[ Rara Aprillya ]
Anjir gara-gara tadi siang aku mencaci makinya kini aku menjadi sangat malu.
Sumpah adakah hal yang lebih memalukan dari ini?
Aku menganggap kakak iparku sendiri supir. Astaga! Tadi siang aku sudah sangat kurang ajar padanya, sampai saat ini pun aku tidak berani menatap wajahnya karena malu dan juga takut sebenarnya.
Bagaimana kalau dia memecatku menjadi adik iparnya? Astaga! Itu tidak boleh terjadi.
Astaga, apa aku sudah berlebihan dan Astaga sudah berapa kali aku mengucapkan kata 'astaga'?
Itu tidak penting Rara!
Aku terus mondar mandir di dalam kamarku, aku tidak berani keluar untuk makan malam. Aku takut nanti akan bertemu kakak iparku, bukan. Bukan takut tetapi lebih ke malu.
Ya si bodoh Aprillya sudah keluar dan membuat Rara malu.
Pintu kamar di ketuk oleh seseorang membuatku deg degan setengah mampus.
"Aprillya,"
Ternyata kakakku yang mengetuk pintu.
"Ya kak ada apa?" balasku.
"Kenapa pintunya di kunci? Cepat turun ya ... kita makan malam bersama kakak iparmu sedang menunggumu di bawah." ajak kakakku.
Aku menelan ludah dengan susah payah, sudah seperti sedang menelan pil pahit saja.
"Kalian makan duluan saja kak, nanti aku bisa sendiri."
"Tidak bisa Aprillya, kakak ipar dan juga keponakanmu ingin melihatmu ... Kau tidak keluar kamar sejak kau masuk."
Mati aku.
Aku tidak mau makan malam bersama kakak ipar, aku tidak punya wajah di depannya.
Aduh bagaimana ini?
Aku tahu kakak ipar pasti akan mengejekku di depan kakakku nanti.
"Aprillya, apa terjadi sesuatu?" tanya kakakku dan sepertinya ia sedang berusaha membuka pintu kamarku.
"Ah tidak kak. Hmm aku akan turun sebentar lagi, kakak turun saja duluan."
"Baiklah jangan buat kami terlalu lama menunggu ya." pesan kakakku dan melangkah pergi.
Aku menyandarkan badanku di pintu kamar. Menghela nafas panjang lewat hidung lalu keluarkan lewat mulut seperti itu terus berkali - kali sampai aku bisa tenang.
"Tenang ... Tenanglah Rara kau harus turun sekarang."
Dengan perlahan aku mulai membuka pintu dan keluar dari kamar, melangkah pelan untuk turun dan menuju meja makan.
"Malam semua." sapaku dengan wajah menunduk. Aku benar-benar tidak ingin melihat wajahnya-kakak iparku.
"Tante kenapa menunduk?" tanya seorang anak kecil yang duduk di sampingku, tentu saja dia anak kakakku.
"Ya kenapa kau menunduk?"
Itu bukan suara kakakku namun itu adalah suara kakak ipar.
"Apa ada yang salah Aprillya?" tanya kakakku.
Aku menggelengkan kepalaku pelan. "Tidak ada kak."
"Lalu kenapa kau menunduk dan menggunakan kaca mata?" tanya kakak ipar.
"Uhm ... Ak-aku hanya sedang sakit mata jadi aku tidak mau jika nanti sakitku menular pada kalian semua ..." alibiku.
"Sakit mata? Bukankah kemarin kau baik - baik saja?" tanya kakakku mulai cemas.
"Sudahlah sayang ... Lebih baik kita makan saja, aku sudah sangat lapar karena menunggu adikmu yang ngaret ini." kata kakak ipar dengan menekan kata ngaret.
Aku tahu bahkan sangat tau bila kakak ipar sedang menyindirku bahkan kakak ipar juga menggunakan kata kataku tadi siang 'ngaret'.
"Baiklah. Jangan lupa nanti habis makan langsung di kasih obat ya, jika tidak punya obatnya aku punya obat tetes."
Terima kasih kak, kau masih sama sepertu dulu selalu khawatir jika aku sedang sakit.
"Tidak perlu kak ... Maksudku aku sudah punya obat mataku sendiri." jawabku kemudian.
"Mom kapan kita makan, aku sudah sangat lapar." Rio si anak imut itu berucap dengan cemberut.
Dia sangat imut, aku sangat suka sekali kalau di suruh mencubit pipi tembamnya itu.
Rio sangat pintar, umurnya baru dua tahun tapi Rio sangat pandai dalam berbicara.
Setelah acara makan malam selesai aku pun segera kembali ke kamar dengan beralasan akan memberi obat pada mataku.
Menghempaskan diri di ranjang dan terus memikirkan soal tadi siang. Kakakku tidak tahu akan hal itu dan jika ia tahu pasti akan marah karena aku sudah mengangap suaminya supir bahkan aku mencaci dan membentaknya. Kakak hanya tahu jika aku hanya salah paham dan hanya menganggap suaminya supir.
Sepertinya besok aku harus meminta maaf pada kakak ipar dan meminta agar ia tidak memberitahu jika aku sudah berbuat tidak sopan padanya.
Baiklah, aku akan minta maaf besok pagi.
Sekarang mari kita tidur dan semoga aku bermimpi jika akan ada pangeran berkuda putih yang datang menjemputku dan kami akan hidup bahagia selamanya bersama mempunyai anak anak yang lucu dan menggemaskan.
Amin ...
***
Pagi harinya aku sengaja turun agak siang agar tidak bertemu kakak ipar, entah kapan aku akan minta maaf padanya.
Aku masih terlalu malu untuk menatap wajah kakak ipar, jadi aku putuskan untuk lain kali saja aku minta maafnya.
"Kau sudah bangun?"
"Belum kak, Dara masih tidur." jawabku dan ikut duduk di sofa.
Kakakku hanya tersenyum. "Kalau mau saparan minta saja sama pelayan, atau kau bisa membuatnya sendiri jika bisa."
"Memangnya kau mau ke mana?" tanyaku saat melihat nya yang memang sudah berpakaian rapi. "Kalau aku tidak bisa membuat sarapan sendiri bagaimana aku bisa hidup saat kuliah di london kak!" lanjutku agak kesal.
Kakakku malah tertawa. "Haha maaf maaf, kakak mau mengantar Rio sekolah." jawabnya.
Aku mengeryitkan dahiku bingung. Rio sekolah? Yang benar saja, maksudku-Rio baru berumur dua tahun? Memangnya sekarang bocah umur 2 tahun sudah sekolah ya?
"Rio sekolah?"
"Ya dia sudah masuk PAUD." balas kakakku.
"PAUD." ulangku masih heran.
"Iya ... Pendidikan Anak Usia Dini." kakakku menjelaskan.
Aku mendengus sebal mendengar jawaban itu, aku juga tahu kali arti PAUD.
"Bukan itu kak, maksudku bukankah Rio baru berumur dua tahun dan yang aku tahu anak akan mulai ikut PAUD saat usianya minimal di atas tiga tahun?" tanyaku panjang lebar mengeluarkan rasa penasaranku.
Kakakku malah tersenyum lalu menepuk bahuku pelan. "Tidak juga buktinya Rio sudah bisa masuk PAUD kan." jawabnya berlalu dari hadapanku.
Ada yang aneh dengan semua ini atau hanya aku yang ketinggalan jaman, sepertinya tidak mungkin bila aku ketinggalan jaman?
Ahh sudahlah memikirkan hal yang tak seharusnya aku pikirkan hanya akan membuatku pusing, lebih baik aku mencari sarapan saja dari pada memikirkannya.
Berjalan menuju ruang makan dan aku pun langsung duduk di kursi. Kemudian aku mengambil roti tawar dan selai coklat, mengoleskan selai coklat menggunakan pisau ke roti tawar dan memakannya.
Setelah sarapan aku berniat melihat-lihat isi rumah ini, ternyata rumah ini selain sangat besar juga sangat indah.
Setengah jam aku mengelingi rumah ini.
Ternyata bosan juga ya tidak ada kerjaan, hah sepertinya aku harus cepat cepat mencari pekerjaan agar aku juga tidak terlalu merepotkan kakakku.
"Nona mau ke mana?" tanya seorang satpam saat aku ingin membuka pagar.
"Mau jalan jalan sebentar pak, aku bosan dirumah." balasku dengan senyum sopan.
"Tapi--"
Bersambung.
[ Rara Aprillya ]
"Tapi--"
"Apa?!"
"Maaf, Nona tidak boleh keluar rumah sendirian ... Nyonya bilang harus ada yang menemani Anda agar Nona nanti tidak kesasar." jawab Satpam itu dengan sopan.
Aku mendengus sebal. "Aku tidak akan kesasar karena aku bukan anak kecil."
"Tapi Nona ... Nyonya bilang bahwa Anda tidak tahu daerah sini---"
"Ck! Jangan khawatir Pak, karena aku ini tidak akan pernah kesasar ... Jika kakakku sudah pulang katakan saja aku sedang berjalan - jalan dan aku akan berusaha pulang sebelum kakakku pulang."
"Tapi--"
"Cepat buka pagarnya," pintaku tidak sabaran.
Satpam itu mengalah dan membukakan aku pagar.
Aku berjalan ke arah barat dan menemukan taman yang sangat luas.
Banyak anak sekolahan yang sedang berduaan di taman ini, aku yakin bahwa mereka membolos sekolah karena tidak mungkin jika mereka sudah pulang pada pukul 9 pagi.
Buat apa orang tuanya membayar uang sekolah mereka mahal mahal jika mereka malah sekolah (pacaran) di taman yang gratis ini.
Dasar anak anak pemalas!
Hmm ada apa ya kok di sana sangat ramai, banyak sekali anak sekolahan maupun orang dewasa.
"Dek, itu ada acara apa kok rame rame?" tanyaku pada dua anak sekolah berbeda jenis yang sedang duduk di kursi taman.
"Oh memang kakak tidak tahu ya?" si anak lelaki malah balik tanya.
Aku mendengus kesal. "Jika aku tahu aku tidak akan bertanya padamu." balasku.
"Maafkan dia kak ... Itu sedang ada syuting acara Inbox." jawab si anak perempuan tersenyum manis.
"Apa itu Inbox?"
"Dasar norak, kampungan sekali sih acara Inbox saja tidak tahu." ejek si anak lelaki itu songong dan tersenyum tengil.
Oke aku memang tidak tahu apa itu 'Inbox' karena aku saja baru mendengarnya. Katakan aku norak, bodo amat dah!
"Bian!" seru anak perempuan itu lalu menatapku.
"Ituloh kak acara yang ada di stasiun televisi jika kakak penasaran lihat saja dari dekat." jelas anak perempuan.
Aku menganggukkan kepalaku. "Terima kasih ya."
"Ya sama sama kak." balas anak perempuan itu.
Aku melangkah menjauhi dua anak itu dan berjalan mendekati kerumunan orang-orang itu.
Aku berusaha menerobos dan berhasil sampai di depan panggung walaupun dengan susah payah.
'Sik asik sik asik kenal dirimu
Sik asik sik asik dekat dekat denganmu
Ah aku berharap semoga kamulah
Yang akan menjadi, jadi pacarku'
Itu lagu apaan sih kok aku baru dengar ya, apa aku yang terlalu kudet?
Lebih baik aku keluar dari sini dan pulang karena aku yakin pasti kakakku sudah pulang, aku sudah tidak sabar ingin mencubit pipi Rio yang tembam itu.
Sepertinya aku mempunyai masalah sekarang, aku lupa jalan pulang pemirsa.
Ayolah Rara coba kau ingat tadi saat ke sini kau berjalan lewat jalan mana, ada tiga jalur di sini.
Ahh bagaimana ini aku benar benar tidak ingat ke mana arah jalan pulang.
Satpam tadi benar bahwa Aprillya itu memang pelupa, ahh kenapa di saat seperti ini Aprillya malah muncul bukan Rara saja.
Apa ada yang salah dengan ucapanku?
Kurasa tidak! Karena Rara itu adalah anak pandai dan tidak pelupa berbeda dengan Aprillya yang pelupa dan juga bodoh.
Aku gila ya mengatakan diriku sendiri bodoh?
Oke Rara Aprillya tidak bodoh dan dia pasti akan bisa menemukan jalan pulang.
Aku pun memutuskan untuk berjalan ke salah satu jalur jalan itu dan sampai kini sudah hampir satu jam aku berjalan kenapa aku tidak menemukan rumah kakakku.
Sepertinya aku benar benar kesasar karena aku tadi tidak lewat sini. Di sini sepi sekali sih, hanya ada satu dua kendaraan yang lewat itu saja jarang.
"Hei manis,"
"Mau ke mana? Kenapa sendirian saja?"
"Mau kita temani."
Aku menatap ke tiga orang lelaki di depanku ingin dengan sebal, aku sedang kesal karena kesasar di sini dan mereka malah membuat aku bertambah kesal.
"Kenapa diam saja?" tanya salah satunya sambil memegang bahuku.
Aku melihat tangan itu lalu menepisnya. "Jangan cari masalah denganku karena aku sedang kesal sekarang. Aku bisa melakukan apapun saat aku sedang kesal jadi pergilah sebelum aku benar benar melukai kalian."
"Wahh ... Aku suka yang seperti ini." kata yang lainnya sambil berjalan mendekatiku.
Aku menghentikan langkah kakiku saat dia memegang lenganku dan langsung memelintir tangannya kebelakang badannya.
"Sudah kubilang pergilah sebelum aku melukai kalian."
"Berani sekali kau." ucap yang lainnya.
***
Aku menepuk nepuk tanganku dan menatap mereka bertiga dengan tersenyum miring.
"Apa lihat lihat? Masih mau lagi?" tanyaku.
Mereka bertiga pun menggelengkan kepalanya dan berlari dari hadapanku.
Sudah kubilangkah bahwa aku bisa melakukan apa saja saat aku sedang kesal, aku lulusan terbaik di eskul silat saat SMA dulu.
"Keren."
Puji seseorang di belakangku sambil bertepuk tangan membuatku menoleh.
"Kau ..."
"Sangat keren, belajar dari mana itu?" tanyanya.
"Kau memuji atau menyindir?" tanyaku sinis.
"Menurutmu bagaimana?"
Aku tidak mengerti kenapa dia suka sekali tersenyum miring seperti itu padaku.
"Apa yang kau lakukan di sini?" tanyanya berjalan mendekatiku.
"Jalan jalan di taman." balasku acuh.
"Tapi ini bukan taman." ucapnya memperhatikan sekeliling.
"Aku belum selesai berbicara." ucapku kesal.
"Lanjutkan."
"Tadi aku sedang berjalan jalan ke taman, tapi saat pulang aku---"
"Lupa jalan pulang." ucapnya memotong ucapanku.
Rasanya aku ingi sekali menampar wajahnya agar senyum miring itu hilang.
"Tidak juga."
"Oh ya." ucapnya melipat ke dua tangannya di dada.
"Aku hanya sedang ingin keliling kota." ucapku asal. Bodoh memang.
"Keliling kota dengan berjalan kaki?"
Aku tidak menghiraukannya dan berjalan menjauhinya.
"Mau ke mana kau?" tanyanya memegang pergelangan tanganku.
"Pulang." balasku acuh.
"Kau yakin itu arah jalan pulang?" tanyanya.
"Ya."
"Setauku rumahku berada di arah sana bukan situ." ucapnya menyebalkan dan dengan seenaknya menarik tanganku.
"Masuk." ucapnya saat sampai di mobil dan ia membukakan pintu mobil untukku.
"Mau ke mana?" tanyaku tak mengerti.
"Tentu saja pulang, kau ini sangat merepotkan. Karena kau, aku harus menunda metiingku." ucapnya mendorongku masuk lalu menutup pintu.
Dia sangat menyebalkan, aku jadi malas meminta maaf padanya soal kemarin.
Dia pun ikut masuk dan duduk di belakang kemudi dan mulai menstater mobilnya namun dia tidak langsung menjalankan mobilnya dan malah mencondongkan badannya kearahku.
"Mau apa kau?" tanyaku.
Dia tidak menjawab dan malah terus mendekatkan dirinya padaku dengan senyum miringnya.
Duh sebenarnya dia mau apa dan kenapa aku jadi deg degan begini.
Aku memperhatikan wajahnya yang sedekat ini, dia sangat tampan dengan alis tebal, bulu mata lentik, hidung mancung, bola mata abu-abu, pipi sedikit berisi dan terakhir bibirnya yang seksi merah merekah. Eh kok deskripsiku seperti perempuan ya?
"Mengapa kau memejamkan matamu?" tanyanya.
"Berharap aku akan menciummu eh?" lanjutnya sambil terkekeh.
Pipiku terasa sangat panas saat tahu ternyata ia hanya ingin memakaikan aku sabuk pengaman dan aku malah berpikir yang aneh aneh tadi.
Astaga! Apa yang sudah kupikirkan?
Ingat dia adalah kakak iparmu.
"Kau terlihat lebih seksi dengan pakain itu." ucapnya tiba tiba membuka suara setelah lama mobil berjalan.
Memang saat ini aku hanya menggunakan celana span di atas lutut dan kaos oblong saja.
Aku hanya diam dan tidak membalas ucapannya yang menurutku ambigu, bagaimana di bisa berkata seperti itu padaku, maksudku aku adalah adik iparnya.
Bersambung.