Alice terbangun saat matahari sudah bersinar terang benderang. Entah jam berapa sekarang ini, tapi rasanya tubuh Alice sangat sakit. Ia melihat ke sekeliling dan ternyata ia berada di apartemen milik Jordi. Alice sudah sangat hafal dengan interior kamar Jordi yang sering ia kunjungi.
Betapa terkejutnya Alice melihat Jordi tidur di sampingnya. Jordi bertelanjang dada dan lebih terkejut lagi saat mendapati dirinya sendiri hanya berlapiskan selimut. Ia melihat ke arah dalam selimut dan Alice mendapati bahwa ia tidak mengenakan pakaian apapun.
"ARGH! WHAT HAPPENNED, JORDI?" jerit Alice histeris dan sekaligus membangunkan Jordi yang sudah mengeluarkan tenaga berlebihan tadi malam.
Jordi yang masih mengumpulkan roh dan tenaganya segera terbangun karena teriakan Alice. Ia mendapati dirinya tanpa sehelai benangpun dan hanya di tutupi oleh oleh selimut tebal. Sementara Alice, hal yang sama terjadi pada Alice.
Jordi segera berposisi duduk dan berpikir ulang dengan apa yang terjadi semalam.
"Maaf, Alice." Hanya kata itu yang bisa diucapkan oleh Jordi kepada Alice. Sungguh ... ia masih belum bisa mengingat apa yang terjadi tadi malam, tapi sepertinya mereka bercinta, terbukti dengan seluruh pakaian mereka yang sudah bertebaran di lantai kamar.
"Kenapa kita bisa begini, Jor?" Alice mulai menyesali diri dengan apa yang telah terjadi.
"Maaf." Jordi tidak bisa mengatakan apapun.
Tubuh Alice bergetar hebat tapi ia tidak mau menangis. Ia sungguh menyesali apa yang terjadi dengan dirinya dan Jordi. Bagaimana hubungan mereka nanti akan menjadi canggung setelah ini? Apakah mereka masih bisa berteman?
"Gue akan bertanggung jawab, Alice." Jordi merangkul bahu Alice dan mengecup pucuk kepala sahabatnya itu.
"Be-bertanggung jawab untuk?" Otak Alice masih hank. Kejadian ini membuat Alice sangat terguncang sehingga ia tidak bisa berpikir.
"Ya ... gue pasti nikahin loe. Apalagi kalau loe hamil. Gue akan bertanggungjawab dengan loe dan anak kita." Jordi menatap manik Alice dengan sangat serius. Ia sudah menetapkan hatinya untuk menjaga Alice walaupun nantinya harus berpisah dari Hana, kekasihnya yang baru satu tahun ia pacari. Sekarang Hana berada di luar negeri untuk liburan bersama keluarga besarnya.
Alice berpikir sebentar. Diam. Ia mencoba menjernihkan pikirannya dan kekacauan yang terjadi.
"Alice," panggil Jordi untuk membuyarkan pemikiran Alice.
"Sudahlah. Anggap semua ini tidak pernah terjadi," ucap Alice berusaha tegar. Ia sama sekali tidak berani melihat wajah Jordi. Ini bukan seratus persen kesalahan Jordi, Alice juga bertanggung jawab akan kejadian ini dan tidak sepantasnya Alice menyalahkan semua masalah ini kepada Jordi. Jordi dan keluarganya sudah terlalu baik untuk Alice.
"Hah ... apa maksud loe dengan tidak pernah terjadi?" Jordi semakin bingung dengan Alice.
"Sudah. Lupakanlah. Lagipula gue juga gak akan hamil, Jor," lirih Alice.
"Hah ... maksudnya tidak akan hamil itu bagaimana, Alice?" Jordi bingung. Sahabatnya ini sangat tegar dan seolah tidak mempermasalahkan bahwa Jordi sudah mengambil hal yang paling berharga sebagai seorang gadis dari Alice.
"Nanti saat gue pulang ke rumah, gue akan membeli pil kontrasepsi di apotik. Jadi loe gak perlu pusing lagi dengan masalah kehamilan," balas Alice dengan suara parau menahan penyesalannya. Ia harus tegar.
"Ta-tapi gue ..." Rasanya tidak rela saat mendengarkan Alice mengatakan hal seperti itu terhadap dirinya. Jordi ingin bertanggung jawab atas apa yang ia lakukan terhadap Alice. Secara sadar ataupun tidak, Jordi sudah merusak kehidupan Alice.
"Sudahlah, tidak perlu kita perpanjang lagi. Masa depan kita masih panjang. Masih banyak hal yang ingin gue raih dan gue gak mau memberatkan loe dengan masalah pertanggungjawaban." Alice mencoba mengambil pakaiannya yang tercecer di lantai. Rasa malu meliputi Alice karena Jordi melihatnya terus-menerus. Mungkin tanpa mengedipkan mata sama sekali.
"Alice, jangan seperti itu. Gue merasa gue jadi cowok yang kurang ajar banget sama loe. Gue sudah mengambil hak suami loe kelak," sesal Jordi.
"Sudahlah. Perawan atau tidak, itu sudah bukan jadi masalah untuk masa kini. Kalaupun Nino tidak mau menikah nanti dengan gue karena gue sudah tidak perawan, ya sudah. Gue cari bule saja," putus Alice tanpa pikir panjang. Nino adalah kekasih Alice yang baru saja Alice pacari selama sebelas bulan.
"Ya jangan seperti itu dong. Gue kan udah bilang kalau gue mau bertanggung jawab." Jordi menjadi kesal sendiri dengan semua ucapan Alice yang seakan meniadakan kehadiran Jordi sebagai orang yang bertanggung jawab.
"Ini semua adalah suatu kesalahan yang harus kita tutupi sampai akhir hayat, Jor. Jangan pernah loe bahas lagi semua ini. Kita berteman seperti biasa, tidak ada kesalahan apapun yang terjadi di dalam hubungan kita," putus Alice.
"Alice ... gue." Rasanya Jordi ingin marah kepada Alice. Bagaimanapun, Jordi bukan orang berengsek yang tidur dengan sembarangan wanita. Alice adalah wanita pertama yang berhubungan intim dengan Jordi.
"Sudahlah, Jor. Gue mau pulang dulu." Alice menarik selimutnya dan mulai memunguti semua pakaiannya yang tercecer sembarangan di lantai. Malu rasanya Alice terhadap dirinya sendiri dengan Jordi. Ingin menangis tapi ia tetap harus bertahan. Persahabatan selama ini harus tetap menjadi persahabatan.
Alice tidak bisa meminta Jordi untuk menikahinya. Alasannya adalah orang tua Jordi sudah membantu Alice sangat banyak, terutama masalah beasiswa. Mereka membantu Alice karena Alice sudah menyelamatkan Jordi saat kecelakaan bahkan mendonorkan darahnya untuk Jordi. Jadi orang tua Jordi merasa berhutang budi kepada Alice.
Tapi, di balik rasa terima kasih itu, orang tua Jordi memperingatkan Alice untuk bersikap semestinya kepada Jordi. Hanya sebagai sahabat, tidak lebih, karena Jordi adalah pewaris dari Soebrata Group yang pastinya akan dinikahkan secara bisnis juga dengan orang selevel Jordi. Mereka sudah memberitahukan Alice dari awal.
Alice sangat mengerti dengan permintaan dari orang tua, ia juga sudah berjanji kepada kedua orang tua Jordi bahwa Alice tidak akan memiliki perasaan apapun untuk Jordi. Hanya sahabat baik saja.
Hubungan percintaan Jordi dan Hana adalah hubungan percintaan yang sangat direstui oleh orang tua Jordi. Mereka berada di level yang sama. Bahkan orang tua Jordi meminta bantuan Alice untuk mendekatkan Jordi dengan Hana. Apa yang dilakukan oleh Alice? Tentu saja ia melakukannya. Ia merayu Jordi untuk berpacaran dengan Hana. Hasilnya? Mereka berpacaran dan sudah satu tahun berpacaran.
Alice sukses menjodohkan Jordi dengan Hana bahkan bulan depan mereka akan bertunangan. Orang tua Jordi sangat senang dengan hasil kerja keras Alice.
"Alice," panggil Jordi lagi saat Alice sudah masuk ke dalam kamar mandi untuk menggunakan pakaiannya.
Alice melihat tubuhnya yang penuh dengan hasil cumbuan Jordi. Ia meringgis kesakitan di bagian intimnya. Tadi ia mencoba berjalan meskipun sakit. Rasanya Alice ingin menangis. "Apa yang harus gue lakukan sekarang?" lirih Alice di dalam hatinya.
Jordi segera menggunakan pakaiannya. Ia melihat noda merah di atas seprai putihnya dan seketika rasa bersalah menyeruak di dada Jordi. Sesak rasanya.
Tok! Tok! Tok!
Jordi mengetuk pintu kamar mandi sambil menggunakan pakaiannya dengan lengkap. Sungguh kacau pakaian yang bertebaran di atas lantai. Tadi malam pasti Jordi dan Alice sangat gila.
"Kenapa, Jor?" tanya Alice menahan tangisnya sambil menggunakan pakaiannya. Tubuhnya terasa sangat sakit, seperti terbelah menjadi dua.
"Kita bicara lagi! Gue gak bisa melakukan semua ini dan berpura-pura bahwa semua ini gak terjadi!" tegas Jordi.
"Sudah, Jor. Jangan diperpanjang!" lirih Alice. Suaranya sudah mulai bergetar. Ia sudah tidak sanggup bicara dengan Jordi lagi.
Tiba-tiba dari pintu.
TING TONG! TING TONG! TING TONG!
Bel pintu unit apartemen Jordi berbunyi seakan tidak sabaran.
Jantung Jordi dan Alice terasa mau copot saja. Siapa orang datang ke apartemen Jordi? Sungguh orang itu datang pada waktu yang salah.
Bunyi bel yang dipencet di unit apartemen Jordi seakan tidak mau sabaran.
Alice yang panik segera keluar dari kamar mandi dan sudah berpakaian lengkap. Ia kemudian memberikan kode kepada Jordi untuk merapikan ranjang yang sudah kacau balau dan mengganti sprei dengan seprai yang baru, tanpa noda.
Setelah menyelesaikan itu semua, Alice memberikan kode kepada Jordi agar segera membuka pintu, sementara Alice akan bersembunyi di dalam lemari milik Jordi.
Jordi segera keluar dari kamarnya dan menuju ke pintu masuk. Ia melihat ke door view dan mendapati Hana berada di balik pintu.
"Oh My God. Bad time!" umpat Jordi saat melihat wajah Hana yang sudah ditekuk.
Awalnya Jordi ingin langsung membuka pintu, tapi ia melihat sepatu dan tas milik Alice berada di lantai tepat di dekat pintu masuk.
"Alahmak ..." Jordi segera membawa sepatu dan tas milik Alice ke dalam kamarnya, melemparkannya ke dalam lemari yang sedang di tempati oleh Alice.
"Aw ... pelan-pelang woi!" umpat Alice.
"Ada Hana," ucap Jordi pelan.
Alice langsung menutup mulutnya sendiri, kemudian Jordi menutup pintu lemari tapi tidak menguncinya sama sekali agar Alice masih bisa mendapatkan pasokan oksigen dari luar.
Jordi berlari ke arah pintu dan membukakan pintu untuk Hana.
"Hana," sapa Jordi dengan senyumannya yang sangat canggung.
"Lama banget sih, Jor. Loe kemana saja sih?" protes gadis cantik bermata hazel itu saat masuk melewati Jordi.
"Tidur," jawab Jordi berbohong.
"Ya elah, Jor. Ini kan sudah jam sebelas siang. Masa loe masih tidur sih, Sayang." Hana mendekati Jordi dan tangannya sudah bergelayut manja di leher Jordi. Hana sangat merindukan Jordi setelah satu minggu pergi jalan-jalan keluar negeri bersama dengan orang tuanya.
"I-iya. Semalam gue ke club. Jadi bangun kesiangan," jawab Jordi jujur.
"Loe pergi dengan siapa?" Hana mengernyit curiga. Jordi tidak mengatakan apapun bahwa ia akan pergi ke klub malam setelah kelulusan kuliah.
"Sama teman-teman gue lah." Jordi berusaha melepaskan pelukkan Hana di lehernya tapi Hana tetap bermanja ria.
"Sama Alice juga?" tanya Hana curiga.
Jordi mengangguk.
"Kalian mabuk?"
"Enggak sih. Gue cuma minum jus jeruk."
"Alice ikut mabok?"
"Enggak. Dia minum jus jeruk juga."
"Oh ..." Hana memperhatikan leher Jordi yang ada bekas kissmark. Ia semakin mendekati leher Jordi dan mata hazel-nya membulat.
"Loe ... loe abis tidur sama cewek?" tanya Hana panik.
"Hah ..." Jordi menjadi gugup. Kesan cool yang biasanya ditampilkan oleh Jordi sudah tidak ada di depan Hana, yang ada hanya kepanikan semata.
"Ka-kagak!" elak Jordi.
"Ini di leher loe ada bekas kissmark," tunjuk Hana dengan penuh rasa cemburu ke leher Jordi.
"Hah ... masa sih?" Jordi pura-pura bodoh.
"Loe udah macem-macem ya, Jor!" tuduh Hana. Matanya menampilkan ketidaksukaan atas fakta yang baru ia dapatkan.
"Kagak. Ini cuma alergi!" tegas Jordi yang sudah seperti orang bodoh.
"Loe lupa kalau gue ini calon dokter? Buka baju loe! Gue mo lihat," paksa Hana yang berusaha membuka kaos yang dikenakan oleh Jordi.
"Enggak! Apaan sih loe!" tolak Jordi yang tetap tidak mau melakukan keinginan Hana. Bisa bahaya kalau misalkan ketahuan bahwa banyak kissmark yang ditinggalkan Alice di tubuh Jordi. Gawat deh. Bisa perang dunia nanti.
"Apa sekarang cewek itu ada di sini?" Mata hazel Hana sudah mulai memerah, menahan tangis. Ia sangat menyukai Jordi tapi sepertinya Jordi biasa saja. Tidak menampilkan perasaan apapun terhadapnya. Hana juga sering mendengar bahwa Jordi adalah tipe pria yang suka bergonta-ganti wanita, mungkin one night stand sering dilakukan oleh Jordi, tapi tidak kepada Hana. Jordi bahkan tidak pernah mencium bibir Hana sama sekali. Selama satu tahun ... tidak ada sentuhan sama sekali. Kaku, bagaikan bukan pasangan kekasih.
"Cewek mana sih maksud loe?" Nada suara Jordi naik satu oktaf.
"Berarti benar yang orang-orang katakan tentang loe." Hana menitikkan air matanya yang penuh kesedihan.
"Apa?"
"Loe suka one night stand," pekik Hana.
Jordi menarik nafas dalam-dalam.
"Kalau iya memang kenapa?" ketus Jordi. Biarlah Hana salah paham sesuai dengan tuduhan orang-orang, yang terpenting tidak ketahuan bahwa Jordi baru saja berhubungan intim dengan Alice. Terserah Hana mau berkata apa. Jordi tidak peduli. Ia sama sekali tidak mencintai Hana. Jordi berpacaran dengan Hana juga karena terpaksa, Alice terlalu memaksanya untuk mencoba berhubungan dengan Hana.
PLAK!
Hana menampar pipi Jordi hingga merah. Sungguh ... Hana sangat sakit hati dengan pengakuan Jordi. Mereka akan bertunangan sebulan lagi, tapi Jordi malah one night stand dengan perempuan lain.
"Kita akan bertunangan sebulan lagi, Jor! Kenapa loe tega banget melakukan semua ini sama gue? Apa salah gue?" Hana memukul dadanya sendiri sambil menangis. Perih, sakit dan kecewa, itulah yang dirasakan oleh Hana. Pria yang sangat ia sukai semenjak bangku sekolah dasar sama sekali tidak memberikan respon positif terhadapnya.
"Ya kalau loe gak terima, batalin aja!" jawab Jordi dengan sangat cuek.
"Gila! Kenapa loe semudah itu bilang batalin? Apa loe gak menghargai gue?"
"Gue menghargai loe dan orang tua loe, sehingga gue mau aja berpacaran dan bertunangan sama loe. Tapi untuk mencintai loe, gue rasa loe udah tahu apa jawaban gue dari dulu sampai sekarang," tegas Jordi.
"JORDI!" pekik Hana untuk menghentikan ucapan Jordi yang semakin menyayat hatinya.
"Terserah loe mau bagaimana, gue bener-bener gak peduli. Please jangan urusin semua masalah pribadi gue. Kita berpacaran karena paksaan orang tua bukan atas dasar saling cinta. Gue sudah berusaha, tapi memang gak bisa. Jadi jangan salahin gue!" tukas Jordi dengan rasa tidak pedulinya. Ia bahkan tidak mau melihat mata Hana yang sudah basah dengan air mata.
"Apa ini semua karena Alice?" tuduh Hana. Ia memang sangat cemburu terhadap Alice yang sepertinya menguasai waktu milik Jordi. Bahkan saat mereka kencan pun, Alice selalu ikut bersama. Jordi dan Hana yang berkencan, tapi malah Jordi yang selalu berbicara, bercanda dengan Alice. Bagaimana Hana tidak kesal?
Tapi semua itu berubah semenjak Alice berpacaran dengan Nino, satu bulan setelah Hana berpacaran dengan Jordi. Alice tidak ikut lagi bersama dengan Jordi, tidak mengikuti Jordi kemanapun Jordi pergi dan semua itu membuat Hana lega.
Hana pikir dengan Alice memiliki kekasih, maka Jordi tidak akan terpaku dengan Alice lagi, tapi Hana salah. Jordi malah menempel terus saat Alice berkencan dengan Nino. Bahkan Jordi selalu menolak ajakkan Hana untuk pergi berkencan. Sungguh aneh.
Mereka mengatakan bahwa mereka adalah sahabat sejati. Tidak ada perasaan apapun, tapi mengapa Hana melihat Jordi seperti orang yang cemburu dengan kedekatan Nino dan Alice? Munafik!
"Loe jangan asal tuduh. Gue dan Alice itu bersahabat!" tukas Jordi dengan sangat yakin meskipun hatinya tidak yakin.
"Bullshit!" bentak Hana.
"Terserah loe mau percaya apa gak. Gue bener-bener gak peduli dengan omong kosong loe. Lebih baik loe pergi dari sini. Gue mual lihat loe," usir Jordi dengan kasar.
Masalah Jordi dengan Alice belum selesai dan Jordi ingin cepat menyelesaikannya sehingga ia harus mengusir Hana keluar dari apartemennya. Segera!
BRAK!
Tiba-tiba terdengar bunyi barang jatuh dari kamar Jordi dan membuat Hana semakin curiga bahwa Jordi menyembunyikan seseorang di kamarnya.
"Siapa itu?" bentak Hana, "teman one night stand kamu?" Hati Hana semakin panas.