Bab 2

Hati masih memuncak, jiwa yang kalang kabut membuat Darel seperti melayang ke neraka, memikirkan kekasihnya yang telah berkhianat.

"Sungguh wanita yang sangat biadab, bisa-bisanya dia berani menipuku selama ini, cuman gara-gara mengejar sebuah harta?" geramnya, menjadi titik penghabisan dimana semua peralatan kamarnya hancur, akibat diluluh lantakkan oleh tangannya sendiri.

"Argghhh, dia pikir wanita sehebat apa, hah? Hingga berani mempermainkanku?" sambung Darel lagi frustasi.

"Kita lihat saja, sebentar lagi Alesia pasti akan datang menemuiku, sampai bersimpuh di bawah kaki ini, dengan asa yang penuh penyesalan dan cinta yang menyeruak."

Sumpah serapah terus bergulir dari lidahnya, bagai sang penyihir yang sudah pasti akan terjadi.

Teringat akan sesuatu, tangan kekar yang dominan langsung meraba saku celana, untuk melihat berlian laknat, hasil usahanya.

"Cincin tidak berguna, menyesal aku pernah membelinya, dengan dalih ingin melamar perempuan matre seperti wanita jahara itu," hardik Darel menatap hina barang tersebut, lalu melemparnya keras hingga terpelanting jauh dan tak sengaja mengenai alas seseorang.

"Waw cincin yang bagus, sayang."

Tak perlu di sangkal lagi, tubuh menggoda yang kini sedang berjalan ke arah Darel, adalah milik sang ibu tiri-Raisya.

"Pergi! Sebelum saya berbuat kasar sama anda."

Belum sempat Raisya berada di titik akhir, Darel sudah muak dan langsung mengusirnya.

Namun, dengan menghentikan lajunya, perempuan tadi malah tersenyum smirk, menampilkan sisi egoisnya.

"Kamu kenapa mencak-mencak begitu, baby? Oh, aku tahu, pasti ini semua karena kekasih burukmu itu. Iya, 'kan?" godanya menerka, hingga membuat Darel mendelik dan bungkam seketika. Darimana ibu tirinya itu bisa tahu?

"Dari awal aku sudah pernah bilang'kan, kalau Alesia itu gak pernah tulus sama kamu, karena yang tulus di dunia hanya aku. Ya, hanya aku seorang, RAISYA NURWILA," sambung Raisya, melihat kebisuannya Darel, dia seperti di beri cela.

"Sekali lagi saya tegaskan, agar anda segera pergi dari sini!" usir Darel kembali, dengan rahang mengetat.

"Sabar dulu dong, sayang. Aku ke sini sengaja ingin menghiburmu dari luka yang diberikan oleh Alesia," sanggah Raisya, langkahnya malah semakin berani dan berdiri di hadapan Darel.

"Saya tidak butuh anda dengan semua masalah yang menghampiri." Darel menolak, seraya menampilkan wajah sangar dan mata berapi-api.

"Aku hanya-"

"Pergi!" potongnya sekali sentakkan.

Kepedihan yang seketika dijatuhi air mata, langsung menyergap kelemahan Raisya. Bagaimana tidak? Darel selama ini adalah pria yang sangat diidamkan.

"Kenapa kamu selalu menolakku, hah? Kurang aku apa? Harusnya kamu mikir aku adalah wanita terbaik di dunia ini yang selalu cinta sama kamu, di zaman kita masih SMA dulu."

"Bahkan aku rela menikah dengan si tua bangka, agar kita bisa tinggal bersama. Tapi kenapa kamu tidak pernah melirikku?"

Raisya membentak, seraya melerai wajah Darel yang kini melihatnya dengan tatapan benci. Bodoh! Itulah yang bisa lelaki itu ucapkan dalam hati.

"Itu keinginan anda sendiri, saya tidak pernah menyuruhnya. Lagian berungkali mulut ini berucap, kalau saya tidak akan pernah mungkin mencintai anda," respon Darel acuh.

Raisya semakin menghelas, mendengar jawaban Darel barusan. Tidak adakah rasa iba di hati anak tirinya itu?

"Aku tahu, bagimu hidupku ini hanya diibaratkan sebuah debu yang tak ada artinya. Maka untuk itu aku mohon, sentuhlah aku! Dengan begitu semua penantianku terbayar sudah."

Sontak itu membuat Darel semakin naik darah. "Penawaran itu lagi? Apa anda lupa, kalau anda telah menjadi istri dari papah saya, jadi raga ini tidak mungkin menyentuh sesuatu yang sudah menjadi miliknya,"

"Kenapa? Apa kamu takut tubuhku bekas si tua bangka itu? Kamu tenang saja, sentuhan dia selalu aku tolak, karena aku sengaja ingin menjaganya untuk dirimu , pria yang sangat aku cintai," tantang Raisya, kali ini tangannya malah semakin maju, meraba leher Darel.

"Dimana letak pikiranmu itu, aku ..."

"Sungguh sebelumnya aku tidak pernah menemukan wanita serendah dirimu." Saking gregetnya, Darel sampai kehabisan kata-kata untuk melawan hawa penggoda itu.

"Kamu gak usah pusing-pusing memikirkan hidupku, sayang. Cukup nikmati aku dan semuanya akan indah."

Raisya berdesis, menahan sesuatu di dalam tubuhnya, pasca jari mungil itu berhasil memegang dada Darel.

"Hentikan ibu tiri munafik! Atau aku akan mengadu semua kelakuan bejatmu pada ayahku," sentak Darel, menepis kasar sesuatu yang sangat membuatnya meradang.

Raisya tersentak, tapi tak membuatnya enyah untuk menggencarkan niatnya. "Silahkan, dia tidak akan percaya. Karena dia hanya mendengar ucapanku, meski bibirku ini memfitnamu sekalipun."

"Sayang aku pulang."

Bagai penyelamat, suara sang pemilik kekayaan, tiba-tiba terdengar dari lantai bawah.

"Sial! Kenapa si tua bangka itu, selalu datang disaat suasana lagi bergairah seperti ini?" gerutu Raisya kesal, pandangannya tak lepas dari Darel.

"Kamu tunggu saja, baby! Aku pasti akan datang lagi sampai kamu mau menerima penawaranku," ucapnya kemudian sambil mencubit hidung Darel terlebih dahulu, lalu pergi begitu saja.

"Benar-benar tidak tahu malu, aku bakalan gila kalau terus tinggal di rumah ini," sungut Darel pasca suasana sedikit mencair.

Hati semakin kacau, belum selesai masalahnya dengan Alesia, kini harus dilanda keresahan akan sikap ibu tirinya.

"Segera siapkan rumah kecil dan gerobak untuk saya!" Darel menyuruh seseorang di balik telepon.

"Untuk apa tuan?"

"Jangan banyak membantah, kamu turuti saja semua perintahku," tanggapnya marah, karena asistennya yang malah bertele-tele.

"Ba-baik tuan." Klik, sepihak dia mematikan sambungannya kembali.

"Lebih baik aku pergi dari sini dan menjalani hidup sederhana, daripada harus diganggu terus oleh Raisya.

Apalagi aku yakin, dengan pura-pura menjadi orang tidak mampu, aku pasti akan mendapatkan seorang wanita yang mencintaiku dengan tulus," batin Darel, seraya bangkit dari duduknya berdiri.

***

Malam harinya.

Semilir angin, yang menggerakkan rambut seorang perempuan, menjadi

teman pahitnya saat ini, yang sedang meringkuk di atas rooftop.

Ya, dia adalah Dania. Akibat mencyduk perbuatan kekasih bejatnya itu, kini dia hanya menangis sesenggukan sambil mengingat kembali luka yang diberikan Romeo.

Flasback on

"Aku sungguh tidak menyangka, kamu tega melakukan ini di belakangku." Dania berucap lirih, pasca Romeo dengan terburu menghampirinya hanya menggunakan celana.

"Gue terpaksa melakukan ini, karena salah loh sendiri yang gak mau gue jamah selama hubungan," respon Romeo tanpa merasa bersalah.

Dania tersentak, menggeleng parau sambil menyeka air matanya. "Apa aku salah ingin menjaga kehormatanku sampai kita menikah?"

"Menikah loh bilang? Kapan kita bakalan menikah? Ayah loh aja gak setuju sama gue," dengus Romeo remeh, seakan meludahi niat baik Dania.

"Terus kamu gak bisa, buat bersabar sedikit?" telak Dania, dengan hati yang semakin berdenyut.

"Di zaman sekarang gak ada yang namanya menunggu, gue cuman mau wanita yang bisa gue pakai setiap waktu, karena itu yang membuat gue senang dan loh gak bisa memberikan kebahagian itu."

Plak!

Dania tiba-tiba menampar Romeo, karena saking merasa geram, tidak pernah menyangka kalau pria dihadapannya mempunyai sisi terkutuk.

"Pria kurang ajar! Menyesal aku telah menerima cintamu selama ini," raungnya yang langsung disuguhi amukan oleh Romeo.

"Waw lo berani nampar gue, ya? Dasar cewek manja, sekarang juga lo pergi dari sini!"

Tanpa rasa iba, Romeo malah langsung mengusir Dania, dengan dorongan kasar pada tubuhnya.

"Baik, mulai sekarang kita putus dan jangan pernah berharap untuk kembali lagi," respon Dania pasrah, sambil menampik tangan Romeo yang terus menyuruhnya agar menjauh.

"Ge'er banget, buruan loh pergi!" tanggap Romeo acuh.

Kehancuran melanda, kisah yang mulanya bahagia, sekarang hanya bisa dijadikan kenangan hidup, yang sulit untuk dilupakan.

Flashback off

"Arghhhhhh, Romeo kamu adalah pria terjahat di dunia," jerit Dania histeris, beralaskan sendunya langit yang sangat pekat.

"Kyaaa dapat! Akhirnya kita bisa menemukan non."

Deg!

Tanpa sepengetahuan Dania, dua bodiguard rumah tiba-tiba mencekram kedua tangannya, di setiap sisi.

"Lepasin tanganku!" bentak Dania langsung berontak.

"Gak, karena kami harus membawa non pulang, sesuai perintah tuan."

"Ini masih jam delapan, terlalu siang buat aku balik ke rumah."

"Gak bisa, pokoknya non harus pulang dengan kami sekarang," balas sang bodiguard kukuh.

Namun, Dania yang berotak cerdik tidak kehabisan akal, kakinya yang cukup kuat seketika menendang keduanya, hingga dia bisa kabur dari mereka.

"Non tunggu!" teriak kedua bodiguard sambil mengejar anak tuannya.

"Aku harus segera lepas dari mereka," ucap Dania ricuh, seraya terus berlari.

Bugh!

Dania terjungkal, saking terburu-buru dia sampai tidak sengaja menabrak tukang baso, saat di persimpangan jalan.

"Aww, kalau jalan pakai mata dong!" ringisnya sambil memegang bokong, yang terasa sakit.

"Maaf jalan itu pakai kaki, bukan mata," respon si tukang baso datar, yang membuat Dania sontak melebarkan matanya.

"Dasar pria sombong, udah hanya tukang baso, angkuhnya gak ketulungan lagi. Awas aja kalau di rumah nanti, aku pasti bakalan langsung mandi tujuh kembang, karena barusan tubuhku sudah bersentuhan denganmu," cibir Dania tak beraturan, dengan sifat songongnya yang selalu mendominasi.

"Kamu sendiri yang telah menabrak saya." Si tukang baso gak mau kalah.

"Kalau kamu gak melintas di depanku, mana mungkin aku bakal nabrak kamu," timpal Dania malah menyalahkan orang lain.

"Akhirnya ketangkap lagi, non sekarang gak akan bisa lepas dari kami."

Shit! Dania benar-banar ingin meledak, karena kedua bodiguardnya tadi berhasil menangkap dia kembali.

"Aaaaa hidupku benar-benar sial!" raungnya bergerak kesana-kemari ingin dilepaskan.

"Ini semua gara-gara kamu tukang baso, awas aja kalau sampai ketemu lagi, wajah jelekmu itu akan habis ditanganku, tentunya dengan memakai hand sanitizer terlebih dahulu," ancamnya sebelum dia berlalu, dibawa hilang oleh permukaan.

"Cewek aneh," desis si tukang baso, sambil melihat kepergian Dania.

"Em, bukan'kah perempuan itu adalah kekasih dari selingkuhannya Alesia?" ucapnya kemudian teringat sesuatu.

Ya, dia adalah Darel. Dengan menyamar sebagai tukang baso, pasti tidak ada yang menyangka, kalau dia sebenarnya adalah orang kaya.

"Kenapa juga sampai bertemu kembali?" dalihnya lagi, menggeleng parau sambil melanjutkan langkahnya yang sempat tertunda.

Bab 3

Hari semakin hari terus dilalui Darel untuk menjalani hidupnya yang baru, yaitu menyamar sebagai tukang baso.

Tekadnya yang gigih dan wajahnya yang terlihat sangat bersemangat, membuat dia benar-benar menyalami perannya sebagai orang tak punya, meski arap kali anak gadis di sekitarnya merasa tidak percaya, kalau dia benar-benar hanya seorang penjual kecil.

"Bang beneran hanya seorang tukang baso?" tanya kebanyakan pembeli cantik yang masih muda.

Darel mengangguk antusias sebagai jawaban. " Iya."

"Masa sih, cowok ganteng kinclong bening kayak abang hanya jualan bakso, apa jangan-jangan abang adalah malaikat yang sedang menyamar lagi?"

"Bukan," jawab Darel simple sambil geleng-geleng kepala. Pening.

"Bang jangan pakai saus, kecap, bumbu, mie, plastik semuanya pokoknya," sergah salah satu penjual lainnya yang bikin Darel jadi melongo.

"Lalu maunya pakai apa?" tanya dia berkerut.

"Pakai cinta abang aja. Hahaha. Tapi itu pun kalau abang orang kaya sih, kalau cuman jualan kayak gini doangmah, bukan tipe aku."

Sumpah kagak nanya, ingin rasanya Darel bilang itu sama pembelinya yang sok kecentilan. Tapi sikapnya yang kalem membuat dia tidak mungkin mengatakan itu.

"Oh."

"Bang ganteng doang, eh kagak ganteng banget ... tapi sayangnya hanya tukang bakso." Ada lagi cewek yang suka nyinggung dia, akan pekerjaan halal yang selalu dianggap remeh oleh semua orang.

" ... "

Fiks, itu semua membuat Darel semakin yakin, jika perempuan yang tidak matre itu emang sulit untuk ditemukan.

"Kenapa semua wanita seakan merendahkan hasil jerih seorang laki-laki, yang dianggapnya tidak bernilai banyak uang? Padahal itu adalah pekerjaan baik," pikirnya gerah, sambil menghapus peluhnya yang terus keluar.

"Maaf tuan." Di saat lagi enak bersantai, Darel

tidak sengaja di kagetkan oleh anak buahnya yang entah kapan sudah berdiri di depan."Ada apa kamu ke sini?" tanya Darel sinis, merasa terganggu.

"Saya hanya ingin melapor."

"Melapor apa? Awas aja kalau tidak penting saya tidak ingin melihatmu lagi," dengus Darel kecut.

"Ini sangat penting tuan, perihal tuan besar," jawab anak buahnya sedikit ragu.

Menarik, membuat Darel jadi ingin mengetahuinya. "Ada apa dengan ayah?"

"Kemarin beliau menanyakan perihal tempat tinggal anda tuan."

Sungguh? Darel merasa tidak percaya kalau ayahnya seakan masih peduli akan kehidupan dia.

"Lalu?"

"Saya bilang, kalau kediaman anda saat ini tidak ingin di ketahui oleh siapapun."

Senyum simpul seketika terbit menghiasi wajahnya, mendapati sikap anak buah yang sangat tepat. "Bagus biarkan saja dia mencari saya sampai ke ujung dunia."

"Baik, tuan."

"Terus apa lagi yang ingin kamu sampaikan?" Pria bermata coklat itu, masih ingin mendengar kabar baik dari suruhannya.

"Tidak ada tuan."

"Ya sudah sekarang kamu pergi dari sini!" Merasa tidak dibutuhkan lagi, Darel langsung saja mengusir pria menjekelkan menurutnya itu.

"Baik tuan," jawab sang anak buah-Radit, pasrah.

***

Sementara itu tak jauh dari mereka berpijak, seorang gadis yang tak lain adalah Dania, sedari tadi sedang berjalan kaki tak tahu arah memikirkan hidupnya yang sangat kacau.

"Arghhhh, sampai kapan sih aku bisa move on dari laki-laki bejat itu?" Sungutnya, meremas rambut sendiri.

"Come on, Dania! Romeo itu diibaratkan pria terkutuk yang di hadirkan untuk menguji keimanan lo," geramnya lagi merasa tidak normal jadi cewek.

Saking kelimpungannya hidup dia, Dania sampai tidak sengaja melihat kediaman Darel dari kejauhan.

"OMG, bukankah itu si tukang bakso yang udah bikin hidupku sial malam itu?" teriaknya melotot, bagaikan mimpi buruk bisa menemukan Darel kembali.

"Gak bisa dibiarkan, aku harus kasih pelajaran buat pria songong kayak dia."

Sesuai gerutuannya barusan, dengan  setengah berlari Dania langsung menghampiri Darel, untuk memenuhi ambisinya.

"Eh, tunggu! Aku harus pakai hans sanitizier terlebih dahulu, sebelum membalas," batinnya kasar sambil melaksanakan apa yang dia ucapkan.

Satu langkah, dua langkah, sampai ...."Kyaaaa, akhirnya aku bisa menyiksamu juga."

Tak dinyana setelah mendekati Darel, Dania tanpa segan meraih kepala pria itu, lalu menjambak rambutnya secara brutal.

"Arghh, apa-apan ini?"

Darel yang tiba-tiba mendapat perlakuan buruk dari wanita asing, merasa kesakitan akibat tarikan yang sangat kencang

"Ini balasan karena sudah membuat hidupku sial," jawab Dania sadis, menampilkan matanya yang sangat seram.

Masih belum ingat wanita di hadapannya siapa, Darel sangat yakin jika Dania benar-benar tidak punya akal.

"Apa maksud anda balas dendam, hah? Saya sama sekali tidak mengenal anda?" bentak Darel merasa tidak terima, sambil terus berusaha melepaskan tangan Dania di kepalanya.

"Jangan pura-pura lupa, aku adalah wanita yang kamu tabrak malam itu."

What? Dahi Darel berkerut, sambil memperhatikan wajah Dania seksama.

"Nabrak? Kapan aku pernah nabrak cewek absurd kayak nih orang?" pikirnya linglung, sambil mengingat masa yang sudah lalu.

Tidak melihat Dania selama seminggu Minggu lebih, ternyata dia lupa akan gadis itu.

Tiga detik kemudian ....

"Ah, aku ingat wanita ini'kan pacar dari selingkuhannya Alesia?" batinnya gamblang."Perasaan dia sendiri yang saat itu telah menabrakku," dengus Darel, akhirnya ingat juga semua kejadiannya tempo lalu.

"Lepaskan! Saya sama sekali tidak punya salah sama anda." Dengan hati yang berkoar-koar, Darel tidak menyerah untuk menjauhkan organ tubuhnya yang semakin terasa sakit.

"Gak akan, sampai aku puas aku tidak mau melepasnya," sahut Dania kukuh.

"Perih banget tuhan, bisa-bisa kepalaku botak berkat nih cewek," keluhnya sambil mengikuti arah tangan Dania, agar tidak begitu menyiksa.

"Ok, terserah anda mau terus kayak gitu juga, sampai nanti kepala saya copot juga gapapa." Kepalang pasrah, Darel berinisiatif melawan Dania dengan kata-kata menyerah.

Alis Dania menyatu, Merasa gak seru kalau Darel tidak melawan dan pasrah kayak gitu, emang tingkahnya masih kekanak-kanakan. "Ih, gak asyik masa dia cuek gitu aja."

Merasa gak ada perlawanan, gadis cantik tersebut sedikit tertegun dan melonggarkan jambakannya sampai menghentikan aktivitas dia sendiri.

"Nih, aku sudah puas, kok!" renggutnya, sambil memperhatikan wajah Darel yang terlihat kesal plus sakit secara bersamaan.

"Lalu anda ingin melakukan apa lagi?" tanya Darel menantang.

"Gak ada semuanya udah clear.""Terus?"

"Gak ada terus terus, aku bukan tukang parkir. Po-pokoknya aku udah lega bisa balas dendam sama kamu," sanggah Dania sewot, sedikit merasa salah tingkah karena di tatap sedemikian rupa.

Sementara Darel hanya cengo dibuatnya, bingung atas sikap Dania yang gak jelas.

"Bagus deh, jadi saya gak perlu berurusan lagi sama kamu," timpal dia mendekati gerobaknya, untuk menggiring jauh dari situ.

"Iya, benar banget. Lagian aku juga gak mau ketemu sama kamu lagi." Dania memekik, mengatai Darel dengan berkacak pinggang.

"Terserah!" sentak Darel acuh, yang membuat wanita itu langsung melebarkan matanya.

"Eh, kamu mau kemana jangan pergi tinggalin aku, lebih baik aku yang ninggalin kamu," ujar Dania lagi meneriaki Darel yang sedang berjalan membawa gerobaknya.

"Dasar cewek aneh, jangan sampai aku bertemu dia lagi," batin Darel bergidik ngeri, tanpa mau menggubris Dania lebih lanjut.

Eh, merasa diabaikan, tak dinyana seketika Darel melihat Dania berjalan cepat di hadapannya dengan menghentakkan kaki kesal.

"Kamu pikir ditinggalin enak apa?" sungut Dania sebelum benar-benar berlalu dari netra Darel.

"Dih, yang bilang enak siapa? Benar-benar cewek tidak bermoral." Darel mengumpat, seraya melihat kepergian Dania dengan seribu kejengkelan.

"Bang pesen basoknya ya satu!"Darel langsung melirik, mendapati satu pria berumur sedang memesan jualannya.

"Eh, iya, Pak," jawabnya, selalu ramah emang kalau sama orang yang lebih tua.

"Jangan pakai saus, ya!"

"Siap, silahkan duduk di sini dulu, Pak." Darel berucap seraya memberikan kursi yang selalu dia tempati saat istirahat.

"Terimakasih, Nak," sahut lelaki tadi tanpa membantah titahan Darel.

"Kamu sudah lama jualan begini, Nak?"Meski rada heran kenapa pembelinya bertanya demikian, Darel mencoba menjawab sopan apa yang ditanyakan bapak tersebut.

"Sudah dua tahun Pak semenjak ibu saya meninggal." Apa yang diucapkan Darel tidak sepenuhnya bohong, ibunya emang sudah tiada selama itu.

"Em, saya minta maaf ya Nak jika mengungkit kesedihan kamu."

"Tidak apa-apa kok Pak, saya sekarang sudah bisa mengiklashkan," timpal Darel sibuk membuat pesanan, walau sebenarnya sangat tidak ahli.

"Saya suka sekali sama pria pekerja keras seperti kamu, mengingatkan saya dulu waktu masih muda."

Serius? Sebelumnya Darel tidak pernah mendengar ucapan ini dari siapapun.

"Kalau saya gak jualan, saya gak bisa makan, Pak," jelas Darel mengada-ada.

"Luar biasa, pokoknya saya salut sama kamu."

"Terimakasih, tapi sungguh Bapak sangat berlebihan." Darel menampilkan senyumnya karena merasa malu dipuji kayak gitu.

"Saya boleh meminta sesuatu?"

"Sesuatu apa?" tanya Darel penasaran.

"Kamu mau kan menikah dengan anak saya!"

Prak!

Bagai disambar petir, Darel merasa tidak habis pikir ada orang yang meminta menikahi anaknya, padahal mereka baru bertemu.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED