"M-maaf, maksudnya bagaimana, Pak?"
Ya! Alih-alih menjawab, Yasmin justru balik melempar pertanyaan pada lelaki tersebut yang tentu saja membuat Handoko geram karena itu sama saja mempermainkan sang pimpinan.
Ini membuat kesabaran pria paruh baya itu menipis, hingga dengan desahan kasar dia berkata lagi, "Kamu tahu? Sebaik apa pun manusia menyembunyikan sesuatu, cepat atau lambat semuanya akan terungkap. Terutama untuk wanita sepertimu."
Yasmin semakin menyipitkan matanya, mencoba memahami kata-kata atasannya yang terdengar sinis dan kasar. Kemudian di menit berikutnya Handoko menghembuskan nafas kasarnya sambil menganggukkan kepalanya, "Ya! Saya sudah tahu tentang hubunganmu dengan Haris yang selama ini kalian rahasiakan dari semua orang."
DEG!
Bencana macam apa ini!? Itu benar-benar membuat Yasmin merasa seperti disambar petir! Meski Yasmin telah bersiap untuk hal itu namun tetap saja terasa sangat menegangkan saat dirasakan secara langsung.
Handoko kini bangkit dari duduknya dan berbalik berjalan santai menuju jendela ruangan sambil memasukkan tangannya ke dalam saku. Pria itu sepertinya berusaha mengendalikan emosinya.
"Apa menurutmu wanita sepertimu pantas bersama anakku? Status sosialmu bahkan tidak sebanding dengannya," kata Handoko masih dengan pandangan terarah keluar jendela, "Saya harap kamu tidak bermimpi menjadi menantu keluarga kaya dengan mendekati anak saya."
Mendengar kata demi kata yang keluar dari mulut Handoko, tentu berhasil membuat hati Yasmin menciut. Wanita itu tidak lagi bisa menjelaskan apapun setelah mendengar kata-kata yang seolah menjatuhkan harga dirinya secara langsung.
Sementara itu di lain tempat ...
Setelah Yasmin pergi ke kantor Handoko, Haris muncul dari balik pintu. Pria itu selalu berpakaian rapi dan dengan wangi khas dari parfum yang hampir memenuhi ruangan. Haris berjalan gagah melewati setiap meja kerja bawahannya namun tiba-tiba berhenti tepat di depan meja sekretaris pribadinya. Sejenak, dia melihat sekeliling seolah mencari seseorang sampai dia mendaratkan pandangannya pada sosok wanita yang duduk di samping meja kosong.
Lelaki itu mulai mengernyitkan dahinya tampak heran, lalu pandangannya kemudian tertuju pada salah satu karyawan yang selalu terlihat bersama Yasmin, yaitu Kana.
"Di mana Yasmin? Apakah dia tidak masuk kerja?" tanyanya penuh rasa penasaran, "Biasanya dia sudah standby jam segini."
Kana yang menyadari bahwa pertanyaan itu untuknya kemudian berdiri, "Ah! Dia masuk hari ini, tapi pimpinan tiba-tiba memanggilnya, Pak."
"Apa!?" Haris langsung kaget mendengarnya.
Ekspresinya begitu jelas terlihat berubah, bahkan Haris tampak sangat terkejut mendengar jawaban Kana yang demikian. Detik berikutnya lelaki itupun mulai terdiam seketika namun dengan isi pikiran yang tiba-tiba dipenuhi beberapa dugaan.
“Tidak biasanya Ayah memanggil karyawanku tiba-tiba seperti ini, ada apa?” pikir Haris dengan kerutan di dahinya yang semakin terlihat jelas.
Haris lalu menggeleng-gelengjan kepalanya dengan gerak cepat berusaha menepis semua asumsi dalam benaknya dan kembali bertanya "Ada urusan apa ayahku harus memanggil sekretarisku?"
Tetapi Kana hanya menggelengkan kepalanya dan juga mengangkat bahu menjawab bahwa dia tidak tahu apa-apa. Oleh karena itu, tanpa berpikir dua kali, Haris berbalik dan mengejar Yasmin ke ruangan ayahnya.
Melihat tingkah Haris yang seperti itu tentu saja kembali membuat Kana merasa heran dan lantas menggeleng-gelengkan kepalanya lalu bergumam, "Ck! Kadang aku bingung sama mereka, saling cinta tapi ditutup-tutupi. Sekarang pas lagi begini? Repot sendiri ... "
Sementara itu, Yasmin yang kini berada di depan pimpinan hanya diam dengan menundukkan kepala sembari memikirkan hal apa yang akan di bicarakan oleh pemilik perusahaan itu. Gemetar di tubuhnya bahkan tak tertahankan, pun ia sedikit terpikirkan sesuatu yang sejak tadi mengganggu pikirannya.
"Apa ini ada hubungannya dengan rumor itu?" tanyanya dalam hati.
Sedangkan Handoko? Lelaki tua dengan beberapa helai rambut di kepalanya itu tampak sedang bersantai kembali di mejanya sambil menikmati kopi panasnya. Dia memiliki pandangan sinis pada wanita di depannya. Tak hanya itu, Handoko terus menerus memandang Yasmin dari ujung kepala sampai ujung kaki, seolah memperhatikan setiap hal yang berada pada diri perempuan itu.
Handoko juga tampaknya memandang rendah Yasmin , ia bahkan tak segan-segan mengucapkan kata-kata yang terdengar tidak pantas untuk anak sekelas seperti dirinya.
"Bagaimana? Apakah kamu mengerti posisimu sekarang? Apakah kamu pikir kamu dapat melanjutkan hubunganmu dengan anak saya?" tegur Handoko tanpa ampun, "Bersihkan pikiranmu dan buat keputusan ... tinggalkan anak saya. Saya tidak ingin perjodohan anak saya hancur karena wanita rendahan sepertimu."
"P-perjodohan?" batinnya menerka-nerka, "Apa ini artinya ... "
Yasmin menelan ludahnya tak sanggup membayangkan, berusaha tetap tenang sambil memikirkan tanggapan atas kata-kata atasannya.
Sambil menghela nafas Yasmin berkata, "Maaf, Pak. Saya minta maaf jika hubungan kami menimbulkan masalah, saya tidak memiliki maksud lain seperti yang anda tuduhkan kepada saya, saya mencintai putra anda dengan tulus."
"Tulus? Cinta? Kamu pikir saya bodoh? Saya tahu apa yang ada di benak wanita seperti kamu, wanita yang berasal dari kelas bawah ingin naik ke kelas atas dengan jalan pintas dengan menjadi simpanan orang kaya," cicit Handoko dengan angkuh, "Tapi saya tidak akan membiarkanmu menjadi duri dalam pernikahan anak saya yang telah saya siapkan untuknya."
Tidak main-main! Handoko benar-benar menyerang wanita itu dan menunjukkan ketidaksukaannya pada Yasmin, wanita yang dicintai Haris dengan sepenuh hati.
Sementara itu, Yasmin pun terdiam, membiarkan dirinya ditelan oleh kebencian calon mertuanya. Perempuan itu tampak tak mampu membalas semua caci maki yang diterimanya.
"Saya tidak akan membiarkan hubunganmu berlanjut, apakah kamu ingin mengakhiri hubungan ini dengan benar? Atau haruskah saya langsung memecatmu sehingga kamu tidak dapat melihat anak saya lagi? Silakan pilih ... "
Apakah itu sebuah pilihan? Tentu saja bukan, keduanya sangat sulit sehingga sepertinya tidak mungkin dilakukan. Gadis itu kemudian menghela nafas panjang sebelum akhirnya berkata, "Saya menghargai keingingan anda, Pak. Tetapi jika anda ingin saya mengundurkan diri dari perusahaan ini, bagaimana saya bisa melanjutkan hidup saya ketika saya tidak memiliki siapa pun untuk berpaling?" Yasmin menjelaskan dengan pasrah, "Saya harap anda memiliki belas kasihan."
Handoko kemudian terdiam, menatap wajah Yasmin yang terlihat begitu sedih.
"Kalau begitu. Saya yakin kamu bisa memutuskan apa yang terbaik untukmu dan anak saya."
Kemudian dengan sedikit keberanian yang dia miliki dalam dirinya, Yasmin mulai mengangkat wajahnya dan menjawab, "S-saya mengerti, Pak."
Seringai kecil mulai terlihat di wajah pemimpin yang sombong itu, Handoko benar-benar puas dengan respon yang ditunjukkan Yasmin tanpa memikirkan patah hati wanita itu setiap saat.
"Baiklah. Kamu bisa kembali bekerja ... dan tolong jangan sampai Haris mengetahui pembicaraan ini," pungkas Handoko.
Yasmin hanya mengangguk paham tanpa berkata apa-apa lagi. Gadis itu dengan cepat mengucapkan selamat tinggal pada kehadiran presiden dan mulai berjalan keluar dari ruangan yang terasa seperti neraka baginya.
Usai pertemuan singkat dengan Handoko, Yasmin merasa semakin tertekan dengan beban yang dihadapinya. Dia menyadari bahwa situasinya semakin rumit. Dia tahu bahwa dia harus mengambil tindakan yang jelas tidak bisa dia lakukan dalam sekejap mata.
Yasmin berjalan menyusuri lorong dengan langkah lemas dan pikiran bingung. Wajahnya tertunduk membiarkan kesedihan dan kebingungan menari-nari di benaknya. Saat itu, langkahnya berhenti ketika dia melihat sepasang sepatu hitam mengkilap berdiri di depannya.
"Yasmin? Apa yang kamu lakukan disi-" Kata-kata Haris terhenti tiba-tiba ketika pria itu melihat genangan air mata yang terus mengalir di pipi wanitanya, "Kamu menangis!? Apa yang terjadi?"
Haris langsung terkejut! Tangannya secara refleks meraih wajah gadis itu dan menatapnya dalam-dalam. Namun, dengan gerakan cepat, Yasmin menepis tangan kekar yang selalu menenangkannya itu dan menyeka air mata di pipinya dengan cepat, berusaha menyembunyikan ekspresi sedihnya.
Yasmin menggelengkan kepalanya dan menjawab, "Ah! T-tidak apa-apa. Aku hanya ... ada debu masuk ke mataku, itu saja."
Haris memperhatikan wajah Yasmin yang tampak sendu, merasa ada sesuatu yang lebih dalam di balik alasan sederhana itu.
"Benar begitu?" Haris mengerutkan kening merasa ada sesuatu yang aneh yang disembunyikan darinya.
Yasmin hanya menarik napas dalam-dalam, dia tahu bahwa dia benar-benar tidak bisa menyembunyikan apa pun dari kekasihnya, entah itu kebahagiaan atau kesedihan. Wanita cantik itu kemudian perlahan mengangkat kepalanya dan menatap pria jangkung berwajah tampan bak aktor papan atas, namun tiba-tiba ...
"Ah! Akhirnya kamu sampai, Haris," kata Handoko yang tiba-tiba muncul dari balik pintu ruangannya yang hanya berjarak beberapa langkah dari tempat mereka berdiri.
Handoko secara refleks tersenyum menanggapi sapaan ayahnya, "Ya, Ayah. Ada apa?"
"Masuklah, ada yang ingin kubicarakan denganmu," pinta Handoko.
"Oh! Baiklah. Aku akan datang beberapa menit setelah aku selesai berbicara dengan sekertaris-"
"Ah! Tidak masalah, Pak. Sepertinya saya harus pergi sekarang. Anda bisa langsung ke ruangan pimpinan," sela Yasmin dengan suara tertahan.
"Tapi-"
"S-saya permisi dulu ... " tukas Yasmin cepat-cepat tersenyum dan membungkuk kepada CEO itu lalu dengan cepat melanjutkan langkahnya meninggalkan Haris di tempatnya berdiri.
Haris hanya melihat punggung wanita itu seraya menautkan alis. Kemudian CEO muda itu menoleh ke belakang untuk melihat ketegasan di wajah Handokk dan mengerti bahwa ada hal-hal yang lebih penting yang perlu diselesaikan.
Dia menghela nafas panjang dan mengikutinya ke kamarnya. Tapi selama itu, pikiran Haris tidak bisa berhenti memikirkan kondisi Yasmin yang terlihat tidak begitu baik.
***
Hari semakin siang, begitu pula kantor yang semakin sibuk. Saat pintu kaca kantor terbuka, seorang wanita cantik berpakaian modis muncul. Dia dengan percaya diri melangkah ke area resepsionis dan bertanya kepada resepsionis yang ada di sana.
"Permisi! Saya sedang mencari mas Haris. Apa dia ada di kantor saat ini?" tanya wanita itu tidak lupa menebarkan senyum.
Resepsionis itu sedikit terkejut dengan kedatangan wanita cantik itu dan menanyai sang CEO tanpa menyebut namanya. Tapi resepsionisnya dengan senang hati tetap ramah dan bertanya, "Apakah anda sudah membuak janji dengan CEO kami?"
"Oh! Maaf, saya Rahma. Calon tunangan mas Haris, saya ada pertemuan penting dengan beliau. Bisakah anda memeriksa apakah dia ada?" Dengan penuh anggun wanita itu kembali mengutrakan maksud dan tujuannya datang ke tempat itu.
"Baik, Nona. Izinkan saya untuk memeriksa jadwalnya. Tolong tunggu sebentar," balas resepsionis tersebut tak lupa dengan menyunggingkan senyumannya.
Resepsionis itu mulai mengotak-atik komputer untuk mengecek jadwal CEO hari ini, sesekali memperhatikan tingkah wanita cantik di depannya yang terus tersenyum dan memainkan rambutnya yang panjang dan sedikit pirang.
"Kebetulan CEO kami sedang berada di kantor sekarang. Saya akan menghubungi sekretarisnya untuk memastikan ketersediaannya. Mohon tunggu sebentar," lanjut resepsionis itu setelah selesai mengecek layar komputernya. Dia kemudian meraih gagang telepon untuk memanggil sekretaris CEO, Yasmin.
"Halo, Bu Yasmin. Saya ingin memberi tahu anda bahwa seorang tamu bernama Nona Rahma, calon tunangan CEO dan ingin bertemu dengan beliau. Apakah Pak Haris ada di kantornya?"
Dari ruang sekretaris, Yasmin tampak terkejut mendengarnya. Matanya terbuka lebar dan mulutnya tertutup rapat seolah dia tidak bisa mengatakan apa-apa.
"Jadi, rumor itu benar?" pikirnya.
Yasmin terdiam sesaat dengan genggaman yang semakin kuat pada gagang telepon tersebut, pikirannya seketika berputar-putar dan terasa begitu kalut.
Sementara itu ...
"Jadi, ada apa, Ayah?" tanya Haris kepada ayahnya saat pria itu tiba di ruangan dan melihat Handoko yang baru saja menduduki kursinya.
“Duduk dulu, baru kita ngobrol santai,” kata Handoko sambil membetulkan posisi duduknya.
Akan tetapi, Haris yang merasa tidak enak sejak melihat raut wajah Yasmin bahkan tidak mendengarkan perkataan ayahnya dan tetap dalam posisi berdiri. Hati dan pikirannya bertanya-tanya apa yang terjadi pada pacarnya.
"Kamu tidak mau duduk? Hanya ingin berdiri seperti itu?" Handoko menaikan satu alisnya seolah menegaskan perintahnya secara tidak langsung. Akhirnya, Haris melunak dan menuruti pria paruh baya di depannya meski perasaannya semakin bingung.
"Apakah ayah akan menjawab pertanyaanku?" tanya Haris datar, "Dan ada urusan apa dengan sekertarisku?"
Handoko menyeringai mendengar rentetan pertanyaan anaknya yang seolah menekannya, terutama tentang seorang wanita yang baru saja keluar dari ruangannya.
Alih-alih menjawab pertanyaan itu, Handoko malah tertawa kecil sambil menggelengkan kepala seolah tidak bisa berhenti memikirkan kelakuan anaknya. Tak ayal, tindakannya membuat Haris merasa heran.
"Kenapa ayah ketawa padahal aku bicara serius?" cicit Haris lalu mengangkat pergelangan tangannya untuk mengecek waktu, "Aku juga sepertinya tidak bisa berlama-lama di sini karena ada hal yang lebih penting untuk kulakukan."
Kata-kata itu tiba-tiba menghentikan tawa Handoko dan menggantinya dengan wajah datar, seringai di bibirnya perlahan turun, meninggalkan senyum sinis.
"Ah! Maaf ... Ayah terlalu bersemangat," kata Handoko sambil berdehem, "Tapi ini lebih penting dari apapun, termasuk sekertarismu yang kau cintai itu."
Haris mengangkat alisnya lalu mendengkus, "Jadi ayah sudah tahu hubungan kami."
Handoko hanya berdecih sembari memalingkan wajahnya, terlihat sangat kesal dengan tingkah putranya, "Jangan meragukan ayah ... "
"Kita akan kedatangan tamu penting hari ini, jadi persiapkan dirimu dan tolong perlakukan tamu kita dengan perhatian khusus," ungkap Handoko tiba-tiba.
"Siapa?" tanya Haris dengan wajah tidak tertarik.
Handoko tersenyum lebar dan menjawab, "Calon istrimu."
"Apa!?" Haris langsung menyipitkan matanya, "Siapa??"
"Kamu akan tahu nanti."
Haris yang terkejut, dia kemudian menggelengkan kepalanya dengan cepat dan berkata lagi, "T-tunggu, tunggu ... apa maksudmu, Ayah?"
Handoko yang terlihat santaipun menghela napas panjangnya, "Apa lagi? Aku akan menjodohkanmu dengan wanita pilihanku ... putri salah satu teman ayang yang memiliki perusahaan."
Hal itu lantas membuat Haris naik pitam, "Apa-apaan ini!? Kenapa tiba-tiba seperti ini? Aku bahkan tidak tahu apa-apa ... kenapa ayah-"
"Ck! Sudahlah, salahmu tidak menikah padahal aku sudah tua," sela Handoko sengaja.
Haris semakin kesal dengan kelakuan ayahnya, namun ia tetap berusaha menguasai diri dan menahan amarahnya yang seketika meledak. Saat itu juga, Haris langsung terpikirkan dengan kekasihnya yang baru saja keluar dari ruangan ayahnya beberapa saat lalu.
Dengan menajamkan sorot matanya, Haris kembali bertanya, "Tunggu! Apa ayah membahas hal ini juga dengan Yasmin?"
Handoko kemudian terkekeh, mendengar tebakkan Haris yang dirasa tepat. Bahkan Handoko sedikit menggeleng-gelengkan kepalanya merasa tak percaya dengan apa yang dikatakan oleh anaknya.
"Ternyata otakmu cerdas juga, kamu pandai menebak bahkan ayah belum selesai bicara," ucap Handoko dengan terus terkekeh.
Ini jelas saja membuat Haris geram, tangannya terkepal sempurna seolah menahan amarah yang tengah menggebu-gebu meskipun tak bisa ia salurkan saat itu juga.
"Siapa pun itu, aku tidak setuju," kata Haris, "Aku tidak pernah meminta ayah untuk mencarikanku pacar atau calon istri karena aku tidak ingin diatur."
Ucapan Haris tentu saja membuat situasi semakin memburuk, Handoko mendelik dengan sorot mata yang begitu tajam menatap Haris, sosok yang akan mewarisi seluruh kekayaannya.