***
Suara klakson mobil terdengar nyaring di telingaku. "Mau ke mana?" aku menoleh kala mendengar pertanyaan itu beserta mobil yang berhenti tepat di sampingku. Derunya sangat lembut, tetapi mampu sedikit mengalihkan perhatianku dari debur ombak di tepi pantai tempat kami menginap semalam. Axel Adijaya di dalamnya.
Kupaksa senyum ini muncul perlahan. "Pulang," jawabku seadanya.
Axel memandangku sekilas, seperti sedang berpikir. "Naik!" katanya. Namun, aku menggeleng. Patah hati tak membuatku menerima ajakannya dengan mudah. Aku masih sama seperti yang dulu, tidak semurah itu.
"Nggak usah, aku sama Heya cari taksi aja," jawabku sekenanya. Meskipun aku tahu betul tak ada taksi di sekitar sini. Aku dan Heya harus berjalan setengah jam lagi untuk bisa menemukan kendaraan roda Empat itu.
Alih-alih melaju pergi, tetapi Axel turun dari mobil mewahnya. Merebut koperku dengan paksa. Lalu menarik tanganku. "Naik!" ujarnya.
"Tapi..."
Beberapa detik kemudian aku sudah terduduk di dalam mobil Axel dengan Heya di atas pangkuanku. "Makasih," ucapku dengan tulus pada Axel yang baru saja mendudukan dirinya di belakang kemudi setelah menyimpan koperku di bagasi.
Axel tersenyum tipis. "Kamu bahkan baru masuk ke mobilku, Feya," katanya. Mobil yang kami tumpangi bergerak perlahan, meninggalkan pantai penuh kenangan.
Mataku tak lagi menatap Axel, beralih pada bangunan yang menjadi tempat tinggal kami semalam. Sesak sekali rasanya bila mengingat beberapa kejadian di sana. Kejadian yang membuatku akhirnya memutuskan untuk pergi.
"Ada apa Feya?" rupanya aku tak sanggup menahan desakan air mata hingga Axel memergoki. Buru-buru kuusap bulir itu agar Heya juga tak melihatnya.
"Kenapa kalian pulang duluan?" tanya lelaki itu dengan suara yang terkesan hati-hati. Ia menyodorkan tisu padaku.
Rasa sakit yang kurasakan ternyata membuatku tak bisa menahan tangis sekali lagi. Kulirik Heya yang duduk tepat di pangkuan. Syukurlah, ia tertidur.
Aku menggelengkan kepalaku saat kembali menatap Axel. "Nggak apa-apa, Xel," jawabanku berbanding terbalik dengan air mata yang lagi-lagi turun begitu saja.
Axel Adijaya yang kukenal bertahun tahun lalu mendesah berat. Sesekali ia menatap ke depan, fokus pada jalanan. Sesekali ia melirik padaku yang masih terisak. Entah kenapa aku tak bisa menahan tangis di depan lelaki ini, padahal kami baru bertemu lagi setelah sekian lama.
"Apa karena Satrio?"
Lama aku terdiam. Menimbang harus menjawab iya atau tidak. Akhirnya aku menganggukan kepala saat Axel melirikku lagi, meminta jawaban atas pertanyaannya. Lalu setelah itu, kudapati Axel menatap nanar padaku. Ada ketulusan di sana. Seolah ia ingin mengungkapkan betapa kasihannya dia padaku.
"Kenapa?" tanyanya.
Kualihkan tatapku ke arah lain. Tatapan itu tampak menerawang, mengingat kembali kenangan ke belakang. "Hati yang telah terbagi tak kan pernah sama lagi," ucapku menjawab pertanyaannya. Biarlah, ia dan teman-teman yang kami temui pun sudah tahu apa yang terjadi.
Satrio terang-terangan menunjukannya di depan mereka tanpa tahu malu. Memang, lelaki itu tidak mengatakannya secara gamblang, tapi aku yakin setiap yang melihat pasti akan menyadari perbuatannya.
Kudengar Axel mengembuskan napasnya dengan berat. "Aku ngerti, tapi aku harap kalian bisa menyelesaikan ini dengan baik. Kenapa harus pergi, Fe? Perjuangan kalian sudah sangat panjang. Hanya tinggal selangkah lagi untuk mengucapkan janji suci itu," ucapnya kemudian.
"Ada kalanya seseorang memilih pergi. Bahkan ketika perjuangan itu hanya tersisa selangkah lagi," sahutku lirih. Kali ini pun aku tidak menoleh padanya. Aku kembali menatap ke arah jendela yang sepanjang jalan terdapat pantai.
Buliran bening itu mengalir lagi dari mataku. Membuatku melakukan hal yang sama berulang-ulang, mengusapnya. Entah kenapa ini harus terjadi padaku. Apa kesalahanku hingga aku harus merasakan pengkhianatan luar biasa ini.
Hanya tinggal selangkah lagi aku akan menikah. Bahkan segala sesuatu sudah disiapkan sedemikian rupa. Namun, betapa malangnya, karena Satrio Refnogoro mendua di depan mataku.
Perselingkuhannya baru saja aku sadari seminggu yang lalu. Kupikir, aku masih sanggup bertahan dan membuatnya kembali ke pelukan, tapi ternyata aku salah. Seorang Feya tak bisa menaklukan Satrio lagi. Lelaki itu sudah terlalu jauh melangkah pergi, meskipun ia sendiri tak ingin melepasku dari genggamannya hingga kini.
Serakah adalah kata yang tepat untuk menggambarkan tentang lelaki itu.
Sungguh, bukan pekerjaan yang membawaku ke sini, tapi memang sebuah perencanaan. Sengaja aku merencanakan liburan ini demi memperbaiki hubungan kami. Namun, betapa terkejutnya aku ketika Satrio membawa selingkuhannya.
Nasib malang rupanya tak bisa dielakan lagi meski aku mencoba bertahan demi rencana pernikahan kami. Satrio menyakitiku berkali-kali. Ia kasar dan tidak berperasaan. Kupeluk erat Heya saat aku mengingat lagi perkataannya pagi tadi.
"Kenapa di sana? Duduk di sini!" ingin sekali kujawab perkataannya itu dengan seperti ini, "Mana mungkin aku sudi duduk bersama selingkuhanmu!" tapi aku tidak setangguh itu.
"Nggak usah, kami di sini saja." jawabku. Beruntung aku ke sini mengajak keponakanku. Jika tidak entah akan jadi monster seperti apa diriku di depan Satrio dan selingkuhannya itu.
Tck.
Aku mencoba untuk mengabaikan decakan sebalnya. Kulirik selingkuhannya yang ia kenalkan bernama Santi itu. Ia tampak salah tingkah.
"Anjing! Kenapa sulit sekali menuruti perintahku? Cepat kemari!" aku menganga tak percaya. Sakit sekali rasanya mendengar calon suami mengumpat seperti itu. Perempuan mana yang sanggup dikatai anjing oleh calon suami yang ia percayai? Bahkan ketika itu di depan selingkuhannya. Sungguh bodoh diriku karena terlambat mennyadari bahwa yang Satrio inginkan adalah kepergianku.
Seminggu ini aku sudah sangat bersabar, berharap bahtera rumah tangga yang pernah kami impikan bersama tidak hancur begitu saja. Namun, sabar ini ternyata ada batasnya.
Kubalas ia dengan uraian air mata agar dia bisa melihat betapa aku terluka olehnya. Kugendong Heya, lalu kubiarkan ia duduk tak jauh dari Satrio. Berharap lelaki itu mengingat perjalanan cinta kami selama sepuluh tahun ini. Ada Heya di dalamnya. Aku ingat dengan jelas betapa Satrio menyayangi Heya sejak orang tua keponakanku itu pergi untuk selamanya dua tahun yang lalu.
Sementara aku pergi meninggalkan mereka dengan beruraian air mata. Kembali ke kamarku untuk berpikir sejenak tentang apa yang aku lakukan di tempat ini. Aku menggeleng tak percaya saat menyadari betapa bodohnya aku. Bersikap seolah semuanya baik-baik saja, bahkan ketika tanpa sengaja bertemu dengan teman-teman kuliahku dulu. Kedekatan Satrio dan Santi seolah tak mengusikku, padahal hatiku terbakar api cemburu.
Kini sudah saatnya aku pergi. Berjuang seorang diri tak akan menghasilkan sesuatu yang pasti. Kuraih koperku, lalu menariknya keluar. Kubiarkan beberapa orang yang berpas-pasan denganku menatap aneh karena melihat air mata yang mengalir di pipi.
Sesampainya di ruang tamu penginapan, kutatap mata Satrio sejenak. Embusan napas berat akhirnya terdengar dariku. "Kita putus saja, Satrio." Tak ada keraguan saat aku mengatakan itu.
Kulirik sebentar perempuan yang Satrio bawa bersamanya itu lalu kuraih tangan Heya dan mengabaikan tatapan tak percaya dari keduanya. "Ayo pergi, Sayang." Kubimbing Heya keluar dari penginapan. Sempat kudengar Santi meminta Satrio mengejarku, lalu apa balasannya? Tck. Dia mengatakan dengan lantang bahwa aku pasti kembali dengan sendirinya.
Tidak Satrio! Jangan harap itu terjadi. Biarpun pernikahan hanya tinggal sebentar lagi, tapi aku tak akan pernah datang menemuimu lagi. Kita sudah berakhir sejak kamu memulai perselingkuhanmu itu!
***
Aku memejamkan mata erat-erat saat bayangan itu memenuhi benakku. Rasa sakit yang Satrio berikan tak kan pernah hilang begitu saja. Selamanya aku akan mengingat apa yang telah Satrio lakukan padaku.
"Kamu nggak apa-apa kan, Feya?" pertanyaan dari Axel membuatku membuka mata.
Aku menatapnya heran. "Axel, kenapa mobil berhenti?" alih-alih menjawab pertanyaannya, aku justru mengajukan pertanyaan lain terkait apa yang terjadi saat ini. Entah sejak kapan mobil tanpa atap milik Axel berhenti dipinggiran jalan yang sepi.
"Aku khawatir sama kamu," jawab Axel tampak jujur di telingaku.
Mau tak mau aku menarik kedua sudut bibirku, membentuk senyum tulus untuk lelaki itu. "Terima kasih, Axel. Aku baik-baik saja," ucapku.
"Syukurlah," Axel membalas senyumku, lalu kembali menjalankan mobilnya. Kutatap lelaki itu dengan lekat, kembali terbayang tentang kedekatan kami sepuluh tahun yang lalu. Axel sudah banyak berubah. Ia tidak gondrong lagi seperti dulu. Kulitnya pun terlihat bersih. Begitu juga dengan tubuhnya, tidak kerempeng seperti waktu itu. Ia berotot dan tampak dewasa.
"Kenapa lihatin aku kayak gitu, Feya?" entah kenapa Axel banyak sekali bertanya hari ini.
Aku menggeleng pelan. "Kamu sudah banyak berubah, Axel," jawabku jujur apa adanya. Sepuluh tahun yang lalu ia hanya mengendarai motor bututnya, kini ia menyetir mobil dengan atap terbuka. Entah miliknya sendiri atau pinjaman. Axel yang kukenal dulu tak pernah suka merepotkan orang lain. Dia lelaki mandiri dan pekerja keras.
Axel tertawa. Rupanya perkataanku terdengar lucu di telinganya. Lelaki itu melirikku sekilas sebelum kembali fokus pada jalanan yang mulai ramai, sebab kami sudah pergi terlalu jauh dari area pantai.
"Kamu tahu apa yang nggak pernah berubah, Feya?"
Aku mengerutkan dahi lantaran tak mengerti maksudnya.
Lelaki bertubuh tinggi itu menoleh padaku sekali lagi. Netranya sempat menatap lekat sebelum kembali ke depan. "Perasaan," akunya.
Memilih diam setelah mendengarnya adalah apa yang aku lakukan. Namun, dalam diam itu aku mengerti maksudnya. Apa lagi saat bayangan sepuluh tahun yang lalu kembali terulang dalam benakku.
Tentang Axel yang memintaku untuk menjauh dari Satrio dan menerima perasaannya, karena ternyata kedekatan kami tak hanya sebatas sahabat di mata seorang Axel. Sementara aku? Sudah lebih dulu jatuh cinta pada Satrio. Sehingga tak mungkin menuruti permintaannya.
Kejadian itu yang menciptakan jarak di antara kami berdua. Aku mulai tak suka pada sikap Axel yang menurutku mulai berubah. Jarak itu semakin nyata ketika Satrio sendiri yang memintaku untuk menjauh dari Axel lantaran cemburu akan kedekatan kami.
Lalu, aku dan Axel betul-betul berubah. Kami menciptakan jarak yang tak seharusnya. Namun, saat itu aku merasa keputusanku sudah benar karena ingin menjaga perasaan Satrio yang cemburu pada Axel. Aku tak ingin persahabatanku bersama Axel menghancurkan hubunganku dengan Satrio karena aku betul-betul mencintainya.
Mengingat itu semakin dalam saja rasa kecewaku pada Satrio. Sepuluh tahun kami sama-sama berjuang mewujudkan impian. Namun, semua terasa percuma. Perjuangan itu tiada memiliki arti ketika aku tahu apa yang terjadi. Satrio medua. Dia melupakan kenangan yang selama ini kami ukir bersama.
.
.
Bersambung.
***
Pintu mobil kututup dengan pelan. Senyumku tulus untuk Axel yang hari ini mengantar kami hingga ke depan gerbang rumah. “Makasih, Xel,” ucapku.
Namun, ternyata Axel menolak hanya mengantar sampai ke depan gerbang saja, Axel membantuku menggendong Heya hingga menidurkan keponakan kesayanganku itu ke kamarnya. Sementara tugasku hanya sekedar menarik koper yang berisi pakaianku dan Heya.
“Sekali lagi makasih atas bantuanmu, Axel. Senang bisa ketemu kamu lagi, tapi maaf karena kita harus bertemu dengan cara seperti ini,”
“Sama-sama,” Axel tersenyum hangat. “Pertemuan seperti apapun itu aku tetap senang melihatmu lagi, Feya,” katanya sembari tersenyum.
Sejujurnya aku sangat malu sebab Tuhan mempertemukan kita dalam keadaan yang seperti ini. Harapanku dulu adalah kita bertemu lagi di aula pernikahanku atau pernikahanmu, dan kita sudah berdamai dengan masa lalu. Bukan dalam keadaan diriku yang dipenuhi dengan luka seperti saat ini.
Namun, apa dayaku ketika kenyataan menghantamku, menunjukan betapa tidak beretikanya Satrio atas hubungan kami. Aku dilukai dengan sangat dalam olehnya.
“Ehmm Fe, boleh aku meminta nomor hpmu?” Pertanyaan Axel membuyarkan lamunanku tentang betapa kejinya sikap Satrio. Mataku yang tadi berkaca aku usahakan bersih dari airmata ketika menimpali pertanyaan Axel tersebut.
Mendengar bagaimana Axel berhati-hati kala meminta nomorku, membuat aku sedikit tertawa. Ternyata dirinya benar-benar telah banyak berubah. Tak seperti dulu yang seenaknya saja. Dia kini telah benar-benar dewasa. Sebenarnya itu sangat wajar mengingat umur kami yang sudah tidak muda lagi. Dua Puluh Delapan tahun cukup untuk menjadikan seseorang bersikap dewasa.
Aku mengangguk singkat. “Silakan dicatat,” kataku meminta pada Axel. Buru-buru teman lamaku mencatat nomor ponselku dengan wajah yang kalau aku boleh menilai sangat gembira. Entah karena apa.
“Terima kasih, Feya,” Bahkan Axel dengan lantang mengucapkan kata terima kasih untukku. Caranya mengingatkanku akan cara Satrio kala mengucapkan terima kasih untukku. Lelaki itu selalu membuatku tersenyum biasanya, tapi sekarang tidak lagi, dia adalah yang pertama membuatku menangis. Hatiku sakit bila mengingatnya, bahkan hanya untuk sedetik saja.
Lagi-lagi aku mengingat Satrio. Hal itu membuatku mengembuskan napas dengan berat. Axel mungkin menyadarinya, tetapi dia memilih untuk pura-pura tidak mendengarnya. Aku beruntung karena memiliki teman seperti Axel, begitu pengertian meskipun kami telah sangat lama tidak berjumpa.
Setelah mencatat nomor ponsel pribadiku, Axel langsung pulang. Sengaja aku tidak memintanya mampir terlalu lama lantaran hatiku sedang tak membutuhkan teman untuk bicara sekarang. Aku perlu waktu untuk menyendiri. Ingin menangisi kisah yang pada akhirnya kandas ini.
Axel mengatakan ia akan menghubungiku dengan segera. Dan, aku hanya bisa menganggukan kepala. Tak terlalu berminat dengan apa yang ada di dalam pikiran Axel saat ini. Bagiku, sembuh dari patah hati adalah apa yang harus aku lakukan. Karena sesungguhnya bukan hanya aku yang akan merasakan kehilangan, tetapi Heya juga, sebab selama ini hidupnya selalu di kelilingi oleh Satrio.
Mengingat kebaikan lelaki itu kepada Heya membuat aku tak bisa menahan tangisku sekali lagi. Untung lah Axel telah lama meninggalkan rumahku, sehingga aku tak perlu menyembunyikan tangis ini.
Heya pun masih tertidur lelap di kamarnya. Barangkali keponakanku itu letih sepulang dari pantai.
Ya Tuhan, kembali air mata ini jatuh membasahi pipi. Aku tidak tahu apakah aku sanggup menjalani kehidupan ini tanpa Satrio nanti. Aku pun tak tahu bagaimana caranya menjelaskan kisah yang telah kandas ini kepada Heya. Rasanya tak ada kata yang dapat kurangkai untuk menerangkannya kepada Heya. Dia pasti akan mencari Satrio yang sejak hari ini tak akan pernah ke rumah ini lagi.
Tiba-tiba dadaku terasa sangat amat sesak. Bagaimana tidak? Di setiap sudut rumah ini telah pernah di jamah oleh Satrio. Entah ia bercanda denganku atau bercanda dengan Heya. Tawanya, suaranya, semua tentang dirinya pernah mengisi rumah ini dengan begitu indah.
Mataku menatap dapur yang biasanya menjadi tempat favorit Satrio. Dia pandai memasak. Makanan kesukaan Heya dan kesukaanku selalu menjadi menu favoritnya di dapur. Dia tak pernah mengecewakan kami. Benar-benar seorang chef yang hebat untuk kami berdua.
Aku menggelengkan kepala, enggan mengingat kenangan yang dipenuhi oleh tawa itu. Sudah cukup! Tak seharusnya aku mengingat kembali dirinya. Satrio telah menentukan jalannya sendiri. Jangan salahkan aku, sebab aku pernah berusaha untuk memperbaiki hubungan ini, tetapi dia memilih untuk tetap bersama Santi.
Aku pernah meminta penjelasannya agar aku tahu apa yang kurang dariku hingga dia rela mendua. Namun, dia tak merasa memberiku penjelasan adalah sesuatu yang penting.
Tak ada jawaban dari kejadian ini selain karena cinta Satrio telah memudar untukku.
“Teganya kamu Satrio,” lirihku. Pada akhirnya aku menangis lagi dan lagi. Masih tak percaya cinta yang selama Sepuluh tahun ini Satrio umbar di manapun kami berada akhirnya berlalu begitu saja.
Kulangkahkan kakiku menuju kamarku. Semakin banyak saja memori tentang Satrio di sana. Foto-foto indah kami berdua yang penuh canda tawa menghiasi dinding kamarku. Tak satu pun tanpa tawa gambar diri kami berdua di sana. Semuanya menunjukan kebahagian karena kami pernah saling mencintai. Aku ingin mencopot gambar-gambar itu, tetapi nyatanya aku tak mampu melakukannya.
Tidak sakarang, karena aku benar-benar masih membutuhkan waktu untuk menenangkan hatiku yang terlanjur kacau balau ini.
Lama aku menangis untuk kemudian tertidur tanta sengaja. Aku dibangunkan oleh Heya yang memanggilku karena ingin makan katanya.
“Tante lapar,” Begitu ia merengek aku segera bangun dan menyiapkan makanan untuknya. Tak tega bila melihat keponakan yang telah aku anggap sebagai anak sendiri itu menahan lapar. Ia adalah bagian dari diriku yang sangat aku sayangi.
Heya makan dengan lahap. Dia pintar, bisa makan dengan sendirinya.
“Tante tadi nangis ya?” tanyanya. Aku terdiam. Bertanya-tanya di dalam hati apakah mata dan wajahku sangat sembab hingga Heya bisa berkata seperti itu.
“Tante jangan nangis lagi ya, kan ada Heya,”
Bukan mengiyakan kata-katanya, aku justru kembali menjatuhkan air mata. Dipeluknya diriku setelah meletakan sendok makannya terlebih dahulu. Diusapnya pungguku yang rapuh dengan penuh kelembutan. Tangisku semakin menjadi karena hal itu.
Heya, cepat lah besar sayangku, aku ingin menumpahkan semua keluh kesah ini padamu agar kamu mengerti betapa hati ini tak tersisa lagi. Ia telah hancur lebur tanpa dapat ditata kembali. Kubalas dekapannya yang begitu erat, tetapi lembut itu, aku tahu tak bisa diriku terus menangisi masa lalu seperti ini. Namun, bagaimanapun juga diriku hanya manusia biasa yang memiliki hati tak sekuat baja.
Wajar bila kesakitanku tak bisa terbendung. Aku harap secepatnya raga ini mampu menahan diri untuk tidak menangis lagi di depan Heya.
Kuusap air mataku agar Heya tidak khawatir. “Lanjutin makannya, Sayang,” ucapku setelah menjauh dari pelukannya.
Heya mengangguk singkat. “Tante, kenapa Om Satrio nggak pulang bersama kita?” tanyanya sembari kembali menyuapkan sesendok nasi ke mulutnya.
Jantungku berdetak sangat cepat mendengar pertanyaanya itu. Tak kuasa aku menjawabnya, tetapi aku harus tetap menjelaskan pada Heya bahwa mulai detik ini Satrio tidak akan pernah bersama kami lagi.
“Heya, tante mau kamu jangan cariin om Satrio lagi ya, Sayang,” ucapku mencoba memberi pengertian untuk Heya. Aku tahu ini juga tak kalah sulitnya untuk si kecil itu. Bayangkan saja, sejak umur Dua tahun Heya sudah mengenal Satrio dengan baik. Satrio sudah seperti Bapaknya sendiri. Setiap hari Satrio menemaninya, menghiburnya di kala hatinya sedih.
Namun, kini mendadak lelaki itu menjauh. Tak lagi memiliki waktu untuk bersamanya.
“Kenapa tante?”
Aku menggeleng menjawab pertanyaan Heya. Harus mulai darimana aku menjelaskan ini agar Heya mengerti?
“Om sekarang punya kesibukan lain. Dia nggak bisa datang ke sini lagi seperti biasa. Sekarang hanya tersisa kita berdua,”
Heya mengernyitkan dahinya. Tampak tak ingin terima bahwa Satrio tak akan pernah bisa datang ke rumah ini lagi. “Om juga nggak akan ketemu Heya tante?” tanyanya. Dan, aku hanya bisa menggelengkan kepala. Wajah Heya pun berakhir murung, tetapi ini memang harus aku katakan padanya. Aku tak ingin dia menunggu Satrio dalam waktu yang lama.
Sama seperti diriku, Heya pun harus move on dari lelaki brengsek itu. Dia tak pantas untuk diingat bahkan dalam waktu sedetik saja. Meskipun sangat sulit melupakannya, tetapi aku akan berusaha. Aku juga akan membuat Heya melupakannya apapun yang terjadi.
“Kamu bisa berjanji sama tante, Heya? Jangan cari Om Satrio lagi ya, jangan sebut-sebut namanya juga karena tante nggak mau dengar apapun lagi tentang dia,” pintaku pada Heya. Dia semakin terkejut saja. Wajahnya menunjukan semua itu.
Maafkan tante Heya, tetapi tante harus melakukan ini untuk kita berdua. Tante akan melakukan apa saja untuk membuatmu bahagia walaupun harus menjauh dari Satrio untuk selamanya. Bukan aku yang menginginkan ini, keponakanku, tapi Satrio sendiri yang ingin kita menjauh pergi.
Tidak apa-apa. Semua akan baik-baik saja. Satrio tidak mungkin bisa mempengaruhi hatiku untuk selamanya. Aku yakin suatu hari bisa melupakannya dan berdamai dengan rasa sakit ini.
“Heya, kamu mengerti maksud tante, kan?” tanyaku ingin tahu apakah Heya paham maksudku atau tidak.
Heya hanya mengangguk, lalu menggeleng singkat. Wajahnya menjelaskan kebingungan. Namun, aku tersenyum untuknya, lalu memeluknya karena hanya itu yang bisa aku lakukan saat ini.
Hari-hari berlalu setelah itu. Pekerjaanku menunggu sebab masa cuti akhirnya selesai. Heya kembali aku titipkan pada pengasuhnya yang pulang dan pergi sesuai jadwal. Dia tidak menginap di rumah selama ini. Dia akan menyerahkan Heya begitu aku pulang dari pekerjaanku. Rutinitas itu kembali mengingatkanku pada Satrio. Pekerjaanku yang kadang mengharuskan aku pulang terlambat membuatku sering meninggalkan Heya dan berakhir Heya dititipkan pada Satrio. Hal itu sering terjadi, tetapi Satrio baik-baik saja direpotkan olehku dan Heya.
Namun, sekarang tidak lagi. Karena hal itu pula aku mempertimbangkan untuk meminta pengasuh Heya menginap di rumah agar bisa menjaga Heya selama aku pergi dan sibuk dengan pekerjaanku. Tak jarang diri ini baru dapat pulang ke rumah setelah larut malam. Jika pengasuhnya bisa menginap, aku sedikit lebih tenang meninggalkan Heya.
Aku akan membicarakan hal itu dengan pengasuh keponakanku itu nanti. Sebab, tak ada yang bisa kuandalkan lagi saat ini. Tidak ada lagi Satrio di sisi kami. Aku harus bisa mengatur semuanya sendiri saat ini. Memang sangat sulit karena peran Satrio selama ini betul-betul sangat besar dalam hidupku dan Heya. Kami bergantung padanya.
Namun, sudah lah aku harus merelakannya. Bagaimanapun juga aku dan Heya harus tetap semangat menjalani kehidupan kami tanpa Satrio. Aku juga harus lebih banyak meluangkan waktu untuk Heya kalau bisa karena Heya masih sangat membutuhkan kehadiranku sebagai pengganti orang tuanya. Ditambah lagi ia baru saja kehilangan sosok yang selama ini selalu dirinya anggap sebagai papanya yaitu Satrio.
Aku menggelengkan kepala, mencoba untuk melupakan kebaikan-kebaikan yang selama ini Satrio berikan kepadaku dan juga Heya. Semua sudah berlalu dan sudah seharusnya aku membuang kenangan itu. Kenangan-kenangan yang hanya akan membuatku kesakitan meski semuanya terkesan sangat manis.
***
To be continued.