Bab 2

Diriku yang kesepian kini hanya bisa duduk termenung di bangku kecil sebuah taman, semua kenyata’an ini menghempasku dari lamunan bahwa ini tidak akan terulang kembali. Setelah Mas Bram dan Lusi meninggal. Aku mulai sakit sakitan, sering mual dan kepala terasa sangat berat.

Aku memutuskan pergi ke Dokter, tidak di sangka setelah di periksa. Bahwa diri ini tidaklah sendiri, melainkan sudah berbadan dua.

Aku dinyatakan positif hamil, tanpa sepengetahu'anku. Sudah berusia 3 bulan, rasa sedih bahagia bercampur jadi satu. Sedihku karna aku mengandung setelah Suamiku telah tiada, dan bahagiaku. Karna ini memang cita-citaku dari pertama menikah.

Entah coba'an apalagi yang mampu aku pikul sendiri, allah yang maha tau.

Setelah 9 bulan 9 hari aku mengandung, anak laki-laki lahir ke dunia yang fana, berbobot 3 kg, sehat dan tampan, mirip sekali dengan mendia'ng Ayahnya. Aku putuskan untuk memberi nama Atha. Atha anak yang selama ini di nantikan oleh mendiang Mas Bram.

****Setahun kemudian****

"Alifa, bagaimana kabarmu?" tanya Tante Azizah yang baru kali ini mengunjungiku.

"Cukup baik Tan." Aku menunduk malu, di rumah peninggalan Mas Bram, kini semua sudah agak lenggang, perabotan satu persatu mulai aku jual. Untuk biaya makan serta membeli susu dan keperluan Atha.

"Emmmm, ma'af . Tante tidak bisa membantu kamu, kamu juga tau sendiri kehidupan Tante juga serba kekurangan."

Wanita paruh baya ini menyoroti seisi rumah, hingga ke nakas tempatku menyusun susu yang sudah kosong dalam kotaknya.

Aku tidak tau bagaimana? menyambung kehidupan, karna dari kecil aku terlahir dalam kehidupan yang selalu cukup. Ke ahlian bekerjapun tidak aku miliki, walau sekedar memotong rumput. Di tambah lagi aku harus mengurus Atha. Sekarang diriku kewalahan dalam segi ekonomi tabungan yang di tinggal Mas Bram sudah habis, Tanah dan kebun sudah semuanya aku jual, prabotan rumah dari kursi hingga lemari pendingin sudah mulai aku tawarkan jua.

"Setau Tante, kamu dulu pandai dalam merias wajah."

Tante Azizah yang mengingat - ingat, dulu aku yang setiap ada hajatan atau ada pertemuan antar desa, selalu tampil dengan riasan memukau. Aku tidak mau menoleh, sambil memberi susu dalam dot kecil ke mulut Atha di dalam gendonganku.

"Gini, maksud Tante. Coba kamu mengadu nasib ke kota, menjadi perias pengantin"

Tante Azizah antusias mengutarakan rencananya, dengan mimik wajah yang serius.

"Teman Tante, di Marabahan sekarang sedang mengulati bisnis dekorasi pengantin, dan dia sekarang lagi membutuhkan, seorang yang bisa merias wajah sekaligus membutuhkan dana"

"Dana.? Tante tau kan sekarang Alifa lagi kesulitan ekonomi."

Aku sedikit protes dengan rencana Tante Azizah yang menurutku mustahil dilakukan. Kalau cuma merias wajah, aku masih bisa melakukannya. Tapi kalau harus mengeluarkan dana itu mustahil untuk ku sekarang.

Aku rasa Tante sa'at ini, hanya mengejek ku yang tidak bisa bekerja. Dia mengeluarkan rencana yang sangat mustahil, tidak biasanya dia seperti ini.

"Tante tau kamu sekarang, sedang sulit. Maksud Tante, kamu harus bangkit dari keterpurukan ini, Tante yakin kamu akan sukses di sana."

Wajah yang sekarang mulai sedikit mengeluarkan senyum, Dan berusaha meyakinkan ku, atas rencana yang ia rencanakan.

Sepertinya ia tau isi dalam kepala ku yang tengah bimbang dalam menjalini kehidupan.

"Sampai kapan kamu begini. Kalau kamu jual sedikit demi sedikit perabotan rumah ini, tidak bakal berlangsung lama.”

“ Kamu harus mengambil keputusan, ingat kamu sekarang harus kuat, untuk membesarkan Atha."

"Aku tau Tan, tapi. Bagaimana caranya."

Akal ku mulai buntu, dan aku mulai tidak sabar apa maksud dan tujua'an nya. Yang begitu semangat meyakinkan ku harus pergi ke Kota mengadu nasib.

"Jual saja rumah ini" jawab Tante Azizah, yang sedari tadi masih menatap photo mendiang adik dan keponakannya. Bergantung gagah di dinding rumah.

Jawaban yang singkat, namun bagai petir di siang bolong. Hatiku berdebar, perasa'an ini menjadi kacau, sebuah kenangan yang abadi dalam rumah ini begitu lekat dalam ingatan. Tapi hanya rumah ini jadi penentu langkah maju untuk ku.

Bola mataku ikut memandang photo sosok Bram yang masih gagah tergantung di dinding rumah, seakan mengiyakan sebuah keinginan yang mustahil, dalam benak ku, ingin rasanya menjaga rumah peninggalannya. Tapi apalah daya dan upaya ku, aku harus mengambil keputusan yang bijak. Untuk masa depan Atha.

Aku pandangi wajah anak ku ini, sesekali ia mengeluarkan sedikit senyum yang menjadi penyemangat dalam mengarungi roda kehidupan, walau terkadang aku merasa gagal menjadi orang tua, tidak bisa merawat dan memenuhi kebutuhannya.

*******

Rumah peninggalan almarhum Bram resmi terjual. Dan pada hari ini juga aku berangkat menemui temannya Azizah yang bernama Resa, ke kota Marabahan.

Dengan menumpang taksi air, melewati alur sungai Barito,

Atha kecil tersenyum dalam dekapanku, seakan sebuah semangat di hari ini dalam langkah pasti.

Tante Azizah yang membantu mengangkat tas koper. Ciuman hangat sebagai tanda perpisahan mendarat di pipi Atha dari Azizah, ada sebuah kesedihan di wajahnya. Tergambar ketika air mata jatuh di kelopak mata yang teduh, mengalir deras melewati kulit keriputnya.

"Do'akan kami, agar bisa lebih baik menjalani kehidupan di sana."

ku peluk tubuh gempal Tante Azizah, dan ku cium punggung tangannya dengan takjim.

Sebuah lambaian tangan di iringi deru mesin L300, menjadi sebuah pertanda perjalan ini. Sedikit demi sedikit mulai menjauhi dermaga, tetesan air mata berjatuhan ke tubuh mungil anak ku. Baru pertama kali aku meninggalkan kampung halaman, sungguh begitu sangat memilukan. 25 tahun hidupku hanya di kampung, banyak kenangan yang tidak bisa aku lupakan, apalagi sekarang aku harus pergi tanpa kembali.

3 jam perjalan akhirnya sampai, di sebuah dermaga yang terbuat dari kayu ulin terlihat sangat kokoh. Di hiasi dengan pohon beringin yang sangat besar, Di atas sebuah papan kayu tertulis 'Selamat Datang Di Marabahan Kota Bahalap'

Dermaga Marabahan ini uniknya, langsung terhubung dengan jantung ekonomi kota. Yaitu pasar tradisonal yang sudah berusia ratusan tahun, sampai sekarang sudah banyak yang di benahi oleh pemerintah daerah. Pasar tradisional yang dulunya hanya lapak-lapak kecil, kini sudah berubah menjadi lebih tertata. Memiliki tempat khusus. Sebuah bangunan yang tersusun seperti roko sudah di sediakan oleh pemerintah. Yang dinamai PASAR BARU MARABAHAN dan di sebrang nya juga sudah di bangun gedung baru.

Uniknya lagi pasar ini dekat dengan lokasi rekreasi, siring ulek Marabahan. Banyak muda mudi yang bersantai di sore hari untuk melihat indahnya aliran sungai Barito, di hiasi lalu lalang kapal tongkang besar yang mengangkut batu bara, dari desa Rangga ilung lalu di bawa ke pinggir laut.

Bab 3

Dari dermaga, lanjut menaiki becak menuju kediaman Resa.

Berbekalkan hanya sebuah alamat di kertas.

"Pak bisa antarkan kami ke alamat ini." Ku sodurkan secarik kertas bertuliskan alamat rumah, lelaki tua yang sedari tadi menunggu pelanggan di becak, nampak tertidur pulas di bangku penumpang.

Di dalam becak aku hanya bisa menatap jalan tanpa bisa menikmati pemandangan indahnya kota Marabahan, tatapan ku kosong. Apakah nanti aku bisa sukses di sini, mengingat ini harapan ku yang terakhir untuk masa depan kami.

"Tok. Tok. Tok. Assalamualaikum"

Ku ketuk daun pintu rumah yang nampak sangat sederhana. Rumah panggung yang dari luar terlihat sederhana. Terpampang alat dekorasi pangantin.

Baju-baju pangantin terpajang berjejer di atas tubuh patung, terlihat jelas di balik kaca.

"Waalaikum salam. Sebentar"

Ketika pintu sudah di buka, wanita dengan tubuh yang kurus tinggi. Memakai daster cantik, berdiri dengan senyum ramah menyambut kami.

"Ada perlu apa Bu.?" Ucapnya

"Saya Alifa Bu, keponakannya Tante Azizah dari desa. Resanya ada?"

"Oohhh .... Alifa. Mari Masuk."

"Resa itu saya sendiri Bu"

"Ma'af Bu. Saya enggak mengenali."

Aku hanya menunduk, ketika orang yang ku cari ternyata sudah di hadapanku.

Ku ayunkan kaki masuk ke dalam rumah. Ku hempaskan kan bokong ini di kursi yang di sediakan di ruang tamu.

Tampaknya Atha kecil sudah mulai membuka mata dalam dekapanku.

"Azizah enggak ikut yaa?"

"Tante, katanya minggu depan menyusul."

"Sebentar ku ambilkan kasur kecil dulu, untuk merebahkan anakmu. Sepertinya ia sudah sangat kelelahan."

Resa beranjak dari kursi, melangkah masuk ke dalam kamar yang tidak terlalu jauh dari ruang tamu, tempat ku duduk menunggu.

"Siapa nama adik kecil ini.?"

Resa dengan lihai, mulai menghamparkan kasur kecil khusus untuk anak-anak.

"Namanya Atha"

Resa meraihnya Atha dalam pelukan ku, lalu ia rebahkan dengan sangat hati-hati di atas kasur kecil.

"Tampaknya Azizah sudah bercerita banyak tentangku, aku harap kamu jangan sungkan di sini. Anggap saja rumah sendiri"

"Biar lebih akrab panggil aja aku Mba ya.!"

Wanita yang mengaku sudah berusia 40 tahun ini, tampak ramah dan awet muda. Kalau sekali lihat dari raut wajah, terlihat seperti baru berusia 30 tahun. Mungkin karna ia sering merawat diri makanya tampak lebih muda.

"Iya Mba." Ku jawab masih dengan menunduk malu-malu.

"Emmm hampir saja lupa, kamu pasti haus sudah menempuh jalan jauh. Kamu mau minum apa.?" Resa berdiri menyiapkan langkah pergi ke dapur.

"Terserah Mba aja mau di bikinkan apa.!"

"Tunggu sebentar, Mba ambilkan dulu."

Ku soroti se isi rumah ini, tidak ada penghuni lain, tampak sunyi. Tapi di ujung sana masih jelas terlihat, 2 kamar yang di lapisi dengan papan kayu berjejer. Rumah sederhana ini cukup luas , di depan tampak penuh dengan alat- alat dekorasi, dan berjejer lemari kaca besar yang terisi dengan kain dinding, yang terlipat dengan rapi. Di lemari kedua penuh dengan Atribut serta baju pangantin. Dan di lemari ke 3 tersusun rapi bunga-bunga yang cerah nan cantik terbuat dari plastik.

Di ruang tamu terpampang sebuah photo besar, aku kenali wanita yang berdiri dengan anggun itu adalah Mba Resa, dan laki-laki yang berseragam polisi di sampingnya pasti suaminya.

"Alifa, minum dulu"

"Iya Mba" Aku raih segelas Teh hangat dalam nampan yang di sediakan.

"Ini cemilannya, di makan ya, jangan malu-malu" Resa meraih toples kecil, berisi aneka kue kering, ia sodorkan pada ku.

"Ma'af Mbak. Dari tadi aku enggak melihat siapa-siapa di sini, suaminya kemana?" Jiwa penasaranku mulai meronta ronta, hingga aku beranikan diri untuk bertanya.

"Suamiku sudah meninggal 3 tahun lalu, dan aku tidak memiliki anak." Raut wajah yang tadi berseri, kini mulai berubah muram. Pertanya'anku mengingatkan dia dengan mendiang Suaminya.

Komisaris AKP Juanda meninggal dalam insiden penangkapan perampokan di desa Jingga Kabupaten Barito Kuala. Sa'at penggerebakan di rumah pelaku terjadi baku tembak antara perampok dan anggota kepolisian, aksi pertempuran itu berlangsung sengit.

Terjadi kejar kejaran di sungai Barito di daerah Kecamatan Kuripan, 3 perampok yang lari menggunakan speedbood. Di kejar menggunakan speed kepolisian.

Hingga para perampok itu terdesak dan hampir tertangkap, salah satu dari perampok menembak dengan senjata api berjenis pistol ke arah speed kepolisian.

Tembakan pertama meleset, rekan Juanda yang berada di depan mau tidak mau melepaskan tembakan peringatan ke atas. perampok itu tidak bergeming malah membidik kembali hingga mengenai tepat di jantung rekan Juanda.

Juanda yang panik melepaskan tembakan pula, dan mengenai mesin speedbood perampok dari arah belakang. Menyebabkan speed itu hilang kendali lalu terbalik, Akp Juanda mengira mereka telah menyerah. Lalu menghampiri speed yang sudah pontang-panting terbalik di tengah sungai Barito.

Nasib malang sudah di ujung tanduk, perampok yang tadi kembali menembak dari dalam air, tembakan ini terbidik dengan terarah tepat di kepala Akp Juanda, membuat Juanda langsung tumbang Jatuh ke dalam air.

Speedbood kepolisian itupun langsung di ambil alih oleh ke 3 perampok. Kabur ke arah Hulu Barito, 4 speedbood menyusul di belakang, langsung mengevakusi 2 polisi terbaik gugur dalam insiden ini.

Hingga sekarang pelaku perampokan itu tidak kunjung di temukan lagi, seperti hilang di telan bumi.

"Ma'af Mbak bukan maksudku mengingatkan dengan almarhum Suaminya Mbak. Tapi aku sungguh tidak tau."

Aku mulai tidak enak untuk kembali bicara, karna sebuah tetesan air mata membasahi di kedua pipi Resa.

"Sudahlah, tidak baik terlalu berlebihan mengenang masa lalu, apalagi menyesalinya." Ucap Resa yang menyapu air mata, dengan punggung tangannya

Tanpa menjawab, Sebuah anggukan kecil ku lakukan mengisyaratkan bahwa aku mengerti.

Tangisan Atha kecil pecah, menghentikan obralan kami berdua.

Aku sibuk mengendong anak ku, dan menyusuinya agar kembali tenang.

Mbak Resa beranjak dari tempat duduknya, mengayunkan langkah ke arah dapur.

Atha sepertinya sudah mulai lapar, tangisnya yang melingking kembali mengisi rumah yang sunyi. Rumah ini sudah sekian puluh tahun mengingankan suara tangis bayi.

Resa yang ramah menerima kami sebagai keluarganya sendiri, apalagi Atha juga ia anggap seperti anak kandungnya. Membuatku merasa memiliki keluarga baru, ia bisa menjadi seorang sahabat dan seorang Kaka bagiku.

aku berharap selamanya akan begini, dan sangat berharap Atha menjadi orang yang berguna bagi orang sekitar, tentunya berguna bagi Agama dan Negara.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED