Pram hadir di rumah sakit itu. Dari kejauhan, saat melangkah di koridor rumah sakit itu, ia melihat Widya yang nampak lelah.
Ia lantas mendekat pada Widya yang kini duduk di ruang tunggu.
"Bagaimana? sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Pram.
Widya menatap wajah mantan suaminya. Wajah yang masih segar, tampan, dan terlihat awet muda.
"Aku tidak tahu, pagi tadi pada saat seperti biasa aku ingin bekerja dan menyiapkan semuanya, aku ke kamar Andi. Namun aku melihat darah malah keluar dari hidungnya. Bantal tidurnya penuh dengan darah."
"Terus, apa kata dokter?"
"Aku masih menunggu. Kata dokter kondisi Andi harus pulih dulu. Dokter tetap melakukan penanganan yang terbaik."
"Mungkin ini gara-gara kamu yang tidak perhatian dengan Andi!" tukas Pram. "Bagaimanapun dia baru kelas 1 SD. Kamu dari Andi kecil selalu melepaskannya dengan pembantu. Kamu selalu sibuk dengan toko kuemu!"
"Mas!" kata Widya. "Aku bekerja untuk Andi. Aku bekerja keras buat anakku. Setiap di toko kue, yang kuperhatikan cuma dia. Aku selalu menelpon Desi walaupun sibuk di toko kue. Sebaliknya malah kamu yang tidak pernah memperhatikannya. Setelah kita bercerai, Andi bahkan tidak pernah mengenal siapa ayahnya!"
"Widya??"
"Tadi aku juga tidak mau memberitahukan hal ini pada Mas Pram, karena aku juga tahu Mas pasti sibuk dengan keluarga kecil, Mas. Aku tidak ingin membebani semua ini pada Mas Pram. Namun apa daya, aku takut semua ini menjadi sesuatu yang salah. Bagaimanapun kamu ayahnya, jadi aku meneleponmu." Widya lantas menghela napas. "Aku bekerja keras untuk Andi Mas! Aku menjadi single parent. Mas Pram tahu sendiri, setelah bercerai, Mas Pram memang lepas tangan, tidak bantu apa-apa. Aku tahu mas Marah. Aku tahu Mas kecewa, tapi aku hanya ingin melakukan yang terbaik untuk aku dan anakku!"
Pramudya menghela napas mendengar jawaban mantan istrinya. "Tapi seenggaknya kalau kamu lebih banyak waktu untuk dia, mungkin semuanya tidak akan jadi begini!"
"Tidak patut untuk saling menyalahkan, Mas. Sesudah perceraian aku benar-benar berjuang. Walaupun Andi suka menanyakan Ayahnya, aku tetap menutupinya. Bukan karena aku tidak ingin Andi mengingat ayahnya. Namun aku tahu, kamu telah sibuk dengan keluarga kecilmu!"
Pram diam. Sebetulnya emosinya masih memuncak. Widya memang selalu begitu. Dulu, sebelum mereka bercerai pun, kehidupan mereka juga seperti itu. Monoton. Widya lebih sibuk dengan pekerjaannya di toko kue, dibandingkan memerhatikan keluarganya. Sampai akhirnya malah jadi begini!
Tiba-tiba dokter keluar dari ruangan periksa.
"Keluarganya Andi?"
"Ya Dokter," Widya dan Pram menyahut hampir bersamaan.
"Keadaan Andi sudah normal kembali. Ia bisa pulang seperti biasa. Ibunya mohon ke ruangan saya?"
Dokter berlalu ke ruangannya, dan Widya mengikutinya.
Widya lalu duduk di depan dokter yang usianya sudah setengah abad itu.
"Untuk sementara ini keadaan Andi menurut saya masih baik-baik saja. Saya hanya memberikan obat untuk penghentian darahnya juga obat-obatan lain. Apakah selama ini anak Ibu pernah mengeluh sebelumnya?"
"Tidak pernah, dok," ujar Widya. "Selama ini ketika saya pulang dari toko kue, saya melihat Andi bermain seperti biasa di rumah."
"Baiklah. Setelah ini saran saya Andi agak lebih diperhatikan. Jikalau ada apa-apa lagi bisa langsung kesini?"
"Apa ada hal yang sangat serius, dokter?"
"Untuk sementara memang belum bisa kami pastikan. Namun keadaan Andi sudah dapat ditangani dengan baik. Ibu tak perlu khawatir ya. Takutnya khawatir yang berlebihan malah memperburuk kondisi Andi."
Dokter lalu mencatatkan resep obat.
"Ini resep obatnya. Dan semoga Andi bisa lekas sembuh."
"Ya, dokter. Terima kasih."
Sedikit lega, Widya akhirnya keluar dari ruangan dokter. Dia langsung berjalan ke ruangan tempat Andi diperiksa. Dan disana sudah ada suaminya.
"Sudah," kata Widya memberitahukan pada suaminya dengan suara pelan. "Aku harus mengambil obatnya dulu, baru bisa pulang."
"Sekarang?" tanya Pram.
"Ya, langsung pulang saja Mas. Andi tampak lemah. Biar dia bisa istirahat di rumah. Dokter juga belum menyarankan untuk dirawat inap."
Andi menatap Ibunya.
"Masih sakit, nak?" tanya Widya.
Andi menggeleng.
"Ya sudah, kita pulang. Biar Andi Papa gendong," kata Pram kepada anaknya itu.
***
Andi sudah berpindah pada gendongan Widya, dan mereka sudah masuk ke dalam mobil Pram.
Pram nampak fokus menyetir untuk mengantar Widya pulang ke rumahnya.
"Dokter bilang apa tadi?" Pram membuka percakapan.
"Harus fokus menjaga Andi. Kalau misal ada apa-apa dengannya. Harus cepat dibawa ke rumah sakit lagi."
"Aku bilang juga apa?" desis Pram.
"Setidaknya kita bagi tugas, Mas. Apa Mas nggak nyadar kalau aku yang lebih banyak mencurahkan waktu untuk Andi!" Widya bahkan harus memekik saat mengatakannya.
"Mama..." Andi tiba-tiba bersuara. Tiba-tiba takut karena pertengkaran Ayah dan Ibunya.
"Kalau ada apa-apa memang selalu laki-laki yang disalahkan!" Pram berkata agak sedikit kesal.
"Aku tidak pernah menyalahkan Mas Pram. Setidaknya Mas juga harus lebih memerhatikan keadaan Andi. Tidak pernah ada yang melarang Mas untuk melihat Andi. Andi adalah anak Mas juga."
Pram diam mendengar penuturan mantan istrinya.
Widya lantas mengusap puncak kepala Andi. Memeluknya dengan penuh rasa sayang. Lalu dikecupnya kening anak itu. "Andi pusing nggak kepalanya?"
Andi menggeleng.
Jeda. Hanya keheningan mengantar mereka hingga ke rumah Widya.
Hingga mobil berhenti tepat di sebuah rumah sederhana.
"Kalau ada apa-apa, telpon aku," tutur Pram di balik kemudi, setelah keduanya turun. Widya menganggukkan kepalanya.
Namun Pram akhirnya turun. Ingin melihat lagi lebih jelas kondisi anaknya.
Pram menghampiri Andi yang berada dalam gendongan Ibunya. "Andi yakin nggak papa, Nak?"
Andi mengangguk. "Papa kenapa nggak tidur di rumah Mama saja?"
Ucapan itu membuat Pram menoleh ke arah mantan istrinya.
"Papa besok harus kerja pagi-pagi," kata Pram. "Papa nanti usahakan kalau waktu luang, nyamperin Andi."
"Janji ya, Pa."
"Ya."
"Papa pulang dulu ya?"
Pram lalu mengecup puncak kepala anaknya. Lalu dia beranjak masuk ke dalam mobilnya.
Widya hanya memerhatikan tingkah polah mantan suaminya dengan perasaan yang sulit sekali diartikan. Permintaan Widya tidaklah banyak, agar Pram sekarang lebih banyak mencurahkan waktunya buat Andi meski dia sudah memiliki keluarga baru.
Pram menghidupkan mesin mobilnya, dan mobil pun meluncur pergi.
***
Masih menggendong Andi, Widya mengetuk pintu rumah itu. Desi-pembantu rumah tangganya masih setia menunggui rumah.
"Gimana Bu?" Desi tak tahan untuk tidak bertanya. "Kondisi Andi?"
"Baik-baik saja, Des." ujar Widya yang langsung menuju kamar anaknya. "Sudah dibersihkan kamar Andi, Des?" tanya Widya kemudian.
"Sudah Bu,"
Desi langsung membantu Widya membukakan pintu kamar anaknya. Membantu Widya membaringkan Andi ke tempat tidurnya.
"Sudah malam Des, pulanglah. Biar besok pagi-pagi kamu bisa kesini lagi."
"Iya, Bu," jawab Desi. "Kalau Ibu mau makan malam, tadi saya sempatkan masak. Semuanya sudah siap di meja makan."
"Ya, terima kasih, Des."
Widya lantas keluar kamar. Mengikuti langkah Desi yang keluar rumah. Setelah memastikan pembantunya itu pulang dalam keadaan aman, Widya lalu ke kamar mandi untuk mandi.
Usai mandi, layaknya seorang Ibu yang sangat memerhatikan anaknya, Widya kembali ke kamar Andi dengan baskom berisi air hangat kuku untuk mengompres kepala anak itu.
Widya mengompres kening Andi dengan perasaan sayang. Bulir air matanya akhirnya tumpah. Dia berharap Andi baik-baik saja, dan esok semoga keadaan anaknya sudah lebih baik.
Andi tampak menggeliat, kemudian anak itu memiringkan badannya. Dengan air mata yang keluar dari sepasang matanya, Widya mengelus puncak kepala anak itu dan menciuminya dengan penuh rasa sayang.
***
Pram baru saja masuk ke rumah itu. Rumah besar miliknya. Dilihatnya penghuni rumah. Sepi. Sari-pembantu mereka mungkin sudah istirahat di kamarnya. Dan ketika masuk kamar, Pram malah tidak menemukan Intan berada di kamar mereka.
Tatkala membuka kamar Kavita-anak perempuan mereka. Pram menyaksikan istrinya itu tertidur di kamar anaknya itu.
Pram beranjak ke kamar tidur. Sesampainya di kamar, pria itu membuka kancing atas pakaiannya untuk mengusir hawa panas.
Pram lalu berbaring di tempat tidurnya. Pikirannya kemudian menerawang. Lama ia masih membayangkan wajah mantan istri dan anak laki-lakinya. Baru kali ini rasanya ia membayangkan betapa susahnya Widya mengurus anak mereka. Mengapa ia baru kepikiran sekarang?
Hanya lantaran ia kecewa terhadap Widya, ia hanya mencukupi kebutuhan Andi, dan itupun hanya lewat rekening, jarang menemui mereka. Hampir tidak pernah lagi Pram menjenguk anaknya pasca perceraian. Ya ampun. Ayah seperti apa dia?
Pram akhirnya mengubek-ubek poto lama yang masih ia simpan secara sembunyi-sembunyi, karena ia tidak ingin barang-barang pribadinya diketahui Intan-istrinya yang sekarang.
Namun justru melihat poto-poto ia dengan mantan istrinya itu, serta anak mereka-Andi membuat Pram berpikir jernih, bahwa keduanya sungguh butuh perhatian darinya.
Kini, Pram baru menyadari bahwa selama ini ia sudah begitu egois.
***
Widya memindahkan dua loyang berukuran besar berisi Muffin ke nampan-nampan kecil dan menaruhnya di etalase depan. Seperti inilah hari-harinya. Mengurus toko kue yang coba dibangunnya setelah perceraian 4 tahun lalu.
Setelah merasa kesulitan uang sesaat setelah bercerai, ia memilih bertahan. Ia membangun toko kue dengan segenap tenaganya. Passion yang selama ini ia pendam dan ia geluti dengan baik, akhirnya bisa ia aplikasikan dengan sangat baik.
Widya tahu, sejak bercerai, ia harus menghidupi dirinya sendiri. Walaupun ia menerima uang kiriman dari Pram untuk anak laki-lakinya, namun ia bukanlah perempuan yang mau berpangku tangan.
Widya berhasil survive. Widya berhasil move on. Widya berhasil meneruskan hidup. Bodoh namanya jika menyerah pada keadaan dan dia bukan termasuk perempuan yang seperti itu.
Setelah baru saja selesai meletakkan kue-kue muffin yang matang itu, ia beralih menyusun kue brownies kukus yang sudah dipotong-potong dengan sangat cantik.
Widya terhenyak saat Haikal-seseorang yang kini masih berstatus teman-bagi Widya. Dan pria itu nampak sudah tersenyum padanya.
"Kemarin aku tidak melihatmu ada di toko kue," katanya.
"Andi sakit. Tiba-tiba saja keluar darah dari hidungnya."
"Mimisan! Kau serius?"
Widya mengangguk pelan.
"Dari kantor aku memang langsung kesini kemarin. Kepala bagian memintaku untuk memesan kue disini buat rapat nanti hari Sabtu."
"Kau sudah memesannya?"
"Sudah, saat memesan aku bertanya soal kamu?"
Widya menghela napas. Dia lalu berjalan ke depan. Widya duduk di sebuah kursi dan Haikal mengikuti Widya lalu duduk di depan perempuan itu.
"Aku cemas dengan kondisi anakku. Aku takut ia..."
"Tapi Andi baik-baik saja kan?" potong Haikal.
"Saat ini masih dalam keadaan baik."
"Terus di rumah?" tanya Haikal.
"Aku minta Desi yang menjaga dan urus. Karena kau tahu sendirilah aku sibuk di toko kue. Ya, kau tahu sendiri jika sampai aku tidak bekerja."
Sepasang mata Widya sudah menerawang. Terbayang sudah saat dulu sebelum toko kue ini dibangun, dan ia hidup dengan begitu susahnya. Sampai akhirnya Haikal memberanikan diri menggenggam jemarinya.
"Aku mengerti. Mungkin...aku akan merasakan apa yang kau rasakan jika aku punya anak, dan harus menghidupi anakku dan menjaganya pula."
"Aku terlalu takut," kata Widya. Masih terbayang peristiwa kemarin pagi. Bantal tidur Andi yang penuh darah.
"Jangan terlalu khawatir. Sebaiknya harus tetap optimis. Jangan pesimis Widya, aku tahu kamu perempuan yang kuat."
"Aku sampai harus memanggil Pram!"
"Agar kau tak selalu disalahkan?" tanya Haikal.
Widya mengangguk.
"Tetap tabah, Widya. Anakmu membutuhkanmu, karena kau Ibunya."
Widya mengusap air mata yang tiba-tiba tumpah. "Eh, kau mau minum apa Kal, kubuatkan es teh manis ya?"
"Nggak usah Wid, aku harus balik ngantor lagi. Kesini cuma memastikan pesanan itu. Ya, aku harap kau tahu apa-apa yang aku pesan untuk Sabtu besok."
"Beres, ntar aku lihat-lihat di meja pesanan kue," ujar Widya. "Oh iya, aku harus bekerja lagi. Aku mau ke ruangan produksi."
"Aku juga mau balik ke kantor." Pria itu sudah berdiri dan menyunggingkan senyumnya. "Terima kasih Widya."
"Aku yang terima kasih. Karena kau sudah menjadi pelanggan setia untuk toko kueku." Setelah mengatakan itu Widya pun tertawa.
Pria itu sudah keluar dari toko kue dan melambaikan tangannya.
Widya tersenyum dengan perasaan yang sulit ia gambarkan.
Terlihat Haikal sudah masuk ke dalam mobilnya, dan Widya pun sudah masuk ke dalam untuk kemudian menuju ruang produksi kue.
***