Pagi pertama sebagai Nyonya Dirgantara dimulai dengan air mata yang mengering dan tekad baru. Setelah malam yang menyakitkan di sofa dingin, Aurora bangkit sebelum matahari terbit. Ada sisa-sisa harapan, keyakinan naif bahwa mungkin, hanya mungkin, ini semua hanyalah mimpi buruk yang akan sirna saat fajar menyingsing. Adam mungkin hanya kelelahan, stres karena pernikahan paksa ini. Ia akan mencoba. Ia akan membuktikan bahwa ia bisa menjadi istri yang baik, meskipun tanpa cinta.
Dengan mata sembap dan hati yang masih perih, Aurora melangkah ke dapur suite mewah itu. Ia mencari-cari bahan makanan, mengingat sedikit kebiasaan Adam yang sempat ia amati. Kopi hitam tanpa gula, sarapan ringan, sepertinya Adam bukan tipe pemakan berat di pagi hari. Aurora memutuskan untuk membuat sandwich panggang sederhana dengan keju mozzarella dan tomat, ditemani kopi hitam pekat. Aroma kopi yang baru diseduh mulai memenuhi ruangan, menciptakan suasana rumah tangga yang hangat, setidaknya dalam imajinasinya.
Tak lama kemudian, pintu kamar Adam terbuka. Pria itu keluar dengan wajah datar, mengenakan kemeja putih yang baru disetrika dan celana bahan yang rapi. Ia berhenti sejenak, melirik meja makan yang sudah tertata, lalu menatap Aurora yang berdiri canggung di dekat konter dapur. Tak ada senyum, tak ada anggukan, bahkan sekadar tatapan mata.
"Sudah siap?" tanya Adam, suaranya dingin dan tanpa ekspresi, seolah ia berbicara kepada pelayan.
Aurora mengangguk, hati kecilnya berdegup kencang. "Sudah, Adam. Aku membuatkan sandwich panggang dan kopi untukmu."
Adam berjalan mendekati meja, melirik piring yang tersaji. Ia meraih cangkir kopi, menyesapnya, lalu meletakkannya kembali dengan desah napas berat. "Kopinya terlalu encer," katanya, nada suaranya lebih seperti pernyataan daripada keluhan. "Dan sandwich ini... apa ini? Keju? Aku tidak suka keju di pagi hari."
Jantung Aurora mencelos. Ia berusaha keras menahan diri agar tidak menunjukkan kekecewaannya. "Maaf, Adam. Aku tidak tahu. Aku bisa membuat yang lain kalau kau mau. Ada telur, atau sereal..."
"Tidak perlu," potong Adam. "Aku akan sarapan di kantor saja."
Ia berbalik, mengambil tas kerjanya yang tergeletak di sofa, tempat Aurora tidur semalam. Tanpa sepatah kata lagi, tanpa menoleh, Adam melangkah keluar dari suite. Suara pintu tertutup menandakan kepergiannya. Aurora terdiam, mematung di dapur. Sarapan yang ia buat dengan segenap harapan kini tergeletak dingin di meja, tak tersentuh. Aroma kopi yang tadi sempat memberinya semangat kini terasa pahit di indranya. Usaha pertamanya, dihancurkan dalam hitungan detik.
Hari-hari berikutnya berlalu dengan pola yang sama. Aurora tak menyerah. Ia membersihkan suite mereka setiap hari, memastikan semuanya rapi dan nyaman. Ia mempelajari apa yang Adam sukai dan tidak sukai dari pembicaraan yang tak sengaja ia dengar Adam lakukan di telepon, atau dari kebiasaan-kebiasaan kecilnya yang samar. Ia mulai memasak hidangan yang berbeda setiap malam, berharap salah satunya akan cocok dengan selera Adam.
Setiap sore, ia akan berdiri di ambang pintu masuk, menanti kedatangan Adam pulang kerja. Ia akan tersenyum, menyapa dengan lembut, "Selamat datang kembali, Adam. Bagaimana harimu?"
Dan setiap sore pula, Adam akan mengabaikannya. Ia akan masuk, melepas jasnya, dan langsung menuju kamarnya yang terkunci rapat. Terkadang ia hanya bergumam "Hm," atau "Baik," tanpa menoleh. Lebih sering, ia hanya melewatinya begitu saja, seolah Aurora adalah bagian dari perabotan. Ruang tamu yang sudah Aurora tata sedemikian rupa, dengan bantal-bantal empuk dan buku-buku yang ia pikir akan menarik minat Adam, tak pernah disentuh. Meja makan yang tersaji lengkap dengan hidangan buatan tangan Aurora, selalu berakhir dengan makanan yang tak tersentuh atau hanya dicicipi sekilas sebelum Adam menyatakan ia "tidak lapar" atau "sudah makan di luar".
Suatu malam, Aurora menyiapkan steak dengan saus jamur, hidangan yang ia pelajari dari ibunya dan selalu berhasil membuat ayahnya lahap. Ia menata meja dengan indah, menyalakan lilin, dan bahkan memutar musik instrumental lembut. Ketika Adam pulang, Aurora menyambutnya dengan senyum lebar.
"Adam, aku membuat steak untuk makan malam. Ayo makan bersama."
Adam hanya melirik meja sekilas. "Aku sudah ada janji makan malam."
Jantung Aurora berdesir. "Janji? Dengan siapa?"
"Bukan urusanmu," jawab Adam dingin, lalu masuk ke kamarnya untuk berganti pakaian. Ia keluar lima belas menit kemudian, rapi dan siap pergi.
"Kau... tidak akan makan di rumah?" tanya Aurora, suara pasrah.
"Tidak. Aku pergi."
Dan Adam pergi, meninggalkan Aurora sendirian di meja makan yang tersaji sempurna, dengan steak yang kini mendingin. Air mata kembali membasahi pipinya. Ia merasa seperti pecundang, seperti wanita yang tak diinginkan.
Penghinaan-penghinaan kecil itu terus berlanjut. Adam tak pernah ragu melontarkan kritik pedas terhadap setiap usahanya.
"Masakanmu hambar, seperti air cucian beras," katanya suatu pagi, setelah mencicipi sup ayam buatan Aurora. "Apa kau pernah memasak sebelumnya?"
"Rumah ini terasa pengap. Kau tidak tahu cara merawat tempat tinggal, ya?" ejeknya ketika melihat Aurora sedang menyiram tanaman hias di teras.
Bahkan penampilannya tak luput dari sasaran. Suatu kali, Aurora memutuskan untuk berdandan sedikit, mengenakan gaun selutut yang cantik dan membiarkan rambutnya terurai. Ia berharap Adam akan melihatnya, melihat bahwa ia juga seorang wanita muda yang menarik.
Adam hanya meliriknya dari atas ke bawah. "Kau mau ke mana? Pergi kencan?" Nada suaranya sinis. "Seharusnya kau lebih memikirkan cara membersihkan rumah, bukan membuang-buang waktu dengan dandan murahan seperti itu."
Kata-kata itu menghantam Aurora telak. Murahan? Ia hanya ingin Adam melihatnya, hanya itu. Rasa sakit hati itu mulai berubah menjadi kemarahan yang membara.
Puncaknya terjadi pada suatu malam yang terasa sangat panjang. Aurora telah menghabiskan hampir tiga jam di dapur, menyiapkan nasi goreng seafood lengkap dengan udang, cumi, dan berbagai bumbu rempah. Ia tahu Adam menyukai masakan Asia. Ia bahkan sudah belajar resep dari koki hotel khusus untuk ini. Aroma harum masakan memenuhi suite, mengundang selera. Aurora menunggu Adam pulang dengan hati berdebar. Ia berharap, kali ini, Adam akan setidaknya menghargai usahanya.
Ketika Adam tiba, wajahnya tampak lelah. Aurora menyambutnya di ambang pintu, seperti biasa. "Selamat datang kembali, Adam. Aku membuat nasi goreng seafood kesukaanmu. Ayo makan."
Adam hanya meliriknya, lalu berjalan melewati Aurora menuju ruang makan. Ia melihat piring nasi goreng yang mengepul, aromanya begitu menggoda. Namun, Adam tidak duduk. Ia hanya berdiri di sana, menatap hidangan itu dengan tatapan jijik.
"Apa ini?" tanyanya, suaranya sangat dingin, berbeda dengan aroma hangat nasi goreng. "Nasi goreng? Kau benar-benar berpikir aku akan makan masakan murahan seperti ini?"
Aurora menegang. "Ini... ini nasi goreng seafood, Adam. Aku membuatnya sendiri. Aku..."
Sebelum Aurora menyelesaikan kalimatnya, Adam melakukan sesuatu yang membuat napas Aurora tercekat di tenggorokan. Dengan gerakan sengaja, Adam meraih piring nasi goreng itu. Aurora sempat berpikir Adam akan mencicipinya. Namun, dengan tatapan lurus ke mata Aurora yang membelalak, Adam berjalan menuju tempat sampah di dapur, lalu membuang seluruh isi piring itu ke dalam tempat sampah. Suara nasi goreng yang mendarat di dasar tempat sampah, bercampur dengan sisa-sisa sampah lainnya, terdengar seperti suara hatinya yang remuk.
"Aku sudah memesan makanan dari luar," kata Adam, tanpa sedikit pun penyesalan di wajahnya. "Kau tidak perlu repot-repot lagi."
Aurora menatap nanar tumpukan nasi goreng yang kini menyatu dengan sampah. Air mata menggenang di matanya, tapi kali ini, bercampur dengan rasa marah yang luar biasa. Itu bukan hanya nasi goreng. Itu adalah harapannya, usahanya, harga dirinya yang dibuang begitu saja. Dibuang di depan matanya.
"Kenapa kau melakukan itu?" desis Aurora, suaranya bergetar menahan tangis. "Kenapa kau harus sekejam ini?"
Adam hanya mengangkat bahu acuh tak acuh. "Aku tidak suka. Aku tidak akan memaksakan diri makan sesuatu yang tidak kusukai."
Malam itu, Adam memesan pizza dari restoran Italia favoritnya. Ia makan di meja makan, tanpa sedikit pun menawarkan Aurora. Aurora hanya duduk di ruang tamu, air matanya tak henti mengalir, menyaksikan Adam makan dengan santai, seolah tak ada yang terjadi. Ia merasa benar-benar tak terlihat, tak dihargai.
Beberapa hari kemudian, Adam membuat Aurora semakin hancur. Ia tiba-tiba memberi tahu Aurora bahwa ia akan mengajak rekan kerjanya makan malam di rumah. Rekan kerja, seorang wanita bernama Stella, yang Aurora tahu adalah arsitek sukses yang sering berkolaborasi dengan Adam. Adam sering menyebut namanya, selalu dengan nada profesional, tapi Aurora sering mendengar gosip di kalangan kolega bahwa Stella adalah wanita yang sangat cantik, cerdas, dan ambisius. Aurora merasakan firasat buruk.
Firasat itu terbukti benar. Pada malam yang ditentukan, Aurora sudah menyiapkan hidangan istimewa, sup asparagus krim, salmon panggang, dan salad segar. Ia bahkan mengenakan gaun sederhana namun elegan, berharap bisa memberikan kesan yang baik.
Adam datang bersama Stella. Stella memang cantik, dengan rambut pirang ikal dan senyum menawan. Ia mengenakan gaun kantor yang sangat modis. Senyumnya ramah, tapi matanya sesekali melirik Adam dengan cara yang membuat perut Aurora mual.
"Ini Nyonya Dirgantara?" sapa Stella ramah kepada Aurora, mengulurkan tangan. "Senang bertemu denganmu."
"Aurora," koreksi Adam cepat. "Namanya Aurora."
Aurora tersenyum kaku, menjabat tangan Stella yang terasa dingin.
Sepanjang makan malam, Adam mengabaikan Aurora sepenuhnya. Ia berbicara panjang lebar dengan Stella tentang proyek-proyek mereka, tentang arsitektur, tentang rencana masa depan perusahaan. Adam tertawa lepas, sesuatu yang tak pernah Aurora lihat selama mereka bersama. Ia bahkan melontarkan lelucon-lelucon ringan yang membuat Stella terkikih. Aurora hanya duduk di sana, seperti hiasan, sesekali menyajikan makanan atau mengisi ulang minuman, tapi tak ada yang mempedulikannya. Percakapan mereka begitu intens, seolah Aurora tak ada di ruangan itu.
Yang paling menyakitkan adalah ketika Stella memuji masakan Aurora. "Sup asparagusnya enak sekali, Adam. Kau beruntung punya istri yang jago masak."
Adam hanya tersenyum tipis, lalu menoleh ke Stella. "Ah, ini hanya kebetulan. Sebenarnya, aku lebih suka masakan restoran. Tapi, ya, kadang-kadang butuh variasi." Kalimat itu disampaikannya dengan nada merendahkan, seolah masakan Aurora adalah pilihan terakhir.
Stella tertawa, "Oh, Adam, kau ini. Aku yakin istrimu pasti pandai sekali memasak." Ia melirik Aurora dengan senyum simpul, seolah mencoba menguatkan. Tapi Aurora sudah terlampau sakit hati.
Pada satu titik, saat Aurora sedang mengisi ulang gelas Adam, ia mendengar Adam berkata kepada Stella, "Mungkin lain kali, kita bisa membahas proyek ini di luar saja, Stella. Makan malam di tempat yang lebih tenang, tanpa gangguan."
Gangguan. Adam menyebut Aurora sebagai gangguan. Di depan tamunya. Di rumahnya sendiri. Aurora nyaris menjatuhkan teko air di tangannya. Ia menahan napas, berusaha tetap tenang. Malam itu, ia menyadari, ini bukan hanya tentang ketidaksukaan Adam padanya. Ini adalah tentang penghinaan yang disengaja. Adam ingin menghancurkannya, ingin membuatnya merasa tak berharga.
Setelah Stella pulang, keheningan kembali memenuhi suite. Adam langsung masuk ke kamarnya, mengunci diri seperti biasa. Aurora tetap di ruang makan, membereskan piring-piring kotor. Air matanya menetes satu per satu, jatuh ke piring yang baru saja ia bersihkan.
Rasa sakit itu memuncak. Ia tak sanggup lagi menahan. Dengan langkah gemetar, Aurora berjalan ke kamar Adam. Ia mengetuk pintu itu, pelan pada awalnya, lalu semakin kuat.
"Adam! Buka pintunya!" panggilnya, suaranya serak.
Hening.
Aurora terus mengetuk, air matanya mengalir deras. "Adam! Aku ingin bicara! Buka pintunya!"
Beberapa menit kemudian, pintu itu terbuka. Adam berdiri di ambang pintu, wajahnya menunjukkan kejengkelan yang kentara. Ia mengenakan kaus dan celana pendek, rambutnya sedikit berantakan.
"Ada apa lagi?" tanyanya, nada suaranya tajam, sarat amarah. "Kau tidak lihat aku sedang istirahat?"
Aurora menatapnya, pandangannya kabur karena air mata. "Kenapa kau melakukan ini padaku?" tanyanya, suaranya bergetar. "Kenapa kau harus begitu kejam? Apa salahku?"
Adam mendengus, matanya menyipit. "Salahmu? Salahmu adalah kau ada di sini. Salahmu adalah kau dinikahkan denganku."
"Aku sudah berusaha," Aurora membalas, rasa sakit itu mendorongnya untuk memberanikan diri. "Aku sudah berusaha menjadi istri yang baik. Aku memasak untukmu, membersihkan rumah, mencoba bicara denganmu. Tapi kau selalu mengabaikanku, menghinaku, bahkan membuang masakanku di depan mataku! Kau sengaja mengajak wanita lain ke sini untuk menghina aku! Kenapa, Adam? Apa aku... apa aku tidak pantas menjadi istrimu?"
Kata-kata terakhir itu keluar seperti bisikan, penuh keputusasaan. Aurora menatap Adam, berharap, memohon secercah empati, secercah penyesalan.
Namun, yang ia dapatkan adalah tatapan dingin yang menusuk. Adam menatapnya dengan tatapan jijik, seolah Aurora adalah kotoran di sepatunya.
Kemudian, Adam berkata, setiap kata-katanya menggores jiwa Aurora, memecahkannya menjadi serpihan.
"Kamu memang nggak pantas," kata Adam, suaranya rendah namun penuh penekanan. "Dari awal pun aku muak melihatmu."
Dunia Aurora runtuh. Kata-kata itu lebih tajam daripada pisau. Itu bukan hanya penolakan, tapi pernyataan kebencian yang terang-terangan. Muak. Adam muak melihatnya. Tidak pantas.
Aurora terhuyung mundur, seolah dipukul. Wajahnya pucat pasi. Ia menatap Adam, pria yang baru dua minggu lalu sah menjadi suaminya, pria yang kini menghancurkannya tanpa ampun. Ia tak bisa lagi menahan isakannya. Tangisnya pecah, lebih keras, lebih pilu dari sebelumnya. Ia membalikkan badan, lari menjauh dari Adam, dari pintu kamar yang tak pernah membukanya, dari rumah yang terasa seperti neraka.
Adam hanya memandang punggung Aurora yang bergetar, tanpa emosi. Ia menghela napas, lalu menutup kembali pintu kamarnya, menguncinya rapat-rapat. Meninggalkan Aurora sendirian, terisak di lorong yang gelap, dengan hati yang hancur berkeping-keping. Di luar, kota masih bersinar terang, namun di dalam suite itu, hanya ada kegelapan dan keputusasaan yang merajalela. Aurora akhirnya menyadari, bahwa harapan itu sudah lama mati, terkubur di bawah tumpukan kebencian dan keacuhan Adam.
Setelah malam di mana Adam dengan kejam menyatakan ia "muak" melihatnya, Aurora merasa hancur lebur. Ia menghabiskan sisa malam itu di sofa, menangis hingga kelelahan, lalu jatuh tertidur dalam dekapan kehampaan. Pagi harinya, ia bangun dengan kepala pening dan hati yang mati rasa. Rasa sakit itu begitu dalam hingga ia mulai merasa kebas. Seolah ada bagian dari dirinya yang memutuskan untuk berhenti merasakan.
Rutinitas harian tetap berjalan. Aurora tetap memasak, membersihkan, dan berusaha menjalankan perannya sebagai istri. Namun, kini tanpa harapan. Gerakannya mekanis, senyumnya tidak pernah mencapai matanya. Ia bergerak seperti bayangan di rumah yang terasa semakin luas dan dingin. Adam tetap acuh tak acuh, setiap interaksi di antara mereka hanya sebatas formalitas yang nyaris tak terdengar. Kata-kata kasar Adam, buangannya ke tempat sampah, dan tatapan jijiknya telah mengikis habis sisa-sisa keberanian Aurora untuk mencoba.
Di luar rumah, di tengah kesibukan koas (ko-asisten) di rumah sakit, Aurora menemukan sedikit pelipur lara. Dunia kedokteran yang kompleks, pasien-pasien yang membutuhkan perhatian, dan tuntutan akademik yang tinggi, semua itu menjadi distraksi yang menyelamatkannya dari rasa sakit di hatinya. Ia membenamkan diri dalam setiap kasus, setiap catatan medis, setiap shift jaga yang panjang.
Di sana, di antara hiruk pikuk rumah sakit, ada Reyhan. Reyhan adalah rekan koas Aurora, seorang pria dengan senyum hangat dan mata yang ramah. Sejak awal mereka berinteraksi, Reyhan selalu memperlakukan Aurora dengan hormat, penuh perhatian, dan tanpa prasangka. Ia adalah satu-satunya orang yang melihat Aurora sebagai seorang individu, bukan hanya 'istri dari Adam Dirgantara' atau 'putri dari Pak Wijaya'.
Reyhan sering membantu Aurora memahami materi kuliah yang sulit, berbagi tips tentang penanganan pasien, dan bahkan membawakan kopi atau makanan ringan saat mereka jaga malam bersama. Obrolan mereka ringan, sering kali diselingi tawa. Reyhan adalah orang pertama yang membuat Aurora tertawa lepas sejak pernikahannya. Ia tidak berusaha menjadi lebih dari seorang teman, dan Aurora pun tidak pernah berniat mencari lebih. Reyhan hanyalah oase kecil di tengah gurun kesepiannya, secercah kemanusiaan yang sangat ia butuhkan.
"Kau terlihat pucat, Ra," kata Reyhan suatu pagi, saat mereka bertemu di kantin rumah sakit. "Sudah sarapan?"
Aurora tersenyum tipis. "Sudah, kok, Rey. Hanya kurang tidur."
Reyhan mengamati raut wajahnya. "Kau terlihat tertekan belakangan ini. Ada masalah?"
Aurora menggeleng. "Tidak ada. Hanya tugas-tugas koas yang menumpuk." Ia tidak mungkin menceritakan tentang pernikahan nerakanya. Reyhan terlalu baik untuk dibebani dengan masalah serumit itu.
"Jangan terlalu memaksakan diri, ya," Reyhan berkata lembut, lalu menyodorkan sekotak susu stroberi. "Ini, untukmu. Tambah energimu."
Gestur kecil seperti itu, perhatian yang tulus, adalah hal-hal yang tidak pernah Aurora dapatkan dari Adam. Hatinya yang beku mulai menghangat perlahan. Ia tidak merasakan ketertarikan romantis pada Reyhan, tidak sama sekali. Ia hanya merasa nyaman, merasa dihargai, merasa diperlakukan selayaknya manusia yang memiliki perasaan. Reyhan adalah bukti bahwa ada orang lain di dunia ini yang peduli.
Kedekatan Aurora dan Reyhan tidak luput dari penglihatan Adam. Meski Adam tampak sibuk dengan pekerjaannya dan bersikap acuh tak acuh di rumah, ia adalah pria yang sangat jeli dan memiliki jaringan informasi yang kuat. Ia sering mendengar bisik-bisik dari para karyawannya, atau bahkan melihat sekilas notifikasi di ponsel Aurora saat Aurora meninggalkannya sebentar.
Suatu sore, Adam pulang kerja dan melihat Aurora sedang menerima sebuah paket di depan pintu suite. Paket itu berisi sebuah vas bunga kristal yang cantik dengan ukiran yang rumit, dan sebuah kartu kecil terselip di antaranya. Adam melihat senyum tipis di wajah Aurora saat membaca kartu itu. Senyum yang tak pernah Adam lihat ditujukan padanya.
"Apa itu?" tanya Adam dingin, berdiri di ambang pintu.
Aurora terlonjak kaget. Ia cepat-cepat menyembunyikan kartu itu. "Oh, ini... ini hanya hadiah kecil. Dari seorang teman."
Adam melangkah mendekat, matanya tajam menatap vas bunga itu. "Teman? Sejak kapan temanmu memberimu hadiah semewah ini?" Ia meraih vas itu dari tangan Aurora, membalikkannya, seolah mencari label harga.
"Itu... itu hanya Reyhan," jawab Aurora pelan. "Dia memberikannya sebagai ucapan terima kasih karena aku membantunya dengan laporan kasus."
Mendengar nama Reyhan, rahang Adam mengeras. Ia memang sudah sering mendengar nama itu. Rekan koas Aurora yang selalu menelepon dan mengirim pesan. Adam tahu. Ia hanya pura-pura tidak peduli.
Malam itu, Adam memperhatikan Aurora meletakkan vas bunga itu di meja samping, dihiasi dengan setangkai mawar putih. Ia melihat Aurora sesekali tersenyum saat menatap vas itu. Dan setiap kali ia melihat senyum itu, perut Adam terasa mual. Ia tidak bisa menjelaskan mengapa. Itu bukan cemburu, ia meyakinkan dirinya. Itu hanya rasa jijik. Jijik melihat istrinya, yang seharusnya menjadi miliknya, menerima hadiah dari pria lain dan terlihat senang.
Puncak ketegangan terjadi beberapa hari kemudian. Adam pulang kerja lebih awal dari biasanya. Ia melewati ruang tengah dan mendengar tawa Aurora yang renyah berasal dari balkon. Aurora sedang duduk di sana, memegang ponselnya, tertawa kecil sambil mengetik sesuatu. Adam berhenti. Ia tak pernah mendengar Aurora tertawa seperti itu di depannya. Tidak pernah.
Ia berjalan mendekat, dan mendengar suara pria dari ponsel Aurora. Aurora sedang melakukan video call. Wajah Reyhan muncul di layar ponsel Aurora, tersenyum lebar.
"Kau lucu sekali, Rey," kata Aurora, suaranya masih tersisa tawa. "Kau harus lihat ekspresi dokter kepala tadi, dia pasti kaget sekali!"
Adam tidak bisa menahan diri. Sebuah dorongan tak terkendali menguasainya. Dengan gerakan cepat dan kasar, Adam menyambar ponsel dari tangan Aurora. Aurora menjerit kaget.
"Adam! Apa yang kau lakukan?!"
Adam tidak mempedulikannya. Ia memutus panggilan video itu, lalu jarinya dengan cepat menggeser layar, membuka aplikasi pesan. Ia mencari kontak Reyhan. Dan ia menemukan percakapan mereka.
Ada banyak pesan. Pesan tentang kasus medis, tentang jadwal jaga, lelucon ringan, dan ucapan-selamat-pagi-dan-selamat-malam yang sederhana. Tidak ada yang romantis, tidak ada yang menunjukkan perselingkuhan. Hanya percakapan dua orang teman yang saling mendukung. Namun, bagi Adam, otaknya menginterpretasikan itu semua dengan cara lain. Ada rasa panas yang membakar di dadanya. Ia tidak bisa menamai emosi ini. Ini bukan cemburu, ia bersumpah. Ini adalah kemarahan. Kemarahan karena Aurora, istrinya, berani-beraninya mencari kebahagiaan di luar dirinya. Kemarahan karena ia merasa dikhianati lagi.
Adam memutar tubuhnya, menatap Aurora dengan mata nyalang. "Jadi, ini yang kau lakukan di belakangku, Nyonya Dirgantara?" Nada suaranya rendah, penuh ancaman. "Bermain-main dengan pria lain? Tertawa lepas dengannya? Apa ini balas dendammu?"
Aurora mencoba merebut ponselnya kembali. "Apa yang kau bicarakan? Reyhan hanya temanku! Dia rekanku di koas!"
"Teman?!" Adam mendengus, mengangkat ponsel Aurora tinggi-tinggi, menjauhkannya dari jangkauan Aurora. "Teman macam apa yang mengirimimu vas bunga dan video call sambil tertawa seperti sepasang kekasih?!"
Aurora merasakan air mata kembali menggenang. "Dia hanya perhatian, Adam! Dia memperlakukanku seperti manusia! Tidak sepertimu yang selalu menghina dan mengabaikanku!"
Kata-kata Aurora seolah memicu ledakan dalam diri Adam. "Oh, jadi aku tidak memperlakukanmu seperti manusia, ya?" Adam tertawa sinis, tawa yang tidak ada kehangatannya sama sekali. "Lalu kenapa kau masih bertahan di sini? Kenapa kau tidak pergi saja pada pria yang 'memperlakukanmu seperti manusia' itu?!"
Adam menatap layar ponsel Aurora, membaca sekilas beberapa pesan lagi. Matanya berhenti pada satu pesan dari Reyhan, yang mengucapkan terima kasih atas bantuan Aurora dalam sebuah tugas, dan diakhiri dengan emoji hati. Meski itu emoji hati yang umum di kalangan teman, bagi Adam, itu adalah bukti perselingkuhan.
"Kau berselingkuh dengannya, kan?!" teriak Adam, suaranya menggelegar di suite mewah itu. Ia tidak lagi bisa menahan amarahnya. "Jawab aku! Kau tidur dengannya?!"
Aurora terkejut, sangat terkejut dengan tuduhan itu. "Apa yang kau katakan?! Tentu saja tidak! Aku tidak pernah melakukan hal kotor seperti itu!"
"Oh, ya?" Adam menatapnya dengan pandangan jijik. "Lalu kenapa kau begitu nyaman tertawa dengannya? Kenapa kau simpan vas bunga darinya seperti harta karun? Kenapa kau begitu murahan, Aurora?!"
Kata-kata "murahan" itu menghantam Aurora seperti tamparan keras. Itu adalah penghinaan paling kejam yang pernah Adam lontarkan. Ia terengah-engah, tak percaya dengan apa yang didengarnya.
Adam melemparkan ponsel Aurora ke sofa, lalu matanya menangkap vas bunga kristal pemberian Reyhan yang masih terpasang mawar putihnya. Dengan langkah cepat, Adam mendekati vas itu. Aurora, yang menyadari niat Adam, berteriak.
"Jangan! Jangan sentuh itu!"
Tapi Adam sudah meraih vas itu. Dengan kemarahan yang membabi buta, ia mengangkat vas itu tinggi-tinggi, lalu membantingnya ke lantai dengan sekuat tenaga. Suara pecahan kaca memekakkan telinga, bergema di seluruh ruangan. Mawar putih itu tergeletak di antara serpihan-serpihan kristal yang berserakan.
Aurora terpaku, menatap vas yang hancur, hatinya ikut hancur berkeping-keping bersamanya. Itu adalah satu-satunya benda di rumah itu yang memberinya sedikit kebahagiaan. Dan Adam, dengan kebenciannya, telah menghancurkannya.
"Ini hukumanmu," kata Adam, napasnya tersengal. "Hukuman karena berani-beraninya mencari pria lain. Hukuman karena kau murahan!"
Aurora tak bisa lagi menahan emosinya. Ia mendekati Adam, dengan air mata dan kemarahan yang membakar. "Aku tidak murahan! Aku tidak pernah berselingkuh! Kau yang menjadikanku seperti ini! Kau yang membuatku merasa tidak berarti! Kau yang tidak pernah menganggapku ada! Lalu kau berani menuduhku?!"
Adam menatapnya, matanya merah padam. Ada sesuatu yang tak terkendali dalam sorot matanya, amarah yang menutupi emosi lain yang lebih kompleks. Emosi yang tidak ia akui. Emosi yang ia sebut kebencian.
"Dengar baik-baik, Aurora," kata Adam, suaranya rendah, mengancam, setiap kata ditekan dengan kekuatan penuh. "Kalau kamu butuh pelampiasan, silakan tidur dengan siapa saja. Dengan pria koas murahanmu itu, atau dengan pria mana pun yang kau mau. Tapi ingat, satu hal."
Adam mendekatkan wajahnya ke wajah Aurora, tatapannya menusuk tajam. "Tetap bawa nama keluarga ini dengan mulut tertutup! Jangan pernah kau berani mencoreng nama Dirgantara dengan perbuatan kotormu! Jika itu sampai terjadi, aku bersumpah, kau akan menyesal seumur hidupmu. Mengerti?!"
Kata-kata itu bagaikan racun yang disuntikkan langsung ke dalam jiwa Aurora. "Silakan tidur dengan siapa saja." Suaminya sendiri, yang seharusnya melindunginya, justru memberinya izin untuk berbuat dosa, hanya demi menjaga nama baiknya sendiri. Itu bukan izin, itu adalah penghinaan. Penghinaan tertinggi yang bisa seorang suami berikan kepada istrinya. Adam tidak hanya tidak mencintainya, ia bahkan tidak menghargai kemanusiaannya. Ia hanya melihat Aurora sebagai alat, sebagai objek yang harus menjaga citra keluarganya.
Aurora terhuyung mundur, merasa mual. Ia menatap Adam, dan untuk pertama kalinya, ia melihat tidak ada lagi sisa-sisa harapan, tidak ada lagi jejak-jejak cinta yang mungkin bisa tumbuh. Hanya ada kehancuran yang menyakitkan. Ia tidak sanggup lagi berdebat, tidak sanggup lagi membela diri. Kata-kata Adam telah merenggut semua kekuatan darinya.
Adam hanya memandangnya dengan pandangan dingin, seolah puas dengan kerusakan yang telah ia timbulkan. Ia berbalik, meninggalkan Aurora sendirian di antara pecahan kaca dan mawar yang layu, dengan hati yang remuk reduk dan jiwa yang kosong.
Malam itu, Aurora tidak lagi menangis. Ia hanya terdiam, menatap kosong pecahan vas di lantai. Tangisan pun terasa sia-sia. Apa gunanya menangis jika tak ada yang peduli? Apa gunanya berjuang jika hasilnya hanya penghinaan? Di tengah kegelapan yang menyelimuti suite, Aurora merasa ada sesuatu di dalam dirinya yang mati. Sebuah api kecil harapan, kini telah padam. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya, tetapi ia tahu satu hal: ia tidak bisa terus hidup seperti ini.