Bukan OB Sembarangan (BOBS)
Empat bulan kemudian.
“Raf, hari Sabtu, awal bulan depan, lu ada acara gak?” tanya Jay pada Rafael.
“Awal bulan depan?” Rafael balik tanya sambil menyernyitkan dahinya, mengingat-ingat punya agenda apa awal bulan depan, di luar jam kerja.
“Gak ada, Bang. Kenapa?” lanjutnya.
“Hari Jum’at, tangal enam, lu ikut sama gua ya ke Puncak, Bogor. Kita berempat ke sana,” lanjut Jay, santai.
“Berempat? Sama siapa aja, Bang?” tanya Rafael makin serius, dahinya pun kembali mengernyit keras.
“Gua, elu, Pak Elkan, ama Pak Nathan,” jelas Jay masih tetap dalam mode cool and rilexs.
“Pak Elkan dan Pak Nathan yang….?” Rafael bertanya ragu, keningnya makin mengernyit, menduga-duga, benarkah dua orang hebat itu akan mengajaknya ke Puncak.
“Iya, pokoknya mereka yang kerja di kantor ini. Lu udah kenal kan sama mereka?” tanya Jay setengah berbisik.
“Kenal sih, Bang. Tapi….” Rafael juga menjawab setengah berbisik. Ekspresi wajah dan tatapannya sedikit kosong, masih tak mengerti dengan ajakan Jay, Sang Komandan Satpam.
“Oke, kalau gitu, lu mau ya ikut sama gua?” Jay kembali mendesak.
“Emang acara apaan?” Rafael ingin lebih memastikan.
“Pokoknya gua jamin, lu bakal happy and ketagihan, hehehehe.” Jay kembali menjawab santai dan terkekeh.
“Acara kantor bukan?” Rafael kian penasaran.
“Bukan lah. Ini acara khusus kita berempat,” sergah Jay.
“Loh, tapi kok hari Jumat. Kan saya masuk kerja, Bang? Kalau berangkat sore, nyampenya pasti subuh, macet tuh di jalannya, tahu sendiri weekend di jalur Puncak kaya gimana.” Rafael mengklarifikasi dan memprediksi.
“Ya, gak masalah. Kita kan mau nginep di villa, santai aja. Berangkat Jum’at sore, pulang Minggu sore. Lumayan kan bisa refreshing tiga hari dua malam.” Jay kembali menegaskan.
“Wah, lama amat? Pasti mahal tuh biayanya. Saya gak bisa, Bang. Jujur aja, saya lagi boke!” protes Rafael tanpa berpikir panjang lagi.
“Yeeee! Gak usah bayar juga kali, all very free. Alias segalanya serba gratis!” Jay menjawab mantap penuh keyakinan.
“Hah, gratis?” Rafael kembali melongo dalam mode kembali mengernyitkan dahinya.
“Yes, ini beneran gratis, kalau gak percaya, tanya aja sama Pak Elkan atau Pak Nathan.” Antusias Jay kian meningkat.
“Yoi, gratisan. Kamu cuma bawa badan aja, heheheh,” timpal Pak Elkan yang kebetulan sedang lewat di sana hendak ke toilet belakang kantor.
“Serius Pak?” Rafael masih tak percaya.
“Yoi!” balas Pak Elkan sambil mengacungkan sebelah jempolnya ke arah Rafael.
“Terus kita mau ngapain dua malam di sana berempat. Gapleh? Kalau cuma main gapleh di sini aja, Bang!” Rafael masih tidak paham. Sebelah matanya terpicing menatap wajah Jay penuh selidik.
“Ada lah. Entar juga lu tahu sendiri!” Jay mencoba terus meyakinkan Rafael. Celakanya hal itu justru kian membuat Rafael bimbangan dan penasaran.
“Wah, ini sangat mencurigakan. Walau gratis, saya tetap gak mau kalau acara gak jelas gitu,” tukas Rafael sambil ngeloyor membawa ember dan tongkat pel-nya.
“Entar kamu nyesel kalau gak ikut, Rafa.” Pak Elkan yang baru keluar lagi dari toilet, menimpali kembali dengan suara berwibawanya.
Rafael tak membalas lagi, dia terus melangkah menuju gudang.
Obrolan pagi menjelang siang itu, berakhir tanpa ada keputusan atau kelanjutannya hingga beberapa hari. Rafael menduga jika Jay hanya bercanda. Mana mungkin sekelasnya Pak Elkan dan Pak Nathan mau mengajak dirinya berlibur. ‘Memangnya gua siapa?’ sangkal Rafael dalam hati.
Jayadi Kusuma, semua orang memanggilnya Bang Jay, Komandan Satpam yang dituakan oleh semua pegawai rendahan di kantor tersebut, termasuk Rafael. Jay berusia 35 tahun, sudah menikah namun lebih bangga mengaku bujangan. Hal tersebut diperkuat dengan keadaannya yang tinggal sendiri di kostan, sementara istri dan keluarganya tinggal di kampung, demi penghematan.
Sepintas tidak ada yang istimewa dengan Jayadi. Wajahnya jauh dari kata ganteng ataupun good looking. Namun dia teramat dekat dengan hampir semua orang dari berbagai strata dan golongan. Terutama dengan makhluk yang bernama wanita. Jay, pandai bergaul, piawai membuat obrolan seru dengan candaan-candaan segar walau terkadang berbau mesum. Postur tubuhnya tinggi, besar gagah dan kekar, menyaingi perawakan Paspampres.
Rafael yang baru tiga bulan bekerja di sana pun dengan mudah bisa akrab dengan Jay. Bahkan dari semenjak pertama kenal pun Jay sudah mau membantu Rafael mencarikan tempat kost, walau tidak berhasil. Jay memang dikenal juga sebagai orang yang ringan tangan, alias gemar menolong sesama, walau orang yang baru dikenalnya. Terutama pertolongan yang bersifar lainnya.
“Gimana Raf, udah ada keputusan belum. Waktunya bentar lagi, nih!” Pada hari berikutnya Jay yang selalu terlihat gagah dengan seragam kebesarannya itu, kembali bertanya pada Rafael.
“Kagak Bang. Saya tetep gak bisa ikut kalau acaranya gak jelas!” Rafael pun tetap menolaknya dengan alasan yang sama.
“Pokoknya bakal sangat seru, mendebarkan and bikin nagih. Gratis pula. Kapan lagi kamu dapat kesempatan emas seperti itu? Kita tinggal menikmati acaranya tanpa harus memikirkan apapun, termasuk biayanya,” desak Jay, tak mau menyerah.
“Jadi beneran serba gratisan, Bang?” Rafael mulai sedikit melunak.
“Iya lah, emang lu gak percaya ama kantongnya Pak Elkan atau Pak Nathan?” serbu Jay.
“Oh, jadi mereka toh yang ngebiayainya?” Rafael manggut-manggut walau belum sepenuhnuya memahami.
“Ya, iyalah.” Jay menjawab sumringah merasa Rafael mulai melunak.
“Kalau gitu, saya pikir-pikir lagi deh, Bang. Masih satu minggu lagi kan?” Rafael akhirnya memberikan jawaban walau masih tetap menggantung.
“Tapi lu jangan bilang-bilang sama yang lain. Ini rahasia kita.”
“Siap, Bang!” jawab Rafael yang kian membuatnya malas untuk ikut.
“Oh iya, lu dipanggil sama Bu Yessy, disuruh ke ruangannya,” sambung Jay lagi.
“Hah? Bu Yessy, yang…...” Mimik Rafael seketika berubah tegang.
“Iya, Bu Yessy, Kepala Peronalia yang pake kacamata and kerudung cantik itu!”
“Ada apa, Bang? Kok tumben beliau manggil saya?” tanya Rafael dengan ekspresi wajah yang tampak kian tegang penuh kecemasan.
“Ya, lu ngerasa punya salah gak sama dia?” tantang Jay.
“Astagfirullah! Salah apa, Bang? Saya ketemu beliau juga jarang. Emang pernah masuk ke ruangannya dua kali, itu pun waktu awal-awal saya kerja di sini.” Suara Rafael mulai sedikit bergetar karena kian panik dan ketakutan.
“Ya, makanya jangan banyak tanya. Segera temui beliau. Kalau kelamaan, entar lu kena damprat kaya Mas Witan, baru tahu rasa!” sentak Jay pura-pura sedikit kesal.
“Eh, i… iya, Bang!” Rafael gelagapan.
“Jadi pegawai magang itu, jangan terlalu banyak gaya. Laksanakan aja semua perintah atasan, tanpa perlu banyak cingcong, oke!” tekan Jay menasihati.
“Eh, i… iya siaaap, Bang! Terima kasih sudah diingatkan. Maaf, saya permisi dulu mau ke ruangan Bu Yessy.” Rafael berpamitan sambil mundur, wajahnya pun masih pucat. Lalu dia tergopoh-gopoh mendatangi ruangan Bu Yessy dengan jantung yang mulai berdebar dag-dig-dug tak karuan.
Semua orang kantor sudah tahu bagaimana tegas dan tanpa komprominya wanita cantik beryusia 43 tahun hyang bernama lengkap Yessy Mailastri itu. Semua karyawan rendahan seperti Rafael, pasti akan berusaha untuk tidak berurusan apalagi sampai dipanggil ke ruangannya, yang mereka sebut sebagai ruang pengadilan super angker.
Semakin dekat dengan ruangan angker itu, jantung Rafael pun semakin meloncat-loncat membayangkan seesuatu yang mengerikan akan menimpanya, seperti yang pernah dialami Witan, Kepala Suku Dapur alias seniornya kaum Obe. Untung saja kala itu Vina turun tangan mengatasi segalanya.
Rafael pernah dua kali masuk ke ruangan angker nan mencekam itu. Saat interview lanjutan setelah dirinya sah diterima sebagai Obe, dan saat diminta mengantarkan Juice pesanan si Killer dari kantinnya Bu Yuyun. Kepala Personalia itu mendapat julukan si Killer dari sebagain besar karyawan kantor tersebut, terutama anak buahnya langsung.
Siapapun yang dipanggil Kepala Personalia super jutek itu, akan merasa seperti hendak di-BAP Polisi. Di antara semua karyawan kelas menengah ke bawah, hanya Jay yang sepertinya tetap merasa aman dan nyaman keluar masuk dan bahkan berlama-lama tinggal di ruangan Bu Yessy.
‘Ya Allah, selamatkan hamba-Mu yang lemah ini dari caci maki, hinaan atau kengeringan lainnya, Amiin!’ Doa Rafael, sesaat sebelum mengetuk pintu dan meminta izin masuk.
^*^
“Lu kenapa bangong aja kaya kebo di empang? Emang diapain sama Bu Yessy?” tegur Jay.
Setengah jam telah berlalu semenjak Rafael menemui atau lebih tepatnya diinterogasi oleh Bu Yessy. Namun sampai saat ini, sang Obe itu masih hanya duduk terbengong-bengong di pantry. Belum mengerti dengan beberapa pertanyaan dari Kepala Personalia cantik namun judes tiada saingan itu. Beberapa pertanyaan dirasa sangat janggal.
Sebagai atasan yang berkaitan langsung dengan sistem informasi sumber daya manusia di kantornya, menginterogasi atau bertanya kepada karyawannya tentang segala hal yang berkaitan dengan ke-personaliaan, terlebih lagi kepada karyawan berstatus magang seperti Rafael, adalah hal yang sangat biasa dan wajar. Tapi, benarkah harus sedetail dan se-privacy itu?
“Biasa aja, Raf!” jawab Jay ketika Rafael selesai menceritakan sekaligus mempertanyakan apa maksud dari pertanyaan-pertanyaan aneh Bu Yessy tersebut.
“Kok biasa sih, Bang? Emang karyawan di sini semuanya ditanyain sampai pada urusan begitu segala?”
“Bisa jadi.”
“Hah, jujur aja, kalau saya sih merasa agak gimana gitu.” Rafael masih sedikit tercengang dengan jawaban Jay yang menganggap biasa-biasa saja.
“Hehehe, tapi emang gak semua pertanyaan bernada samai. Intinya memang kadang yang menyangkut pribadi, keluaarga atau yang lainnya ditanyakan. Tergantung orang yang ditanyanya juga. Mungkin karena elu masih bujangan, jadi wajar juga kalau ditanya hal begitu. Beda dengan yang udah berkeluarga,” terang Jay panjang lebar.
“Justru karena saya masih bujangan, malah agak aneh kalau ditanyain sampai urusan ranjang. Kan bujangan belum ngalamin urusan yang gituan kali, Bang.”
“Sebenarnya itu hanya seni menginterogasi aja. Kalau bahasa awamnya, tes kejujuran.”
“Tes kejujuran, maksudnya?” Rafael makin bingung.
“Bu Yessy itu aslinya Sarjana Psikologi, jadi dia bisa tahu lawan bicaranya jujur atau bohong. Tadi waktu ngejawab lu jujur apa kagak?” Jay balik tanya lagi.
Rafael makin melongo dalam sejuta kecemasan dan kebimbangannya. Namun juga terselip rasa kagum pada Jay. Komandan Satpam yang satu ini dirasa sangat luar biasa. Terkesan berwawasan luas. Gaya bicaranya terstruktur dan intelek, saingan para calon legislatif yang sedang kampanye. Nyaris mendekati gaya bahasa Bu Yessy, saat sedang menginterogasi. Walau katanya dia hanya lulusan STM.
‘Jangan-jangan Bang Jay ini pejabat yang sedang menyamar jadi satpam!’ curiga Rafael dalam hati.
“Gimana, tadi waktu ditanya, jawaban lu banyak jujurnya apa bohongnya?” Kembali Jay membuyarkan lamunan Rafael.
“Masa sih urusan begituan harus dijawab jujur, Bang? Kan gak etis kali,” sangkal Rafael dengan perasaan yang makin bimbang. Dia segan untuk berbohong, tetapi jika menyangkut perkara pribadi apalagi sebuah aib, tentu saja harus disembunyikan, karena kalau pun dijawab jujur, belum tentu mendatangkan kebaikan.
“Tapi gak masalah juga sih. Kan dia yang nanya, kita mah cuma jawab doang. Urusan jujur dan bohong biar kita aja yang tahu. Emang beneran lu masih perjaka tingting, Raf?” Jay menatap intens mata Rafael seolah mencari jawab jujur dari sana.
“Jujur aja, saya emang udah gak tingting lagi, Bang. Walau belum nikah, tapi udah pernah ngelakuin gituan. Masa urusan begituan, harus diakui jujur depan Bu Yessy. Kan memalukan banget, Bang.” Rafael menjawab malu-malu.
“Pernah apa sering?” susul Jay sambil terus menatap tajam mata Rafael.
“Antara sering dan pernah aja deh, hehehehe.” Rafel makin tersipu-sipu.
Jangankan ditanya oleh Bu Yessy yang notabene atasannya juga seorang wanita, ternyata ditanya oleh Jay yang seorang lelaki dan relatif sudah akrab pun, tetap saja merasa jengah.
“Jawab dengan jujur ya. Lu udah gituan sama berapa cewek?” Pertanyaan Jay seketika membuat Rafael tersentak.
“Kok jadi malah Abang yang penasaran?” tanya Rafael yang mulai tidak nyaman dengan penyelidikan Jay yang dirasa sudah terlalu jauh.
“Hehehe, bukan penasaran sih. Kan tadi gua udah bilang, hanya tes kejujuran. Gua juga pengen tahu, sejauh mana lu berani bicara jujur,” elak Jay tak mau dicurigai.
“Oke, tapi Abang juga harus jujur. Udah pernah berapa kali gituan selain sama istri?” Rafael tak mau terjebak, dia pun balik menantang.
“Heheheh, bisa aja lu balikinnya. Udah gak kehitung. Apalagi kalau dilacak dari saat pertama kenal gituan. Percaya atau kagak, perjaka gua itu hilang waktu kelas dua SMP.” Jay berorasi dengan nada malu-malu namun terselip arogan dan rasa bangga.
“Masa sih, Bang?” Rafael kembali terperanjat, kedua matanya intens menatap wajah Jay yang sedikit cengengesan sok malu-malu namun sedang pamar diri.
“Serius. Dan percaya atau tidak, keperjakaan gua direnggut sama mantan guru SD gua. Udah punya anak tiga lagi, hahahahaha.” Akhirnya Jay tak kuasa menahan tawanya.
“Wow, amaziiing!” Mata Rafael terbelalak.
“Terus kalau lu, kapan pertama ngerasain ngentot?” Jay kembali bertanya, kali ini dengan bahasa yang sangat kasar.
“Waduh! Itu pertanyaannya kasar banget, Bang? Hihihihi.” Rafael terkikik geli.
“Ya elah, sesama cowok gak usah sok jaim segala kali. Kapan?” Jay menegaskan sekali lagi.
“Wah!” Rafael tertegun bingung, “Maaf, Bang. dalam urusan begituan, sepertinya kita emang gak jauh beda, hehehehe,” bisiknya sambil terkekeh.
“Waktu kelas dua SMP juga?” Kali ini Jay yang terbelalak menatap wajah ganteng nan polos Rafael yang tersipu malu-malu kucing.
“Kelas tiga, tepatnya usah hampir mau masuk SMA. Tapi bukan sama mantan guru. Tolong jangan disebarin, ya Bang. Saya malu, terlalu dini saya mengenal begituan.” Rafael mengklarifikasi dengan nada serius namun sedikit santai, dadanya pun sudah mulai terasa sedikit plong.
“Wow, ternyata….” Jay benar-benar terkesima dan kagum mendengar jawaban jujur Rafael yang tidak pernah diduga-duga sebelumnya.
“Ya begitulah, Bang. Anggap aja akibat salah pergaulan, hehehe.”
“Tapi setelah itu, jadi ketagihan kan?”
“Kagak ketagihan juga. Hanya emang jadi kaya gampang aja dapat yang gituan lagi setelahnya, heheheh….” Rafael terkekeh membekap mulutnya.
“Halah, sama aja namanya ketagihan, Rafa! Berarti lu udah lama jadi pemain. Pernah jadi gigolo?” Jay kembali bertanya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya tak percaya.
“Jadi gigolo? Kagak pernah lah, Bang!” tolak Rafael dengan nada keras. ‘Cuma hampir aja jadi itu,’ lanjutnya dalam hati.
“Hehehe, kalau pun pernah, ya gak masalah juga. Elu emang pantas jadi gigolo brondong, bisa langsung jadi idolanya tege. Komuk ganteng, body keren, and yang terpenting kontol lu juga keliatannya lumayan gede juga. Gua aja yang komuk pas-pasan gini, masih laris kok nyambi jadi gigolo.” Jay bicara terus terang.
“Abang suka jadi gigolo?” tanya Rafel pelan, takut terdengar oleh yang lain, padahal hanya mereka berdua di sana.
“Bukan suka sih. Anggap aja side job, alias kerja sampingan. Duit. Semua demi duit, Raf.”
“Istri Abang tahu?” Rafael makin terperangah dengan jawaban jujur dan sok bangganya dari Komandan Satpam yang ternyata sangat mesum itu.
“Kagak lah. Bini gua tahunya cuma duit, duit dan duit.”
“Oh my God! Jadi beneran, gigolo itu dapat duit ya, Bang?” Rafael pura-pura polos.
“Heheheh, lebih dari itu sih. Selain dikasih duit, dapat makan, tidur di tempat mewah, kadang jalan-jalan gratis. Yang terpenting lagi, bisa ngentot sepuas-puasnya. Nikmat mana lagi yang kau dustakan? Hahahahaha.” Jay tertawa terbahak-bahak.
“Astagfirullah, Bang Jay!” seru Rafael dengan kedua biji matanya yang sengaja dibelalakan agar tekesan kaget dan sangat polos.
“Ya, kenyataannya emang begitu, Raf. Kalau lu minat, gua bisa kok ngajarin atau masukin lu ke komunitas gua.”
“Komunitas gigolo?” Tak sadar pertanyaan itu meluncur dari mulut Rafael.
“Yes!” balas Jay mantap.
“Kagak mau! Saya udah insyaf, Bang.” Rafael menepis.
“Udah insyaf? Berarti lu pernah jadi gigolo doong?” Jay kembali tersentak.
“Kagak lah. Saya emang bukan orang suci. Pernah beberapa kali begituan sama beberapa cewek, tapi bukan jadi gigolo juga. Kan gak pernah dibayar, hehehehe.”
“Iya juga ya. Gua sih nawarin aja, siapa tahu lu mau cari duit dengan cara gampang.” Jay sedikit mengalah.
“Saya gak minat, Bang, maaf. Oh iya, kalau sama orang kantor sini, pernah gituan juga?” Rafael menyelidik lebih dalam.
“Kagak dong. Gua kan harus jaga image juga. Bahaya kalau sampai ketahuan, bisa dipecat itu, hehehehe.”
“Oh, kirain…...” balas Rafael ngambang.
“Gua berani terbuka aja cuma sama lu, karena yakin lu bukan cowok ember.”
“Iya sih, abang juga tolong jaga rahasia saya tadi itu.”
“Yoi, sesama bis kota, jangan saling usik apalagi saling mendahului, hehehehe…”
^*^