Bab 2

Gilda menatap dirinya di depan kaca, setelah beberapa menit memberikan sedikit touch up di wajah. Gadis itu mengangguk yakin,“Oke, sudah selesai!" ujarnya senang, touch up yang Ia maksud di sini bukan menambahkan eyeshadow, memastikan bulu mata panjang tak lepas, atau menebalkan lipstick dengan warna merah menyala.

No, no! Gilda bukan gadis bertipe bedak tebal seperti semua teman-teman di kelasnya. Dia cenderung menjadi gadis yang sedikit tomboy tapi masih tetap menjaga wajahnya agar tetap kinclong. Menuruni wajah ayah dan sang ibu yang bebas tanpa jerawat, Gilda tidak perlu susah-susah dong merawat diri dengan banyak obat. Cukup menggunakan masker setiap malam dan cream tidur saja.

Salah satu jebakan yang sering Ia buat hanya untuk mengerjai suaminya. Sengaja memakai krim malam dari wajah sampai leher. Jadi saat laki-laki mesum itu dengan sengaja mengincar bagian leher, Gilda langsung tertawa begitu melihat Alan nampak memasang wajah kecut.

Ya pasti pahit! Teringat itu kembali, Gilda menahan tawanya. Menepuk pipi beberapa kali, tidak menyadari tiga orang gadis masuk ke dalam kamar mandi kompak.

Mereka saling bertatapan selama beberapa saat, Gilda mengerjap. Hampir mengumpat begitu tahu bahwa kelompok itu merupakan penggemar berat suaminya sendiri.

Oh, perlu Gilda bilang sekali lagi? Alan Sandika Restu, laki-laki tampan berusia 27 tahun, tegap tubuh sempurna dan wajah bak model-model terkenal yang hampir membuat semua gadis di sekolahnya kepanasan. Menantang dan menggoda. Bekerja sebagai seorang Guru professional dengan kemampuan di atas super rata-rata alias segala bidang bisa Ia kuasai.

Pernikahan mereka yang disembunyikan sampai Gilda lulus SMA, karena Alan yang sangat ingin menikahi Gilda karena atas dasar cemburu saja. Gilda sendiri juga tidak masalah, karena mereka memang sudah mengenal sejak dulu, mengira bahwa cintanya bertepuk sebelah tangan dan ternyata tidak sama sekali!

Bisa Gilda lihat gadis dengan rambut sengaja dicat pirang kehitaman, tubuh ramping dan tinggi melebihinya. Idola kelas, merangkap sebagai ketua grup penggemar Guru Alan Forever Love Oppa nampak bersolek dengan sombong.

Stefanie Ranjana, tidak seperti Gilda yang tomboy, gadis cantik itu sangat cocok dibilang model, make up yang digunakan pun tidak tanggung-tanggung, lihatlah kulit putihnya yang berkilat. Hampir saja Gilda terpesona.

"Ah, Gilda, ternyata kau ada di sini! Sedang apa?" Mengubah pandangan tajam dengan tatapan super teduh, menghampiri Gilda. Stefa tersenyum manis, memperagakan gaya super anggun, membuat Gilda nampak ciut di mata semua anggotanya.

Gilda mengerucutkan bibir, menaikkan alis sekilas, “Tentu saja buang air besar. Kau mau lihat hasil ciptaanku di sana? Tuh,” Asal ceplas-ceplos semua gadis di depan gadis itu langsung menatap jijik. Begitu juga Stefa, hampir kehilangan wajah anggunnya. Gilda tertawa keras dalam hati, tentu saja dia kesal.

Melihat anak secantik dan seramping Stefa harus menjadi rivalnya, yah walaupun Gilda sendiri sudah menikah dengan Alan, tapi tetap saja 'kan bumbu-bumbu cemburu dalam hatinya akan terus ada. Apalagi mengingat bagaimana Stefa dan semua gadis selalu berusaha mendekati suaminya dengan berbagi cara.

“Astaga, bahasamu Gilda.” Stefa pura-pura terkejut, dengan wajah memerah. Gilda menggeleng kecil, “Aku bercanda, nih sekarang ‘kan mau ada acara pemotretan untuk buku alumni, aku hanya merapikan make up saja.” ujarnya cepat.

“Merapikan make up? Lho kukira sejak awal kau tidak menggunakan make up sama sekali, Gilda. Khaha, pasti aku salah lihat, maaf ya.”

Sebuah kedutan penuh emosi muncul di kening Gilda, merasa dongkol karena harus menatap wajah Stefa, semua tawa tertuju ke arahnya. Mendengus kecil, berjalan melewati ketiga orang itu, satu kalimat Stefa selanjutnya ternyata mampu membuat Gilda berhenti bergerak.

“Ngomong-ngomong hari ini karena photographer yang disewa kepala sekolah untuk kelas kita tidak bisa datang, kalian tahu siapa penggantinya?” Stefa berjalan, dengan kotak make up khusus yang dibawa satu temannya. Berdiri tepat di depan kaca, memulai kegiatannya.

“Eh, siapa?” sahut salah seorang gadis lagi.

“Siapa lagi yang bisa membuatku berdandan sempurna hari ini,”

“Ohh, aku tahu!! Pasti pangeran kita ‘kan??! Darimana kau dapat informasinya?”

“Tentu saja dari ayahku, 'kan orangtuaku penyumbang terbesar di sekolah ini.”

Alis Gilda tertekuk bingung, menelengkan wajah sekilas. Memilih untuk berjalan meninggalkan kamar mandi, sebelum ekor matanya melirik ke arah Stefanie lagi. “Aku harus terlihat cantik di depan Pak Alan, dong. Siapa tahu kalau dia melihat wajahku lebih lama, Pak Alan bisa jatuh cinta,”

Satu ucapan yang membuat emosi Gilda makin mencuat. Salah satu tangannya mengepal, hampir saja dia mengeluarkan tenaga gorillanya. Memukul dan menjahit bibir gadis sok cantik itu.

Tapi kenapa Alan sama sekali tidak memberitahu kemarin malam?

Ah, Gilda baru ingat. Laki-laki itu ngambek karena Gilda dengan jahilnya mengoleskan krim tidur super pahit di leher, ohhh pantas saja.

***

Haruskah Gilda gugup? Karena yang mengambil fotonya adalah sang suami sendiri. Berdiri dan menunggu di ruang pemotretan dengan beberapa temannya.

“Astaga, lihat wajah Pak Alan yang tampannya bikin meninggal, aduh.” Salah satu temannya yang super berisik. Aliya, gadis berambut pendek itu tidak henti-hentinya memainkan handphone, menangkap tiap gerakan yang dilakukan Alan. Sementara Gilda,

wajahnya tertekuk tak suka, saat giliran Stefa datang. Gadis itu dengan sengaja mengeluarkan senyum menawan, tepat memandang Alan. Mereka saling tatap, selama beberapa menit. Dengan sengaja Stefa menanyakan gaya apa yang harus Ia buat.

“Pak, apa sudah cukup seperti ini?”

Pandangan Alan masih tertuju ke arah Stefa dan kameranya, mengambil posisi yang tepat, alis laki-laki itu terangkat sekilas. “Hm, make upmu terlalu tebal, Stefanie.” Satu ucapan Alan, sanggup membuat tawa Gilda lepas begitu saja.

“Khahaa!” Merasakan sikut tangan Aliya, Gilda menutup bibirnya cepat.

Sementara Stefa sudah memerah malu, menahan diri agar tidak meledak. Gadis itu tetap tersenyum, menyampirkan rambutnya ke belakang telinga, “Bapak tidak suka?” Tanpa aba-aba menanyakan hal itu. Bibir Gilda hampir jatuh.

Alan menghela napas panjang, melirik sekilas ke arah Gilda. Melihat bagaimana gadis itu nampak mengerucutkan bibir, sangat manis dan lucu. Sebuah ide tiba-tiba muncul dalam pikirannya, laki-laki itu tersenyum tipis.

“Bapak lebih suka kalau kau menurunkan sedikit kadar make upmu, oke?” ujarnya lembut, sebuah saran yang membuat Stefa malah memerah senang. Ia mengangguk semangat, “Baik, Pak. Besok saya akan pakai make up natural saja!”

Satu ucapan yang sanggup membuat Gilda menekuk wajah kesal, lagi-lagi Alan membuatnya cemburu. Sosok yang sangat jahil, padahal baru beberapa hari dia ngambek dan pulang ke rumah ayah, ibu!!

Alan sialan!

***

Gilda masih menekuk wajahnya, kali ini Alan malah membuatnya makin kesal. Masuk ke dalam gilirannya, saat Stefa hanya perlu mengambil satu kali foto, ah bahkan semua teman-teman! Tapi di sini dia?!

“Hm, masih ada yang kurang, Coba senyumnya lebih ditarik lagi, Gilda.” Alan memberikan perintah pada Gilda, memintanya untuk tersenyum. Gilda sudah berusaha keras!

“Saya sudah senyum dri tadi, Pak!”

“Oke, coba ya.” Satu foto berhasil diambil, Alan memperhatikannya dengan senang. ‘Oke, satu koleksi lagi,’ Dia masih belum puas. “Hm, coba rambutnya dibawa ke depan, ulang lagi ya.”

Melongo bingung, “Lho, Pak. 'Kan-” Belum sempat bicara, “Ayo, satu-dua-tiga,” Kilatan kamera itu kembali mengambil wajah Gilda, bahkan berkali-kali. Saat Ia mengerucut kesal, tersenyum, nampak malu, wajah bingung, dan manis. Semua tertangkap jelas.

Alan menyeringai tipis, “Hm, sepertinya kurang. Coba senyum lagi sekali,”

Oke, Alan sudah memintanya mengulang hampir lima kali! Gilda kesal!! Tidak tahu 'kah kalau dia masih cemburu?!

Alan malah menjahilinya. Bahkan Gilda bisa melihat bagaimana wajah tampan itu menyeringai, “Ayo lagi sekali,”

‘Kalau memang bapak minta foto lagi, kau jual aku beli!!’ batin Gilda, saat hanya ada dirinya dan Alan, dengan posisi mereka yang berdekatan, melirik ke samping kiri dan kanan. Memastikan semua posisi aman.

Sebuah ide jahil muncul tiba-tiba, berniat membalas tingkah Alan. Saat kamera berniat mengambil wajahnya kembali, pandangan Alan terfokus menatap wajah Gilda.

“Satu-dua-tiga-uhuk!!”

Kilatan kamera muncul, diiringi laki-laki itu yang tengah terbatuk hebat, hampir menahan napasnya. Wajah tampan dan keren tadi sempat goyah, apa yang Gilda tampilkan hanya padanya. Saat kamera mengambil wajah manis istrinya.

Tidak menyangka bahwa bukan memperlihatkan senyuman manis, wajah kesal dan cemberut. Gadis itu malah menggigit bibir bawahnya?! Memasang wajah nakal dengan sengaja, rona merah di pipi mendukung kecantikannya. Seolah menginginkan sesuatu dari Alan.

Ia reflek meneguk ludah tanpa sadar, mengerjap beberapa saat, ‘Shit,’ umpatan itu keluar, begitu melirik ke arah bagian bawahnya yang perlahan membesar. Jantung Alan berdebar, napas itu mulai terganggu, kedua maniknya terangkat, menatap Gilda yang masih diam di tempat.

Memasang wajah polos, mengerjap beberapa kali. “Kenapa, Pak? Bagian saya sudah selesai? Atau masih mau yang lain lagi?” Menanyakan dengan kalimat ambigu. Betapa inginnya Alan berlari dan menculik tubuh mungil itu.

Menyeringai tipis, apa Gilda berpikir dia akan kalah? Mematikan kameranya, setelah giliran terakhir Gilda selesai. Sembari membawa kamera kebanggaannya, laki-laki itu berjalan, mendekati gadis yang kini berdiri hendak kembali ke tempat teman-temannya.

Tepat saat mereka berpapasan, suara kecil Alan terdengar, hanya Gilda yang bisa menangkap suara itu. Penuh nada serak dan berat, merasakan sesuatu menggelitiki bagian lehernya. Gilda mengerjap polos, menengadah menatap sang guru.

“Kita lanjutkan lagi nanti.” Satu ucapan singkat, dan tatapan menggelap Alan.

Gilda tahu apa artinya. Tubuh laki-laki itu berjalan mendahului, keluar dari ruang pemotretan, dengan berbagai arti dalam kalimatnya. Meninggalkan Gilda dengan wajah horror. Meneguk ludah berulang kali. ‘Apa aku terlalu keterlaluan tadi?’ Astaga!'

Jangan bilang gara-gara dia berusaha menjahili Alan. Gilda justru jatuh ke dalam perangkapnya sendiri?!!

Bab 3

Jika kalian menanyakan, sebenarnya apa cikal bakal seorang Gilda Safara bisa menikah dengan Alan Sandika Restu, dimana perbedaan umur mereka berdua itu terpaut cukup jauh yaitu sepuluh tahun. Jika sosok tampan Alan selama ini selalu menjadi pujaan semua guru dan wanita di lingkungannya, kenapa dia mau menikahi seorang gadis remaja yang bahkan belum tahu tentang masalah ini dan itu?

Patut dipertanyakan? Apakah Gilda menggunakan santet mujarab sehingga Alan bisa jatuh cinta pada gadis itu? Oh, bukan-bukan, Gilda tidak selevel jika dia harus menggunakan pelet dan santet. Kalau dengan pesona indahnya saja, Alan pasti akan klepek-klepek.

Kita coba mundurkan waktu beberapa bulan lalu-ah bukan bagaimana kalau kita mundurkan secara ekstrim. Mengungkap aib Gilda terbuka tanpa kebohongan.

***

Flashback On

Sepuluh tahun lalu

“Menikahlah denganku!!” Suara cempreng itu berteriak kencang, memegang setangkai bunga dan berlutut dengan gaya pangeran dan mata berbinar. Wajah manisnya seolah menampakkan wajah serius, di usia yang belum melewati angka sepuluh. Ingus setengah meler di hidung karena baru sembuh dari pileknya beberapa hari lalu.

Tidak memperhatikan kondisi mereka, keteguhan gadis kecil itu tidak ada yang bisa menghalangi. Menatap sosok pemuda remaja berusia tujuh belas tahun, bagaimana tubuh tegap itu perlahan teralih menatap sang gadis kecil, dengan kedua manik tajam dan wajah tertekuk kesal.

“Kau tidak bisa membaca situasi ya?” Suara pemuda remaja itu seolah tersinggung, sementara gadis kecil di seberang sana hanya mengerjap polos. “Situasi apa, kak?” Bertanya balik, membuat sang pemuda tampan mengernyit makin kesal.

Salah satu tangannya yang masih menggenggam sesuatu makin mencengkram keras, “Uagh!! Leherku sakit!” Suara erang kesakitan seseorang menyadarkan gadis kecil tadi. Manik itu mengerjap dan bibirnya menganga sedetik kemudian.

“U-uwa?” Setengah tak percaya, bukan takut ataupun pucat pasi. Gadis itu malah menganga kagum, maniknya berbinar. Menatap sosok remaja tampan yang Ia sukai sekarang tengah berdiri gagah, salah satu tangan terangkat mencengkram kerah baju pemuda lain. Beberapa orang bahkan sudah jatuh pingsan di sekitar laki-laki itu. Wajah mereka babak belur,

“Kh, lepaskan tanganmu, sialan!!”

Mengalihkan perhatian sang pemuda, menatap mangsanya sekali lagi, dengan seringai lebar, “Oh, maaf aku melupakanmu.” Kali ini mengepalkan tangan sekuat mungkin, satu pukulan melayang cepat. Mengenai tepat ke arah pipi laki-laki di depannya, efek slowmotion bagaimana wajah itu nampak menikmati setiap pukulan.

Alan Sandika Restu menyeringai puas. “Baiklah, semua selesai.” Melepaskan cengkramannya, berdiri diantara remaja-remaja sekolah lain yang berani menyerang dia sepulang sekolah. Sangat pengecut karena mengajak banyak orang sementara dia sendiri di sini.

Tapi lihatlah hasilnya sekarang? Siapa yang kalah dan siapa yang menang? Alan mendengus bangga. Merenggangkan anggota tubuh yang sedikit kaku, berjalan melewati tumpukan badan di sekitarnya. Tepat ke arah Gilda Safara.

Gadis kecil dengan binar dan senyuman kagum, mereka saling berhadapan. Alan menekuk kedua tangan di depan dada, menaikkan alis bingung. Aneh, bagaimana mungkin Gilda tidak pernah takut melihatnya dalam kondisi seperti ini?

Jika semua teman perempuan sebaya dengan Alan akan menangis kencang dan ketakutan jika bertemu dengannya. ‘Hm, apa karena dia belum tahu apa-apa tentang hal seperti ini?’ Pikir laki-laki itu bingung.  

“Coba kau katakan lagi, aku tidak dengar tadi.” Sengaja menajamkan suara agar Gilda takut, tapi gadis tujuh tahun itu seolah makin semangat. Menunjukkan satu tangkai bunga lagi, “Menikahlah dengan Gilda, kak Alan!!”

Hanya karena kedua orangtua mereka dekat dan Alan sudah sering diminta menjaga Gilda sejak kecil. Mendengar kata menikah dari Gilda, membuat Alan pusing. Dia bukan seorang pedofil yang suka dengan anak-anak.

“Siapa yang mengajarimu bahasa seperti itu?” Menaikkan alis kesal. Gilda menatap polos. “Kata teman-teman kalau kita suka dengan seseorang, kita harus mengajaknya menikah! Seperti ayah dan ibu!” ujarnya polos.

Alan melengos, mengendikkan bahu berjalan melewati Gilda. “Kau terlalu bodoh,” dengusnya pelan. Membiarkan Gilda berbalik dan mengikuti di belakang. “Kak Alan, nikah sama Gilda yuk? Nanti Gilda buatkan rumah yang besar!” Ucapan yang sangat polos, hampir membuat Alan jatuh tersandung batu.

Hampir saja tertawa, melihat matahari mulai turun, sebentar lagi malam datang. “Hh, darimana kau dapat uang kalau sampai sekarang saja masih suka merengek kalau tidak dibelikan es krim?”

Gilda mendengus bangga, berlari tepat sejajar dengan Alan, “Tenang saja! Gilda, akan tanggung jawab dan kumpulin uang yang banyak!” Kali ini makin berlari mendahului Alan. Kembali berdiri memberikan bunga lagi. “Karena itu menikah-lah dengan Gilda! Akan Gilda rawat anak-anak kita!”

Nyaris tersedak, alis Alan mengkerut, “Ajaran siapa lagi itu?! Memang kau tahu anak keluarnya darimana?!”

Gilda diam, bengong memikirkan kalimat Alan. Sok pintar, sampai akhirnya Ia mengangguk yakin. Menunjukkan jempolnya pada Alan, “Karena melahirkan kata teman-teman itu sakit sekali, jadi semua kuserahkan pada, Kak Alan! Biar Kak Alan saja yang melahirkan, oke?!” Bangga menjawab pertanyaan Alan.

Alan sudah tidak bisa menahan tawanya lagi, wajah garang dan kesalnya hilang begitu saja. Digantikan tawa keras, membungkukkan tubuh, “Khahaha! Kau benar-benar tidak tahu, tapi sudah asal minta menikah!”

Tertawa selama beberapa menit, Gilda menatap bingung, “Kak Alan, mau 'kan menikah dengan Gilda?” tanya gadis kecil itu lagi.

Alan hanya bisa tertawa dan mengangguk kecil, menegapkan tubuh kembali, “Kita lihat dulu,” Mengambil bunga di tangan Gilda, mencium aroma semerbak setiap helainya. Sosok dengan sebutan monster merah sekolah Angkasa itu tersenyum tipis. Mengacak rambut Gilda gemas.

“Kalau Gilda sudah besar nanti, jika kakak kalah. Kakak tidak akan segan-segan melamarmu,”

Tidak mengerti perkataan Alan, Gilda berlari mengikuti langkah pemuda itu. “Itu artinya kakak mau menikah ‘kan dengan Gilda?!” Tersenyum bahagia, hampir berjingkrak. Alan mendengus sekilas.

“Tentu saja, tapi kita lihat umurmu nanti,”Alan menatap Gilda, manik polos yang mengerjap bingung, “Umur, Gilda?”

Menatap ke depan, dengan helaan napas panjang, “Kalau umurmu 40 tahun nanti dan kakak baru merasakan cemburu, mungkin kakak akan melamarmu. Yah, kita lihat saja. Semoga saja kau bisa berhasil membuat kakak tampanmu ini cemburu,” Merasa yakin bahwa Alan tidak mungkin bisa menyukai Gilda. Secara gadis dengan ingus meler ini sama sekali tidak membuatnya jatuh cinta. Apalagi umur mereka terpaut jauh. Pesona Gilda jauh beda dengan semua perempuan yang Ia temui. Level mereka berbeda.

“Kalau kakak sudah terlanjur menikah dengan orang lain nanti dan tidak bisa jatuh cinta pada Gilda juga, jangan salahkan kakak, oke?” lanjut Alan setengah jahil.

“Ha??” Gilda tidak paham sama sekali. Bibirnya melongo bingung. Apa maksudnya?

Flashback End

***

Mei-

Beberapa bulan lalu sebelum pernikahan

Bagaikan termakan omongannya sendiri, Alan melihat sosok Gilda di belakang taman sekolah, tidak hanya sendiri melainkan bersama seorang laki-laki seusia gadis itu. Mereka berdua saja, melihat pipi memerah di pipi sang Safara.

“E-eh?! Pak Alan?!” Menundukkan wajah, dan menatap laki-laki di depannya, “Maaf, nanti saja kujawab pernyataanmu, oke? Beri aku kesempatan berpikir dulu.” Melirik sekilas ke arah Alan. Wajah Gilda memerah.

Menundukkan tubuh sekilas saat berpapasan dengan Alan, “Sa-saya permisi dulu, Pak!” Berlari secepat mungkin dengan wajah memerah, Alan melihat jelas bagaimana wajah yang ditujukan Gilda.

Meninggalkan dia bersama remaja laki-laki. Sosok itu mendecih kesal, menggaruk kepala sekilas sebelum pergi akhirnya pergi dari sana.

Kalau sampai Gilda berhasil membuatnya cemburu? Maka saat itu juga Alan akan mengambil waktu yang tepat untuk melancarkan keinginannya. Satu kecemburuan besar untuk pertama kali. Tidak sudi melihat wajah Gilda memerah di depan orang lain selain dirinya.

Untuk pertama kalinya, kedua tangan Alan mengepal keras, kemarahan laki-laki itu meluap. Manik menatap tajam, dia tidak akan pernah rela.

***

Tidak perlu menunggu beberapa hari

Gilda menganga, menatap sosok Alan datang bersama ayah dan sang ibunya. Bertiga ke rumah Gilda, lengkap dengan pakaian formal dan wajah tampan maskulin hampir membuat Gilda menjerit pingsan.

Tubuh gadis itu hampir jatuh, berkumpul di ruang keluarga, kata-kata sakral yang dulu sempat Gilda ucapkan di depan Alan kini terucap serius di hadapan semua keluarganya.

“Tolong ijinkan saya menikahi, Gilda,” Hanya selang beberapa hari setelah kejadian, karena kecemburan buta Alan. Laki-laki itu mengambil tindakan tegas, tidak ada yang boleh menyentuh ataupun memiliki Gilda selain dirinya.

“Saya akan bertanggung jawab dengan semua kehidupan, Gilda.”

Gilda menjerit bahagia, antara ingin pingsan dan nyawanya setengah melayang. Pernikahan rahasia mereka dimulai dari hari itu.

'Ampun, akhirnya Alan kalah sama pesonaku!' batin Gilda bangga.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED