"Apa apaan kamu, siapa yang memberi perintah untuk minum. Sumber air masih jauh. Kalian hanya membawa 2 botol minuman 600 mili. Diingat, kalian harus survive... Bukan piknik!" Seorang senior tiba-tiba muncul dengan penuh emosi. Badannya yang tinggi dan perawakannya yang garang membuat aura ketegangan menjalar ke udara.
Sindy segera menutup botol minum, meletakkan di sisi tas dan bergegas berdiri. Dalam kepanikannya, ia masih sempat mendengar bisikan halus senior Hendrawan ke senior Bayu yang berdiri tak jauh dari tempat Sindy.
"Aduh, kenapa dia turun di pos satu... Teman teman baru masih adaptasi" Hendrawan menekan tiap kata-katanya dengan susah payah, kelihatan sekali ia merasa tidak nyaman harus berbagi kepemimpinan di lapangan dengan senior Imam yang muncul tiba-tiba dan menghardik anggota baru hanya karena air minum.
Senior Bayu menjawab dengan menjauhkan Hendrawan dari Senior Imam, ia tahu atmosfir kegiatan sudah berubah. Jauh lebih baik menarik Hendrawan si penanggungjawab kegiatan untuk menepi sejenak, menjauh dari lapangan dan memberikan ruang gerak untuk Imam. Ada beberapa hal yang tak dapat berubah, peraturan pertama: Senior selalu benar. Meskipun ia masuk pada angkatan yang sama dengan Imam, tapi Bayu tak pernah berpikir untuk menunjukkan senioritas, ia mengerti Imam bermaksud baik dengan mengingatkan untuk tidak gegabah dengan air minum.
Sindy yang kalut dengan suasana menutup mata dan berusaha kuat, ia jarang mendapat bentakan, bahkan suara keras masih Sindy coba terima sebagai proses pendewasaan di sistem keorganisasian.
"Sebutkan namamu!"
"Siap, Sindy kak... " suara Sindy bergetar.
"Kalian semua ambil tas, periksa perlengkapan..." Ujar senior tersebut.
Lima belas menit berlalu dalam diam, hanya suara senior Imam yang menyebutkan satu persatu barang yang harus dibawa oleh masing-masing anggota, dan anggota baru yang berjumlah 23 orang dengan patuh mengangkat barang yang di sebutkan sebagai tanda bukti.
Senior lainnya membantu berputar dan mengecek perlengkapan diantara anggota, salah satu diantara mereka berusaha menyampaikan pada senior Imam untuk tidak terlalu tersulut emosi, namun hal tersebut sia sia saja. Beberapa senior mulai memisahkan diri dan meninggalkan team untuk mempersiapkan pos terdekat, mereka tahu lebih baik tidak menambah masalah dengan salah satu rekan senior yang dituakan tersebut.
Rasa haus mulai terasa di pangkal tenggorokan, cuaca terik membakar di pinggir bayangan pohon, angin sepoi membelai keringat yang berjatuhan. Hukuman 15 menit periksa perlengkapan sudah cukup memberi pengertian, apa yang sedang mereka lakukan saat ini.
"Team pertama, Fuad.. Wenny, Cahyo, Sindy... Segera berangkat ikuti jalur menuju pos pertama, Tiga senior sudah menunggu."
"Siap Kak..." mereka berempat yang mendengar nama mereka dipanggil segera memanggul tas di punggung, berjalan dan merapat dengan cepat membentuk barisan panjang di depan senior Imam.
Mereka memang belum sepenuhnya akrab, namun saling mengingat nama dari pertemuan pertemuan mereka sebelumnya di pradiklat. Senior Imam melihat mereka berempat dengan tatapan tajam, ia meminta Fuad untuk memimpin team pertama, Fuad menjawab "Siap..." dan mereka berempat segera berjalan beriringan menuju pos pertama. Suara langkah kaki mengisi perjalanan, Fuad dan Cahyo berjalan di depan, Wenny dan Sindy mengikuti dari belakang...
Keheningan mengisi awal perjalanan sebelum Cahyo akhirnya memecah keheningan dengan berusaha mencairkan suasana melalui lelucon garing yang ia ceritakan. Sayangnya hanya Wenny yang dengan sopan berusaha menanggapi melalui suara tawa yang dipaksakan. Pelan tapi pasti mereka berempat mulai saling mengobrol santai, menimpali guyonan dan sarkasme perjalanan mereka. Sesekali mereka tertawa keras, menertawakan kejadian konyol selama kegiatan pradiklat berlangsung.
"Pos selanjutnya dimana ya, kita hanya diminta berjalan... Paru paru ku mulai berat ini..." Cahyo mulai mengeluh.
Wenny menjawab dengan tegas "kan, uda diwarning kurangi rokoknya dari pelatihan pertama..." Meskipun Wenny terdengar menyalahkan, tapi ia nampak sangat peduli dengan kondisi Cahyo.
"Break nafas dulu kalau sudah terasa sesak..." Fuad menimpali.
"Sindy haus tuh, kasihan.." Cahyo kembali bersuara,
"Haaaah... Break dulu, berat nafas..."
Cahyo bertumpu pada lutut, Fuad segera melepas tas punggung Cahyo dan memintanya bernafas dalam-dalam.
Fuad mengeluarkan botol minum dan meminta semua anggota segera minum.
"Kita isi dengan mata air pertama yang kita temukan. Jangan sampai dehidrasi."
Break melemaskan otot punggung dengan melepaskan tas, duduk di hamparan tanah di bawah bayangan pohon untuk sekedar meluruskan kaki, dan air yang mengalir ke tenggorokan kembali memberikan tenaga, Fuad menyadari break 10 menit tidak akan menjadi masalah, terutama kenyataan bahwa pos selanjutnya masih belum diketahui berapa meter jaraknya.
Selepas 10 menit yang terasa singkat, berusaha menyeimbangkan otot paru-paru untuk bernafas dengan lega, Fuad segera meminta team untuk kembali berjalan beriringan. Selepas duduk santai dan harus kembali berdiri untuk melanjutkan perjalanan, sama sekali bukan hal yang mudah untuk dilakukan. Meskipun begitu mereka berempat sudah kembali pada formasi berjalan, Fuad di depan, Sindy, Wenny
Dan Cahyo mengikuti di belakang.
Beberapa menit berjalan, naungan bayangan pohon mulai tergantikan oleh rumah warga yang berjarak cukup jauh antara rumah yang satu dengan yang lain.
Semakin lama, jalanan kecil yang dilewati mereka berempat menjurus membuka menuju kampung warga, dengan jarak rumah yang berjejer rapat.
Dari kejauhan nampak anak-anak kecil berlarian dan berkumpul di depan Musholla. Beberapa senior terlihat asyik membagikan snack. Hingga mereka melihat kedatangan team satu, dan segera berdiri membantuk barisan, bersiap menerima kedatangan team Fuad dan kawan kawan.
"Lapor, team pertama sampai di Pos dua, anggota lengkap, ijin beristirahat" Fuad melaporkan kedatangan team dengan lantang.
Senior di pos dua mengangguk, meminta mereka beristirahat di teras Musholla, mereka berempat meletakkan tas punggung dan melepas sepatu, Cahyo segera membaringkan punggung dengan lega. Wenny mengeluarkan snack dan menawarkannya kepada siapa saja... Seperti merayakan keberhasilan atas kesolidan team yang terus berjalan, berusaha menemukan pos yang dimaksud. Sindy berjalan kscil mengikuti Fuad mengisi air di tempat wudhu, Fuad menegaskan bahwa air itu tidak akan dikonsumsi... Hanya untuk kebutuhan lainnya. Anggota team mengangguk, lega dengan cara kepemimpinan Fuad.
Tak lama menunggu, team kedua dan ketiga datang menyusul. Senior yang menerima segera meminta mereka untuk istirahat di halaman masjid yang terasa sejuk, jarak perjalanan kurang lebih 50 menit, sukses dilalui dengan rasa haus, rasa lapar, dan peluh keringat.
Ketiga Team mendapatkan waktu 15 menit untuk sholat. Sindy, Wenny, Fuad dan Cahyo memutuskan untuk ikut sholat berjamaah. Mereka bergantian mengambil air wudhu di samping masjid yang nampak baru dibangun, air kran wudhu yang berjejer rapi terasa dingin menyejukkan, mereka saling menunggu untuk melaksanakan sholat dhuhur.
Selepas salam, mereka kemudian merapikan tas dan segera memakai sepatu. Bekas air wudhu memberikan nikmat tersendiri, lelah perjalanan menghilang begitu saja.
Mereka berempat kembali ke barisan dan melapor pada senior yang berjaga untuk diijinkan berangkat, di sudut jalan terlihat Senior Imam mendampingi team kelima yang baru saja tiba.
Sindy menyadari kehadiran senior Imam dengan cepat, ia melirik sekilas melihat senior Imam, yang anehnya tidak terlihat berkeringat, seakan akan perjalanan menyusul menuju Pos 1 hanya sekedar jalan jalan ringan.
"Hebat juga ya", Sindy tanpa sadar menyuarakan pikirannya. Wenny yang ikut melihat arah pandangan Sindy ikut mengangguk, "Iya,..."
Sindy menoleh ke arah Wenny yang ikut melihat ke arah pandangan Sindy, gadis berkulit hitam manis, berambut gelombang, dengan kuncir ikal kuda balik menatapnya dengan senyum lebar "Senior Imam ganteng sih, tapi sayang.... Galak... "
"Ganteng sih... Tapi galak..."
Sindy tertawa dengan ucapan Wenny. Wenny gadis Papua yang tampil sederhana, dengan kunciran rambut ikal dan baju atasan berwarna gelap serta paduan celana berwarna senada, Wenny berperawakan tegap seperti gadis paskibrata yang pandai baris berbaris, tidak setinggi Sindy, jadi ia tetap terlihat imut walaupun nampak sangat tomboi.
Wenny akan blak-blakan ketika berbicara, ia terkenal sebagai anggota baru yang sering menyampaikan pendapat dengan polosnya. Saat perkenalan, Wenny menyampaikan bahwa ia lahir dan dibesarkan di Papua, namun kedua orang tua nya berasal Dari suku Jawa.
Sindy merasa nyaman dengan sikap Wenny dan dengan penampilan Wenny yang sederhana, apa adanya. Sindy tersenyum dan bersyukur akan kegiatan ini, setidaknya ia bisa mengenal Wenny. Sindy masih tersenyum lebar memikirkan Wenny, dan tanpa sadar ia melirik sekilas ke arah senior Imam, seakan akan ada dorongan halus untuk memperhatikan keberadaannya. Tepat di saat itu, momen mata mereka saling beradu. Senior Imam menoleh, mencari sumber suara tawa yang terdengar, ia mengenali suara Sindy dan menemukan bayangan Sindy yang tersenyum menatapnya. Sindy yang terdorong untuk melihat kembali ke arah senior Imam, termangu melihat laki-laki bersuara serak tersebut sedang memperhatikannya. Mereka terdiam dalam kontak mata yang hanya sepersekian detik, namun terasa lama, membekukan waktu yang berjalan. Bahkan senyuman Sindy masih belum hilang dari wajahnya, ia tidak tahu apakah harus menganggukkan kepala, atau tetap tersenyum dan melambai. Sindy berpikir keras dalam sorot mata yang gelap itu, hingga Fuad datang menyadarkan lamunan Sindy.
Sindy melihat ke arah Fuad yang terlihat khawatir, meminta maaf karena tidak fokus dan bertanya kembali apa yang tadi di sampaikan oleh Fuad.
"Apa kau baik baik saja?" Fuad melihat wajah Sindy dan berpikir wajah Sindy yang merah karena Sindy merasa tidak enak badan.
"Ya, maaf aku tadi melamun..." Sindy menjawab dengan malu, malu dengan moment yang baru saja terjadi. Ia tak pernah menatap mata laki-laki yang belum ia kenal dengan baik seperti apa yang baru saja terjadi. Debaran jantungnya semakin kuat terasa, Sindy mengira jantung nya akan melompat keluar dari Dada. Ini baru pertama kalinya untuk Sindy.
Fuad mengulurkan tangan dan memegang dahi Sindy, ia menekan telapak tangannya dan mencoba mengecek suhu badan Sindy. Hal yang terlihat sederhana, tapi bagi Sindy itu sangat mengejutkan, ia bahkan tak bisa mengucapkan sepatah katapun.
Wenny mendekat dan bertanya pada Fuad, Mereka berdua memutuskan untuk menyampaikan pada senior bahwa kondisi Sindy mungkin kurang Fit, hingga akhirnya Sindy menemukan kembali suaranya dan berteriak dengan gugup.
"Aku baik baik saja, aku masih kuat...."
Cahyo datang dan ikut bergabung ke dalam team, ia menekan bahu Wenny dan meminta Wenny melakukan hal yang sama pada bahunya.
"Pijat balik ya, kita orang bersaudara..."
Wenny menjitak kepala Cahyo dengan gerakan tanpa bayangan, Fuad dan Sindy tertawa melihat kekonyolan rekan team mereka.
Mereka berempat merasa siap melanjutkan perjalanan dan kembali menghadap ke senior di pintu gerbang masjid untuk menyampaikan melanjutkan perjalanan.
Team satu dan Team tiga bersama-sama melaporkan kesiapan untuk segera menuju pos selanjutnya. Team dua masih tertahan di Pos, menangani salah satu anggota yang mengalami kram otot. Team empat sedang melaksanakan sholat dhuhur, sedangkan team lima yang baru tiba masih bernafas, meletakkan diri di pinggir halaman masjid dengan wajah pasrah kelelahan.
Senior Imam dan senior Bayu muncul tiba-tiba dan melangkah ke depan panitia, mereka menyampaikan mengambil alih pimpinan, berdiri berjejer dengan ketinggian yang sama, kehadiran mereka berdua terlihat seperti sedang melakukan pemotretan, namun aura gelap sudah mulai nampak dari bayangan mereka.
"Team yang siap silahkan berkumpul, sebutkan berapa menit waktu yang diberikan pada kalian oleh senior di sini!" Senior Bayu bertanya dengan suara dingin.
"15 menit kak..." Jawab Fuad dan Willy, ketua regu team satu dan tiga.
"Yang merasa memakai waktu lebih dari 15 menit silahkan maju ke depan dan push up 15 Kali" teriak senior Imam dengan gusar. Ia berdiri di depan Sindy Dan Wenny, cukup dekat, Sindy hanya bisa melihat ke arah sepatu. Ia tidak tahu apakah harus lari menjauh atau justru maju mendekat.
Kedua pimpinan team saling menatap, tidak ada yang yakin dengan waktu yang mereka habiskan saat di Musholla.
Sindy khawatir membuat masalah lagi, ia merasa bersalah atas hukuman periksa perlengkapan yang merepotkan kawan angkatannya. Sudah cukup membuat ia jera, Sindy memutuskan untuk maju ke depan dan segera melantai, melakukan push up 15 kali. Dari sudut matanya ia melihat Wenny mengikuti gerakan melantai, diikuti oleh salah satu anggota pria dari team tiga.
"Cukup, silahkan berdiri. Kalian bertiga segera berangkat, kamu Yudha, ketua regu... Anggota Sindy dan Wenny" Senior Imam tiba-tiba memutuskan tanpa alasan.
"Siap kak...." Sindy Dan Wenny melihat ke arah Fuad dan Cahyo, mereka merasa sangat kehilangan. Kebersamaan mereka yang sebentar terasa solid. Fuad menganggukkan kepala melepas kepergian mereka berdua, Cahyo mencoba protes dan menyampaikan keberatan, tapi ia justru mendapat hukuman push up.
Senior Imam meminta ketiganya segera berangkat dan kemudian menghadap ke arah sisa anggota.
"Kalian semua tidak ada yang menghargai waktu... 20 menit lebih, silahkan melantai, 20 Kali..."
Pemandangan anggota yang melantai tidak dapat dilihat lagi oleh Sindy dan Wenny, mereka bergegas mengikuti ketua regu yang baru.
Perjalanan menuju pos selanjutnya, lokasi kemah, tempat mereka menghabiskan sisa hari. Sindy merasa sedikit lega ketika mengetahui bahwa senior senior mereka menyewa tenda milik PMI Kota, tenda darurat yang berukuran besar, biasa digunakan saat ada bencana alam yang membutuhkan dapur umum atau tempat bernaung, setidaknya akan terasa nyaman berbaring di dalamnya bersama teman-teman.
Perut Sindy yang terasa lapar mulai berbunyi, mereka membawa beras dan peralatan memasak, tapi mereka tidak tahu apakah mereka diijinkan untuk membuat makanan di tengah perjalanan. Wenny membawa cukup banyak snack, dan mereka tertolong akan hal tersebut. Karena tidak ingin tertahan di jalan, mereka memakan snack sambil terus berjalan, sesuatu yang jarang dilakukan oleh Sindy. Dia merasa aneh, tapi saran untuk terus berjalan cukup wajar, mengingat air minum mereka sudah mulai sampai pada batas darurat. Rasa lelah semakin terasa, Wenny mulai mengeluh bahwa ia mulai merindukan bahasa canda milik Cahyo yang konyol.
"Setidaknya kita bisa tertawa dengan tolol, antara menertawakan Cahyo atau mengejeknya..."
Sindy merasa ikut berempati, ditatapnya punggung teman seperjalanannya dengan sendu, ia juga ikut merindukan Fuad dan Cahyo.
Perjalanan kali ini jauh lebih panjang, rumah warga mulai jarang terlihat, hamparan Pematang sawah mulai mendominasi pemandangan. Beberapa kali Yudha memberi kesempatan untuk kedua anggota perempuan meluruskan kaki yang terasa kram. Meletakkan tas untuk istirahat dan kemudian memakainya kembali, sungguh perjuangan yang sia sia. Jauh lebih mudah duduk tanpa meninggalkan tas punggung.
Yudha bukan sosok yang banyak bicara, tapi dari caranya memberikan waktu break, Sindy sudah merasa sangat bersyukur.