya yang datang dengan senyumnya yang, ah, sungguh menawan.

"Air dinginnya, kak..." katanya tersenyum, sambil meletakkan dua botol air dingin di atas meja.

"Makasih, dek..." jawabku, tak lepas menatapnya yang tersenyum.

Sejenak matanya mengerling indah kepadaku, senyumnya makin terkembang...

Ah, kamu apakan lagi hatiku ini, dek...

Alya lalu berlalu, masuk ke sebuah kamar di dekat ruang tamu. Aku mendengarnya bersenandung sebuah tembang campursari. Kalau sudah begini, senandungnya yang samar pun terdengar indah di telingaku. Aku menunduk, menggelengkan kepala kuat-kuat mencoba mengusir pikiran aneh yang ada di otakku.

Gila...

Ini sungguh perasaan gila...

Mengapa setelah sekian lama saling mengenal...

Mengapa harus istri mas Ricky...

Gila...

Sungguh gila...

Alya keluar dari kamar itu, matanya lekat menatap ke arahku. Senyum indahnya terkembang mengiringi senandungnya, meninggalkan aku menuju ruang tengah.

Sing sabar sing sabar, yo tresnaku...

Ing tembe mburi bakal dadi duwekmu

Kembali aku menggelengkan kepala sambil tertunduk lesu.

Senandungnya sukses mempesonaku...

Dandanan rumahan khas ibu-ibu yang sedang beberes rumah di hari minggu, kaos ketat berwarna kuning dan hotpants jeans membalut tubuh jangkung Alya yang putih bagai pualam...

Duh Gusti.... Sing sabar....

Aku kembali termenung sendirian di ruang tamu. Sayup aku masih mendengar senandung Alya dari dalam sana. Aku sendiri kurang paham apakah bernyanyi seperti itu memang sudah jadi kebiasaannya sehari-hari.

Mana ini mas Ricky... Lama banget sih... Ngapain sih di gudang lama amat... Aku jadi bete karena aku makin tersiksa sendiri begini, dibiarkan terjebak dalam pesona yang di buat Alya. Kalo ada mas Ricky, setidaknya perhatianku bisa teralih.

Dari ruang tamu, aku bisa melihat ke ruang tengah, walau tak bisa melihat hingga ke ruang makan yang berdekatan dengan dapur dan gudang. Sekilas aku melihat Alya mondar mandir di sana, membawa handuk dan jubah mandi. Sepertinya dia akan mandi.

Benar saja, tak lama kemudian aku sayup mendengar suara senandungnya yang bergema, dan suara guyuran ai dari arah kamar mandi.

Aman....

Setidaknya dalam setengah jam ke depan, aku terbebas dari pesona Alya. Anak ini kalo mandi, lama banget. Mungkin karena ia mandi benar-benar teliti. Kulitnya saja demikian putih bersih.

Aku baru menghempaskan diriku lega di sandaran sofa ruang tamu, saat mas Ricky datang.

"Wah, ndak ketemu lagi meteran panjangnya..." keluhnya.

"Ya udah mas, pake meteran yang pendek itu aja bisa, kan..." sahutku.

"Halah, ndak enak bolak-balik kalo pake meteran pendek... Aku tak beli dulu ke pasar ya..." kata mas Ricky lagi, lalu dia melangkah ke ruang tengah dan berteriak kepada istrinya yang masih mandi.

"Ndaaa.... Ayah ke pasar dulu sebentar...!" teriaknya.

"Iyaaaa...." balas teriak Alya dari kamar mandi.

Ini kok ya laki bini hobi amat teriak-teriak....

Mas Ricky mengeluarkan motor maticnya. "Tak tinggal bentar ya... Tunggu aja dulu biar kita rampung hari ini juga..." katanya padaku dari atas jok motor.

"Iyooooo.... Ojo kesuwen..."

Mas Ricky pun pergi ke pasar, namun masih sempat berteriak padaku.

"Coba tolong cari di bawah meja kompor, siapa tau meterannya disitu..." teriaknya sambil terus melaju pergi.

Uwasem tenan iki cah edan, gerutuku. Walau akhirnya aku nurut melangkah menuju dapur.

Meja kompor ada di sebelah meja makan. Di salah satu kursi meja makan aku melihat jubah mandi Alya tersampir. Itu artinya, dia mandi cuma membawa handuk saja...

Nah lhoooo...

Kamar mandi itu letaknya dekat dengan dapur. Aku langsung berpikir, bisa dapat rezeki bagus nih, bisa melihat Alya selesai mandi dengan hanya mengenakan handuk saja. Lha ini jubah mandinya ketinggalan di kursi makan.

Hehe....

Tanduk artificial langsung tumbuh di kepalaku. Aku menunda mencari meteran itu ke dapur, menyimak kapan kiranya Alya selesai mandi.

Tak lama kemudian, aku tak mendengar lagi guyuran air dari kamar mandi. Ini saatnya, pikirku. Aku segera melesat ke arah meja kompor, dan berjongkok di bawahnya pura-pura mencari si meteran panjang.

Saat mendengar pintu kamar mandi terbuka, aku segera menoleh ke arah sana.

Sang bidadari yang baru selesai mandi itu belum menyadari ada aku di dekat situ. Dia melangkah santai dan meletakkan pakaian kotornya di sebuah keranjang. Pada saat dia berbalik itulah dia menyadari ada aku di situ, berjongkok di depan meja kompor, menatap ke arahnya....

Tatapanku..., ah maafkan aku, mas Ricky...

Tatapanku tegas menunjukkan keterpesonaan pada tubuh istrimu yang putih seputih putihnya itu. Rambutnya yang basah tergerai ke punggungnya.

Tubuh putih dan jangkung Alya hanya berbalut handuk, menutupi bongkahan payudaranya hingga sebagian kecil paha-bulat-padat-jenjang yang mempesona.

Langkah Alya terhenti melihatku hanya 3 langkah darinya. Kakinya segera merapat, sementara tangannya bersilang di depan dada.

"Kak...." katanya lirih, tercekat.

Aku perlahan berdiri sambil terus menatapi Alya, dan kemudian menghadap ke arahnya kami hanya terpisah 2 langkah.

Hampir skakmat.

Tak ada lagi tatapannya yang sejak tadi beradu dengan mataku. Senyumnya pun kini lenyap...

Berganti dengan wajah bersemu merah yang tertunduk dalam karena malu, dan bibir bergetar tak tahu harus berkata apa.

Dagunya hampir menyentuh bongkahan payudaranya saking dalamnya Alya menunduk.

Aku segera tersadar dari keterpanaanku. Kasihan Alya terlihat begitu malu. Aku pun bergerak, melangkah mundur dan tanganku menggapai kepada jubah mandinya yang tersampir di kursi makan.

Tapi mata kurang ajar ini lupa berpaling, masih menatap tubuh Alya yang menjulang kaku...

Aku melangkah maju kembali, mengulurkan jubah mandi itu kepadanya.

"Sepertinya kamu perlu ini, dek..." kataku lirih.

"Iyaa... Ketinggalan tadi...." sahut Alya, sama lirihnya. Segera diraihnya si jubah mandi, disampirkan sekenanya menutupi tubuh bagian depannya.

Sukses, paha dan dada indah itu kini sebagian besar sudah tertutup.

Aku segera bergeser, memberi ruang agar Alya bisa lewat. Alya pun memanfaatkan perbuatanku itu dengan segera melangkah cepat melewatiku menuju kamarnya.

"Makasih ya, Kak... Permisi..." katanya pelan saat melintasiku.

Tubuhku berputar mengikuti langkahnya. Mataku menatapnya saat dia melewatiku.

Astaga....

Jubah mandinya tidak menutupi bagian belakang tubuhnya, karena tadi hanya disampirkan sekenanya di bagian depan. Aku bisa melihat punggungnya yang tertutup sebagian oleh gerai rambut, goyangan pinggulnya yang menawan saat melangkah pergi, serta paha putih mulus yang ternyata terbuka lebih banyak di bagian belakang....

Tubuh Alya luar biasa indah... Apalagi ini masih menyisakan wangi si sabun mandi...

Aduhai... Aku kembali terpana...

Si cantik seksi itu masih sempat menoleh sesaat sebelum masuk ke kamarnya. Matanya menatapku malu, dan seutas senyum kembali dia berikan untukku.

Duh Gusti... Kuatkan hambamu...

Bab 3

Setelah 3 bulan, rehab rumah mas Alya pun selesai. Setidaknya aku kini terbebas dari keharusan untuk selalu bertemu dengan mereka berdua. Bahkan bisa dibilang, aku kini menghindari mereka.

Karena aku tetap terjebak, bahkan makin terperosok dalam pada perasaan indah dan selalu terbayang pada pesona yang Alya tebarkan waktu itu. Aku sering melamunkan Alya, membayangkan pesonanya saat itu.

Aku jatuh cinta pada Alya.

Beneran, aku jatuh cinta padanya.

Jatuh cinta pada istri sahabatku sendiri, yang sudah aku anggap kakakku.

Jatuh cinta pada istrinya yang sudah aku anggap sebagai adikku sendiri...

Kini, Alya bahkan telah menjadi adik kesayanganku. Adikku tersayang, tepatnya, walau hanya aku yang merasakan itu.

Aku gak bisa menyembunyikan perasaan berdebar setiap aku bertemu dengan Alya. Sungguh aku sangat suka pada perasaan berdebar itu. Tapi aku juga gak tahan pada perasaan bersalah setiap bertemu atau teringat mas Ricky.

Aaaahhh

Maju kena, mundur kena

Dimakan mati, tidak dimakan juga mati

Alya semakin dalam mengisi hatiku, memenuhi otakku

Mau merem mau melek, Alya selalu hadir dalam benakku, tersenyum senyum ndak jelas menggodaku.

Halah, ini cuma perasaanku sendiri....

Alya tak pernah bersikap seperti itu lagi padaku, kok

Uwaaaseeemmmm

Maboknya orang jatuh cinta Kalian bisa mengerti, kan?

Alya tersenyum sambil menatapku dalam. Tak ada kata yang diucapkannya, namun tatapannya menusuk ke hatiku.

Aku hanya bisa berdiri kaku, tergagap diam tanpa mampu berbuat apa apa.

Alya maju selangkah ke arahku, aku malah mundur juga selangkah.

Tiba tiba Alya menghambur memelukku, mendorong tubuh kami hingga aku terpepet di dinding. Tinggi kami hampir sama, sehingga dengan mudah Alya mencium bibirku, melumat habis penuh perasaan.

Ciuman orang yang tak tahan menanggung rindu

Begitu dalam, begitu tercurah apa yang dirasakannya, apa yang selama ini ditahannya.

Kak . . . desah Alya disela ciumannya. Kangeeennn. .

Aku lepas kendali, aku balas melumat bibirnya, ikut menumpahkan semua rindu yang aku punya.

Tangan Alya melingkari leherku, sementara tanganku erat memeluk pinggangnya. Tubuh kami menyatu dalam pelukan erat, bibir kami saling melumat. Desah Alya, desahku, bercampur satu dalam kecipak bibir yang beradu. Dada kami saling menekan, seiring dengan kedua kaki yang mencari posisi ternyaman.

Saling mendukung, agar tumpahnya rasa rindu ini bisa maksimal.

Kakak juga kangen kamu, dek . . desahku disela ciuman.

Alya semakin ganas melumat bibirku, aku mengimbangi dengan menjilat dan menghisap bibirnya.

Lidah Alya menerobos masuk ke dalam mulutku, langsung aku hisap dan balas mengusapnya dengan lidahku.

Alya semakin mendesah. Tangannya kini memegang kepalaku, semakin membenamkan ciuman kami.

Aku menarik tubuh Alya, membalikkan arahnya hingga kini Alya yang memepet ke dinding. Tanpa bisa kau tahan, kini aku sudah menciumi leher jenjang Eni yang putih mulus. Alya tertengadah, mendesah geli penuh nikmat.

Oh, Kaaaakkk..

Aku semakin bernafsu menciumi leher Alya, bahkan menjilati dan menggigitnya dengan bibirku. Tangan Alya semakin erat memeluk leherku, meremasi rambutku.

Alya semakin gelisah dalam desahannya.

Dari dagunya, aku bergerak turun menciumi batang tenggorokan Alya. Terus turun hingga daguku mengait di kaos yang dipakainya, mendorongnya semakin turun hingga kini bibirku berada di tengah dadanya.

Tubuh Alya melengkung menahan geli, berakibat kepalaku semakin terbenam di tengah belahan dadanya karena tangan Alya semakin erat memeluk kepalaku. Mataku terpejam, berkonsentrasi agar terbenam semakin dalam di sana.

Buah dada Alya, cukup besar dan kencang, hingga lembah yang terbentuk di tengahnya terlihat begitu nyata. Di lembah itulah sebagian besar wajahku terperosok dalam. Hidungku menghirup wangi tubuhnya, bibir dan lidahku mengecap lembut dadanya.

Alya menjerit lirih.

Kakaaaaakkkk Ooohh..

Tak puas dengan lembahnya, kepalaku mulai menggeleng ke kiri dan ke kanan, menciumi satu persatu buah dada lembut berkulit putih yang dihiasi guratan hijau pembuluh darahnya. Sensasi daging lembut semakin nyata aku rasakan.

Harum.

Lembut.

Kenyal.

Geliat tubuhnya yang menahan geli, jerit tertahannya menyembunyikan rasa nikmat yang menderitanya.

Sensasi itu yang aku rasakan, dalam gelap pejaman mataku di tengah lembah dadanya.

Aku mengerjapkan mataku, mencoba mencari cahaya namun tetap gelap menyelimuti pandanganku. Semakin lama, aku bisa menangkap temaram cahaya lampu tidur di kamarku.

Aku menjerit dalam hati

Ini sudah semakin gila!

Jika sudah sampai terbawa mimpi, artinya saat ketiduran tadi sebenarnya aku tak pernah berhenti memikirkan Alya.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED