Aku mandi bersama dengan istri orang lain dan juga bersama dengan suaminya.
Hal yang tidak pernah kubayangkan akan terjadi di hidupku. Hal yang selama ini hanya kulihat di video saja atau di cerita-cerita, kini terjadi di depanku dengan nyata!
Tidak hanya aku ditawarkan untuk mandi bersama dengan mereka, kini aku justru di ajak untuk ikut membersihkan tubuh wanita lain di depan suaminya sendiri.
Sejujurnya, aku masih tidak percaya begitu mendengar permintaan itu. Rasanya bagaikan sebuah mimpi, mimpi yang tidak pernah kubayangkan sebelumnya.
Namun, pada akhirnya kepalaku mengangguk, mengiyakan ajakan itu.
Meskipun saat ini jantungku berdegup dengan sangat kencang dan masih tidak mempercayai hal ini. Aku menyetujui permintaan itu.
Habisnya, sejak tadi pandanganku tidak pernah bisa lepas dari tubuh seksi istri professor Cahyono itu. Dadanya yang bulat, kulitnya yang mulus, dan belum lagi tatapan dan senyumannya yang membuat tidak hanya jantungku, tapi pusakaku juga ikut berdebar-debar.
Kulihat wanita itu telah membelakangi tubuhku dan professor Cahyono mulai sibuk membersihkan tubuh istrinya, atau lebih tepatnya, meremas-remas dada wanita itu karena sepertinya tangannya yang berbusa tidak pernah lepas dari sana.
Dengan langkah kaki yang malu-malu dan gugup, aku akhirnya ikut masuk ke dalam bilik shower itu.
Pandanganku tidak lepas dari punggung dan bokong bulat wanita itu yang rasanya ingin sekali kusentuh dan kuremas-remas.
“Baiklah!” gumamku yang mencoba untuk menyadarkan diriku agar tidak bertingkah keterlaluan atau melebihi batas.
Mereka memintaku untuk membersihkan bagian belakang tubuh wanita itu, jadi sebaiknya aku mengerjakan hal itu saja.
Dengan jantungku yang berdebar kencang dan wajah yang terasa panas, aku mendekati tempat sabun cair yang tersedia disitu dan menumpahkannya di kedua tanganku.
Setelah kedua tanganku sudah bersabun itu, aku kembali menatap punggung itu.
Debaran jantungku rasanya semakin menjadi-jadi, tapi aku tahu bahwa aku harus melakukan ini.
Dengan perlahan-lahan dan hati-hati, tanganku bergerak mendekat dan akhirnya kutempelkan di punggung wanita itu.
“Ahhhh ohhhh ahhhhh.”
Desahan wanita itu bisa kudengar ketika tanganku menyentuh punggungnya yang basah karena terkena air itu.
Aku tidak tahu apakah dia sengaja mendesah begitu tanganku menyentuhnya, atau karena sentuhan suaminya yang saat ini mungkin masih memainkan dadanya, tapi yang jelas wanita itu terus mendesah.
Tanganku yang tadinya menyentuh punggungnya itu lalu perlahan-lahan mulai turun ke bawah, hingga tanganku menyentuh pinggangnya.
Desahan terus keluar dari bibir wanita itu, membuatku menjadi semakin bersemangat dan di sisi lain menjadi semakin bernapsu.
Rasanya pusakaku kini sudah tegang dengan maksimal, tapi aku berusaha untuk fokus membersihkan tubuh bagian belakangnya.
Setelah seluruh punggungnya sudah disabuni dan rasanya sudah bersih, aku memberanikan diri untuk menurunkan kedua tanganku lebih jauh ke bawah. Melewati pinggangnya… pinggulnya… sampai akhirnya kedua tanganku itu akhirnya meremas bokong bulat itu.
“AHHHH~” desahan wanita itu menjadi semakin kuat ketika jari-jariku itu menyentuh kedua bokongnya.
Aku masih tidak tahu apakah itu karena sentuhanku atau suaminya, tapi rasanya desahannya memang menjadi semakin kuat.
Merasa bahwa tidak ada penolakan dari wanita itu, kedua tanganku terus berada di bokongnya, membelainya sambil sesekali meremas-remasnya.
Dari tempatku kulihat professor Cahyono terus menyentuh kedua dada wanita itu, membuat desahan wanita itu memenuhi bilik shower kamar hotel itu.
Sampai akhirnya, aku bisa melihat tangan Professor Cahyono turun dari dadanya, dan seperti bergerak ke bawah.
“AHHHH OHHHHHH.”
Desahan wanita itu semakin menjadi-jadi, dan kulihat tangan Professor Cahyono seperti bergerak-gerak.
Apakah mungkin tangan itu… pergi ke tempat yang aku pikirkan?
Apakah sekarang jari-jarinya sedang masuk ke dalam lubang wanita itu?
Dipenuhi oleh rasa penasaran, tanpa sadar tangan kiriku langsung turun ke bawah dan bergerak menyentuh lubang wanita itu.
Aku bisa merasakan tangan Professor Cahyono yang berada di sana, tapi aku ingin lebih fokus ke sesuatu yang lunak dan basah yang ada di bawah sana.
“AHHHH OHHHH AWHHHH IYAAAAA AHHHHH,” desahan wanita itu terdengar semakin merdu di telingaku.
Apa dia mendesah karena saat ini jari-jariku, ah, tidak, jari-jari kami berdua sedang memainkan lubangnya itu?
Aku tidak peduli lagi apakah saat ini aku sudah melewati batas dengan menyentuh lubang itu, tapi saat ini aku hanya ingin memainkan lubang yang sudah sangat basah itu dan terus menyentuhnya.
Sepertinya Professor Cahyono juga tampak tidak masalah dengan hal itu karena sesekali jari-jari kami berdua tampak bersentuhan ketika ingin mengeksplore lubang itu.
“Ahhhh Awhhhh ohhhh Tunggu…. Tunggu dulu!”
Suara wanita itu terdengar protes dan kulihat kedua tangannya memegang bahu Professor Cahyono.
Namun, meski begitu, jari-jari Professor Cahyono masih berada di bawah sana dan terus mempermainkan lubangnya. Aku juga terus melakukan hal yang sama karena kulihat Professor Cahyono melakukan hal itu.
“Jika kita terus seperti ini… aku akan segera keluar,” ujar wanita itu dengan suara yang terdengar seperti menahan desahan dan sedikit memohon.
Suaranya terdengar sangat indah di telingaku dan membuatku menjadi semakin bernapsu dan justru ingin membuat wanita itu keluar.
“Kalau begitu, jika aku berhenti melakukan ini, apa yang akan kamu lakukan untukku?” tanya Professor Cahyono dengan suara yang terdengar seperti menantang itu.
Wanita itu tidak menjawabnya tapi tiba-tiba langsung berjongkok, membuatku jari-jariku yang berada di lubangnya langsung terlepas dan terpaksa aku menarik tanganku dari lubangnya itu.
Tanpa mengatakan apa-apa, istri Professor Cahyono tiba-tiba langsung memegang pusaka yang terlihat masih setengah bangun itu dengan tangan kanannya, sementara tangan kirinya memegang paha pria itu.
Lalu, tanpa ba bi bu, wanita itu langsung melahap pusaka yang masih setengah tegang itu ke dalam mulutnya, dan begitu pusaka itu menjadi tegang kembali, wanita itu langsung mendorong kepalanya dan melahap pusaka itu sampai ke ujung pangkalnya dan bertahan lama di sana.
Ukuran pusaka Professor Cahyono bisa dibilang lebih kecil dari milikku, diameternya juga tidak sebesar punyaku. Meski begitu, panjangnya kutaksir sekitar 15 atau 16 cm dan dengan panjang yang seperti itu, wanita itu melahap pusaka itu sampai habis.
Aku hanya menatap pemandangan itu dengan takjub dan juga iri, berharap bahwa saat ini aku yang sedang berada di posisi seperti itu.
Mulut wanita itu akhirnya melepaskan pusaka itu untuk mengambil napasnya lalu langsung mendekatkan lagi wajahnya ke arah pusaka itu dan mengeluarkan lidahnya lalu menjilat-jilat ujung kepala pusaka itu.sambil satu tangannya menyelipkan rambutnya ke belakang.
Setelah beberapa saat, mulut wanita itu kembali melahap pusaka itu dan mulai bergerak maju mundur dengan tangannya yang memegang pangkal pusaka itu.
Aku benar-benar terpaku melihat pemandangan di depan itu dengan pusaka yang mengacung dengan kerasnya.
Cara istri Professor Cahyono menghisap pusaka… benar-benar terlihat sangat menggoda.
Professor Cahyono bahkan terlihat tidak bisa menahan gairahnya lagi karena tangan pria itu langsung memegang kepala wanita itu dan mulai menyetubuhi mulut istrinya itu dengan menggerakkan pinggulnya sendiri untuk maju mundur.
Pemandangan tiu sungguh membuatku sangat bernapsu dan bergairah saat ini.
Jika saja… istri Professor Cahyono bersedia untuk menghisapku seperti itu juga…
Aku tanpa sadar menelan ludahku sendiri dan hanya bisa melihat adegan di depan dengan pusaka yang sangat tegang dan sudah kepengen.
Bahkan jika aku harus mengorbankan jiwaku ke iblis sekarang, selama wanita itu mau menghisapku saat ini, rasanya aku bersedia untuk melakukannya.
"Ahhhhh owhhhhh awhhhhhb ahhhhhh iyaaaaa owhhhhh ahhhhh ahhhhh ohhhhh awhhhhh.”
Desahan kenikmatan terus keluar dari bibir wanita yang masih belum kuketahui namanya dibarengi dengan suara sodokan yang terdengar begitu sangat jelas.
Saat ini, setelah apa yang kami lakukan di kamar mandi, pasangan suami istri itu melanjutkan ronde berikutnya di atas tempat tidur.
Namun, sayangnya, aku hanya bisa duduk di tepi tempat tidur dengan kepala yang tertunduk dan meratapi pusakaku yang sudah sangat tegang sejak tadi.
Aku sama sekali tidak menyangka bahwa aku akan berada di posisi seperti ini, duduk di tepi tempat tidur yang saat ini sedang digunakan oleh pasangan suami istri untuk main.
Suara sodokan dan desahan itu benar-benar membuatku merasa gila. Akhirnya, aku memberanikan diri untuk menoleh ke belakang.
Kulihat istri Professor Cahyono sudah terbaring pasrah di atas tempat tidur dengan kaki yang terbuka lebar sementara Professor Cahyono berada di atasnya dengan tangan yang berada di pinggang istrinya dan pinggulnya terus bergoyang maju mundur tanpa henti.
“Ahhh Owhhhh istrikuuu ahhhh, kamu benar-benar yang terbaik!” ujar Professor Cahyono yang terdengar sangat menikmati.
Tangan pria itu lalu pindah dari pinggang istrinya ke kedua dadanya dan terus meremas-remasnya dengan kencang
“Ahhhh ohhh sayanggg ahhhhh mentokinnn ohhhh lebih keras lagii ahhhh enakkkk ohhhhh,” desah nikmat dari wanita itu dengan mata yang terpejam dan bibir yang terbuka untuk mendesah.
Aku hanya melihat pemandangan itu dengan mata yang tidak berkedip dan terus memperhatikan pasangan suami istri itu yang sedang memadu kasih.
“Ahhhh iyaaa ohhhh terussss awhhhh ahhhhh.”
“Ohhhh owhhhh aahhhhhh iyaaaaa ahhhhh kencenginnn ohhhh enakkkkk ahhhh.”
Desahan demi desahan yang keluar dari bibir pasangan suami istri itu membuatku semakin bernapsu. Tanpa sadar, tangan kananku sudah bergerak dan memegang pusakaku yang sudah sangat tegang dan mulai mengurutnya naik turun sambil mataku tetap terus memperhatikan mereka.
Hingga akhirnya, pandangan mataku bertemu dengan istri Professor Cahyono yang kini sedang memainkan kedua dadanya sendiri.
Aku benar-benar menjadi salah tingkah, apalagi jelas-jelas dia bisa melihat tanganku yang sedang memegang pusaka itu. Mungkin saja dia bisa merasa tersinggung karena saat ini aku jelas-jelas melakukan sesuatu yang seharusnya tidak kulakukan.
Namun, berbeda dengan dugaanku, bibir wanita itu membentuk sebuah senyuman, lalu kepalanya tiba-tiba mencoba untuk bangun dan tangan kirinya terulur ke depan, atau lebih tepatnya, ke arah pusakaku.
Aku sungguh sangat terkejut melihat itu hingga tanpa sadar tanganku melepaskan sendiri pusaka yang masih kupegang.
Jantungku berdebar dengan kencang ketika pergelangan tangannya itu sudah disandarkan di pahaku, dan tangannya itu tetap terus terulur ke depan mencoba untuk meraih pusakaku itu.
Apakah… dia memang ingin mencoba memegang pusakaku? Padahal saat ini jelas-jelas suaminya ada di sini dan sedang menggoyangnya?
“Ehhh?!”
Aku benar-benar terkejut ketika tangannya yang lembut itu akhirnya memegang batang pusakaku dengan erat lalu wajahnya tiba-tiba sudah mendekat ke arah pahaku itu.
Rasanya berbagai emosi bisa kurasakan saat ini. Mulai dari terkejut, malu, hingga akhirnya bernapsu.
Wanita itu lalu menyuruhku untuk menaikkan satu kakiku di atas tempat tidur, dan seperti terhipnotis oleh suaranya itu, aku melakukannya. Kaki kananku kini di atas tempat tidur dan kaki kiriku masih di bawah menyentuh lantai, membuat posisi dudukku menjadi menyamping dan kepala wanita itu berada di dekat pusakaku. Tepat di depannya.
“Pusakamu… benar-benar besar,” ujar wanita itu dengan suara yang terlihat sedikit bergetar. Kedua tangannya menyentuh pusakaku itu dan tatapan matanya menatap pusakaku itu dengan bernapsu.
Wajahnya yang terlalu dekat membuat pusakaku bisa merasakan napas yang keluar dari hidungnya itu, membuat pusakaku menjadi semakin bernapsu.
Lalu, hal yang tidak kusangka akan pernah terjadi di hidupku. Akhirnya terjadi.
Kepala wanita itu tiba-tiba menjadi semakin dekat dan membuka bibirnya bersamaan dengan mengeluarkan sedikit lidahnya.
“Ehhhh enggg…” desahan tanpa sadar keluar dari bibirku ketika sensasi lembut dan basah menyentuh kepala pusakaku sampai akhirnya batang pusakaku juga.
Bibir yang lembut itu lalu melahap setengah pusakaku dan mulai naik turun. Aku juga bisa merasakan jari-jarinya memegang sisa pusakaku yang tidak dilahap olehnya.
Bibir itu terus bergerak dengan tempo yang teratur, sambil lidahnya menari-nari di dalam sana.
“Shhhh ohhhh ahhhhh,” desahku sambil memejamkan matanya dan mengangkat kepalaku ke atas.
Sesuai dugaanku, hisapan istri Professor Cahyono itu benar-benar sangat lihai. Rasanya enak sekali.
Setelah beberapa saat, kami bertiga akhirnya mulai naik ke atas tempat tidur. Aku, yang diundang oleh Professor Cahyono, kini sedang mengisi kedua lubang istrinya yang berada di atas tempat tidur.
Pusaku mengisi mulutnya, sementara Professor Cahyono mengisi lubangnya yang kini sedang menungging.
Napsu kami bertiga benar-benar sampai rasanya sampai ke ubun-ubun.
Aku sama sekali tidak pernah membayangkan akan melakukan main bertiga dengan pasangan suami istri. Rasanya seperti sebuah mimpi, tapi ini benar-benar terjadi.
Wanita itu memundurkan mulutnya yang berada di pusakaku, dan memajukannya lagi ketika dari belakangnya Professor Cahyono menyodoknya.
Di bidang psikologi manusia, diketahui bahwa ketika dua hewan teritorial mulai memperebutkan pasangannya, mereka memasuki keadaan yang sangat bersemangat dan bernapsu..
Sepertinya itu yang terjadi saat ini.
“Sayang, kamu merasa sangat bernapsu, kan?” teriak Professor Cahyono sambil meraih tangan kiri istrinya dan menariknya ke belakang karena tangan kanan wanita itu sedang memegang pusakaku dan sibuk menghisapnya.
“Menghisap pusaka pria lain di depan suamimu sendiri… Apakah kamu sangat begitu bernapsu, hah?” tanya Professor Cahyono yang terlihat juga tidak kalah senangnya sambil terus menghentakkan pinggulnya dengan sangat kencang.
Wanita itu tidak membalas pertanyaan suaminya karena mulutnya sibuk menghisap pusakaku dengan liar dan sangat nikmat. Meskipun mulutnya hanya sampai di setengahnya saja, tapi itu sungguh sangat enak.
Kami berada di posisi itu cukup lama, mungkin sekitar 5 sampai 10 menit. Aku bahkan sampai capek harus berlutut di atas tempat tidur sampai satu kakiku bertumpu di tempat tidur dan satu lututnya terangkat ke atas.
Tanganku juga sudah berani mulai menyentuh bahu dan punggung wanita itu. Meskipun terlihat jelas bahwa dia berkeringat, tapi itu tidak masalah. Aku hanya ingin menyentuh kulitnya.
“Ahhhh ohhhh shhhh…. Ahhhhh…” desahku dengan keenakan. Rasanya aku bagaikan pergi ke surga dunia. Hisapan wanita itu sungguh sangat enak.
“Dokter Arga…”
“Ahhhh owhhh shhhhh,” desahku menutup mataku dengan kini posisiku sudah kembali dengan kedua lutut yang menyentuh tempat tidur itu.
“Hei, Dokter Arga!”
Aku akhirnya segera membuka mataku dan sadar kembali ketika merasakan ada yang menyentuh bahuku.
Aku memang tadi samar-samar bisa mendengar ada seseorang yang memanggilku, tapi karena sensasi ini terlalu nikmat, aku tidak menjawab orang itu.
Namun, setelah disentuh seperti ini, aku akhirnya segera tersadar kembali.
Professor Cahyono ternyata yang menyentuhku dan kulihat pusakanya yang lebih kecil dari milikku itu sudah ditarik keluar dari tubuh istrinya. Meskipun begitu, pusakanya terlihat masih sangat keras dan basah sekali.
Apa sebenarnya yang terjadi? Jelas sekali pria itu belum keluar.
Aku hanya menatapnya dengan tatapan bingung sambil menjaga ekspresi wajahku untuk tidak terlalu terlihat keenakan ketika sedang dihisap oleh istrinya.
“Istriku sepertinya sangat menyukaimu, jadi… mau tukeran tempat denganku?” tanya Professor Cahyono yang terlihat santai ketika mengatakan hal itu.
“Apa?!”
Berbeda dengan pria itu, aku tidak bisa menyembunyikan rasa terkejutku sama sekali. Pria itu… menawarkan untuk bertukaran tempat dengannya?
Apakah maksudnya… pusakaku yang kini berada di lubang istrinya, dan dia yang menikmati mulut istrinya?
“Apa… Maksudku… Professor Cahyono serius?” tanyaku yang saat ini benar-benar terkejut.
Bukankah mereka adalah suami istri? Pria itu tidak hanya mengizinkan dia menyentuh tubuh istrinya, memakai mulut istrinya, dan sekarang… mengizinkannya untuk memasuki tubuh istrinya?
“Tentu saja,” jawab pria itu dengan santai.
Aku menatap ke bawah, melihat istri pria itu yang menghisap pusakaku dnegan penuh napsu seperti wanita bergairah yang tidak pernah menghisap pusaka sebelumnya.
“Aku…” ujarku yang tanpa sadar menelan ludahku sendiri.
Wanita di depan ini sungguh sangat menggoda, jadi untuk apa aku melewati tawaran yang tidak mungkin akan terjadi lagi selama hidupku?
“Dengan senang hati aku akan menerimanya,” ujarku lalu menelan ludahku sendiri, tidak sabar untuk memasuki tubuh wanita itu.
Setelah menerima persetujuanku itu, wanita yang tadinya dalam posisi nungging langsung terlentang di atas tempat tidur sambil membuka kedua kakinya. Kepalanya sedikit bersandar di paha Professor Cahyono dan mulai menghisap pusaka suaminya itu.
Aku menelan ludahku sendiri ketika melihat lubang yang sudah sangat basah itu. Lubang yang mulus tanpa bulu dan terlihat sangat indah.
Jantungku berdegup dengan kencang. Merasa bahwa ini semua bagaikan mimpi.
Namun, aku tahu betul bahwa ini benar-benar terjadi.
Tanganku lalu meraih pusakaku yang sudah sangat tegang dan basah oleh air liur wanita itu dan mulai mengarahkannya ke lubang yang terlihat indah itu.
“Aku…. akan memasukkannya,” ujarku memberitahukan wanita itu lalu mulai menekan kepala pusakaku yang telah berada di depan pintu lubang wanita itu.
“Engggg uhhhhhh…” desahan kecil mulai terdengar dari bibir wanita itu ketika kepala pusakaku membela masuk ke lubang miliknya.
Secara perlahan-lahan tapi pasti, sambil memegang paha wanita itu, aku mulai mendorong tubuhku ke depan, memasuki lubangnya yang sempit itu.
“OHHHH AHHHHHH,” jerit wanita itu dengan kencang ketika sudah setengah pusakaku yang masuk ke dalam tubuhnya.
Aku memutuskan untuk tidak memasukinya sampai mentok agar wanita itu sedikit terbiasa dulu, tapi aku juga tidak mau hanya diam saja.
Jadi, sambil memegang pinggangnya, aku mulai menggoyangkan pinggulku maju mundur.
“Ohhhhh ahhhhh awhhhhhh ohhhhh ahhhhhh iyaaaaa awhhhhhhh,” desahan nikmat mulai keluar dari bibir wanita itu dengan kepalanya yang sedikit terangkat dan tangannya memegang pusaka suaminya sendiri.
Mendengar desahan itu, aku semakin menambah kecepatan sodokanku itu meskipun tidak benar-benar sampai montok. Wanita itu terus menjerit dengan kepala yang terangkat.
Mungkin dia memang ingin melihat suaminya atau karena keenakan, aku tidak tahu. Mungkin karena keduanya.
Merasa ditinggalkan, aku melihat tangan Professor Cahyono memegang kepala istrinya dan memiringkannya ke arah pusakanya, membuat istrinya itu mau tidak mau membuka mulutnya dan melahap pusaka itu dan peganganku kini akhirnya pindah ke lutut wanita itu.
Kini, di atas tempat tidur kamar hotel, aku sedang menggoyangkan pinggulku ke wanita lain yang saat ini juga sedang menghisap pusaka suaminya sendiri.
Pemandangan yang begitu erotis dan sungguh bernapsu. Belum lagi desahan tertahan yang sesekali keluar dari bibir wanita yang dipenuhi oleh sebuah pusaka, membuat gairahku menjadi sangat bersemangat untuk menggoyang wanita itu.
“Tunggu dulu, dokter Arga!”
Tiba-tiba, suara professor Cahyono kembali terdengar. Aku akhirnya menatap pria yang kini sedang memangku kepala istrinya itu. Wajahku terlihat bingung, tapi pusakaku masih berada di dalam tubuhnya.
“Ya?” tanyaku yang saat ini sudah berkeringat dan dadaku naik turun.
Apa Professor Cahyono ingin aku untuk menyudahi ini?
Apakah dia akhirnya merasa cemburu atau tidak rela melihat tubuh istrinya dimasuki oleh orang lain dan menyuruhku untuk langsung pergi?
“Gimana kalau kita ganti posisi?” tanya Professor Cahyono.
Dahiku rasanya berkerut ketika mendengar itu. Apa ternyata dugaanku itu benar?
Pada akhirnya, mau tidak mau, aku mengeluarkan pusakaku dari tubuh istrinya itu.
Namun, ternyata dugaanku sama sekali salah. Professor Cahyono menyuruh istrinya untuk nungging, tapi posisi kami berdua sama sekali tidak berubah.
Pria itu duduk bersandar di bantal dan memegang kepala istrinya yang saat ini sedang menghisap pusakanya itu.
Tanpa menunggu lebih lama, aku kembali memasuki pusakaku dari belakang dan memegang bokong bulat wanita itu.
Kali ini, pusakaku dimasukkan sampai mentok sambil aku terus menggoyangnya. Bolaku rasanya bisa menyentuh sesuatu yang basah, membuat bunyi-bunyi erotis dari pertemuan tubuh kami bisa terdengar.
“Ahhhh gilaaa. Pemandangan ini membuatku bernapsu!” ujar Professor Cahyono dengan tangannya yang terus menaik turunkan kepala istrinya itu dan sesekali kulihat pinggulnya terdorong ke atas, seperti menggoyang mulut istrinya itu.
Sepertinya pemandangan di mana dia bisa melihat sebuah pusaka masuk ke tubuh istrinya di depan matanya sendiri membuat Professor Cahyono terasa sangat bernapsu.
Sejujurnya aku tidak bisa mengerti perasaan yang dia rasakan saat ini, tapi mungkin kebanyakan orang yang bergabung di website Exchange memang memiliki fantasi yang sedikit berbeda dari orang biasanya.
Namun, aku tidak ingin terlalu memikirkan itu dan terus menggoyangnya dengan kecepatan yang cepat. Tanganku lalu berusaha untuk meraih kedua buah dada yang lumayan besar itu dan meremas-remasnya.
Dada yang sejak tadi sudah kuinginkan untuk kupegang setelah aku memasuki kamar ini.
Dada itu terasa kenyal dan besar, tanganku bahkan tidak bisa menggenggamnya dengan utuh saking besarnya.
“Ahhhh ohhhh… Aku…. ahhhh… tidak tahan lagi….” ujarku sambil memejamkan mata, memberitahukan bahwa diriku sudah sangat dekat.
“Hari ini adalah hari yang aman untuk istriku. Silakan semburkan di dalam,” ujar professor Cahyono.
Aku akhirnya membuka mataku dan menatap pria yang sudah setengah tiduran dengan bersandar di bantal dengan tatapan penuh terima kasih.
Tanpa menunggu lebih lama lagi, aku kembali memegang bokong wanita itu dan menggoyangnya dengan kecepatan yang sangat cepat.
Tempat tidur kamar hotel itu sampai bergoyang-goyang dan desahan dengan bunyi yang ditimbulkan karena persatuan tubuh kami semakin terdengar dengan jelas.
“Ohhhhh iyaaaa hhhh shhhh ohhhh tidakkkk ahhhh ahhhh AHHHHHHH~” desah wanita itu yang akhirnya keluar dengan tubuh yang bergetar hebat karena sodokanku yang tiba-tiba menjadi sangat cepat.
Lubang wanita itu kini terasa semakin menjepit dan meremas-remas pusakaku itu, membuatku berusaha untuk semakin mengejar kenikmatanku sendiri. Rasanya pusakaku menjadi semakin geli dan enak, menandakan bahwa aku sudah dekat.
“ARGHHHH ARGHHHH ARGHHHH!” desahku dengan suara yang terdengar memburu ketika ledakan kenikmatan itu akhirnya bisa kurasakan.
Aku lalu mendorong pusakaku itu sedalam-dalamnya, membiarkan benihku itu menyembur di lubang wanita lain yang baru kutemui hari ini.
Aku bahkan tidak tahu siapa namanya!
Setelah merasa tidak ada lagi yang akan keluar, aku mencabut pusaka itu dan tiba-tiba langsung terbaring sambil memeluk tubuh wanita yang lebih dulu telah tergeletak di atas kasur.
Aku tidak lagi melihat di mana Professor Cahyono saat ini karena sejujurnya aku sangat kelelahan dan hanya bisa memeluk punggung istrinya itu dan menyandarkan kepalaku di punggungnya.
“Ahhh ohhh haaa… kitaaa… ahhh melakukannya berlebihan… aku capek sekali.”
Suara wanita itu terdengar sangat lemah dan lelah. Dadanya bisa kurasakan naik turun dan tubuhnya sudah berkeringat.
Ya setelah melayani dua pria seperti itu, tentu saja dia merasa sangat kelelahan.
Sementara itu, aku tidak kalah jauh berbeda dengan wanita itu.
Kenikmatan yang terlalu ekstrim ini sungguh sangat menakjubkan bagi diriku yang akhir-akhir merasa bosan di ranjang dengan istriku sendiri.
Itu sebabnya aku menjadi anggota situs itu, dan aku sama sekali tidak menyesalinya.
Ini… terlalu membuatku bergairah dan mendebarkan. Rasanya puas sekali!
“Dokter Arga!”
Suara dari Professor Cahyono dengan tangannya yang menyentuh lenganku membuatku akhirnya segera bangkit dari tubuh istrinya meskipun satu tanganku masih bertumpu di atas tempat tidur dan menatapnya dengan bingung.
Wajah Professor Cahyono mendekat, atau lebih tepatnya mulutnya seolah-olah mendekat ke arah telingaku.
“Lain kali, bawa juga istrimu.”
Mataku membesar ketika mendengar ucapan pria itu.
Dia ingin… aku membawa istriku?