Bab.2
Menetes air mata Ida , membaca chatting suaminya dengan perempuan selingkuhan suaminya. Ditutupnya WhatsApp bisnis suaminya, ponsel diletakkan di meja kecil dekat tempat tidur. Hilang rasa capek dan rasa mengantuk. Hatinya berbisik..
{" Yaa Alloh, mas Adit suamiku menjalin hubungan lagi dengan Shella mantan selingkuhannya. Mereka berdua diam - diam berselingkuh di belakangku."}
Berkali-kali Ida hanya bisa menangis sambil istighfar di dalam hatinya sampai dirinya tenang meskipun bayangan Shella masih di pelupuk matanya.
" Idaaa... Ida.... Kamu di mana.?"
Mendengar teriakan ibu mertuanya, cepat-cepat di hapusnya air mata di pipinya dengan daster yang dipakainya.
" Aku di kamar mau tidur siang, ma."
" Ya sudah. Tidurlah, nanti sore kamu bersih-bersih bersih rumah."
Cepat-cepat dipejamkan matanya , memaksa dirinya sendiri untuk tidur sebelum ibu mertuanya masuk kamar.
____
Bangun jam setengah empat sore, langsung mandi , sholat azhar kemudian membersihkan rumah mertua. Ida dari kecil sudah terdidik di keluarganya untuk rajin membersihkan dan mengerjakan semua pekerjaan rumah , itu yang membuat ibu mertuanya mengurangi kecerewetan pada diri Ida.
" Ma, teh manis hangat dan pisang goreng sudah aku taruh di meja makan."
Ibu mertuanya yang baru saja keluar dari kamar tidur langsung duduk di dekat meja makan.
" Ida, uang belanjanya ini mama tidak beri harian tapi ini buat sebulan. Jadi pagi kalau kamu mau belanja ke pasar, tidak usah mengetuk kamar mama."
Ida melihat ibu mertuanya mengeluarkan beberapa lembar uang kertas dari dalam dompetnya.
" Ma, aku tidak mau pegang uang sebanyak itu. Mama beri uang belanja tiap sore saja buat pagi belanja ke pasar."
Ibu mertuanya mengernyitkan dahinya.
" Kenapa, Ida.?"
Ida menatap ibu mertuanya , sembari menjawab..
" Maaf, ma. Kalau aku pegang uang pasti diambil mas Adit. Kalau aku tidak mau memberikan uang pasti mas Adit memukuli aku."
Ibu mertuanya yang terkenal cerewet ini terkejut mendengar perkataan Ida menantunya.
" Adit masih suka mukuli kamu, Ida.?".
Ida mengangguk..
" Iya kalau mas Adit marah pasti mukuli aku, ma."
Ibu mertuanya menarik nafas. Dalam hatinya berkata..
{"Ida menantuku ini memang cuma perempuan desa dan lulusan SMP tapi dia baik , jujur , rajin , sabar , telaten. Adit anakku saja yang kurang ajar dan kasa memukuli Ida istrinya. Otaknya tidak berpikir bagaimana kalau Ida mengadu pada orang tuanya pasti bisa runyam urusannya."}
Ibu mertuanya memegang lengan Ida.
" Kalau Adit memukulmu, kamu harus cepat lari ke mama."
"Iya, ma. Sekarang aku mau menjemur baju dulu."
" Lho kamu mencuci baju sekarang ?. Kenapa tidak besok pagi saja.?"
Ida tersenyum.
"Aku sudah selesai mencuci baju di mesin cuci, hanya menjemur saja. Besok pagi aku tidak mencuci baju. Aku mau masak nasi kuning buat ulang tahun Annisa , ma."
" Kamu sudah belanja buat masak nasi kuning.?"
" Sudah, ma. Aku simpan di kulkas dapur."
" Uang darimana, ida.?"
" Uang tabunganku, ma.?"
" Uang tabungan ?. Kamu punya uang tabungan darimana, Ida.?"
Wajah Ida berseri-seri.
"Mama kan tahu aku terima pesanan lemper ayam dan risoles. Aku juga menitipkan di orang jual kue di pasar, ma."
"Kamu nabung dimana, Ida.?"
Dengan polosnya Ida menjawab.
" Aku naruh uang di bawah tumpukan panci di rak dapur, ma."
" Kamu jangan menyimpan uang di situ, Ida. Simpan di bank."
Ida menggeleng.
"Jauh kalau ke bank, ma. Kalau nyimpan uang di dapur itu dekat dan cepat diambil kalau aku butuh, ma."
" Iya cepat juga diambil Adit suamimu buat mabuk- mabukan, Ida."
Ida terperanjat mendengar ucapan ibu mertuanya yang mengingatkan dirinya kalau Adit suaminya memang suka mengambil uang siapa saja.
" Terus aku harus menyimpan uang di mana, mama.?"
" Besok lusa kamu ikut mama arisan, kamu bisa ikut arisan dan menabung di bu Adnan yang bagian mengurusi tabungan ibu-ibu, Ida."
Ida memandang ibu mertuanya, dengan lirih menjawab.
" Aku malu kalau ikut arisan, aku juga takut kalau mas Adit tahu pasti dikira uangku banyak, ma."
" Sudah , kamu turuti saja bicaranya mama. Kalau Adit tanya, jawab saja kamu tidak ikut arisan dan tidak menabung tapi kamu hanya mengantar mama ke arisan ibu-ibu. Mengerti kamu, Ida.?"
" Iya, ma. Terima kasih banyak."
Ida mengangguk lalu berjalan ke tempat cuci baju. Ibu mertuanya hanya bisa memandang punggung Ida menantunya . Hatinya berkata..
{" Sungguh kasihan Ida menantuku. Dia ulet jual kue basah dan mengumpulkan uang dari hasil jualan untuk memasak nasi kuning buat besok ulang tahun Annisa cucuku. Dia perempuan bodoh tapi tahu diri. Dia juga menerima semua perlakuan Adit anakku. Pantas kalau kupertahankan Ida sebagai menantuku."}
Ibu mertuanya bangkit dari kursi , menyusul ke tempat cuci baju. Diperhatikannya Ida dengan cekatan sedang mengeluarkan cucian dari mesin cuci lalu menjemur di dekat mesin cuci. Tidak itu hanya, Ida langsung masuk ke dapur diikuti ibu mertuanya. Ida menoleh sembari tersenyum.
" Mama mau apa ?."
Ibu mertuanya menarik kursi .
" Mama mau duduk sini lihat kamu mau apa di dapur, Ida.?"
Ida tertawa,
" Aku mau masak serundeng kelapa dan sambal goreng tempe terus disimpan di toples buat nasi kuning, ma."
Ibu mertuanya mau duduk tapi cepat-cepat Ida melap permukaan kursi.
" Aku lapar dulu kursinya biar daster mama tidak kotor."
Ibu mertuanya duduk dan melihat Ida yang ikut duduk di sebelahnya, langsung mengiris tempe tipis-tipis dan membuat bumbu.
" Sini, mama bantu.!"
" Jangan , ma. Nanti mama capek ,biar mama yang bagian mencicipi saja."
Ibu mertuanya tersenyum. Dalam waktu setengah jam, serundeng kelapa dan sambal goreng tempe sudah matang.
" Didinginkan di atas piring dulu, jangan langsung dimasukkan ke dalam toples ,Ida."
Ida mengambil 2 piring di rak piring dan meletakkan serundeng juga sambal goreng tempe di atas 2 piring tersebut.
"Mama , tolong cicipi. Ini keasinan atau kurang bumbu .?"
Ibu mertuanya mencicipi,
" Ini kurang, Ida.?"
"Kurang bumbu apa, ma.?"
" Kurang nasi."
Ida mengernyitkan dahinya.
" Kurang nasi, ma.?"
" Iya, kurang nasi di piring. ayo cepat ambilkan sepiring nasi buat mama."
Mereka berdua tertawa.
" Kamu juga ikut makan. Kita berdua makan ini sebelum dimasukkan ke toples, Ida."
" Iya, mama."
Langsung Ida mengambil 2 piring berisi nasi dan air es.
" Ma, aku sudah bikin sambal dan menggoreng kerupuk udang. Ini enak, ma."
" Cepat bawa sini, kita makan."
Ibu mertua dan menantu perempuan makan di meja dapur. Semua orang mengakui betapa cerewetnya ibu mertuanya ida tapi Ida dapat mengambil hati ibu mertuanya dengan sikapnya yang sopan dan jujur, rajin membersihkan rumah , pintar memasak , tidak pernah sekalipun membantah apalagi melawan ibu mertuanya. Ida selalu patuh dan tunduk pada ibu mertuanya meskipun Adit suaminya selalu menyakiti hatinya dengan bergonta - ganti perempuan selingkuhan dan sama sekali Adit tidak pernah bersikap mesra padanya sejak awal pernikahan. Hal tersebut yang membuat ibu mertuanya berubah sikap menyayanginya dan mempertahankan Ida sebagai menantu perempuannya.
Bab.3
Setelah sholat subuh, Ida langsung masuk dapur. Semangat sekali Ida memasak nasi kuning , telur dadar yang di iris tipis-tipis , opor ayam. Secepat kilat ida meletakkan nasi kuning, opor ayam, sambal goreng tempe, serundeng kelapa, kerupuk udang dan sambel. Pas jam 6 pagi, seisi rumah sudah bangun , mandi dan hendak sarapan. Ibu mertuanya, Adit suaminya, pak Asep Tosa, Jihan kakak iparnya. Tidak ketinggalan 2 adik iparnya, rizka dan Andayani masuk ke ruang makan. Semua terperangah melihat makanan yang terhidang di atas meja makan. Wajah Ida berseri-seri dan senyum manis mengungkapkan kebahagiaannya.
"Hari ini aku masak special buat Annisa Wicaksono putri tercintaku yang hari ini ulang tahun dan umurnya 15 tahun."
Semua memanggil...
" Annisa... Annisa... "
Annisa keluar dari kamarnya sambil membawa tas sekolahnya. Ibunya mendekati Annisa, dengan penuh luapan kebahagiaan ibunya langsung memeluk serta mencium kedua pipi Annisa.
" Selamat ulang tahun, Annisa anakku . Ibu memasak nasi kuning spesial buatmu. Ayo kita makan , nak."
Tanpa di duga-duga, Annisa melepaskan diri dari pelukan ibunya , kedua tangannya mendorong dadanya ibunya yang membuat ibunya terhuyung ke belakang nyaris jatuh tapi pak Asep Tosa dan Jihan langsung memegang badan ida. Mulut gadis kecil itu berteriak..
" Ibu bau jangan peluk aku nanti baju seragamku jadi bau dan kusut. Lagipula aku tidak minta ibu masak nasi kuning buatku, kenapa ibu masak ?. "
Ida terkejut tapi masih berusaha tersenyum, dengan lembut Ida menjawab..
" Setengahnya ibu simpan buat makan nanti siang. Ajak teman - temanmu kesini , beramai - ramai makan nasi kuning, nak."
Dengan tatapan sinis , Annisa menjawab..
"Aku malu dan tidak mau mengajak teman - temanku kesini , Bu."
" Kenapa malu, nak.?"
" Aku malu punya ibu bau , jelek , kampungan. Aku tidak mau di ejek teman - temanku. Ibu seperti babu."
Semua terhenyak mendengar perkataan Annisa. Ida langsung diam menunduk, sekuat tenaga dibendungnya air mata yang mau menetes lalu melangkah masuk dapur. Hatinya berkata..
{"Astagfirullah Al adziim, yaa Alloh. Aku tidak menyangka Annisa Wicaksono berani bersikap dan berbicara di hari ulang tahunnya padaku ibu kandungnya. Kuatkan aku untuk menghadapi semua ini, yaa Alloh."}
Ida masuk kamar mandi , dibasuhnya wajahnya. Dia tidak mau ada orang yang melihatnya menangis di hari ulang tahun putri kesayangannya. Diurungkan niatnya keluar dari kamar mandi karena terdengar suara ibu mertuanya..
"Annisa kamu anak durhaka, kamu berani sama ibumu."
Terdengar juga suara Annisa membalas ucapan neneknya.
" Ini hari ulang tahunku tapi nenek marahi aku."
Adit suaminya menengahi...
" Sudahlah, ma. Jangan marahi Anissa anakku. Hari ini dia ulang tahun, lebih baik mama beri uang saja biar dia traktir teman-temannya makan di luar."
Terdengar suara makin keras..
"Adit kamu itu goblok jadi bapak tidak becus mendidik sopan santun pada Anissa. Sekarang dia jadi anak durhaka berani kurang ajar pada Ida ibu kandungnya. Mama tidak mau beri uang ulang tahun pada Annisa cucu kurang ajar."
Cepat - cepat Ida keluar dari kamar mandi .
"Annisa .. ini ibu ada uang buatmu, nak."
Ida mengeluarkan 2 lembar uang kertas dari saku dasternya.
" Cepat sedikit jalannya, bu. Nanti aku terlambat ke sekolah."
Setengah berlari Ida menghampiri anaknya.
"Ini ibu punya 200 ribu buatmu, nak."
Tangannya terulur menyambar 2 lembar uang kertas di tangan ibunya.
" Ayo ayah cepat antar aku ke sekolah."
Neneknya langsung menyahut..
"Dasar anak durhaka, mengambil uang pakai tangan kiri dan mulutnya tidak bisa bicara terima kasih pada ibunya. Ayahnya juga diam saja melihat anaknya seperti itu. Ayah dan anak sama - sama tidak punya otak."
Dengan santainya Adit menjawab...
" Ayah antar kamu ke sekolah sekarang, Annisa. Nanti Tante Shella transfer uang buat hadiah ulang tahunmu."
" Iya ayah. Lebih baik tante Shella yang
kukenalkan ke teman - temanku sebagai ibuku. Cantik, uangnya banyak dan penampilannya tidak seperti babu."
Ida hanya menunduk mendengar percakapan suaminya dan anaknya. Sungguh menyakitkan hati. Ida berusaha untuk tidak menangis.
" Sebentar, aku tutup pintu pagar dulu. Setelah itu kita makan nasi kuning ya."
Selesai menutup pintu pagar, Ida berlari masuk ke dalam.
" Ayo kita makan nasi kuning. Coba masakanku ini enak atau tidak. ?"
Semua duduk makan nasi kuning masakan Ida. Jihan kakak iparnya melihat Ida.
" Enaknya masakanmu. Aku boleh tambah.?"
Ida tersenyum, sambil meletakkan tempat nasi kuning di tengah meja.
" Ayo mbak Jihan. Boleh makan sampai kenyang."
Semua ikut menambah nasi kuning dan lauknya.
Pak Asep Tosa menepuk bahu Ida.
" Kamu bisa masak seenak ini , kursus masak dimana.?"
Ida tertawa kecil.
" Aku tidak pernah kursus masak tapi emakku dulu sering mengajakku masak di tetangga - tetangga yang punya hajatan. Lama kelamaan aku bisa masak, pak Asep."
Ibu mertuanya langsung melihat Ida.
" Mama baru sekarang makan nasi kuning masakanmu. Lebih baik kamu terima pesanan nasi tumpeng , pasti laris."
" Aku kumpul-kumpul uang buat modal dulu, ma."
" Mama pinjami kamu uang buat modal , nanti kamu bayarnya mencicil tiap bulan."
" Aku tidak tahu caranya terima pesanan, ma. Takut rugi."
Jihan langsung menjawab..
" Aku yang bagian menawarkan nasi kuning, kamu yang masak dibantu Rizka dan Andayani".
Rizka dan Andayani mengedipkan matanya sembari menyikut siku Ida.
" Terima saja, nanti kami berdua yang membantu masak. Lumayan kami dapat tambahan uang jajan, mbak Ida."
Ida mengangguk.
" Iya, aku mau. Ohya hari ini aku libur tidak mengirim lemper ayam dan resoles ke pasar. Apakah kalian mau. ?"
Ibu mertuanya menatap Ida.
" Kenapa tidak kamu keluarkan dari tadi ?. Cepat bawa sini, Ida."
" Iya, ma."
Ida tertawa sambil lari ke dapur.
" Mama ini kasihan lihat Ida yang cuma bisa diam menangis, tidak melawan meskipun Adit dan Annisa seenaknya. Makanya mama pinjami uang buat modal jualan nasi kuning biar dia terhibur. Kan dia suka masak."
Pak Asep Tosa menjawab..
" Bu Wicaksono benar, Ida itu menantu yang baik. Jangan sampai dia lepas dari anak dan suaminya. Jaman sekarang susah cari menantu perempuan sesabar dia, bu."
Jihan menimpali..
" Pak Asep Tosa benar, ma. Kita ikat Ida di keluarga ini dengan cara memberinya peluang terima pesanan makanan."
Bu Wicaksono mengangguk..
" Mama juga mikir mana ada perempuan kuat jadi istrinya Adit ?. Hanya Ida yang kuat. Tidak melawan biarpun tidak di nafkahi dan tahu suami doyan main perempuan."
Jihan anak pertama melihat mamanya..
" Apa maksud mama.?"
" Selama ini mama tahu hanya diam. Adit sering "tidur" dengan semua anak buah mama. "
Semua terkejut mendengar ucapan mamanya.
" Mama juga tahu diam - diam Adit pacaran lagi dengan Shella perempuan Philipina itu padahal Shella sering juga bergonta - ganti laki. Jangan kita bahas ini kalau ada Ida, kasihan nanti dia tambah sedih."
Ida datang dari dapur .
" Lemper ayam dan resoles enak masih hangat. Ayo dihabiskan."
Ida merasa terhibur sekali, kalau masakan habis ludes tak tersisa karena memang hobinya memasak.