“Itu dulu,” balas Niko, tidak ada ekspresi yang menjelaskan raut bersalah di sana.
“Sekarang gue, pacarnya.” Ana menyahut, membuat Niko menoleh, namun cowok itu ikut mengangguk, seolah membenarkan ucapan Ana.
Tentu, tentu itu membuat Leta semakin panas, emosinya semakin meletup.
“Jelasin semuanya ke gue! Bilang kalo ini cuma akal-akalan kalian, kan?” Leta menatap kedua remaja itu, rasa sesak semakin menyeruak ke dalam dadanya.
Leta berharap ini semua hanya candaan belaka. Atau bisa saja hanya sebuah prank, bukan?
Tidak ada sahutan, tetapi Ana tampak mengedikkan bahu seakan tidak tahu, lalu Niko hanya diam enggan menatap Leta ataupun menjawab pertanyaan gadis itu.
Leta akhirnya mengembuskan napas kasar, kenyataan itu semua masih tidak bisa dia percaya dengan mudahnya. Terlebih lagi, Niko tidak mau menjelaskan apapun mengenai alasan mengapa semuanya menjadi seperti ini.
Mengapa semua kenyataan tidak terduga itu harus Leta terima, tanpa alasan yang bahkan belum dia ketahui dari Niko, pacarnya?
“Gue rasa, tanpa perlu gue jelasin, lo udah tau status lo sekarang apa?” Niko melontarkan jawaban setelah beberapa saat diam, Ana pun ikut tersenyum miring, tetapi Niko tidak menyadarinya.
Leta yang semula menatap bawah dengan lamunannya, spontan mendongak, memastikan telinganya tidak salah dengar. “Status gue? Pacar lo, kan?”
“Bodoh,” hardik Niko, berdecak pelan.
“Mantan, Let. Secara kan, dia udah jadi pacar gue, artinya lo udah jadi mantan dia, dong,” sahut Ana, membuat Leta mengepalkan tangannya dan menggeram kesal.
“Lo jangan ikut campur! Ini semua pasti ulah lo, kan? Jangan munafik lo!” sentak Leta, Ana pura-pura tidak mendengar, mengalihkan pandangannya ke arah lain.
“Gue minta kita cuma sampe di sini, mulai sekarang lo bukan siapa-siapa gue lagi. Atau perlu, lupain semua masa lalu gue sama lo, anggep aja kita nggak pernah kenal.”
“Apa? L–lo mutusin gue? Cuma demi cewek busuk kayak dia?” Leta menggeleng pelan, tertawa hambar dengan rasa sesak yang menghantam relung dadanya. Leta sekuat mungkin tidak ingin mengeluarkan air mata di depan cowok itu.
“Lo berengsek, Nik! Lo cowok paling jahat yang gue temuin selama hidup! Gue benci sama lo ....” Suara Leta melirih di akhir kalimat. Dia berbalik, melangkah cepat dengan perasaan yang hancur.
Air mata itu meluruh, membasahi kedua pipi Leta bersamaan dengan rasa sakit yang menghantam relung hatinya. Isak tangis terdengar menyakitkan, sesak memenuhi rongga dadanya.
Beruntung toilet itu sepi, membuat Leta bisa mengeluarkan semua air matanya tanpa henti.
Orang mungkin akan menganggapnya cengeng, namun dia sama sekali tidak peduli. Perasaannya saat ini telah hancur, Leta tidak bisa berbohong jika dia kecewa dengan Niko. Dia amat sangat membenci cowok itu mulai detik ini.
Namun, Leta juga tidak bisa berbohong jika dirinya masih cinta dengan cowok itu, hampir setahun bersama, Leta sudah menganggap Niko segalanya, dia tidak akan bisa melupakan semua kebersamaannya dengan mudah.
“G–gue ... salah apa, sih, sama lo, Nik?” lirih Leta di sela-sela isakannya.
Leta mengaku, dia masih terkejut dan tidak menyangka dengan keputusan Niko. Terlampau cepat, mendadak, dan tentu tanpa sepengetahuan dirinya.
Entah sejak kapan terakhir kali Leta melihat senyuman hangat dari Niko, beberapa hari belakangan ini Leta hanya mendapat sikap cuek dari cowok itu.
“Kenapa, sih? Kenapa harus lo?” tanya Leta, menggeleng pelan, kepalanya menunduk membiarkan sisa bulir air matanya terus menetes.
Rasa sayangnya terhadap Niko bukan hanya sebatas omong kosong, Leta memang tidak pernah main-main dengan perasaan. Namun, mengapa dia yang serius mencintai Niko, tetapi dia pula yang harus dipermainkan? Kenapa bukan gadis lain saja?
Seolah, selama ini Niko tidak benar-benar mencintai Leta, seakan hubungan yang mereka jalani sejauh ini hanya sebuah permainan tanpa juara, hanya untuk bersenang-senang, dan jika sudah merasa bosan, dengan seenak hati Niko akan membuangnya.
Sejahat itu, jika Niko memang demikian nyatanya. Niko tidak membalas perasaan Leta, meski Leta mencintai Niko dengan setulus hatinya.
Leta menyadari, mungkin Niko bukan jodohnya, tetapi mengapa harus Leta yang merasakan kekecewaan?
“Gue nyesel cinta sama lo, Nik. Gue emang bodoh bisa sayang sama cowok gila kayak lo. Bener-bener bodoh.” Leta tersenyum miris, membuang napas panjang lalu mengusap sisa air mata di pipinya dengan kasar.
“Bisa-bisanya lo nangisin cowok brengsek kayak dia. Bodoh lo, Let.”
Leta tertawa hambar, berdiri dan membuka pintu kamar mandi lalu menuju wastafel. Menatap pantulan dirinya di dalam cermin, Leta berdecak malas, wajahnya begitu sembab akibat menangisi cowok yang bahkan tidak punya perasaan bersalah sedikit pun terhadapnya.
“Sialan, muka gue jelek gara-gara nangisin lo,” decak Leta kesal. Dia menyalakan air kran, kemudian membasuh wajahnya dengan kasar.
“Dasar gila, dia emang cowok gila dan nggak punya hati nurani,” hardik Leta pelan. Bermaksud mengatai Niko meski cowok itu tidak ada di sana.
Selesai membasuh muka, Leta mengambil tisu lalu mengusap wajahnya dan kembali menatap cermin, tampak lebih segar meski sedikit sembab. Sesaat tersenyum, sebelum menghela napas panjang dan mengembuskannya perlahan.
“Gue tau ini sulit, tapi gue nggak mau mereka liat gue lemah. Gimana pun itu, gue harus tetep baik-baik aja,” gumam Leta, disusul dengan sebuah senyum paksa di wajahnya. Leta lalu berbalik, membuka pintu toilet dan berjalan keluar menuju kelasnya.
***
Gadis bernama Nisa itu membulatkan matanya terkejut saat mendengar ucapan Leta yang mengatakan jika dia baru saja putus dari Niko. Syok, Nisa sampai-sampai menutup mulut sembari menggelengkan kepala. Jelas, dia cukup tidak percaya dengan pernyataan Leta.
“Demi apa, sih? Ini gue bener-bener nggak nyangka, Let!”
Leta memutar bola matanya melihat reaksi Nisa. “Biasa aja sih, Nis. Lo kayak nggak tau gue aja.”
“Ya bukan gitu, maksud gue, tuh, ini harusnya jadi hubungan terakhir lo selama di SMA, Let. Jelas lo udah mau setahun pacaran sama Niko, ini rekor, loh. Astaga!” balas Nisa heboh.
Untung saja saat ini masih jam kosong, jika tidak Leta tidak akan tahu bagaimana reaksi teman sekelasnya yang lain. Suara Nisa yang tergolong keras dan cukup ngegas, tidak jarang memang sering membuat Leta malu bukan main. Apalagi, gadis satu bangkunya itu termasuk salah satu jajaran para siswi tukang gosip.
“Apaan, sih? Lo jangan sampe nyebar berita yang nggak-nggak lagi, ya, Nis. Awas aja lo!” ancam Leta sebelum Nisa mengatakan fakta yang tidak benar tentang dirinya dan Niko ke semua orang.
Nisa berdecak kesal menanggapinya. “Suudzon mulu lo. Gue, kan, cuma syok aja, Let. Nggak mungkinlah, gue nyebar berita yang nggak baik ini. Tapi kalo tanpa gue sebarin udah pada tau, yah, itu berarti bukan salah gue.”
“Makanya jangan ember, di sini semua orang juga tau kalo lo tukang gosip,” balas Leta santai. Membuat Nisa mendengkus keras dan langsung membuka buku paketnya dengan kasar. Meski begitu, sedetik saja dia kembali kepo.
“Eh, tapi by the way, gimana ceritanya lo bisa putus? Perasaan, gue nggak pernah liat lo berantem sama dia. Ya, kan?” tanya Nisa setelahnya, buku paket yang dia buka menjadi terlantarkan dalam sekejap.
Leta yang sedari tadi sibuk membolak-balik halaman buku paket seketika menghentikan tangannya. Sejenak terdiam, sebelum akhirnya membuang napas panjang.
Pertanyaan yang Nisa lontarkan sama seperti apa yang ada di benaknya saat ini. Menjadi tanda tanya, mengenai sebab Niko mengakhiri hubungannya.
“Gue emang nggak pernah berantem sama dia, tapi gue rasa akhir-akhir ini sikapnya cuek ke gue. Nggak tau kenapa, gue rasa semua ini karena orang ketiga.”