Bab 2

Sekarang, Nadia telah sah menjadi istri Marvel, laki-laki yang dipilihkan oleh ibu tirinya. Nadia berusaha agar bisa melewati badai hidup yang akan dia lewati, Nadia harus menguatkan hatinya sendiri.

"Nadia, kamu sudah sah menjadi milik ku." Laki-laki kasar itu menatap Nadia begitu tajam.

'Aku tidak bisa kabur hari ini, bagaimanapun aku sudah sah menjadi istrinya. Mau tidak mau aku harus melayaninya, walau batinku sebenarnya tidak terima.' Nadia bergumam dengan menitikkan air mata.

"Tidak usah lah kau menangis, hidupmu itu sudah enak," Inez mengulang kembali perkataan nya, perkataan yang dari awal dibuatnya senjata agar Nadia tidak berontak.

Memang ibu tirinya itu wanita yang tidak punya hati, hatinya di penuhi oleh harta yang selalu dia cari.

Tidak jarang ibu tirinya meminta uang kepada Marvel, sebelum Nadia di jodohkan dengannya. Inez yang dengan sengaja menukarkan Nadia hanya demi uang dan kesenangannya saja.

Sejumlah uang sudah diberikan ke Inez dan Marvel pamit.

"Aku pamit dulu, dan aku bawa Nadia ke rumah ku. Sesuai perjanjian awal." Marvel dengan kejam menarik tangan Nadia.

Nadia tidak bisa berontak, Nadia harus mengikuti ke mana dia akan dibawa pergi.

"Pelan-pelan, tanganku sakit.!" Nadia merintih kesakitan.

Mereka berdua berlalu dari Inez dan ayah Nadia, melangkahkan kakinya keluar dari rumah.

Mereka berjalan menuju mobil yang terparkir diujung jalan, mobil milik Marvel.

Marvel adalah laki-laki kaya yang sombong dan bangga akan harta yang dia miliki. Dia yang selalu beranggapan bahwa wanita bisa dibelinya.

Di dalam mobil, terlihat seorang anak kecil cantik dan mungil, Nadia tertegun melihatnya. Anak kecil itu mampu menghilangkan pelipur lara, anak kecil yang sedang menunggu dan menggenggam handphone ditangannya.

Setelah langkah kakinya terhenti di depan mobil, Nadia masuk kedalam. Marvel mempersilahkan Nadia duduk di depan menemani anak kecil itu dan menemani Marvel menyetir. Nadia yang memang suka anak kecil, lalu menyapanya.

"Namanya siapa, Dik?" Nadia mengelus rambutnya yang lurus.

"Namaku Sherina, Tante," Anak kecil itu langsung bersandar ke badan Nadia, seperti nya dia menginginkan kasih sayang seorang ibu.

"Panggil saja saya ibu, ya." Nadia menatap wajahnya yang tidak berdosa.

"Baik, Bu."

Marvel melajukan mobilnya tanpa menghiraukan obrolan mereka berdua. Sedangkan Sherina, semakin nyaman bersama Nadia. Tepat dipangkuan Nadia, Sherina tersenyum dan mematikan handphone yang sedari tadi menemaninya. Nadia dengan perlahan terus saja mengelus rambutnya, hingga Sherina terlelap dalam tidurnya.

"Kamu jaga anakku baik-baik, aku menikahi mu hanya untuk anak ku. Lebih tepat nya sebagai pengasuhnya, aku tidak sudi memiliki istri yang dekil seperti mu," Marvel berbicara dengan wajah yang tetap fokus menyetir.

Nadia memang sekarang dekil, jauh berbeda ketika ibunya masih ada. Nadia yang dulunya cantik, putih, berlesung pipit serta berjilbab. Kini berubah menjadi wanita yang dekil, kusam dan tidak terawat. Semua itu terjadi karena batinnya begitu terluka dan sakit, sebab ibu tirinya itu, dia seringkali lupa untuk merawat dirinya sendiri. Semua masalah dalam dirinya disimpan baik-baik, hanya kepada sang Maha Kuasa lah dia mengadu. Meski dia masih mempunyai ayah, namun dia sudah merasa bahwa ayahnya sudah tiada bersama dengan kepergian sang Ibunda.

"Kamu jangan lupa, aku menikahi mu tidak lebih hanya untuk ku jadikan pembantu," Marvel lagi-lagi mencoba melukai hati Nadia yang sebenarnya sudah terluka.

"Iya, aku paham." Nadia menjawab pelan.

Perjalanan ke rumah Marvel begitu jauh, rumahnya berada di ujung kota. Butuh tiga jam untuk sampai di sana, sehingga Nadia juga terlelap dalam tidur.

Nadia yang memiliki tinggi semampai sebenarnya begitu menarik, akan tetapi siksa batin yang di terimanya mampu merenggut semua yang dia punya.

Nadia lagi-lagi bermimpi bertemu dengan ibunya, ibunya berpesan agar dia mampu menjadi wanita yang sholihah. Ibunya hadir seakan-akan nyata, seakan-akan ibunya mengerti akan penderitaan yang dia rasakan.

"Tolong aku, Bu," Nadia mengigau.

"Ibu, jangan pergi tinggalkan aku. Aku begitu merindukan dan membutuhkanmu, Ibu." Nadia terus saja mengigau dan ucapannya semakin keras.

_Wesshhh_ bunyi suara air mineral ketika di siram.

"Heh! Bangun," Marvel menyiram wajah Nadia dengan segelas air mineral.

Nadia kaget, diapun terbangun dari tidurnya.

"Kamu ini, bikin ramai dan kepalaku pusing saja," ucap Marvel dengan wajah memerah karena marah.

"Maa...ma... ma... afkan aku," kata Nadia begitu gugup.

"Maaf, maaf. Seenaknya kamu tidur, padahal aku sedang sibuk menyetir." Marvel mulai mempercepat laju mobilnya.

"Aku tidak ada maksud, aku capek." Nadia berkata dengan mata berkaca-kaca.

"Aku juga capek. Satu hal lagi, yang harus kamu ingat," ujar Marvel.

"Iya, Apa?" Nadia bertanya.

"Jangan sampai semua orang tahu, kalau kita sudah resmi menikah. Anggap saja kamu adalah pengasuh anakku," kata Marvel.

"Baik."

Hanya menurut yang bisa dilakukan oleh Nadia, dia sendiri bingung untuk bersikap bagaimana. Untuk membantah, dia juga tidak berani.

"Sebentar lagi, kita akan sampai. Kamu harus bersiap-siap menurunkan barang-barang bawaannya!" Perintah Marvel.

Nadia justru kebingungan, Nadia lupa bahwa dia tidak membawa baju sehelai pun.

"Kenapa kamu masih melamun?" tanya Marvel.

"Aku lupa membawa baju sehelai pun." Nadia menjawab dengan wajah tertunduk.

"Oh.. Aku lupa, kamu memang orang miskin. Apa yang akan kamu bawa, kamu tidak punya apa-apa. Bahkan hanya untuk membeli sehelai baju, kamu tidak akan mampu." Marvel kembali menghina dan meremehkan Nadia.

Nadia hanya bisa menangis dengan perkataan Marvel, Nadia ingin sekali melompat keluar dari dalam mobil. Akan tetapi, Nadia masih teringat akan kata-kata ibunya. Ibunya pernah berkata, jangan pernah kamu lari dari masalah. Lari dari masalah, tidak akan pernah menyelesaikan masalah. Selama nafas masih ada di dalam jiwa, jangan pernah berputus asa. Harus kuat dan teruslah libatkan doa.

Ucapan dari ibunya seringkali Nadia ingat, terlebih ketika dia sudah mulai putus asa dalam hidupnya.

"Ayo cepat keluar!" Marvel menarik tangan Nadia masuk ke dalam pusat perbelanjaan.

"Kita mau ke mana?" Nadia memberanikan diri untuk bertanya.

"Sebelum kamu pulang, kamu harus belanja pakaian terlebih dahulu. Apa katanya yang lain nanti, kalau pengasuh anakku berpakaian lusuh seperti itu." Marvel terus saja menarik tangan Nadia.

Nadia tidak berani untuk bertanya lagi, Nadia tidak ingin membuat Marvel marah lagi.

Nadia memilih pakaian yang menurutnya layak di kenakan oleh wanita berhijab, Nadia memilih tiga baju.

"Kamu ingin meremehkan aku, Hah.!" seru Marvel.

"Kenapa hanya beli tiga helai saja, kamu takut aku tidak mampu membayar," ucap Marvel.

"Tidak, bukan begitu. Aku hanya tidak ingin, menghabiskan uangmu lebih banyak lagi," jawab Nadia

"Tidak usah berpikir uangku akan habis, belilah semua apapun yang kamu suka!" Perintah Marvel.

Nadia pun memilih pakaian dengan sembrono. Nadia tidak tahu, baju model apa saja yang sudah dimasukkan ke dalam tas belanjaannya.

"Nah begitu dong," Marvel berbicara dengan begitu bangga.

"Terimakasih."

"Ayo, kembali ke mobil. Kasihan Sherina, di tinggal sendiri dalam mobil." Ajak Marvel ketika dia teringat akan putri kecilnya.

Sherina masih berusia kurang lebih sepuluh tahun. Marvel begitu sayang padanya seperti ayah pada umumnya.

Seperti ada luka yang di sembunyikan oleh Marvel, hingga dia mampu menjadi seorang laki-laki yang tempramental dan juga kasar.

Nadia juga tidak mengetahui akan hal itu, hanya ada satu hal yang bisa Nadia pahami. Bahhwa Marvel adalah seorang ayah yang baik untuk Sherina. Meski untuk menjadi suaminya, perilakunya sangat jauh berbeda.

Bab 3

Nadia dan Marvel berjalan menuju ke mobil, mereka berdua sama-sama khawatir tentang Sherina. Sherina yang malang, yang ditinggalkan oleh ibunya. Dari kejauhan, mereka melihat Sherina sudah terbangun dari tidurnya.

"Dari mana, Ayah?" tanya Sherina.

"Dari belanja, Sherina ingin beli apa?" Marvel bertanya dengan jiwa yang mencerminkan sebagaimana seorang ayah.

"Aku ingin ice cream, Ayah," kata Sherina berbicara manja.

"Sebentar, biar Ayah belikan dulu." Marvel segera masuk kembali ke dalam pusat perbelanjaan.

Sedangkan Nadia duduk di dalam mobil bersama Sherina, sambil mengobrol.

"Ibu, apakah ibu menyukai Ayah?" tanya Sherina dengan wajahnya yang begitu lugu.

"Memang kenapa? Kenapa kamu bertanya seperti itu?" Nadia justru kembali bertanya.

"Aku takut, jika ibu meninggalkan ayah, seperti ibuku dulu," ucap Sherina. Kali ini air mata Sherina menetes, dia teringat akan ibu kandungnya.

"Aku rindu sama ibu, tapi ibu tidak pernah melihatku dan mengunjungi rumah ayah, mungkin memang aku sudah dibuang olehnya," Sherina cerita panjang lebar, menceritakan segala perasaannya.

Nadia sembari mencoba untuk memenangkan dia dan membuat Sherina lebih nyaman, Nadia berusaha agar Sherina tidak sedih.

"Aku tidak akan meninggalkan kamu, Sherina," Nadia merangkul Sherina.

"Benar ya bu, Ibu berjanji." Sherina memberikan jari kelingkingnya, Nadia lantas meraih kelingkingnya. Sherina pun kembali tersenyum.

Mereka berdua menunggu Marvel datang, tidak butuh waktu lama. Akhirnya Marvel datang dengan membawa ice-cream rasa coklat, ice cream kesukaan Sherina. Marvel berlari ke mobil.

"Maaf, Ayah lama," ucap Marvel dengan nafas yang tidak beraturan.

"Tidak apa-apa, Ayah. Terimakasih banyak, aku suka." Sherina kegirangan.

Nadia yang melihat tingkah laku Sherina ikut bahagia, Nadia begitu menyayangi Sherina. Nadia yang telah menganggap Sherina selayaknya anak kandungnya sendiri.

"Ayo, kita pulang." Ajak Marvel sembari melajukan mobilnya kembali. Suasana di dalam mobil tampak begitu sepi, Marvel dan Nadia saling terdiam. Sedangkan Sherina lagi asik memakan icecream yang dibelikan ayahnya. Perjalanan menuju rumah Marvel begitu menakjubkan, gedung-gedung tinggi sudah berjejeran. Lain halnya dengan di desa tempat Nadia tinggal. Beberapa menit kemudian, mereka sampai. Marvel memarkirkan mobilnya di garasi, garasi yang tepat berada di sebelah rumahnya. Nadia turun dari mobil, marvel juga mengikuti.

Sedangkan Sherina, dia kembali manja kepada Nadia. Dia meminta untuk diturunkan, Sherina meminta gendong.

"Ayah, aku boleh bermain sama Ibu?" tanya Sherina kepada Marvel.

"Tentu boleh sayang," jawab Marvel dengan senyuman.

Mendengar jawaban dari ayahnya, Sherina menarik tangan Nadia.

"Ayuk, Bu. Aku aja Ibu untuk keliling rumah kita." Sherina menggenggam tangan Nadia. Nadia begitu tertegun melihat rumah Marvel, ternyata yang dibilang ibu tirinya benar. Nadia yang tidak pernah diajak kerumahnya meski tunangan dulu, kini sudah percaya. Akan kekayaan yang dimiliki oleh Marvel, rumahnya seperti istana.

Di samping rumah Marvel ada taman kecil yang indah, ada kolam ikan di dalam taman itu. Ketika Nadia berjalan ke samping taman, ada ayunan yang bisa dimainkan ketika santai. Tamannya juga begitu banyak bunga, bunga yang warnanya indah dan bermekaran.

"Tempatnya indah ya, Bu?" tanya Sherina.

"Iya." Nadia menjawab singkat.

"Aku biasanya kalau lagi sedih, aku bermain di ayunan ini, Bu." Curhat Sherina sembari menunjuk ke ayunan.

'Sepertinya memang Sherina membutuhkan kasih sayang seorang Ibu.' Nadia bergumam sembari memandang wajah Sherina yang imut.

"Aku sekarang senang, Bu. Akhirnya aku tidak perlu lagi, bermain ayunan seorang diri," Sherina melanjutkan ceritanya.

"Tenang, Sherina. Ibu akan selalu menemani mu, kamu jangan sedih lagi, ya," Nadia menyeka air mata yang tidak sengaja mau menetes dari kelopak matanya.

"Terimakasih, Bu. Sudah mau menjadi Ibu ku, Aku sayang Ibu." Sherina memeluk ibunya dengan erat.

"Aku juga menyayangi mu." Nadia membalas pelukan Sherina.

Mereka berdua tampak bahagia, Nadia juga menemukan lagi hidupnya. Nadia berusaha untuk membahagiakan anak satu-satunya, meski bukan anak kandungnya.

"Ayuk, Bu. Akan aku ajak Ibu untuk keliling-keliling lagi di rumah kita," ajak Sherina menggenggam kembali tangan Nadia. Nadia di bawa ke tempat yang begitu indah, tepatnya di belakang rumah marvel. Di sana ada kolam berenang yang bernuansakan alam, ada juga air panas di dalamnya.

"Aku biasanya kalau ingin belajar berenang di sini, Bu." Sherina kembali menceritakan kebiasaannya.

Nadia melihat-lihat sudut kolam yang dihias rapi dengan tanaman hias di dalam pot.

"Ibu bisa berenang?" tanya Sherina.

"Aku tidak bisa," jawab Nadia.

"Sama, Bu. Awalnya juga aku tidak bisa, tapi Ayah Marvel mengajariku. Mungkin kapan-kapan, Ayah juga mengajari Ibu." Sherina penuh harap.

Nadia hanya menjawab dengan senyuman.

'Bagaimana mungkin, Marvel akan mengajariku. Sedangkan yang aku tahu, aku tidak lebih dari sekedar pembantu.' Nadia teringat kembali dengan kata-kata Marvel yang menyakitkan.

Tidak terasa, air matanya kembali menetes. Nadia begitu lemah. Teringat akan hidupnya yang berubah, tanpa dia sadari, dia menjadi wanita yang begitu rapuh. Air matanya seringkali keluar tanpa disadari.

"Ibu kenapa?" tanya Sherina, ketika Sherina mengetahui ibunya menangis.

"Aku tidak apa-apa, aku hanya terharu." Nadia berusaha menepis semua kesedihan yang dia rasakan, Nadia harus bisa bahagia. Sebab, ada seseorang yang harus di bahagiakan oleh Nadia, yaitu Sherina.

"Ibu jangan bersedih lagi, ya." Sherina berbicara seolah-olah dia ingin kebahagiaan juga untuk Nadia.

"Iya, aku tidak akan menangis lagi. Oh ya, setelah itu. Apalagi yang biasanya kamu lakukan," Nadia mencoba mengalihkan suasana.

"Banyak, Bu. Biasanya aku kalau di kolam renang itu mandi air panas bu, soalnya cuaca di sini tidak menentu,"

"Oh... begitu ya." Nadia mencoba untuk merespon baik cerita Sherina.

"Iya, Bu. Aku juga suka main di kamar ku, ayuk... Aku tunjukkan kamarku kepada Ibu," Sherina kembali menarik tangan Nadia.

"Pelan-pelan saja, Sherina!"

Nadia kembali tertegun dengan isi rumah, begitu banyak lampu yang besar. Bangunan yang tinggi menjulang, bahkan ada tingkat juga di dalamnya. Benar-benar rumah istana.

"Ini kamar tamu, Bu." ucap Sherina sembari menunjukkan kamar.

Setelah itu mereka menaiki tangga, menuju rumah di lantai atas.

"Ini kamar ku," Sherina kembali menunjukkan.

"Ini kamar Ayah dan ibu nanti," Kamar Marvel ternyata ada di atas berdekatan dengan kamar Sherina.

"Kalau Ibu mau masuk dan lihat-lihat dulu tidak apa-apa, Bu," kata Sherina.

Nadia menyetujui, Nadia melihat-lihat kamar yang nanti akan ditinggalinya.

'Wah kamarnya begitu luas, lemari pakaiannya juga lebar. Ada kamar mandi juga di dalam kamar. Benar-benar aku sedang berada di istana.' Nadia bergumam dengan perasaan kagum.

"Sudah, Bu?" tanya Sherina.

"Sudah." Nadia menjawab singkat.

Setelah itu, Sherina kembali meraih tangan Nadia dan berkata.

"Sekarang. Kita kembali ke kamar Sherina ya, Bu."

Tanpa Nadia menjawab, Sherina langsung menarik tangan Nadia.

"Kamarku bagus, Bu?" tanya Sherina.

"Iya, bagus," jawab Nadia.

"Aku memang suka hello kitty, Bu. Itu sebabnya kamarku di kasih wallpaper hello kitty. Kalau Ibu sukanya Apa?" tanya Sherina.

"Aku itu, sukanya kalau kamu bahagia."

Nadia dan Sherina, kemudian bercanda bersama-sama. Mereka berdua saling melengkapi satu sama lainnya.

Nadia yang juga pernah berputus asa dalam hidupnya, kini menemukan hal yang baru dalam hidupnya. Begitu juga dengan Sherina, seorang anak yang kurang kasih sayang dari seorang ibu. Kini dia telah menemukan kembali kasih sayang tersebut, meski Nadia hanya seorang ibu tiri.

"Bu, malam ini ibu tidur denganku ya?" tanya Sherina.

"Biar Ibu tanya dulu ya, kepada Ayah," ucap Nadia.

"Baik, Bu. Aku tunggu kabar baiknya." Sherina merasakan sosok yang dia rindu kan dahulu, yang tidak lain adalah ibu.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED