Rasanya tidak sabar solusi apa yang akan bang Adam berikan, aku tau bang Adam juga tidak menginginkan perjodohan ini, secara sejak keci kami selalu bersama bahkan bang Adam pernah bilang kalau aku akan selamanya menjadi saudara terbaik.
"Bang, kita mau kemana?"
"Sebentar lagi juga sampai, tidak sabaran banget sih." Jawabnya sambil fokus pada jalan raya.
"Bagaimana kalau solusi yang Abang tawarkan tidak berhasil? Pokoknya Alisa gak mau jadi istri Abang. Amit amit jabang bayi." Keluhku. Bisa aku lihat dengan jelas senyum bang Adam di balik sepionnya.
"Siapa juga yang mau punya istri kayak Alisa, wong Abang sudah lihat semua isinya, gak ada yang menarik." Jawabnya sambil tertawa kecil.
Aku yang mendengar Jawaban menggelikan itu langsung berteriak dan memintanya berhenti seketika itu juga, tapi pria kalem bin tampan yang pandai baca kitab kuning ini terus saja melaju.
"Kalau gak mau berhenti, Alisa melompat ni."
"Silahkan saja, kalau mau mati."
"Abaaaaang! Gak banget sih jawabnya. Emang Abang pernah liat Alisa mandi?"
Bang Adam menghentikan sepedanya di bawah pohon rindang pas di pinggir jalan. Dia tersenyum melihatku manyun hampir tiga sentimeter.
"Yang bener aja Bang, seorang keturunan Kiai yang di segani di kampung, yang pandai baca tafsir dan kitab kuning suka mengintip Alisa mandi. Jujur aja, Abang suka sama Alisa? Bilang aja."
Yang di tanya malah tertawa lebih keras seakan apa yang aku katakan sebuah lelucon. Perasaanku semakin tidak nyaman, kali ini aku mulai mencurigai pria yang tampak orang gila karena terus tertawa.
"Puas!"
"Alisa. Dengarkan Abang. Sejak orok, kita bersama, mandi bareng, semuanya di kerjakan bersama bahkan waktu Alisa masih SD yang mandiin juga Abang. Ingat gak? Ya kalik Abang nikahin adik sendiri. Sudah jangan marah gitu." Jawabnya masih tertawa melihatku.
"Abang sih."
"Sorry. Ya udah, kita lanjut lagi." Sambil menghidupkan mesin sepedanya dan menyuruhku naik.
Kendaraan roda dua ini terus melaju melewati dua lampu merah, entah berapa meter lagi kita akan sampai pada tujuan. Hening tidak ada percakapan lagi di antara kami karena modku sudah rusak sejak tadi.
Bairlah aku nikmati dulu gelombang angin yang arahnya tidak menentu, harapan terbesar semoga perjodohan berantai di keluarga yang masih memegang ajaran kuno terputus di bawa gelombang alam bernama angin.
Di sebuah toko emas yang diserbu oleh pembeli bang Adam menghentikan sepeda motornya. Mendadak tubuh jadi panas, darah seakan naik 180 derajat, wajah jadi merah mata penuh api. Ini bukan solusi tapi awal dari penderitaan.
“Sudah sampai. Turunlah.”
“gak mau, Bang. Alisa gak mau turun.”
Aku masih kukuh di atas boncengan. Jika turun bang Adam pasti mau mengajakku masuk ke dalam dan memilih cincin pertunangan seperti yang diminta oleh bang Adam. Tidak mau! Itu tidak boleh terjadi, bang Adam tidak boleh melingkarkan cincin di jari manis ini, jari manis ini hanya untuk dia tulang rusukku yang masih dalam pencarian.
“Alisa. Adeknya Abang, turunlah,” pinta bang Adam pelan. “Abang mau memperkenalkan seseorang.” sambil melepaskan helm yang masih menempel di kepala.
“Siapa?”
“Itu dia.” Bang Adam menunjuk pada seorang gadis bergamis merah dengan hijab pasmina warna hitam. Dia mendekati kami, senyumnya sangat manis.
Eit. Tunggu. Ada apa ini? Pemandangan apa ini? Tidak bisa dipercaya gadis itu mencium tangan bang Adam, yang membuatku semakin terkejut bang Adam mencium keningnya. Oh Tuhan, siapa dia. Cantik sih lebih tepatnya manis saat melempar senyum padaku.
“Ini, Bang yang namanya Alisa?”
“Iya. Sa. Kenalkan Ini Lastri, istri Abang.”
What. Istri? Sejak kapan? Kapan nikahnya?
Oh bang Adam, jangan bilang ini istri simpanan. Tapi apapun yang dilakukan bang Adam setidaknya hari ini bara api di mataku mulai mereda seperti dapat semprotan keras dari tim pemadam kebakaran. Mungkin ini solusi yang bang Adam mau jelaskan.
“Sa. Kok bengong. Kenalkan Ini istri Abang.”
“Lastri.” Wanita itu mengulurkan tangan yang aku terima dengan hati terbuka seperti hamparan bunga mawar di taman.
“Beneran, Bang. Alisa tidak berhayalkan, Abang sedang tidak ngibulin kan?”
Aku mencubit tangan sendiri memastikan apa yang aku lihat. Ternyata sakit. Ini nyata
“beneran, Sa. Abang jelaskan di toko ya.” Bang Adam menggandeng tangan wanita yang disebutnya istri menuju toko baju muslim yang terletak di samping toko emas.
Dengan hati berbunga bak bunga mawar yang baru menunjukkan pesonanya aku mengikuti bang Adam memasuki toko, entah ini toko siapa aku tidak peduli. Yang jadi pertanyaan ku saat ini kapan dan dimana bang Adam menikahi wanita yang bernama Lastri itu. Kenapa kami keluarga besar sampai tidak tahu hal sebesar ini?
Lastri. Cantik, bulu matanya lentik, wajahnya oval, halus, hidung sedang-sedang, dipermanis dengan dua lesung pipi yang tidak terlalu dalam. Setidaknya itu kesan pertama saat aku berjabat tangan dengannya.
“Ceritakan, Bang. Dosa apa yang Abang dan mbak Lastri lakukan sehingga keluarga besar tidak boleh sampai tau rahasia sebesar ini.” Desakku saat bang Adam mempersilahkan aku duduk di sebuah meja istirahat yang ada di dalam toko.
“Abang sengaja melakukan ini, kami menikah siri dua bulan yang lalu,” terang bang Adam sambil memegang tangan istrinya.
Mata dan mulutku terbuka lebar. Masih tidak percaya dengan kejujuran yang mereka perlihatkan.
“Abang keterlaluan! Ini dosa besar, Bang. Masalah besar jika keluarga kita tau.” Ucapku pelan
Bang Adam yang Sholeh, yang penuh wibawa. Bang Adam yang jadi kebanggan keluarga hari ini menunjukkan kesalehan bang Adam kalah akan nafsu birahinya.
“Abang tidak punya pilihan selain bertindak. Mungkin ini jalan yang terbaik untuk menyadarkan Abah kalau jodoh tidak bisa dipaksakan.”
“Tapi, Bang. Ini salah! Abang sudah menodai keluarga kita. Abang pasti dihukum.”
“Saat abang tau, orang tua kita mulai membicarakan tanggal pernikahan kita. Abang tidak punya pilihan. Hati Abang sudah terikat dengan Lastri.”
Sebegitu besarnya cinta bang Adam sama mbak Lastri sehingga dia rela mengambil resiko sebesar ini. Aku sudah salah menilai bang Adam. Maaf kan Alisa bang.
“mungkin ini salah. Tapi ini bukan dosa karena pernikahan kami sudah di restui oleh keluarga Lastri. Mereka menerima keputusan Abang.”
Abang tidak melakukan dosa tapi kesalahan yang menguntungkan karena membuatku terbebas dari perjodohan ini.
Apapun keputusan Abang, Alisa bisa memahami. Mungkin jika Alisa ada di posisi bang Adam akan melakukan hal yang sama. Tapi bagaimana dengan citra Abang dan keluarga kita di masyarakat.
Mereka pasangan yang serasi. Sepertinya mbak Lastri jodoh terbaik buat bang Adam. Tapi dengan cara ini di mata keluarga dan masyarakat cintra mbak Lastri pasti jelek sekali.
“Ini solusi terbaik, Bang. Alisa juga tidak mau menikah sama Abang. Alisa mau cinta yang lain, tapi bukan Abang, tapi, Baang...”
“Apa?”
“Abang kan tau. Haram hukumnya menolak perjodohan ini.”
Bang Adam terdiam. Garis halus di wajahnya menunjukkan dia sedang mencari solusi.
Mbak Lastri mulai sibuk melayani pelanggan yang berdatangan. Apa dia kerja disini?
“Itu urusan nanti. Alisa pura-pura nerima aja. Jangan berontak biarkan Abang yang bicara dengan keluarga kita.” Jawabnya setelah cukup lama terdiam.
“Mbak Lastri kerja disini?” tanyaku yang terus memperhatikan kelihaian mbak Lastri dalam menangani pelanggan.
“Kita pemilik toko ini.”
“Kita?”
“Ya Alisa. Ini usaha yang kami rintis berdua. Gedung ini punya Ayah yang kami sewa.” Terang mbak Lastri yang sudah bergabung bersama kami.
Ini mah namanya sedia payung sebelum hujan. Keputusan yang tepat jika suatu hari nanti Akung mengusir bang Adam dari rumah, setidaknya mereka tidak akan jadi gelandangan.
Apa yang terjadi kemarin di toko busana cukup membuatku bernafas lega. Langkah selanjutnya aku hanya perlu menunggu tindakan bang Adam pemecah rekor satu-satunya keturunan dari Bani Ibrahim yang berani mengambil keputusan sendiri untuk memilih jodoh dan mungkin selanjutkan aku akan menyusul tapi dengan cara yang berbeda.
Harapanku perjodohan berantai di keluarga
kami akan sirna. Sebenarnya tidak ada yang salah dengan rantai perjodohan yang turun temurun hanya saja di era modern, di zaman yang sudah bertegnologi canggih sudah tidak etis lagi jika harus melingkar di satu darah. Paling tidak harus berkolaborasi dengan aliran darah yang lain. Menikah tidak harus sedarah bukan. Ini menurutku tapi tidak untuk tetuah di rumah.
Apa yang bang Adam lakukan emang salah tapi bukan kesalahan itu hanya bentuk protes halus yang sebentar lagi akan jadi bom bastis terutama untuk Akung, orang paling sepuh dan di hormati di rumah. Semua perintahnya wajib di turuti. Apa yang akan terjadi jika pernikahan bang Adam di ketahui. Oh sungguh tidak bisa aku bayangkan petaka yang akan terjadi.
“Apa kamu mau jadi istriku.”
Suara yang tidak asing tiba-tiba terdengar cukup lantang membuyarkan lamunanku.
Aku menoleh. Pemilik suara itu sudah berdiri di belakang, senyumnya terlihat manis saat melihatku tampak kebingungan, sepertinya dia suka sekali menggodaku.
Diaz namanya. Pria yang aku kenal tiga bulan yang lalu lewat temanku. Dara. Kami satu kampus beda fakultas.
“Aku putus dari Arin, dia ketahuan selingkuh.”
Apa maksudnya coba dia bilang kayak gitu. Tatapan matanya penuh pesona, seperti sedang menggoda, dia tersenyum membuatku salah tingkah. Dasar buaya, pikirku sedikit risih.
“Lalu?”
“Kita menikah saja. Sepertinya Allah telah menciptakan kita untuk selalu bersama.”
Hah, menikah? Yang benar saja. Kenal saja baru seumuran jagung, paling sebentar lagi juga menghilang kayak debu di hembus angin, tapi lucu juga sih, kayak dongeng yang tiba-tiba ada seorang pangeran ganteng ngajak nikah. Hahaha.
“Hello. Kamu sakit. Kesambet, dimana? ”
“Aku serius. Sa. Kita menikah saja.”
"Menikah? Lamaran aja belum. Alisa ntu pengen ta'arus yang mengesankan bukan kayak gini."
"Setiap hari kita ta'arufan, dan hari ini cukup mengesankan bukan. Lagian hari gini masih main ta'arufan, yang penting mantep di hati dan jiwa."
Menikah! Ya ampun. Baru saja aku bahagia karena ulah bang Adam, tiba-tiba ada petir menghantam hati begitu keras. Si pemilik petir itu tersenyum setelah mengajak menikah tanpa keraguan.
Sejenak suasana jadi hening. Kutatap pria di depanku cukup dalam begitu juga dengan dia yang bola matanya tampak lebar mempesona berusaha menyihir gadis cantik di depannya.
Seharusnya aku marah tapi entah kenapa amarah ini tertahan untuk sesaat, ada angin kesejukan mampir begitu lama mengukir senyum di hati. Aku tidak bisa menjawabnya karena yang kutahu cowok yang sedang patah hati hanya butuh hiburan untuk hatinya yang terluka. Lebih baik aku pergi meninggalkan dia sendiri.
Diaz menarik jari kelingkingku, sentuhannya terasa hangat. Kenapa dengan jantungku? Kenapa jantung ini berdetak begitu kencang seperti dikejar segerombolan harimau yang kelaparan.
Aku rasa, Diaz telah berhasil mempermainkan perasaan yang lagi mengharapkan seorang pangeran tampan yang akan membangunkan istana cinta untukku. Apakah dia jawaban dari do'aku, apa dia tulang rusuk itu?
“Alisa, tunggu,” Diaz menghadang langkahku. “Kamu marah?”
“Menurutmu?”
“Ok. Aku minta maaf. Sungguh aku serius dengan perkataanku.”
"Kenapa minta maaf?"
"Ya juga kenapa aku minta maaf , perkataanku tidak ada yang salah karena aku serius."
Kaget mendengar jawaban narsis tanpa dosa. Mimik wajahnya terlihat serius.
“Diaz. Apa harus, aku mempercayai seseorang yang lagi patah hati?” Diaz terdiam.
"Menurutmu aku becanda? Alisa, aku serius, kita menikah saja, hapus kata ta'aruf dan lamaran, kita langsung ke penghulu."
“Kamu tidak sedang minta mainan tapi sebuah kehidupan dari seorang gadis. Lagian jika hati sedang patah hati emang butuh payung untuk berteduh biar hatinya tidak semakin panas, dan maaf Alisa tidak siap jadi payung seorang yang sedang berkelana dengan cinta."
Aku meninggalkan dia yang masih berkelana dengan pikirannya. Semoga dia menemukan jawaban dalam setiap perkataanku.
Selama tiga bulan ini kehadiran Diaz cukup membuat hariku di kampus berwarna. Yah walau hanya sekedar membantu menyelesaikan tugas kuliah dan mengajak ke berbagai pameran buku atau hanya sekedar makan di kantin.
Kehadirannya cukup membuatku nyaman dan damai, namun aku tidak pernah membayangkan jika dia akan memintaku menjadi istrinya dalam kondisi patah hati. Bagiku itu itu kesalahan terbesar yang dilakukan oleh pria manapun, bagaimanapun juga hubungan itu di bangun berdasarkan tiang yang kokoh bukan sekedar berdiri karena terpaksa karena aku tidak bisa jadi obat pejangga yang patah hatinya.
***
Sepulang dari kuliah aku melihat pemandangan yang tidak biasa. Di ruang tamu. Abah, Umi, Abah Harun dan Umi Amina orang tua bang Adam sedang berdebat penuh penyesalan. Yang aku dengar Abah Harun terus meminta maaf sama Abah dan Umi.
Apa mungkin bang Adam sudah menceritakan pernikahannya dengan Mbak Lastri? Bagus lah kalau itu yang terjadi setidaknya pertunangan yang akan di resmikan dua hari lagi bisa dibatalkan.
Pelan-pelan aku melangkah menuju ruang tamu memastikan apa yang aku pikirkan itu benar adanya.
“Alisa.. maafin Umi ya nak." Umi Amina langsung memelukku sambil menangis. Di susul Abah Harun yang ikut mengelus bahuku. Sudah jelas raut wajah dua pasangan itu terlihat sedih dan kecewa. Apa yang aku pikirkan itu benar, bang Adam sudah memberi tahu mereka perihal pernikahan sirinya.
“Mungkin Adam bukan jodoh yang terbaik nak. Jangan bersedih ya. Jangan marah sama Umi juga.”
“Umi." Aku melepas pelukan umi Amina. Menyeka butiran kristal yang sedari tadi menghiasi pipinya. “Alisa tidak marah Umi. Jodoh tidak bisa dipaksakan. Bukankah Allah sudah menulis takdir kami. Umi dan Abah jangan sedih.”
Lagi-lagi Umi Amina memelukku dengan erat. Lalu mengajakku duduk di sampingnya. Sungguh aku sangat bahagia seandainya Tuhan memberiku sayap mungkin aku sudah terbang menuju ke langit ke tujuh menemui kumpulan malaikat yang sengaja menyambut kehadiranku.
“Adam sudah menikah dua bulan yang lalu dan kabar yang membuat kami sok, istrinya sudah hamil satu bulan.” Cerita Umi tertahan. Dia menarik nafas cukup panjang agar suaranya kembali normal.
“Umi dan Abah malu. Selama ini didikan kami tidak berguna. Entahlah wanita itu asalnya dari mana, bagaimana keluarganya, apa pekerjaannya.”
Hening. Yang terdengar hanya tangisan Umi Amina yang tak kunjung reda. Sesekali Abah Harun mencoba menenangkan dengan cara merangkul penuh cinta.
“Umi, Abah jangan marah ya sama, bang Adam. Jangan usir bang Adam dari rumah. Bawa istrinya kesini. Alisa yakin pilihan bang Adam tidak akan mengecewakan kita semua.”
Semua mata tertuju padaku seakan tidak percaya dengan apa yang aku ucapkan. Tangisan wanita di sampingku semakin jadi.
“yang sabar ya, nak.“ Dia mengelus telapak tanganku dengan jari yang basah karena air mata.
Umi. Ini bukan tentang kesabaran lebih tepatnya Alisa lagi bahagia. Jika Umi dan Abah tau hari ini aku sangat bahagia, mungkin mereka akan marah. Tapi tidak! Tidak boleh ada yang tau jika hatiku lagi dapat siraman bunga seribu warna dengan harum yang menggoda kecuali, bang Adam.
Eh tunggu. Dimana, Bang Adam? Apa Umi Amina sudah mengusirnya? Apa Akung sudah mengusirnya?
“Alisa tidak papa Umi, Abah, Akung. Jangan khawatir.” Aku coba menenangkan mereka yang memandangku dengan pandangan kesedihan. Ingin rasanya berteriak di depan mereka, kalau aku lagi bahagia.
🛩️🛩️🛩️