Nafas Bu Henny pun terlihat tak beraturan dengan degup jantung seperti genderang yang ingin memulai perang. Bu Henny kesal melihat ulah Ilham dan juga Dante yang seperti anak kecil yang justru membuat suami dan besannya seperti sedang mengikuti perayaan tujuh belasan.
"Apakah kalian berdua tidak bisa menyelesaikan masalah kalian layaknya orang dewasa?" Tanya Bu Henny dengan wajah ketatnya.
"Ilhamsyah Bramasta! Apakah seperti ini kelakuan seorang pria berpendidikan sepertimu?" Sentak sang mama yang sudah terlanjur kesal karena anaknya tak menggunakan kepintaran untuk menyelesaikan masalah.
"Tapi, Ma! Bukan aku yang mulai semua ini. Tapi dia tuh!" Sangkal Ilham sembari menuju Dante dengan sudut bibirnya.
"Lo yang salah. Kok malah Lo yang melempar kesalahan ke gue," sangkal Dante yang membuat Ilham semakin heran. Ia belum juga menyadari dosa apa yang baru saja ia lakukan.
"Dari tadi, Lo terus nyalahin gue. Sebenarnya gue salah apa sama, Lo?" Tanya Ilham yang masih setia dengan boxernya. Ia benar-benar tak mengerti dengan ucapan Dante yang sejak tadi bicara gak jelas.
"Dante! Bicaralah yang jelas. Jangan membuat masalah ini makin panjang. Inikan malam pertama kalian. Mengapa kalian merusaknya dengan perkelahian seperti ini?" Sentak Bu Henny.
"Malam pertama apa, Tante? Malam pertama putra Tante dengan istriku?" Ucap Dante dengan tatapan penuh amarah.
Deg
Semua orang yang mendengar ucapan Dante tercengang. Semua terpaku seakan tak percaya dengan apa yang baru saja dikatakan oleh Dante.
Alisa pun semakin histeris mendengar kata-kata Dante. Ia pun turun dari ranjang dengan selimut yang membalut tubuh dan wajahnya, berlari masuk kekamar mandi.
"Apa? Is-istrimu?" Ucap Ilham dengan suara bergetar dan terbata-bata.
"Ya brengsek! Yang kau tiduri itu adalah istriku." Jelas Dante mengulangi ucapannya.
Bak petir disiang hari. Seperti banjir bandang yang menyeret Alina hingga ke dasar sungai. Rasa tak percaya tapi ini nyata adanya. Inilah yang dirasakan dua kakak beradik itu.
Siapa pun tak akan pernah menduga semua akan jadi begini. Karena cadar yang menutupi wajah mereka, malah membuat suami-suami mereka tak mengenali wajah sang istri.
"Tunggu dulu! Kita kan sama-sama gak tahu wajah mereka. Terus gimana Lo, bisa tahu kalau yang gue tiduri itu adalah istri Lo?" Tanya Ilham.
"Karena mata gue masih bisa bedain angka 3 dan 2. Gak kayak Lo. Mata Lo udah ditutup sama nafsu. Hingga Lo gak bisa bedain angka 3 dan 2" jelas Dante yang tetap berusaha meredam emosinya.
"Kamar Lo, 133. Dan kamar gue, 132." Sambung Dante.
Kedua pria itu terus berdebat tanpa ada yang memikirkan bagaimana perasaan Alina setelah mendengar kenyataan bahwa sang suami tidur dengan sang Adik walaupun semua itu bukan kesengajaan.
Alina tak kuasa menahan air matanya. Sekarang ia tahu, apa yang menyebabkan sang Adik menangis histeris seperti tadi. Ia bisa merasakan rasa sakit yang Alisa rasakan.
"Ya Allah! Mengapa semua ini bisa terjadi pada kami berdua?" Batin Alina.
"Kenapa kamu bisa seceroboh ini, ham?" Tanya Bu Henny sembari menghentakkan kakinya kelantai. Ia merasa kecewa karena Ilham melakukan kesalahan yang fatal.
"Aku gak tahu, Ma! Aku pikir ini kamar aku dan Alina." Ucap Ilham mencari pembenaran.
"Waktu Lo ngenjot Alisa, Lo mikir gak?" Tanya Dante sembari menyunggingkan senyuman.
"Ya... Ya, gue...!" Ucap Ilham terbata.
"Iya Lo mikir. Tapi cuma mikir enaknya doang kan? Hah, brengsek!" Tebak Dante
Ilham tak bisa membantah ucapan Dante yang memang benar adanya. Bahkan saat memasuki kamar ia tak benar-benar melihat berapa angka yang ada didepan pintu kamar. Ia hanya melihat angka urutan paling depan yang bertuliskan angka 2. Namun, ia tak melihat dua angka lagi yang ada dibelakang angka dua itu. Karena pikirannya yang sudah dipenuhi oleh nafsu.
"Sudah. Tidak ada gunanya, kita berdebat seperti ini! Lebih baik sekarang kita cari jalan keluarnya!" Ucap pak Sugi.
Walaupun anaknya telah disakiti. Namun, tak ada sedikitpun amarah dimata pak Sugi. Ia berusaha tetap tenang dan bersikap bijak dalam menyikapi masalah ini.
"Alina! Kamu baik-baik saja, sayang?" Tanya Bu Henny sembari merangkul bahu menantunya itu.
Alina tak bergeming. Ia hanya mencoba tersenyum, Walaupun senyuman itu tak mungkin terlihat karena tertutup oleh cadarnya. Terlihat jelas air mata Alina terus mengalir membasahi pipinya. Walaupun tak sedikit pun terdengar suara tangisan dari bibirnya.
"Satu-satunya jalan adalah Ilham harus menikahi Alisa karena dia telah menidurinya," ucap Dante yang membuat semua orang terkejut mendengarnya.
"Apa? Tapi dia istrimu. Bagaimana mungkin, Ilham akan menikahinya?" Tanya Bu Henny yang menurutnya ucapan Dante tak masuk akal.
"Mulai detik ini juga, aku berikan talak satu pada Alisa!" Ucap Dante dengan lantangnya tanpa sedikit pun mengalihkan pandangannya dari Ilham.
Deg
Nafas Alina seperti tercekat dileher. Ia tak bisa bernafas. Seakan dunia ini sudah tak memiliki oksigen lagi.
"Apa kau sudah tidak waras? Walaupun kau menceraikan Alisa. Aku juga tidak akan bisa menikahinya karena dalam Islam tak bisa menikahi kakak beradik kandung." Jelas Ilham yang sok tahu.
"Iya. Itu memang benar!" Timpal sang mertua.
Ilham pun merasa senang mendengar ucapan sang mertua menyetujui ucapannya. Namun, siapa disangka bahwa ucapan sang mertua ternyata ada sambungannya.
Ya ampun udah kayak sinetron aja, bersambung!
"Tapi semua itu berlaku kalau Alina masih jadi istrimu!" Sambung pak Sugi yang membuat Ilham tak mengerti dengan ucapannya.
"Maksud om?" Tanya Ilham dengan jantung yang mulai berdegup kencang. Ia sebenarnya paham dengan apa yang dikatakan mertuanya itu. Namun, ia berusaha menepis semua asumsi yang kini ada dibenaknya.
"Kau harus menceraikan Alina dan menikahi Alisa karena kau harus bertanggung jawab atas apa yang telah kau perbuat." Jelas pak Sugi dengan penuh penekanan.
"Nggak. Aku tidak akan menceraikan Alina. Dan Lo, bro! Gue mohon jangan ceraikan Alisa. Bukannya kita sudah terbiasa berbagai segala hal. Baju, sepatu, dan e e e ....
" Ucap Ilham sembari mengingat kembali apa-apa saja yang biasa ia lakukan dengan Dante dalam urusan berbagi. Namun, belum sempat ia mengatakan barang-barang apa lagi yang biasa mereka bagikan. Satu bogeman mendarat diwajahnya. Membuat ia tersungkur dipangkuan sang istri yang duduk diatas ranjang.
Bugh
"Gue bener-bener gak nyangka, kalau sahabat gue ternyata sebrengsek ini!" Ucap Dante sembari mengusap tangannya yang terasa sedikit sakit karena bogeman yang ia berikan pada Ilham.
Suasana didalam kamar pengantin terasa semakin tegang. Ilham yang selalu mencari pembenaran bahwa dirinya memang tak sengaja melakukan semua itu. Namun, Dante benar-benar tak terima atas sangkalan yang diutarakan Ilham yang menurutnya tak masuk akal.
Lo pikir, mereka berdua barang! Yang bisa Lo bagi ke gue? Mikir Lo! Mikir. CEO brengsek," ucap Dante sembari mengetuk- mengetuk kepalanya dengan jarinya yang semakin emosi mendengar ucapan-ucapan sahabat brengseknya itu.
"Alina! Maafkanlah aku. Aku tidak sengaja melakukannya. Aku pikir Alisa itu kamu!" Ucap Ilham berusaha menjelaskan pada sang istri apa sebenarnya yang terjadi.
"Tapi semua sudah terjadi, Mas! Dan apa yang dikatakan Ayah dan Dante itu benar. Kamu harus menceraikan aku dan menikahi Alisa!" Jelas Alina menyetujui ucapan Dante dan juga Ayahnya.
Alina tak mungkin membiarkan Adiknya yang telah melakukan hubungan suami istri bersama suaminya sendiri itu melupakannya begitu saja. Suaminya harus bertanggung jawab dengan apa yang telah ia perbuat. Ditambah lagi, suami dari sang adik telah menjatuhkan talak pada Adiknya Karena masalah ini.
Deg
Ilham tak menduga bahwa istrinya menyetujui ucapan Ayahnya untuk menceraikan dirinya dan menikahi Adiknya. Namun, Ilham tak mungkin setuju begitu saja.
"Dua tahun, Al! Dua tahun kita menjalani hubungan ini. Apa yang selama ini kita rencanakan akan berakhir seperti ini?" Tanya Ilham yang sok dramatis.
"Dalam sekejap, kamu putuskan begitu saja?" Tanya Ilham yang membuat Alina semakin tersiksa akan kata-katanya. Ia dan Ilham memang sudah merencanakan membangun keluarga kecil mereka saat sudah sah menjadi suami istri. Namun, semua impian itu seakan terancam punah.
Waduh, udah kayak zaman daineso aja yang udah punah.
"Heh! Alay. Gak usah belaga puitis deh, Lo! Gumuh gue dengernya. Udah kayak Lo setia aja! Taunya mah, buaya cap kodok Lo!" Sanggah Dante.
"Anjir nih, Monte! Pakek buka kartu gue lagi!" Batin Ilham yang kesal karena sahabatnya itu menyangkal ucapannya dan malah membuka kelakuan jeleknya didepan sang istri.
"Keputusan aku sudah bulat, Mas! Jika kamu tidak mau menalak aku, maka aku sendiri yang akan pergi ke pengadilan untuk membatalkan pernikahan kita!" Ancam Alina.
Mau tidak mau Ilham harus setuju dengan keputusan Alina dan juga Ayahnya. Dengan berat hati. Malam itu juga, Ilham menjatuhkan talak pada Alina.
"Aku memberikan talak satu pada Alina, istriku!" Ucap Ilham yang masih mengenakan boxer itu.
Hancur berkeping-keping mendengar talak dari Ilham, yang baru beberapa jam menjadi suaminya. Alina tak kuasa menahan rasa sakitnya. Ia pun berlari keluar dari kamar itu dengan derai air mata.
Hiks hiks
"Alina! Seru Ilham. Ia pun ingin mengejar Alina. Namun, seketika langkahnya terhenti saat sang mama mengingatkannya bahwa dirinya masih mengenakan boxer saja.
"Eh, eh, eh! Kamu mau kemana, Ham?" Cegah sang Mama.
"Ya mau mengejar Alina, Ma! Jadi mau ngapain lagi!" Jawab Ilham cetus. Ia sedikit kesal dengan sang Mama karena menghentikan dirinya.
"Iya. Tapi hanya dengan boxer sependek itu?" Ucap Bu Henny sembari menatap ke bawah.
Ilham baru menyadari jika dirinya masih telanjang dada sejak tadi. Ia pun memunguti bajunya dan memakainya saat itu juga.
Saat Ilham selesai berpakaian dan ingin segera mengejar Alina. Dari dalam kamar mandi terdengar suara jeritan.
Aaaaaa
"Alisa!" Seru Ilham dan yang lainnya. Mereka pun berlari menuju kamar mandi untuk mengecek keadaan Alisa. Mereka memanggil-manggil Alisa dari luar kamar mandi. Namun, tak ada jawaban dari Alisa.
Alisa!
Alisa!
"Ham, kamu dobrak aja pintunya. Mama takut terjadi sesuatu pada Alisa," pinta Bu Henny yang khawatir hal buruk terjadi pada Alisa.
Ilham pun mendobrak pintu kamar mandi itu. Namun, pintu itu tak juga terbuka.
"Eh, Monte! Bantuin gue dong. Nonton aja Lo," protes Ilham.
"Dobrak pintu aja gak kuat. Dasar tulang lunak." Ejek Dante. Ia pun berjalan mendekati pintu kamar mandi.
"Minggir, Lo!" Pinta Dante.
Ilham pun menggeser posisi berdirinya. Memberikan ruang untuk Dante agar bisa membuka pintu. Dante pun mengambil ancang-ancang untuk mendobrak pintu. Dan tak disangka. Sekali dobrakan saja, pintu itu terbuka.
Gedebukkk
"Alisa!" Seru Dante yang mendapati Alisa dalam keadaan pingsan didalam kamar mandi. Dan sudah berpakaian lengkap dengan cadarnya.
Alina terus berlari dengan arah tujuan yang tak pasti. Namun, seketika ia laju langkahnya terhenti saat ia mengingat sang adik yang masih didalam kamar mandi.
"Astaghfirullah! Alisa kan sejak tadi didalam kamar mandi tanpa memakai pakaian!" Gumam Alina. Ia sudah berada dilobi memutuskan kembali kekamar sang Adik untuk mengecek kondisi sang adik.
Saat ia sampai di depan pintu kamar. Ia melihat Dante dan juga mantan suaminya membopong seseorang.
"Astaghfirullah! Ada apa ini?" Gumam Alina sembari memegangi dadanya yang berdetak tak karuan.
Alina pun berlari menghampiri kedua pria itu agar ia lebih cepat mengetahui siapa yang sedang dibopong oleh mereka.
"Alisa!" Seru Alina yang kaget setengah mati saat melihat sang adik sedang dibopong keluar kamar. Ia pun berlari mendekati Alisa.
"Alisa kenapa, Yah?" Tanya Alina yang berjalan disamping Alisa yang tak sadarkan diri itu. Ia begitu khawatir jika terjadi sesuatu pada sang Adik.
"Ayah juga gak tahu. Tadi ada suara kegaduhan dari dalam kamar mandi. Dan saat kami buka pintu kamar mandi. Alisa sudah tergeletak di lantai kamar mandi," jelas sang Ayah.
Setelah beberapa menit menempuh perjalanan. Mereka pun tiba dirumah sakit. Para suster langsung membawa Alisa ke IGD untuk mendapatkan penanganan medis.
Seorang dokter pun memasuki ruang IGD itu. Alina terlihat sangat khawatir melihat kondisi adiknya yang sangat begitu lemah.
Tak butuh waktu lama. Dokter pun keluar dari ruang IGD. Dengan rasa penasaran dan tak sabar menunggu hasil pemeriksaan Dokter untuk mengetahui kondisi sang Adik. Yang ternyata kondisinya cukup membuat siapapun yang mendengarnya akan spot jantung.
"Bagaimana dengan kondisi adik saya, Dok?" Tanya Alina yang sudah tak sabar.
"Untuk saat ini kondisi nona Alisa sudah stabil. Tapi tadi nona Alisa sempat mengalami pendarahan!" Jelas sang Dokter.
"APA? PENDARAHAN?" Ucap semua orang yang ada disitu bersamaan. Mereka kaget bukan main.
Loh! Kok Alisa pendarahan? Apa dia hamil?