Bab 2

Pria itu lalu memotong pakaian dalam Lyra, menampilkan sederet halus kulit di dadanya.

Keyakinanku semakin kuat bahwa pria ini akan melakukan hal keji. Kuakui tubuh si pirang sangat seksi, lagi menarik. Kulitnya mulus, seputih susu. Pinggangnya ramping dengan tubuh semampai bak biola. Begitulah dulu ia menjebak atensi pria dengan pesona kecantikan dan mengambil apa yang bukan haknya.

Tiba-tiba pria itu menghunjamkan pisaunya dalam-dalam ke dada Lyra. "Dengan hati yang busuk," ucapnya, memutar pisau yang menancap.

Kali ini, tidak ada suara jeritan lagi, yang ada hanya suara berdenguk dari tenggorakan Lyra. Sesaat kemudian tubuh sekarat itu menggelepar liar, kejang-kejang. Lalu berhenti untuk selamanya.

Darah membanjiri lantai, membentuk kubangan merah mengerikan. Sangat kasar, pria itu menarik pisau yang menancap di tubuh tak bernyawa Lyra, lalu membersihkan darah dengan lidahnya.

"Tidak boleh meninggalkan jejak," racaunya.

Ia lalu berbalik ke arahku.

Inilah saatnya, giliranku untuk mati.

"Giliranmu, Manis," ucapnya.

Aku menatapnya tanpa gentar sewaktu ia mendekat, pria itu mulai mengarahkan pisau ke mataku.

"Untuk mata yang cantik."

Pandanganku berlabuh pada gerakannya sesaat, kemudian kembali mematut wajah memesona pria itu.

"Hei! Kau tak ingin menjerit dulu, atau memohon-mohon padaku?" tanyanya.

"Lakukanlah dengan cepat," balasku sarkas.

Ia menatapku tidak percaya, lalu tawanya membahana, menggema ke seluruh ruangan.

"Bagus! Bagus sekali, kau akan kubiarkan hidup, sampai aku melihat sinar di matamu meredup. Akan kutunjukkan cara mati yang bagus." Pria itu menurunkan pisau dan berjalan menjauh.

“Hei!” panggilku.

Si pria tampan menoleh, bahkan dari belakang ia memiliki fitur indah. Tegap, tak terlalu berisi maupun kurus.

"Siapa namamu? Tidak mungkin aku memanggilmu Tuan Pembunuh 'kan?"

"Mm ... aku tidak pernah memberitahu nama asliku pada mangsaku, kau bisa memanggilku sesuai selera.” Ia berjingkrak senang. “Aku bisa menjadi Kevin, David, Alan, atau nama-nama popular lain.” Ia terkekeh seolah itu adalah guyonan lucu, aku menanggapi dengan tatapan malas.

Melihat reaksiku, tawanya berhenti. Ia berjalan mendekat, berjongkok tepat di hadapanku. “Tapi baiklah! Kau adalah pengecualian." Pria itu mendekatkan mulutnya ke telingaku.

"Kau boleh memanggilku, Axel." Embusan napasnya menggelitik telingaku.

"Axel, namaku adalah ...."

"Shttt!!!" Axel langsung membekap mulutku.

"Aku tidak bertanya dan aku tidak mau tahu siapa nama mangsaku, kau cukup kupanggil, Manis!"

Aku mengangguk pelan.

"Bagus!" ucapnya sambil melepaskan bekapan tangannya.

Aku mungkin sudah gila, karena tahu berhadapan dengan pembunuh sadis tanpa gentar sedikit pun. Mungkin aku hanya belum sadar atau otakku belum berfungsi normal jika aku sedang dalam bahaya.

Ia memperlakukanku sangat baik. Setelah menerima begitu banyak beban dan sakit hati, betapa senangnya aku mendapat perlakuan manusiawi seperti ini, dan aku membuang jauh-jauh kenyataan bahwa Axel adalah seorang pembunuh.

Pria tampan yang bisa membunuhku kapan saja. Hari ini, esok, atau bahkan lusa. Kegamangan intuisi membuatku kehilangan persepsi bahaya. Otakku merespon lamban, terutama terhadap rasa takut. Aku tahu depresi telah mengambil kenormalan sebagai manusia.

Namun, Axel tidak puas hanya dengan membunuh Lyra, ia sangat ketagihan dengan membunuh, pria itu bercerita padaku dengan bangga bahwa ia sudah mulai membunuh saat usianya baru sepuluh tahun.

Ia membunuh kedua orang tua angkatnya.

Ya .... Dia adalah anak yatim-piatu.

Meski melihat kesintingan di mata Axel saat bercerita, tetapi entah kenapa ... aku merasa iba padanya.

Hidup dalam kegelapan karena dia ditolak oleh semua orang, sama sepertiku.

***

Decitan ban berpadu dengan teriakan manusia, dalam gerak lambat mobil bus menghantam tubuh sesosok remaja, kala kaki kecilnya menyeberangi jalan. Air mataku mengalir bersama teriakan keras.

“Tidaaak!” Aku terbangun bersimbah keringat.

Ruangan gelap membuatku semakin tercekik keputusasaan. Sakit. Kenangan mengerikan itu membuatku terisak sedih.

“Hei!” panggil suara sendu di sampingku, aku menoleh.

Perlu waktu sejenak hingga mataku berhasil menyesuaikan intensitas cahaya temaram. Itu Axel. Pria itu bergeming bagai patung manekin. Duduk di lantai, sementara aku menyadari telah tertidur dalam kondisi terikat di kursi.

“Apa?” Aku berharap dapat mengusap keringat yang hampir jatuh mengenai mataku.

Axel beringsut mendekat, menyadari intensiku dengan mengusap lembut kening basah ini.

“Jangan menangis.” Jemarinya turun menjamah wajahku. “pain, pain, go away!” Ia meniup lembut seolah mengusir duka lara yang tersirat dalam romanku. Sialnya, perlakuan kekanakan itu malah membuat air mataku mengalir deras.

“Apa yang membuatmu menangis?” Axel membelai kepalaku. “Tanganmu sakit?”

Aku menggeleng, tersedak pilu. “Mereka membenciku,” ujarku lirih.

“Siapa?”

“Orang tuaku.”

“Kenapa?”

“Karena aku menyebabkan adikku meninggal.” Perasaan bersalah itu mencengkeram semakin kuat, mengimpit kuerat.

“Bukan salahmu, kecelakaan itu bukan salahmu,” ujarnya.

Aku terbeliak tak percaya. “Bagaimana kau bisa tahu?”

Axel tersenyum ramah, mengusap air mata yang hampir menyentuh bibirku. “Kau berbicara dalam tidur, bagaimana sebuah kecelakaan bisa menjadi kesalahanmu?”

“Karena pertengkaran kami, karena aku dipecat, karena aku tidak bisa membiayai sekolahnya, andai saja … aku ….” Tangisku pecah, berderai keras meruntuhkan pertahanan terakhirku. Betapa lucunya menangis di hadapan orang asing. Bagaimana dia bisa mengerti?

Andai saja hari itu bisa diulang, andai saja adikku tak pergi dalam kemarahan dan berlari menyeberang jalan saat itu, andai saja Lyra tak membuatku dipecat, semua ini … tidak akan pernah terjadi.

Axel menepuk punggungku, berusaha menenangkan mangsanya. Konstan, berirama, membuatku merasa tak sendirian. Aku tenggelam dalam dunia kebaikan yang pembunuh ini ciptakan. Sebuah penerimaan.

Aku, si pendosa yang rapuh.

***

Hari berganti. Di mana ada ketenangan berikutnya pasti ada kericuhan. Axel membawa seorang pria gemuk ke ruang bawah tanah hari itu, menyiksanya dengan meminta si tambun memohon untuk hidup. Bagai binatang, kedua tangan terikat sementara sang korban merangkak meminta belas kasihan. Namun pada akhirnya, Axel tetap mengiris putus tenggorokan pria itu.

Pembunuhan kali ini memberi efek pada otakku. Mungkin perlahan-lahan otakku mulai sembuh.

Darah yang menggenangi lantai membuat isi perutku bergejolak mual, saat ia menatapku, aku membuang wajah, sebelum balas menatapnya dengan tipuan pandangan hampa.

Namun, sebenarnya aku tahu ia menangkap kilatan dalam mataku.

Apakah ia sudah melihat ketakutan di sana?

Jantung kuberdegup cepat mengamati reaksi si pembunuh. Axel terlihat tak tertarik, masih menutup rapat bilah indahnya. Ia lalu menyeret mayat pria gemuk itu pergi.

Bukan darah yang membuatku takut saat otakku sudah mulai sembuh, tetapi permohonan mereka untuk tetap hidup dan jeritan menyayat mereka yang terus membayangi tidurku.

Bagaimana Axel masih bisa tertidur lelap setelah semua yang telah ia lakukan? Apakah hatinya sudah berubah menjadi batu? Atau aku yang terlalu lemah, yang sudah berubah dari niat awal untuk mati.

Meski selalu dalam kondisi terikat, aku diberi tempat tidur dan makanan yang cukup. Bahkan setiap satu kali sehari ia melepaskan ikatan dan berdiri mengamatiku mandi.

Walaupun respon otakku masih lambat, tetapi aku merasa malu juga pada awalnya. Namun, karena dia hanya melihat tanpa berbuat macam-macam, bahkan boleh dibilang dia sangat sopan padaku, lambat laun perasaan malu itu hilang dengan sendirinya.

Ia memperlakukanku sama, seolah kami adalah sesama pria, tidak pernah terpancar nafsu dalam matanya.

Itu yang membuatku merasa aman, meskipun kadang kami tidur berdampingan.

Di luar dari kesintingannya dalam ketagihan membunuh, Axel terlihat seperti manusia pada umumnya.

Ia sering mengajakku berbicara, menceritakan tentang dirinya atau bertanya tentang diriku.

Bahkan mungkin dalam kondisi biasa, aku mungkin akan jatuh cinta padanya.

Tidak! Aku mungkin akan tergila-gila padanya.

Secara fisik, ia terlihat seperti model atau aktor terkenal yang salah lokasi.

Ya, tipe yang akan membuat iri para pria dan membuat wanita tergila-gila.

Kau bisa membayangkannya sendiri bagaimana rupanya, sangat sulit untuk menjabarkannya.

Wajahnya lebih dari 6X kata "sangat" tampan.

Ya ... seperti iblis dalam rupa malaikat. Dia beracun, tetapi memikat.

Bab 3

Setelah kira-kira lima hari tinggal bersamanya, lebih tepat disekap olehnya. Aku mulai tahu kalau Axel tidak sembarangan memilih mangsa.

Mangsa yang ia pilih adalah orang-orang yang mempunyai kecenderungan untuk berbuat jahat.

Seperti pria gemuk itu, yang ternyata sangat suka korupsi.

Axel bercerita tentang bagaimana cara menjerat mangsa, dengan pesona yang dimilikinya dan tutur kata halus, setiap mangsa menjadi lengah tanpa tahu bahwa yang sedang mereka hadapi adalah iblis berwajah malaikat.

Bisa kubayangkan bagaimana wajah sendu Lyra yang menatap Axel penuh harap, terjerat oleh daya pikatnya. Juga iming-iming uang pada pria gemuk mata duitan itu. Hawa nafsu menjadi racun yang membuat mereka menemui ajal.

Seperti laba-laba menjerat mangsanya, sekali terjerat tak akan bisa melepaskan diri. Mungkin ... mungkin saja, perlahan-lahan aku juga mulai terjerat pesonanya.

Kadang aku berharap ia berhenti untuk memuaskan keinginan membunuh. Karena aku tahu, suatu hari nanti ia akan melihat ke dalam mata ini, dan menemukan ketakutan yang mulai tumbuh. Lalu, ia tidak akan menginginkan diriku lagi, Axel akan menyingkirkanku, sama seperti ia menyingkirkan mangsa-mangsanya.

Hari itu Axel duduk dengan tenang di samping tempat tidurku, aku tidak tahu hari apa? Atau jam berapa? Pagi, ataupun malam.

Di sini, aku tidak bisa menghitung waktu dengan tepat, yang menjadi patokan bahwa satu hari telah terlewati adalah saat dia memberiku makan yang ketiga kalinya.

Axel berdiri, membuka ikatan pada tanganku dan membawaku ke kamar mandi. Sementara aku melepas pakaian, pria itu menatap langit-langit plafon. Tubuh tegapnya memblokir jalan keluar. Aku meraih shower dan mulai mengguyur tubuh. Tak seperti biasanya dia menyuruhku mandi sebelum memberi makan.

Aneh, apa yang direncanakan pembunuh ini?

Aku melayangkan pandang mengeja setiap jengkal fitur Axel, kemeja putih menambah ketampanan pria itu. Rambut hitamnya tergerai hampir menyentuh alis, acak-acakan, tetapi terlihat cocok dengan bentuk wajah lonjong Axel.

Axel tampak melamun, kadang menggoyangkan kaki dengan perlahan, beralih menatap ke lantai dengan pandangan kosong. Lalu tiba-tiba ia menoleh ke arahku dan tersenyum memikat.

"Hei, Manis! Hari ini aku mengajak seorang teman datang, kita akan bermain-main dengannya."

OH! Kau tentu sudah tahu maksudnya. Dia akan beraksi lagi. Akan ada yang dibunuh hari ini.

Sanggupkah aku melihat pembunuhan dengan otakku yang sudah mulai sembuh? Bukan! Yang sudah benar-benar pulih karena penerimaan dan kebaikannya.

Axel melemparkan handuk dan kaus baru panjang yang menampilkan kakiku, tanpa celana.

"Hei, Manis! Kurasa tamu kita sudah datang," ucapnya. Menarik tubuhku ke ranjang, kembali mengikat kedua lenganku.

Benar saja, dentang bel di lantai atas terdengar sesaat kemudian.

Axel tak segera membuka pintu, ia malah mengambil beberapa perlengkapan. Tentu saja kalau kujabarkan akan membuat kalian semua bergidik ketakutan.

Ia meletakkan semua senjatanya di atas sebuah meja di seberang tempat tidurku, kemudian dengan santai menaiki anak tangga menuju lantai atas untuk menemui mangsanya.

Beberapa saat kemudian, aku mendengar suara percakapan, karena Axel meninggalkan pintu ruang bawah tanah terbuka sedikit, dan jelas mangsanya adalah seorang wanita.

Suara wanita itu terdengar senang, tawa riangnya menggema hingga di tempatku berada, tanpa tahu bahwa ajal akan menjemputnya sebentar lagi.

Langkah-langkah kaki mulai terdengar menuruni tangga ke ruang bawah tanah, kemudian pintu ruang bawah tanah mulai terkuak.

Axel menarik wanita itu masuk, si wanita cekikikan genit.

Mengalungkan lengan ke pinggang Axel. Ia berhenti tertawa saat melihatku terikat di ranjang, tampak erotis padahal sebenarnya ....

Aku menatapnya dengan iba. Wanita itu berambut ikal panjang berwarna cokelat gelap dengan pakaian sangat minim, yakni rok mini dan blouse crop yang menampilkan perut rampingnya.

"Siapa itu, Sayang?" tanyanya. Wanita itu menatapku tidak senang, api cemburu membakar di bola mata besar ber-eyeliner tebal.

Dandanannya sangat menor. Maskara biru mewarnai kelopak matanya bersama alis melengkung tajam.

Axel hanya tersenyum, kemudian mengedipkan mata. Pria itu menutup pintu ruang bawah tanah dan menguncinya.

"Kau keberatan kalau ada yang lain? Jangan khawatir, dia hanya pelengkap saja, Kaulah yang paling utama." Senyum Axel melunakkan tatapannya padaku.

"Well ... biarkan saja dia, aku tidak keberatan," ucapnya. Si wanita menilik seisi ruangan, mengernyit sejenak saat melihat noda kehitaman pada lantai. Ia melepas sepasang heels berwarna hitam mengilap dengan pantulan kerlipan berlian di depan pintu. Sejenak, si wanita mengendus udara, tetapi saat melihat Axel mendekatinya, wanita itu mengabaikan bau ruangan ini.

Axel membelai wajah si wanita, menatap intens penuh cinta, sungguh! Aktingnya bahkan membuat mulutku menganga lebar. Jemari Axel menyelipkan untaian rambut ikal ke belakang telinga wanita itu.

“Kau sangat cantik,” puji Axel, membuat wanita itu tersipu malu-malu.

Telunjuk wanita itu menyentuh wajah Axel, bergerak dari tulang hidung mancung dan berhenti di bibir merah Axel. Pandangannya tak bisa beralih. Jemari si wanita mengelus bibir Axel berulang kali. Betapa ia ingin segera menanamkan ciuman di sana.

“Sudah makan?” Suara berat Axel terdengar merdu, senyum si wanita tak bisa meninggalkan bibirnya.

“Belum, aku ingin menikmatimu terlebih dahulu.”

Ia mendorong Axel perlahan ke dinding. Mengimpit tubuh pemuda itu dengan tubuh sintalnya. Lalu bibir merah ranum si wanita mulai menciumi wajah Axel.

Mula-mula di pipi dan leher, kemudian naik ke bibir Axel. Menanamkan kecupan birahi ke bilah merona Axel.

Kulihat Axel mengernyit jijik, tetapi membiarkan wanita itu terus melakukan aksinya.

“Sabar.” Axel menghindar main-main. Memeluk pinggang si wanita sambil sebelah tangan membelai punggungnya mesra.

“Kau sangat tampan, bagaimana aku bisa sabar, waktuku tak banyak, Sayang.”

Jemari wanita itu mulai menelusuri tubuh tegap Axel dan mencoba untuk membuka kancing baju pria itu, barulah Axel menghentikan tangan si wanita.

Wanita itu menatapnya bingung. Penolakan Axel melukai harga dirinya.

“Kenapa?” tanyanya heran.

"Pejamkan matamu," pinta Axel, "aku punya kejutan." Axel berbisik ke telinga wanita itu, sengaja menghela napas perlahan seolah menahan nafsu, sangat erotis, sampai aku merinding mendengarnya.

"Oh, ya?" Wanita itu tertawa nakal.

"Tapi jangan mengintip ya." Axel mencolek hidungnya main-main.

"OK!" Wanita itu terkekeh, kemudian menuruti perintah Axel, memejamkan kedua matanya.

"Sudah belum?" tanyanya sambil memasang gaya seksi. Tangannya bergerak untuk melepas kancing blouse-nya sendiri.

Dia pasti sangat berharap Axel akan tergoda dan menerkam tubuhnya.

Ingin sekali aku menyuruhnya untuk membuka mata dan melihat Axel yang sedang meraih sebuah pemecah es.

Wanita bodoh! Buka matamu, Lihat! Malaikat maut sedang melangkah ke arahmu.

Wanita itu sama sekali tidak menyadarinya, sekarang ia malah sudah melepaskan baju atasannya dan membuangnya ke lantai. Ia menyilangkan kedua kaki, sementara tangannya mengelus tubuh sendiri.

"Datanglah sayang," desahnya, menggigit bibir bawah bersama erangan menggoda.

"Seperti harapanmu!" Axel tertawa sinis sambil menghunjamkan pemecah es itu ke ulu hati si wanita.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED