"Jeanyyyy..!"
Jeanyyyy..!"
Banguuun!" Suara Mama sontak membuat Jeany terbangun dari mimpinya yang belum kelar.
"iyaa, iyaa Maa," sembari mengucek-ngucek matanya yang masih belum sepenuhnya bisa terbuka sempurna.
"Iiiih Mama rese deeh, orang masih ngantuk juga di bangunin," gumam Jeany sedikit ngomel.
"Jeaaan, ayoo buruan mandi nak!" teriakan Mama dari balik pintu memaksa Jeany menuju kamar mandi yang ada di kamarnya.
"iyaa maa, Jean udah otw mandi nih," seru Jeany.
Jeany menghampiri meja makan, disana seluruh keluarganya sudah lengkap.
"Lama banget sih mandinya," seloroh Mama sembari mengoles selai kelembaran roti.
"Lagian mama yang bener aja deh, hari Minggu juga pake bangunin pagi, sekali-sekali napa ma biarin tidur pulas," protes Jeany.
"Jangan mentang-mentang hari libur.. Terus kamunya jadi malas bangun pagi. Bangun pagi itu sehat lho? lagian apa kamunya gak mau sarapan bareng ama keluarga?" Mama ngejelasin panjang lebar.
"Udah-udah!! Sekarang kita sarapan. Jean...buruan dimakan sarapannya!!" sahut papa jadi penengah.
"Mama, papa dan adikmu mau ke Bandung, acara lahirannya mbak Desi, kamu ikut gak?" Tanya papa.
"Gak deh pa!" sahut Jeany." Soalnya Jeany banyak tugas kampus yang belom kelar, " sahut Jeany menjelaskan.
"Ya udah kalo gitu, kamunya hati-hati di rumah yaaah," jawab papanya.
Tak berselang lama keluarga Jeany berangkat.
"Jeany!!"
Jeany dibikin kaget oleh sapaan seseorang, yang suaranya gak asing ditelinga Jeany. Jeany pun membalikkan badannya, untuk memastikan rasa penasarannya terhadap suara yang sontak membikinnya kaget.
"Jordan," seru Jeany antara tak percaya bercampur kaget. "Kamu ngapain ke rumahku?" tanya Jeany menahan jantungnya yang hampir copot.
"Aku pengen ketemu kamu Jean. Ada yang ingin aku bicarakan," Jordan menjelaskan maksudnya.
"Jean... Aku udah lama memendam rasa ini, aku mau jujur, tiap kali ketemu kamu jantungku berdebar tak karuan. Ada rasa yang sebelumnya gak pernah aku rasakan... Sudah lamaku pendam rasa ini. Semakin aku tahan semakin wajahmu menari-nari dalam pikiranku.. Jujur! Aku mencintaimu..! kalo aku sangat sayang kamu, setiap kali aku ngeliat kamu semakin dalam rasaku terhadap mu.., Jean i love you. Maukah kamu menjadi kekasihku?"
Jeany terdiam, bagaikan tersambar petir disiang bolong. Jantungnya semakin berdegup kencang.
Seakan-akan tak percaya dengan semua ucapan dari cowok tampan yang ada di hadapannya..beribu rasa berkecamuk dipikiran dan hatinya. Bibirnya bergetar menahan rasa yang tak pernah dibayangkannya.
"Jean...," suara Jordan menyadarkan lamunannya.
"Kamu mau gak jadi pasanganku?" tanya Jordan penuh harap.
Jeany mengangguk tak sanggup berkata-kata, dalam hatinya berteriak kegirangan. Tak percaya cowok incaran dan idola para cewek di kampusnya justru menyatakan cinta terhadapnya.
Hati Jeany berbunga-bunga karena bahagia, dan udah gak sabaran lagi buat berbagi kebahagiaannya dengan Lintang sahabatnya yang gokil itu.
~Panggilan berlangsung~
"Lin.. Lu tau gak? gue bahagiaaa banget hari ini," suara Jeany berapi-api saking semangatnya.
"Liiiin.. Jordan nembak gueee!"
"Haah? Beneran? trus, trus, lu terima kan?" Teriak Lintang karena kaget.
"Iyaa dong! "Suara Jeany semangat.
"Selamat ya Jean, jangan lupa traktirannya tuh," imbuh Lintang dari sebrang sana.
"Ih... Kebiasaan banget Lu! Belum juga kelar ngomong udah bicarain traktiran!" celetuk Jeany di telepon pada Lintang yang udah cengengesan dari tadi.
"Yee, biarin. Kan Lu sahabat Gue, jadi ya suka-suka Gue dong mau minta traktirannya," jawabnya dengan nada mengejek juga tertawa.
"Ya udah deh, gue matiin dulu ya! Gue lagi seneng banget nih sumpah!" Tukas Jeany pada Lintang yang tertawa sembringah.
"Udah sana! Nikmatin dulu gih, kebahagiaan lo," jawab Lintang.
Akan tetapi panggilan mereka terlanjur berakhir karena Jeany udah lebih dulu menghentikan percakapan.
Hari ini suasana kampus tidak seperti biasanya, semua dikarenakan Jordan. Dimana ada Jeany disitu ada Jordan, kemana-mana selalu berdua.
Kehadiran Jordan sangat membuat Jeany bahagia dan bangga karena Jeany satu-satunya cewek yang bisa menaklukan hati cowok yang merupakan idola di kampusnya.
Semua cewek yang berusaha mendekatinya dibuat patah hati. Tapi sayang, Lintang sebagai sahabat pun sedikit terlupakan.
Drrrtt..!!
Drrrrtt..!
Drrrrrt..!!
Ponsel Jeany terus berdering, Jeany membiarkan ponselnya terus berdering seakan sengaja untuk tidak mengangkatnya,
Jeany melirik panggilan ponselnya, dan sengaja membiarkan panggilan Lintang berlalu begitu saja. Saking berharapnya Jeany akan datangnya panggilan dari kekasih hatinya, sampai tega mengabaikan telpon dari sahabatnya sendiri .
Tapi berkali-kali ia menatap ponselnya, hanya ada panggilan dari Lintang yang datang menelepon bertubi-tubi. Sepertinya Jeany benar-benar sudah dibuat kasmaran sejak sang kekasih hadir dalam kehidupannya, baginya tak ada yang lebih penting selain panggilan dan kabar dari Jordan. Bagi Jeany dunianya hanyalah tentang Jordan, yang lain cuma ngontrak.
Tok..!!
Tok..!!!
Tok..!!
Suara pintu kamar di ketuk dari luar, terdengar suara adikku Jeje memanggil dari luar.
"Kaaaak.. Kakaaaak.. Ada kak Lintang tuh!"
Sambil menahan geram Jeany menjawab.
"Adeekkk.. bilang kakak pergi napaa? Lagi males tauuu!
"Tapiiii kaaak....," sahut Jeje bingung akan sikap kakaknya.
" Gak ada tapi-tapiannya! Lu denger gak siiih?"
"Iya deh kak," jawab Jeje mengikuti perintah kakaknya.
Jeany kembali merapatkan bantal ke dadanya sambil melirik ponselnya memastikan ada panggilan dari Jordan.
Tak berapa lama "drrtt.. drrrrrtt..," ponselnya pun bergetar panjang, dengan antuasias dia melihat ponselnya.
"Joordaaan," teriaknya girang, Jeany mengangkat ponselnya dengan tergesa-gesa.
~Panggilan berlangsung~
"Hallo,"
"Kamu kemana aja sih yang?"
"Aku dah mau gila nungguin kabar dari kamu!"
"Kamu mikirin aku gak sih?"
Tanya Jeany bertubi-tubi sebelum Jordan akan membuka mulutnya untuk angkat bicara.
"Sayang aku minta maaf yaa, aku ketiduran. Habis capek banget. Tugas-tugas kuliah berjubel yang harus aku kelarin, sekali lagi aku minta maaf ya yaang," bujuk Jordan menjelaskan berharap harap sang pacar mengerti.
"Setidaknya kamu kasih kabar napa?" Jawab Jeany kesal.
"Iya-iya sayaaang, maaf yaah," dengan nada membujuk.
"Yaang..sebagai ucapan maafku, gimana besok sore kita jalan, kita makan?" Jordan berusaha membujuk Jeany.
"Yaa dehh..," Jeany mengiyakan ajakan Jordan.
"Aku jemput jam 5 sore ya sayang...," dengan nada genit.
"Tapi sayang ontime yaaah...?" jawab Jeany penuh harap.
"Okeee honey...," seru Jordan dengan suara lembut.
~panggilan berakhir~
Jeany keliatan sibuk mengobrak-abrik isi lemarinya, seluruh baju yang ada di lemarinya semua dicobanya tapi gak ada satu pun yang menarik menurutnya. Udah hampir 20 menit akhirnya Jeany baru menemukan pakaian yang menurutnya bagus.
Jeany merias dirinya secantik mungkin, dia berharap ntar Jordan terkesima dengan kecantikannya. Tak berapa lama terdengar suara pintu kamar di buka.
Creeeeeet...!!!
"Aduuuuhhhh.., anak Mama cantik banget..," sapa Mama sambil senyum-senyum.
"Mau kemana niihhh? Ciieeee....mau pergi ama pangerannya yaaa..? Dengan nada sedikit ngeledek mamanya menggoda.
"Iihhhhh Mamasa apaan siiih..," Jeany sambil senyum-senyum malu.
Teeeeeeeet....!!
Teeeeeeet....!
Teeeeeeet.....!!
Bisingnya suara bel sontak membuat Jeany kaget.
"Tuuuuh kayaknya si pangeran deh yang dateng," seru Mama sambil bergegas keruang tamu.
"Jeaaaan....," teriak Mama dari luar.
"Ada Jordan niihhh."
Jeany melangkah menuju ruang tamu. Nampak Jordan dengan style yang membuat Jeany terkesima. Pria itu mengenakan sweatshirt dan celana jeans yang membuatnya tampak semakin tampan.
Seusai beberapa detik terdiam akhirnya Jordan mencairkan suasana.
"Eh, Tan Jordan pamit ajak Jeany keluar bentar ya Tan
"Hati-hati yaa, jangan ke maleman pulangnya," jawab mama mengingatkan.
Merekapun pergi mengendarai motor gede milik Jordan.
Jam menunjukan pukul 17.15 wib mereka sampai sebuah Cafe. Jordan memilih duduk diantara banyaknya tempat duduk yang ada disana. Pria itu menelisik ke seluruh sudut cafe untuk mencari waitres untuk memesan.
Jeany benar-benar menikmati kebersamaan mereka.
Tiba-tiba tangan Jordan menyentuh dan menggenggam tangan Jeany. Jantung Jeany berdegup gak karuan.
"Sayaaang...," Suara Jordan yang lembut bener-bener membuat suasana hatinya gak karuan, tatapan Jordan benar-benar membuat cewek manapun akan klepek-klepek jika menatapnya.
"Aku sangat mencintaimu.., aku berharap kita akan selalu bersama sampai akhir hayat kita..," rayu Jordan sembari mengeluarkan sesuatu dari saku celananya.
"Moga kamu suka yaa, dengan kado kecil ini," seru Jordan sembari menyodorkan kotak kecil berwarna pink bentuk love.
"Ini apa sayang?" tanya Jeany dengan suara sedikit terbata.
"Buka Doong sayang.., moga kamu suka," jawab Jordan.
Jeany pun memegang kotak kecil itu. Dengan penasarannya Jeany membuka kotak kecil yang ada di tangannya.
Sontak membuat Jeany kagum melihatnya. Sebuah cincin emas berbentuk love pemberian sang kekasih.
Dengan lembut Jordan memasangkan cincin itu di jari manis Jeany.
"Makasih sayang," seraya bersandar manja dipundak sang kekasih. Jordan mengangkat tangannya, dan membelai mesra rambut Jeany.
Seperti biasanya setiap Minggu pagi Jeany selalu menghabiskan waktunya untuk lari pagi, hal ini sudah jadi kebiasaan rutinnya untuk membakar kalori sekaligus untuk kebugaran tubuhnya.
Dari dulu Jeany phobia gendut, baginya tubuh gendut adalah hal yang paling menakutkan dalam hidupnya. Hari ini tidak seperti biasanya selalu ada Lintang yang selalu setia menemani buat jogging bareng.
Sejak hadirnya Jordan ditengah-tengah mereka justru membuat Lintang semakin jauh darinya. Ia sadar sahabat segala-galanya, tapi cinta juga utama. Hal itu yang membuat pikirannya ambyar, saat ia sedang bersama Lintang.. becanda gurau, makan bareng di cafe kampus tiba-tiba Jordan datang menghampiri mereka, dan langsung mengajak Jeany pergi meninggalkan Lintang sendirian.
Ia tahu raut wajah Lintang kecewa, sedih yang bercampur amarah.. tapi Jeany tak bisa berbuat apa-apa selain mengukuti Jordan yang langsung menarik tangannya mangajak pergi.
"Maafkan aku Lintang, aku tak bermaksud membuatmu sedih," jerit Jeany dalam hati.
Siang itu Jeany sibuk beres-beres kamar dan merapikan posisi pajangan-pajangan yang ada di kamarnya. entah kenapa tiba-tiba ia merasa sedih, teringat lintang sahabatnya.
handphonenya pun berdering, Jeany bergegas mengambil handphonenya yang terletak diatas meja. Terdengar suara cowok yang tak lain adalah Jordan pacar yang sangat ia cintai .
"Halooo sayang..," sapa Jordan.
"Ya sayang," sahut jeany
"Kamu lagi ngapain disana?" maaf ya sayang aku gak bisa nemanin kamu jogging. kan kamu tau aku kurang enak badan,"
"Iya yang gak apa-apa kok,"
"Oh ya, aku boleh tanya sesuatu gak," tanya Jeany.
"Boleeh sayang, buat kamu apa sih yang enggak,"
"Sayang. Kamu gak suka ya dengan Lintang? selama ini aku perhatiin tiap kali aku dan Lintang bersama, kamu sepertinya sengaja mengajakku pergi menjauhi Lintang," Jordan diam sejenak, lalu menjawab.
"Aku suka kok dengan persahabatan kalian. Mungkin secara kebetulan aja pas aku datang menyamperi dan mengajak kamu ikut bersamaku, kamu nya lagi bersama Lintang. jadi terkesan seperti yang kamu pikirkan sayang,"
"Udah aaahhh, jangan negatif thinking napa, jangan bahas itulah. bagusan bahas tentang hubungan kita kan sayang," jawab Jordan seakan-akan mengalihkan pembicaraan.
Jeany semakin dibuat bingung dengan sikapnya Jordan terhadap sahabatnya. Kenapa seperti ada yang sengaja ditutup-tutupi Jordan darinya. Kenapa tidak jujur aja bisik Jeany dalam hati.
Jeany memegang handphonenya dan memencet nomor ponselnya Lintang. Sudah berkali-kali dihubungi, akan tetapi Lintang tidak kunjung mengangkat telpon darinya. Jeany semakin merasa bersalah karena ia merasa kalau Lintang marah padanya dan sengaja mengabaikan telp darinya seperti apa yang Jeany sering lakukan semenjak kehadiran Jordan.
Jeany terus mengulangi nya tapi hasilnya tetap nihil, Lintang tetap tak mengangkat telponnya. Hatinya semakin tak karuan apakah Lintang sengaja mengelak darinya? Ungkapnya menerka-nerka.
Sore itu habis jam kuliah, Jeany sengaja mencari keberadaan Lintang. Mereka memang satu fakultas tapi beda jurusan.
Jeany mencari Lintang melalui teman-teman sejurusan dengannya, tapi meraka bilang gak tau. Ada rasa bersalah dalam hati Jeany terhadap sahabatnya itu.
Saat Jeany membalikan badan. Jeany dikagetkan oleh tubuh kekar yang tidak sengaja ditubruknya.
"Aduuuuhhhh. Maaf," wajah Jeany memerah antara malu dan jengkel karena tubuhnya gak sengaja menabrak tubuh cowok itu.
cowok tinggi gagah itu cuma menatap datar, mengangguk dan ternyum dingin. Gerakan tubuhnya mengisyaratkan bahwa ia menerima kata maaf dari Jeany.
"Aneh deehh, gak punya mulut yaa," Jeany ngedumel sendiri dalam hati.
sembari berlalu meninggalkan kampusnya.
"Assalamualaikum...,"
"waalaikumsalam..," jawab mama dari dalam rumah. aroma wanginya masakan mama sudah merebak kemana-mana mengundang rasa lapar yang sudah meronta-ronta sedari tadi.
"Mama lapar...," pekikku. Dengan wajah memelas sembari mengambil piring. Mama cuma tersenyum dan menggeleng-geleng melihat tingkahku.
Mama Jeany paling jago masak, makanya ia paling senang kalo mamanya dirumah gak kerja, jadi mama punya banyak waktu mengurusi aku, papa dan adikku, terutama soal perut.
"Jean. Lintang kok jarang yaah main ke sini?" tanya Mama.
"Mungkin dia sibuk kali mah," jawab ku, sementara mama cuma manggut-manggut.
Drrrrrrrrt......!!
Drrrrrtttt...!
Drrrrrtttt..!!
Ponsel Jeany bergetar beberapa kali, dan ia langsung mengangkatnya. terdengar suara yang selama ini ia cari-cari. Lintang! akhirnya ia menghubungi Jeany.
"Assalamualaikum," sapa Lintang dari seberang.
"Waalaikumsalam..,"
"Lu kemana aja sih Lin? gue kangen tau," cerocos Jeany
"Emang lu punya kangen buat gue? kan lu udah ada Jordan tuh,"
"Kok lu ngomongnya kegitu deh Lin," jawab jeany dengan nada sedih.
"Bukanya Lu yang dulu ngejodohin gue ama dia?"
"Nek.. Gue ngerasa Jordan gak suka deh, kalo ada Gue deket Lu.. Gue ngerasa kalo dia pengennya cuma dia doang yang boleh Deket Lu!"
"Gak kok Lin! Lu jangan negatif thinking napa, Jordan bilang ke gue, kalo dia gak kegitu kok,"
"Terserah Lu deh Jean..! yang pasti gue bisa ngerasain dari sikapnya terhadap gue, yang pasti gue mungkin gak bisa sedekat dulu lagi ke elu nya karena gue tau, lu udah sangat bahagia atas kehadiran Jordan dan gue gak mau ngerusak itu semua cuma karena gue sahabat lu,"
percakapan pun ditutup. Jeany tertegun, bingung harus berbuat apa.
Jeany melamun, pandangannya terus tertuju pada taman yang ada di depan terasnya. Lamunannya buyar ketika tiba-tiba Jeje adiknya berteriak memanggilnya, karena suara berisik ponselnya membuat penat telinga adiknya.
Jeany terlalu larut dalam lamunannya sehingga deringan suara ponselnya pun tidak sedikit pun membuatnya sadar. Ia cuma melirik ponselnya yang jelas datang dari laki-laki yang sangat ia cintai, tapi entah kenapa hatinya begitu berat untuk mengangkat panggilan itu. Ponselnya terus berbunyi, lagi-lagi dia mengabaikan begitu saja.
Jeany membaringkan tubuhnya diatas ranjang yang beralaskan seprai pink polos. Dia berusaha memejamkan matanya, pikirannya kembali melayang pada kejadian siang tadi dikampus. Lintang Sahabatnya seperti sengaja menghindarinya. Terlihat jelas Lintang dengan sengaja memutar balikan badannya ketika Jeany berjalan menghampirinya.
Jeany dibuat sedih bercampur jengkel, menurutnya alasan Lintang buat ngejauhinya gak logis sama sekali. Toh Jordan udah ngejelasin kalau dia tidak membenci kedekatan Jeany dan Lintang, pikirannya terus berkecamuk.
Jordan berlari kecil mengejar Jeany yang terus melangkah dan mempercepat langkahnya.
Suara panggilan Jordan pun seakan tak dia dengar. Jordan menyusul langkah Jeany dan menarik Tangan kekasihnya itu.
"Sayaang.., kamu apa-apaan sih, aku udah panggil sekenceng itu masak gak denger sih?" suara Jordan sedikit meninggi menahan
kesal.
"Sayaang maaaf, aku tadi buru-buru, maaf kalo aku gak denger kamu manggil,"
"Terburu-buru mau kemana sih?" tanya Jordan heran.
"Aku mau nyusulin Lintang sayaang,"
"Kamu kenapa sih? dikit-dikit Lintang.. Lintaaang terus. Kamu udah ada aku, aku yang akan jagain kamu 24 jam dan aku yang selalu ada buat kamu! bisa gak siih, sehari aja gak bahas Lintang mulu?? " timbal Jordan dengan emosi.
Jeany tercekat mendengar semua perkataan Jordan, ia hanya membeku menatap kekasihnya yang tidak sedikitpun melepaskan pandangan darinya.
Senyum yang hanya terulas sedikit di bibirnya seketika lenyap dan berganti raut wajah muram, mana kala pandangannya kembali dilemparkan nya ke arah Jordan.
Ada rasa kecewa yang terukir dalam hati Jeany akan sikap kekasihnya yang semakin lama semakin terlihat mengekangnya.
Jeany sangat mencintai Jordan tapi sikap Jordan yang kian waktu kian membuatnya kewalahan. Kekasihnya itu selalu terlihat tidak menyukai dirinya deket dengan teman-teman nya termasuk juga dengan sahabat nya sendiri.
Jordan selalu menghalanginya jika ia bersama teman-teman kampusnya dan ia juga tidak dibolehkan bepergian dengan sahabatnya.
Jordan akan marah membesar jika mengetahui kalau Jeany pergi tampa mengantongi izin darinya, pertengkaran pun tak bisa dihindari. Ketahuan bicara dengan teman cowok pun akan jadi masalah besar.
Semua berubah sejak kehadiran Jordan laki-laki tampan yang sudah berhasil memikat hatinya itu yang sekarang mengatur semua kehidupan Jeany. Jordan sekarang berubah menjadi jealous