Bab 2

Raiden terbangun keesokan paginya dengan kepala yang terasa berat, seakan dunia di sekelilingnya berputar lebih lambat dari biasanya. Pikirannya masih terhuyung-huyung dari pernikahan yang baru saja terjadi semalam-pernikahan yang seharusnya tak pernah ia pilih, namun dipaksakan oleh kewajiban dan tekanan yang tak bisa ia hindari.

Di sampingnya, Elara Maylen terbaring dengan napas yang terdengar pelan, tubuhnya masih terbungkus selimut tipis. Pemandangan itu membuat Raiden sedikit terkejut, meskipun ia berusaha menutupi perasaan itu dengan dinginnya. Di dalam hati, ia merasa terjebak, terperangkap dalam sebuah kehidupan yang bukan miliknya.

Suasana kamar itu terasa asing. Tidak ada kata-kata atau salam di antara mereka. Tidak ada perasaan hangat atau kenyamanan yang bisa diharapkan dari sebuah pernikahan. Raiden mengalihkan pandangannya ke jendela kamar yang masih tertutup tirai, melihat hujan gerimis di luar. Dunia tampaknya melambat, seperti mencerminkan hatinya yang mulai gelisah.

Beberapa menit berlalu, dan Elara akhirnya membuka matanya. Tanpa berkata apa-apa, ia berbalik, menghadap ke arah Raiden. Wajahnya tampak sedikit terkejut melihat Raiden sudah duduk di tepi tempat tidur, namun ada juga secercah kegembiraan yang tersembunyi di matanya. Mungkin, Elara Maylen bukanlah sosok yang mudah dipahami, tetapi ada sesuatu yang mendalam dalam dirinya yang tidak bisa Raiden mengerti.

"Jadi, ini hidup kita sekarang?" Elara bertanya dengan nada santai, meskipun matanya memancarkan ketegangan yang dalam.

Raiden tidak langsung menjawab. Ia memutar cincin di jarinya, cincin yang kini menjadi simbol dari sebuah kesepakatan yang lebih besar daripada perasaan pribadi mereka. "Sepertinya begitu." Jawabnya datar, tanpa emosi.

Elara mengangkat alisnya, menatap Raiden dengan pandangan yang tajam. "Kau tidak terlihat senang."

Raiden menghela napas, berdiri dan berjalan ke arah jendela. Pandangannya jauh di luar sana, terfokus pada hujan yang turun perlahan. "Aku tidak pernah memilih ini, Elara. Dan kau tahu itu."

Elara menarik selimut ke tubuhnya, duduk di ranjang dan menatap pria yang baru saja menjadi suaminya-tanpa cinta, tanpa perasaan, hanya kewajiban. "Tapi kita terjebak, kan? Aku juga tidak memilih ini. Aku terjebak di sini karena keluargaku." Ia merendahkan suaranya sedikit, mencoba untuk menyamakan kedudukan. "Dan menurutku, kita berdua punya pilihan yang sama-menjalani ini sebaik mungkin, atau membuat hidup kita lebih sengsara."

Raiden menoleh, matanya bertemu dengan mata Elara yang penuh ketegasan. Meski gadis ini tampak sembrono dan tidak terduga, ada keteguhan dalam dirinya yang tidak bisa disangkal. Sesuatu yang lebih kuat daripada sekadar permainan kekuasaan atau reputasi. Raiden merasakan sesuatu yang tak bisa ia jelaskan, meskipun ia berusaha untuk tetap terkendali.

"Kita akan menjalani ini dengan cara kita sendiri, Raiden," ujar Elara, kali ini lebih serius. "Aku tidak akan bermain sesuai aturan yang sudah ditetapkan oleh keluarga kita. Aku bukan boneka yang hanya ada untuk menjaga nama baik."

Raiden menatapnya, menilai setiap kata yang diucapkan Elara. Sifatnya yang tak kenal kompromi itu membuatnya sedikit terkejut, tapi juga sedikit tertarik. "Aku tidak pernah menganggapmu sebagai boneka," jawabnya dengan tegas. "Tapi kita harus menjaga kesopanan ini. Setidaknya di depan orang lain."

Elara tersenyum sinis. "Tentu, karena itu yang kita semua butuhkan-kesopanan." Ia mengejek sedikit, namun tetap ada sedikit ketegangan dalam suaranya.

Raiden memutar bola matanya, merasa sedikit frustrasi. Ia tahu betul bahwa pernikahan ini bukan hanya tentang mereka berdua, tetapi tentang permainan yang jauh lebih besar. Di balik semua ini ada tujuan yang lebih gelap, dan meskipun ia tidak ingin terjebak dalam permainan itu, ia tahu bahwa ia harus melanjutkannya, setidaknya untuk keluarga Valen.

Sementara itu, Elara memutuskan untuk berdiri dan berjalan menuju kamar mandi. "Aku akan mandi. Jangan khawatir, Raiden, aku tahu apa yang harus dilakukan." Kata-katanya begitu sederhana, namun dalam nada itu, ada pesan yang dalam. Elara bukanlah wanita yang bisa diprediksi, dan Raiden tahu itu.

Setelah beberapa saat, Elara keluar dari kamar mandi, mengenakan gaun tidur yang sederhana, namun cukup menarik untuk menarik perhatian siapa pun. Raiden hanya diam, memandangi Elara tanpa banyak berkata-kata. Ia tahu betul bahwa hidup mereka ke depan tidak akan mudah, tetapi ia juga tahu bahwa ia tidak bisa berlarian dari kenyataan ini.

Ketegangan di antara mereka terasa jelas, seperti ada tembok yang terbentuk antara mereka berdua. Tidak ada kehangatan, tidak ada rasa saling menghormati yang alami. Hanya ada kewajiban dan rasa terpaksa yang menyelimuti setiap langkah mereka.

Elara akhirnya membuka mulut, mencoba mengubah suasana yang canggung itu. "Apa yang akan kita lakukan hari ini?" tanyanya dengan santai, seperti tidak ada yang penting. Namun, di dalam hatinya, ada kebingungannya sendiri-tentang hidup yang baru ini, dan bagaimana ia harus menavigasi setiap gerakan untuk tetap hidup, meski dalam pernikahan yang terpaksa.

Raiden menatapnya dengan serius. "Kita akan mengikuti rencana yang telah disusun oleh keluarga. Ada beberapa pertemuan dan acara yang harus kita hadiri." Ia berbicara tanpa rasa emosi, seperti seorang yang sudah terbiasa dengan rutinitas yang keras.

"Acara-acara itu tidak menarik, Raiden," Elara mengeluh, terdengar seperti anak kecil yang tidak ingin mengikuti aturan yang sudah ditentukan.

Raiden hanya tersenyum sinis, meskipun senyuman itu tidak sampai menyentuh matanya. "Aku tahu. Tapi ini adalah bagian dari permainan yang lebih besar."

Pagi itu, mereka berdua pergi bersama menuju acara keluarga yang sudah direncanakan. Raiden, dengan keheningan dan ketegasan yang biasa, dan Elara, dengan senyum tajam dan sikap tak terduga, menjadi pusat perhatian di setiap tempat mereka pergi. Mereka berdua seperti dua dunia yang bertabrakan-Raiden dengan dunia bisnis dan kekuasaan, sementara Elara dengan dunia yang lebih kacau, lebih liar dan penuh ketidakpastian.

Setiap langkah mereka seolah terikat oleh satu tujuan yang lebih besar-untuk menjaga keluarga dan rumah sakit mereka tetap terhormat. Namun, di balik pernikahan yang tampaknya hanya berdasarkan kewajiban itu, ada perasaan yang tidak bisa disangkal. Ketegangan yang tidak bisa diselesaikan. Permainan yang tidak bisa mereka hindari, meskipun mereka berdua tidak menginginkannya.

Di tengah semua itu, satu hal menjadi semakin jelas: hubungan ini, meskipun dipenuhi dengan ketegangan, kebingungan, dan kebohongan, akan mengubah hidup mereka lebih dari yang mereka kira.

Namun, satu pertanyaan tetap menggelayuti benak mereka: Bisakah mereka bertahan hidup bersama dalam pernikahan yang dibangun atas dasar kewajiban ini?

Bab 3

Raiden dan Elara tiba di rumah keluarga Valen dalam suasana yang canggung, meskipun keduanya berusaha untuk menjaga wajah mereka tetap tenang. Setiap langkah mereka terasa penuh ketegangan, namun keduanya tahu bahwa mereka harus memainkan peran mereka dengan sempurna-sebuah permainan yang penuh dengan kalkulasi dan manipulasi, di mana keduanya terjebak dalam jaring yang telah dirancang jauh sebelum mereka lahir.

Rumah keluarga Valen tampak megah dan berkilau, dipenuhi dengan kemewahan yang seolah tidak ada habisnya. Pintu utama terbuka dengan anggun, dan ketika mereka melangkah masuk, suasana yang penuh dengan obrolan ringan langsung mengisi ruangan. Para tamu yang telah diundang menatap keduanya dengan tatapan penuh rasa ingin tahu-sebuah pernikahan mendadak yang dilakukan oleh dua keluarga besar, tentu saja menarik perhatian banyak orang.

Raiden tetap menjaga sikapnya, matanya tajam menilai setiap individu yang ada di ruangan itu. Ia bisa merasakan tekanan yang datang dari semua pihak yang hadir. Mereka semua menanti-nanti bagaimana pernikahan ini akan berjalan, berharap bisa melihat siapa yang akan jatuh pertama dalam permainan ini-apakah itu dirinya, atau justru Elara, sang pengantin yang terlihat jauh lebih ceroboh dari yang ia duga.

Elara, di sisi lain, hanya tersenyum tipis. Ia tahu betul apa yang diharapkan darinya-penampilan yang sempurna, sikap yang tenang, dan tentu saja, sikap penuh kepercayaan diri yang tidak mudah dipatahkan. Namun, di dalam hatinya, Elara merasa jauh lebih kacau dari yang bisa dilihat orang. Setiap gerakan yang ia lakukan, setiap senyuman yang ia berikan, terasa seperti topeng yang menutupi ketakutannya. Ini bukan hidup yang ia inginkan, dan ia tahu bahwa ia tidak akan bisa mengubah kenyataan ini dengan mudah.

"Raiden, Elara, kalian akhirnya datang," seru seorang pria paruh baya yang tampaknya merupakan bagian dari keluarga besar Valen. Matanya memancarkan ketegasan yang luar biasa, seperti seorang yang selalu mengendalikan segala hal di sekitarnya. Ia mengenakan jas yang rapi, namun ada sedikit kerutan di dahi yang menunjukkan bahwa ia lebih dari sekadar pebisnis-dia adalah seseorang yang tahu bagaimana cara menggerakkan dunia.

Raiden mengangguk, namun tetap mempertahankan ekspresi wajah yang datar. "Terima kasih, Tuan Valen," jawabnya, suaranya dalam dan penuh dengan kewibawaan.

Elara, yang berdiri di sampingnya, hanya mengangguk singkat. Senyumannya tetap ada, meskipun ada ketegangan di baliknya yang membuatnya tampak seperti boneka yang sedang memainkan peran yang tidak diinginkan. "Senang bisa hadir." Suaranya terdengar ringan, namun ada sesuatu yang tersirat dalam kata-katanya. Ketegangan yang tak bisa disembunyikan.

Tuan Valen tersenyum, namun senyum itu hanya tampak sebagai formalitas. "Kalian adalah pasangan yang sempurna," ujarnya, matanya melirik ke arah mereka berdua, seakan menilai dari atas ke bawah, seperti seorang pemimpin yang melihat dua prajuritnya yang baru saja dilatih. "Ini adalah langkah besar untuk keluarga kita. Aku yakin kalian berdua bisa membawa nama keluarga ini ke tempat yang lebih tinggi."

Elara menggigit bibirnya, menahan diri untuk tidak melontarkan komentar pedas. Dia tahu betul bahwa kalimat itu lebih untuk kepentingan keluarga, bukan untuk mereka berdua. Keluarga Valen tidak peduli apakah ia bahagia atau tidak, yang mereka pedulikan hanya reputasi dan kekuasaan. Tidak lebih, tidak kurang.

Raiden, di sisi lain, merasa tertekan, meskipun ia sudah lama terbiasa dengan situasi semacam ini. Ia tahu bahwa di balik setiap kata yang diucapkan oleh keluarga Valen, ada tuntutan besar yang mengintai-tuntutan untuk menjaga martabat, menjaga reputasi, dan tentu saja, untuk menjaga ketertiban. Tidak ada ruang untuk kesalahan, tidak ada ruang untuk emosi pribadi. Hanya ada permainan kekuasaan yang harus dimainkan dengan cermat.

"Kita akan melakukan yang terbaik, Tuan Valen," Raiden akhirnya berkata, suaranya dingin namun penuh dengan keyakinan. "Saya yakin pernikahan ini akan membawa banyak keuntungan bagi kedua belah pihak."

Tuan Valen mengangguk puas. "Aku harap begitu, Raiden. Aku harap begitu."

Elara menatap punggung Raiden, merasa sedikit terasingkan dalam obrolan itu. Ia merasa seperti terjebak dalam sebuah jebakan yang tak bisa ia hindari, dan setiap kali ia mencoba bergerak, semua orang di sekitar mereka menilai, menunggu, dan berharap agar ia bisa memenuhi harapan mereka. Namun, dalam dirinya yang terdalam, Elara tahu bahwa ia tidak akan bisa bertahan dalam kebohongan ini untuk selamanya.

Seiring malam berlalu, Raiden dan Elara dikelilingi oleh tamu yang lebih banyak lagi. Acara makan malam keluarga Valen dimulai dengan penuh kemewahan, makanan mewah disajikan, dan percakapan berjalan dengan lancar. Namun, meskipun suasananya tampak formal dan elegan, ketegangan antara Raiden dan Elara tetap terasa jelas.

"Jadi, Elara, bagaimana rasanya menjadi bagian dari keluarga Valen?" Seorang wanita muda yang duduk di sebelah Elara bertanya dengan senyum penuh ketertarikan. Wanita itu adalah sepupu Raiden, dan Elara bisa melihat jelas bahwa dia mencoba mencari tahu lebih banyak tentang dirinya, untuk menggali rahasia yang mungkin tersembunyi.

Elara memaksakan senyuman. "Tidak ada yang terlalu berbeda. Hanya sedikit lebih banyak formalitas, mungkin." Jawabnya dengan ringan, berusaha untuk tidak terlihat cemas. Tetapi wanita itu tidak melepaskan pandangannya.

"Kau tahu, Raiden itu tidak mudah ditebak. Banyak orang yang terjebak dalam permainan kekuasaannya," wanita itu melanjutkan dengan suara rendah, seolah-olah mengungkapkan rahasia besar. "Dia tampaknya seperti pria yang sempurna, tapi jangan sampai salah langkah. Ada banyak yang tersembunyi di balik sikapnya yang tenang."

Elara menatap wanita itu dengan tatapan yang tajam. "Aku rasa setiap orang memiliki sisi tersembunyi, bukan?" jawabnya dingin, menyadari bahwa wanita itu sedang berusaha memancingnya. Tetapi, dalam kata-katanya, ada nada yang lebih dalam-sebuah peringatan, atau mungkin, sebuah ancaman yang tak langsung.

Wanita itu tersenyum tipis, seolah puas dengan jawabannya. "Oh, tentu saja. Aku hanya ingin memastikan kau tahu apa yang kau hadapi."

Raiden yang duduk di ujung meja hanya diam, mendengarkan percakapan itu tanpa memberikan reaksi apapun. Ia tahu betul bahwa Elara sedang diuji, dan ia juga tahu bahwa dalam dunia ini, siapa yang lebih kuat akan selalu menang. Namun, entah mengapa, ia merasa sedikit cemas. Mungkin, di dalam dirinya, ada sisi yang mulai ragu-apakah pernikahan ini akan benar-benar berjalan lancar, atau justru akan menghancurkan mereka berdua?

Tapi untuk saat ini, Raiden tahu satu hal pasti: mereka berdua terjebak dalam permainan yang lebih besar, dan hanya waktu yang akan menunjukkan siapa yang akhirnya akan keluar sebagai pemenang.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED