Malam menggelayut di ujung petang teramat gelap bahkan untuk di ingat. Kabut mulai menyelimuti desa Mojokembang. Sebuah desa di sebelah timur pinggiran kota Jombang, paling pinggir tepatnya di sebuah kecamatan Mojowarno. Bersebelahan dengan kecamatan Bareng dan paling timur kecamatan Wonosalam.
Hawa dingin kabut yang terus merambat perlahan melahap setiap segi bangunan rumah para warga. Menambah mencekamnya kengerian seperempat petang menjelang pagi. Suram lampu jalan berdaya 5 watt tampak berkerlip dari kejauhan. Seakan sebuah bintang yang tertutup awan. Namun lampu jalan terselubung kabut petang.
Rembulan tidak tampak di tutup mendung bersembunyi di balik gelapnya arak-arakan awan kelam. Burung hantu tampak berkoar bahagia menyambut kengerian gelap yang sedang meraja melambaikan hawa ketakutan.
Tabuh bambu sahut-bersahut dibarengi gemercik sungai belakang desa. Seakan menambah getar sesak akibat rasa merinding pada bulu kuduk bagi warga yang terjaga di pos-pos ronda ujung-ujung desa.
Lambaian daun kelapa yang melayung ke sana-kemari diterpa angin gelap tengah malam. Berarus sedang tak kencang ya tak rendah. Daun pohon kelapa seakan memberi bayangan seolah tangan besar melambai-lambai. Memanggil-manggil dengan kukunyah yang panjang dan tajam.
Di sebuah gubuk reot berdinding setengah batu bata dan setengah anyaman bambu. Sebuah rumah paling sederhana sebelah paling selatan desa pas di pertigaan depan gardu terakhir desa. Masih dalam lingkup RT 08/RW 02. Di salah satu kamar paling belakang sebelah pintu tengah bergaya kupu tarung namun dalam volume kecil berwarna hijau.
Amanah seorang istri muda yang tengah hamil tua sedang terlelap di ranjang tua buah tangan Pak Kasnam seorang tua sebaya usia 60 tahunan bapak dari Amanah.
Amanah tampak berkeringat dingin dalam terlelapnya. Walau terpejam namun seakan bola matanya bergerak-gerak tak beraturan seakan ada sesuatu keadaan yang menyeramkan ia lihat dalam terbaringnya.
Tubuhnya sebentar-sebentar miring ke kanan, sebentar-sebentar miring ke kiri tak menentu. Seakan kegelisahan badan tengah menerpa dalam lelapnya kali ini.
Dalam usia kandungan tua yang semakin tua telah lebih dari 10 bulan 14 hari sudah melewati masa waktu kelahiran yang seharusnya 9 bulan 14 hari. Namun keanehan terjadi saat sang kekasih hati suami tercinta Kasturi hendak berpamitan merantau kembali demi mengubah taraf hidup yang lebih baik kelak antara Amanah dan iya.
Kota Serang sebuah kota perjuangan, sebuah kota tanah merah para jawara suatu tujuan dari masa muda hingga kini untuk merantau mencari sesuap nasi. Seminggu yang lalu Kasturi pulang karena mendapat kabar sang istri muda Amanah hendak melahirkan buah hati anak pertamanya.
Namun keajaiban aneh terjadi saat pas hari H yang di jadwalkan ibu bidan untuk jadwal Amanah bersalin ternyata meleset akibat ulah sang calon bapak muda. Apa hal saat sore menjelang magrib tiga hari yang lalu.
Saat Amanah merasa sakit teramat sangat di punggung seakan begitu menyiksa. Di buat duduk sakit berdiri sakit tidur apa lagi teramat sakit. Sebuah tanda bahwa sore ini Amanah hendak melahirkan memang sudah waktunya.
Tetapi suatu kejadian aneh mengurungkan keluarnya sang anak pertama, “Nak tenang ya kasihan Ibumu kesakitan Bapak jadi tidak bisa pergi merantau kembali. Cepat lahir ya anakku biar Bapak bisa cepat pergi kembali merantau ke Serang untuk bekerja mencari uang agar dapat membeli baju-bajumu nanti,” sambil mengelus perut sang istri Kasturi terus berbisik di dekat perut Amanah yang telah besar sebab telah waktunya melahirkan.
Dan hal aneh terjadi seakan sang anak dalam kandungan Amanah tak mau ditinggal sang Bapak pergi seketika ia berhenti bergerak dan sakit di punggung Amanah reda seketika.
“Loh Pak, sudah enggak sakit lagi loh Pak, kok bisa ya Pak benaran tidak sakit lagi loh,” amanah terheran heran sambil berdiri dan memutar-mutar badannya menandakan sakit di pinggang dan punggungnya tak terasa lagi.
Dan malam kali ini menjelang pagi datang tepat pas seperempat petangnya Amanah tertidur tak tenang bukan Ikhwal hendak melahirkan tapi sebuah mimpi seram sedang bergelayut di depan matanya yang masih terpejam.
Dalam alam mimpinya ruh amanah terus berlari di sebuah pematang setapak sawah namun serasa tiada ujung jalan setapak tersebut di sepanjang mata memandang hanya ada padi dan rumput dan temaram obor yang tertancap di atas bambu-bambu panjang dijadikan tiang pinggiran pematang.
Amanah terus berlari ketakutan dengan tersengal dan ngos-ngosan sambil menggendong sesosok bayo lelaki yang masih merah seakan baru iya lahirkan beberapa saat yang lalu.
Dan tiba-tiba sahaja seperti tanah-tanah di belakang iya berlari di setiap tapak kaki bekas pijakannya berlari. Muncul tangan-tangan merah berlumur darah lalu tangan-tangan itu seperti mengejar dengan kukuh-kukuhnya yang panjang dan tajam hendak meraih kaki Amanah.
“Jangan-jangan!” teriak Amanah dalam mimpi sambil terus berlari.
“Amanah berikan anak lelakimu, berikan bayi lelaki itu, berikan anakmu,” seakan tangan-tangan merah terus mengejar sambil memanggil-manggil namanya dan berkata untuk merebut bayi lelaki merah di gendongannya.
“Tidak-tidak dia anakku, dia bayiku tak akan kuserahkan pada siapa pun,” amanah terus meracau dan terus berlari tanpa tujuan di setapak pematang sawah seakan tanpa ujung terus memanjang semakin Amanah berlari seakan semakin panjang jalan setapak ia lewati.
Lalu akhirnya ujung terlihat namun gelap tanpa sisi dimanapun gelap tetap tiada tepi jua pada akhirnya. Amanah semakin bingung tak tahu arah dalam hatinya hanya ingin bayinya selamat walau iya harus mati oleh tangan-tangan merah yang tentu dalam pikiran Amanah mereka setan durjana.
Dalam benaknya bertanya-tanya kenapa bayiku dikejar-kejar banyak makhluk dari lembah neraka? matanya teramat takut untuk melihat ke belakang, karena sudah pasti sosok-sosok tangan setan mengejarnya.
“Bu, Ibu tenanglah aku akan membantu Ibu dengan ijin Allah satu acungan jari ku dapat menghancurkan ribuan tangan setan yang mengejar Ibu,” sebuah kata-kata terucap dari sang bayi merah dalam gendongan Amanah.
Dan Amanah hanya terperangah dengan berbagai pertanyaan, “Kenapa dan mengapa bayi sekecil ini yang seakan masih merah baru dilahirkan dapat bicara, apa ini benar bayiku apa bukan bayi setan jua?”
Namun sang bayi seakan mengerti kata hati Amanah dengan senyumannya, dengan telunjuk kecilnya yang masih merah iya acungkan kecilnya yang ia acungkan pada ribuan tangan-tangan merah para setan yang terus merambat pada tanah jalan setapak pematang.
Seketika sebuah cahaya putih bening bersih keluar dari ujung telunjuk menyorot lurus jauh memanjang memporak-porandakan ribuan tangan. Dan setiap tangan yang terkena cahaya pasti terbakar hancur lalu menjadi abu hingga tak bersisa.
“Bu sekarang sudah aman semua itu adalah karena ijin Allah Bu aku anakmu bukan siapa-siapa hanya ciptaannya saja tiada lain,” bayi merah di gendongan Amanah kembali menjelaskan apa yang sedang terjadi.
“Nak apa benar kau bayi yang kulahirkan?” tanya Amanah seakan sangat khawatir dan begitu tak yakin kepada sang bayi merah yang tengah dalam gendongannya.
“Bu aku adalah bayi lelaki yang akan Ibu lahirkan esok hari saat pagi Bapak pulang dan paginya lagi saat matahari datang menyapa dunia mengubah gelap menjadi terang. Begitulah takdirku dan tujuanku. Datang ke dunia sebagai pemberi terang mengubah gelap kalian Ibu dan Bapakku menjadi terang dengan cahaya zat utama Nur Muhammad.
“Aku bayimu Bu dan lihatlah aku petik rembulan emas ini untukmu kelak dimasa harimu dengan usia memasuki waktu subuh. Rembulan emas di tanganku menjadi milikmu ibu maka bersabarlah dalam kesusahan karena aku anak lelakimu,” penjelasan sang bayi merah yang tiba-tiba menggenggam rembulan emas di tangannya sontak membuat mata Amanah kembali terjaga dalam lelapnya.
“Oh Cuma mimpi ku,” gerutu Amanah masih terbaring di atas ranjang reot kamarnya sambil berpeluh keringat karena sedang mengalami sebuah mimpi aneh tentang bayi lelaki dan rembulan emas.
Secerah rekahkan langit biru bersih di ujung paling atas desa Mojokembang, seperti itulah malam ini rasa hati Amanah sangat berbunga-bunga wangi semerbak selayaknya harum bunga setaman.
Tersenyum depan cermin meja rias tiada berhenti sambil menengok wajahnya kanan dan kiri. Bibir tipis nan mungil sedikit ia basuh dengan bibir pemberian sang kekasih si suami tercinta. Agak tebal rupanya bedak di tabur di wajahnya membuat semakin cantik lah dan sedap dipandang setiap yang memandang.
Baju daster kekinian bergaya mini malis telah menempel di badannya begitu memesona bermotif bunga-bunga warna kuning emas dengan rumbai di ujung bawah dan lengan. Sehelai daster gaya modern gadis-gadis muda pemberian sang suami sore yang tadi.
Betapa tidak bahagia, betapa tidak berbunga-bunga hati Amanah kala Kasturi suami tercinta bakal calon bapak dari anak pertama yang dikandungnya telah pulang dari tanah perantauan. Sehingga malam ini Amanah tak henti bersolek mempercantik dirinya, wajahnya dan memberi wewangian pada tubuhnya.
“Malam ini aku bobok sama Mas Kas,” ucapnya lirih sambil terus senyum-senyum sendiri di depan cermin meja rias yang terletak pas di depan ranjang tidur. Seakan kembali seperti waktu malam pertama bahkan rasa di hati Amanah melebihi kala itu.
Andai bunga setaman di petik untuk diambil sari pati wanginya belum cukup untuk mengalahkan harum wangi suasana hati dan kebahagiaan otak Amanah setelah penantian panjang berminggu-minggu lamanya akan datangnya sang raja di hati Mas Kasturi si suami.
Kriek, blek,
Suara pintu terbuka oleh sosok Mas Kas yang tiba-tiba masuk ke dalam kamar. Semakin membuat rasa hati dalam denyut detak jantung bersahut nadi Amanah bertambah kencang. Dalam hati Amanah ingin berteriak dengan teriakan bahagia, aduh Mas Kas sudah masuk lagi aki kan belum siap sayang.”
Wajahnya mulai tertunduk malu-malu tak berani menatap sang suami saking kikuknya dan salah tingkah bagai seorang gadis yang baru bertemu dambaan hati dan menikah karena Taaruf dan tiada pernah mengalami masa pacaran atau berkenalan pun hanya sekejap.
Namun Amanah sekarang adalah calon ibu muda. Saking inginnya bermadu kasih lantaran rindu terlalu rindu yang amat terpendam pada Mas Kas sang suami. Sehingga iya lupa jikalau kehamilannya malam ini sudahlah jatuh tempo sudah waktunya si bayi melihat dunia yang penuh fatamorgana dan tipu-tipu serta halusinasi kesenangan sesaat jua.
Mas Kas memandangi sang istri di ujung kasur duduk tenang begitu gagah memperhatikan secara saksama sang bidadari hati dan sang permaisuri hidupnya. Matanya menelaah dari ujung kaki hingga ujung rambut tiada satu lekuk pun dari tubuh Amanah yang tak tersapu pandangan mesra Mas Kas.
Sempat menelan ludah terhenti di kerongkongan leher mata Mas Kas terhenti pada rumbai ujung bawah daster yang hanya setinggi lutut bahkan agak ke atas lagi. Putihnya kulit amanah membuat sanggatlah menawan pas dengan pinggulnya yang tak begitu membesar walau sedang hamil tua.
Tapi Mas Kas adalah lelaki dewasa dalam pemikiran, tapi Mas Kas adalah lelaki bersifat matangnya hidup dari tempaan sedari lahir saat di tinggal berpulang sang Ibu dan ditinggal berpulang bapak jua saat iya masih bersekolah di bangku sekolah dasar kelas empat.
Dari masa itu iya berjuang untuk hidup sendirian tanpa memiliki saudara kandung satu pun. Walau banyak memiliki saudara sepupu tapi mereka tak sedikit pun pernah memperhatikan Mas Kas. Dari dahulu kala semenjak iya masih berusia satuan belum jua puluhan. Hidupnya terbiasa dengan kerja keras dan memeras keringat demi kelangsungan kehidupannya.
Bibir Mas Kas yang hampir hitam karena sering menyulut rokok tersenyum simpul melihat tingkah lucu sang istri di depan cermin meja rias. Sebentar-bentar Mas Kas menutup mulutnya dengan telapak tangan seraya tertawa agak lirih agar sang istri tak merasa tersinggung. Agar Amanah tak kecewa sebab begitu lamanya iya bersolek semua itu demi Mas Kas tentunya.
“Adek sedang apa?” pertanyaan mendasar yang menjurus tajam seketika mengubah suasana hati Amanah dari ceria menjadi murung. Bibirnya agak menyun perlahan dan wajahnya menampakkan wajah kesal sambil menatap Mas Kas seraya matanya berkaca-kaca ingin menangis.
Seakan dari usahanya sedari tadi sore bersolek dan berdandan agar tampil cantik di depan sang suami yang sudah lama tak tidur bersama sia-sia belaka. Ibarat tisu basah setelah di buat mengelap muka yang kotor dari banyaknya menempel debu di jalan lalu di buang di tong sampah begitu saja tak di hiraukan lagi ter campakkan.
“Mas Kas loh, benci aku, benci mesti enggak peka sama Adek lah menangis ini, menangis ini aku,” rengek Amanah selaras dengan tangannya yang tiba-tiba meraih tisu yang teronggok di dalam sebuah kotak di atas meja rias di depan cermin depan iya duduk. Lalu hendak mengusapkan pada wajah untuk menghilangkan riasan yang sungguh sia-sia pikirnya.
Namun belum jua tangan lentik sang bidadari cantik yang menggenggam tisu sampai mendarat di pipi. Tangan kekar Mas Kas telah meraih pergelangan tangannya menghentikan sejenak rengeknya sang istri kali ini menatapnya penuh cinta.
“Mas bercanda Cantikku, begitu saja mengambek Adek ini. Biar jangan dihapus riasannya Mas kangen kamu yang cerewet dan bawel dan Mas juga teramat kangen saat-saat seperti ini memandangimu berlama-lama di depan cermin meja rias. Aku tahu maksudmu sayangku tetapi aku bukan mencintai mi dengan dandanan atau riasan atau baju seksi yang kau kenakan. Tapi aku menyayangimu karena ketulusan rasa sayang karena bismillah bukan karena nafsu. Aku cinta Amanah yang sederhana ayu alami walau tanpa make up.”
“Tapi Adek ingin tampil cantik seperti wanita-wanita lain di luar sana saat bertemu kekasihnya, sebab itu aku ingin tampil sempurna seayu mungkin di depanmu Mas Kas cintaku,” Amanah terus meyakinkan dan mematahkan pendapat sang suami dan kekeh dengan pendiriannya ingin tampil memesona di hadapan sang lelaki tercinta.
“Adekku sayang, Mas Kasmu ini bukan lelaki kebanyakan yang dapat diperbudak cinta, Mas Kasmu ini terbiasa menerima apa adanya. Termasuk kau melatiku aku menerima apa adanya dirimu bidadari surgaku tanpa syarat dan tanpa imbuhan apa pun di belakangnya. Bagi Mas apa pun keadaanmu apa pun bentuk tubuhmu kelak di masa tua, karena cantik tak selamanya pasti tua juga begitu juga Mas gagah ini hanya di masa muda entah masa tua nanti mungkin encok,” Mas Kas pun begitu meyakinkan sang permaisuri hatinya. Seraya memegang kedua pipi Amanah menatapnya lekat dengan kasih sayang alami seorang pencinta.
“Benar ya Mas, janji Mas tak akan meninggalkan Adek walau apa pun keadaan Adek. Walau nanti Adek tak cantik lagi, walau nanti badan Adek tak langsing lagi seperti sekarang. Walau nanti kulit Adek tak mulus lagi seperti hari ini, janji ya Mas,” begitulah ungkapan rasa dalam lubuk hati Amanah yang meluncur deras meminta kepastian sang Raja hati yang menatapnya malam ini.
“Mas Janji demi Allah biar di saksikan ribuan malaikat subuh dan di catat malaikat pencatat amal baik. Mas Janji akan mencintaimu selamanya sampai ajal menjemput salah satu dari kita kelak di hari tua,” ungkapan kepastian Mas Kas membuat wajah Amanah tersenyum kembali.
“Sudah ayo bobok Mas capek banget ini Dek,” pinta Mas Kas penuh kelembutan sambil memegang lengan Amanah mengajaknya berlabuh di atas ranjang penuh kemesraan meluapkan kerinduan yang lama sudah tersimpan.