Bab 2

Berjam-jam menikmati tubuh dan sensasi jeritan dari Raina, Alex berjalan menuju kamar mandi. Ia segera membersihkan diri dan membiarkan tubuh Raina yang sudah tak berdaya.

Dalam guyuran air shower, Alex tak berhenti membayangkan pesona yang diberikan oleh Raina. Berbeda, mungkin itu yang tercipta dalam benak Alex tentang sosok Raina. Dara belia yang masih berusia belasan tahun itu sukses mendapatkan perhatian seoang Alex si raja harta.

‘Sial!kenapa aku tidak bisa berhenti memikirkan gadis itu?! aku bahkan ingin menggaulinya lagi … dia memang berbeda dari wanita-wanita di luar sana,’ pikir Alex.

Alex keluar dari kamar mandi dan berjalan menuju lemari. Dari sejak proses ia mengenakan pakaiannya, mata Alex tak berhenti menatap lukisan wajah Raina yang sudah terbuka oleh tutup mata. Kecantikan gadis itu berhasil memikat Alex dalam pesonanya.

“Dia … memang cantik. dan tubuhnya membuatku candu,” gumamnya seraya mengancing lengan kemejanya.

Alex segera meminta pelayan hotelnya untuk membersihkan Raina ketika ia bangun nanti. Dan meminta Dandi untuk menyiapkan satu dokumen perjanjian untuk di tanda tangani oleh Raina.

“Dan, kau siapkan semuanya. Nanti ketika dia bangun suruh dia tanda tangani itu. Tapi kalau dia tidak mau, kurung saja. Aku akan mengurusnya,” perintah Alex tanpa menatap Dandi.

“Baik, Tuan.”

Sore beranjak tiba, Alex masih dengan meetingnya di hotel tersebut. Sementara di kamar presiden suite milik Alex. Sebuah gerakan kecil di balik tumpukan selimut itu mulai terlihat.

Perlahan Raina membuka matanya. Samar-samar ia melebarkan pupilnya dan mencoba mengenali tempat ia berada.

“Aw … issshhhh, sakit,” ringisnya menekan bibir dan alisnya. Tangan Raina menekan perut bawahnya. Rasa sakit pada area sensitifnya seakan ingin membunuhnya.

Saat mengangkat wajah, dua orang pelayan wanita dengan seragam rapi dan senyum ramah menyambutnya.

“Selamat sore, Nona Raina,” sapa keduanya serempak.

“Sa-saya di mana ini, Mba?” tanya Raina dengan suara tertahan.

“Anda berada di kamar Tuan Alex. Jika anda bersedia, kami akan membantu anda untuk bersih-bersih,” tawar salah satu pelayan wanita itu.

Ekor mata Raina langsung memicing kesal mendengar tawaran gila dari pelayan hotel tersebut. ‘Emangnya aku ini anak bayi apa? Pake dimandikan segala,’ batin Raina.

“Tidak usah, Mba. Saya bisa sendiri. Saya akan mandi dulu.”

Perlahan dengan gerakan penuh hati-hati, Raina mencoba bangkit dan berjalan sangat pelan menuju kamar mandi. Ditatapnya seperai yang sudah menggambar warna merah di atasnya. Entah sesadis apa lelaki itu menggagahinya hingga linangan darah begitu pekat di atas permukaan kain, bahkan jika dicuci berkali-kali ia yakin nodanya tidak akan hilang.

“Dasar psikopat gila!” maki Raina menatap warna merah di atas kasur itu. sama halnya dengan Alex, Raina menenggelamkan dirinya di bawah guyuran air keran. Linangan air matanya menyatu dengan deraian air yang berjatuhan.

“Hik hik hik hik,” isaknya.

Raina hancur. Bahkan setiap penggalan kalimat dari pria yang usianya sama dengan ayahnya itu, masih terngiang lekat di telinganya. Menjadi ‘Jalang’ itulah ia di mata pria yang sudah merampas mahkota berharganya.

Beberapa jam, Raina keluar dengan handuk kimononya. Matanya disambut dengan satu stel dres berwarna hitam motip bungan sakura tergeletak di atas kasur. Tampaknya selama ia mandi, pelayan hotel sudah mengganti seperai dan menyiapkan beberapa menu makanan di sisi kasur.

Raina mengenakan pakaiannya. Sekeluarnya dari walk in closet, sebuah tubuh pria berjas masuk. Raina tersentak karena di luar perkiraan, lelaki itu masuk tepat ketika ia sudah selesai dengan pakaiannya. ‘On time banget, nih orang. Pas gua udah selesai barpakaian dia masuk. Pas banget! Nggak kurang nggak lebih, wow!’ batin Raina.

“Selamat sore, Nona Raina. Saya Dandi sekretaris sekaligus asisten Tuan Alex. Saya kemari ingin memberikan dokumen ini, tolong Nona tanda tangani,” jelas Dandi menyerahkan lembaran surat perjanjian tersebut.

Raina duduk sebentar dan membaca beberapa poi nisi perjanjian. Ia menghela napas. Sungguh dalam hidupnya bukan ini yang diinginkan yakni menjadi seorang ‘Selimut malam’

“Ini, Nona.” Dandi menyodorkan sebuah amplop berwarna coklat yang berisi sejumlah uang.

Mata Raina menatap hampa pada benda yang ada di tangannya itu. Sungguh dalam benaknya ia benar-benar sudah menggadaikan masa depannya di balik lembaran uang itu. Di tambah saat ia tahu jika pamannya sudah menjualnya. Sungguh miris.

“Jadi … inilah masa depanku,” lirihnya dengan suara yang sangat kecil.

“Jadi, Nona Raina. Berdasarkan isi perjanjian ini, anda harus siap setiap waktu Tuan membutuhkan anda. Tanpa halangan dan alasan apapun. Saya akan datang menjemput Nona.” Dandi menjelaskan lagi. sebuah anggukan terlihat di wajah Raina.

Tangan Dandi menjulur, menuntun Raina untuk bersantap sebelum ia di antarkan pulang oleh Dandi.

Tetes air mata tiba-tiba datang menyambangi pipi Raina saat gadis itu menyuap makanannya. Ia sedih, ia meratapi nasib sial yang menimpanya. Tak lama Dandi berjalan mendekat dan memberikan sebuah benda.

“Apa ini, Pak Dandi?” Raina membuka suara pada pria berjas itu.

“Ini Handphone dari Tuan. Hanya ada nama Tuan di sana. Nona tidak boleh menyimpan nomor lain selain beliau. Dan Handphone ini sudah distel dengan aplikasi khusus.”

Sekali lagi hati Raina tercekat. Ia tak habis pikir jika dunianya sudah terkunci oleh lelaki asing yang datang dalam wujud iblis itu. Iblis berwajah tampan.

Baru saja benda pipih itu berpindah ke tangan Raina sebuah panggilan menderu dari ponselnya. Ada nama Alex menampang di layarnya. Raina segera menjawab panggilan itu karena Dandi masih berjaga di sisinya.

“Halo, Rei. Apa kamu sudah menerima hadiah yang kuberikan? Aku harap kamu menyukainya. Dan satu lagi, jangan sekali-kali kamu bersama dengan lelaki lain, karena mulai sekarang kamu adalah milikku. Hanya milikku. Aku sudah membelimu dari pamanmu. Dan membayarmu. Jadi kau adalah mainan berhargaku. Barang milik Alex seorang. Kau paham?!”

‘Dasar iblis! Bahkan tanpa kau jelaskan panjang lebar aku sudah mengerti iblis!’ batin Raina.

“Iya, Tuan. Saya paham. Apakah saya boleh pulang sekarang?”

“Ya pulanglah. Besok sepulang kau sekolah temani aku ke puncak. Aku ada pertemuan klien di sana. Kita akan menginap di Villaku.”

“Baik, Tuan.”

Hari itu Dandi membawa Raina ke rumahnya. Seperti biasa langkah gadis itu masih terlihat berbeda. Rasa sakit pada wanitanya belumlah pulih seutuhnya. Ia berjalan lesu menapaki lantai rumahnya.

Wajah Surya sudah menyambut di balik meja makan. Lelaki itu lantas berdiri begitu menemukan suara Raina.

“Aku pulang,” salam Raina.

“Kamu baru pulang sekarang?” tanya Surya berpura-pura baik. Mata Raina langsung menyorot tajam kepada lelaki itu. entah kenapa, bahkan telinganya merasa sakit mendengar suara pria yang sudah menjerumuskannya.

Raina malas meladeni, ia berjalan begitu saja, melewati Surya. Kening lelaki bertubuh jangkung itu mengerut. Melihat sikap dingin Raina terhadapnya.

“Raina! Kamu kenapa diam?! Kamu kenapa, sih?!” desak Surya meninggikan suaranya.

Bab 3

Surya kembali ke rumahnya. Seperti biasa lelaki itu akan mencari makanan di meja makan. Sayang begitu kembali tidak ada menu di bawah tudung saji. Surya kecewa. Iapun teringat di mana Raina saat ini. Surya lantas mengambil sebotol sisa winenya dan meneguk menunggu kepulangan Raina.

Suara kendaraan di luar pagar rumah mengalihkan perhatian Surya. Lelaki itu berdiri dan melihat siapa yang datang pada malam hari. Mata Surya terlihat berbinar menemukan Raina berjalan keluar dari kendaraan mewah itu.

“Aku pulang,” salam Raina.

“Kamu kemana aja, kok, baru pulang jam segini?”

Raina tak menjawab. Ia sudah malas menanggapi lelaki yang sudah menjerumuskannya itu. ia pun melajutkan langkahnya tak menghiraukan teguran Surya.

“Kamu kenapa, sih? Di tanya kok malah diam?!” bentak Surya.

“Dasar anak tidak tahu diuntung! Begini balasan kamu terhadap orang yang sudah membesarkanmu?!” cecar Surya.

“Aku sudah membalas jasamu, Paman! Aku sudah membalasnya. Jadi … please! Jangan ganggu hidup aku lagi. dan sekarang aku sudah melunasi semua hutang budiku kepadamu. Kau sudah mendapatkan semuanya, bahkan lebih! Kau puas! Aku hancur, Paman! Aku hancur! Hidupku! Masa depanku! Semuanya hancur! Hancur oleh ulahmu! Jadi kumohon! Mulai detik ini urus saja dirimu. Aku akan pergi jauh mengatur hidupku.” Suara Raina yang meledak-ledak menjawabi Surya.

Suara dan kalimat itu langsung membuat Surya membungkam. Bibir lelaki itu seakan terkunci rapat dan tak bisa mengelak lagi.

Surya menggeram kesal. Dan seperti biasa, ia akan pergi untuk berpoya-poya melampiaskan rasa kesalnya. Di dalam kamar Raian menangisi nasibnya. Ia menumpahkan tangisnya sejadi-jadinya. Ia meraung sekuatnya, meneriaki nasib yang sudah tak adil terhadapnya.

***

Sekolah SMA Kesuma Bangsa masih dengan kegagahannya. Nara dan Fikar berjalan menghampiri tubuh Raina yang berjalan dengan langkah lemasnya.

“Woi!” Nara menepuk pundak Raina untuk mengagetkan gadis itu. Dan berhasil, Raina terkejut.

Fikar mendekati Raina, mengusap ujung kepala kekasihnya. Lelaki itu tersenyum manis menyambut sang pacar.

“Kamu lamunin apa, sih, sayang? Kusut banget mukanya,” lirih Fikar.

“Emm, nggak ada, kok. Cuma inget pengen makan bakso aja,” dusta Raina membalas senyum Fikar.

“Ya udah, ntar keluar main kita makan bakso di warung depan sekolah. Kata temen-temen di sana enak,” Sela Nara.

Ketiganya berjalan masuk ke dalam kelas. Sementara dari luar gerbang, sebuah mobil sedan sedang mengawasi Raina dari kejauhan. Wanita itu bahkan sudah berhasil mengambil foto saat Fikar mengusap ujung kepala Raina dengan hangat.

Bu Susi memulai pelajaran bahasa inggris. Baru saja bu Susi menjelaskan, tiba-tiba ponsel Raina bergetar. Gadis itu tersentak dan seketika meraih benda tersebut dan membukanya di dalam kolong meja.

ALEX : Keluar sekarang juga! Kalau tidak aku akan hancurkan gedung sekolah ini.

Mata Raina langsung membola sempurna. Hatinya tersentak mendapat ancaman dari sang iblis. Tangannya pun sudah gemetar memegangi benda pipih itu. ia mengedarkan pandangannya, menelan saliva untuk menenangkan diri.

Sekali lagi ponsel itu bergetar. Tangan Raina kembali dengan cepat meraih dan membuka pesan chat yang masuk.

ALEX : Aku hitung sampai tiga, cepat keluar atau ….

ANDA : Okay. Read.

Saat suara bu Susi masih melengking, Raina langsung mengangkat tangannya dan mengutarakan maksudnya.

“Ya, Rei, ada apa?” tanya bu Susi.

“Maaf, Miss, mohon izin ke toilet sebentar. Panggilan alam, Miss,” dustanya.

“Okay, I’ll give you time ten minute.”

“Thanks Miss.”

Raina langsung beranjak bangkit. Nara dan Fikar saling bertatapan dan mengangkat bahu. Mereka tidak tahu ada apa yang terjadi pada Raina pagi itu. Semua sikapnya terlihat aneh.

Raina berlari menuruni anak tangga sekolah. Ia tanpa berhenti sejenak terus berlari menambah laju agar cepat sampai pada lelaki jahat itu.

Hingga sampai di depan gerbang, matanya sudah menangkap sebuah mobil sedan hitam memajang sempurna di sana. Ia mendekat. Pemilik mobil itu langsung membuka pintu kendaraannya.

“Masuk!” pinta Alex tanpa menatap Raina. Meskipun masih dalam situasi marah dan kesal, Raina harus menahan diri. Karena menghadapi Alex dengan sikap emosi hanya akan membuat singa dalam dirinya semakin mengamuk, yang pada akhirnya akan merugikan dirinya sendiri.

Raina menyusupkan tubuhnya ke dalam. Begitu gadis itu mendudukkan tubuhnya, ia terkejut menemukan wajah tampan lelaki yang sudah membeli dirinya itu. Dandi langsung menekan gas dan melaju kendaraan dengan kencang.

Sepanjang perjalanan tidak ada percakapan. Raina measakan hal aneh. Karena ini di luar kesepakatan kemarin.

Tepat setelah kendaraan itu tiba di sebuah danau dekat pinggiran kota. Dandi menepi. Dan lelaki itu langsung mematikan mesin lalu keluar. Dandi sedang berjaga. Di dalam tinggal Alex dan Rainaa. Rasa takut kembali menyapa hati Raina. Hawa dingin dari Alex sudah sangat kentara.

“Bisa kamu jelaskan ini apa, Rei?!” suara dingin Alex saat memajangkan foto antara ia dan Fikar. Mata Raina langsung membelalak hebat. Ia tersentak sekaligus ketakutan mengetahui jika dirinya sedang dalam pengawasan pria jahat itu.

“I-itu … i-itu … itu, pa-pacar … sa-saya, Tu-Tuan,” jawab Raina tergagap.

Buku-buku jari Alex langsung mengeras pada benda pipih yang di genggamnya. Tak lama lelaki itu melempar kasar benda tersebut. Raina terperanjat dibuatnya. Rasa ketakutan yang tadinya masih bisa ia kendalikan kini semakin terasa dalam dirinya. Tangan Raina mengepal kuat meremas rok seragamnya.

Sementara Alex dengan mata menyala langsung menarik rahang jenjang Raina dan menjepitnya dengan kasar.

“Aw!” jerit Raina kesakitan. Mata Raina melebar ketika menemukan sorot menyala dari Alex. Apalagi kini jarak mereka sudah sangat dekat. Raina bahkan bisa merasakan hembusan napas kemarahan dari rongga Alex.

“Aku sudah pernah memperingatkanmu, Rei. Jangan ada lelaki lain dalam hidup kamu. Kamu itu milik aku, utuh!” hentak Alex dengan suara dingin dan penuh penekanan.

“Dia … dia pacar saya, Tu-tuan. Jauh sebelum saya mengenal anda.” Raina berusaha membela diri.

“Saya tidak perduli! Sekali lagi saya menemukanmu dengan lelaki lain, maka nyawa lelaki itu akan segera berakhir. Camkan itu Raina! Sekarang terima hukumanmu.”

Mata Raina sudah berair. Sudah berapa kali gadis itu menelan salivanya karena ketakutan. Ia tak bisa lari lagi selain membiarkan lelaki itu menyakiti tubuhnya.

Alex mencengkeram kuat rahang Raina, membuat gadis itu meringis kesakitan. Di tambah kini ia melumat liar bibir Raina. Tidak hanya melumat, Alex pun menggigit bibir Raina hingga berdarah.

Sungguh Alex benar-benar memperlakukan Raina layaknya seorang jalang. Suara rintihan sakit gadis itu serasa seperti mengundang hasratnya.

“Agh! Sakit … Tuan ….” Lirih Raina. Bukannya berhenti, Alex semakin menggigit lagi di bagian lain. Tangan Ale sudah membuka kancing seragam Raina dan memainkan tangannya pada dua gundukan milik Raina.

Berimbang antara rasa sakit dan kenikmatan lain, menyerang Raina secara bersamaan saat Alex sudah melampiaskan amarahnya.

“Alex … iblis!” makin Raina. Alex semakin memberi rasa sakit pada lumatannya. Dan kali ini membuat tangan Raina mencengkaram kemeja lelaki itu untuk menahan rasa sakitnya. Seperti itulah Alex memperlakukan Raina.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED