Bab 2

"Bagi dikit dong," pinta Diaz dengan wajah memelas. Dia menarik-narik jaket Cal yang kini duduk di sebelahnya.

"Nggak boleh. Kamu beli sendiri aja sana!" tolak Calista dengan agak sewot, dan terus mengunyah camilannya itu. Pipinya melotot akibat banyak menampung makanan, sudut bibirnya pun sedikit cemong terkena rontokan bumbu tabur.

"Ish, pelit banget sih! Jangan gitu, lah." Diaz mendengus lalu memalingkan wajah, merasa sangat kesal dan sebal terhadap sikap pelit temannya itu yang lagi kumat. Mana pagi ini dia memang sedang tidak membawa uang lagi, gimana mau beli sendiri coba?

Huh, dia juga pengen jajan!

"Biarin, wleeeks." Calista mengejek dan menjulingkan matanya, sehingga wajahnya tampak aneh.

Sontak saja hal itu berhasil membuat Diaz bergidig ngeri dan kembali melengos ketika melihat ekspresi menggelikan itu.

Tak jauh dari tempat keduanya duduk, sekumpulan remaja tengah beratraksi memainkan sepeda bmx.

Mereka berputar, melompat, menukik, meniti berbagai rintangan yang telah disediakan sebelumnya dan juga banyak lagi atraksi lainnya.

Yah, pagi ini memanglah hari yang khusus digunakan oleh para pejalan kaki ataupun pesepeda untuk menjelajah ruas jalan utama kota Purwodadi, dengan bebas karena diberlakukannya sistem Car free day.

Sehingga ada begitu banyak orang dari mulai usia balita hingga para lansia, para pedagang pun banyak yang sudah berjejer sejak pukul 5 pagi, di sepanjang trotoar untuk menjajakan dagangannya.

"Cal. Beliin air putih dingin lima botol, sama satu tissue." Fahmi tiba-tiba datang ke hadapan keduanya, memberikan titah dan langsung menyodorkan uang kepada gadis itu.

"Hah?" Calista melongo dan dengan agak lambat ia berpikir keras, berusaha mencerna ucapan cepat yang ditujukan padanya tadi, dengan mulut terbuka dan mie lidi yang masih tinggal separuh di dalam mulutnya.

"Beliin air minum sama tissue, gue haus," ulang Fahmi dengan wajah datarnya.

"Oh, oke." Calista segera menyambar uang itu dan berjalan menghampiri penjual minuman tak jauh dari tempatnya duduk tadi.

Sedangkan Diaz hanya menggeleng dan bersalaman ala cowok dengan Fahmi.

"Gimana Bro? Lancar latihannya?" tanya Diaz sekedar basa-basi. Dan hanya dijawab dengan anggukan.

"Gini amat yak, punya dua temen kok nggak ada yang normal." Diaz mengeluh sembari menabok dahinya frustasi dan menggeleng.

Fahmi hanya meliriknya sekilas dan kembali memperhatikan Calista yang kini nampak kerepotan membawa kantong plastik.

"Nih air dinginnya sama tissue." Gadis itu memberikan plastik dan ingin kembali duduk di tempat asalnya tadi. Tetapi ...

"Bagiin ke mereka." Fahmi kembali memberikan kantong plastik kepada Calista dan menyuruhnya untuk membagikan kepada teman pesepeda lainnya yang tengah beristirahat.

Calista menerimanya dan mengangguk patuh. "Okay."

Empat botol air telah dibagikan. Calista kembali ke Fahmi, lalu mengulurkan tangan dan berkata, "Sudah aku bagiin. Upahnya mana?"

"Uhhuk-uhhuk! Upah apaan Cal?" Diaz tersedak minuman hingga tersembur airnya dan terbatuk-batuk sesaat. Wajahnya langsung memerah kesakitan.

"Kan aku udah ngebeliin terus ngebagiin air minum itu, sekarang bagi upahnya lah! Gitu aja masih nanya," seru Calista dengan bersemangat menjelaskan, tanpa merasa bersalah karena telah menyebabkan temannya itu tersedak.

"Gila memang ini punya temen. Astaghfirullah, mimpi apa semalem." Diaz mengusap dadanya.

"Nih, terima kasih," ucap Fahmi sembari memberikan uang dua puluh ribu.

Calista memekik senang dan menerima uang itu segera dengan senyum sumringah. "Okay, sama-sama."

"Coba ngadep sini Cal." Fahmi mengambil tissue dan mengusap area bawah bibir gadis itu dengan perlahan.

"Hah?" Calista kembali melongo dan mengerjap bingung, merasakan sapuan tissue di area wajahnya.

"Nah, sekarang upah aku mana?" Gantian Fahmi yang mengulurkan tangannya.

"Oh, ini. Makasih." Calista berucap sembari mengembalikan uang dua puluh ribu yang tadi didapatnya.

Diaz memutar mata jengkel, tiba-tiba ia mendapat ide yang menurutnya brilian. Dengan gerakan berlebihan ia memegang perutnya dan mengeluh, "Aduh! Perutku laper banget nih, enak kayaknya kalau makan soto."

"Cal, pesenin gih." Fahmi melirik sahabat konyolnya sekilas, lalu kembali memerintah.

Calista mengangguk patuh dan tanpa merasa ada yang janggal, berlari menuju penjual soto, dan memesan beberapa porsi tanpa terlihat keberatan atau bersedih karena telah kehilangan uang upahnya tadi.

"Bu, pesan sotonya tiga porsi dong." Calista memesan.

Ibu penjualnya menjawab, "Iya mbak, tunggu sebentar ya."

"Hay, Cal!" sapa seorang gadis yang datang dengan menaiki sepeda bmx nya.

Lalu mengambil tempat duduk di sebelah Calista.

"Hay, juga Siti." Calista melambaikan tangannya dan tersenyum lebar.

Gadis bernama Siti yang merupakan salah satu anggota dari tim bmx itu, membalas senyumannya dan berucap basa-basi, "Gimana sekolahmu kemaren, Cal?"

"Sekolahku baik-baik saja dan masih di tempatnya kok, ada apaan memangnya nanyain sekolahanku?" jawab Calista dengan lugunya dan sedikit mengerutkan alis.

"Eerrr ... lupakan saja!" Siti mendengus kesal, ketika mengingat bahwa lawan bicaranya saat ini sebenarnya susah untuk diajak berkomunikasi secara normal.

"Oh, okay." Calista mengangguk sekilas lalu menunduk untuk mengamati layar ponselnya.

"Cal ... hmm, kamu ... kamu itu suka nggak sih sama Fahmi?" tanya Siti dengan ragu-ragu.

Calista mengangkat wajahnya dan menatap aneh pada gadis di sebelahnya itu. Dalam hati dia menggerutu, "Ini si Siti kok nanyanya aneh banget sih! Iya kali kalau aku nggak suka sama Fahmi, ngapain kita temenan semenjak masih menjadi bayi dulu hingga saat ini."

Siti menjadi salah tingkah sendiri ketika ditatap seperti itu. Dia pun segera beranjak dan pergi tanpa mengucap satu patah kata lagi.

Meninggalkan Cal yang mengangkat bahu tidak peduli.

"Mbak, ini soto nya sudah siap, silahkan." Ibu penjual soto memberikan baki berisi tiga mangkok nasi soto.

Calista menerimanya, lalu membawa ke tempat Diaz dan Fahmi untuk segera disantap bersamaan selagi panas.

"Nih uangnya, kamu bayar gih." Kembali si Fahmi memberikan uang dua puluh ribu, dan menyuruh gadis itu untuk membayar.

Calista mengangguk kembali dan hendak membayar, tetapi dia berbalik kembali dan bertanya dengan ekspresi rumit, "Sedari tadi aku disuruh melulu, upahnya mana?"

Nah baru nyadar dia.

"Ya elah, itu nanti kan ada kembaliannya Cal. Lo ambil aja dah." Yang menjawab adalah Fahmi. Dan membuat Calista kembali mengangguk antusias, menghampiri penjual soto tadi dan membayarnya.

"Ini Mbak, kembaliannya dua ribu."

Calista segera mengambil uang itu dan bahkan bersorak penuh kesenangan, sembari mencium lembar uang kertas ia berteriak, "Yeay, aku dapat uang upah. Lumayan!"

Semua teman satu tim bmx yang melihat interaksi ketiganya, seketika menggeleng dan bahkan menggerutu, "Ini sebenarnya, Calista yang bodoh atau si Fahmi yang pintar, sih?"

"Hmm, mungkin kita nya aja yang belum memahami cara mereka berinteraksi."

"Hahaha."

Mereka semua tertawa. Entah apa yang ditertawakan.

***

Bab 3

Hari senin, biasanya akan menjadi hari yang paling dibenci oleh kebanyakan murid. Di karenakan mereka harus memakai seragam lengkap untuk melaksanakan kegiatan rutin wajib yaitu upacara.

Begitu juga dengan Calista, gadis manis bertubuh kurus itu terus saja berteriak, dari arah dapur sembari bergerak mencari-cari sesuatu. "Julian. Di mana kaos kakiku?"

Tak lama kemudian, datanglah seorang anak laki-laki berusia delapan tahun, di tangannya terdapat satu gulung kaos kaki berwarna putih. Dia segera menyodorkannya kepada Calista tanpa suara, sembari menyeringai konyol.

"Lalu di mana dasiku?" tanya gadis itu lagi, dengan tangan terulur mengambil kaos kaki dan mata menyipit, mengintimidasi. Dia melirik jam dinding yang menunjukkan pukul 06:25.

Membuatnya mulai kehilangan kesabaran.

Julian segera menelan ludah gusar dan mencoba menekan rasa gugup di hatinya dengan cara bersiul ringan. Tangannya merogoh saku celana dan kembali menyodorkan sebuah dasi kepada sang kakak.

"Aku berangkat dulu ya, Kak. Udah semuanya kan? Assalamualaikum." Julian segera berpamitan karena merasa ngeri, melihat pelototan Calista yang sepertinya ingin menelannya bulat-bulat.

Tetapi, belum sempat kakinya mengambil langkah lebih dari tiga, kerah belakang pakaiannya terasa ditarik kencang dan menahannya untuk tetap di tempat.

"Mau kabur, hmm? Kamu belum ngembaliin topi punya kakak loh ini, mana coba." Calista mengomel sembari mengulurkan tangan.

Julian tertawa garing dan mengangguk ringan ketika menjawab, "Hehehe, baiklah. Sebagai seorang adik yang baik hati serta budiman, aku harus selalu bersedia untuk mencarikan barang-barang punya, kakak. Supaya Kak Cal, enggak kerepotan dan merasa bingung. Okay lepaskan dulu."

"Heh, anak ayam! Sok kali kau ini ya, baik macam apaan? Kalau semua barang kakak enggak kamu umpetin. Kakak juga nggak akan teriak dan minta kamu buat ngembaliin, dasar bocah!" geram Calista sembari menjewer telinga sang adik. Berniat memberi pelajaran berat pada bocah itu agak tidak mengulangi keusilannya, tetapi, akankah berhasil?

Ah, tentu saja tidak! Walau bagaimanapun juga, usil adalah sifat alami dari seorang Julian.

Julian meringis dan mengaduh memperlihatkan ekspresi menyedihkan, tetapi tidak berniat untuk melepas capitan di telinganya. Dia justru semakin menggoda sang kakak tanpa merasa kapok.

"Aduh, duh-duh. Sakit tau Kak! Eh, ngomong-ngomong Kakak pagi ini kok kelihatan beda ya! hayo, Kakak pasti berdandan pagi ini dan mau tampil beda di depan si do'i. Iya kan?" Julian menaik turunkan alisnya secara berlebihan.

Calista semakin mengerutkan alis dan melotot tajam, tetapi melepaskan capitan tangannya dari telinga Julian.

Kemudian beranjak pergi tanpa berkata apa-apa lagi meninggalkan ruang dapur beserta isinya dan Julian, di kedua tangannya kini telah tertenteng keranjang yang terisi penuh  dengan beraneka macam kue.

Julian segera menggaruk kepalanya bingung dan merasa tak enak, lalu berguman sendiri. "Apa bercandaanku barusan keterlaluan ya? Kakak pasti marah sekarang, Haduuuh. Biasanya juga nggak pernah ngambek begitu, hmm. Ada apakah gerangan?"

Sedangkan anak itu masih sibuk menerka-nerka, apakah sang kakak tengah marah padanya. Si Calista justru sibuk memakai kaos kaki serta dasi dengan gerakan secepat kilat, dia kini duduk di kursi depan rumah, kepalanya berulang kali menoleh ke dalam rumah dengan raut wajah waspada..

"Huh! Kalau enggak cepet-cepet dipakai ini barang. Pasti si Juljul anak ayam itu, bakalan ngumpetin lagi ini barang berharga, dan nanti bisa-bisa aku berdiri sendiri di tepi lapangan. Kan nggak elit. Aku harus segera menjauh dari jangkauan tangan jahilnya itu, hii!" guman Calista sembari bergidig ngeri.

Membayangkan, seandainya saja nanti sang adik tiba-tiba menyambar satu kaos kakinya dan menyembunyikannya lagi, kan berabe ntar.

Sungguh pemikiran yang aneh. /plak!

"Cal, uy sini!" teriak Diaz yang kini melaju ke arah Calista sembari menaiki sepeda. Laki-laki itu tersenyum dan segera mempersilahkan temannya untuk segera membonceng padanya.

Berhasil mengagetkan gadis itu.

"Silahkan naik kereta kencana, Tuan Putri."

Diaz menyeringai lebar ketika melihat ekspresi bingung lawan bicaranya.

"Hah? Kereta kencana apaan? Mana? Kok enggak ada?" tanya Calista dengan kepala menoleh sana-sini, mencari sesuatu yang disebut 'kereta kencana'.

"Hihihi, sudahlah. Ayo naik saja cepetan! Ntar kita telat ke sekolahnya." Diaz tidak tahan lagi untuk terus mengerjai sahabatnya itu, lagipula mereka harus terburu-buru. Ia segera menarik lengan Calista dan mendudukkannya di boncengan sepeda. Tidak lupa keranjang kue juga diangkut.

Dengan sekuat tenaga laki-laki itu mengayuh sepedanya, menyusuri jalanan yang mulai ramai oleh para pejalan kaki hingga kendaraan transportasi, hingga peluh mulai bercucuran dari pori-pori dan membasahi seragam yang dipakainya.

Keduanya sampai di depan sebuah toko yang khusus menjual aneka ragam kue.

Calista segera membawa satu keranjang bawaannya, dan memberikannya kepada sang penjual.

"Bu! Ini kue nya ada seratus dua puluh biji. Sama itu ... aku mau minta uang hasil kemaren, hehehe."

Ibu pemilik toko tersenyum ramah padanya dan mengambil keranjang itu, lalu menyodorkan uang hasil penjualan minggu lalu, dan kembali memesan seperti biasa. "Ini Dek. Uang hasilnya, dan jangan lupa ya, tiga hari lagi kirim pesanan Ibu."

"Terima kasih, Bu. Siap pokoknya!" ujar Calista sembari memberi hormat layaknya tengah upacara. Menerima uang dan menyanggupi pesanan pelanggan dengan penuh semangat dan antusias.

Setelah itu Diaz mengantar Calista ke tempat lain sebelum menuju ke sekolah.

Keduanya sampai tepat 5 menit sebelum bel berdering. Segera memarkir sepeda dengan benar dan merekapun berlari menuju lapangan sebagai persiapan untuk upacara.

Ransel yang dibawa tergeletak di tepi lapangan karena tidak sempat menyimpan di kelas.

***

Upacara telah usai.

Para siswa di Smk 01 Purwodadi, tengah menghabiskan waktu istirahat dengan berbagai kegiatan. Seperti nongkrong di tepi lapangan, ngemil di kantin dan juga tidur di kelas, apapun itu.

Di belakang salah satu ruang sekolah. Terdengar suara cacian dan juga bentakan dari beberapa siswi, diiringi tawa sinis dan terkesan jahat  mampu membuat siapapun merinding ketika mendengarnya.

"Heh! Kamu itu anak baru tapi belagu banget sih!"

"Iya tuh. Hajar aja biar nggak kegatelan lagi."

"Btw, lo itu suka sama si Angkasa kan?"

"Angkasa si ketua osis itu, mau lo gaet dengan dandanan menor kayak badut gini? Hahaha, mimpi aja sono!'

"Gays! Mana make-up lo, biar gue kasih lihat sama ini cewek cara dandan yang baik."

"Hahaha."

"Itu tuh, di kelopak matanya kurang keliatan warnanya. Tambahin lagi! Hahaha."

Calista Mengendap-endap di balik pohon, menyaksikan serta merekam aksi pem-bullyan itu dengan ponselnya. Sesekali menggeleng dan mengeluh, "Ini adalah tindakan yang tidak baik. Huh! Aku harus segera bertindak untuk menyelamatkan itu si korban."

"Mau kemana, kamu?" tanya Fahmi sembari mencekal lengan Calista. Awalnya mereka berdua hendak membeli es tebu yang ada di sebelah sekolah, dan kebetulan menemukan tindakan buruk itu.

"Mau menyelamatkan itu korban. Ish, lepasin dong! Keburu nangis kejer itu si korban." Calista berusaha menepis cekalan itu dan berucap seolah dirinya adalah seorang pahlawan yang hendak menyelamatkan kecantikan.

Fahmi mengembuskan napas berat seolah lelah untuk terus bernalar dengan gadis itu, lalu bertanya, "Kamu serius mau bantu?"

Calista mengangguk yakin. "Serius."

Usai Fahmi mengizinkan, Calista segera menghampiri sekelompok gadis jahat itu dan berteriak sembari berkacak pinggang, seperti sosok ibu kost-an yang sedang menagih uang sewa kontrakan. "Stop! Apa yang kalian lakukan di sini, hah?"

Mendengar teriakan itu, para remaja yang tadinya bersenang-senang dalam kegiatan mem-bully, segera terdiam dan bahkan mereka semua mulai berkumpul di satu sisi dengan wajah yang mulai memucat.

Mereka semua masih merasa takut dan bergidig ngeri, ketika mengingat nasib sial yang diterimanya setiap kali mencoba untuk membully Calista. Yah, ini bukan kali pertama mereka berhadapan.

Cukup menggelikan memang, suatu kelompok yang terkenal sadis seantero sekolah, memiliki perasaan takut setiap kali melihat dan bertemu Calista.

Padahal gadis polos itu alias Calista, tak pernah melakukan hal-hal yang ekstrem kepada mereka, tetapi tetap saja ....

"Ca ... Calista, hay! Kamu ngapain ada di sini?" tanya salah satu anggota genk dengan tangan berkeringat dingin.

"Aku akan menumpas kejahatan dari muka bumi ini. Hahaha." Calista tertawa jahat.

Sedangkan Fahmi hanya menggeleng geli melihat aksi konyol sahabatnya.

***

Jauh di luar negeri dengan kawasan perumahan elit yang membentang dari hamparan pantai.

4 sosok berjubah hitam misterius tengah sibuk memperlakukan luka di tubuh masing-masing, menaburkan obat bubuk lalu membalut dengan kain bersih hingga luka tertutup.

Mereka kemudian duduk melingkar sembari mengeluh pahit. "Gila! Tidak kusangka menggunakan alat teleport ini akan menyebabkan kita terluka begitu parah!"

"Benar, untung saja kita sudah menyiapkan berbagai obat sebelumnya, atau kita pasti akan mati karena luka yang lambat ditangani."

Salah satu dari keempatnya yang memiliki sosok mungil dan jika diperhatikan dengan benar, ada sepasang telinga kelinci di atas kepalanya, mengangkat tangan dan berkata, "Cukup! Berhenti mengeluh dan sebaiknya kita cepat memulihkan diri, sehingga misi akan segera tercapai dan kita dapat kembali ke Rumah."

Meskipun sosoknya kecil, tetapi sepertinya dia memegang posisi yang tinggi diantara keempatnya. Usai berbicara, tiga lainnya hanya mengangguk patuh dan mulai bermeditasi, guna menyerap esensi elemen di udara  dan menggunakannya untuk memulihkan diri.

Gadis kelinci meregangkan tubuhnya dengan malas ketika merasakan sensasi segar di dalam tubuhnya, mengamati sekitar dan mulai menjelajah dengan langkah gesit.

Salah satu sosok yang memiliki telinga serigala biru, hanya melirik sekilas ke siluet rekannya dan kembali bermeditasi.

Waktu perlahan berlalu.

"Saya mendapat sedikit petunjuk." Gadis kelinci kembali dengan wajah berseri-seri dan memberi pengumuman.

"Apa itu?" Ketiga rekan bertanya secara spontan.

Gadis kelinci menyeringai dan berkata dengan bangga. "Target kita berada di sebuah daerah terpencil yang cukup jauh dari sini, saya yakin bahwa kita akan menemukannya dalam kurun waktu 16 minggu."

"Waw, itu waktu yang lama." Salah satu pria menanggapi dengan ragu-ragu.

Gadis kelinci terkikik sebelum menjawab, "Itu jika kita berjalan kaki."

"Eeehhh?"

***

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab

SRTJC

Bab 2
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED