"Mas, aku sudah tidak apa-apa kok, hehe," tutur Jihan sembari tersenyum manis, dia berusaha turun dari ranjang pemeriksaan. Namun, Raihan menahannya. Laki-laki itu tidak akan membiarkan telapak kaki calon istrinya menyentuh lantai yang dingin sedikitpun.
"Eh-eh tidak boleh turun dulu, Mas yang akan menggendongmu. Wanitaku tidak boleh lecet." Raihan mengangkat tubuh Jihan dan didudukkan di atas kursi roda.
"Mas. Maaf, telah merepotkanmu tengah malam begini ...," lirihnya karena merasa bersalah.
Raihan mencium puncak kepala Jihan dan diusapnya lembut. "Tidak, Jihanku tidak merepotkan, lain kali jangan memakan samyang dengan bubuk cabe yang banyak, ya. Apa kau rela tiap malam ke rumah sakit dan merusak ususmu?"
Jihan menggeleng sebagai jawaban. "Tidak lagi, sudah cukup kok," jawab Jihan sambil mengerucutkan bibir bawahnya, membuat Raihan mencubit pipinya karena gemas. Iya, Jihan memakan samyang di tengah malam. Hampir mendekati pukul satu dia menelpon Raihan karena perutnya sakit dan menjadi keram, berakhir pria itu membawanya ke IGD.
Saat Raihan mendorong kursi roda Jihan untuk keluar dari ruangan, dari sisi yang berlawanan dia mendapati sosok Rania. Rania berlarian dengan menggendong Vano, diikuti David di belakangnya sambil membawa tas kecil Rania di tubuhnya.
Wanita itu terlihat panik sekali dan seringkali sesenggukan. Penampilannya pun bahkan sangat berantakan. Bermodalkan baju kaos biasa, dibaluti dengan celana trening yang dimana bagian celana satunya terangkat sebelah, menampilkan betis mulusnya. Bahkan, rambutnya juga diikat acak.
Raihan berdecak kesal. "Cih," decaknya saat melihat Rania hanya memakai sandal satu bagian. Kaki yang satunya tidak memakai sandal dan sekarang kaki itu lecet dan terdapat noda darah karena tidak diberi alas kaki.
Vano kecil tidak sadarkan diri dengan tangan kiri yang memegangi dada sebelah kirinya. Melihatnya tertidur di atas brankar seperti itu, membuat sedikit rasa iba pada hati Raihan. Pasalnya, tadi siang Raihan memarahi anak kecil itu dan ibunya, bahkan mengatainya dengan anak sialan. Tapi, terlepas dari itu, Raihan Atmadja adalah putra Haru Atmadja, tidak akan mau hanya sekedar membungkukkan kepalanya kepada orang yang berderajat rendah seperti Rania.
"Mas, aku akan masuk dulu untuk menemui dokterku. Mas tunggu disini saja, ya," ucap Jihan yang tahu bahwa Raihan memperhatikan Vano kecil yang sekarang sudah didorong masuk ke dalam ruang IGD.
"Eo-eoh, y-ya. Mas akan tunggu disini."
Perawat mendorong kursi roda Jihan dan menyisakan Raihan yang diluar sendirian.
Rania mengusap wajahnya dengan kasar, sesekali ia merasa lelah bertahan. Namun, dia teringat wajah David dan Vano ketika kedua putranya itu sedang tertidur lelap. Hanya Rania yang mereka miliki saat ini.
"Bunaaa ...," lirih David pelan dan bergerak menyentuh lengan ibunya secara hati-hati.
"Tidak apa-apa ...." Rania memeluk putra sulungnya dengan erat. "Ano anak yang kuat, dia hanya sedikit kelelahan. Buna yakin itu ...," ucap Rania yang berpikir bahwa David akan menangisi adiknya.
"Kaki B-buna ...."
Rania melepaskan pelukan pada David, dirinya menatap ke bawah dan mendapati kaki kanannya tanpa sandal dan penuh lecet. "Oh ... ini, tadi putus talinya, Buna tinggalkan saja di jalan. Buna tidak apa-apa kok." Rania menarik tangan David lagi untuk duduk di bangku panjang di depan ruangan IGD tersebut.
Anak laki-laki itu memeluk ibunya dengan erat. "Maafkan David Buna .... David selalu membuat Buna susah. Padahal, Buna juga sangat kesusahan mengurusku dan Ano. David bukan anak yang baik, Buna ...."
"Tidak, sayang. David anak Buna yang baik, Buna mengerti perasaanmu. Buna bangga padamu, sayang." Rania mencium dahi anaknya dan membawa David kedekapannya. "Buna sangat menyayangi David. David adalah anak pemberani dan abang yang penyayang untuk Ano."
David melepaskan sandalnya untuk Rania. "Buna pakai sandalku, kaki Buna lecet."
Rania tersenyum sendu melihat kebaikan hati putra sulungnya. "Kaki David lebih Buna sayangi dari pada kaki Buna sendiri."
"Bunaaaaa, jangan seperti itu. David sedih jika begini ...."
"Ahahaha, mana muat Buna pakai sandal David, nanti Buna beli sandal di kantin rumah sakit ini. David tenang saja, ya."
"Euhm, baiklah." David kembali memeluk ibunya. Dia sangat sayang pada Rania dan tidak ingin dipisahkan dengan alasan apapun.
Tak lama, Raihan menghampiri Rania dan David. Anak laki-laki itu pun berbisik pada bunanya. "Buna, ada bos Buna ...."
Rania menoleh ke samping dan mendapati Raihan yang tersenyum remeh kepadanya.
"Kau mendapatkan karmamu karena pernah merusak rumah tangga orang lain. Harusnya kau sadar, anakmu mendapatkan kesengsaraan berkat kelakuan bejatmu dulu." Sungguh, ucapan Raihan sangat menyayat hati seorang ibu seperti Rania. Rasanya, dirinya adalah sosok ibu yang buruk dan tidak becus menjaga sang buah hati. Andai ia bisa berteriak, maka ia akan memilih memekik di telinga Raihan dan berharap agar lelaki itu diam dan tidak perlu mencampuri urusannya. Namun, sayang, pria itu adalah atasannya di kantor.
"Buna ...," lirih David kembali. Dia khawatir dan merasa sakit sama seperti bunanya. Rania berusaha untuk tetap tersenyum dan menampakkan wajah yang teduh agar David tidak perlu khawatir lagi.
Mendengar kalimat menyakitkan itu, membuat hati Rania tertusuk tajam. Perkataan yang sangat membuat Rania tertekan dan kian merasa bersalah.
"Buna, mulutnya sangat julid sekali, David tidak suka dengan bos Buna satu itu."
Rania menatap putranya dengan seulas senyum yang penuh makna. "Tidak apa-apa, Buna sudah kebal." Lalu, Rania kembali menatap Raihan dengan sopan. "Terima kasih sudah membuatku sadar. Aku minta maaf jika pernah merusak rumah tangga ayah dan ibumu," ucap Rania, kepala dan badannya membungkuk dengan rasa hormat. Bagi Rania, biar saja. Toh, jika terus melawan ucapan Raihan akan membuat laki-laki itu merembet ke masalah yang lain.
"Bunaaa ...."
Rania menggelengkan kepalanya pada David.
"Cih, aku tidak akan lupa bagaimana kau membuat hati ibuku terluka dan membuatnya tertekan selama ini." Selanjutnya, Raihan pergi begitu saja meninggalkan Rania dan David yang masih setia duduk di bangku panjang tersebut.
***
Malam berganti fajar dan Vano sudah siuman. Anak laki-laki itu tengah menonton film spongebob di ruangan rawat inapnya. Rania sesekali mengecup punggung tangan Vano?
"Jangan seperti ini lagi Vano, Buna sangat sakit melihatmu menjadi lemah seperti ini ...," lirihnya pelan. Vano hanya fokus pada layar tv.
David keluar dari toilet, laki-laki itu menarik tali celananya untuk mengunci pinggangnya. "Buna, David hari ini tidak ke sekolah, ya. David ingin menjaga Ano juga."
"Tidak. David harus sekolah. Tidak ada kata bolos," jawab Rania dengan tegas.
"Bunaaaa ...."
"Tidak ya, David." Berakhir David yang mengerucutkan bibir bawahnya.
"Sekarang, kita pulang ke rumah, Buna akan menitipkan Ano pada perawat disini." Rania mencium pipi putra bungsunya. "Anak Buna berani, kan? Buna akan mengambil baju-bajumu di rumah."
Vano mengangguk kecil, tentu saja dia anak pemberani seperti super hero yang sering ditontonnya.
***
"Tuan Renan, tadi pagi aku mendapatkan telepon dari Rania."
Renan memutar tubuhnya cepat saat mendengar kalimat yang menyebut Rania. "Ya? Apa katanya? Kenapa batang hidungnya tidak ada sampai saat ini di hadapanku? Aku sudah frustasi belum melihat wajahnya pagi ini."
Yang ditanyai menahan senyum, bosnya ini budak cinta atau bagaimana, sih?
"Dia izin tidak masuk hari ini, Vano dirawat di rumah sakit, malam tadi Rania membawanya ke IGD."
"APA!!!"
"Iya, Tuan."
"Ck, kenapa dia tidak mengabariku, sih? Ya sudah, terima kasih infonya. Aku akan menghubunginya secara pribadi kalau begitu."Renan berlalu begitu saja. Pria itu langsung menelepon Rania dengan terburu-buru dan sambungan telepon terhubung.
"Kenapa tidak bilang padaku malam tadi kalau Vano sakit?" tanya Renan khawatir. Dirinya meraih kunci mobil di atas mejanya.
"Masa aku harus membangunkanmu yang sedang istirahat."
"Ck. Rania."
"Iya, maafkan aku. Vano sudah enakan kok, cuma masih lesu. Nih, sekarang lagi nonton Doraemon," jawab Rania yang sudah kembali lagi ke rumah sakit.
"Jadi, kau tidak masuk?" Renan berjalan ke arah pintu ruangannya dan hendak pergi.
"Tidak. Aku izin ya, Bos."
"Kau tidak lupa, kan? Ini hari rabu, potongan gaji hari rabu sangat besar jika kau tidak masuk. Apa kau siap?"
"Iya aku tahu. Tidak apalah ...."
Renan tersenyum tipis. "Yakin? Gajimu itu loh."
"Iya, aku sangat yakin. Anakku lebih penting."
Deg! Hati Renan berdebar dan menghangat. Ya, pilihannya memang tepat. Tidak salah kan jika ia memilih Rania untuk dijadikan istrinya kelak? Hehe.
"Ya sudah, aku tutup."
"Baik," jawab Rania singkat.
Sambungan telepon terputus.
Renan pergi meninggalkan kantor, ia melajukan mobil bmw-nya dan pergi menyusul Rania ke rumah sakit. Baginya, Vano juga putranya dan segala-galanya bagi Renan. Sebelum benar-benar pergi, laki-laki itu mampir ke pusat perbelanjaan untuk membelikan putra Rania buah-buahan dan mainan untuk dibawa ke rumah sakit.
***
Rania sedang berkutik dengan layar komputer di depannya. Sesaat Vano berbisik ke telinganya.
"Buna ... Ano main sana yaa ...," tunjuknya ke luar pintu lantai para staf.
Rania mengangguk. "Boleh, tapi jangan lupa pesan Buna, jangan nakal, jangan duduk di kursi yang lebar itu, ya," ucap Rania memberi pengertian. Bahwasanya, ada beberapa tempat yang tidak boleh diduduki sembarang orang karena itu untuk kursi VIP.
Vano menganggukkan kepalanya, lalu berlari sambil membawa mobil mainan dan pesawat mainannya. Di gedung yang sama, Jihan membawa keponakannya untuk bertemu dengan Raihan. Jihan membawa tiga keponakan laki-lakinya ke perusahaan tersebut. Raihan pun menyambut kedatangan mereka. Bukankah hari yang menyenangkan bagi Raihan saat ini?
Raihan membawa ketiga keponakan Jihan untuk menonton di ruangan VIP. Ya, benar, ruangan yang dimaksud Rania pada Vano adalah ruangan itu. Disana, para keponakan Jihan menonton tv sambil duduk di atas kursi mewah, kaki mereka juga dibaluti selimut bulu tebal, mengingat sekarang sedang musim dingin. Mereka memutar film spongebob.
Vano kecil juga ikut menonton, tetapi dari luar saja, dari balik dinding yang bahannya terbuat dari kaca. Karena mengingat perkataan bunanya, bahwasanya dia tidak boleh masuk kesana atau hanya sekedar duduk di kursi mewah tersebut. Vano pikir, menonton saja tidak apa, kan? Kan tidak duduk disana. Anak laki-laki itu berjongkok dan matanya tidak lepas dari tv. Sebabnya? Film spongebob adalah film kesukaannya.
Raihan juga memberikan banyak makanan enak dan minuman hangat kesukaan para keponakan Jihan itu. Sungguh, calon suami yang baik untuk Jihan. Miris, bukan? Tidak. Itu adalah sebuah kasta. Bukankah kasta Rania sangat rendah dari Raihan? Sangat tidak pantas jika putranya ikut bergabung di dalam sana. Sudah sangat pas jika hanya berjongkok diluar, namanya menumpang, haha.
Raihan itu sangat asik menonton, sampai lupa jika ada orang yang memperhatikannya. Sesekali, Vano menggaruk lengannya karena gatal. Benar saja, dia berjongkoknya di dekat tanaman hias, tanaman tersebut menyentuh tangannya dan membuat gatal. Siapa yang memperhatikan Vano? Raihan.
Laki-laki itu mengernyitkan dahinya melihat Vano disana. Hey Raihan, jika benci ibunya maka jangan benci anaknya. Anak kecil terlahir suci dan polos. Jika ibunya punya banyak dosa, bukan berarti anak itu ikut menampung dosa ibunya.
Raihan keluar dan berdiri di depan pintu, membuat Vano menoleh pada Raihan. Mata kecilnya beradu pandang dengan Raihan, ada getaran aneh yang menimpa jantung pria itu.
"Sedang apa kau disitu?" tanya Raihan dengan wajah galaknya.
Vano menunduk dan memberi hormat, ia meniru bunanya yang selalu membungkukkan badan jika bertemu orang. "Noton pombob," ucapnya sangat polos. Manusia mana pun akan menghangat mendengar pernyataan anak polos ini, sangat imut dan manis.
"Lalu, Kenapa kau berjongkok disitu? Apa kau tidak punya tv di rumah?"
"Ada. Tapi, Ano lagi ikut Buna kelja. Jadi tidak membawa tv," jawabnya lagi dengan sangat lugu.
"Kau ini anak nakal, ya?"
Vano menggelengkan kepalanya. "Tidak... Ano t-tidak nakal...," jawabnya dengan mata yang berkaca-kaca. Kini, tangannya bergerak memeluk mobil dan pesawat mainannya erat-erat.
"Terus kenapa kesini, ingin mencuri? Apa yang ingin kau ambil?"
Tes!
Air mata Vano jatuh sebulir membasahi pipinya. "A-ano ... t-tidak menculi .... A-ano tuma noton pombob ...," lirihnya pelan sekali sembari menunjuk tv di dalam sana. Lalu, dia menghapus air matanya sendiri dengan punggung tangan tersebut. Perlahan, dia menggerakkan lututnya untuk berjalan merangkak, yang jelas dia tidak ingin dituduh mencuri.
"Ano!" Panggil seseorang dari jarak yang cukup jauh. Vano menoleh diikuti oleh Raihan.
"Handa," kilah Vano dengan senyum bahagia. Dia berdiri dan berlari begitu saja mengejar Renan yang langsung berjongkok untuk bersiap membawa Vano ke pelukannya.
Raihan mengepalkan kedua tangannya saat melihat Vano berlari mengejar Renan. Dia sangat geram, entah kenapa. Renan yang sudah menggendong Vano, hanya menatap sinis Raihan. Lalu, berlalu begitu saja menuju ruangannya.
"Ano kenapa disitu, Sayang? Kenapa tidak ke ruangan Handa saja?" Renan mencium pipi Vano karena gemas.
"Handa Enan kan sedang bekelja. Ano yagi noton pombob, hehe ...," cengirnya dengan sangat polos, membuat Renan tersenyum. Apalagi sekarang, dia melihat mainan yang dipeluk Vano, semakin membuat senyum lebarnya tercipta. Itu kan mainan yang dibelikannya saat mengunjungi Vano sewaktu dirawat di rumah sakit. Jadi, begini ya rasa senangnya jika membelikan mainan untuk anak, pikir Renan.
"Ya sudah, nonton pombob di ruangan Handa saja, ya?"
Vano menganggukkan kepalanya. "Yeayyy!!"
Vano duduk di sofa lebar yang empuk, dengan kain selimut yang sejuk. Dia fokus menonton film spongebob sambil memakan kebab hangat dan susu coklat. Renan duduk di kursi kerjanya, menandatangani data keuangan yang baru saja terbit tadi pagi, sesekali ia melirik Vano yang fokus menonton. Lagi, hati Renan bergemuruh euphoria.
***
Dua jam berlalu ....
Rania membawa lembaran berkas baru ke ruangan Renan. Ruangannya tidak dikunci, itu artinya Renan ada di dalam sana. Rania masuk dan berjalan lebih dalam ke sana. "Astaga, jadi Ano disini ...," gumamnya berjalan ke arah sofa.
Di sofa lebar itu, Renan dan Vano tertidur pulas. Vano yang dipeluk Renan sangat nyaman sekali.
Rania meletakkan berkasnya di atas meja, lalu menarik selimut tebal itu untuk menyelimuti Renan dan Vano? Setelah itu, memperbaiki posisi bantal Renan.
Rania menunduk dan mengangkat kepala pria itu, lalu membenahi posisi bantal dengan benar. "Handa Renan juga masih terlihat bayi, ya, seperti Ano," ucap Rania tanpa sadar.
Tap!
Renan membuka kedua matanya dan mendapati wajah Rania di atasnya, wajah cantik berseri yang membuat jantung Renan selalu bergemuruh. Aroma vanilla milik Rania begitu memabukkan penciuman Renan, di bawah sana sesuatu yang sesak sedang terjadi.
"K-kau! T-tidak tidur?" tanya Rania gugup. Dia terkejut, ternyata Renan tidak tidur.
Drap!
Renan memegang pinggul Rania dan membawa tubuhnya untuk duduk, sehingga Rania kini duduk dipangkuan laki-laki tersebut.
"R-ren ...," ucap Rania gelagapan karena Renan tidak berhenti menatap wajahnya. Renan memeluk tubuh Rania yang ada di pangkuannya. Kepalanya ia telusupkan ke leher Rania. Laki-laki itu menghirup aroma tubuh Rania.
"R-ren! Apa yang kau-"
"Syuttt!!" Potong Renan cepat. "Biarkan saja, tolong. Aku hanya ingin seperti ini lebih lama."
"T-tapi, H-hana d-dilur menu-"
"Bukan urusanku. Urusanku hanya tentang Rania."
Jleb!
Diluar sana, Hana mengepalkan kedua tangannya. Hatinya sakit dan yang paling sakit.
Srak!
Raihan menaruh sebuah box berwarna biru muda di depan Rania. Rania yang sedang fokus pada layar komputernya tersentak kaget.
"Dress-mu, untuk nanti malam. Pertemuan kolega bersamaku. Renan sudah dari kemarin kan berangkat ke luar kota?"
Rania membuat ekspresi bingung. "Kenapa harus saya, Pak? Bukannya banyak karyawan lain atau sekretaris Bapak yang bisa mewakilkan. Itu bukan bagian saya."
Bukannya menjawab langsung, Raihan sedikit terdiam sambil memperhatikan wajah Rania. Dulu, sewaktu kuliah melihat wajah Rania adalah candu dan wajib dilihat setiap hari.
"Karena tubuhmu memiliki nilai jual dan bisa membuat investor bermata keranjang rela berinvestasi besar," ucap Raihan dengan senyum remehnya.
Mendengarnya, membuat Rania memejamkan matanya sebentar. Apa laki-laki ini memang benar-benar menganggap Rania sebagai pelacur sekarang? "Apa Bapak menganggap saya sebagai penjual diri?"
***