Bab 2

5 hari kemudian…!!!

Emery memandang jendela rumah sakit sedangkan ibunya kini membereskan pakaiannya, hal yang ia tau selama beberapa hari ini. Dia itu anak yatim dan hanya tinggal berdua dengan ibunya saat umurnya 6 tahun.

Damien juga dia sama-sama anak tunggal, namun suaminya masih memiliki orang tua yang lengkap, setiap kali ibu Damien datang maka pertengkaran yang akan terjadi bersama ibunya.

Percakapan masih sama, tentang dia yang tak tau malu. Sebenarnya ada apa? Bahkan ibunya sama sekali tak berbicara mengenai alasannya padahal dia sudah bertanya puluhan kali.

Sedangkan Damien berada di ruangan Dokter, pria paruh baya itu kini memberikan kertas berisikan resep untuk isterinya. "Di sana juga ada obat pereda rasa sakit, juga obat penenang. Sakit kepala sering terjadi pada pasien yang mengidap amnesia, karena mereka perlu mengingat kejadian-kejadian sebelum kehilangan ingatan."

"Apa amnesianya permanen dok? Karena selama ini tak ada perubahan."

"Saya pastikan tidak, terus berikan dia hal-hal yang membuat dia ingat kejadian masa lalu, seperti foto, atau halaman yang dulu menjadi kenangan kalian, bila rutin dia pasti ingat."

Ucapan pria paruh baya itu, membuat Damien terdiam sesaat. Apakah wanita itu akan cepat ingat? Selama beberapa hari ini dia sering tersenyum seperti dulu mereka bersama, sebelum ada orang ketiga yang merusak segalanya.

"Bisakah pasien lupa ingatan selamanya dok?" tanya Damien yang serius pada dokter tersebut.

"Ada beberapa kasus seperti itu, tapi isteri anda tidak mengalaminya. Atau anda mau isteri anda lupa selamanya?"

"Iya," balas Damien yang membuat pria itu terkejut, biasanya orang akan sedih bila mana keluarga mereka lupa ingatan tapi kenapa pria ini ingin isteri lupa untuk selamanya?

"Tidak ada hal seperti itu di rumah sakit kami, tapi jika ingin mencari adalah jawaban terbaik," balasnya yang sekarang berdiri membuat Damien juga ikutan berdiri dengan nafas berat.

Pria itu berpamitan pada dokter sambil berterimakasih dan berjabat tangan sebagai mana seorang teman, pria berjas putih itu cukup ramah jadi Damien merasa nyaman berbicara dengannya.

Sekarang Damien berjalan keluar, meremas kertas yang diberikan Dokter itu, bagaimana jika Emery mengingat semuanya? Dan sebenarnya apa yang terjadi hingga wanita itu seperti sekarang.

Tak lama dia sampai di ruangan Emery, sedangkan anak mereka di titipkan di rumah ibu Damien karena Eira tak betah berada di rumah sakit, terlebih ketika malam.

"Kenapa kamu lama banget?" tanya Emery yang heran.

"Biasa ngobrol dulu, apa ada yang sakit?" tanya Damien yang sekarang mengusap kepala Emery.

"Kalau ada yang sakit juga emang sembuh pakai uang kamu?" tanya ibu Emery yang membuat keduanya sekarang melihat kearahnya.

Damien terdiam tapi tak lama dia kembali tersenyum pada isterinya. "Besok aku kerja, kalau kamu masih sakit kamu di rumah aja."

"Ya iyalah, masa kamu tega biarin isteri kamu kerja?" tanya ibu Emery yang sekarang menjinjing tas yang berisikan baju Emery keluar.

Wajah bingung Emery kembali terpancar, entah ibunya atau ibu Damien mereka sama tak menyukai menantunya, tapi kenapa dia juga Damien masih bertahan?

Pria itu mengusap lembut pipi Emery sambil tersenyum. "Ayo pulang!"

Damien memegang tangan isterinya kini, namun Emery yang hendak di tarik mempertahankan tangannya dengan wajah yang masih bingung. "Bang!"

"Kenapa?"

"Kenapa ibu kita kayak gak suka sama kita, apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Emery yang sangat penasaran tapi dari mereka tidak ada yang bicara apapun padanya.

"Kamu gak usah tau, yang perlu kamu pikirin kamu harus sehat, oke?!"

Emery mengangguk patuh pada suaminya, dia bersyukur ternyata dia memiliki pria yang baik juga anak yang lucu. Ia rasa rumah tangga ini bertahan karena itu, kami bertahan karena bahagia walau semua keluarga tak ada yang setuju.

.

.

Emery melihat sekeliling rumah saat ini, dia menatap semua barang yang asing baginya. Padahal kata mereka ini rumahnya, sederhana juga nyaman itulah yang ada di otaknya saat ini.

Ibunya sudah pulang karena ada urusan, nanti malam dia akan datang lagi untuk menginap, sungguh ibu yang perhatian.

Sekarang di rumah hanya ada dua orang, sedangkan Eira pergi bersama ibu Damien berjalan-jalan, suaminya bilang Eira memang lebih akrab pada keluarganya dari pada ibu Emery.

"Sayang!" panggil lembut Damien yang membuat Emery menoleh, walau pria itu sering memanggil mesra tapi Damien bilang dia terbiasa mendengar panggil Abang dari bibirnya.

Entahlah dia juga tak paham.

"Iya?"

"Kamu ingat sesuatu?" tanyanya yang sekarang mendekat sambil melihat sekeliling rumah.

Emery menggeleng. "Tidak, semua tampak asing."

Damien tersenyum, setelah itu dia memberikan ponsel berwarna hitam pada Emery, membuat Wanita itu tak paham.

"Ini ponsel kamu, maaf saat di rumah sakit aku gak ngasih ini ke kamu."

Emery mengambil ponsel itu dan menyalakan layarnya, seketika wajah tersenyum karena ada wallpaper mereka bertiga di layar kunci miliknya.

"Kapan foto ini diambil?"

"Mungkin 2 tahun yang lalu, saat itu ulang tahun Eira, kamu lihat bukannya baju kita bagus semua, juga ada pernak-pernik lainnya!" ucap Damien yang menunjuk layar ponsel Emery, dengan wajah yang sangat dekat dengan wanita itu.

Senyumannya semakin lebar. "Kita terlihat sangat bahagia bukan?"

Mendengar hal itu Damien berhenti tersenyum, dan menjauhkan tubuhnya. "Aku harus beresin baju kamu."

Langkah semakin lama semakin jauh, membuat Emery tak paham. Apa ada yang salah dengan ucapannya? Bukankah foto ini mereka sangat bahagia, tapi kenapa Damien pergi dan tak menjawab ucapannya.

Karena penasaran Emery membuka ponselnya dengan sandi sidik jari, ia tak tau sandi pin di ponsel ini jadi dia menggunakan cara tercepat.

Layar itu terbuka, ada banyak permainan di dalamnya mungkin itu ulah anaknya. Tanpa sengaja dia memencet galeri, saat terbuka terlihat beberapa foto.

Wanita itu memeriksanya satu persatu, hingga terlihat dirinya dengan seorang pria yang samar-samar ada di ingatannya.

Matanya membulat terlintas ingatan bersama pria itu, juga senyuman bagai iblis yang menakutkan. Ponsel itu terjatuh membuat Emery sadar, Damien yang baru saja selesai terkejut lalu keluar dari kamar memeriksa kondisi isterinya.

"Emery! Emery ada apa?" tanyanya sambil berlari, tak lama wanita itu memeluknya dengan tubuh bergetar.

"Siapa dia?" tanyanya ketakutan.

"Siapa yang kamu maksud?" tanya Damien yang heran, wanita ini seperti habis melihat hantu saja.

"Foto pria yang ada di ponselku, siapa dia?" tanya Emery lagi, bayangan masih terlihat jelas dan terlebih di kegelapan dengan darah yang hampir memenuhi wajahnya juga matanya menyala terang seakan seringala di bawah purnama.

Damien memeluknya erat, berharap rasa tenang mulai menyelimuti wanitanya, inilah yang tidak dia inginkan, wanita itu mengingat tentang selingkuhannya.

Bab 3

"Tuan! Nona sudah kembali ke rumahnya," ucap seseorang yang kini ada di depannya.

Pria yang sedang memotong daging panggang menghentikan pisau miliknya, setelah beberapa saat dia kembali memotongnya dan menusuk daging itu dengan pisau.

Beberapa orang yang melihatnya sedikit ketakutan, apalagi mengingat aksi kejinya, jika bukan karena yang menggaji mereka tak terlalu Sudi menyembah pria gila itu.

"Beri pesan padanya untuk kembali bekerja!" ujar pria itu yang menyuap daging steak kedalam mulut.

"Tapi Tuan, Nona Emery mengalami Amnesia apa anda yakin dia bisa menjalankan pekerjaan?" tanya pria itu yang khawatir, membuat orang yang kini baru saja menelan makanan menatap tajam padanya.

Pria itu menunduk. "Maaf, Tuan."

Pria itu mengangkat pisau yang bagian tajamnya berlumuran minyak bercampur air. "Angga! Sejak kapan aku butuh pekerjaan darinya?"

"Maaf Tuan, saya akan segera mengirimkan Email!" ucapnya yang pergi setelah itu.

Prank! Meja makan yang lumayan besar juga panjang itu dia gulingkan membuat semua makanan yang ada di sana berserakan juga piringnya hancur. Archer tersenyum miring, setelah apa yang terjadi dia malah melupakan segalanya, kita lihat seberapa dia bisa melupakan tentang kenangan bersamanya.

"PELAYAN!" teriak Archer yang membuat pelayan berbondong datang ke padanya.

Sekarang hampir 10 orang datang menundukan kepalanya pada Archer, mereka tak ada yang berani bertatapan dengan pria itu.

"Makananku jatuh, menurut kalian apakah masih pantas dimakan?" tanya Archer yang mulai bertingkah, membuat seluruh pelayan takut untuk menjawab karena takut salah.

"Tidak Tuan," balas dari mereka takut-takut.

"Sungguh? Itu semua masih bisa dimakan, tapi aku mau kalian yang memakannya!" ujar Archer yang membuat mereka lihatnya tak terima, namun mereka tak dapat membantah.

Dengan cepat mereka memungut makanan itu dan memakannya secara langsung tanpa dibawa kebelakang. Lagipula jarang sekali Archer murah hati, biasanya setelah selesai makan.

Sisanya akan di berikan pada hewan peliharaannya, kadang mereka cukup hina di rumah besar ini tapi bagaimana lagi, uangnya sangat besar bagi mereka, apalagi yang sangat butuh.

Archer melihat mereka tersenyum senang, mereka mirip hewan bahkan lebih rendah dari itu. "Dasar munafik!"

Setelahnya Archer pergi dari sana meninggal orang-orang yang juga bahagia karena ternyata makanan yang mereka hidangkan sangat lezat, bahkan hampir beberapa bulan ini tak pernah mereka cicip.

.

.

Emery termenung melihat layar ponsel yang terdapat Email dari perusahaan, Damien masuk kedalam kamar setelah menidurkan Eira heran dengan Emery yang bingung.

"Kenapa sayang? Rusak hpnya?"

Emery menggeleng sambil memperlihatkan Email itu pada Damien, sontak saja pria itu terdiam termenung. "Aku bekerja di kantor, ya bang?"

"Iya, kamu sekertaris di kantor," ucap Damien yang tersenyum simpul.

"Tapi aku gak ingat apa-apa? Gimana nanti aku kalau kerja?" tanya Emery yang bingung.

"Aku juga gak tau."

"Apa aku tolak aja?"

"Kalau kamu bisa."

"Hah?" tanya Emery yang tak paham dengan ucapan suaminya, kenapa ada kata kalau? Memang kenapa? "Apa ada kontrak kerja aku sama mereka?"

"Enggak sih."

"Terus?" tanya Emery yang semakin bingung.

Damien yang mengerti dengan rasa penasaran isterinya, menarik tangan Emery dan memeluknya. "Masalah kita cukup rumit, Emery. Terutama kamu, aku cuma berharap kamu tetep sama aku, apapun masalahnya."

"Maksud kamu apa, bang?" tanya Emery yang tak paham.

"Masalahnya rumit, nanti kamu tau di kantor. Udah sekarang kamu tidur! Biar besok aku anter kamu ke kantor!" ujar Damien yang memasang wajah sedih, Emery tak paham sebenarnya apa yang terjadi dan kenapa ingatan itu tak terlihat lagi.

Siapa pun tolong berikan dia jawaban?

.

.

Emery turun dari benda roda dua itu dengan pandangan heran, pasalnya gedung yang tinggi mungkin 40 lantai itu tampak sangat besar juga mewah.

Tak ada ingatan apapun tentang gedung yang hampir dilapisi kaca itu. Damien tersenyum sambil memberikan benda-benda untuk keperluannya di kantor.

"Aku pergi dulu ya! Nanti kalau butuh apa-apa kamu bilang aku aja!" ujar Damien yang memberikan kode telepon menggunakan tangannya.

Namun saat pria itu hendak pergi Emery memegang lengannya sambil masih memandang gedung besar itu. "Aku takut."

"Maaf ya! Karena aku kamu harus kerja saat sakit kayak gini," ucap Damien sambil menunduk, merasa bersama pada Emery karena harusnya dia di rumah memulihkan ingatannya.

"Apa kalau aku gak kerja, aku di pecat?"

Damien terdiam sesaat, ia rasa kata itu Mungkin tak akan ada di kamus Emery. Karena mereka lebih mirip terkurung dan tak bisa keluar, bertahan saat ini saja sudah sebuah keberuntungan. "Mungkin."

"Kenapa muka kamu kayak gitu?"

"Emang aku harus gimana?" tanya Damien yang heran, padahal dalam hatinya risau bila mana mereka tak akan bebas, bahkan saat ini.

"Ya khawatir kek kalau aku di pecat, kata mama aku gaji aku lebih gede dari kamu."

Damien tersenyum sambil mengusap rambut Emery, semua orang yang baru datang melihat itu lalu berbisik-bisik entah apa, tapi keduanya tak perduli seperti dunia ini hanya milik mereka berdua. "Aku bahkan lebih seneng kalau kamu gak kerja lagi, karena ada aku. Walau pas-pasan aku cuma mau kita bersama."

Wanita itu tak paham, bukankah mereka bersama, lalu untuk apa kata itu. "Maksud kamu?"

Belum sempat Damien bicara lagi, kedua wanita tiba-tiba memeluknya secara spontan dan juga cepat hingga Emery hampir kehilangan keseimbangannya.

"OMG, ini beneran Lo, Ry? Ya ampun gue seneng banget liat lo lagi, Lo kemana aja?" tanya salah satu dari mereka, kalau dilihat-lihat mereka ini mirip, apa kembar?

"Iya, sumpah gue kangen banget sama Lo, Ry," ucap yang lainnya, sambil memeluk tubuh Emery.

"Kalian siapa?" tanya Emery yang tak tau, entah dari mana datangnya kedua wanita ini.

Mereka memandang tak percaya pada teman karib mereka, walau keduanya berbeda jauh derajatnya dari status Emery sebagai sekertaris bos tapi mereka memiliki hubungan yang akrab.

"Sumpah Lo gak tau gue? Gue Alora, ry."

"Gue Alira, masa Lo gak tau sih?" tanya Alira yang memandang heran pada Emery, tentu saja wanita yang masih lupa-lupa ingat itu bingung.

"Alora! Alira! Sebenarnya ada kecelakaan yang membuat Emery lupa ingatan, atau amnesia."

"Hah?"

"What? Serius?" tanya keduanya kompak, mereka mendekat dan memeriksa teman mereka, takut ada cidera yang lebih serius.

"Bang! Tolong!" ucap Emery yang merasa takut pada kedua wanita rempong ini, terutama dandanan mereka yang sangat mencolok juga seksi, mereka lebih mirip tante-tante genit dari pada gadis kantor.

Damien tertawa kecil melihat istrinya yang takut, ia juga heran kenapa wanita itu bisa berteman dengan tikus got macam mereka. Tapi sebelum amnesia mereka nampak sangat bahagia bila bersama. "Aku pergi dulu ya!"

"Hah? Abang!" ucap memelas Emery namun tak di gubris, pria itu malah tetap melajukan motornya pergi.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED