"Apa Ibu bilang? Wanita ini tidak layak untukmu." Seorang wanita paruh baya menunjuk Naya yang duduk, menunduk di hadapannya. Seakan seperti seorang tersangka, Naya di kelilingi oleh keluarga besar Kendra.
"Aku pikir dia layak diperjuangkan. Tapi nyatanya dia pula yang membuatku ke kecewa." Kendra melemparkan kopiah yang bertengger di atas kepalanya. "Sekarang terserah Ibu. Ingin menjadikan dia pembantu atau sejenisnya. Aku tidak peduli!" Melangkah pergi meninggalkan Naya seorang diri.
Pria bertubuh tinggi tegap itu mengabaikan Naya yang tadi sore baru dinikahi. Tepatnya setelah tertangkap basah oleh Yanto di gubuk. Mau atau tidak, demi menghindari pengusiran Kendra menikahi Naya.
Dan kini di sinilah Naya berada. Di depan keluarga besar Kendra yang menatap jijik kepadanya. Terutama Herni, ibu kandung Kendra yang tidak pernah sekalipun merestui hubungan mereka berdua.
"Kalau memang semuanya diserahkan kepada Ibu, Ibu ingin kamu menerima perjodohan dengan Aira. Minggu depan kalian harus menikah dan Ibu akan mengadakan pesta pernikahan tujuh hari tujuh malam sebagai kado pernikahan untuk kalian. Bagaimana?" tawar Herni.
Kendra yang ingin melangkahkan kaki menuju kamar, terdiam. Menoleh kepada sang Ibu yang kini tersenyum padanya.
"Atur saja, Bu. Aku sudah tidak peduli lagi dengan hidupku."
Brakk!!
Suara pintu tertutup pun terdengar nyaring dan memekakkan telinga. Sebagai pelampiasan sakit hati Kendra kepada Naya yang telah membohongi dirinya.
Jauh di dalam lubuk hatinya Kendra masih mencintai Naya, hanya saja amarah masih menguasai sehingga laki-laki itu tidak sanggup membedakan mana yang baik dan buruk.
"Kau dengar, Naya. Anakku sudah menyerahkan hidupmu padaku. Sekarang semuanya aku yang mengatur dan kau tidak boleh menolak!" Herni bangkit. "Sekarang kau bawa semua barang-barangmu ke belakang. Di dekat kamar mandi, itu kamarmu. Jangan coba-coba, menginjak ruang tamu atau ruangan lain tanpa seizinku karena tempatmu hanya dapur dan kamar mandi. Mengerti,?!"
Naya yang sudah pasrah dengan hidupnya hanya mengangguk. Bangkit dari lantai karena diseret oleh Herni menuju ke belakang.
"Disini kau tidur dan tinggal. Ingat apa yang aku katakan dan jangan membantah!"
Setelah memastikan Naya masuk ke dalam gudang yang selalu selama ini digunakan sang suami untuk menyimpan beberapa stok toko, Herni melangkah pergi. Waktunya ia mengurus pernikahan Kendra dengan wanita pilihannya.
***
"Maaf, saya pikir tidak ada orang!" Rendi, ayah dari Kendra, ingin meletakkan beberapa set laptop di gudang miliknya, tiba-tiba saja terkejut ketika membuka pintu gudang. Bertepatan dengan Naya yang sedang membuka kebayanya.
"Ma-maaf, Pak. Aku … aku tidak tahu kalau,"
"Cepat kenakan pakaianmu. Saya ingin meletakkan beberapa laptop di sini." Rendi segera menutup pintu gudang. Agar Naya bisa sesegera mungkin mengenakan pakaiannya dengan baik. Rasanya tidak enak saat ia tidak sengaja melihat tubuh mungil nan ramping Naya, yang nyaris saja polos. Beruntung masih ada bra dan celana dalam yang menutupinya.
Dengan tangan bergetar Naya meraih daster bergambar hello Kitty yang tidak jauh dari jangkauannya. Mengenakan dengan cepat sebelum beranjak dan membuka pintu.
"Sudah, Pak," ucapnya gugup. Berusaha keras membuang rasa malunya untuk menatap Rendi, yang kini berada tepat di hadapannya.
"Kamu bantu Bapak angkat ini ke dalam. Tata di dekat loudspeaker yang kecil, ya," ungkap Rendi seraya menunjuk lima buah laptop yang masih terbungkus box.
Sama dengan Naya. Pria berusia empat puluh lima tahun itu berusaha setenang mungkin agar Naya tidak melihat betapa dirinya gugup dan salah tingkah.
"Siapa yang memintamu untuk tinggal disini?"
Kedua alis Rendi bertaut. Ketika melihat gudang penyimpanannya sudah ditempati Naya. Itu terlihat dari sudut ruangan, yang sudah ada sebuah kasur santai terbentang di sana. Sebuah selimut tipis dan bantal. Satu dus pakaian yang diyakini milik Naya.
"Istriku?" Rendi menoleh kepada Naya, yang sedang membantunya mengangkat laptop.
Naya mengangguk.
"Jadi kamu dan Kendra beneran sudah menikah?"
Lagi-lagi Naya mengangguk. Tapi tidak berani menatap Rendi.
"Semoga kamu betah disini. Kalau ada ucapan ibu yang tidak pada tempatnya, kamu jangan ambil pusing. Tetaplah baik, agar dia tahu selama ini telah salah mengenalmu." Tidak tahu dorongan dari mana, Rendi tiba-tiba saja memiliki keberanian untuk menyentuh dan mengusap pucuk kepala Naya.
Wajah Naya terangkat.
"Bapak ke depan dulu. Mau ganti pakaian, gerah."
Rendi menarik sudut bibirnya. Sebelum berpamitan kepada Naya yang tidak mengerti harus melakukan apa atas sikap manis Rendi padanya.
***
"Lah, di belakang ada Naya. Katanya dia dan Kendra sudah menikah. Lalu ini apa, Bu?"
Belum hilang keterkejutan Rendi dengan keberadaan Naya, kini ia sudah dikejutkan dengan kedatangan satu mobil pick up pengangkut tenda untuk pelaminan.
"Oh, aku tahu. Akhirnya kamu mau merestui hubungan Naya dan Kendra. Makanya kamu pesan pelaminan? Wah, pelaminan mahal pula." Rendi berdecak kagum. Melihat merek pelaminan yang tertera di sana. Pelaminan yang paling mahal di kampung mereka.
"Bukan, enak saja ini semua untuk Naya setelah apa yang dia lakukan kepada Kendra." Cibir Herni, seraya melengos masuk ke dalam kamar.
"Kalau bukan untuk mereka, lalu untuk siapa?" Rendi menyusul Herni ke kamar.
"Untuk pernikahan Kendra lah, Yah. Tapi bukan bersama Naya, melainkan Aira. Anak juragan beras dari desa tetangga."
"Apa?" Rendi terperanjat. "Kamu sudah gila? Kasihan anak orang. Baru tadi menikah secara sembunyi-sembunyi, kini malah kamu suruh Kendra menikah lagi! Keterlaluan kamu!"
"Terserah aku, Yah. Mau menikahkan Kendra lagi atau bagaimana? Yang jelas aku ingin Kendra memiliki istri yang sepadan dengannya. Bukan seperti Naya, sudah miskin tidak tahu diri pula. Dan untuk Ayah, aku tidak ingin Ayah mengacau. Atau ini." Meremas Rendi tepat di pangkal pahanya. "Ibu tidak akan berikan dia servis apapun lagi. Ayah mau?"
Rendi terdiam. Herni yang tahu kelemahannya, tentu saja membuat ia tak mampu melawan. Tidak dapat jatah dari Herni, itu sama saja membunuhnya secara perlahan. Sekarang saja ia ingin menindih Herni dan menghujam hingga Herni tidak mampu bernafas. Tidak tahu kenapa, sejak menikah Rendi tidak bisa menemukan kepuasan dalam urusan ranjang.
Meski ia dan Herni melakukannya setiap hari, tanpa ada jeda kecuali Herni datang bulan. Tapi rasanya Rendi tidak bisa mencapai titik pelepasan yang sempurna.
"Sudah, Yah?" tanya Herni, ketika merasakan miliknya hangat karena semburan Rendi.
Rendi hanya mengangguk. Merapikan kembali celana bahan yang ia kenakan dan menutupi bokong Herni yang tengah menungging dengan dasternya. "Sudah, Bu. Tapi rasanya kok belum puas, ya. Baru dua kali tusukan sudah lepas," keluhnya. Mendudukkan diri di tepi ranjang.
"Itu karena Ayah lemah. Baru bersentuhan saja sudah hidup. Baru dua kali sentak sudah lepas. Ih, Ibu saja belum puas. Kalau gini terus, Ibu mau cari brondong saja untuk memuaskan Ibu." Herni mengomel seraya merapikan daster yang ia kenakan dan keluar begitu saja dari kamar. Ia ingin memeriksa keadaan di luar agar pelaminan bisa terpasang dengan baik. .
Tanpa disadari Herni, Rendi duduk tertegun di tepi ranjang. Menghela nafas berat dan merutuki dirinya yang lemah. Selalu saja begitu, setiap kali selesai berhubungan dengan Herni. Rasanya yang hampa dan hanya licin hangat semata, membuat Rendi tak pernah menemukan nikmatnya percintaan mereka.
Satu minggu ini Naya dihadapkan dengan persiapan pernikahan Kendra dan Aira. Ia sibuk membantu agar rencana pernikahan sang suami bisa berjalan dengan lancar.
Dengan menahan segala sakit hati, Naya tetap melakukan apapun yang diminta oleh ibu mertuanya. Semua ia lakukan bukan karena takut atau sejenisnya, tapi ia melakukan itu semua agar bisa mendapatkan sedikit uang sebagai upah. Karena Kendra tidak pernah menganggapnya sebagai istri, tentu saja tidak ada nafkah baik secara lahir dan batin untuk Naya.
Sedangkan ayah dari Naya sering meminta uang kepadanya untuk berjudi. Belum lagi sang ibu yang kadang datang dan mengatakan tidak ada beras di rumah.
"Bu, setelah acara pernikahan mas Kendra selesai aku ingin mencari pekerjaan. Aku tidak mungkin seperti ini terus karena biasanya aku yang membiayai ibu di rumah."
Kata-kata itu akhirnya keluar juga dari mulut Naya. Setelah enam hari ia tahan dan telan sendiri. Akan tetapi, setelah akad nikah Kendra dan Aira selesai, kalimat itu keluar juga. Sekarang, kondisi dapur yang sepi mendorongnya untuk mengatakan hal tersebut.
"Terserah kau ingin bekerja atau bagaimana. Yang jelas, sebelum kau bekerja semua pekerjaanmu di rumah ini sudah selesai. Mengerti?" desis Herni kesal. Ia yang telah letih mempersiapkan segala kebutuhan Kendra, tentu saja tidak ingin ribut dan banyak bicara dengan Naya.
"Oh, ya, ini semua tolong kamu cuci. Saya ingin menghemat uang sehingga memesan katering tanpa tukang cuci. Jadi, sampai tamu undangan selesai secara keseluruhan, barulah kau boleh meninggalkan dapur ini. Mengerti?"
Wajah lelah Naya terangkat.. Ia ternganga mendengar kata yang keluar dari mulut Herni. Pesta pernikahan yang dilangsungkan secara mewah dan mengundang dua kampung sekaligus, tentu saja ada ratusan tamu yang datang. Bayangkan berapa banyak piring kotor yang harus dicuci Naya.
Ingin rasanya ia protes, tapi Herni sudah berlalu begitu saja. Ia juga melarang karyawan katering untuk membantu Naya dibelakang.
"Semoga ini tidak berlangsung lama. Dan semoga aku menemukan cara agar bisa bercerai dari Kendra," gumamnya. Mulai membersihkan piring dari makanan sisa, bekas makan para tamu undangan.
Sekuat hati Naya menahan sakit dan pilu di hatinya. Melihat Kendra menikah dan bersanding dengan wanita lain.. Ia juga menelan kata-kata tamu yang menertawakannya karena dimadu, padahal baru menikah dengan Kendra.
Naya menutup kedua telinganya. Berusaha keras untuk abai dan yakin bisa melalui ini semua demi sang ibu.
"Biar Bapak bantu. Kamu dibagian sana saja.. Bilas piring yang telah selesai disabuni."
Naya yang tengah menyabuni piring tertegun. Saat tangannya yang tengah memegang spon cuci piring digenggam Rendi. Darahnya berdesir hebat saat tatapannya bertemu dengan ayah mertuanya itu.
"Kalau Bapak yang sebelah sana, ibumu dan tamu lain akan melihat keberadaan Badak. Jadi kamu yang disana, ya!" pinta Rendi seraya menunjuk pintu penghubung antara tempat cuci piring dan dapur.
Naya mengerjap. Melihat ke arah yang ditunjuk Rendi. Detik selanjutnya ia mengangguk dan melepaskan spon cuci piring kepada Rendi. Ia segera berpindah ke tempat yang dikatakan Rendi.
Benar saja, dari tempatnya berdiri sekarang tidak ada yang bisa melihat Rendi ada di dalam sana karena tertutup mesin cuci.
Dalam diam Rendi dan Naya sama-sama melaksanakan tugas mereka. Rendi yang memutuskan untuk membantu Naya, memberikan kode kepada gadis itu untuk diam setiap kali ada yang menyeru dirinya. Sebagai ayah dari mempelai laki-laki, tentu saja banyak hal yang melibatkan Rendi di luar sana.
"Naya, apakah kau melihat suamiku?" pekik Herni, ketika diambang pintu. Membuat Naya terkejut dan melompat ke arah mesin cuci. Ia takut Herni masuk dan melihat keberadaan Rendi disana.
Karena piring kotor yang tinggal sedikit, membuat ruangan menjadi lapang dan siapa saja bisa masuk. Takut Herni memergoki Rendi, Naya rela melangkah besar, dan tidak sengaja tersiram air dari selang yang ada di tangannya.
"Ba-bapak? Aku tidak melihatnya, Bu," sahut Naya gugup. Tubuhnya bergetar saat Herni masuk dan mendekat padanya.
"Oh, aku pikir kamu melihat." Kedua alis Herni berkerut melihat daster putih yang dikenakan Naya basah di bagian dada dan perut. "Ini kamu ngapain? Sengaja godain orang biar perkosa kamu? Seperti yang kamu lakukan kepada Kendra? Iya?" geramnya. Menarik bra hitam Naya yang terlihat dari balik bajunya yang basah.
Naya menggeleng. "Tidak, Bu. Aku tidak sengaja membasahinya."
"Alah, alasanmu!" Herni merampas selang air di tangan Naya dan menyiram air tersebut ke sekujur tubuh Naya hingga basah kuyup. Serta mengenai Rendi, yang jongkok bersembunyi di balik mesin cuci.
"Tuh, biar sempurna sekalian." Ledek Herni, tertawa puas melihat Naya yang sudah basah. Celana dalam dan branya terlihat sangat jelas dari balik daster putih yang ia kenakan.
"Tutup pintunya. Agar tidak ada yang melihat keadaanmu seperti ini kalau benar kau tidak ingin menarik perhatian para laki-laki. Nanti semua piring kotor akan ditumpuk di depan pintu, dan kau ambil ketika tidak ada orang. Paham?"
Naya memejamkan matanya. Ingin menangis tapi rasanya itu semua percuma. Karena Herni pasti akan semakin gila dalam memperlakukan dirinya.
Alhasil, Naya hanya mengangguk dan menutup pintu seperti yang diinginkan Herni. Dadanya memanas mengingat bagaimana perlakuan Herni yang begitu kejam. Lututnya melemas dan tubuh mungilnya terduduk di lantai. Tidak peduli lantai basahi dan penuhi busa sabun. Naya mulai terisak, ini semua bukan salahnya. Tapi sang ayah yang tega mencuri seluruh tabungan Kendra dan membawanya ke tempat judi.
"Jangan menangis," bisik Rendi. Seraya merangkul Naya dan memeluknya. Memberikan ketenangan dan kehangatan bagi Naya. Baik kehangatan secara lahir maupun batin. Ia juga mengecup lama pucuk kepala Naya, menyampaikan betapa ia peduli pada gadis yang telah dianggap anak sendiri.
Naya menelan tangisnya. Pelukan Rendi mampu menghapus rasa sakit yang ia rasakan beberapa saat yang lalu. Perlahan ia menoleh ke arah Rendi yang masih memeluknya.
"Terima kasih, Pak. Aku, aku tidak akan pernah bisa menjalani ini semua tanpa ada Bapak disini."
Tidak peduli siapa Rendi, Naya membalas pelukannya. Memeluknya dengan erat, seakan Rendi adalah tempatnya pulang dan bersandar.
"Jangan berterima kasih. Kamu adalah menantu saya, dan tentunya sudah saya anggap seperti anak sendiri.. Jadi kamu jangan lagi merasa sendiri dalam menjalani ini semua. Mengerti?" Menuntun Naya untuk berdiri. Agar tak membuat gadis itu semakin basah karena air yang menggenang.
Naya mengangguk lemah. Tidak tahu kenapa rasanya kecewa ketika Rendi mengatakan dirinya sebagai menantu. Padahal Naya berharap lebih dari itu sekarang.
Naya tersentak. Saat pikirannya menuntut hubungan lebih dari Rendi. Tangannya meremas kuat kemeja batik yang ada di bagian pinggang belakang Rendi. Mengusir rasa aneh yang tiba-tiba saja datang setiap kali mendapatkan perhatian dari Rendi.
"Ya, sudah. Ayo kita selesaikan ini." Rendi menarik kedua sudut bibirnya. Mengurai pelukan Naya dan cepat membuang pandangannya ke arah lain. Ia tidak ingin melihat tubuh basah Naya yang akan membuatnya lupa diri.
"Naya!!"
Baru saja Naya dan Rendi mulai bekerja, suara Lyly, adik perempuan Rendi terdengar. Seiring dengan suara ketukan pintu. "Cepat buka!"
Rendi mengangguk. Meminta Naya membuka pintu tersebut dan ia segera kembali ke balik mesin cuci.
"Ya, Kak?" sahut Naya, seraya mengeluarkan kepalanya dari balik pintu.
"Ini dress punyaku. Pakailah! Aira ingin berfoto denganmu." Menyerahkan sebuah dress kepada Naya.
Naya mengangguk. Segera keluar untuk mengambil dress tersebut dari tangan Lily. Tapi,
"Eits, kamu disana saja. Ganti disana saja; Kata ibu bajumu basah sedangkan di luar banyak orang. Sana masuk dan ganti bajumu. Aku tunggu disini jangan pakai lama!" bentak Lily. Melemparkan dress merah muda dari tangannya sebelum Naya keluar.
"Ta-tapi …"
"Jangan banyak bicara. Buruan!!" sergah Lyly, mendorong Naya masuk dan menutup pintu. "Lima menit!" sambungnya.
Naya membeku. Ia melirik Rendi yang sama terkejutnya dengan Naya. Bagaimana mungkin Naya bisa mengganti pakaiannya, sedangkan ada Rendi disana?
Bantu komen, ya. Aku mau lihat ada yang baca apa tidak.