Clarie menaikan kedua kakinya ke atas sofa sembari menikmati cokelat hangat buatan Daniele. Matanya menatap pada layar 45 inci di depannya yang tengah menayangkan acara drama komedi percintaan.
“Jadi, bagaimana rasanya menjadi sekretaris yang memiliki bos tampan?” tanya Daniele yang mengambil duduk di sebelah Clarie.
Clarie sudah menceritakan pada Daniele sejak lama kalau dia memiliki bos yang sangat tampan di kantor. Ketika Clarie mendapat bagian menjadi assisten sekretaris, sahabatnya itu menceritakan dunia per-sekretaris-an yang katanya sering kali dijadikan simpanan bos mereka. Namun, Clarie sama sekali tidak mempercayai itu, dia berpikir tidak semua sekretaris menjadi simpanan. Buktinya, Rebecca, sudah bertahun-tahun menjadi sekretaris Lucas Henderson, mereka tidak ada hubungan apa-apa.
“Biasa saja,” balas Clarie acuh, tanpa mengalihkan tatapannya pada layar di depan sana.
“Ck, kau kurang menarik mungkin untuknya makanya dia tidak melirikmu,” cetus Daniele.
“Maksudmu?!” tanya Clarie tak paham.
“Oh, ayolah, Clarie! Jangan sok polos, deh!” Daniele menaruh mug yang masih tersisa cokelat hangat ke meja. “Kita semua tau, kalau pekerjaan sekretaris itu seperti apa,” ucap Daniele seraya mengode dua jarinya.
Clarie menggeleng cepat.
“Tidak seperti itu, Danny, Sayang. Bahkan aku baru saja memulai selama 3 hari, dan belum apa-apa,” kata Clarie mengingatkan. “Lagi pula dia sudah memiliki istri yang sempurna. Sudah pasti dia tidak membutuhkan wanita lagi, ya kan?”
“Marion Larsen, ya?”
Clarie mengangguk, membenarkan.
“Iya sih, dia wanita yang sempurna. Dia memiliki apa pun yang diimpikan setiap wanita di dunia. Keluarga kaya raya, anak tunggal, karir yang cemerlang, dan suami tampan bak dewa Yunani. Kurang apa lagi, coba?”
“Dan sangat cantik,” kata Clarie menambahkan.
“Dia seorang model sudah pasti cantik, bodoh!”
Clarie memberengut.
***
Clarie sudah datang ke kantor lebih awal, dia tidak ingin mengecewakan Rebecca bila harus terlambat lagi. Gadis itu membereskan ruangan milik Lucas, merapikan lembaran-lembaran file yang masih tercecer di meja. Mungkin bosnya itu terburu-buru pulang kemarin sehingga mejanya sampai berantakan seperti ini.
Saking sibuknya, Clarie sama sekali tidak menyadari kehadiran seseorang yang baru saja masuk ke ruangan itu.
Lucas menelan ludah ketika melihat pemandangan di depannya. Gadis itu menungging di mejanya membuat rok sepan yang dikenakannya naik menampilkan paha dalam gadis itu yang putih mulus.
“Argh!” Clarie terpekik kaget begitu membalikan tubuhnya mengakibatkan lembaran-lembaran yang ada di tangannya berhamburan kembali di lantai. Lucas berdiri bersandar pada pintu dengan kening berkerut.
“Ck!” Lucas berdecak seraya melangkah menghampiri Clarie dan membantunya memunguti lembaran kertas di lantai.
“Maafkan, saya, Sir,” ucap Clarie tergagap.
Usai memberesi lembaran itu, Clarie izin untuk keluar dari ruangan Lucas.
“Permisi, Sir,” pamit Clarie yang di balas oleh Lucas dengan dehaman.
Clarie menutup pintu di belakangnya dengan perasaan yang campur aduk. Rasa keterkejutan masih menyelimuti dirinya.
“Hai, sedang apa kau di sana, Clarie?” tanya Rebecca yang baru saja datang.
“Oh, hai. Kau sudah datang, Bec.” Clarie berjalan ke arah mejanya, lalu duduk dan mencoba menetralkan degup jantungnya.
Ini adalah hari terakhir Rebecca bekerja di kantor, setelah ini wanita berusia dua puluh delapan tahun itu akan cuti melahirkan hingga enam bulan lamanya. Clarie akan memegang penuh semua jadwal kerja bosnya dan mengatur segala keperluan pria itu.
“Kau pasti bisa melakukannya, Clarie. Aku yakin itu,” ucap Rebecca.
“Tentu, aku harus bisa melakukannya. Toh, Tuan Henderson tidak terlalu rewel, benarkan?” tanya Clarie memastikan.
“Well, dia memang berbeda dengan Tuan Kendrick yang banyak maunya. Untung saja beliau sudah pensiun dini,” kata Rebecca seraya tergelak, menyinggung bos lamanya sebelum Lucas Henderson.
Sore harinya, sebelum pulang Rebecca berpamitan pada Lucas di ruangannya.
“Semoga lancar untuk kelahiran buah hatimu, Bec. Bila ada waktu aku akan berkunjung,” ucap Lucas.
“Terima kasih, Tuan Henderson. Sampai jumpa lagi untuk enam bulan ke depan, saya titip Clarie,” balas Rebecca.
Lucas hanya mengangguk dan melempar senyum tipis.
Setelah dari ruangan itu, Rebecca menemui Clarie yang sudah menunggunya untuk turun bersama. Clarie membantu Rebecca membawa beberapa barang dan hadiah dari rekan-rekan kantornya hingga ke lobby, karena di sana suami wanita itu sudah menunggu.
“Kau akan baik-baik saja kan?” tanya Rebecca sekali lagi.
Clarie menoleh ke arah wanita di sampingnya. “Tentu saja, kau tak perlu khawatir, Bec,” balas Clarie yakin.
“Kalau perlu bantuanku hubungi aku kapan saja, Clarie,” pesannya kemudian.
“Oke,” balas Clarie pendek.
Usai mengantar Rebecca, Clarie keluar dari lobby dan mencari taksi. Ini Jumat malam dia akan menghabiskan malamnya dengan menonton drama favoritnya atau pun keluar untuk nongkrong di cafe dengan Daniele.
.
Lucas meraih ponselnya yang berdering.
“Ya?” sapanya pada suara di ujung sana.
Tangannya masih bergerak lincah di atas papan keyword laptopnya.
“Oke, nanti aku menyusul.”
Kembali pria itu menaruh benda pipih itu di sampingnya, dan melanjutkan pekerjaannya yang tersisa. Dia sengaja membiarkan Clarie pulang lebih dulu sekalian mengantar Rebecca tadi. Karena senin depan gadis itu akan mengurusnya sendiri tanpa bantuan Rebecca.
***
Taksi yang ditumpangi Clarie berhenti di depan flatnya di kawasan pinggiran kota New York City. Setelah membayar tarif ongkos, gadis itu pun turun dan menyeberang jalan menuju kedai roti milik keluarga Oswald.
“Selamat datang,” sapa Rosemary pemilik toko itu yang tengah duduk di depan konter kue. “Hai, Clarie?”
“Hai, Rose. Apa kabar?” tanya Clarie membalas sapaan wanita berusia 60 tahun itu.
“Kemarilah, kami punya roti kelapa kesukaanmu, Sayang. Dan ini masih hangat, Varo baru saja mengangkatnya dari panggangan,” ucap Rosemary semangat, sembari menyebut nama cucunya dari anak pertama.
“Wow! Sepertinya enak, tolong beri aku tiga potong,” kata Clarie sumringah.
“Ini ambilah.” Rose menyerahkan paper bag yang berisi roto kepada Clarie.
“Harum sekali,” ujar Clarie menghidu aroma dari roti yang diterimanya. Tangannya merogoh dompet dari dalam tas selempang dan mengeluarkan selembar uang, lalu diangsurkan pada Rosemary.
Usai membayar Clarie pun keluar toko dan kembali menyeberang jalan menuju ke flatnya. Dia membuka pintu utama, lalu naik ke lantai di mana flatnya berada.
Wajahnya berubah kesal begitu melihat seseorang yang tengah berdiri di depan pintu flatnya.
“Halo, Manis. Lama sekali kau kembali, hm,” ujar pria bertopi kupluk itu.
“Sedang apa kau ke sini?” tanya Clarie ketus.
“Ck! Jangan kesal begitu. Apa yang kau bawa itu?”
Clarie melirik paper bag di tangan kirinya. “Ini roti. Kau lapar?” tanya Clarie lagi.
“Aku tidak lapar, Clarie. Aku butuh uang. Berikan aku uang, Clarie!” kata pria itu kesal.
“Aku tidak punya uang,” balas Clarie cuek, seraya membuka pintu flatnya.
“Berikan aku uang atau adikmu kujadikan pelacur di rumah bordil!” ancam pria itu di telinga Clarie.
Tubuh Clarie menegang. Terpaksa gadis itu mengambil dompetnya dan memberi beberapa lembar uang pada pria menyebalkan itu.
“Ambil dan jangan kembali lagi!” desisnya tajam.
“Kita bertemu lagi Minggu depan, Manis,” ucap pria itu seraya menoel dagu Clarie dan beranjak pergi.
Buru-buru Clarie mengelap dagunya yang bekas sentuhan menjijikan itu dan masuk ke dalam rumah serta menguncinya.
Pria tadi adalah Steve, ayah tiri Clarie, dia sering datang menemui Clarie di flatnya setelah mengetahui tempat tinggal gadis itu dari seorang kenalannya di bar.
Ibunya berpisah dengan ayah kandungnya ketika dia masih kecil, lalu ibunya menikah lagi dengan pria yang ditemui di bar tempatnya bekerja. Steve dan Silvia menikah dan dikaruniai seorang anak perempuan bernama Caitlin yang saat ini telah berusia dua belas tahun.
Hubungan Clarie dan ibunya tidak harmonis, karena Clarie hampir saja dilecehkan oleh ayah tirinya yang tengah mabuk kala itu. Kemudian Clarie meminta ibunya untuk menceraikan pria itu, tetapi Silvia menolak.
Pada usia tujuh belas tahun Clarie memutuskan pergi dari rumah dan memilih tinggal sendiri. Awalnya dia bekerja di sebuah mini market dan restoran cepat saji untuk membiayai hidup dan kuliahnya.
Setelah pertemuan dengan ayah tirinya tadi, membuat mood Clarie memburuk. Dia pun menghubungi Daniele dan memintanya untuk datang ke rumahnya.
Kurang dari tiga puluh menit kemudian sahabatnya itu tiba di flatnya.
“Kenapa tidak kau usir saja, pria brengsek itu?!” omel Daniele marah. Dia benci bila melihat pria itu datang hanya untuk memeras Clarie terus menerus. “Bodoh!” makinya lagi.
Daniele memang selalu berbicara ceplas ceplos tanpa tau tempat, dan tak segan mengatai Clarie bila tau gadis itu telah melakukan hal bodoh.
“Sudahlah, jangan dipikirkan. Kalau dia datang dan meminta uang lagi tendang saja selangkangannya sampai dia terjungkal kesakitan. Please, Clarie jangan lemah!” seru Daniele lagi emosi.
“Oke! Oke!” balas Clarie kesal.
“Ganti pakaianmu, kita ke club malam ini!” seru Daniele seraya membuka jendela kamar Clarie untuk merokok.
“Kebetulan sekali, moodku sedang kacau!” sahut Clarie dari dalam kamarnya.
Clarie ingin sekali mabuk malam ini, dan melupakan kekesalannya pada ayah tirinya tadi. Dia tak perlu takut bila minum hingga mabuk, ada Ronald, kakak Daniele yang bekerja di sana sebagai bartender yang akan memantau mereka.
Clarie mengenakan dress berwarna oranye dengan panjang di atas lutut dan leher yang terekspos. Rambut ikal cokelat emasnya dia biarkan tergerai indah di punggungnya. Clarie memiliki tubuh yang tidak terlalu tinggi, tetapi sedikit berisi.
“Aku siap!” ucapnya berdiri dengan satu tangannya bertolak di pinggangnya.
Daniele menoleh ke arah Clarie dan memandang menggoda pada gadis itu.
“Aku jamin kau akan jatuh ke pelukan seorang pria malam ini,” ucapnya yakin.
Clarie menertawakan ucapan Daniele.
“Ayo, kita berangkat!” ajak Clarie seraya mengambil tas tangannya.
Sekitar tiga puluh menit kemudian keduanya tiba di club malam di mana Ronald kakak Daniele bekerja. Mereka tidak terlalu sering datang ke sini, karena Daniele selalu sibuk dengan pekerjaannya.
“Halo, Nona-nona cantik, kalian mau pesan apa?” sapa Ronald menyambut dua wanita itu.
“Aku mau Scotch saja,” pinta Daniele.
“Kau?” tanya Ronald pada Clarie.
“Um, samakan saja. Hehe ....”
“Oke. Wait!”
Ronald menaruh dua gelas kecil pesanan Daniele dan Clarie.
Dari lantai atas seorang pria mengerutkan kening ketika matanya tak sengaja tertuju pada seorang gadis yang tengah berada di meja bartender. Gadis bergaun oranye.
“Seksi,” ucapnya pelan.
“Ada target?” tanya Joe seraya menopang tangan di pagar pembatas.
“Tidak ada,” sahut Lucas datar. “Kita ke bawah,” ajaknya seraya menepuk pundak sahabatnya pelan.
Lucas berjalan menuju tangga dengan diikuti oleh Joe di belakangnya. Keduanya tiba di bartender dan memesan Vodca. Lucas masih memperhatikan gadis bergaun oranye itu yang duduk tak jauh dari tempatnya duduk.
Joe tengah mengajak wanita di sebelahnya mengobrol. Sedangkan Lucas masih memantau Clarie dari jarak yang tak nampak dari pandangan gadis itu.
Seorang pria mendekati Clarie yang hampir mabuk.
“Kau mabuk, Sayang?” sapa pria asing itu.
“Siapa kau?!” tanya Clarie ketus.
“Santai, Sayang. Bagaimana kalau kita turun ke lantai dansa?” ajak pria itu.
“Tidak mau!” Clarie menolak pria itu mentah-mentah.
Clarie memutar kepalanya ke kiri dan kanan mencoba mencari keberadaan Daniele. Tetapi, dia tak juga menemukan sahabatnya itu, tadi Daniele sempat pamit akan pergi ke toilet. Namun, hingga kini batang hidungnya belum juga nampak. Terpaksa Clarie pun menjemputnya ke sana, khawatir terjadi sesuatu pada sahabatnya itu.
“Ronald, aku akan menyusul Daniele ke toilet,” katanya pada bartender yang tangannya penuh dengan tato.
“Oke, Clarie. Cepat kembali ke sini,” balas pria itu.
Lucas masih mengawasi Clarie yang turun dari kursi bar, lalu tak lama pria yang menganggu gadis itu pun mengikutinya.
Lucas pun mengikuti pria itu, khawatir pada gadis itu karena sempat menolak tadi.
“Hei! Luke mau ke mana kau?!” teriak Joe yang masih mengobrol dengan wanita di sampingnya.
Lucas tak menyahut memilih berjalan cepat menuju lorong yang searah dengan toilet.
“Daniele?!” teriak Clarie dari luar pintu toilet. “Kau di dalam kah?” panggilnya lagi seraya mendorong pintunya.
Terdengar suara desahan dari dalam bilik toilet. Entah suara milik siapa. Clarie memilih untuk kembali keluar. Namun nahas, pria yang ditolaknya tadi ada di hadapannya dengan seringai yang menjijikan.
“Minggir!” usirnya.
“Kau tak akan bisa ke mana-mana lagi, Cantik. He he he!”
Tiba-tiba pria itu mengeluarkan sebuah sapu tangan dari saku celananya. Mata Clarie terbelalak ketika pria itu langsung menyerangnya dan menempelkan sapu tangan itu di wajahnya.
“Bajingan!” pekik Clarie yang sempat memberontak dan pada akhirnya tubuhnya pun melemas akibat pengaruh obat bius.
“Akhirnya kita akan bersenang-senang,” ujar pria itu terkekeh senang.
“Dasar pria pengecut!” desis suara di belakang pria itu ketika dia sedang mengangkat tubuh Clarie.
“Urus saja urusanmu sendiri!”
“Yang kau bawa itu tunanganku,” kata Lucas berbohong.
Pria itu tergelak. Menertawakan ucapan Lucas.
“Kau pikir aku percaya. Heh?!” Melanjutkan berjalan menuju pintu belakang dengan Clarie masih di gendongannya.
“Lepaskan dia atau kau akan menyesal!” desis Lucas tajam.
“Ck! Bagaimana kalau kita memakainya bergantian?” tanya pria itu memberi penawaran.
“Aku tidak suka berbagi!” ucap Lucas.
“Kau membuang-buang waktuku, Brengsek!” maki pria itu kesal. “Hentikan aku kalau kau bisa!” tantangnya lagi.
Tak mau membuang waktu, Lucas pun segera menerjang pria itu sehingga Clarie terlepas dari gendongannya.
“Sialan!” ujarnya murka. Dibiarkannya Clarie tergeletak di lantai.
Dua pria itu saling beradu kekuatan otot. Lucas berhasil menangkis semua pukulan yang dilayangkan pria itu dengan mudah, lalu kembali membalas serangan yang tak bisa terelakan.
Bugh!
Sebuah tinju milik Lucas bersarang di perut pria itu dan membuatnya langsung tumbang.
“Argh! Sialan!” Pria itu melenguh kesakitan dan tidak sanggup untuk bangkit membalas Lucas.
Lucas menepuk-nepuk celana dan kemejanya yang kotor terkena debu. Kemudian menghampiri Clarie yang masih tergeletak dan belum sadarkan diri. Lucas mengangkat tubuh Clarie dengan kedua tangannya dan membawa gadis itu keluar dari lorong yang sepi ini.
“Kau milikku, Clarie Evans,” ucap Lucas seraya mengecup sudut bibir gadis itu lembut.
***
Pagi itu Clarie terbangun dengan kepala yang berdenyut sakit. Dia melihat selimut putih yang menyelimuti tubuhnya, sontak dia tersadar. Matanya memindai ke sekeliling ruangan dengan tatapan nyalang.
Ruangan ini terlihat rapi dan luas. Clarie kembali menyadari dan melihat pakaian yang dikenakannya sudah berubah tidak lagi memakai dress oranye yang dia kenakan semalam. Dia mulai panik.
Clarie melihat pintu yang sepertinya mengarah ke balkon terbuka, karena tirai yang menutupinya melambai-lambai tertiup angin.
Seseorang muncul dari sana, jantung gadis itu berdegup kencang.
“Selamat pagi, Clarie Evans,” sapa suara berat itu. Mata gadis itu terbelalak melihat pria yang menyapanya.