Bab 2

Setahun berselang setelah batalnya pernikahan Leah. Meski berat di awal karena Leah harus menutup telinganya dari omongan tetangga. Ada yang mengatakan kalau calon suami Leah kabur, ada juga yang mengatakan jika calon suami Leah menghamili perempuan lain. Bahkan ada yang mengatakan kalau Leah selingkuh sehingga ditinggalkan oleh calon suaminya.

Namun Leah hanya menanggapinya dengan senyuman. Berbeda dengan ibu yang selalu mengamuk setiap ada yang membicarakan putri semata wayangnya.

“Nak, kapan kau akan menikah?” Ibu berbicara dengan serius saat sarapan pagi ini.

“Ibu, aku belum memikirkannya.” Leah menanggapi dengan mulut dipenuhi oleh nasi goreng.

“Ayah dan ibu keburu tua, lho.” Ayah seolah membantu ibu menasehati anaknya supaya lekas mencari jodoh. Karena mereka mau Leah move on dari mantan dan segala kenangannya.

“Hah! Ayah dan ibu tua? Dari mana letak tuanya? Kalian berjalan denganku saja orang lain mengira berjalan dengan saudara.” Leah bersungut, entah dia yang terlihat tua atau orangtuanya yang awet muda. Ayah dan ibunya memang baru berusia 40an tahun, termasuk kategori muda karena sudah memiliki anak yang tamat kuliah dan bahkan sudah bekerja.

Itu semua terjadi karena setelah tamat sekolah mereka langsung menikah. Ayahnya menceritakan bahwa ibunya adalah primadona sekolah dulu dan banyak yang menyukai sehingga ayah nekat melamar ibu dan beruntungnya kakek menerima lamaran itu. Setelah itu baru mereka melanjutkan pendidikan, Leah dikandung saat ibu masih kuliah. Dengan status istri sah tentu saja. Ayah pernah bercerita jika dulu ibu sangat bangga memamerkan perut buncitnya.

“Ibu, kalau aku menikah, kalian akan kesepian,” kelit Leah berbicara setelah meneguk habis susu cokelat yang masih hangat.

“Kami justru senang karena bisa terus berduaan,” jawab ayah menimpali ucapan anaknya.

“Ayah!” Leah mendelik sambil setengah berteriak.

“Lagian kenapa kalian tidak punya anak selain aku, sih?” Entah sudah berapa kali Leah bertanya pertanyaan itu. Alasan mengapa dia menjadi anak satu-satunya di rumah. Padahal Leah mengira jika ramai akan semakin menyenangkan. Tapi Leah tidak pernah tahu alasannya, ayah ataupun ibu selaku menjawab dengan jawaban yang tidak pernah memuaskan hati Leah.

“Karena kami hanya punya satu.” Ayah tersenyum penuh arti, lalu beranjak dari kursinya dan bersiap untuk berangkat kerja. Ayah Leah adalah seorang manager di salah satu cabang warehouse e-commerce terbesar di Indonesia. Sedangkan ibu adalah pemilik katering yang cukup terkenal di kotanya. Katering yang diberi nama “Leah’s Catering’ itu sudah wara-wiri di berbagai pesta dari pesta kecil hingga besar. Karyawan ibu juga sudah banyak, bahkan sudah ada admin sendiri yang bertugas untuk mengkoordinasi setiap jadwal. Peralatan yang dulunya sewa kini ibu sudah memilikinya sendiri, dengan jumlah yang lumayan banyak.

Semua bermula karena kepandaian ibu dalam memasak. Apalagi rendang dan dendeng baladonya, mana cukup kalau hanya makan sedikit.

“Nah kan!” Leah lagi-lagi protes dengan jawaban ayahnya.

“Hei, cuci tangan dulu,” perintah ibu saat melihat anak gadisnya mengambil keripik kentang setelah memegang ponsel.

“Vitamin, Bu.” Leah terkekeh sendiri.

“Anak gadis tidak boleh jorok! Pamali!” Ibu geleng-geleng kepala melihat Leah, dia mengikuti anaknya dari belakang untuk mengantar  suami dan anaknya pergi bekerja.

“Ayah berangkat, ya. Kalau sudah selesai langsung istirahat, jangan kerja terus.” Ayah menasehati istrinya yang memiliki sifat tidak mau diam. Ayah kemudian mencium kedua pipi dan kening istrinya dengan sayang.

“Kalian ini romantis-romantisan di depan jomblo.” Leah mengerucutkan bibirnya.

“Makanya nikah.” Ayah tertawa menggoda anaknya.

“Ayah!” Leah berteriak sambil berkacak pinggang.

“Sudah, sana berangkat.” Ibu mendorong tubuh suaminya supaya berhenti menggoda Leah.

Leah memeluk ibunya sebelum masuk ke mobil. “Aku berangkat ya, Bu. Sayang ibu.”  

Ibu tersenyum lalu menutup pagar sesaat setelah mobil itu pergi.

***

“Nero, kau harus menikah jika kau ingin mendapatkan perusahaan!” Pria paruh baya itu setengah berteriak.

“Tapi ....” Nero tampak gugup, sekarang dia mencengkram lututnya sendiri.

Pria yang berteriak tadi adalah Surya Aditama, ayah kandung Nero Aditama. Sang ayah pernah mengatakan jika Nero akan memimpin perusahaan jika dia sukses dengan proyek yang diberikan. Tetapi sepertinya Nero tidak mengindahkan syarat terakhir yang mengatakan bahwa dia harus menikah sebelum serah terima jabatan.

“Syarat tetaplah syarat, Nero. Lagipula ini juga untuk kebaikannmu.” Ayah Nero berkata lagi, kali ini dia sedikit melembutkan suaranya.

“Ayah akan memberimu waktu dua bulan, jika tidak maka perusahaan tidak akan menjadi milikmu.” Meskipun terdengar lembut tapi Nero tahu jika itu adalah sebuah ancaman dan beban untuknya.

“Aku akan menikah bahkan sebelum dua bulan.” Nero menyetujui syarat yang diberikan sang ayah, dia menundukkan kepala dan hendak pergi meninggalkan ruangan itu dengan wajah tanpa ekspresi.

“Nero.” Surya memanggil saat anaknya sudah memegang pegangan pintu.

“Sesekali datanglah ke rumah untuk makan malam,” pinta Surya.

Tidak ada jawaban dari Nero, dia tetap keluar dan menutup pintu tanpa mengeluarkan suara. Nero Aditama adalah sulung keluarga Aditama, dia memiliki seorang adik laki-laki dari pernikahan kedua ayahnya. Ibu kandung Nero meninggal saat dia masih kecil. Sejak saat itu hubungannya dengan sang ayah menjadi tidak akur. Dan setelah beranjak dewasa Nero memilih untuk keluar dari rumah karena tidak tahan dengan perlakuan dari ibu tiri.

Setelah berdebat cukup panjang dan hanya kekalahan yang Nero dapat, pria itu lebih memilih pulang ke rumah. Meninggalkan pekerjaan yang sebenarnya masih menumpuk.

Di dalam mobil menuju rumah, Nero berpikir di mana dia bisa mendapatkan istri dalam waktu dua bulan. Sedangkan dia saja tidak pernah dekat dengan wanita mana pun. Hal itu karena Nero mengidap syndrom OCD dan membuatnya seperti anti pada wanita. OCD yang diidap Nero terjadi karena masa lalunya yang kelam.

OCD atau Obsessive Complusive Disorder merupakan gangguan mental yang menyebabkan penderitanya harus melakukan hal yang sama berulang-ulang. Jika tidak maka penderitanya akan diliputi rasa cemas dan ketakutan. Dan Nero adalah salah satu penderita itu, rumahnya harus dibersihkan lebih dari tiga kali sehari meski tidak ada aktivitas di dalamnya. Benda-benda juga harus selalu berada di tempatnya, Nero tidak segan memarahi pegawai di kantor atau pelayan di rumah jika tidak patuh pada aturan tersebut.

“Syarat itu pasti dari wanita itu.” Nero seperti bisa menebak bagaimana wanita yang menjadi ibu tirinya menghasut sang ayah agar perusahaan tidak jatuh ke tangannya.

Setelah sampai di rumah, Nero disambut oleh satu-satunya sahabat  Nero yang mengerti dengan apa yang terjadi padanya. Pria itu bernama Alton.

“Sejak kapan rumahku menjadi tempat penampungan?” Nero mengabaikan Alton yang tersenyum manis seperti seorang istri yang menyambut  suaminya pulang kerja.

“Ada apa dengan wajahmu?” Alton bertanya dengan nada heran.

“Aku harus menikah sebelum dua bulan.” Nero berkata tiba-tiba, dia duduk di sofa berwarna gelap setelah menyemprotnya dengan cairan anti kuman.

Alton hanya bisa menggelengkan kepala melihat apa yang Nero lakukan. Kini pria itu duduk di samping Nero.

“Menikah? Dua bulan?” tanya Alton.

“Kalau kau tidak bisa membantu, tidak usah banyak bertanya.” Nero membuang napas kasar.

“Aku banyak stok wanita kalau kau mau.” Alton mengeluarkan ponselnya, bermaksud untuk memilihkan salah satu wanita yang dia kenal.

“Wanita yang bekas kau pakai? Kau mau aku bunuh?”  Mata Nero memicing pada sahabatnya yang dijuluki buaya. Berbeda dengan Nero, jika Nero tidak pernah melibatkan wanita dalam hidupnya maka Alton adalah kebalikannya.

“Ah, itu .... Gadis yang waktu itu kau antar pulang. Kau masih ingat?” tanya Alton. Gadis itu adalah gadis pertama yang bisa naik mobil milik Nero.

“Gadis Bougenville No.12.” Nero berpikir sejenak, entah kenapa dia masih ingat dengan kejadian waktu itu.

“Baiklah, aku akan ke sana.” Sudah lebih dari setahun, apa yang terjadi pada gadis itu Nero tidak tahu, tetapi Nero akan mencobanya. Semoga tidak mengecewakan karena Nero juga menganggap gadis itu cukup menarik.

Bab 3

Suara gemericik air terdengar dari kamar mandi, menandakan ada aktivitas di dalamnya. Tidak lama kemudian, pria itu keluar dari kamar mandi dengan handuk yang hanya menutupi tubuh bagian bawah. Otot seperti roti sobek itu terlihat sempurna dilihat dari sisi manapun.

Nero menatap tubuhnya di cermin lalu masuk ke ruang ganti, memilih kemeja dan setelan jas. Tampak semua baju tersusun rapi sesuai warna. Tapi mata Nero menangkap sesuatu yang mengganggunya.

“Ck, siapa yang meletakkan ini!” Nero menajamkan matanya, kesal saat melihat baju berwarna putih tercampur di antara baju berwarna hitam. Dia mengambil baju itu lalu meletakkannnya di tempat semestinya.

Kini pria itu sudah berpakaian lengkap dengan kemeja putih dan dasi abu-abu gelap. Jas serta celana senada dengan warna dasi dan sepatu berwarna hitam yang menyilaukan mata. Setelah siap dengan dengan semuanya, Nero keluar dari kamar menuju ruang makan.

“Kau mau ke mana? Ke kantor atau ke rumah gadis itu?” Alton melirik Nero sekilas yang menurutnya seperti akan pergi ke pertemuan resmi.

“Apa yang kau lakukan di sini? Kau tidak punya rumah?” Nero menatap tajam Alton yang masih berada di rumahnya.

“Hei, semalaman aku bekerja, mencari informasi tentang gadis itu.” Alton protes, karena penyebab dia tidak pulang ke rumah adalah demi Nero.

“Lalu? Apa yang kau dapatkan?” Nero acuh, apa pun itu alasan dia menikah adalah perusahaan yang tidak  boleh jatuh ke tangan ibu tiri. Dia tidak akan mengizinkan apa yang telah diperjuangkan ayahnya harus jatuh ke tangan yang salah.

“Nama gadis itu adalah Leah Andini, di sini tertulis dia adalah lulusan terbaik di universitas xx, ayahnya adalah seorang manager di salah satu e-commerce dan ibunya ....” Alton menghentikan bicaranya, dia menatap Nero yang terlihat tidak mendengarkan.

“Hei, apa kau mendengarkan aku?” Alton melambai-lambaikan tangannya pada Nero.

“Jauhkan tanganmu dariku.” Nero mengoleskan selai cokelat ke roti lapisnya.

Pria itu menggelengkan kepala, karena Nero mengoleskan selai pada roti lapisnya dengan sempurna, tidak ada sedikit pun selai yang keluar dari garis edar.

“Kau lihat apa?” Nero mendelik saat melihat Alton menatapnya dengan tatapan aneh.

“Aku tidak tahu apakah akan ada wanita yang sanggup menghadapimu, Nero.” Alton ikut mengoleskan selai, tapi tidak sesempurna seperti apa yang dilakukan Nero. Bahkan sedikit selai menempel di piring dan berantakan pada pisau.

“Mataku sakit melihatnya,” celetuk Nero.

Alton acuh, dia tidak menghiraukan tatapan tajam dari Nero. Dua pria itu sarapan dengan gaya mereka masing-masing.

***

Bel rumah Leah berbunyi dua kali. Tetapi belum ada tanda-tanda akan dibuka oleh penghuni rumah.

“Tekan lagi belnya!” perintah Nero pada Alton.

Alton ingin protes tapi diturutinya perintah Nero. Tidak lama kemudian seorang pria membuka pintu, pria paruh baya itu menatap Nero dan Alton dari ujung kepala sampai ujung kaki.

“Cari siapa?” tanya pria itu.

“Maaf kak, ini benar rumah Leah kan? Apakah Leahnya ada atau orangtuanya?” tanya Alton pada pria yang membukakan pintu.

“Jadi namanya Leah,” bathin Nero. Padahal dia sudah diberitahu sebelumnya oleh Alton, ternyata Nero benar-benar  tidak mendengarkan tadi.

“Perasaan di sana tertulis bahwa Leah adalah anak tunggal dan belum menikah. Lalu siapa pria ini? Apa kami datang ke rumah yang salah?” tanya Alton dalam hati,. Dia celingukan tapi merasa benar saat melihat nomor rumah yang bertuliskan angka dua belas.

“Kenapa kalian mencari Leah? Siapa kalian?”

“Maaf tapi kakak ini siapanya Leah?” tanya Alton penasaran.

“Kakak? Aku ayahnya.” Pria yang tidak lain adalah ayah Leah itu tersenyum manis.

Alton terkejut, bagaimana bisa ayah dari seorang gadis 20an memiliki wajah semuda itu. Apa pria ini vampir yang masa tuanya berhenti di usia tertentu.

Nero tampak tidak peduli dengan percapakan antara Ayah Leah dan Alton. Dia malah sibuk memperhatikan sekeliling. Semua tampak rapi dan terlihat sempurna, bunga-bunga berjajar rapi sesuai warna. Tanpa Nero sadari dia tersenyum, satu hal yang sangat jarang terjadi. Ayah Leah seolah mengerti apa yang sedang Nero pikirkan.

“Itu susunan bunga istriku, dia tidak bisa diam saat pot-pot itu tidak tersusun sesuai warna, begitu juga bunganya. Dia tidak segan untuk menanam semua bunga itu agar pot berjajar sesuai warna,” ujar Ayah Leah.

Alton terkejut, jangan-jangan Ibu Leah juga mengidap syndrom yang sama seperti Nero.

“Maaf, aku tidak menyadari jika Ayah Leah masih sangat muda.” Alton tersenyum, karena menurut informasi pria di depannya ini sudah berusia lebih dari empat puluh tahun.

“Itu karena kami menikah muda.” Ayah Leah menangkap maksud dari ucapan Alton.

“Kalau begitu apakah Leah ada di rumah?” tanya Alton.

“Leah sedang membantu ibunya memasak di dapur. Ayo masuk.” Ayah Leah mempersilahkan dua pria itu masuk tanpa ada rasa curiga sedikit pun. Tapi Nero tak serta merta menuruti, lagi-lagi dia melihat sekeliling ruang tamu. Sofa minimalis berwarna dongker  tampak serasi dengan taplak meja warna senada.

Setelah mempersilahkan mereka duduk, Ayah Leah masuk ke dalam untuk menghampiri istri dan anaknya. “Bu, ada dua pria mencari Leah,” bisiknya pada sang istri.

“Kalian kenapa bisik-bisik begitu, sih?” Leah berusaha menajamkan indra pendengarannya namun dia tidak bisa mendengar  apa pun.

Sudah lebih dari setahun Leah sendiri, ini kali pertama ada pria yang datang ke rumah. Bukan karena tidak ada yang mencoba datang, tapi Leah melarang siapapun untuk datang setelah dia gagal menikah. Alasannya sederhana, selain tidak enak dengan tetangga, alasan lainnya adalah karena Ayah Leah yang posesif terkadang membuat peraturan yang membuat calon pacar kabur sebelum berperang. Hanya Kevin yang mampu bertahan dengan semua peraturan itu tapi pada akhirnya pernikahan itu tetap gagal.

“Leah, apa kau diam-diam punya pacar? Hayo, ngaku.” Ayah serius bertanya dengan nada menggoda.

“Tidak.” Leah menjawab tegas pertanyaan ayahnya. Hari-harinya hanya disibukkan dengan bekerja dan menghabiskan waktu di rumah, sesekali dia membantu katering ibu. Leah trauma dengan pernikahan dan tidak percaya dengan pria manapun kecuali ayahnya.

“Lalu siapa dua pria di luar?” tanya ayah.

“Siapa?” Leah malah balik bertanya.

“Ada dua pria tampan di luar yang mencarimu.” Ayah mematikan kompor, lalu menggandeng istri dan anaknya ke ruang tamu. Sekarang mereka mengintip di balik gorden.

“Aku tidak kenal mereka,” ucap Leah ketus.

“Ayah jangan sembarangan mengizinkan orang masuk dong. Mana tahu mereka berniat jahat,” kata Leah lagi.

“Firasat ayah mengatakan kalau mereka oreng baik.” Ayah berbicara sambil berbisik.

“Lihat jasnya, sepertinya dia bukan orang biasa,” Ibu menimpali.

“Ibu, modus penipuan bisa apa saja. Berpura-pura menjadi orang kaya juga bisa jadi salah satu modus penipuan.” Leah melihat kedua orang tuanya yang malah tampak terpesona saat melihat dua pria yang tidak dikenal itu.

Akhirnya ayah keluar dari persembunyian setelah sepakat untuk membiarkan Leah dan ibunya tetap mengintip di balik gorden.

“Maaf sebelumnya, sebagai kepala keluarga di rumah ini saya mau bertanya, apa maksud dari kedatangan kalian ke sini?” Ayah bertanya dengan serius.

“Saya hendak melamar Leah.” Nero tanpa basa-basi berbicara dengan nada tak kalah serius.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED