Bab 2

SETELAH 17 TAHUN PERNIKAHAN 2

"Amira, bulan ini aku bisa kasih uang tiga ratus ribu. Semoga bisa cukup untuk peganganmu dan Yoona di sini kalau ada kebutuhan mendadak. Untuk makan kurasa tidak ada kendala, rumah sakit selalu menyiapkan makan tiga kali sehari untuk pasien." ucapku sembari mengeluarkan tiga lembar uang merah di depan Amira.

"Taruh saja di sana atau serahkan pada Yoona. Atau jika kau lebih membutuhkan, kau boleh menyimpannya lagi."

Aku mendengkus. Terkadang perempuan susah sekali untuk dimengerti.

"Apa kau tidak ingin menerima uang ini? Apa kau anggap ini kurang? Atau kau ingin lebih banyak? Jangan begitu, Amira! Syukuri apa yang ada. Hargai pemberian suamimu!" ujarku.

Wanita itu melihatku.

"Sudah kubilang, letakkan saja di sana, atau berikan pada Yoona. Dia yang mengurus segala sesuatunya. Tolong jangan terlalu menekanku! Kepalaku pusing dan kau membuat keadaanku semakin buruk. Keluarlah dan urus segera pernikahanmu dan Laila." ucapnya.

"Apa kau cemburu pada Laila? Apa kau tak rela aku menikahinya?"

"Ya Rabb, aku ikhlas kau bersama Laila, mengapa masih bertanya? Sudahlah ... Aku ...,"

Kulihat Amira kesusahan bicara. Mungkin dia menahan sesak karena cemburu.

"Amira, meski nanti aku sudah memiliki Laila, statusmu masih istriku. Semua tak ada yang berubah."

Amira tak lagi menanggapi. Hanya kulihat dia gelisah. Cemburu memang membuat kondisi orang berubah. Bahkan sekarang ia tak mau bicara lagi.

"Assalamualaikum, Bu!" Terdengar suara Yoona. Anak itu muncul dari balik pintu dengan sebuah plastik kresek hitam menggantung dalam tentengannya. Anak itu tak menyapaku, justru ia terlihat kaget dengan keberadaanku. Lalu ia abai pada ayahnya, keterlaluan. Inikah ajaran Amira pada anaknya?

Yoona masuk dan memusatkan perhatiannya pada Amira.

"Ibu? Ibu?" Anak itu meraba-raba kening ibunya.

Amira masih diam tapi nampak gelisah. Di depan Yoona pintar sekali drama perempuan itu.

"Sebentar, Bu. Aku panggilkan perawat." Yoona berlari keluar ruangan.

Huuh, mengapa dia tak menyapaku terlebih dahulu? Mengapa tidak menyalimiku dan mencium punggung tangan ayahnya ini? Dari umur segini sudah nampak benar sifat keras ibunya menurun padanya.

Tidak lama kemudian Yoona datang bersama dua perawat dan seorang pria dengan pakaian putihnya.

Mereka memeriksa keadaan Amira. Dokter itu nampak kaget.

"Cepat, bawa ibu ini ke ruangan ICU segera!" perintahnya dengan suara tegas.

"Baik, dok!" Dua perawat itu juga nampak siap dan segera bergegas sesuai perintah."

Aku bengong disana. Sementara Amira telah di bawa oleh mereka. Mungkin ke ruangan ICU.

Sebentar kemudian Yoona kembali masuk.

Tiba-tiba anak itu menarik tanganku kuat ke luar ruangan. Aneh sekali. Ia tak memperlakukan aku seperti ayahnya? Mana sikap sopan santunnya?

"Ayah, apa yang ayah lakukan pada ibuku?" Matanya menatapku tajam sekali.

"Tidak, aku tidak melakukan apapun pada ibumu. Sebaiknya jaga mulutmu! Dan sopanlah pada ...,"

"Bohong! Ayah, kalau datang hanya untuk membuat keadaan ibu semakin parah, sebaiknya ayah tidak usah datang kemari. Atau jangan-jangan ayah ingin mengatakan perihal Laila? Tolong jangan katakan! Ayah jangan pernah mengatakan itu pada Ibu sekarang!"

Haaah? Dia sudah tahu perihal Laila? Bagus!

"Kalian tidak mau menerima Laila? Egois sekali kalian!"

"Ayah bisa memikirkan siapa yang egois di sini!"

"Diam, Yoona!"

Aku benar-benar emosi.

"Cukup, Ayah! Lebih baik ayah pulang sekarang!"

"Aku ayahmu! Aku berhak datang kemari dan menengok ibumu!"

"Ya, tapi kedatangan ayah tidak ada gunanya!"

Plakk!

Sebuah tamparan mendarat di pipi remaja itu.

"Terimakasih sudah menamparku!"

Yoona memegang pipinya. Ada rasa menyesal karena aku sudah menamparnya. Tapi ia pantas mendapatkannya. Siapa suruh jadi anak pembangkang.

"Ingat, Yah, jangan datang lagi kalau hanya ingin membahas masalah pernikahan Ayah dan Laila."

Lihat, dia memanggil Laila dengan sebutan nama. Padahal dia bisa menyebut Laila dengan panggilan tante, atau Ummi, kan? Sangat tidak sopan di telingaku. Tentu ajaran Amira yang membentuk jiwa anak ini demikian keras. Tidak bisakah ia mendidik Yoona lebih baik!

Baiklah, aku akan pulang sekarang. Bertemu mereka hanya menambah masalah. Padahal sudah bagus aku masih mau meluangkan waktu untuk melihat keadaan mereka di sini. Itu tandanya aku masih mau mempertanggungjawabkan ibunya meski ibunya sudah tak lagi bisa menjalankan kewajibannya.

Sikap keras Amira sangat berbanding terbalik dengan jiwa lemah lembut dan keibuan yang melekat pada diri Laila. Ah, seketika aku teringat pada keanggunan Laila.

Pada saatnya nanti aku akan mengambil Yoona untuk hidup bersamaku dan Laila saja. Supaya anak itu belajar pada Laila bagaimana seharusnya cara bersikap.

Bab 3

Bab 3

Yoona meraih ponsel yang berdering di atas nakas. Melihat siapa yang menelpon, Yoona menjadi muak.

"Halo, ada apa, Oma?"

"Kenapa lama sekali angkat telpon?"

"Kami sibuk disini. Tidak sempat lihat handphone."

"Oh ya? Hmm, di ruangan mana ibumu di rawat? Aku mau kesana."

Mendengar ucapan itu, Yoona merasa janggal. Sebab selama sebulan ibunya sakit,tak sekalipun sang Oma datang membezuk. Sekarang tiba-tiba mau datang, pasti ada maksud.

Seketika Yoona teringat bagaimana ucapan Omanya pada Bu Sarah beberapa hari yang lalu. Yoona mulai menerka-nerka maksud Oma-nya alias ibu dari ayahnya tersebut.

"Ada perlu apa Oma mau kemari?"

"Kenapa bertanya begitu? Ketus sekali caramu. Ini bukan urusanmu, aku hanya ingin bicara pada ibumu. Katakan di ruangan apa ibumu dirawat! Aku malas sibuk bertanya di sana nanti."

Yoona menarik nafas agak panjang. Memang wanita paruh baya yang ia panggil oma tersebut telah merenggut habis rasa hormat Yoona. Semua disebabkan oleh sikap oma-nya itu sendiri yang dimata Yoona kurang etis.

Yoona merasa sudah cukup selama ini Oma-nya tersebut membencinya, mencaci maki, dan membeda-bedakan sekaligus membanding-bandingkan Yoona dengan cucu-cucu yang lain.

Jika hanya dia yang dihina, Yoona masih bisa bersabar. Tapi naasnya, si oma ini jika menghina, Amira juga diikutsertakan. Ini yang membuat Yoona geram.

"Yoona! Jawab aku!" Suara di benda pipih itu terdengar kasar.

"Baiklah, di ruang Raflesia nomor dua." Jawab Yoona.

Yoona terpaksa berbohong, sebab sebenarnya Amira masih dirawat di ruang ICU. Yoona mempunyai ide lain untuk mencegah Sang Oma berbicara pada ibunya. Bagaimanapun Yoona tidak ingin ibunya semakin parah.

***

Bu Nurmala berjalan menuju ke ruangan Raflesia.

"Oma!" Seseorang mencegatnya.

"Yoona!"

"Oma, ibu tidak ada di ruangan, dia sedang CT-scan."

"Dimana?"

"Maaf, ibu tidak bisa diganggu kata dokter."

"Yoona, jangan menghalangiku! Ini penting sekali. Aku ingin dia tahu di awal. Aku tidak mau nanti orang-orang menyalahkan aku!"

"Ibu sedang sakit, Oma. Tolong jangan dulu bebani pikiran ibu sekarang!"

"Mengapa kau menghalangiku? Aku ingin bicara pada Amira! PENTING!"

"Seberapa penting, Oma? Soal apa? Ingin membicarakan jika Ayah akan menikahi Laila? Oma tidak perlu bicara! Ibuku sudah mengetahuinya, dan Beliau mengizinkannya. Jadi, tidak ada yang perlu dibicarakan lagi!" Sambar Yoona.

Kelihatannya Bu Nurmala agak terkejut, tapi sebentar kemudian ia tertawa.

"Ho hoo, baguslah kalau kau sudah mengetahuinya. Jadi sekarang, panggil Laila dengan sebutan "Ummi"! Ummi Laila. Dia calon ibumu!"

"Tidak! Aku tidak pernah punya calon ibu! Aku cuma punya satu ibu, dan dia adalah Amira, bukan Laila."

"Yoona! Aku tetap akan menemui ibumu!" Suara Bu Nurmala merendah. Ia menatap Yoona tajam.

"Jangan memancingku, Oma! Kalian tidak pernah peduli ketika ibuku sakit. Jadi, kami juga tidak peduli jika Ayah akan menikahi Laila. Itu urusan kalian, bukan urusan kami. Urusan kami hanya satu, berusaha agar ibu sembuh! Itu saja!"

"Ibumu tidak akan pernah sembuh!"

"Oma bukan Tuhan! Ibuku pasti sembuh!"

Dalam hatinya hati Yoona menangis membayangkan jika ibunya tak bisa bertahan hidup.

"Lihat saja nanti, kita bertaruh, ibumu akan sehat? Atau akan mati!"

"Jaga omonganmu, Oma! Oma sudah tua dan pasti tahu bagaimana cara bicara yang seharusnya. Oh ya, jika ibu sembuh, apa yang Oma inginkan? Memperbudaknya lagi? Tidak akan bisa!" cela Yoona.

"Siapa pula yang memperbudak ibumu?"

"Orang yang busuk hatinya memang tak akan pernah menyadari kesalahan." sambar Yoona.

"Benar dugaanku, bibirmu busuk, Yoona! Sepertinya kau bukan berasal dari benih putraku!"

"Ya, aku lebih suka jika aku bukan berasal dari benih anakmu!"

"Kurang ajar!" Bu Nurmala mengangkat tangannya tinggi-tinggi.

"Tolooooooong!" Yoona berteriak sekuat tenaga.

Plakkk!

Sebuah tamparan terlanjur mendarat.

Dua satpam datang.Bu Nurmala kaget.

"Ada apa ini?" Tanya satpam menghampiri.

"Pak, ibu ini membuat keributan. Dia ingin mencelakai ibuku. Tolong amankan aku dan ibuku dari orang ini!" isak Yoona.

Dua satpam itu membawa Bu Nurmala untuk di amankan. Demikian pula Yoona, anak itu harus ikut diamankan. Sebenarnya, sudah gatal tangan Yoona ingin membalas. Tapi ia tahu ia harus bersabar. Setidaknya Yoona bisa lega Bu Nurmala tidak mendapatkan kesempatan untuk bicara pada Amira.

"Tunggu balasanku nanti, Bu Nurmala! Satu tamparan akan kubalas dengan satu tamparan pula!" Batin Yoona menggeram.

Salahkahh jika Yoona menyimpan dendam pada keluarga ayahnya?

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED