Wajah Ryuka terus menunduk, saat Lara datang ke sekolah dan bertatap muka dengan guru BK, juga wali kelasnya. Ryuka mengakui ia membolos. Lara hanya bisa meminta maaf atas kesalahan adik iparnya itu. Ryuka pun diskors selama dua hari dan membuat perjanjian, jika ia kembali berulah, akan langsung di keluarkan dari sekolah. Tentu saja hal itu membuat Ryuka terkejut. Sungguh, ia lebih takut melihat Jevan marah dari pada kedua orang tuanya. Semua keputusan ada di Jevan. Apa pun.
"Udah ya, kamu jangan begini lagi, Kakak mau tanya, kamu kenapa malas sekolah, malas belajar?" tatapan Lara begitu lembut. Seketika membuat Ryuka tak mampu mengelak.
"Ck, Kak ..., aku juga nggak tahu, aku cuma nggak suka sama suasana sekolah, pelajarannya, itu bosenin banget Kakak .... " Ryuka merajuk. Mereka sedang duduk di kursi yang ada di parkiran mobil. Ryuka diminta pulang dan tidak perlu ikut jam pelajaran.
"Tapi kewajiban kamu sekolah, apa ... kamu dibully?" Lara begitu lekat menatap Ryuka. Tampak raut wajah Ryuka yang terkejut dan secepat kilat menggelengkan kepala.
"Aku punya temen, dan baik semua. Aku cuma nggak suka belajarnya, Kak, otak aku kayak mampet seketika."
Lara terkekeh, ia lalu beranjak dan menggandeng tangan Ryuka, berjalan ke mobil yang sudah siap membawa mereka pulang. Supir pribadi juga sudah siap mengantar kemana pun Lara pergi.
"Pak, kita ke kantor Jevan ya, saya mau antar makan siang, nggak jadi ke rumah."
Ryuka menoleh cepat. Mimpi buruk. Pikirnya, ia harus siap-siap mendengar ocehan Jevan, atau hanya lirikan sambil menyindir. Tubuhnya merosot di jok mobil sedan itu. Menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Lara hanya bisa tersenyum.
Suasana kantor tempat Jevan kerja tampak normal. Dua perempuan itu berjalan bergandengan tangan, satu tangan Ryuka lainnya membawa tentengan berisi makan siang untuk Jevan. Semua staff menyambut ramah, bahkan Ryuka menjadi malu sendiri. Ruangan Jevan berada di pojok, dengan di kelilingi kaca, seperti akuarium kalau kata Ryuka.
"Jev—" Lara diam. Jevan sedang berbincang dengan seseorang. Ryuka tampak takut, ia hanya bisa menunduk.
"Hai! Lara, sini, Sayang," Jevan memanggil. Lara menghampiri dan meraih tangan kanan suaminya. Mencium punggung tangan lalu ke kedua pipinya.
"Ryuka .... " ucap Lara pelan. Perlahan gadia itu berjalan, meletakan plastik berisi menu makan siang Kakaknya. Perlahan ia mendekat, meraih tangan Jevan dan mencium punggung tangannya.
"Hai, Bang .... " Ryuka tampak takut.
"Hm. Di skors berapa hari kamu?" suara Jevan membuat Ryuka seketika menatap. Ia menunjukan jari dua. Jevan terbelalak.
"Dua minggu!" teriak Jevan tiba-tiba. Ryuka mencebik kesal.
"Dua hari Abang," jawabnya.
"Oh. Bagus lah. Ryuka, kamu ke bawah sana, di kedai kopi, Abang mau ngobrol serius sama Lara." Jevan memberikan uang lima puluh ribu ke tangan adiknya. Ryuka menerima dengan anggukan pelan.
"Awas kalau kamu kabur atau pulang duluan." Jevan begitu ketus. Ryuka mengangguk lagi. Ia lalu berjalan meninggalkan ruangan kerja Jevan.
"Lara, kenalin, ini Faiz, dia baru magang di sini, dan dia yang nanti jadi guru les privat Ryuka," ujar Jevan. Lara mengulurkan tangannya.
"Saya Lara, Kakaknya Ryuka," ucap Lara.
"Saya Faiz, Bu," jawab lelaki kalem dengan wajah sedikit tirus walau tubuhnya proporsional. Tak begitu tinggi atau pendek, juga, tak gemuk atau kurus. Pas.
"Jangan panggil, Bu, Kakak aja," Lara lalu duduk di sofa, pinggangnya pegal karena perutnya yang sudah membuncit. Jevan beranjak dan segera menyusul duduk di sebelah istrinya itu. Faiz pun pindah duduk di sofa, berhadapan dengan Jevan.
"Jadi gini, Faiz ini, yang aku minta bantuannya untuk ajarin Ryuka belajar. Mau nggak mau, suka nggak suka, Ryuka harus jalanin. Atau, konsekuensinya, aku ancam dia untuk menikah muda, ya…, sama Faiz."
Lara terbelalak. Ia tak setuju. "Jangan gitu ancamannya, Jevan, kasihan Ryuka, aku yakin, dia ada masalah yang bikin malas sekolah dan belajar, lebih milih fotografi. Faiz," panggil Lara.
"Iya, Kak,” jawabnya.
"Tolong kasih pengertian dan ajarin Ryuka ya, Kakak tahu, dia pasti ada masalah yang ditutupi, anaknya begitu, agak cuek dan terkesan nggak perduli, tolong ya," Lara memohon. Faiz mengangguk. Jevan tak berkutik jika ibu negara sudah berpendapat.
"Jadi, mulai besok, setiap sore atau setelah pulang dari kantor, langsung ke rumah, kamu magang di sini juga hanya tiga bulan, 'kan?"
"Iya, Pak," jawab Faiz.
"Well, panggil saya Bapak kalau di kantor, kalau di rumah atau luar kantor, Abang atau Bang, kita juga seumuran, 'kan?" Jevan tertawa. Lara manggut-manggut. Faiz lalu beranjak, kembali ke meja kerjanya dan meneruskan pekerjaan input data di sistem.
Lara melirik suaminya. "Nggak ada niatan lain kan kamu?"
"Enggak, Ra, Faiz itu rekomendasi anak HRD, keterima magang karena memang kita lagi buka program itu. Pas aku baca CV-nya dia, aku cukup tertarik. Dia mandiri, kuliah sambil kerja di cafe, jualan online, setelah aku selidiki, itu semua dijalankan karena Faiz yatim, Sayang," Jevan tersenyum. Lara paham, menjadi yatim dan harus mandiri itu berat.
"Aku percaya kamu nggak akan salah pilih orang untuk ajarin Ryuka belajar, sekarang kamu makan, ya, aku beliin tadi," Lara beranjak, hendak mengambil plastik bawaannya namun ditahan Jevan. Suaminya itu ingin menyapa penerusnya yang masih di dalam perut. Lara tersenyum saat Jevan mengusap dan berbicara di hadapan perut buncitnya. Lalu berakhir menciumi berkali-kali.
***
Ryuka bosan. Ia sudah menghabiskan segelas es kopi latte miliknya. Ia mengusap kasar wajahnya. Ia rindu kameranya, seolah ia rindu kekasih hati.
"Gimana cara bujuk Bang Jevan, ya?" Ryuka bergumam sendiri. Cukup lama ia berkutat dengan pikirannya, masih juga belum menemukan jawabannya.
"Ayo pulang," suara Lara membuyarkan pikiran Ryuka. Gadis itu beranjak, tampak Jevan ikut serta. Wajahnya menatap tajam ke adiknya itu.
"Bang, kamera aku, maksudnya, Ryuka, boleh di balikin nggak?" Ryuka menatap Jevan takut, Jevan menggeleng.
"Tunjukin nilai ulangan harian kamu minimal tujuh puluh lima. Baru Abang balikin. Paham?" Jevan akan terus menghukum Ryuka. Ia tak ingin luluh. Kedua mata Ryuka memerah, ia sedih. Lalu mengangguk paham. Air matanya menetes, ia meraih tangan Jevan, mencium punggung tangan lalu berjalan cepat ke parkiran mobil di luar gedung.
"Jev, jangan terlalu keras, kasihan Ryuka, kamera udah kayak sahabat dia, boleh ya," Lara membujuk. Jevan menggeleng. Kali ini ia sudah memutuskan untuk menghukum adiknya itu.
"Hati-hati ya, telepon aku kalau udah di rumah," Jevan mengecup pelipis Lara. Istrinya tersenyum. Lara berjalan meninggalkan Jevan, menuju ke parkiran mobil.
Setelah Lara cukup jauh, Jevan meraih ponsel di saku celana. Ia menghubungi seseorang. Ponselnya sudah menempel di telinga kanannya.
"Halo, Pa, Abang mau ngobrol, tentang Ryuka, Abang takut salah ambil keputusan." Suami Lara itu berbicara sambil menghampiri kedai kopi, memesan untuk dirinya sambil terus berbincang dengan papanya itu. Bagaimanapun, Jevan harus tetap konsultasi dengan orang tuanya. Menjadi dewasa dengan tanggung jawab besar, sangatlah tak mudah, tapi Jevan rela menjalaninya, karena ia begitu mencintai keluarganya.
Bersambung,
Catatan :
Ryuka jika berbicara dengan Jevan, menyebut nama dirinya. Tapi dengan Lara, menyebut dirinya 'Aku'.
Denting suara sendok dan garpu beradu di atas piring. Makan malam terasa berbeda bagi Ryuka. Gadis itu menatap satu persatu anggota keluarga yang berada di satu meja dengannya. Semua berkumpul, walau tanpa kedua orang tuanya.
"Bang, Mama sama Papa kapan pulang?" Ryuka memberanikan diri bertanya. Jevan meneguk air sejenak, lalu menatap Ryuka lekat.
"Kenapa? Mau cari pembelaan? Nggak mempan," ucap Jevan sambil kembali menikmati makan malamnya. Nasya dan Akira juga mulai menanyakan kedua orang tuanya itu. Jevan akhirnya memberi tahu jika Papa dan Mama akan ke Swiss. Menemui daddy Pras dan mommy Laurent di sana. Ada urusan bisnis yang harus mereka awasi. Pras dan Laurent suami istri, Pras kakak angkat dari kedua orang tua Jevan dan adik-adiknya.
"Bang," Ryuka kembali bersuara. Jevan hanya melirik.
"Kamera, Ryuka, kapan di balikin? Kalau tunggu sampai ujian harian, lama Bang," Ryuka merajuk juga memohon. Jevan tak peduli, ia tak mau menggubris ucapan adiknya itu. Ryuka mulai kesal. Dengan kasar ia beranjak dan sedikit membanting sendok ke piring. Menimbulkan bunyi yang mengejutkan semuanya. Tanpa bicara, Ryuka meninggalkan ruang makan dan menuju ke kamarnya.
Reyo beranjak. "Reyo susul ya," ujar kembaran Ryuka itu. Jevan mengangguk. Lalu Reyo berlari menaiki tangga ke lantai dua, menuju ke kamar Ryuka.
"Kamu terlalu keras ke Ryuka, Jevan, jangan begini," ucap Lara dengan nada begitu lembut. Jevan hanya mengusap kasar wajahnya. Ia melihat ke Nasya dan Akira, dua adik kecilnya itu menatap Jevan sendu. Sejak di marahi Jevan, Ryuka jadi pendiam, padahal biasanya, Ryuka ceria dan begitu meladeni Nasya dan Akira. Kali ini, Ryuka hanya diam.
Di kamar Ryuka.
Kamar dengan nuansa monokrom itu, penuh dengan hasil foto yang dibidik Ryuka dengan kameranya. Objek memang lebih banyak wajah anggota keluarganya, tapi tak membuat monoton. Berbagai ekspresi ditangkap baik oleh Ryuka.
"Geser." Reyo mendorong tubuh Ryuka yang sedang membaca komik di atas ranjangnya dengan posisi tiduran. Ryuka menggeser tubuhnya. Reyo tiduran di sebelah kembarannya itu.
"Lo kenapa si, susah banget nurut sama Bang Jevan?" Reyo menoleh, menatap kembarannya, Ryuka bergeming. Ia masih terus membaca komik yang ia pegang.
"Ryu, lo kalau emang nggak suka sekolah, bilang baik-baik, lo bisa home schooling, jangan bolos." Tukas Reyo lagi, ia kini melirik ke kembarannya.
Ryuka menoleh saat Reyo mengucapkan hal itu. "Gue udah bilang Kak Lara, tapi katanya, Bang Jevan, bahkan Papa sama Mama tetep mau gue sekolah formal, ijazahnya penting." Ryuka beranjak dan terduduk. Ia menatap lekat Reyo. "Gue bodoh, lo pinter, apa jangan-jangan kita bukan kembar, Rey, ketuker pas di rumah sakit?"
Reyo terkekeh lalu beranjak, duduk sejajar dengan kembarannya itu. "Kita kembar Ryuka, cuma, waktu pembagian sel otak, gue ambil punya lo sedikit, jadi ya, gue yang pinter. Apes kan lo jadi kembaran gue." Reyo beranjak dan berlari cepat keluar kamar sebelum Ryuka melemparnya dengan bantal.
Tampak Nasya berdiri di depan pintu kamar, remaja SMP kelas 1 itu menatap Ryuka heran. "Kak, Nasya mau tidur, di sini, boleh?" Ryuka tersenyum dan mengangguk. Memanggil adiknya dengan uluran tangan.
"Akira tidur sama siapa? Bang Reyo?" Ryuka menggeser bantalnya, lalu Nasya naik ke atas ranjang.
"Iya. Perut Nasya sakit Ka, perasaan tadi nggak makan pedes," ujar Nasya mengeluh. Ryuka terhenyak. Ia menatap Nasya lekat.
"Mana yang sakit?" tanyanya sambil membuka baju tidur bagian atas Nasya. Adiknya itu menunjuk ke perut bagian bawah.
"Selain sakit, apa lagi?" tanya Ryuka sambil memperhatikan raut wajah adiknya.
"Ini ku sakit, Kak? Nyeri," tunjuk Nasya ke kedua payudaranya. Ryuka mengerti.
"Nggak apa-apa, itu normal, ini kemungkinan, kamu mau datang bulan, kita perempuan, normal kok. Yaudah, sekarang di bawa tidur, peluk gulingnya." Titah Ryuka, Nasya mengangguk. Ia memiringkan tubuhnya dan memeluk guling. Tangan Ryuka mengusap punggung hingga pinggang adiknya itu, saat perempuan hendak datang bulan untuk pertama kalinya, pasti tubuhnya akan merasakan kurang nyaman, atau lebih sering, pinggang terasa pegal. Ryuka yang paham, langsung melakukan hal tersebut, perhatiannya kepada keluarga memang patut diacungi jempol.
Ryuka mengambil ponsel, mengirim pesan singkat ke mamanya, sekedar memberi tahu keadaan Nasya. Ia kembali meletakkan ponsel di atas nakas. Lalu mematikan lampu, dan memilih ikut tidur juga. Tak ada hal lain yang bisa ia kerjakan lagi. Belajar, ia tak paham.
Ternyata, Ryuka masih membuka matanya, walau suasana kamar sudah gelap, ia tak bisa terlelap. Akhinya ia berdialog dengan dirinya dan sang pencipta. Bertanya kenapa ia begitu bodoh, tak ada semangat belajar. Sekeras apa pun ia mencoba, tetap tidak bisa.
***
Ke esokan hari. Jam pergantian guru.
"Seenggaknya, ada beberapa mata pelajaran yang lo suka, Ryuka," ucap Vika. Teman sebangkunya. "Gue perhatiin, lo bisa kerjain sosioligi, geografi, sejarah, bahasa inggris, bahasa indonesia, apaan yang lo nggak bisa. "
"Lo ngeledek gue? Itu semua gue nyontek. Berapa kali gue di hukum karena ketahuan." Ryuka mendengkus sebal.
"Terus gimana. Lo bisa nggak naik kelas nanti, lo males sih, kalau di suruh belajar."
"Tau ah, gue pusing. Mana gue nanti sore ada les privat di rumah. Tega banget Abang gue, ya ampun!" Ryuka kesal sendiri. Ia mengusap wajahnya kasar. Seorang guru masuk, kali ini pelajaran geografi. Wajah guru itu sumringah, ia duduk dan mulai menyapa sekaligus absen kelas. Tapi bukan itu yang menjadi sorot perhatian Ryuka.
Kertas ujian mingguan, sambil memanggil nama murid, guru itu juga membagian kertas hasil ujian minggu lalu. Ryuka harus menyiapkan mental lagi. Jika tebakannya benar, ia harus kembali memasang wajah tersenyum.
Tiba namanya si panggil. Ia beranjak dan berjalan menghampiri guru itu. Netranya bertemu dengan milik guru itu.
"Kamu mau sampai kapan jadi Nobita? Bangga nilainya ini terus?" Tatapan sinis itu begitu menohok bagi Ryuka. Tapi mau apa lagi, begitu terbatas kapasitas otaknya untuk menyerap pelajaran. Ia hanya tersenyum. Saat berbalik badan hendak berjalan kembali ke mejanya. Tak sedikit teman sekelasnya terkekeh geli. Ryuka hanya membalasa dengan senyuman dan kekehan. Seolah memberi kesan ia tak apa-apa. Padahal, di dalam hatinya, ia begitu malu dan sedih. Namun, Ryuka selalu menutupinya dengan senyuman tadi, ia kembali duduk ditempatnya, menatap nilai dengan lingkaran bulat sempurna itu dengan kekosongan, ia bingung, kenapa ia semakin ke sini semakin bodoh, tak paham dengan soal yang ditanyakan. Kedua matanya melirik Vika yang mendapat nilai delapan puluh lima, angka itu seperti menjadi jackpotnya jika berhasil mendapatnya, selamatan semalam suntuk jika diperlukan, tetapi, semua mustahil bagi Ryuka.
Bersambung,