"Eh iya...," jawabnya gugup, ia terlihat canggung ketika kepergok sedang memperhatikan Bastian. "Aku keluar dulu."
"Kamu disini aja, jaga Nindy . Saya mau mandi dulu!" Cegah Bastian ketika Dini baru akan melangkah keluar.
"Aku, boleh nyiapin baju ganti kamu, Mas?" kata Dini tiba- tiba.
Sebastian menoleh dan mengangguk, tanpa meminta izin kepada Nindy.
"Mas, kenapa gak ambil sendiri aja," protes Nindy karena dia tidak rela, Dini mengambil pakaian suaminya apalagi disana ada barang pribadi yang tidak seharusnya wanita lain tau.
"Seharusnya kamu yang menyiapkan, tapi karena kamu lagi sakit jadi gak apa-apa, kalau Dini bantu pekerjaan kamu, kan!" bantah Bastian sambil masuk ke dalam kamar mandi.
Merasa mendapat persetujuan dari Bastian, kemudian Dini mengambil pakaian Bastian dari dalam lemari. dan menyiapkan semua pakaian termasuk barang pribadi Bastian tanpa canggung. Semua pakaiannya ia letakkan di atas kasur, seolah - olah ia adalah istrinya Bastian.
Tanpa Nindy sadari, kedatangan Dini tidak hanya membawa harapan untuk kesembuhannya, tetapi juga awal dari ujian yang lebih berat dalam hidupnya.
***
Sejak kejadian Nindy jatuh, sakitnya Nindy semakin parah, ia jadi semakin susah untuk berjalan.
Sehingga Dini mulai membantu Nindy untuk mandi dan menyiapkan keperluan Nindy.
Ia juga berusaha memberikan obat tepat waktu, menyiapkan makan dan segala kebutuhan Nindy. Dini juga memberikan jus atau susu, serta buah-buahan segar yang harus dikonsumsi Nindy.
Sudah hampir dua pekan Dini merawat Nindy, tetapi akhir-akhir ini terasa ada yang berbeda. Dini selalu menyuruh Nindy untuk tetap berada di kamarnya dengan alasan kesehatannya, ia tidak boleh terlalu lama berada di ruangan lain. Bila Nindy ingin sesuatu, Dini yang mengambilkannya, sepertinya Dini tidak membiarkan Nindy beranjak dari kamarnya. Dan ini tidak disadari Nindy sejak awal, ia hanya menurut apa yang dikatakan Dini, karena Nindy ingin segera pulih dari sakitnya.
Setiap Bastian pulang bekerja, Dini dengan sigap selalu menyediakan keperluan Bastian dari mulai menyiapkan makannya, membuat teh atau kopi dan tak jarang Dini selalu menemani Bastian makan . Sehingga interaksi keduanya hampir intens, Bastian mulai sering berbincang dengan Dini. Obrolan mereka awalnya seputar kesehatan Nindy, tetapi lama-kelamaan berkembang menjadi hal-hal lain, tentang pekerjaan, hobi, bahkan kenangan masa kecil.
Dini selalu berhasil membuat Bastian tertawa, sesuatu yang jarang terjadi belakangan ini sejak kondisi Nindy memburuk.
Suatu sore, saat Nindy tertidur di kamar, Bastian dan Dini duduk di ruang tamu. Dini meletakkan secangkir teh di atas meja dan tersenyum.
"Kamu kelihatan capek, Mas. Aku ngerti banget gimana beratnya ngurusin orang sakit," kata Dini, suaranya ia buat lembut.
Bastian mengusap wajahnya, menghela napas. "Iya, Din. Aku cuma... kadang merasa nggak berdaya. Aku pengen Nindy sembuh, sehat seperti dulu. Tapi sudah sejauh ini, rasanya aku nggak bisa ngelakuin apa-apa."
Dini menatapnya dengan penuh pengertian. "Mas Bastian udah lakuin yang terbaik kok, berusaha mengobatinya, Nindy itu beruntung banget punya suami kayak Mas Bastian."
Ada jeda sejenak sebelum Bastian menjawab. "Makasih, Din. Aku cuma... nggak tahu gimana kalau suatu hari dia nggak ada."
Dini mengulurkan tangannya, menyentuh bahu Bastian dengan lembut. "Jangan ngomong gitu, Mas. Aku yakin Nindy bakal sembuh. Dan, Mas Bastian nggak sendirian. Aku di sini buat bantu. Mas, mau aku pijat pundaknya? Sepertinya akhir-akhir ini Mas Bastian terlihat lelah."
"Emangnya kamu bisa memijat, Din?" tanya Bastian ragu.
"Kita lihat seberapa enak pijatanku, Mas," ucap nya menggoda.
Bastian tersenyum tipis, meski dalam hatinya mulai tumbuh perasaan yang membingungkan. Ia tahu seharusnya tidak ada apa-apa antara dirinya dan Dini, tetapi kehadiran Dini yang penuh perhatian dan keceriaan mulai mengisi ruang kosong dalam hatinya.
"Ya sudah, aku mau dipijat sama kamu. Kita lihat seberapa enak pijatanmu."
Tanpa menunggu lama, akhirnya Dini mulai memijat pundak dan leher Bastian, bagian kepalanya pun tak luput dari pijatannya, dengan sengaja tangan Dini mengusap lembut punggung Bastian. Kemudian tangannya mulai nakal ia pun mengusap dan merogoh dada bidang Bastian dari arah belakang, yang membuat Bastian menjadi meremang karena sentuhan lembut dari Dini.
**
Keesokan harinya seperti biasa, Nindy sedang duduk di atas kasurnya, Dini masuk kedalam kamar, ia ingin membantu Nindy untuk mandi.
"Mandi sekarang, ya, Nind?" Tanyanya sambil meletakkan sarapan pagi untuk Nindy.
"Mulai sekarang, aku mau makan di meja makan aja, Din. Bosan lama - lama dikamar terus, bisa tambah stres nanti," ucap Nindy agak kesal karena Dini masuk kedalam kamarnya selalu tanpa mengetuk pintu.
"Ya udah, tapi mandi dulu ya!"
"Aku mau sarapan aja dulu, mandinya setelah sarapan aja, toh sebelum sholat subuh tadi aku udah sikat gigi dan bersih-bersih."
"Oh, dibantu Mas Bastian?" Tanya Dini penuh selidik.
"Iya," jawab Nindy singkat.
Tak lama, Bastian keluar dari kamar mandi dengan hanya memakai handuk saja, Dini menatap Bastian dan tersenyum ke arahnya.
Bastian pun membalas senyuman Dini.
"Sebentar Mas, aku ambilkan kemeja kerjanya dulu," ucap Dini sambil berjalan menuju lemari pakaian.
"Iya, tolong ambilkan kemeja warna navy, ya, Din."
"Iya Mas, sama celananya warna hitam aja ya, Mas?"
"Iya, boleh."
Setelah mengambil baju dan celananya, Dini langsung menyerahkan kemeja itu kepada Bastian. Bastian mengambil kemeja dari tangan Dini, yang tentu saja tangan mereka saling bersentuhan. Dini tersenyum, sambil memperhatikan perut Bastian yang seperti roti sobek itu terekspos sangat jelas, karena Bastian hanya menggunakan handuk.
Tetapi Bastian terlihat tidak merasa risih diperhatikan seperti itu oleh Dini, Bastian malah dengan santai menuju kamar mandi untuk mengganti pakaian nya.
"Din, bawa lagi sarapannya, aku mau sarapan di meja makan aja, aku juga harus banyak gerak, kan? Biar kakiku cepat pulih.
"Oh ya sudah, aku bawa lagi sarapannya ke meja makan," ucap Dini sambil mengambil nampan berisi sarapan dan minum Nindy.
Tak lama Bastian pun keluar dari kamar mandi, sudah lengkap dengan pakaian kerjanya.
"Kalau ada wanita lain di kamar itu jangan pake handuk gitu mas, itu kan aurat," tegur Nindy, memberitahu kalau tadi yang dilakukan suaminya tidak pantas.
"Iya, aku juga gak tau kalau tadi ada Dini disini," sanggah Bastian tak ingin disalahkan.
"Iya, lain kali jangan begitu. Aku rasa Dini itu tertarik sama kamu, Mas."
"Udah, jangan pikiran macem-macem. Aku mau sarapan dulu, kamu masih mau disini atau bareng ikut makan?"
"Aku mau makan di meja makan aja, Mas."
"Ya udah aku bantu jalan yah?" ucap Bastian sambil memegang tangan Nindy.
Karena Nindy berjalan sangat pelan maka Bastian berinisiatif untuk menggendong Nindy.
"Eh, Mas kok di gendong, sih," protes Nindy.
"Soalnya kamu lama. Nunggu kamu jalan pelan gini, Mas, bisa telat berangkat kerja."
Nindy melingkarkan tangannya ke leher Bastian, agar tidak jatuh. Wangi sabun di badan Bastian masih tercium di indra penciuman Nindy, Nindy menyandarkan kepalanya di dada bidang Bastian dan terus menghirup aroma wangi dari tubuh suaminya. Bastian membiarkan Nindy bermanja-manja dengan nya.
Nindy melihat Dini sedang duduk di meja makan, matanya menatap tajam ke arah Nindy dan Bastian dengan mimik yang sulit diartikan.
Bastian mendudukkan Nindy di kursi makan.
"Ini, Mas, sudah aku siapkan sarapan dan tehnya buat Mas Bastian, ucap Dini lembut sambil menyerahkan sarapan itu di hadapan Bastian.
"Iya, terimakasih ya, Din," balas Bastian sambil tersenyum.
"Iya, Mas. Sama-sama."
Dini duduk di samping Nindy, tepat di depan Bastian, sesekali matanya nampak mencuri pandang ke arah Bastian.
Sementara itu, Nadia mulai merasakan sesuatu yang berbeda. Ia mungkin sakit dan lemah, tetapi nalurinya sebagai istri tetap tajam. Setiap kali Bastian dan Nindy berbicara, ada nada dalam suara mereka yang membuat hatinya tak nyaman. Namun, ia menepis perasaan itu, berusaha percaya bahwa suaminya masih setia dan sepupunya tidak mungkin mengkhianatinya.
Bersambung..
Nindy mulai menyadari perubahan kecil di rumahnya. Meski masih lemah dan sering kelelahan, ia tak bisa mengabaikan perasaan aneh yang semakin kuat di hatinya. Ada sesuatu yang berbeda dari cara Bastian memperlakukan Dini, sesuatu yang tidak biasa. Seperti hari ini Bastian selalu memberikan apapun yang Dini suka.
"Ini saya bawakan cemilan kesukaan kamu, Din. Lumayan lah, buat teman ngopi kamu, takutnya kamu bosan kalau lagi nunggu Nindy tidur," ucap Bastian sambil memberikan beberapa cemilan.
Dengan sigap Dini mengambil bungkusan yang penuh dengan snack dengan mata berbinar. " Terima kasih, Mas. Pengertian banget, sih."
"Buat aku mana, Mas?" Tanya Nindy menatap Bastian.
"Kamu kan gak boleh mengkonsumsi makanan gini, kan?"
"Bukan makanan yang itu, maksudku, susu dan buah-buahannya sudah hampir habis, Mas."
"Ya Ampun, maaf tadi aku lupa. Kirain masih ada stok buah di kulkas," ucap Bastian dengan rasa bersalah.
"Gak apa-apa, besok kan masih bisa beli. Untuk sekarang stoknya masih aman, Tapi awas loh, Mas. Jangan kelupaan lagi beli buah untuk Nindy," ucap Dini menyela pembicaraan antara Nindy dan Bastian.
"Iya, nanti saya beli," ucap Bastian dengan lembut.
Nindy melihat interaksi keduanya seperti ada sesuatu yang lain, yang lebih dari sekedar seorang perawat istrinya. Meskipun Dini sepupunya, tapi perhatian yang terlihat berlebihan itu sangat mengganggu pikirannya.
Awalnya, Nindy mencoba menepis pikirannya. Dini adalah sepupunya, seseorang yang ia percaya sejak kecil. Dan Bastian? Suaminya adalah pria yang dulu selalu ada untuknya, yang berjanji akan setia dalam suka dan duka. Tapi tetap saja, ada hal-hal yang sulit untuk diabaikan. Ia merasa risih atas kedekatan Suami dan sepupunya itu.
**
Suatu malam, Nindy terbangun karena haus.
"Loh, kemana mas Bastian? Kok gak ada di kamar? Ya ampun air minumnya habis, lagi. Ini gimana ya? Udah malam juga masa aku harus teriak memanggil mas Bastian atau Dini," Ucapnya lirih, kemudian Nindy berusaha bangkit dari tempat tidur dengan susah payah dan melangkah perlahan menuju dapur. Namun, langkahnya terhenti ketika mendengar suara pelan dari ruang tamu.
"Mas Bastian, kamu harus lebih banyak istirahat. Aku nggak mau lihat kamu kecapekan, loh. Nanti kalau kamu ikutan sakit bagaimana?" suara Dini terdengar lembut, nyaris manja.
"Aku gak apa-apa dan masih baik-baik aja, Din. Jangan kawatir, Kamu sendiri gimana? Jangan terlalu sibuk ngurusin Nindy sampai lupa istirahat," sahut Bastian dengan nada perhatian yang membuat dada Nindy terasa sesak.
Nindy menahan nafas. Ia tidak menyangka akan mendengar nada itu, nada yang dulu hanya ia dengar dari Bastian untuknya, kini terdengar untuk Dini.
Dan kenapa sudah selarut ini, mereka masih saja terjaga?
"Ya udah, gimana kalau aku pijit lagi, mau ya? Biar lebih fresh besok pagi!"
"Iya, pijatan kamu enak, bikin saya ketagihan." Ucap Bastian sambil terkekeh.
"Iya, dong. Siapa dulu yang pijit, Dini gitu, loh," katanya dengan suara yang mendayu-dayu.
Nindy melihat, Dini mulai memijat kening Bastian, tangannya mengusap lembut leher Bastian. Tampak sekali Bastian menikmati sentuhan dari Dini. Lengan Dini pun beralih ke pundak Bastian.
"Pundaknya masih pegel gak, Mas?" Tanya Dini sambil menunduk, bibirnya nyaris bersentuhan dengan pipi Bastian.
Nindy sudah tidak tahan lagi, dengan langkah pelan, Nindy kembali ke kamarnya, menahan air mata yang menggenang. Ia tidak ingin gegabah menuduh, tetapi hatinya mulai merasakan ketidakpastian yang menyakitkan.
"Ya Allah, kenapa mereka sampai bisa interaksi seperti itu, sampai harus pijat memijat segala, Apa aku terlalu berlebihan kalau curiga pada Dini?"
Keesokan harinya, Nadia mencoba berbicara dengan Rina, sahabatnya yang selama ini selalu menjadi tempat curhatnya.
"Hallo,Rin. Gimana kabarnya? Aku ganggu, gak? Sapa Nindy ketika sambungan teleponnya sudah terhubung.
"Nggak, santai aja. Aku lagi free, Gimana keadaan kamu, apa lebih baik? Kan sekarang sudah ada perawat yang memperlihatkan kamu. Aku berharap kamu cepat pulih. Biar kita bisa kumpul lagi kaya dulu."
"Alhamdulillah, aku lebih baik. Meskipun kakiku masih sedikit sakit karena jatuh itu.
Tapi sekarang sudah bisa berjalan meskipun dengan perlahan."
"Syukurlah, aku senang dengarnya."
"Rin, ada sesuatu yang ingin aku bicarakan," kata Nindy sambil memperhatikan pintu kamarnya, karena takut Dini datang tiba-tiba.
"Aku nggak mau berpikir buruk, Rin, tapi aku mulai merasa ada yang aneh di rumah," ujar Nadia dengan suara lirih di telepon.
Kemudian ia pun menceritakan semua perlakuan Dini terhadap Bastian suaminya, begitu pun Perhatian Bastian kepada Dini.
Rina terdiam sejenak sebelum menjawab, "Nad, kamu harus lebih peka. Jangan sampai karena kamu percaya buta, kamu malah terluka lebih dalam. Kalau memang ada sesuatu yang nggak beres, kamu harus cari tahu."
Nadia menghela napas berat. "Aku takut, Rin. Aku takut kalau semua ini cuma perasaan aku aja, tapi aku juga takut kalau ternyata semua itu benar..."
Di ujung telepon, Rina terdengar menghela napas. "Kalau kamu mau, aku bisa cari tahu sesuatu. Yang penting kamu jangan diam aja, Nad." Ucapnya memperingatkan.
"Iya, Rin. Cuma kamu yang bisa menolong aku, gerakan ku tidak bisa lincah. Karena ada penyakit yang menggerogoti tubuhku. Mas Bastian juga lebih sering di ruang kerjanya. Dengan alasan tidak mau mengganggu waktu istirahat ku," ucap Nindy mengadu pada sahabatnya.
"Ya, mungkin saja itu bukan alasan sebenarnya, bisa jadi dia menyimpan sesuatu yang kamu gak tau," ucap Rina berspekulasi.
Nindy menggigit bibirnya, hatinya dipenuhi dilema. Ia ingin tetap percaya pada suaminya, tetapi tanda-tanda itu semakin jelas. Ia melihat dengan mata kepalanya sendiri Bastian dan Dini saling memberikan perhatian. Apalagi dia mendengar Dini selalu memijat Bastian yang membuat suaminya ketagihan karena pijatan dari Dini, Apalagi kalau bukan awal dari perselingkuhan.
"Rin, sudah dulu ya. Nanti kita sambung lagi obrolan nya, aku akan selalu ingat pesan kamu."
"Oke, siap. Yang sabar ya, Nind. Tenang, aku selalu siap bantu kamu," ucap Rina memberikan semangat.
"Iya terima kasih banyak, aku beruntung punya teman seperti kamu."
"Oke, see you."
"Assalamualaikum, Rin."
"Waalaikumsalam."
Krek ...
Tiba- tiba suara pintu dibuka dengan kencang. " Kamu habis telponan sama siapa, Nind?"
"Bunda, Menanyakan kesehatanku," jawab Nindy berbohong.
"Oh .." ucap Dini hanya ber oh ria.
"Din, sebaiknya kamu menjaga batasan mu dengan mas Bastian," ucap Nindy memperingatkan.
"Maksudmu?" Tanyanya dengan nada kesal.
"Kamu jangan terlalu dekat sama mas Bastian, aku lihat akhir -akhir ini kamu dan mas Bastian sangat akrab. Aku rasa itu gak pantas."
"Kamu jangan curiga berlebihan, aku dan mas Bastian itu gak ada apa - apa kok. Ya kalau kita saling berinteraksi itu wajar, dia kan selalu menanyakan perkembangan kesehatan mu, Nind. Kamu itu beruntung punya suami seperti mas Bastian, selain tampan dia juga mapan. Kalau aku berada di posisinya, sudah lama aku ninggalin kamu."
"Maksudnya gimana, Din?"
"Ya pikir aja sendiri."
Bersambung..