Bab 2

Ibu dan kedua mertua tiba bersamaan, wajah mereka memancarkan kelegaan bercampur kebahagiaan. Saat mereka melangkah masuk ke ruangan kami, terdengar suara salam serempak, "Assalamualaikum."

Kami pun menjawab, "Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh," dengan senyum yang tak bisa disembunyikan.

Aku segera berdiri, mencium tangan mereka satu per satu, lalu memeluk mereka dengan penuh kelembutan. Kehangatan dari pelukan itu terasa seperti membuang semua lelah yang tersisa di tubuhku.

"Ibu, Alhamdulillah, Aisyah dan bayi kami sehat," ucapku dengan nada penuh syukur.

"Bagaimana keadaan Aisyah? Bayinya perempuan, kan? Sehat-sehat semua?" tanya mertua perempuanku dengan wajah yang penuh rasa ingin tahu, sambil melirik tempat tidur di mana Aisyah berbaring dengan wajah tenang.

Aisyah tersenyum lemah, menatap mereka dengan mata yang berkaca-kaca, lalu berkata, "Alhamdulillah, kami baik-baik saja. Terima kasih sudah datang."

Namun, entah mengapa, saat ibu dan mertua masuk, aku merasa ada sesuatu yang berbeda. Rasanya seperti ada bayangan lain yang ikut menyelinap di balik langkah mereka seperti dingin yang merayap perlahan ke ruangan.

Namun, aku tidak mau terlalu memikirkan hal yang aneh-aneh. Mungkin ini hanya lelah setelah menunggu panjang, pikirku. Hari ini adalah hari kebahagiaan kami sekeluarga, saat menyambut pelita kecil yang akan menjadi cahaya di keluarga kami. Aku menarik napas panjang, mencoba fokus pada tawa ringan dan kehangatan yang memenuhi ruangan.

Ibuku menatapku dengan mata berbinar penuh kebanggaan dan bertanya dengan lembut, "Putra, akan kau beri nama siapa cucu yang cantik itu?"

Aku tersenyum, menarik napas perlahan sebelum menjawab, "Alhamdulillah, saya sudah menyiapkan namanya, Bu. Fatimah Awandini Tjakranegara."

Mereka semua terdiam sejenak, menunggu penjelasanku. Aku melanjutkan dengan nada penuh kebanggaan dan harapan, "Saya memilih nama Fatimah seperti nama putri Rasulullah-simbol kelembutan, kesalehan, dan kekuatan. Awandini artinya baik dan mulia, sebuah doa agar dia tumbuh menjadi wanita yang berbudi luhur. Dan Tjakranegara... adalah nama belakangku dan nama almarhum Ayah, sebagai pengingat warisan keluarga yang harus kami jaga."

Serentak mereka menjawab, "Alhamdulillah," dengan nada syukur yang menyentuh hati.

Ayah mertuaku, dengan senyum tenang dan suara yang penuh doa, berkata, "Semoga Fatimah selalu mendapatkan kemuliaan, kebahagiaan, dan keberkahan dalam perjalanan hidupnya. Dia adalah harapan baru keluarga kita."

Aku mengangguk, menahan haru, menyadari bahwa nama itu bukan hanya identitas, melainkan juga sebuah doa yang akan mengiringi setiap langkah putriku di dunia ini.

Namun, saat menyebutkan nama itu, ada sesuatu yang terasa berbeda. Sebuah hawa dingin yang halus, hampir tak terasa, menyelusup di antara kami. Aku menepis perasaan itu, meyakinkan diriku bahwa ini hanyalah keharuan yang mendalam, bukan pertanda apa pun.

"Nak, Ibu pingin ngingali (melihat) Fatimah," ucap Ibu dengan nada lembut namun penuh antusias, matanya berbinar menatapku.

Aku tersenyum kecil, mengangguk, lalu menjawab, "Njih, sekedap... kulo tanglen rumiyen dateng Perawat nipun (Iya, sebentar... saya tanyakan dulu ke perawatnya)," ucapku sambil berdiri dari kursi.

Ibu tersenyum, menyeka sudut matanya yang mulai basah oleh air mata bahagia. Kedua mertua hanya saling pandang, menunggu dengan sabar. Dalam hatiku, aku merasakan kehangatan yang sulit diungkapkan dengan kata-kata, melihat kebahagiaan mereka adalah kebahagiaan bagiku.

Saat aku hendak melangkah keluar, ada rasa aneh yang tak kumengerti. Seperti ada yang berbisik lembut di telingaku, sebuah suara halus yang hampir tak terdengar. Aku menoleh, tetapi tak ada apa-apa. Kupikir, mungkin ini hanya lelah yang berbicara.

Setibanya di ruang perawat, aku mengetuk pintu perlahan sebelum masuk. Ruangan itu terasa hangat, dengan aroma sabun bayi yang lembut tercium di udara. Seorang suster muda sedang sibuk di meja, mempersiapkan perlengkapan bayi.

"Suster, saya ingin menggendong bayinya. Keluarga saya ingin melihatnya," ucapku dengan nada sopan.

Suster itu menoleh, tersenyum ramah. "Baik, Pak Putra. Tunggu sebentar ya, bayinya baru selesai dimandikan dan sedang didandani biar cantik," katanya sambil melanjutkan pekerjaannya.

Aku mengangguk, berdiri di sudut ruangan, menatap ke arah tempat bayi kami berada. Meski hanya sekilas, aku bisa melihat kain putih kecil membungkus tubuh mungilnya. Hati ini rasanya berdebar, tidak sabar untuk segera membawanya kembali ke hadapan keluarga.

Namun, entah mengapa, saat menatap kain putih itu, ada sesuatu yang membuat bulu kudukku berdiri. Bayangan samar yang tak kukenali sekilas melintas di sudut pandangku, tetapi ketika aku menoleh, tak ada apa-apa. Aku menghela napas, mencoba mengabaikan perasaan aneh itu, dan fokus pada kebahagiaan keluarga yang menunggu di kamar.

Ditemani perawat, aku melangkah perlahan kembali ke kamar, bayi mungil kami dalam gendonganku. Senyum tak henti-henti terpancar di wajahku. Aku berhenti di depan pintu, lalu berkata dengan nada bercanda seperti anak kecil, "Assalamualaikum, Eyang! Ini Fatimah."

"Waalaikumsalam," jawab mereka serentak, suara penuh kebahagiaan menggema di ruangan.

Aku mendekatkan Fatimah, memperlihatkan wajah mungilnya. Kulitnya putih bersih seperti porselen, rambutnya lurus lebat, hidung kecilnya terlihat mancung sempurna, dan pipinya yang merona seakan memancarkan cahaya lembut.

"Cantiknya, Subhanallah," ucap ibuku dengan nada penuh haru, sambil menatap cucu pertamanya dengan mata berkaca-kaca.

Mertuaku pun tak mau kalah, "Alhamdulillah, Fatimah ini benar-benar bidadari kecil. Rambutnya tebal sekali, pasti sehat."

Perawat yang berdiri di sampingku tersenyum tipis. "Memang bayi perempuan ini cantik sekali, Pak Putra. Semua orang di ruang bayi memuji dia tadi," katanya.

Saat aku menyerahkan Fatimah kepada ibu, tiba-tiba ada hembusan udara dingin yang menusuk, padahal ruangan terasa hangat sebelumnya. Aku mencoba mengabaikan hal itu, meskipun ada sesuatu dalam hati yang berbisik aneh. Namun, melihat senyum lebar di wajah mereka, aku memutuskan untuk tidak menghiraukannya.

"Terima kasih sudah membantu selama persalinan dan menjaga Fatimah, Suster," ucapku dengan ramah, senyum bahagia menghiasi wajahku.

Perawat itu tersenyum hangat, wajahnya penuh kebanggaan melihat bayinya yang sehat dan cantik. "Sama-sama, Pak Putra. Saya senang bisa membantu. Fatimah bayi yang sangat sehat dan tenang, insya Allah semuanya akan berjalan lancar," jawabnya dengan lembut, matanya berbinar saat melihat kami.

Aku mengangguk, merasa sangat berterima kasih. Rasanya, tanpa bantuan dan perhatian mereka, hari ini tak akan seindah ini. Di dalam hatiku, ada doa yang terucap untuk setiap orang yang telah membantu kami melewati perjalanan ini dengan penuh perhatian dan kasih sayang.

"Suster, kapan saya bisa segera pulang?" tanya Aisyah dengan suara yang sedikit lelah namun penuh harap. Matanya yang berbinar mencerminkan keinginan untuk segera pulang bersama bayi Fatimah.

Perawat itu menatapnya dengan lembut dan memberikan senyum tenang. "Sabar, Ibu Putra. Kami masih menunggu observasi dari dokter terlebih dahulu, njih," jawabnya dengan ramah. "Kami akan memberikan perawatan terbaik untuk Ibu dan bayi Fatimah, Insya Allah secepatnya bisa pulang."

Aisyah mengangguk, meski terlihat sedikit cemas, ia mencoba untuk tetap sabar. Aku menggenggam tangannya, memberikan dukungan tanpa kata-kata. Dalam hati, aku berharap proses ini segera selesai dengan baik agar kami bisa pulang ke rumah bersama Fatimah yang sehat.

Namun, meski perawat itu berbicara dengan tenang, aku merasakan ada sesuatu yang aneh di ruangan ini. Seperti sebuah ketegangan yang tak terlihat. Entah itu hanya rasa cemas kami, atau ada sesuatu yang lebih, aku tak tahu. Yang jelas, perasaan itu membuatku merasa gelisah, meskipun aku berusaha mengabaikannya.

"Pak Putra, sudah waktunya Adik Fatimah istirahat dulu, izin saya bawa kembali ke ruangan bayi," ucap perawat dengan suara lembut.

Aku menatap Fatimah yang terbaring tenang di pelukan perawat, wajahnya masih terlihat sangat mungil dan manis. "Baik, Sus. Terima kasih," jawabku dengan suara pelan, mencoba menahan perasaan haru yang datang begitu saja.

Perawat itu tersenyum, menggendong bayi kami dengan hati-hati, dan melangkah perlahan keluar dari kamar. Aku memandangi mereka dengan penuh rasa terima kasih, merasa begitu bersyukur atas kelahiran Fatimah yang sehat.

Saat perawat itu membawa Fatimah pergi, aku merasa ada sesuatu yang aneh. Ruangan tiba-tiba terasa lebih sepi, meskipun banyak orang di luar. Ada sensasi seperti ada yang mengawasi, namun aku menepisnya, berusaha fokus pada kebahagiaan yang seharusnya mengisi hari ini.

"Le, awakmu kenopo? (Nak, kamu kenapa?)" tanya ibuku dengan tatapan penuh perhatian, wajahnya menunjukkan kekhawatiran kecil. "Sawangan e enten sing dipikir? (Sepertinya ada yang kamu pikirkan)."

Aku menggelengkan kepala, berusaha tersenyum meskipun ada perasaan yang mengganggu di dalam hatiku. "Mboten menopo (Tidak ada apa-apa), Bu," jawabku dengan suara pelan, berusaha meyakinkan ibu agar tak khawatir.

Ibuku tetap menatapku, lalu menghela napas pelan. "Yo wes Ibu pamit wangsul rumiyen, Le. (Ya sudah, Ibu pamit pulang dulu, Nak)," ucapnya dengan lembut, meskipun ada rasa berat yang terlihat di matanya.

"Abah lan Umi pamit wangsul pindah, titip Aisyah lan Fatimah, dijaga ya, Le. (Abah dan Umi pamit pulang juga, titip Aisyah dan Fatimah, dijaga ya, Nak)" ucap Abah dengan nada yang penuh harap, sedikit khawatir tetapi lebih kepada rasa sayang.

Aku mengangguk, menatap mereka dengan rasa terima kasih. "Assalamualaikum," ucap mereka serentak, wajah penuh harap saat meninggalkan ruangan.

"Walaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh," jawabku, kemudian mencium tangan mereka dengan penuh rasa hormat dan kasih. Aku melihat mereka keluar, namun entah mengapa, ada rasa kosong yang datang begitu saja, seakan ada sesuatu yang tertinggal di dalam ruangan ini.

Saat ibu dan mertua keluar dari ruangan, aku merasa ada sesuatu yang mengganggu. Seolah langkah mereka mengundang sesuatu yang tak terlihat, namun aku menepisnya dengan cepat. Hanya ada perasaan hampa yang melingkupi, meskipun aku tahu mereka hanya pergi untuk sementara waktu.

Tak lama kemudian, pintu ruangan terbuka, dan seorang dokter bersama seorang perawat masuk dengan senyum profesional. Suara langkah kaki mereka yang pelan tapi pasti membuat detak jantungku sedikit lebih cepat.

"Selamat siang, Pak dan Bu Putra," sapa dokter dengan ramah.

"Selamat siang, Dokter," sahutku, mencoba menenangkan perasaan. Istriku, yang duduk di ranjang dengan wajah lelah, tersenyum tipis dan mengangguk pelan.

"Izin saya memeriksa dulu kondisi Ibu Aisyah," ucap dokter sambil mengangkat clipboard di tangannya.

"Baik, Dokter," jawab istriku dengan nada lirih, meski senyumnya tetap terjaga.

Dokter mulai melakukan pemeriksaan, matanya penuh konsentrasi. Setelah selesai, ia menatap lembut ke arah istriku. "Ibu Aisyah, bagaimana perasaan Ibu sekarang? Apakah masih merasa lemas atau ada keluhan lain?" tanyanya.

"Alhamdulillah, saya masih diberikan kekuatan, Dokter," jawab istriku dengan suara pelan, namun penuh syukur.

Dokter mengangguk puas, lalu beralih pada perawat yang berdiri di sebelahnya. "Suster, bagaimana kondisi bayinya Ibu Aisyah?" tanyanya.

Perawat tersenyum hangat. "Keadaan bayi normal dan sehat, Dokter," sahutnya.

Kabar itu seperti angin segar yang langsung menghapus kekhawatiran di dada. Aku dan istriku saling pandang, seolah tak percaya dengan kabar baik itu.

"Bu Aisyah, untuk vitamin dan beberapa obat nanti saya resepkan untuk rawat jalan," lanjut dokter. "Dan Ibu serta bayi sudah boleh pulang besok."

Sekejap, keheningan berubah menjadi kebahagiaan. Air mata haru menggenang di sudut mataku. "Alhamdulillah," ucapku, hampir berbisik. Istriku menangkupkan kedua tangan di depan dada, penuh syukur.

Di dalam hati, aku berterima kasih kepada Tuhan atas nikmat besar ini. Semoga langkah berikutnya membawa kebahagiaan yang lebih besar bagi keluargaku.

Keesokan harinya, setelah segala administrasi selesai, kami akhirnya meninggalkan rumah sakit. Langkah kami terasa ringan, meskipun tubuh masih lelah. Istriku menggendong Fatimah dengan hati-hati, sementara aku membawa tas dan perlengkapan lainnya.

Setibanya di rumah, udara hangat menyambut kami. Aroma khas rumah memberikan rasa nyaman yang selama beberapa hari ini terasa jauh. Kamar untuk Fatimah sudah kami siapkan sebelumnya, dengan dinding berwarna pastel dan dekorasi sederhana. Tempat tidur kecilnya tertata rapi, lengkap dengan selimut lembut dan boneka mungil di sudutnya.

Istriku tersenyum lega saat menatap kamar itu. "Alhamdulillah, semuanya sudah siap untuk Fatimah," ucapnya lirih sambil menatap bayi kecil di gendongannya. Aku mengangguk sambil memandang mereka berdua, perasaan syukur memenuhi hatiku.

Setelah memastikan istriku dan Fatimah beristirahat dengan nyaman, aku segera menelepon ibu dan mertuaku. Kabar gembira ini harus segera sampai ke mereka.

"Assalamualaikum, Bu," sapaku saat ibuku mengangkat telepon.

"Waalaikumsalam. Bagaimana keadaan kalian? Sudah keluar dari rumah sakit?" tanya ibuku, suaranya terdengar penuh kekhawatiran.

"Alhamdulillah, Bu. Kami sudah sampai di rumah. Fatimah sehat, dan Aisyah juga sudah lebih baik," jawabku dengan nada penuh kebahagiaan.

"Syukurlah, Nak. Kami semua sudah berdoa untuk kalian. Tolong jaga mereka baik-baik," pesan ibuku dengan suara yang mulai terdengar lebih lega.

Aku lalu menghubungi mertuaku dan memberikan kabar yang sama. Mendengar rasa syukur dan haru dari mereka membuat kebahagiaanku semakin bertambah.

Hari itu menjadi awal baru bagi keluarga kecil kami. Dengan kehadiran Fatimah, rumah kami terasa lebih hidup. Doaku dalam hati adalah semoga kami diberi kekuatan untuk menjaga dan merawatnya sebaik mungkin.

Malam itu, setelah Fatimah tertidur lelap di ayunan kecilnya, aku duduk di ruang keluarga bersama Aisyah. Kami menikmati momen hening setelah hari yang melelahkan. Aku memandang wajah istriku yang terlihat lebih segar, meski ada sedikit kelelahan yang masih membayang.

"Sayang," panggilku pelan, memecah keheningan. "Bagaimana kalau minggu depan kita mengadakan aqiqah untuk Fatimah?" tanyaku dengan senyum kecil.

Aisyah menatapku dan tersenyum hangat. "Iya, Suamiku. Itu ide yang bagus. Kita harus segera menyiapkannya."

Namun, beberapa saat kemudian, aku menangkap sesuatu di wajahnya, seperti ada sesuatu yang ingin dia sampaikan.

"Sayang," Aisyah akhirnya bersuara, nadanya pelan namun tegas. "Aku perhatikan, sejak perjalanan ke rumah sakit, ada yang mengganggu pikiranmu, ya?"

Aku mengerutkan kening, sedikit terkejut dengan kepekaannya. "Kenapa kamu bilang begitu?" tanyaku, meski dalam hati aku tahu ia benar.

"Karena di rumah sakit kemarin, aku sering melihatmu melamun. Seperti ada yang kamu pikirkan, tapi kamu tidak mau berbagi," jawab Aisyah sambil menatapku dengan sorot penuh perhatian.

Aku menarik napas panjang, mencoba merangkai kata-kata. "Aku bingung harus mulai dari mana, Sayang," ujarku akhirnya. "Waktu itu, saat aku menyetir menuju rumah sakit... aku melihat sesuatu."

Aisyah memiringkan kepalanya, raut wajahnya berubah serius. "Sesuatu? Maksudmu apa, Sayang?"

"Bayangan," jawabku, suaraku nyaris berbisik. "Bayangan hitam yang melintas cepat di depan mobil. Rasanya aneh, dan... aku merasa ada sesuatu yang mengawasi kita sejak saat itu. Entah apa, tapi... rasanya tidak nyaman."

Aisyah terdiam, lalu menggenggam tanganku erat. "Sayangku, berserah diri kepada Allah. Semoga itu hanya perasaanmu saja, dan semoga kita semua, terutama Fatimah, selalu dalam lindungan-Nya," ucapnya lembut, meski aku dapat merasakan sedikit gemetar dalam suaranya.

Tiba-tiba, suara tangisan kecil memecah pembicaraan kami. "Oe... Oe... Oe..." Fatimah terbangun, suaranya memanggil perhatian kami.

"Sepertinya Fatimah lapar," ucapku, mencoba mencairkan suasana.

Aisyah segera bangkit dan menghampiri Fatimah. Dengan penuh kasih, ia menyusui bayi kecil kami. Pemandangan itu sedikit menghapus rasa gelisahku, meski bayangan hitam itu terus bermain di pikiranku. Aku tahu, ada sesuatu yang perlu kuhadapi, tapi untuk malam ini, aku memilih diam.

Fatimah kembali tidur terlelap.

"Sayang, nasehat dari Ibu jangan lupa dibawah bantalnya Fatimah selipkan gunting kecil agar tidak ada gangguan gaib." Ucap Putra.

"Itu hanya mitos, sayang" sahut Aisyah.

"Untuk jaga-jaga saja, biasanya orang-orang tua dahulu melakukan itu jaga-jaga" sahut Putra.

"Baiklah,Suamiku sayang" jawab Aisyah.

Tepat pada hari kedelapan setelah kelahiran Fatimah, kami mengadakan acara aqiqah untuk putri kecil kami. Pagi itu, rumah kami yang sederhana mulai dipenuhi kerabat dan teman-teman dekat. Meja-meja telah tertata rapi di halaman depan, dihiasi taplak sederhana berwarna putih dan bunga segar di tengahnya. Suara lantunan doa dan dzikir terdengar lembut, membawa suasana khidmat yang menenangkan hati.

Aku dan Aisyah berdiri menyambut para tamu. Aisyah mengenakan gamis putih sederhana, sementara aku memakai baju koko dengan sarung senada. Senyum tak henti-hentinya terlukis di wajah kami, meski rasa lelah diam-diam masih menyelimuti.

Fatimah, yang menjadi pusat perhatian hari itu, terlelap di dalam gendongan ibuku. Wajah mungilnya membuat banyak tamu memuji-muji keindahan ciptaan-Nya.

"Alhamdulillah, cucu Bapak dan Ibu cantik sekali. Semoga jadi anak yang sholehah dan berbakti," ucap salah satu tanteku sambil mengelus lembut kepala Fatimah.

"Terima kasih, Tante. Amin ya Allah," jawabku dengan senyum lebar.

Prosesi penyembelihan kambing telah selesai dilakukan pagi harinya, dan hidangan mulai diantarkan ke meja-meja. Aroma gulai kambing, sate, dan nasi kebuli memenuhi udara, menciptakan suasana akrab dan penuh kebahagiaan. Ucapan selamat dari para tamu terus berdatangan, dan doa-doa pun mengalir untuk kesehatan dan keberkahan Fatimah.

Namun, di tengah kemeriahan itu, aku tak bisa sepenuhnya mengabaikan sesuatu yang terasa ganjil. Ada beberapa kali aku merasa seperti diawasi. Entah mengapa, perasaan ini kembali hadir, seperti bayangan hitam yang melintas di perjalanan ke rumah sakit hari itu. Aku mencoba mengabaikannya, berpikir mungkin itu hanya sugesti.

Sementara itu, Aisyah tampak sibuk melayani tamu, senyumnya tak pernah pudar. Namun aku tahu, istriku bisa merasakan perubahan kecil dalam diriku. Sesekali ia menatapku dengan sorot mata bertanya, namun aku hanya mengangguk meyakinkan bahwa semuanya baik-baik saja.

Saat acara doa bersama dimulai, suasana kembali hening. Ustad yang memimpin doa melantunkan ayat-ayat suci dengan khusyuk, memohon keberkahan bagi Fatimah dan keluarga kami. Semua tamu mengamini dengan khidmat. Namun, di tengah lantunan doa itu, aku mendadak merasakan hawa dingin menyelusup ke tengkukku. Seperti ada sesuatu yang hadir di antara kami, namun tak terlihat.

Aku melirik Aisyah, dan ia balas menatapku dengan raut wajah yang seolah berkata, "Kamu merasakan itu juga?"

Aku menarik napas panjang, mencoba menguatkan hati. Bagaimanapun juga, ini adalah hari kebahagiaan untuk Fatimah. Aku tak ingin ada apapun yang mengusik momen ini.

Acara aqiqah berjalan dengan lancar, penuh rasa syukur dan kebahagiaan. Namun, di balik senyuman dan doa-doa yang dipanjatkan, ada perasaan ganjil yang tak bisa kuhapus sepenuhnya. Aku memilih untuk berserah diri kepada Allah, berharap aqiqah ini membawa keberkahan dan keselamatan untuk Fatimah serta keluargaku.

Keesokan harinya, hidup perlahan kembali seperti biasa. Aku membuka toko grosir di pagi hari, mengatur ulang barang dagangan yang baru saja diantar oleh para supplier. Bau kardus baru bercampur dengan aroma rempah-rempah dari sudut toko, membawa suasana akrab yang sudah lama kukenal.

Seperti biasa, pelanggan mulai berdatangan satu per satu. Beberapa di antara mereka tersenyum hangat dan menyampaikan ucapan selamat atas kelahiran Fatimah. Ucapan-ucapan itu membuatku merasa bahwa kebahagiaan kami juga dirasakan oleh orang-orang di sekitarku.

"Selamat, Pak Putra, atas kelahiran putrinya," ujar seorang pelanggan sambil menyerahkan uang untuk belanjaannya.

"Terima kasih banyak, Bu Mariam," jawabku sambil tersenyum.

Tak lama kemudian, Pak Erwin, salah satu supplier produk di tokoku, datang dengan sebuah bingkisan besar yang dihias pita berwarna merah muda. Wajahnya selalu penuh semangat, seperti biasa.

"Selamat pagi, Pak Putra! Selamat atas kelahiran putrinya, ya. Ini ada sedikit hadiah dari saya untuk Fatimah," ucapnya sambil menyodorkan bingkisan itu.

Aku tersenyum lebar, merasa terharu dengan perhatiannya. "Alhamdulillah, terima kasih banyak, Pak Erwin. Saya sangat menghargainya," jawabku sambil menerima bingkisan itu.

Pak Erwin mengangguk, lalu menepuk pundakku. "Semoga Fatimah tumbuh sehat, menjadi anak yang membanggakan, dan selalu dalam lindungan-Nya. Kalau butuh sesuatu, jangan sungkan-sungkan ya, Pak Putra."

"Amin. Terima kasih atas doa dan perhatiannya, Pak Erwin. Saya doakan rezeki Bapak juga semakin lancar," sahutku tulus.

Setelah Pak Erwin pergi, aku menatap bingkisan itu dengan rasa syukur. Kehadiran Fatimah benar-benar membawa kebahagiaan tak hanya untuk keluargaku, tetapi juga orang-orang di sekitarku. Namun, di sudut pikiranku, perasaan ganjil yang kurasakan sejak perjalanan ke rumah sakit tetap tersisa.

Malam itu, setelah toko tutup, aku pulang dengan membawa bingkisan dari Pak Erwin. Di rumah, Aisyah menyambutku dengan senyuman, sambil menggendong Fatimah yang tampak semakin tenang dan nyaman. Aku berharap, dengan doa-doa dan perhatian semua orang, kehidupan kami akan terus diberkahi.

"Sayangku, istirahatlah sejenak biar aku yang menggendong Fatimah" ucap Putra

"Wanginya anak Abi." Ucap Putra.

"Tentu dong, Fatimah kan sudah mandi" sahut istriku.

"Sayang, Bagaimana tadi keadaan di toko ?" ucap Aisyah

"Alhamdulillah ramai dan banyak yang memberikan selamat atas kelahiran Fatimah bahkan diberi bingkisan hadiah" jawab Putra.

"Alhamdulillah, semoga berkah" jawab Aisyah.

Tak terasa waktu berlalu dengan cepat,pundi-pundi keuntungan toko semakin meningkat maju, Fatimah saat ini pun sudah berusia 8 tahun, sudah duduk di bangku SD kelas kelas dua, banyak prestasi yang didapat oleh Fatimah, Aku dan Istriku sangat bangga dengan Fatimah.Siang hari toko aku tutup karena aku luangkan untuk menjemput Fatimah di sekolah.Aku menunggu diluar pagar Sekolah, Fatimah mengahmapiri dan membuka pintu mobil.

"Assalamualaikum, Abi" sapa Fatimah.

"Walaikumsalam, anak Abi yang cantik,sahut Putra.

"Bagaimana pelajaran hari ini, sayang ?" tanya Putra

"Alhamdulillah, insya allah Fatimah mampu menyerapnya." Jawab Aisyah.

Percakapan Ayah dan Anak sepanjang jalan menuju rumah penuh dengan keakraban.

Tak terasa waktu berlalu begitu cepat. Toko kami terus berkembang pesat, pundi-pundi keuntungan semakin meningkat. Di sisi lain, Fatimah kini sudah tumbuh menjadi gadis kecil yang cerdas dan ceria. Usianya genap 8 tahun, dan ia sekarang duduk di bangku kelas dua Sekolah Dasar. Prestasinya di sekolah membuat aku dan Aisyah semakin bangga.

Hari itu, seperti biasa, aku meluangkan waktu di siang hari untuk menjemput Fatimah di sekolah. Toko kututup lebih awal agar aku bisa menyambutnya langsung. Rasanya ada kebahagiaan tersendiri setiap kali melihat Fatimah pulang dengan wajah berseri-seri.

Aku memarkirkan mobil di depan sekolah, lalu menunggu di luar pagar. Anak-anak mulai berhamburan keluar, membawa tas mereka yang terlihat lebih besar dari tubuh kecil mereka. Tak lama, Fatimah muncul dari gerbang, melambaikan tangan ke arahku sambil tersenyum lebar.

"Assalamualaikum, Abi!" sapanya ceria, sambil membuka pintu mobil dan duduk di kursi belakang.

"Walaikumsalam, anak Abi yang cantik," jawabku sambil membalas senyumnya melalui kaca spion. "Bagaimana pelajaran hari ini, Sayang?"

"Alhamdulillah, Abi. Insya Allah Fatimah bisa menyerap semuanya dengan baik," jawabnya sambil membuka kotak bekalnya yang masih ada sisa roti.

Aku tersenyum mendengar jawabannya. Cara bicara Fatimah mengingatkanku pada Aisyah-tenang dan penuh percaya diri. "Wah, pintar sekali anak Abi. Abi bangga sama kamu," ucapku sambil meliriknya sebentar.

"Terima kasih, Abi. Doakan Fatimah terus semangat belajar, ya," katanya polos, membuat hatiku semakin hangat.

Sepanjang perjalanan menuju rumah, kami mengobrol ringan. Fatimah bercerita tentang teman-temannya, pelajaran di sekolah, dan rencana lomba menggambar yang akan diadakan minggu depan. Aku menikmati setiap kata yang keluar dari mulutnya, seperti suara yang membawa kedamaian setelah hari yang panjang.

Namun, di sela-sela obrolan kami, aku tak sengaja melirik ke kaca spion tengah. Ada bayangan gelap yang melintas cepat di sudut pandangku. Jantungku berdegup kencang, namun aku mencoba tetap tenang agar Fatimah tidak menyadari kegelisahanku.

"Abi, kenapa?" tanya Fatimah tiba-tiba, suaranya penuh rasa ingin tahu.

"Ah, tidak, Sayang. Abi cuma sedikit lelah," jawabku, mencoba mengalihkan perhatian.

Aku menggenggam kemudi lebih erat, menenangkan diriku sendiri. Meski kebahagiaan Fatimah selalu menjadi prioritas, perasaan ganjil yang sudah lama kurasakan kembali hadir, seperti bayangan yang tak pernah benar-benar hilang.

Kami pun tiba di rumah setelah perjalanan yang menyenangkan. Aisyah, istriku, menyambut kami di depan pintu dengan senyuman lembut yang selalu membuat hatiku tenang.

"Assalamualaikum, Umi," sapa Fatimah ceria sambil mencium tangan ibunya.

"Assalamualaikum, istriku sayang," ucapku sambil mengecup kening Aisyah.

"Walaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh, orang-orang tercinta yang selalu ada di hatiku," balas Aisyah dengan nada penuh kasih.

"Fatimah, cepat taruh tasmu dan ganti baju, ya. Umi sudah siapkan masakan kesukaanmu. Kita makan bersama," lanjut Aisyah sambil membelai lembut rambut Fatimah.

"Baik, Umi!" jawab Fatimah, melompat kecil menuju kamarnya.

Tak lama kemudian, kami berkumpul di ruang makan. Aroma masakan Aisyah memenuhi udara, rendang daging, sayur asem, dan sambal terasi khas favorit kami. Sambil menikmati hidangan, canda dan tawa memenuhi meja makan, menciptakan suasana yang begitu hangat.

Namun, di tengah kenikmatan itu, suara bel rumah tiba-tiba berbunyi, disusul dengan suara salam yang datang dari luar.

"Assalamualaikum," terdengar suara yang akrab di telinga kami.

Aisyah segera bangkit dari kursinya dan berjalan menuju pintu. Setelah membukanya, wajahnya langsung berseri-seri. "Waalaikumsalam, silakan masuk, Abah dan Umi," sahut Aisyah sambil mempersilakan kedua mertuaku masuk.

Fatimah, yang melihat kedatangan mereka, langsung berdiri dan berlari kecil menghampiri. "Fatimah, salam dulu ke Eyang Kung dan Eyang Uti," ucapku lembut.

"Assalamualaikum, Eyang Kung dan Eyang Uti," sapa Fatimah sambil mencium tangan keduanya dengan penuh hormat.

"Alhamdulillah, cucuku makin cantik dan pintar," ujar Abah sambil memeluk erat Fatimah, disusul Eyang Uti yang juga menciumi pipinya dengan penuh kasih.

Aku pun bangkit dari kursi, menghampiri mertuaku dengan penuh rasa hormat. "Assalamualaikum, Abah, Umi," sapaku sambil memeluk mereka.

"Waalaikumsalam, Putra. Bagaimana kabar keluarga kecilmu?" tanya Abah sambil tersenyum hangat.

"Alhamdulillah, sehat semua, Abah. Silakan duduk, makan siang bersama kami. Masih ada banyak makanan," jawabku sambil mempersilakan mereka ke meja makan.

"Terima kasih, Nak. Bau masakan Aisyah memang selalu menggoda," canda Abah, yang disambut tawa ringan dari Aisyah.

Kami pun duduk kembali, menikmati makanan sambil berbincang santai. Fatimah tampak bahagia dengan kehadiran kakek dan neneknya, terus bercerita tentang prestasinya di sekolah, sementara Abah dan Umi mendengarkannya dengan penuh perhatian. Namun, meski suasana terasa begitu sempurna, aku tak bisa sepenuhnya mengabaikan perasaan aneh yang terus menyelimutiku.

Seakan ada sesuatu yang mengintip dari sudut bayangan rumah, menunggu waktu untuk muncul.

Setelah makan siang bersama, kami duduk di ruang keluarga. Obrolan ringan dan canda tawa mengalir begitu saja, menciptakan suasana yang penuh kehangatan. Fatimah duduk di pangkuan Eyang Uti, tertawa kecil mendengar cerita-cerita lucu dari masa kecilku yang diceritakan oleh Abah.

"Abi kamu dulu itu suka sekali manjat pohon manga ketika sedang mondok, Fatimah," ujar Abah sambil tersenyum. "Tapi sering sekali jatuh karena lupa rantingnya nggak kuat!"

Fatimah tertawa terbahak-bahak. "Abi jatuh? Tapi nggak apa-apa kan, Bi?" tanyanya polos sambil menatapku dengan matanya yang berbinar.

Aku mengangguk sambil tertawa kecil. "Iya, Fatimah. Tapi Abi jadi belajar kalau nggak semua pohon bisa dipanjat seenaknya."

Aisyah menyela sambil tersenyum. "Makanya Abi sekarang nggak pernah mau diajak manjat-manjat lagi, ya."

"Tentu saja," jawabku sambil tertawa, "Abi lebih suka duduk manis sekarang."

Eyang Kung mengelus kepala Fatimah sambil berkata, "Kamu pintar sekali, Fatimah. Harus selalu dengar kata Umi dan Abi, ya. Supaya jadi anak yang membanggakan."

"Insya Allah, Eyang," jawab Fatimah penuh semangat.

Sementara mereka berbincang, aku mencuri pandang ke arah Aisyah. Ia terlihat begitu bahagia, senyumnya merekah seperti hari-hari awal pernikahan kami. Namun, di balik kebahagiaan ini, aku masih merasakan sesuatu yang sulit kujelaskan. Seperti ada yang mengintip dari celah waktu, sesuatu yang mengamati kami.

Aku mencoba mengalihkan pikiran itu, tetapi suara samar-samar seperti langkah kaki terdengar dari arah dapur. Aku menoleh sekilas, tetapi tidak ada apa-apa.

"Abi?" suara Fatimah memecah lamunanku.

"Ah, iya, Sayang. Ada apa?" tanyaku sambil berusaha tersenyum.

"Kok Abi melamun lagi?" tanyanya sambil menyipitkan mata, seolah mencoba membaca pikiranku.

"Enggak, Abi cuma ingat sesuatu," jawabku singkat, mencoba menenangkan perasaannya.

Obrolan pun berlanjut, dan tawa kembali memenuhi ruangan. Aku berharap, apa pun perasaan aneh yang kurasakan, itu hanya bagian dari pikiranku saja, tidak lebih dari itu.

Tak lama kemudian, mertuaku pamit untuk pulang. Kami mengantar mereka ke mobil. Sebelum memasuki mobil, Abah berhenti sejenak dan menatapku dengan penuh perhatian. Ada sesuatu dalam tatapannya yang terasa lebih dari sekadar perpisahan biasa.

"Nak," suara Abah terdengar penuh bijaksana, "Abah paham kerisauan yang ada di dalam pikiranmu. Perbanyaklah dzikir, jaga hati dan pikiranmu. Jagalah Aisyah dan terutama Fatimah. Jika suatu hari nanti takdir itu terjadi, percayalah itu semua sudah menjadi kodrat Allah. Bersabarlah, Nak, dalam menghadapi segala ketentuan-Nya."

Aku tertegun mendengar kata-kata Abah. Seakan-akan ada sesuatu yang Abah ingin katakan, tapi tak bisa diungkapkan secara langsung. Rasanya seperti sebuah peringatan, sebuah isyarat dari masa lalu yang mungkin akan datang kembali.

Sambil menundukkan kepala, aku mengucapkan dengan penuh rasa hormat, "Insya Allah, amanah Abah akan selalu aku ingat baik-baik." Suaraku terdengar lebih pelan dari biasanya, mencoba meyakinkan diriku sendiri.

Abah tersenyum tipis, dan dengan perlahan ia masuk ke dalam mobil. Umi juga melambaikan tangan, memberikan salam perpisahan yang hangat.

Mobil mereka pun perlahan melaju menjauh dari halaman rumah kami. Aku berdiri di depan pintu, menyaksikan mereka pergi, namun perasaan aneh yang masih menggelayuti hatiku tak bisa aku hilangkan begitu saja. Rasanya, ada sesuatu yang tak selesai, sebuah pertanyaan yang belum terjawab, seolah dunia ini menyimpan rahasia yang lebih besar dari yang aku sadari.

Jam empat sore, aku kembali membuka toko hingga pukul sembilan malam. Setelah itu, aku menutup toko dan mengendarai mobil menuju rumah. Di sepanjang perjalanan, pikiranku terus terbayang akan ucapan Abah yang begitu mendalam. Aku berusaha menenangkan diri dengan berdzikir, tetapi entah kenapa, semakin lama perasaan cemas ini semakin menguat.

Tiba-tiba, bayangan hitam itu melintas lagi, dengan cepat dan gelap, di depan mobil. Tanpa sempat menghindar, aku mengerem mendadak, hampir menghantam penghalang jalan.

"Astaghfirullahaladzim," ucapku terbata-bata, jantungku berdegup kencang. Aku terkejut, dan sejenak merasa seperti ada yang mengawasi dari balik kegelapan.

Perasaan tidak nyaman itu semakin memuncak. Aku menatap jalanan yang kini tampak semakin gelap. "Ya Allah, tanda-tanda apa ini yang ingin Kau berikan kepada hamba-Mu ini?" bisikku dalam hati, berharap Allah memberikan petunjuk atau perlindungan.

Dengan perasaan penuh cemas, aku segera menginjak pedal gas, mengemudikan mobilku dengan cepat, berharap bisa sampai rumah secepat mungkin. Namun, bayangan itu terus menghantui pikiranku. Aku tak bisa menghilangkan rasa takut yang tiba-tiba melanda. Sepertinya, ada sesuatu yang tak terlihat, yang terus mengintai, menunggu waktu yang tepat untuk muncul.

Bab 3

Bergegas aku masuk kedalam rumah dengan rasa kekhawatiran yang tinggi hingga lupa mengucapkan salam dan aku bergegas berlari kecil menuju kamar Fatimah, Istriku Aisyah tampak heran dengan apa yang terjadi denganku dan ikut menyusulku ke kamar Fatimah.Aku membuka perlahan pintu kamar Fatimah.

Aku berdiri mematung di depan pintu kamar Fatimah yang kini terbuka lebar. Wajahnya terlihat damai, tertidur pulas di bawah selimut birunya. Dadaku sedikit lega melihatnya, namun kegelisahan di hatiku masih belum sepenuhnya hilang.

"Alhamdulillah..." ucapku lagi, berusaha meyakinkan diriku sendiri.

"Ada apa, Abi?" tanya Aisyah lagi, suaranya terdengar cemas, memecah keheningan. Dia berdiri di belakangku, menatapku dengan wajah penuh tanda tanya.

Aku menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan diri. "Dalam perjalanan pulang tadi... bayangan hitam itu muncul lagi, Aisyah," kataku dengan nada pelan, namun jelas. "Begitu nyata. Melintas tepat di depan mobil. Aku sampai mendadak rem dan tertegun."

Mata Aisyah melebar, wajahnya langsung pucat. "Bayangan itu lagi?" bisiknya. "Astaghfirullah... Abi, apa ini...?"

Aku mengangguk perlahan. "Aku tidak tahu, Aisyah. Tapi kali ini berbeda. Bayangannya lebih jelas. Bukan hanya sekadar siluet... Aku bisa merasakan sesuatu. Energi yang begitu dingin, begitu gelap. Seperti dia benar-benar ingin menunjukkan keberadaannya."

Aisyah terdiam, matanya perlahan beralih ke Fatimah yang masih tertidur. Dia melangkah masuk ke kamar dan memeriksa anak kami dengan cermat, memastikan semuanya baik-baik saja. "Fatimah baik-baik saja, kan?" tanyanya, suaranya bergetar.

Aku mengangguk, tapi firasat burukku masih menghantui. "Dia terlihat baik-baik saja," gumamku, meskipun aku sendiri tidak yakin. Rasanya ada sesuatu yang salah, sesuatu yang tak kasat mata, tapi jelas terasa.

"Kita harus melakukan sesuatu, Abi," kata Aisyah akhirnya. "Ini sudah yang kesekian kalinya. Jangan-jangan... ada yang mengirim sesuatu pada kita?"

Aku menatap Aisyah, kengerian mulai menjalar dalam pikiranku. Kemungkinan itu memang pernah terlintas sebelumnya, tapi aku mencoba mengabaikannya, berharap semua hanya halusinasi belaka. Namun, bayangan yang terus muncul dan firasat buruk yang tak kunjung hilang mulai menyiratkan hal yang lebih serius.

"Aku akan menemui Pak Ustad besok pagi," kataku tegas. "Kita perlu tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi."

Aisyah mengangguk, meski raut wajahnya masih dipenuhi ketakutan. "Kita juga harus banyak berdoa, Abi. Apa pun ini, semoga Allah melindungi kita dan anak-anak."

Angin malam berhembus pelan melalui jendela kamar Fatimah yang sedikit terbuka, membawa suara gemerisik yang terdengar seperti bisikan. Aku melangkah ke arah jendela, menutupnya perlahan. Namun, entah mengapa, sebelum tirai tertutup sempurna, aku merasa ada sesuatu di luar. Bayangan hitam itu, samar-samar, seperti mengintai dari kejauhan.

"Abi, segeralah mandi dan berwudhu. Setelah shalat, perbanyak berdzikir, meminta petunjuk dan pertolongan kepada Allah," ucap Aisyah lembut, meski aku tahu nada suaranya menyimpan kekhawatiran yang mendalam. Ia mencoba menguatkanku, meredakan kecemasan yang jelas terpancar dari wajahku.

"Iya, Aisyah," jawabku pelan sambil menatapnya. Aku tahu dia benar. Hanya dengan mendekatkan diri kepada Allah, aku bisa mendapatkan ketenangan dan mungkin, jawaban atas apa yang terjadi belakangan ini.

Aku meninggalkan kamar Fatimah, melangkah menuju kamar mandi dengan pikiran yang masih dipenuhi oleh bayangan hitam tadi. Suara air yang mengalir saat aku mencuci muka terasa menenangkan, meski hanya sedikit. Aku berdiri di depan cermin, memandangi wajahku yang lelah. Rasanya seperti ada sesuatu yang berat membebani pikiranku, sesuatu yang tidak bisa kujelaskan.

Selesai mandi dan berwudhu, aku menuju ruang shalat di rumah. Suasana rumah begitu sepi, hanya terdengar deru angin malam yang sesekali menggoyangkan dedaunan di luar. Aku berdiri menghadap kiblat, mengangkat kedua tangan, memulai takbir dengan suara lirih.

"Allahu Akbar..."

Selama shalat, pikiranku masih mencoba fokus. Tapi entah kenapa, bayangan hitam itu terus saja muncul di benakku. Sosoknya berdiri diam, tak bergerak, namun keberadaannya terasa begitu nyata. Semakin aku mencoba mengabaikannya, semakin jelas gambaran itu membayangi pikiranku, seperti bayangan yang tak mau pergi, terus menempel.

Aku menghela napas panjang di tengah rakaat, mencoba mengembalikan konsentrasi. "Allahu Akbar," bisikku, melanjutkan gerakan shalat. Namun, tepat saat aku sujud, perasaan itu kembali, seperti ada sesuatu yang berat menggantung di sekelilingku. Seakan-akan ruangan menjadi lebih gelap, lebih dingin. Bulu kudukku meremang, dan jantungku mulai berdetak lebih cepat.

Ketika aku duduk di antara dua sujud, bayangan itu tiba-tiba muncul dalam pikiranku lagi, kali ini lebih jelas. Wajahnya tidak terlihat, tetapi tubuhnya yang diselimuti hitam itu seperti bergerak mendekat, perlahan, semakin dekat. Mataku masih terpejam, tapi aku bisa "merasakan" kehadirannya, seperti berada tepat di belakangku.

Aku berusaha keras melawan rasa takut. "Laa ilaaha illallah..." bisikku pelan, mencoba menguatkan diri. Namun, udara di ruangan terasa semakin menekan. Rasanya seperti ada sesuatu yang menatapku, mengawasi setiap gerakanku, meski aku tahu ruangan ini seharusnya kosong.

Saat salam terakhir, aku membuka mata dengan hati-hati, mencoba menenangkan detak jantungku yang berdegup kencang. Ruangan masih sama seperti sebelumnya hanya lampu temaram yang menerangi. Tapi aku tahu ada sesuatu yang berbeda.Suasana terasa berat, seperti aku tidak sendirian.

Aku melanjutkan berdzikir, mencoba mengusir perasaan itu. Namun, di sela-sela dzikirku, aku mendengar sesuatu suara samar yang hampir tidak terdengar, seperti bisikan. Aku menoleh perlahan ke arah sumber suara, tapi tidak ada siapa pun di sana.

Keheningan yang aneh menyelimuti ruangan. Aku menghela napas panjang, lalu memejamkan mata kembali, mencoba mengabaikan semuanya. Namun, jauh di lubuk hatiku, aku tahu malam ini tidak akan berlalu begitu saja. Ada sesuatu yang tidak kasat mata sedang mencoba mendekat, dan aku hanya bisa berharap perlindungan Allah menyelamatkanku dari apa pun itu.

Shalat dan berdzikir telah kuselesaikan. Aku duduk bersila sejenak, mencoba mengatur napas dan menenangkan pikiran. Suasana malam terasa sunyi, hanya suara angin yang berhembus pelan dari luar jendela. Namun, di tengah keheningan itu, tiba-tiba terdengar suara dentuman keras. Suara itu menggema, seperti sesuatu yang berat jatuh menimpa genteng rumahku.

"Duuggghhh!"

Aku tersentak, tubuhku refleks berdiri. Dentuman itu begitu keras hingga aku merasa lantai di bawah kakiku sedikit bergetar. Jantungku kembali berdegup kencang, lebih kencang dari sebelumnya. Apa itu? pikirku.

Aisyah berlari keluar dari kamar Fatimah dengan wajah panik. "Abi! Apa tadi? Suara apa itu?" tanyanya dengan nada gemetar.

Aku hanya bisa menggeleng, masih mencoba memahami apa yang baru saja terjadi. "Aku tidak tahu, Aisyah. Suaranya... sepertinya dari atas.Dari genteng."

Aku berjalan ke arah pintu depan, membuka perlahan, berharap menemukan penjelasan. Namun, saat kulangkahkan kaki keluar, suasana terasa lebih mencekam. Langit malam tampak gelap pekat, tanpa bintang, dan udara terasa lebih dingin dari biasanya. Aku memandang ke atas, ke arah genteng, tapi tidak ada yang terlihat aneh, tidak ada tanda-tanda apapun yang jatuh.

Namun, di tengah keheningan malam itu, aku mendengar sesuatu.Sebuah suara samar, seperti erangan atau napas berat, berasal dari atap.

"Abi... jangan keluar terlalu jauh," panggil Aisyah dari balik pintu, suaranya cemas.

Aku menoleh padanya dan mengangguk pelan, lalu melangkah mundur, kembali masuk ke dalam rumah. Tapi sebelum aku menutup pintu, pandanganku menangkap sesuatu di ujung mata,sebuah bayangan. Aku tidak yakin apa itu, tapi rasanya seperti sosok hitam besar sedang bergerak cepat di antara pepohonan di luar pagar rumah.

"Aisyah, tutup semua pintu dan jendela," perintahku, berusaha tetap tenang meski dadaku bergemuruh.

Dia segera mengangguk, bergegas mengunci setiap pintu dan memastikan semua jendela tertutup rapat. Aku sendiri berdiri di ruang tamu, menatap ke luar melalui tirai yang sedikit tersibak. Di luar sana, hanya kegelapan. Tapi aku tahu sesuatu sedang mengintai.

"Abi, apa yang sebenarnya terjadi? Apa mungkin ini... berkaitan dengan bayangan yang Abi lihat tadi?" tanya Aisyah, suaranya penuh ketakutan.

Aku menatapnya sejenak, lalu menarik napas panjang. "Aku tidak tahu, Aisyah. Tapi aku yakin... ini bukan sesuatu yang biasa."

Malam itu terasa begitu panjang. Suara dentuman tadi menjadi awal dari suasana mencekam yang seakan menyelimuti rumah kami. Aku hanya bisa berharap, apa pun yang sedang terjadi, kami mampu melewatinya dengan perlindungan Allah.

Beberapa menit setelah suara dentuman keras itu, tiba-tiba terdengar jeritan yang memecah kesunyian malam. Fatimah berteriak kencang. Aku dan Aisyah langsung tersentak. Tanpa berpikir panjang, kami berdua berlari menuju kamar Fatimah.

Setibanya di kamar, aku mendapati Fatimah duduk di sudut tempat tidurnya, tubuhnya gemetar, wajahnya basah oleh air mata. Aku segera memeluknya erat, mencoba menenangkannya.

"Fatimah, Abi di sini. Jangan takut. Ada Abi dan Ummi," ucapku lembut sambil membelai rambutnya. Namun, aku bisa merasakan tubuh kecilnya masih gemetar hebat.

Aisyah duduk di sebelah kami, menggenggam tangan Fatimah dengan penuh kasih. "Fatimah, ceritakan ke Abi dan Ummi. Ada apa, Nak?" tanya Aisyah dengan suara penuh perhatian.

Fatimah menatapku dengan mata yang masih dipenuhi ketakutan. Suaranya bergetar saat dia mulai bicara. "Abi... Fatimah takut..." isaknya pelan. "Tadi Fatimah bermimpi..."

Aku mengusap punggungnya perlahan, mencoba memberinya keberanian. "Mimpi apa, Nak? Ceritakan ke Abi."

Fatimah menarik napas panjang, berusaha mengendalikan diri. "Fatimah mimpi... ada sosok bayangan hitam, besar, Abi. Dia muncul di kamar ini. Dia... dia menarik Fatimah. Tangannya dingin sekali, kasar. Dia bilang mau membawa Fatimah ke suatu tempat..."

Mendengar itu, tubuhku meremang. Tapi aku tetap berusaha terlihat tenang di depan Fatimah. "Ke mana, Nak?" tanyaku hati-hati.

"Ke tempat yang gelap, Abi... Gelap, dingin, dan suram. Fatimah tidak tahu di mana, tapi tempat itu membuat Fatimah takut sekali. Fatimah mencoba lari, tapi tidak bisa. Bayangan itu terus memegang Fatimah..." Fatimah kembali menangis, suaranya penuh kepanikan.

Aisyah memeluk Fatimah erat, matanya mulai basah. "Astaghfirullah, Nak... Itu hanya mimpi. Fatimah sekarang aman, ya? Ada Abi dan Ummi di sini," bisik Aisyah, mencoba menghibur anak kami.

Namun, di dalam hati, aku tahu ini lebih dari sekadar mimpi buruk. Dentuman keras tadi, bayangan yang aku lihat di perjalanan, dan kini mimpi Fatimah, semuanya terasa seperti bagian dari sesuatu yang lebih besar, lebih menyeramkan.

Aku menatap Aisyah, yang balas memandangku dengan ketakutan yang sama. Seolah tanpa perlu bicara, kami berdua memahami bahwa ini bukan kebetulan.

"Fatimah, dengarkan Abi," kataku akhirnya, mencoba menenangkan diriku sendiri. "Abi akan berdoa dan menjaga Fatimah. Tidak ada yang bisa menyakiti kita selama kita bersama dan berdoa kepada Allah. Sekarang, Fatimah istirahat lagi, ya? Abi akan di sini menemani."

Fatimah mengangguk perlahan, meskipun matanya masih menyiratkan ketakutan yang mendalam.

Malam itu, aku dan Aisyah duduk di dekat tempat tidur Fatimah, memanjatkan doa dalam hati, memohon perlindungan Allah. Namun, di balik doa-doa kami, aku tidak bisa menghilangkan perasaan bahwa sesuatu atau seseorang sedang mengincar keluarga kami.

Kamipun memutuskan untuk tidur di kamar Fatimah malam itu. Aku dan Aisyah khawatir sesuatu yang tidak diinginkan akan terjadi jika kami meninggalkan Fatimah sendirian.

Fatimah akhirnya tertidur di tengah-tengah kami, meski masih sesekali menggenggam erat tanganku. Aku bisa merasakan detak jantungnya yang perlahan mulai tenang, tetapi aku dan Aisyah masih tetap waspada. Kami berbaring tanpa benar-benar tidur, pikiran kami dipenuhi oleh kegelisahan.

Lampu kamar sengaja tidak dimatikan sepenuhnya, hanya diredupkan. Aku duduk bersandar di dinding, mataku terus memandangi Fatimah yang terlelap, sementara Aisyah terlihat mencoba membaca doa dalam hati, bibirnya bergerak pelan.

Jam di dinding menunjukkan pukul dua lewat sepuluh menit ketika aku mendengar suara samar. "Tap... tap..." seperti langkah kaki ringan yang terdengar dari luar kamar. Aku menoleh ke arah pintu, telingaku fokus mendengarkan. Suara itu berhenti sesaat, tetapi kemudian terdengar lagi, lebih jelas. Kali ini, langkah itu seperti mendekat ke arah kamar kami.

Aku menahan napas. Aisyah yang juga mendengar suara itu, menggenggam tanganku erat. "Abi... kamu dengar?" bisiknya dengan suara kecil.

Aku mengangguk pelan, menenangkan Aisyah meski jantungku sendiri berdetak keras. Suara langkah itu semakin dekat, seolah berhenti tepat di depan pintu kamar Fatimah.

Hening.

Aku menatap pintu kamar yang tertutup rapat. Perlahan aku berdiri, berusaha tidak membuat suara, lalu berjalan ke arah pintu. Aisyah memegang lenganku. "Jangan, Abi...," bisiknya, suaranya gemetar.

Aku menoleh padanya, memberikan isyarat untuk tetap tenang. Aku mendekati pintu perlahan, mencoba mendengar lebih jelas. Tidak ada suara lagi hanya keheningan yang semakin mencekam. Tapi aku bisa merasakan sesuatu di balik pintu itu. Entah apa, tapi keberadaannya begitu nyata.

Dengan hati-hati, aku membuka pintu sedikit, hanya cukup untuk mengintip. Namun, yang kulihat hanyalah lorong gelap yang kosong. Tidak ada apa-apa.

Aku menghela napas lega, tetapi ketika aku hendak menutup pintu kembali, sesuatu membuatku menoleh ke ujung lorong. Dalam redupnya cahaya lampu, aku bisa melihat sesuatu berdiri di sana. Sosok hitam besar, tidak bergerak, hanya berdiri diam seperti sedang menatap ke arahku.

Bulu kudukku meremang. Aku menutup pintu dengan cepat, mengunci rapat, lalu bersandar di pintu dengan napas memburu.

"Ada apa, Abi?" tanya Aisyah dengan cemas.

"Tidak ada. Semua baik-baik saja," jawabku, meski suara bergetar. Aku tidak ingin membuat Aisyah atau Fatimah semakin ketakutan.

Namun, jauh di dalam hati, aku tahu sosok itu masih ada. Dan aku tahu ini baru permulaan dari sesuatu yang lebih menyeramkan.

Fatimah akhirnya tertidur pulas, disusul oleh Aisyah yang mulai terlelap. Namun, aku tetap terjaga, memaksakan diriku untuk berdzikir dalam hati. Perlahan, gangguan dari bayangan hitam itu mulai memudar, seperti ditelan oleh kegelapan malam. Ketika keheningan mulai menguasai, tubuhku pun menyerah, dan aku akhirnya tertidur.

Adzan Subuh berkumandang, membangunkanku dari tidur yang terasa singkat. Aku segera bangkit, lalu mengguncang lembut bahu Aisyah dan Fatimah. "Ayo bangun, kita sholat Subuh berjamaah," ucapku pelan.

Fatimah mengusap matanya yang masih berat, kemudian menatapku dengan pandangan setengah sadar. "Abi, bayangan itu... apakah sudah pergi?" tanyanya lirih, suaranya penuh keraguan dan sedikit takut.

Aku tersenyum tipis, berusaha menenangkannya. "Sudah, Sayang. Bayangan itu sudah pergi. Sekarang, ayo kita berwudhu dan sholat Subuh bersama. Kalau Fatimah rajin berdoa, hati Fatimah akan lebih tenang, dan tidak ada yang perlu ditakuti lagi," jawabku lembut sambil mengusap kepalanya.

Aku melangkah ke kamar mandi untuk berwudhu. Saat pintu terbuka, aroma busuk yang menyengat menyerang indra penciumanku. Aku tertegun, mencoba memahami dari mana bau itu berasal. Dengan ragu, aku mendekati bak mandi. Betapa terkejutnya aku saat melihat air yang biasanya bening kini berubah menjadi hitam pekat, berbau busuk seperti bangkai.

Penasaran, aku memutar keran air. Bukannya air bersih, cairan hitam pekat yang sama keluar, menetes dengan suara berat seolah membawa sesuatu yang jahat bersamanya. Dadaku berdesir. Ada sesuatu yang tidak wajar di sini.

"Aisyah," panggilku sambil setengah berteriak. "Air di kamar mandi berubah hitam dan berbau."

Istriku, Aisyah, datang tergopoh-gopoh. Raut wajahnya yang semula penuh kantuk kini berubah menjadi ekspresi heran bercampur cemas. "Bagaimana bisa terjadi seperti itu, Abi?" tanyanya, suaranya bergetar.

"Kita nggak punya pilihan lain," jawabku sambil menenangkan diri. "Sementara kita tayamum dulu saja."

Meski hatiku diliputi kegelisahan, aku mencoba tetap tenang. Kami bertiga, aku, Aisyah, dan anak kami, Fatimah bersiap untuk shalat subuh berjamaah. Namun, perasaan tidak nyaman terus mengintai. Ada hawa dingin yang merayap di udara, seperti bayangan tak kasat mata yang sedang mengawasi dari balik gelapnya sudut rumah.

Saat aku mengangkat tangan untuk takbir, pikiran tentang air hitam itu terus menghantui. Apa yang sebenarnya sedang terjadi di rumah ini?

Setelah sholat subuh selesai, perasaan penasaran mengalahkan rasa takutku. Aku kembali ke kamar mandi untuk memeriksa kondisi air. Bau busuk masih samar terasa di hidungku, namun aku bertekad untuk segera membuang air hitam pekat di bak mandi. Dengan hati-hati, aku membuka saluran pembuangan, membiarkan cairan hitam itu mengalir pergi. Butuh waktu beberapa menit hingga bak itu benar-benar kosong.

Aku memutar keran perlahan, bersiap dengan kemungkinan terburuk. Namun, betapa leganya hatiku saat melihat air bening mengalir deras, tanpa bau busuk seperti sebelumnya. "Alhamdulillah, airnya sudah kembali bening dan tidak berbau!" seruku dengan suara lega, setengah berteriak agar Aisyah dan Fatimah mendengar.

Dari ruang tengah, Aisyah dan Fatimah membalas seruanku dengan ucapan syukur. "Alhamdulillah!" ujar mereka hampir bersamaan.

Meski lega, ada sesuatu yang mengusik pikiranku. Air hitam yang begitu pekat dan bau busuk yang tiba-tiba muncul, lalu hilang begitu saja, terasa terlalu aneh. "Sungguh, ini di luar nalar," gumamku pelan, mencoba mengabaikan kekhawatiran yang tersisa di hatiku.

Tanpa membuang waktu, kami segera mandi dan bersiap untuk memulai aktivitas pagi seperti biasa. Fatimah tampak ceria, seperti tak terpengaruh oleh kejadian aneh tadi. Setelah sarapan, aku dan Aisyah mengantarkannya ke sekolah.

Namun, di tengah perjalanan, aku tidak bisa menghilangkan pikiran tentang air hitam itu. Apakah itu hanya kebetulan, ataukah ada sesuatu yang mencoba menyampaikan tanda? Sesuatu yang tidak kasat mata, tetapi keberadaannya terasa nyata...

Pagi itu, langit tampak cerah, sinar matahari lembut menyapa melalui celah dedaunan di sepanjang jalan menuju sekolah.Udara segar pagi hari sedikit menghapus rasa lelah yang masih menggantung di tubuhku.Di dalam mobil, aku terus mencoba menenangkan Fatimah yang tampaknya masih memikirkan kejadian semalam.

"Sayang, jangan khawatir dan jangan takut lagi, ya, terhadap bayangan itu," ucapku lembut sambil meliriknya yang duduk diam di kursi samping kiriku. "Abi selalu melindungi Fatimah, dan jangan lupa, Allah juga ikut menjaga Fatimah. Tidak ada yang perlu ditakutkan."

Fatimah mengangguk perlahan, matanya yang polos menatapku sejenak. "Iya, Abi," jawabnya dengan suara khasnya yang lembut, membuat hatiku terasa lebih ringan.

Meski aku tersenyum untuk menenangkannya, bayangan kejadian semalam masih berputar di pikiranku. Tapi aku tahu, yang terpenting saat ini adalah memastikan Fatimah merasa aman dan siap menghadapi harinya di sekolah.

Fatimah tersenyum, lalu mencium tanganku sebelum keluar dari mobil sambil mengucapkan salam.

"Assalamualaikum, Abi," ucapnya lembut.

"Walaikumsalam. Semangat ya belajarnya, Sayang," jawabku sambil tersenyum hangat.

Setelah itu, aku segera melanjutkan perjalanan menuju toko untuk memulai rutinitas sehari-hari. Tepat pukul delapan pagi, aku membuka pintu toko. Hiruk-pikuk pelanggan langsung memenuhi ruanganku. Produk yang kujual cukup diminati, mungkin karena harganya yang relatif murah dibandingkan dengan tempat lain.

Situasi di sekolah awalnya berjalan normal. Fatimah dengan tenang memperhatikan papan tulis, menyimak penjelasan dari Ibu Guru. Namun, tiba-tiba, pandangannya tertuju pada pojok ruangan dekat pintu kelas. Di sana, muncul sosok bayangan hitam yang berdiri diam, seperti mengawasi.

Fatimah terperanjat. Jantungnya berdegup kencang. Dengan cepat, ia memejamkan mata, berharap bayangan itu menghilang. Namun, rasa takut yang mencekam membuat tubuhnya membeku di tempat.

"Fatimah... Fatimah," panggil suara Ibu Guru, mencoba membangunkan Fatimah dari lamunannya. Namun, Fatimah tidak mendengar. Suara Ibu Guru terasa seperti gema yang samar dan jauh. Rasanya pendengarannya seperti terputus dari dunia nyata.

Ibu Guru mendekati meja Fatimah, lalu menepuk pundaknya perlahan.

"Fatimah... Fatimah," panggilnya sekali lagi.

Fatimah tersentak. Matanya terbuka lebar, tubuhnya gemetar hebat.

"Ada apa, Nak? Ada sesuatu yang mengganggumu?" tanya Ibu Guru dengan nada lembut namun penuh kekhawatiran.

"T-tidak ada, mohon maaf, Bu Guru," jawab Fatimah dengan suara bergetar. Namun, wajahnya pucat, dan tatapannya kosong.

Dalam hati, Fatimah berkata dengan penuh ketakutan, "Ya Allah, bayangan itu muncul lagi. Aku takut... Ya Allah, lindungi Fatimah."

Sejak saat itu, Fatimah merasa tidak tenang. Selama jam pelajaran, pikirannya terus melayang, dipenuhi rasa cemas. Ia sulit fokus, dan setiap suara kecil di kelas membuatnya melompat kecil karena takut. Sosok bayangan itu terus menghantui pikirannya, membuatnya merasa tidak aman, bahkan di siang hari.

Siang itu, seperti biasa, aku menutup toko sejenak untuk menjemput Fatimah di sekolahnya. Setibanya di sekolah, Fatimah membuka pintu mobil perlahan, wajahnya terlihat sedikit lemas.

"Assalamualaikum, Abi," ucapnya dengan nada yang lebih pelan dari biasanya, sambil mencium tanganku.

"Walaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh, Sayang," jawabku lembut, berusaha menceriakan suasana.

Sambil melajukan mobil, aku mencoba berbincang dengannya.

"Bagaimana hari ini, Nak?" tanyaku.

Fatimah terdiam sejenak, wajahnya termenung. Aku bisa melihat dari sorot matanya bahwa ada sesuatu yang mengganggunya.

"Nak, ada apa?" tanyaku lagi, mencoba memahami apa yang dirasakannya.

Fatimah akhirnya menjawab dengan suara pelan, "Iya, Abi... Maaf."

"Kamu kenapa, Nak?" tanyaku lebih serius, kini benar-benar khawatir.

Fatimah menarik napas dalam, lalu berkata dengan suara bergetar, "Abi, tadi di kelas... sosok itu muncul lagi. Fatimah takut."

Hatiku sejenak menjadi meratap. "Allahu Akbar... Ya Allah," gumamku terkejut. Aku segera meminggirkan mobil di tepi jalan, menarik napas panjang untuk menenangkan diri. Dengan lembut, aku merengkuh Fatimah ke dalam pelukanku.

"Abi di sini, Sayang. Jangan takut, ya. Abi nggak akan biarkan apapun menyakitimu," ucapku sambil mengusap punggungnya perlahan, mencoba menenangkannya.

Fatimah mengangguk pelan di pelukanku, meski tubuhnya masih gemetar. Aku tahu ketakutannya nyata, dan aku harus melakukan sesuatu untuk melindunginya.

Setelah Fatimah mulai tenang, aku tersenyum padanya dan mencoba mengalihkan suasana.

"Abi ada ide. Sekarang kita jemput Umi dulu, lalu kita jalan-jalan dan makan di luar. Gimana?" usulku dengan nada ceria.

Fatimah tersenyum kecil, lalu matanya berbinar, "Iya, Abi... Asyik!"

Aku tersenyum lega, meski di dalam hati ada rasa yang berat. Sepanjang perjalanan, pikiranku terus berputar. Kenapa sosok itu terus muncul dan mengganggu anakku? Apa yang sebenarnya terjadi?

Namun, aku memilih untuk menyimpan pertanyaan-pertanyaan itu sementara. Saat ini, yang terpenting adalah memastikan Fatimah merasa aman dan nyaman.

Setibanya di rumah, kami langsung bersiap-siap.Fatimah buru-buru masuk ke kamarnya untuk mengganti baju, sementara Umi terlihat sibuk merias diri di depan cermin.Aku, di sisi lain, menelepon salah satu pegawaiku untuk mengabarkan bahwa kegiatan di toko akan diliburkan sore ini.

"Sore ini aku tutup dulu tokonya. Ada urusan keluarga," ucapku singkat kepada pegawaiku. Setelah memastikan semuanya terkendali, aku memutuskan panggilan dan duduk sejenak, memikirkan apa yang baru saja terjadi di mobil tadi.

Tak lama kemudian, Fatimah keluar dari kamarnya dengan pakaian yang rapi.Senyum kecil mulai terlihat di wajahnya, meski aku tahu betul senyum itu hanya untuk menutupi ketakutannya. Aku membalas senyumannya dengan hangat.

"Siap, Sayang? Kita pergi sekarang," kataku, berusaha membuat suasana lebih ceria.

Setelah semuanya siap, kami berangkat menuju Surabaya.Tujuanku sederhana, membawa Fatimah berjalan-jalan di mal, makan bersama, dan membelikannya apa pun yang ia mau.Aku hanya ingin ia melupakan kejadian menyeramkan di sekolahnya, meski untuk sementara.

Di dalam perjalanan, aku sengaja tidak membicarakan kejadian itu kepada istriku. Bukan karena aku tidak mempercayainya, tetapi karena aku ingin memastikan Fatimah lebih tenang terlebih dahulu sebelum membahas hal ini.Aku ingin melindungi keduanya, Fatimah dari rasa takutnya, dan istriku dari kekhawatiran yang mungkin berlebihan.

Sesampainya di mal, Fatimah mulai terlihat lebih ceria. Ia memegang tanganku erat sambil menunjuk berbagai hal yang menarik perhatiannya.Senyumnya yang polos kembali terlihat, meski aku tahu bayang-bayang ketakutan itu belum sepenuhnya pergi dari pikirannya.

Aku dan istriku bergantian mengajaknya berbincang, bercanda, dan memilihkan mainan yang ia sukai. Kami makan malam bersama, dan aku berusaha memastikan suasana tetap ringan dan menyenangkan.Namun, jauh di dalam pikiranku, pertanyaan itu terus berputar "Mengapa hal ini terjadi pada Fatimah? Apa yang sebenarnya mengintai keluargaku?"

Tak terasa waktu berlalu begitu cepat. Jam di dashboard mobil menunjukkan pukul tujuh malam. Setelah puas bersenang-senang, kami memutuskan untuk kembali pulang. Fatimah terlihat sangat bahagia sepanjang hari, tapi kelelahan mulai tampak di wajahnya.

Di perjalanan, kami menghabiskan waktu dengan bercerita dan tertawa bersama. Namun, tak lama kemudian, Fatimah tertidur di kursi belakang. Wajahnya yang polos terlihat begitu damai, membuatku lega melihatnya sedikit melupakan ketakutannya hari ini.

Aku mengemudikan mobil dengan santai, menikmati kebersamaan yang hangat ini. Meskipun pikiranku sesekali melayang ke pertanyaan-pertanyaan yang belum terjawab, aku tetap bersyukur untuk momen ini, melihat senyuman Fatimah sebelum ia tertidur.

Beberapa jam kemudian, kami tiba di rumah. Lampu luar rumah menyala redup, menciptakan suasana tenang. Aku mematikan mesin mobil, lalu berbalik ke arah Fatimah.

"Fatimah, Fatimah, kita sudah sampai di rumah," ucapku lembut, sambil menepuk pundaknya perlahan.

Fatimah membuka matanya perlahan, wajahnya masih mengantuk. "Hmmm... iya, Abi," jawabnya dengan suara kecil. Kami turun dari mobil bersama, lalu masuk ke dalam rumah.

Setelah masuk, aku berkata kepadanya, "Fatimah, bersihkan diri dulu, ganti baju, gosok gigi, dan jangan lupa berwudhu. Kita shalat Isya berjamaah, ya."

Fatimah mengangguk pelan dan langsung menuju kamarnya. Tak lama, kami berkumpul di ruang keluarga untuk menunaikan shalat Isya. Suara bacaan shalat memenuhi ruangan, memberikan ketenangan yang sulit diungkapkan dengan kata-kata.

Selesai shalat, aku memanjatkan doa dalam hati, memohon perlindungan Allah untuk keluargaku, terutama untuk Fatimah. Setelah itu, kami bersiap untuk tidur. Fatimah tampak lelah, namun sedikit lebih tenang dari sebelumnya.

Aku memandang wajahnya sebelum ia masuk ke kamarnya. Dalam hati, aku bertekad untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Aku harus melindungi Fatimah, apa pun yang terjadi.

Selang beberapa jam kemudian, Fatimah mengigau dalam tidurnya. Kegelapan pekat menyelimuti kamarnya, dan angin malam yang dingin menyusup melalui celah-celah jendela. Bayangan hitam itu kembali muncul, berdiri di sudut kamar dengan tubuh melayang tanpa bentuk yang jelas.

"Cah Ayu, mrene melu aku," bisiknya, lembut namun dalam, seperti suara yang datang dari kedalaman bumi.

Fatimah membuka matanya perlahan, mencari sumber suara dengan tubuh bergetar. "S-siapa kamu?" tanyanya dengan nada gemetar.

Bayangan itu tidak menjawab, hanya mengulangi panggilannya. "Cah Ayu, mrene."

Fatimah Kembali bertanya dengan tubuh dan mulut yang bergetar. "S-siapa kamu?" tanyanya dengan nada gemetar.

Bayangan dengan tertawa tipis "Sami mbah...hihihi" sahut bayangan tersebut dengan lirih

Fatimah merasakan bulu kuduknya meremang. Napasnya terengah-engah, dan udara di sekitarnya terasa semakin dingin, menusuk sampai ke tulang. Ketakutan merayap dalam hatinya.

"Abi... Umi..." teriak Fatimah dengan suara serak.

Namun, suara itu seperti lenyap ditelan kesunyian.

"Cah Ayu, melu aku," panggilan itu terdengar lagi, kali ini lebih mendesak.

Fatimah segera melafalkan dzikir dalam hati, kedua tangannya memeluk dirinya sendiri sambil menggigil hebat. "Ya Allah... lindungi aku..." bisiknya.

Fatimah menginggau dengan menyebut sebuah nama yang asing.Tiba-tiba, ia terbangun dengan napas tersengal dan tubuh bersimbah keringat dingin. "Ya Allah, takut!" serunya, matanya basah oleh air mata.

Ia bangkit dari tempat tidurnya, mengumpulkan keberanian untuk melangkah ke kamar Abi dan Umi. Suara pintu yang berderit memecah keheningan, membuat Fatimah semakin waspada.

"Abi... Umi..." panggilnya dengan suara bergetar.

Aku dan istriku terbangun, menatap Fatimah yang berdiri di pintu dengan wajah pucat.

"Ada apa, Nak?" tanya Umi dengan nada penuh kekhawatiran.

"Fatimah takut, Umi," jawabnya, tubuhnya gemetar hebat.

Aku segera meraih Fatimah, memeluk tubuh kecilnya yang terasa dingin. "Nak, sini tidur di samping Abi dan Umi."

Fatimah langsung merapat di antara kami. Aku dan Umi memeluknya erat, mencoba menghangatkannya. Namun, rasa dingin di tubuh Fatimah terasa tidak wajar, seperti hawa dingin dari dunia lain.

Rasa penasaran menyelimutiku. Aku keluar dari kamarku, langkahku pelan namun terasa berat, seolah ada sesuatu yang menahanku.Tujuanku jelas menuju kamar Fatimah.Setibanya di sana, aku berdiri di depan pintu kamar yang setengah terbuka.Udara di dalam terasa pengap meskipun lampu kamar menyala terang.Perlahan aku melangkah masuk, mataku menjelajahi setiap sudut ruangan.Tidak ada yang terlihat aneh, tapi ada perasaan tidak nyaman yang terus menggelayut di hatiku.

Aku membuka lemari pakaian, hanya deretan baju-baju yang tergantung rapi di dalamnya. Aku berjongkok, mencoba melihat ke bawah tempat tidur, tapi hasilnya tetap sama kosong.Namun, bulu kudukku tiba-tiba meremang. Ada sesuatu.

Dingin.

Sangat dingin.

Angin aneh berembus, menusuk hingga tulang, meskipun AC tidak menyala.Tubuhku mendadak tegang.Perlahan, aku memutar kepala ke arah pintu kamar.

Di sana, di ambang pintu, bayangan hitam itu berdiri.

Matanya merah menyala seperti bara api, menatapku tajam.

Aku tidak bisa bergerak.Tubuhku kaku seperti terpaku ke lantai.Mulutku mencoba berteriak, tapi tidak ada suara yang keluar.Hanya desakan zikir dalam hati yang bisa kulakukan "La ilaha illallah... La ilaha illallah..."

Bayangan itu diam, hanya menatap, seolah menunggu sesuatu.Waktu seperti berhenti. Aku menutup mata sambil terus berdzikir.

Ketika aku membuka mata, bayangan itu telah menghilang.Namun tubuhku terasa lemas, nafasku tersengal-sengal, dan jantungku berdegup kencang.Rasanya seperti energiku terserap habis olehnya.

Tanpa pikir panjang, aku berlari keluar dari kamar Fatimah dan kembali ke kamarku.Pintu kamar langsung kututup rapat.

"Alhamdulillah, mereka baik-baik saja," gumamku lirih, meski rasa khawatir masih menguasai pikiranku.

Aku bergegas mengambil wudhu. Dengan tangan gemetar, aku berdoa dan membaca Surat Al-Ikhlas, An-Nas, dan Al-Falaq, masing-masing tiga kali, memohon perlindungan dari Allah.

Malam itu, tidurku tidak nyenyak. Di setiap bayang mimpi, aku masih bisa melihat mata merah itu mengawasiku dari kegelapan.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED