Ara, yang tidak ingin menjadi bagian dari "perkumpulan Zombie penggigit leher manusia," langsung berbalik arah dan berlari sekuat tenaga. Kakinya bergerak cepat, sementara napasnya memburu. Angin dingin yang menusuk seolah tidak cukup untuk meredakan ketegangan di tubuhnya.
Di belakang, Zombie itu tidak tinggal diam. Dengan langkah pincang tapi penuh kekuatan, ia mengejar sambil terus mengeluarkan suara mengerikan, "Rrraww! Rrraww! Rrraaaaww!" Suara itu menggema, membuat setiap helai rambut di tubuh Ara berdiri.
Setelah berlari tanpa henti, Ara akhirnya sampai di depan rumahnya. Dengan gerakan tergesa, ia membuka pintu dan masuk. Begitu tubuhnya melewati ambang pintu, ia langsung menguncinya rapat.
"Huft... Aku selamat," gumam Ara pelan, mencoba mengatur napas yang tersengal-sengal. Punggungnya bersandar di pintu, tubuhnya yang lelah perlahan merosot hingga ia terduduk di lantai. Kakinya terasa lemah, seperti tak mampu menahan tubuhnya lebih lama.
Namun, ketenangan itu hanya bertahan beberapa detik.
"Rrraaawww!"
Suara itu kembali terdengar, kali ini dari dalam rumahnya. Ara tersentak, pandangannya terangkat ke arah ruang tengah. Jantungnya berdebar kencang, dan tubuhnya gemetar saat ia melihat pemandangan yang tidak pernah ia bayangkan.
Ibu dan kedua adiknya berjalan ke arahnya dengan langkah yang pincang dan kaku. Mata mereka kosong, kulit mereka mulai pucat kehijauan. Darah kering menghiasi bibir mereka. Gerakan mereka sama persis seperti Zombie yang mengejarnya tadi.
"A-apa yang terjadi pada kalian?" tanya Ara dengan suara bergetar. Matanya berkaca-kaca, penuh kesedihan dan ketakutan. Ini keluarganya, orang-orang yang ia sayangi, tetapi kini mereka berubah menjadi makhluk yang sama sekali berbeda.
Namun, tidak ada jawaban. Yang terdengar hanyalah geraman dari mulut mereka, "Rrraaaww!"
Tanpa peduli pada Ara, ibu dan adiknya terus mendekat dengan tujuan yang jelas: menggigit lehernya, menjadikannya bagian dari mereka.
Ara terdiam beberapa detik, tubuhnya seolah membeku. Namun, naluri bertahan hidup kembali memaksa tubuhnya bergerak. Dengan cepat, ia membuka pintu rumah dan melarikan diri ke luar.
Begitu berada di luar, ia menutup pintu secepat mungkin dan bersandar di sana, menahan pintu dengan tubuhnya agar keluarganya yang kini menjadi Zombie tidak bisa keluar mengejarnya.
Air mata mulai mengalir di pipinya. Ia menggigit bibirnya, mencoba menahan tangis. Dalam hati ia berteriak, "Kenapa ini terjadi pada mereka... pada keluargaku?!"
Namun Ara melupakan satu hal penting.
"Rraawww!"
Suara itu kembali terdengar, lebih dekat, lebih mengancam. Dan benar saja, sosok Zombie yang sebelumnya mengejarnya kini berdiri tepat di hadapannya. Ara menelan ludah, tubuhnya menegang. Ia menyadari satu hal: ia belum membeli beras yang diminta ibunya dan buru-buru pulang karena Zombie ini, tapi itu kini menjadi masalah terakhir yang ingin ia pikirkan.
Zombie itu terlihat mengerikan. Kulitnya hijau gelap, penuh noda darah yang kering dan segar bercampur, menutupi hampir setiap inci tubuhnya. Mulutnya terbuka lebar, memamerkan gigi tajam yang berlumuran darah. Bau busuk menyengat menguar dari tubuhnya, cukup untuk membuat siapa pun merasa mual.
Ara membeku sejenak, tubuhnya gemetar karena ngeri. Namun, rasa takut itu segera berubah menjadi dorongan untuk bertahan hidup.
"Kyaaaa!" teriak Ara sekuat tenaga. Dalam kepanikan, ia mengangkat kakinya yang beralaskan sandal selow hitam dan menendang Zombie itu tepat di ulu hatinya. Tendangan itu cukup kuat untuk membuat Zombie terhuyung ke belakang.
Tanpa membuang waktu, Ara langsung berbalik dan mulai berlari secepat yang ia bisa. Napasnya memburu, jantungnya berdebar kencang, tapi ia tahu ia tidak boleh berhenti. Kakinya terus melangkah, menjauhi rumah dan Zombie yang ada di sekitarnya, mencari tempat aman yang entah ada atau tidak.
"Kenapa ini terjadi?!" gumam Ara di tengah larinya, suaranya parau oleh ketakutan. "Padahal tadi aku hanya asal bicara!"
Ia mengingat ucapannya saat di jalan tadi, tentang keinginannya hidup di dunia penuh Zombie bersama pria tampan seperti di game. Sekarang, kenyataan itu justru menjadi mimpi buruk.
Ara menggelengkan kepalanya keras-keras, mencoba menyingkirkan rasa bersalah yang merayapi pikirannya. "Tidak!" katanya tegas pada dirinya sendiri. "Aku tidak mau dunia ini penuh Zombie. Mereka jelek... menjijikkan!"
Matanya mencari-cari jalan keluar di depan, sementara pikirannya terus berusaha mengabaikan suara langkah-langkah pincang yang mungkin mengikutinya dari belakang.
Bugh!
Suara keras terdengar saat sesuatu jatuh dari atas.
"Kyaaaa!" Ara menjerit panik ketika melihat dengan jelas apa yang baru saja terjatuh. Seekor Zombie, dengan tubuh yang penuh luka dan noda darah, terhempas dari atap rumah. Tubuh Ara membeku beberapa detik, sebelum akhirnya ia terjatuh terduduk di tanah, seluruh tubuhnya gemetar.
Zombie itu perlahan bangkit dari posisinya. Gerakannya kaku, namun matanya yang kosong menatap langsung ke arah Ara. Dari mulutnya keluar suara mengerikan, "Rrraaww!"
Tanpa menunggu lebih lama, Ara mencoba bangkit. Niatnya jelas: melarikan diri sejauh mungkin. Namun langkahnya terhenti saat ia menyadari ada lebih banyak Zombie yang kini berlari ke arahnya dari berbagai arah.
Ketakutannya berubah menjadi tindakan impulsif. Dengan sisa keberanian, Ara menendang Zombie yang ada tepat di depannya. Tendangan itu cukup kuat untuk membuat makhluk itu tersungkur ke tanah.
"A-aku harus keluar dari sini!" pikir Ara dengan panik.
Ia segera berlari ke depan, mencoba mencari jalan keluar dari situasi yang semakin mencekam. Namun dari kanan, kiri, bahkan belakang, Zombie terus bermunculan. Mereka berjalan terseok-seok, tapi jumlah mereka yang semakin banyak membuat pemandangan itu terlihat seperti mimpi buruk yang hidup.
Ara berlari secepat yang ia bisa, menghindari tangan-tangan kasar yang mencoba meraihnya. Napasnya tersengal, dadanya terasa sesak, tapi ia tahu ia tidak boleh berhenti. Adegan ini hampir seperti seorang idola yang dikejar oleh segerombolan penggemar fanatik. Bedanya, para pengejar ini bukan meminta tanda tangan-mereka ingin menggigit dan menghancurkan hidupnya.
"Tolong!" jeritnya tanpa tahu siapa yang akan mendengar.
Di tengah kekacauan itu, Ara hanya bisa berharap ada keajaiban yang akan menyelamatkannya.
Ara berhenti mendadak. Napasnya terengah, tubuhnya gemetar. Jalan di depannya penuh sesak oleh segerombolan Zombie yang bergerak lambat namun mengancam. Mata kosong mereka menatap ke arahnya, seperti pemburu yang baru saja menemukan mangsanya. Ara tahu, jika ia nekat maju, ia akan terkepung dan dikeroyok tanpa ampun.
Panik, ia menoleh ke kanan, mencari harapan. Pandangannya jatuh pada sebuah bangunan SMA dengan gedung tiga lantai yang menjulang di kejauhan. Sekolah itu tampak sunyi senyap, seolah tidak tersentuh oleh kekacauan yang melanda dunia ini.
"Libur sekolah..." pikir Ara cepat. "Ya, itulah alasannya mengapa tempat itu begitu tenang. Tidak ada manusia, tidak ada Zombie. Sekolah itu bisa menjadi tempat perlindungan sementara."
Hati kecilnya bergetar di antara rasa takut dan dorongan untuk bertahan hidup. "Itu satu-satunya pilihan..." gumamnya, menggenggam sisa keberanian yang ia miliki.
Tanpa pikir panjang, Ara berlari menuju gerbang sekolah. Tangannya gemetar saat ia berusaha menutup pagar sekolah dengan tergesa-gesa, berharap itu cukup untuk menghentikan para zombie yang mengejarnya. Suara derit pagar yang tertutup terdengar memekakkan telinga, tapi itu tidak menenangkan hatinya.
Napasnya terputus-putus, dan tubuhnya bergetar karena ketegangan. Namun, ketakutannya semakin memuncak ketika ia melihat apa yang terjadi di balik pagar.
Para zombie, meskipun tampak tanpa akal, mulai menunjukkan tekad yang luar biasa. Mereka saling tumpuk, memanjat tubuh satu sama lain, berlomba-lomba menjadi yang pertama melewati pagar.
"Mereka ini dibilang bodoh, tapi pintar!" gumam Ara dengan wajah penuh kekhawatiran.
Tanpa membuang waktu lagi, ia melanjutkan larinya ke dalam gedung sekolah. Suara langkah kakinya menggema di koridor yang sunyi. Ara membuka pintu salah satu kelas dan segera menutupnya rapat-rapat. Jendela kelas juga ia kunci dengan tangan yang gemetar.
Setelah memastikan semuanya tertutup, Ara terduduk lemas di salah satu meja kelas. Tangannya memegang kepalanya yang terasa berat, dan air mata mulai mengalir tanpa ia sadari.
"Ini salahku ... semua ini salahku!" gumamnya lirih, suara penuh dengan rasa penyesalan. "Andai saja aku tidak pernah mengatakan hal itu ...."
Air matanya semakin deras. Di luar, suara geraman dan dentuman terus terdengar, seperti dunia perlahan-lahan runtuh di sekitarnya. Ara merasa terjebak dalam mimpi buruk yang ia ciptakan sendiri.
Prang!
Suara kaca pecah memenuhi ruangan, memecahkan kesunyian yang tersisa. zombie-zombie itu menghancurkan jendela dengan cara membenturkan kepala mereka ke kaca, menciptakan pemandangan yang semakin mencekam.
Ara, yang sempat terduduk lemas, kini bangkit dengan cepat. Panik, ia meraih sebuah kursi yang terdekat dan melemparkannya ke arah zombie yang mulai merangsek masuk. Kursi itu menghantam salah satu dari mereka, membuatnya terjatuh. Tapi jumlah mereka terlalu banyak-Ara tahu ini bukan tempat yang aman lagi.
"Aku harus pergi!" pikirnya dengan napas yang memburu.
Ara berlari keluar dari kelas, melesat melewati koridor yang kini terasa seperti labirin tanpa akhir. Kakinya melangkah naik, menaiki tangga satu per satu, sementara suara geraman dan langkah-langkah berat zombie terus membuntutinya.
Saat tiba di depan pintu menuju atap sekolah, Ara tanpa ragu membukanya. Ia melangkah keluar ke udara siang yang sejuk, lalu segera mengunci pintu dari luar. Dengan tubuh yang gemetar, ia bersandar pada pintu, menahannya sekuat tenaga.
Pandangan Ara menyapu atap sekolah yang luas. Tak ada tempat untuk bersembunyi, hanya langit cerah dan angin yang sejuk menerpa kulitnya. Hatinya dipenuhi kebingungan dan ketakutan.
"Kenapa sekolah ini begitu sepi, tapi pintu-pintu dan pagar tidak terkunci? Bahkan kuncinya masih tergantung di gagang pintu ...," pikirnya, mencoba memahami situasi yang tidak masuk akal ini.
Brak!
Brak! Brak!
Zombie-zombie itu mulai menghantam pintu, mencoba memaksa masuk. Getaran dari hantaman mereka terasa hingga ke punggung Ara yang menahan pintu. Napasnya makin cepat, keringat dingin mengalir di pelipisnya.
"Tolong ... berhenti ...," bisiknya pelan, seperti doa yang tidak akan didengar.
Tapi jumlah mereka terlalu banyak. Tekanan di balik pintu semakin besar, hingga akhirnya ....
Brak!
Pintu itu terbuka paksa. Tubuh Ara terempas ke lantai, terdorong oleh kekuatan gerombolan zombie yang berhasil masuk. Dengan mata terbelalak, ia menatap ke arah gerombolan makhluk mengerikan itu yang kini memenuhi atap, langkah mereka mendekat tanpa ampun.
Ara berlari dengan napas memburu hingga mencapai ujung atap sekolah. Langkah kakinya terhenti mendadak saat ia menyadari bahwa tidak ada lagi tempat untuk lari. Di depannya, hanya ada jurang menuju tanah yang dipenuhi zombie yang bergerombol menunggunya di bawah, mulut mereka menganga seolah siap menyambut tubuhnya.
Panik, Ara menoleh ke sekeliling, mencari sesuatu-apa saja-yang bisa digunakan untuk bertahan hidup. Matanya tertuju pada kakinya, lalu sandal hitam yang selama ini menemaninya menarik perhatian.
Dengan tekad yang tersisa, ia melepaskan sandal dari kakinya dan melemparkannya dengan keras ke arah zombie terdekat. Sandal itu menghantam kepala salah satu zombie, membuat makhluk itu tersentak dan mundur sedikit.
"Setidaknya berguna juga," gumam Ara dengan sarkas, meski hatinya berdebar kencang.
Kemudian, matanya menangkap sesuatu yang tergeletak di atap-sebatang pipa plastik panjang. Ia segera meraih pipa itu dengan tangan gemetar, menggenggamnya erat-erat seperti senjata terakhir di dunia yang sudah hancur ini.
Dengan langkah mundur yang mantap, Ara mengayunkan pipa itu ke arah zombie pertama yang mendekat.
"Kyaaa!" teriaknya sambil mengerahkan seluruh tenaganya. Pipa itu mengenai kepala zombie dengan keras, membuat makhluk itu terhuyung ke belakang.
Semakin banyak zombie yang mendekat, semakin liar gerakannya. Ara memutar pipa itu seperti tongkat baseball, mengayunkannya dengan kecepatan yang mencengangkan. Suara pukulan terdengar berulang kali, menandai perjuangan gadis itu melawan gerombolan tanpa henti.
"Kalian pikir aku akan menyerah semudah itu?! Tidak semudah itu, dasar makhluk menjijikkan!" serunya, penuh amarah yang bercampur ketakutan.
Gerakannya yang spontan namun lincah membuatnya tampak seperti seorang ahli pedang yang sedang bertarung di medan perang, menghabisi musuh satu per satu. Setiap ayunan pipa itu adalah perlawanan terakhir dari seorang gadis yang menolak menyerah pada nasib.
Namun, meskipun ia bertahan, jumlah zombie yang terus bertambah mulai membuat napasnya terengah-engah. Ara tahu, waktunya tidak banyak.
Sementara itu, gerombolan zombie terus merangsek maju, semakin mendekat ke arah Ara. Desakan demi desakan membuat gadis itu perlahan mundur, langkah kakinya terhenti setiap beberapa detik untuk mengayunkan pipa yang ia genggam. Napasnya semakin berat, dan rasa panik kian mencengkeram hatinya.
Namun, tanpa ia sadari, langkahnya membawa dirinya semakin dekat ke tepi atap.
"Kyaaaaa!"
Teriakan Ara menggema di udara saat ia kehilangan keseimbangan dan tubuhnya terjatuh dari tepi atap. Seketika, dunia seolah melambat.
Tubuhnya tertarik gravitasi, meluncur bebas menuju tanah. Angin siang menerpa tubuhnya dengan kencang, membuat rambut panjangnya berkibar liar di udara. Matanya terpejam rapat, dan seluruh hidupnya seakan berputar dalam benaknya.
"Apa ini akhirnya? Ini ... akhir hidupku?" pikir Ara dengan perasaan bercampur aduk.
Hatinya dipenuhi penyesalan, ketakutan, dan kepasrahan. Jatuh dari ketinggian bukanlah sesuatu yang pernah ia bayangkan akan menjadi akhir dari segalanya. Ia ingin menangis, tapi air matanya terasa terjebak di sudut mata, tertahan oleh rasa syok yang membekukan tubuhnya.
Sementara itu, suara geraman zombie dari atas terasa semakin jauh, digantikan oleh desiran angin yang seolah menjadi lantunan lagu perpisahan bagi dirinya.
Dalam detik-detik yang terasa seperti selamanya, Ara hanya bisa menunggu-menunggu akhir yang tak terhindarkan.