Jakarta, Tahun 2010
Suara bising kendaraan motor mengiringi langkah kaki Raisa pagi ini. Ia sedang menjajakan gorengan seperti risol, tempe goreng, bakwan beserta gorengan yang lainnya. Hari ini adalah hari minggu, dan juga ia belum masuk ke sekolah SMA, karena setelah kenaikkan kelas dari XII menuju XIII ada libur selama dua minggu, dan hari ini adalah hari libur terakhir Raisa.
Raisa menguncir rambut panjangnya itu, ia sedang duduk di emperan jalan bus sambil menunggu para kenek atau sopir bus membeli dagangannya itu. Kali ini Raisa membawa 2 box berisi penuh dengan gorengan,dan satu box sudah habis dari pagi. Peluh keringat ia usap dengan tisu yang selalu berada di tas selempang kecilnya.
“Gue gak pernah menyangka, jika gue akan hidup kembali sebagai anak tukang gorengan dan bokap gue sopir angkot?” keluh Raisa yang sudah menyadari, jika kehidupannya sekarang tidak sama dengan kehidupan masa lampaunya dulu. Raisa mulai mengingat sepotong demi sepotong memori kehidupannya di jaman 1970 itu, walaupun tidak sepenuhnya itu.
“RAISA!” teriak seseorang dengan suara yang berat itu.
Raisa menoleh dan melihat bapaknya yang memanggil namanya itu.
Raisa hanya mengulum senyum dan langsung membawa box berisi gorengan menuju ke tempat bapaknya itu. Ia melangkahkan kaki dengan malas menghampiri bapaknya yang sedang berdiri di depan mobil angkot berwarna biru muda itu.
“Lo udah makan Raisa?” tanya bapaknya itu sambil melirik box gorengan itu.
Raisa paham, jika bapaknya ini hanya basa basi saja dan paling ujung-ujungnya minta gorengan yang di bawa oleh Raisa.
“Belum,” jawab Raisa singkat sambil menatap wajah bapaknya yang mulai keriput itu. Raisa tidak menyangka dunia sekarang pun bapaknya mirip dengan bapaknya di masa lalu.
“Yaudah, beliin Bapak nasi padang. Kali ini Bapak gak bakal minta gorengan lu. Ini duitnya ya, lu kalau mau sekalian aja beli mumpung Bapak ada duit, satu lagi jangan bilang Ibu lu kalau Bapak pegang duit” perintah bapaknya yang bernama syamsul.
Raisa hanya mengangguk saja tanpa curiga dan menerima uang berwarna merah menyala itu, lalu ia berjalan mencari nasi padang. Raisa bingung mau beli berapa, karena ia tidak mau makan enak tanpa ibunya makan. Akhir-akhir ini, setiap bapak pulang pasti ada saja pertengkaran, hal ini membuat Raisa merasa muak. Raisa sudah berusaha membantu perekonomian keluarga dengan menjual gorengan ini, jika hari biasa ibunya menjajakan gorengan ini, sedangkan Raisa bagian libur sekolah saja.
Raisa sampai juga di warung nasi padang. Ia masuk ke dalam warung itu.
“Pak pesan nasi padang dua ya, semuanya pakai rendang sama air teh hangat tawarnya dua,” ucap lembut Raisa dengan senyuman yang khas.
“Oh, kamu anaknya Pak Syamsul ya Neng?” jawab pedagang lelaki yang sedikit berumur sama dengan bapaknya.
Raisa menyahut dengan senyuman, ”Ya, Pak.”
“Anaknya Pak Syamsul sudah besar ya? Mana cantik, mau jualan keliling gorengan, masih sekolah Neng?” tanya bapak pedagang tersebut.
“Masih Pak, saya mau naik ke kelas 3 SMA,” jawab Raisa sambil duduk di kursi dan meletakkan boxnya di meja yang biasa orang makan.
“Wah, sebentar lagi lulus dung ya?”
Raisa mengangguk.
Setelah memberikan uang merahan itu kepada pedagang nasi padang, Raisa sekarang membawa dua bungkus nasi padang berisi lauk rendang dan dua bungkus plastik air teh tawar hangat, ia juga menjinjing dua box yang berisi gorengan itu. Dari jauh Raisa melihat bapaknya sedang mengobrol dengan seseorang yang sama tuanya dengan bapaknya itu. Raisa mempercepat langkah kakinya karena waktu sudah menunjukan pukul satu siang.
“Ini Bapak nasinya,” ucap lirih Raisa memberikan kantong kresek berwarna merah itu, kebetulan ia sudah memisahkan nasi bungkus untuknya, “Dan ini kembaliannya.”
Tangan Syamsul meraih kantong kresek merah dan meraih uang lembaran lalu memasukkannya ke kantong celananya.
“Makasih ya, Bapak mau makan dulu, atau kamu mau makan bersama Bapak?”
“Gak Bapak, Raisa ada urusan permisi,” tolak Raisa sambil memalingkan badan dan bergegas berjalan dengan cepat membawa barang bawaannya itu.
Raisa merasa aneh setiap melihat bapaknya, karena kehidupan lalunya bapaknya sangat berbeda dengan kehidupan sekarang.
Raisa akhirnya memutuskan untuk pulang ke rumah dengan membawa box yang masih berisi gorengan. Ia berencana akan makan nasi padang ini bersama dengan ibunya. Jarak rumah kontrakannya dengan terminal pulogadung tidak terlalu jauh, setidaknya ia tidak perlu mengeluarkan ongkos untuk pulang ke rumah. Sekitar sepuluh menit Raisa akhirnya menuju ke gang kontrakannya itu. Raisa mendengar ibu kontrakan sedang memaki ibunya dari jarak satu meter itu.
“Saya tidak mau tahu Bu Ani! Besok uang kontrakan selama dua bulan yang menunggak harus dibayarkan! Kalau tidak kalian semua yang di sini pergi dari kontrakan saya!” hardik Ibu kontrakan itu di depan Ani yang tertunduk lesu dan hanya diam saja. Para tetangga pun keluar dan melihat apa yang terjadi dengan Ani. Raisa langsung melangkahkan kakinya dan mendekati Ibu yang mempunyai kontrakan yang bernama Melisa.
“Bu Melisa, bisa tidak sopan, jika menagih uang kontrakan!” hardik Raisa dengan tatapan tajam menatap wajah Ibu Melisa.
“Kamu anak kecil bisa apa! Memangnya kenapa kalau saya menagih hak saya! Kenapa kamu yang sewot!” balas sengit Melisa.
“Malu dung Bu, Ibu kan PNS masa menagih uang kontrakan seperti itu, kita bisa bicarakan dengan baik-baik masalah ini, bukan malah berteriak seperti tidak punya sopan santun,” sindir Raisa.
Melisa merasa menjadi pusat perhatian karena semua orang di situ melihat ke arahnya. Ia juga merasa tersindir dengan ucapan Raisa, ia mengakui jika Raisa adalah anak yang cerdas seperti gosip yang beredar di kalangan ibu-ibu, karena Raisa bisa masuk ke SMA Favorit di Jakarta dan juga masuk tiga besar di sekolah, apalagi sekolah itu berisi anak-anak orang kaya.
“Baiklah, saya tunggu minggu depan ya, awas aja kalau tidak bayar kontrakan, kalian semua kemaskan barang kalian dan pergi dari sini!” ancam Melisa dan pergi meninggalkan tempat Raisa. Tetangga sekitar pun masuk ke dalam rumah masing-masing setelah keributan berakhir.
Setelah bayang-bayang badan Melisa pergi, Raisa dan ibunya segera masuk ke dalam rumah kontrakan yang terdiri dari 3 ruangan yaitu kamar utama, ruang tamu, kamar mandi dan juga dapur kecil. Biaya sewa kontrakan itu sekitar 900 ribu perbulan.
Raisa meletakkan kedua box gorengan itu ke lantai dan duduk di ruang tamu yang hanya beralaskan tikar itu. Ibunya ke belakang mengambil termos berisi air putih dan dua gelas. Mereka berdua duduk bersama di tikar yang mulai lusuh itu. Ibunya menuangkan air putih ke gelas itu.
“Ini Raisa di minum dulu,” ucap Ani.
Raisa mengambil gelas itu dan meminum air itu sampai habis.
“Bu, gorengannya yang satu box habis yang satunya gak habis bu, nanti sore Raisa mutar lagi ya,” ucap lirih Raisa sambil memberikan uang hasil penjualan gorengan dan membuka kresek plastik berisi nasi padang itu.
“Ya gapapa, ada hal yang ingin ibu sampaikan sama kamu,” ucap Ani dengan suara lembutnya.
“Apa Bu?” tanya Raisa.
“Uang penjualan gorengan habis dibawa oleh bapakmu tadi pagi,” ungkap Ani dengan wajah sendu.
“APA!” jawab Raisa kaget dan mengepalkan tangannya. Amarahnya memuncak di dalam dadanya.
Bersambung…
Raisa tidak menyangka bapaknya mempermainkan dirinya seperti ini. Uang hasil jualan gorengan pun diambil pula. Mata Raisa berkaca-kaca dan menahan tangisnya itu.
“Kurang ajar! Aku nggak bisa membiarkan bapak semena-mena sama kita, Bu,” seru Raisa sambil berdiri dengan emosi yang meledak-ledak.
Ani mencoba menenangkan putrinya itu. “Kamu yang sabar, Raisa. Tolong maafkan bapakmu itu,” mohon Ani memegang tangan kanan putrinya itu.
Raisa memandang wajah keriput ibunya itu. Ia tidak menyangka ibunya selalu membela bapak yang selalu saja mendzolimi keluarganya itu.
“Gak, Bu. Maaf kali ini kesabaranku sudah habis! Aku akan membuat perhitungan dengan Bapak!” seru Raisa dengan tatapan tajam ke arah ibunya.
“Jangan Raisa,” sahut Ani sambil batuk.
“GAK!”
Raisa melepaskan tangan ibunya dengan kencang dan pergi berlari keluar tanpa menoleh ke belakang. Ani terus memanggil putrinya itu dan tetap saja Raisa tetap bergeming.
“RAISA! RAISA!”
Dengan perasaan marah yang Raisa pendam selama ini, ia sama sekali mengacuhkan ibunya dan kali ini ia tetap dengan keputusannya itu.
‘Ibu, maafkan aku, Bapak harus aku kasih pelajaran kali ini’ batin Raisa sangat sakit itu.
Raisa akhirnya mencari Bapaknya di terminal pulogadung. Peluh keringat dan perut yang keroncongan dirasakan olehnya. Ia pun mengacuhkan semua rasa yang ia alami sekarang ini.
“Raisa.”
Raisa menoleh karena ada yang memanggilnya itu. Terlihat teman bapaknya yang memanggilnya.
“Ada apa Om?”
“Pasti kamu mencari Bapakmu kan?” tebak lelaki yang sama tuanya dengan bapaknya. Om itu bernama Bahri.
Raisa mengangguk pelan dan berkata, “Dimana Bapakku berada, Om?”
“Bapakmu sedang main judi di warung pojok sana,” jawab Bahri dengan tangan menunjuk ke arah warung yang terlihat tertutup itu.
“Tapi warungnya tutup, Om?” jawabnya dengan ragu.
“Terlihat memang tutup, tapi jangan salah, kamu akan kaget,” sahut Bahri.
“Kalau begitu, aku ke sana dulu ya, Om.”
Bahri hanya mengangguk saja. Ia tahu jika pasti akan ada masalah yang akan terjadi jika Raisa melihat kelakuan bapaknya itu.
Langkah kaki Raisa sangat cepat menuju ke warung yang diberitahukan oleh Bahri itu. Perasaan marah sudah membuncah di dalam dadanya itu. Dan akhirnya kakinya pun sekarang berhadapan dengan warung itu, Netranya memperhatikan warung yang terlihat sangat mencurigakan baginya.
“Gue harus masuk ke dalam dan mencari bapak,” ujarnya bermonolog sendiri.
Raisa pun mencoba mencari celah untuk masuk ke dalam warung itu. Tepat di pintu belakang terdengar suara tertawa orang. Raisa tanpa pikir panjang langsung masuk ke dalam dan melabrak bapaknya yang sedang bermain judi itu.
“BAPAK! KEMBALIKAN UANGKU!” teriak Raisa dengan kencang di depan banyak orang di sana. Syamsul yang sangat terkejut dengan kedatangan putrinya pun bingung harus menjawab apa.
“BAPAK SINI UANGKU!” desak Raisa ngotot.
Syamsul pun akhirnya naik pitam.
“Raisa! Percuma duitnya sudah Bapak habiskan,” jawabnya enteng.
Amarah Raisa yang memuncak akhirnya menendang meja.
BRUKK
Syamsul yang melihat kelakuan putrinya yang melawan, akhirnya menampar Raisa dengan kencang.
PLAK
Tamparan keras itu membuat pipi Raisa merah. Air mata pun akhirnya keluar dari mata bulatnya. Anak dan Bapak itu saling bertatapan dengan tatapan yang sangat tajam. Hati Raisa sangat sakit diperlakukan seperti ini.
“Sudah Syamsul, kamu jangan kasar begitu sama anak kamu,” ujar bapak yang hampir seumuran dengan bapaknya.
“Lo gak usah ikut campur! Anak melawan orang tua begini gak usah dibela!” jawabnya kesal.
“Hiks…BAPAK MEMANG JAHAT!” teriak Raisa sambil pergi meninggalkan bapaknya itu.
Raisa terus menangis dan berlari. Hatinya sangat sakit sekali, begitu pula dengan dadanya yang sesak. Tangannya terus memegangi dadanya yang sesak itu.
“Hiks…Hiks….”
Raisa merasa marah dengan takdirnya ini. Ia merasa di kehidupan barunya sama saja, tidak ada kebahagiaan.
“Oh Tuhan, kenapa hidupku seperti ini lagi? Kenapa tidak berikan aku kehidupan yang bahagia? Dulu aku kaya aku juga menderita, kupikir aku miskin sekarang akan bahagia?’” Raisa bermonolog sendiri. Sepanjang jalan ia terus berpikir dengan takdirnya itu.
“Di kehidupan lampau pun, aku bahkan mempunyai bapak yang jahat. Oh Tuhan, berikanlah aku kebahagian, pertemukan aku dengan Logan.”
Deg
Jantung Raisa entah kenapa berdegup dengan kencang tidak karuan. Ia spontan melirik ke samping dan melihat mobil di sampingnya. Terlihat kaca mobil di depan terbuka dan ia melihat seorang pria mirip dengan Logan.
“Logan?”
Raisa mengucek kedua matanya untuk memastikan penglihatannya memang benar. Senyum sumringah langsung tersungging di bibirnya.
“LOGAN!” teriak spontan Raisa.
Tapi sayang sekali, mobil itu melaju kembali dengan kencang. Raisa pun berlari mengejar mobil tersebut.
“LOGAN!”
Mobil itu melaju sangat kencang dan Raisa tidak bisa menyusul mobil tersebut. Ia pun tersungkur di aspal jalanan sambil menangis.
“Hiks…Hiks…Logan ini aku…Kenapa kamu pergi secepat itu?” isaknya menahan sesak di dada.
“OH TUHAN, TOLONG PERTEMUKAN AKU DENGAN LOGAN! MAU ITU BAHAGIA ATAU MENDERITA! AKU INGIN HIDUP SAMPAI AKHIR DENGANNYA!”
DUARR
Langit seperti mendengar jeritannya. Seketika bunyi petir menggelegar di angkasa. Air hujan pun turun sangat deras. Tubuh Raisa basah kuyup oleh derasnya hujan. Ia merasa air hujan sedikit mengobati rasa sakit yang dideritanya. Dengan langkah lemas dan lunglai ia kembali berjalan kaki menuju ke rumahnya. Pikirannya saat ini sangat kacau. Di satu sisi ia memikirkan bagaimana caranya untuk membayar kontrakan dan di sisi lain ia merasa sakit hati dengan sikap bapaknya itu. Akhirnya sampai juga di gang rumahnya itu. Belum juga ia melangkahkan kakinya. Pak RT di daerahnya berjalan tergesa-gesa menghampirinya.
“Raisa, kemana saja kamu? Kami semua mencari kamu,” tuturnya dengan mimik serius.
“Memangnya ada Pak?” Raisa merasa bingung.
“Ibumu baru saja di bawa ke rumah sakit,” jawabnya.
“Rumah sakit? Memangnya Ibuku kenapa, Pak?” Raisa merasa cemas dan jantungnya kembali berdegup dengan kencang.
“Ibumu pingsan dan tidak sadarkan diri, makanya kami warga di sini memutuskan untuk membawa ke rumah sakit. Mendingan kamu segera kesana? Ini alamat rumah sakitnya,” desak Pak RT sambil memberikan secarik kertas berisi alamat itu.
Raisa menerima kertas itu dan sejenak membaca alamat rumah sakit yang tertera dengan tinta berwarna hitam itu. Ia merasa cemas dan mendadak kepalanya pening.
“Kalau begitu makasih ya Pak, aku ke rumah sakit dulu,” ujarnya dengan sopan.
Pak RT hanya mengangguk pelan dan meninggalkan Raisa sendiri. Tanpa berpikir panjang Raisa segera menuju ke rumah sakit dengan mengendarai ojek. Ia merasa takut akan terjadi apa-apa dengan ibunya itu.
“Mas ngebut dung,” titah Raisa yang merasa motornya terlalu lambat.
“Sabar Mbak, ini kan licin jalanan habis hujan, misal ngebut yang ada nanti motor jatuh atau gimana,” sahutnya dengan bijak.
Raisa mengerti dengan ucapan ojeg itu. Ia berdoa di dalam hati supaya tidak akan terjadi apa-apa dengan ibunya itu.
Bersambung…