Bab 2

Kediaman Naren dan Tyas

Keesokan paginya, ketika Naren membuka jendela berukir kayu Jepara warna coklat muda di kamarnya, Tyas langsung tergagap bangun terkejut karena terpaan matahari yang langsung menerpa wajahnya. Dua tangannya langsung spontan menutupi wajahnya dari silaunya sinar matahari pagi.

"Sayang, hei ... ayo bangun. Sudah jam 9. Apa kau tak mau sarapan?" tanya Naren membangunkan sang istri yang masih bermalas-malasan di ranjang empuknya.

"Ahhhh, sebentar lagi, Mas. Mataku masih berat." Balas Tyas menarik selimutnya lagi.

"Hmmm, jadi begitu. Kau lebih memilih tetap tidur di atas kasur daripada menemaniku berolahraga dan berkenalan dengan para tetangga di komplek ini? Ya sudah kalau begitu. Tapi jangan marah ya kalau nanti aku belok ke rumah lain," goda Naren melirik sambil tersenyum kecil ke arah Tyas 

Dalam sekejap, dia langsung membuka selimutnya dan melirik tajam ke arah sang suami sambil mendengus dan memajukan bibirnya.

"Ini salahmu juga, tahu!" kesal Tyas sambil menahan malu.

"Lho, aku kenapa, Sayang?" tanya balik Naren tak kuasa ingin tertawa melihat rupa sang istri yang marah ketika bangun tidur 

"Itu ...." Tyas menggigit bibir bawahnya dan jemarinya memainkan selimut yang masih menutupi tubuhnya.

"Itu? Itu apa? Yang jelas donk kalau ngomong, Sayang," pancing Naren.

"Lagian kamu semalam kelewatan! Berapa kali coba, sampe aku mau nangis!" kesal bercampur malu Tyas dan langsung menutupi wajahnya dengan selimut.

Tak lagi dapat menahan tertawanya, Naren kali ini benar-benar tertawa lepas mendengar ucapan sang istri yang begitu polos dan lugu tambah ekspresi marah Tyas yang menggemaskan.

"Terus … terus aja ketawa! Seneng kan kamu liat aku menderita! Jahat kamu, Mas ...." Tyas melirik tajam sang suami seraya menggumam pelan dan terdengar suara sesenggukan layaknya orang yang sedang menangis.

"Sayang, hei, k-kamu kenapa? Kok nangis?” panik Naren melihat Tyas tiba-tiba menangis.

“Ga apa-apa, Mas. Cuma … cuma-” Tyas membenamkan wajahnya di antara lipatan kedua tangannya.

“Cuma apa? Sayang? Cuma apa?” desak Naren penasaran.

“K-kamu mantap banget ya di ranjang, bikin aku puas-” wajah Tyas kali ini benar-benar layaknya kepiting rebus dalam air mendidih.

Diam-diam, Naren pun tak bisa menutupi malu dan merah wajahnya. Sementara Tyas membenamkan diri dalam lipatan tangannya, sang suami malah salah tingkah dan berdiri sembari membetulkan celana training abu-abu miliknya.

"Mmm, gimana kalo kita olahraga sekarang? Selain bagus buat badan, juga bagus untuk di ranjang." Kelakar Naren langsung ditanggapi dengan dongakan kepala oleh Tyas dan berkata, "Kamu pagi-pagi udah ngomongin ranjang aja. Emang ga puas apa semalam? Masih kurang?" sedikit jengkel Tyas.

"Kalau urusan itu mana bisa aku puas-" Tawa Naren lebar.

"Massss-" ucap Tyas memajukan bibirnya.

"Haha, aku senang sekali menggodamu, Sayang. Jadi, gimana? Kita olahraga?" Naren mendekatkan wajahnya ke sang istri dan mencium mesra keningnya.

Tyas mana mungkin bisa menolak ajakan suami yang diikuti oleh kecupan manis di pagi hari. Dengan lincah, dia keluar dari selimutnya dan beranjak dari kasurnya.

"Kamu masih di sini, Mas? Ga keluar?" Tanya Tyas membuka lemari warna putih bergagang stainless di dekat meja rias kamar mereka.

"Lho, emangnya kenapa kalo aku di sini." Naren pura-pura bodoh.

"Aku mau ganti baju."

"Ya udah, ganti aja." Sahutnya sambil merapikan tempat tidur mereka.

Tyas diam. Dia menyorot tajam ke arah Naren yang masih sibuk dengan kasur mereka.

"Aku mau ganti baju, Mas. Katanya mau olahraga-" Tyas mulai jengkel.

"Ya udah, ganti aja. Gitu aja kok ribet, ya." Sahut lagi Naren enteng masih bergumul dengan bantal-guling mereka.

" Aku mau ganti baju, Maaaaaaaass-" antara gemas dan jengkel Tyas.

"Ish, kenapa masih malu-malu, sih. Kan aku udah liat semuanya, bersih, mulus, putih, tanpa noda." Naren tak hentinya tertawa.

"Massssss, ish! Kamu, tu ya! Maluuuu aku, udah ah, sana keluar! Hush … hush … hush!" Tyas mengibaskan tangannya 'mengusir' sang suami dari kamarnya.

"Iya … iya, aku keluar." Naren menggelengkan kepalanya sembari tersenyum melihat ekspresi wajah sang istri yang lucu di pagi hari.

Tyas hanya menggelengkan kepalanya sambil tertawa geli melihat kelakuan sang suami. Jemari panjang dengan kuku putih panjang terawat dengan baik mengambil celana olahraga pendek warna abu-abu dipadu padan dengan jaket hoodie warna senada tanpa dilapisi oleh baju lagi di dalam tubuh molek dan aduhai wanita yang mendapat julukan 'Miss Marilyn' itu.

***

Sementara itu, di lantai bawah, tampak kedua orang tua Sebastian Narendra Gunawan atau Naren tengah sarapan sambil sesekali diselingi percakapan keduanya. Sang ibu yang melihat putranya tampak sumringah memberi kode kedipan pada sang ayah yang tengah menikmati nasi goreng telur mata sapi setengah matang kesukaannya.

"Pagi, Bu, Ayah." Sapa Naren penuh senyum dan semangat langsung duduk dekat sang Ayah.

"Pagi, Sayang," sapa sang Ibu melihat anaknya tampak sumringah.

"Sepertinya malam kalian sangat membakar, ya semalam?” Gurau sang Ayah menyeruput kopi hitam di cangkir putihnya.

“Lumayan, Yah. Produk yang sering keluar negeri memang beda." Kelakar Naren langsung dipukul pelan oleh sang Ibu.

"Hush! Ngaco kamu ngomongnya! Nanti kalo Tyas sudah terbang lagi, baru tau rasa kamu!" Tunjuk sang Ibu menghentikan ocehan putranya.

"Selamat pagi, semuanya.”

Tyas yang turun dari tangga rumah tingkat tiga itu pun segera mendapat perhatian dari sang mertua dan sang suami. Bola mata ketiganya sedikit terbelalak melihat pakaian olahraga yang digunakan oleh Tyas yang cukup menggoda. Celana training pendek yang memamerkan paha ayam broiler yang segar, montok, putih bersih, dan menggugah selera bagi mata yang memandang, hoodie abu-abu, serta sepatu olahraga warna putih dengan tali sepatu pink yang memperlihatkan kaki kecil dan paha kecil kencang pemilik nama lengkap Pramudya Ayuningtyas.

Naren terus menatap sang istri yang menuruni tangga bak Miss Universe, pelan-pelan asal selamat, itulah yang dilakukan Tyas saat ini.

“Pagi, Ayah, Ibu.” Senyum wanita cantik itu dengan lip balm warna pink menempel di bibir seksinya.

“Pagi, Nan Tyas. Kamu mau olahraga? Cantik sekali.” Puji sang Ibu Mertua  tersenyum.

“Iya, Ayah sampai pangling ga ngenalin kamu tadi,” kelakar sang Ayah. 

Tyas hanya tersenyum malu dan mengalihkan pandangannya ke arah sang suami yang ternyata menatapnya dengan tatapan penuh birahi dan napsu yang jika diibaratkan layaknya anak kucing yang kelaparan.

“Anak kita memang tak salah pilih jodoh, ya, Bu.” Bisik sang Ayah terus memperhatikan sang menantu.

“Bu, Ayah, kami pergi dulu.” Ucap Naren meninggalkan meja makan.

Hati-hati dan jaga istrimu dengan baik Naren, jika tak ingin ada serigala berbulu domba yang akan mendekat.” Kelakar sang Ayah yang langsung mendapat cubitan kecil di pinggang sang kepala rumah tangga.

***

Sepanjang jalan lingkungan mereka tinggal, banyak pasang mata kaum adam yang memperhatikan sang istri. Naren yang merasa risih dengan tatapan genit dan liar dari kaumnya tanpa ragu merangkul bahu Tyas dengan lekat sambil mendongakkan kepalanya seolah ingin memberikan ‘peringatan’ pada siapa saja yang mendekat.

“Apa-apaan, sih, Mas! Malu tau!” Tyas berusaha melepaskan rangkulan sang suami.

“AKu ga rela mereka terus liatin kamu! Apa kamu ga liat mata liar mereka yang udah kaya serigala hutan?!” kesal Naren.

Tyas memperhatikan para lelaki yang ada di lingkungan mereka tinggal, berusaha untuk tersenyum ramah. “Kok kamu malah senyum-senyum, sih?”

“Senyum adalah ibadah!” sahut Tyas.

Naren yang sedang kesal melepaskan langsung rangkulannya dan meninggalkan sang istri sambil menggerutu layaknya anak kecil. 

“Hah, ngambek lagi-” keluh Tyas menarik napas panjang menggelengkan kepalanya.

“Aduh!”

“Eh, m-maaf. Anda tak apa-apa?” tanya Naren pada seorang wanita berkuncir kuda yang memakai hot training short warna pink dengan kaos putih ketat hingga menyembulkan dua gunungnya yang terjatuh duduk karena tak sengaja bertabrakan dengan Naren.

“Lihat-lihat donk, Mas kalau jalan!” Kesal wanita itu mengelus pinggulnya.

“I-iya, saya minta maaf, Mbak.”

Tyas segera menghampiri sang suami dan mengalungkan lengannya. “Mas, kamu ga apa-apa?” tanya sang istri khawatir.

“Enggak. Aku ga apa-apa. Tapi Mbak ini-”

Naren menunjuk wanita yang masih terduduk sambil mengeluh. Tatapan Tyas langsung berubah tajam dan ekspresi wajah masam. Ketika Naren ingin mengulurkan tangannya ke wanita malang itu, Tyas dengan kencang memegang lengan sang suami.

“Eh, kenapa? Ada apa?” tanya Naren bingung.

Tyas diam dan mengalihkan pandangannya ke wanita yang masih mengelus pinggulnya. “Mari, saya bantu!” Ucap Tyas mengulurkan tangan sebelah kanannya sementara tangan kirinya membantu wanita malang itu berdiri.

“Terima kasih, Mbak. Maaf, Mas, tadi saya yang salah karena ga liat-liat jalan.” Ucap wanita itu menatap Naren diikuti senyum manis.

‘Cantiknya-’ gumam Naren.

Tyas yang melihat tatapan sang suami bagai lampu bohlam yang baru dipasang, langsung mencubit kencang perut samping Naren hingga membuatnya meringis kesakitan. Sementara sang wanita yang ditabrak oleh Naren justru tersenyum tipis dan membuat Tyas semakin tak menyukai sang wanita ‘kecelakaan’ itu.

“Sudah, kan, Mbak. Kalau begitu, saya dan SUAMI permisi. Lain kali hati-hati kalau jalan, YA!” sindir Tyas menyorot tajam.

“Iya, Mbak. Sekali lagi saya minta maaf.” Wanita itu menundukkan kepalanya.

Tak perlu berlama-lama, Tyas dan Naren segera pergi meninggalkan wanita semok dan montok dengan segala kelebihannya itu. Namun, diam-diam mata Naren mulai nakal ke arah wanita yang tadi ditabraknya. Pura-pura memeriksa bagian yang sakit akibat tertabrak tadi, Naren memberikan senyuman pada wanita itu dan tanpa diduga, wanita itu melambaikan tangannya dan mengedipkan matanya pada Naren.

"Mas … Mas," sapa Tyas masih mengalungkan tangannya ke lengan sang suami.

"Ya, ada apa?" sahut Naren mulai kembali pada sang istri aslinya.

"Wanita tadi-" ragu Tyas.

"Wanita tadi? Wanita yang mana?" bingung Naren.

"Wanita yang Mas tabrak tanpa sengaja."

"Oh, iya. Kenapa dengan dia?" penasaran Naren.

"Seperti wanita gatal dan murahan juga binal!" 

"HAH?!"

Kediaman Sebastian dan Tyas

Keesokan paginya, ketika Naren membuka jendela berukir kayu Jepara warna coklat muda di kamarnya, Tyas langsung tergagap bangun terkejut karena terpaan matahari yang langsung menerpa wajahnya. Dua tangannya langsung spontan menutupi wajahnya dari silaunya sinar matahari pagi.

"Sayang, hei ... ayo bangun. Sudah jam 9. Apa kau tak mau sarapan?" tanya Naren membangunkan sang istri yang masih bermalas-malasan di ranjang empuknya.

"Ahhhh, sebentar lagi, Mas. Mataku masih berat." Balas Tyas menarik selimutnya lagi.

"Hmmm, jadi begitu. Kau lebih memilih tetap tidur di atas kasur daripada menemaniku berolahraga dan berkenalan dengan para tetangga di komplek ini? Ya sudah kalau begitu. Tapi jangan marah ya kalau nanti aku belok ke rumah lain," goda Naren melirik sambil tersenyum kecil ke arah Tyas 

Dalam sekejap, dia langsung membuka selimutnya dan melirik tajam ke arah sang suami sambil mendengus dan memajukan bibirnya.

"Ini salahmu juga, tahu!" kesal Tyas sambil menahan malu.

"Lho, aku kenapa, Sayang?" tanya balik Naren tak kuasa ingin tertawa melihat rupa sang istri yang marah ketika bangun tidur 

"Itu ...." Tyas menggigit bibir bawahnya dan jemarinya memainkan selimut yang masih menutupi tubuhnya.

"Itu? Itu apa? Yang jelas donk kalau ngomong, Sayang," pancing Naren.

"Lagian kamu semalam kelewatan! Berapa kali coba, sampe aku mau nangis!" kesal bercampur malu Tyas dan langsung menutupi wajahnya dengan selimut.

Tak lagi dapat menahan tertawanya, Naren kali ini benar-benar tertawa lepas mendengar ucapan sang istri yang begitu polos dan lugu tambah ekspresi marah Tyas yang menggemaskan.

"Terus … terus aja ketawa! Seneng kan kamu liat aku menderita! Jahat kamu, Mas ...." Tyas melirik tajam sang suami seraya menggumam pelan dan terdengar suara sesenggukan layaknya orang yang sedang menangis.

"Sayang, hei, k-kamu kenapa? Kok nangis?” panik Naren melihat Tyas tiba-tiba menangis.

“Ga apa-apa, Mas. Cuma … cuma-” Tyas membenamkan wajahnya di antara lipatan kedua tangannya.

“Cuma apa? Sayang? Cuma apa?” desak Naren penasaran.

“K-kamu mantap banget ya di ranjang, bikin aku puas-” wajah Tyas kali ini benar-benar layaknya kepiting rebus dalam air mendidih.

Diam-diam, Naren pun tak bisa menutupi malu dan merah wajahnya. Sementara Tyas membenamkan diri dalam lipatan tangannya, sang suami malah salah tingkah dan berdiri sembari membetulkan celana training abu-abu miliknya.

"Mmm, gimana kalo kita olahraga sekarang? Selain bagus buat badan, juga bagus untuk di ranjang." Kelakar Naren langsung ditanggapi dengan dongakan kepala oleh Tyas dan berkata, "Kamu pagi-pagi udah ngomongin ranjang aja. Emang ga puas apa semalam? Masih kurang?" sedikit jengkel Tyas.

"Kalau urusan itu mana bisa aku puas-" Tawa Naren lebar.

"Massss-" ucap Tyas memajukan bibirnya.

"Haha, aku senang sekali menggodamu, Sayang. Jadi, gimana? Kita olahraga?" Naren mendekatkan wajahnya ke sang istri dan mencium mesra keningnya.

Tyas mana mungkin bisa menolak ajakan suami yang diikuti oleh kecupan manis di pagi hari. Dengan lincah, dia keluar dari selimutnya dan beranjak dari kasurnya.

"Kamu masih di sini, Mas? Ga keluar?" Tanya Tyas membuka lemari warna putih bergagang stainless di dekat meja rias kamar mereka.

"Lho, emangnya kenapa kalo aku di sini." Naren pura-pura bodoh.

"Aku mau ganti baju."

"Ya udah, ganti aja." Sahutnya sambil merapikan tempat tidur mereka.

Tyas diam. Dia menyorot tajam ke arah Naren yang masih sibuk dengan kasur mereka.

"Aku mau ganti baju, Mas. Katanya mau olahraga-" Tyas mulai jengkel.

"Ya udah, ganti aja. Gitu aja kok ribet, ya." Sahut lagi Naren enteng masih bergumul dengan bantal-guling mereka.

" Aku mau ganti baju, Maaaaaaaass-" antara gemas dan jengkel Tyas.

"Ish, kenapa masih malu-malu, sih. Kan aku udah liat semuanya, bersih, mulus, putih, tanpa noda." Naren tak hentinya tertawa.

"Massssss, ish! Kamu, tu ya! Maluuuu aku, udah ah, sana keluar! Hush … hush … hush!" Tyas mengibaskan tangannya 'mengusir' sang suami dari kamarnya.

"Iya … iya, aku keluar." Naren menggelengkan kepalanya sembari tersenyum melihat ekspresi wajah sang istri yang lucu di pagi hari.

Tyas hanya menggelengkan kepalanya sambil tertawa geli melihat kelakuan sang suami. Jemari panjang dengan kuku putih panjang terawat dengan baik mengambil celana olahraga pendek warna abu-abu dipadu padan dengan jaket hoodie warna senada tanpa dilapisi oleh baju lagi di dalam tubuh molek dan aduhai wanita yang mendapat julukan 'Miss Marilyn' itu.

***

Sementara itu, di lantai bawah, tampak kedua orang tua Sebastian Narendra Gunawan atau Naren tengah sarapan sambil sesekali diselingi percakapan keduanya. Sang ibu yang melihat putranya tampak sumringah memberi kode kedipan pada sang ayah yang tengah menikmati nasi goreng telur mata sapi setengah matang kesukaannya.

"Pagi, Bu, Ayah." Sapa Naren penuh senyum dan semangat langsung duduk dekat sang Ayah.

"Pagi, Sayang," sapa sang Ibu melihat anaknya tampak sumringah.

"Sepertinya malam kalian sangat membakar, ya semalam?” Gurau sang Ayah menyeruput kopi hitam di cangkir putihnya.

“Lumayan, Yah. Produk yang sering keluar negeri memang beda." Kelakar Naren langsung dipukul pelan oleh sang Ibu.

"Hush! Ngaco kamu ngomongnya! Nanti kalo Tyas sudah terbang lagi, baru tau rasa kamu!" Tunjuk sang Ibu menghentikan ocehan putranya.

"Selamat pagi, semuanya.”

Tyas yang turun dari tangga rumah tingkat tiga itu pun segera mendapat perhatian dari sang mertua dan sang suami. Bola mata ketiganya sedikit terbelalak melihat pakaian olahraga yang digunakan oleh Tyas yang cukup menggoda. Celana training pendek yang memamerkan paha ayam broiler yang segar, montok, putih bersih, dan menggugah selera bagi mata yang memandang, hoodie abu-abu, serta sepatu olahraga warna putih dengan tali sepatu pink yang memperlihatkan kaki kecil dan paha kecil kencang pemilik nama lengkap Pramudya Ayuningtyas.

Naren terus menatap sang istri yang menuruni tangga bak Miss Universe, pelan-pelan asal selamat, itulah yang dilakukan Tyas saat ini.

“Pagi, Ayah, Ibu.” Senyum wanita cantik itu dengan lip balm warna pink menempel di bibir seksinya.

“Pagi, Nan Tyas. Kamu mau olahraga? Cantik sekali.” Puji sang Ibu Mertua  tersenyum.

“Iya, Ayah sampai pangling ga ngenalin kamu tadi,” kelakar sang Ayah. 

Tyas hanya tersenyum malu dan mengalihkan pandangannya ke arah sang suami yang ternyata menatapnya dengan tatapan penuh birahi dan napsu yang jika diibaratkan layaknya anak kucing yang kelaparan.

“Anak kita memang tak salah pilih jodoh, ya, Bu.” Bisik sang Ayah terus memperhatikan sang menantu.

“Bu, Ayah, kami pergi dulu.” Ucap Naren meninggalkan meja makan.

Hati-hati dan jaga istrimu dengan baik Naren, jika tak ingin ada serigala berbulu domba yang akan mendekat.” Kelakar sang Ayah yang langsung mendapat cubitan kecil di pinggang sang kepala rumah tangga.

***

Sepanjang jalan lingkungan mereka tinggal, banyak pasang mata kaum adam yang memperhatikan sang istri. Naren yang merasa risih dengan tatapan genit dan liar dari kaumnya tanpa ragu merangkul bahu Tyas dengan lekat sambil mendongakkan kepalanya seolah ingin memberikan ‘peringatan’ pada siapa saja yang mendekat.

“Apa-apaan, sih, Mas! Malu tau!” Tyas berusaha melepaskan rangkulan sang suami.

“AKu ga rela mereka terus liatin kamu! Apa kamu ga liat mata liar mereka yang udah kaya serigala hutan?!” kesal Naren.

Tyas memperhatikan para lelaki yang ada di lingkungan mereka tinggal, berusaha untuk tersenyum ramah. “Kok kamu malah senyum-senyum, sih?”

“Senyum adalah ibadah!” sahut Tyas.

Naren yang sedang kesal melepaskan langsung rangkulannya dan meninggalkan sang istri sambil menggerutu layaknya anak kecil. 

“Hah, ngambek lagi-” keluh Tyas menarik napas panjang menggelengkan kepalanya.

“Aduh!”

“Eh, m-maaf. Anda tak apa-apa?” tanya Naren pada seorang wanita berkuncir kuda yang memakai hot training short warna pink dengan kaos putih ketat hingga menyembulkan dua gunungnya yang terjatuh duduk karena tak sengaja bertabrakan dengan Naren.

“Lihat-lihat donk, Mas kalau jalan!” Kesal wanita itu mengelus pinggulnya.

“I-iya, saya minta maaf, Mbak.”

Tyas segera menghampiri sang suami dan mengalungkan lengannya. “Mas, kamu ga apa-apa?” tanya sang istri khawatir.

“Enggak. Aku ga apa-apa. Tapi Mbak ini-”

Naren menunjuk wanita yang masih terduduk sambil mengeluh. Tatapan Tyas langsung berubah tajam dan ekspresi wajah masam. Ketika Naren ingin mengulurkan tangannya ke wanita malang itu, Tyas dengan kencang memegang lengan sang suami.

“Eh, kenapa? Ada apa?” tanya Naren bingung.

Tyas diam dan mengalihkan pandangannya ke wanita yang masih mengelus pinggulnya. “Mari, saya bantu!” Ucap Tyas mengulurkan tangan sebelah kanannya sementara tangan kirinya membantu wanita malang itu berdiri.

“Terima kasih, Mbak. Maaf, Mas, tadi saya yang salah karena ga liat-liat jalan.” Ucap wanita itu menatap Naren diikuti senyum manis.

‘Cantiknya-’ gumam Naren.

Tyas yang melihat tatapan sang suami bagai lampu bohlam yang baru dipasang, langsung mencubit kencang perut samping Naren hingga membuatnya meringis kesakitan. Sementara sang wanita yang ditabrak oleh Naren justru tersenyum tipis dan membuat Tyas semakin tak menyukai sang wanita ‘kecelakaan’ itu.

“Sudah, kan, Mbak. Kalau begitu, saya dan SUAMI permisi. Lain kali hati-hati kalau jalan, YA!” sindir Tyas menyorot tajam.

“Iya, Mbak. Sekali lagi saya minta maaf.” Wanita itu menundukkan kepalanya.

Tak perlu berlama-lama, Tyas dan Naren segera pergi meninggalkan wanita semok dan montok dengan segala kelebihannya itu. Namun, diam-diam mata Naren mulai nakal ke arah wanita yang tadi ditabraknya. Pura-pura memeriksa bagian yang sakit akibat tertabrak tadi, Naren memberikan senyuman pada wanita itu dan tanpa diduga, wanita itu melambaikan tangannya dan mengedipkan matanya pada Naren.

"Mas … Mas," sapa Tyas masih mengalungkan tangannya ke lengan sang suami.

"Ya, ada apa?" sahut Naren mulai kembali pada sang istri aslinya.

"Wanita tadi-" ragu Tyas.

"Wanita tadi? Wanita yang mana?" bingung Naren.

"Wanita yang Mas tabrak tanpa sengaja."

"Oh, iya. Kenapa dengan dia?" penasaran Naren.

"Seperti wanita gatal dan murahan juga binal!" 

"HAH?!"

Bab 3

Namanya Tante Vina, tetangga baru yang rumahnya tak jauh dari rumah si pengantin baru yang sedang panas-panasnya. Siapa lagi kalau bukan Naren dan Tyas. Paras yang elok bak Venna Melinda, Senyum yang menghipnotis mata lelaki, dada dan bokong yang penuh berisi, mata laki-laki mana yang akan melewatkan kesempatan emas ini? Apalagi jika si tante sudah pakai kaos putih ketat plus short pants! Jangankan yang keningnya muda, yang keningnya berkerut pun akan serasa kembali muda.

Pagi itu, seperti biasa, Naren hendak pergi ke kantornya. Meskipun dia adalah pemilik perusahaan besar dan ternama, karena didikan orang tuanya yang seperti militer, Naren telah terbiasa berangkat lebih awal ke kantor. Setelah pamit dengan kedua orang tuanya dan mencium pipi kanan-kiri sang istri, Naren mulai menyalakan mesin mobilnya dan berlalu dari hadapan sang istri.

Tak lama, beberapa meter dari rumahnya, dia melihat seorang wanita dengan pakaian olahraga sedang senam di depan rumah yang Naren tahu rumah itu sedang mencari pemilik baru. Wanita dengan rambut yang dikuncir kuda dan pakaian senam model bra ketat warna putih susu itu otomatis menarik mata dan syahwat Naren, apalagi setelah dia tak sengaja melihat dada mengkel di balik bra ketat sang tante dan paha mulus putih licin bak ubin yang habis di pel.

'Alamak!!! Siapa tuh cewek? Bohay amat!' gumam Naren yang tak pernah lepas dari spion mobilnya melihat lekuk tubuh sang tante.

Tante Vina bukannya tak tahu jika ia sedang diperhatikan oleh Naren. Dia hanya jual mahal, maklum, dulunya Tante Vina adalah mantan istri seorang CEO bule yang punya beberapa perusahaan di Indonesia, namun sayang, sang suami ternyata pria yang suka celap-celup dan tanam sperma ke banyak wanita. Bosan dan jijik dengan kelakuan sang suami, Tante Vina memutuskan untuk minta cerai dan harta gono-gini pada sang suami. Karena ber-status sebagai CEO, sang mantan suami tak ingin repot mengurusi hal seperti itu, dia mengiyakan dan memberikan setengah dari jumlah kekayaannya pada sang mantan istri. Walhasil, Tante Vina kini menjadi janda terkaya dan sempat populer di sosial media.

'Hmmm, rupanya ada brondong yang caem juga di komplek ini.' Tante Vina memamerkan deretan gigi putihnya.

Naren masih memikirkan tentang wanita yang memakai baju olahraga seksi yang tadi pagi ia temui. Entah kenapa alam liarnya terus saja berimajinasi liar seolah sang wanita tengah di dekatnya dan memainkan tiap jemarinya di tubuh padat Naren.

"Ah, enaknya ... ya, di sana! Tepat sekali! Kau memang pintar memainkan jari-jarimu-"

KLIK!

"Pak."

Naren yang tengah asik memainkan jarinya seraya memainkan imajinasinya langsung kaget setelah Asri, sekretaris pribadinya masuk.

"Kamu, ya! Masuk ga pake ketok-ketok dulu! Apa kamu ga pernah diajari sopan santun!" kesal Naren buru-buru membersihkan jari-jarinya.

"Lha, Bapak yang dari tadi ga dengar. Saya sudah berkali-kali ngetok, tapi ga dijawab-"

"Kamu, ni, jawab aja kalo saya lagi ngomong." Naren memajukan mulutnya saat menghadapi Asri, sekretaris berusia 35 tahun dan janda anak satu.

"Lha, Bapak kan-"

"Iya ... iya, tahu! Terus, ada apa kamu ke sini?"

"Ini, Pak. Ada Undangan dari Tuan Erick, itu pengusaha properti dari Jakarta yang mau kerjasama dengan mebel kita."

"Erick?" Naren menaikkan alisnya sebelah.

"Saya taruh di sini, nanti bisa Bapak baca sendiri." Asri meletakkan undangan warna putih dengan tulisan tinta kuning emas berbalut pita kuning tepat di depan Naren.

"Hmm, taruh aja di sana. Nanti aku baca." Naren menganggukkan kepalanya.

Tak lama setelah Asri keluar ruangan Naren, pria itu melirik undangan yang ada di depan matanya sambil menggumam, "Ganggu orang aja, sih! Lagi enak-enak juga! Hhhh, buyar kan, imajinasinya. Ada-ada aja-"

Tak lama, Naren mendengar ponselnya berdering dengan backsong khusus dan segera pria itu tahu siapa yang meneleponnya. Dengan cepat, jemarinya meraih ponsel di dalam saku celananya dan tersenyum sumringah saat menerima telepon tersebut.

"Halo, Sayang. Iya, aku udah sampe kantor, maaf ya tadi ga langsung ngabarin. Habis langsung meeting."

[Oh, gitu, ga apa-apa, Mas. Aku khawatir banget kamu kenapa-kenapa di jalan.]

"Jangan lebay, deh, Sayang. Kan jarak dari kantor ke rumah cuma satu jam."

[Tapi, kan Mas biarpun satu jam-]

"Sayang, udah dulu, ya. Mas masih banyak kerjaan, Nanti sambung lagi. Luv you. Yang akur, ya di rumah."

[Ih, kamu. Emang Tom and Jerry apa. Ya udah, met kerja ya, Sayang.]

Ternyata, sang istri tercinta yang sedang 'meneror' kabar dari Naren karena tak memberinya kabar. Setelah selesai menelepon, Naren yang ternyata mulai jago berkelit dari sang istri seksinya mulai membuka laptop pribadinya. Iseng-iseng berhadiah, jemari panjang tak terlalu besar miliknya menjelajah salah satu web penyedia berita gosip dan tak sengaja melihat paras wanita yang tadi ia lihat sewaktu akan berangkat ke kantor.

"Eh, bukannya ini wanita yang tadi aku lihat di deket rumah?" pikirnya dan rasa penasaran akan wanita berparas cantik dengan body aduhai itu langsung menggebrak naluri laki-lakinya untuk segera mencari tahu.

Tak perlu menunggu lama, Naren segera mengetahui nama asli, alamat lengkap, tanggal lahir, hobi, bahkan sampai pasangan pun begitu jelas terpampang di layar datar laptop-nya.

"Oh, jadi namanya Raquela Vina Anandita. Hmm, cantik juga sesuai orangnya-" tanpa sadar Naren kelepasan bicara. "Haiya, ngomong apa sih, aku ini! Naren, ayolah! Belum ada sebulan kamu nikah, masa iya udah mau balik lagi kaya dulu! Istri yang sekarang kan yahud binti oke binti seksi binti gemoy! Masa iya mau kamu tinggalin!" ucapnya pada dirinya sendiri.

Namun, naluri dan hasrat Naren yang memang 'gatal' akan paha mulus dan wajah bak wajan licin dan baru tak dapat ditahannya. Kecepatan tangan dan matanya mengalahkan pikiran sehat laki-laki yang sedang berada di puncak birahinya itu. Dengan cepat, Naren menyelidiki kehidupan sang wanita bernama Raquela Vina Anandita dan mendapati jika dia adalah janda dari seorang pengusaha asal negeri seberang yang ditinggal setelah mendapati suaminya berselingkuh dengan sekretarisnya.

"Ckckckck, malang benar hidup wanita ini. Masih muda, cantik, seksi, kulitnya kencang dan bersih, eh, malah ditinggal nikah lagi. Bego banget, sih itu suami eh mantan suaminya! Kok aku yang kesal, ya." Naren segera memfokuskan kembali matanya pada wanita itu. Bibir dan mata Naren tak berhenti bergerak! Saking fokusnya, dia sampai tak mendengar bunyi ketukan pintu ruangannya yang diketuk beberapa kali.

"Gila ... gila! Ni janda tajir melintir amat! Auto sultan kalo kaya gini, mah!" Naren menahan nafasnya sejenak ketika tahu jumlah total kekayaan yang dimiliki oleh Raquela Vina Anandita. "Ini mah pendapatan bersih perusahaanku selama satu tahun! Bener-bener wanita yang luar biasa!" Naren tak henti-hentinya menunjukkan decak kagum pada wanita yang berfoto mengenakan gaun mini hitam ketat hingga membentuk tubuhnya.

'Wanita seperti Vina ini jika saja aku bisa dekat dengannya dan menjadi investor di perusahaanku-' Naren mengusap-usap dagunya sembari tersenyum.

"Sepertinya aku harus mulai pendekatan dengan wanita hoki ini! Siapa tahu, aku bisa ketularan hokinya." Seringai Naren dengan segala pikiran liarnya.

'Betapa beruntungnya hidupku bisa satu komplek dengan janda terkaya saat ini. Sekali merengkuh, dua tiga pulau apa akan kudapat?' Naren mulai berpikir macam-macam

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED