Kepalaku terasa pusing memikirkan status terbaru Istrinya Reno.
"Ah, biarlah besok akan aku selidiki. Akku akan berpura-pura berkunjung ke rumah ibu mertuaku saja," gumamku dalam hati.
Rasa penasaran pun semakin dalam, sebenarnya apa yang mereka lakukan dengan uang suamiku? Ya, uangku juga. Rasa kantuk pun hilang, rasanya ingin segera aku menemui mereka. Sungguh Mas Bayu keterlaluan, aku di buat mati penasaran.
"Jika nanti anak-anakku besar, lihat saja kau Mas! Apa yang nanti akan aku lakukan padamu, sabar, sabar, Tiara." Itu yang selalu aku gumamkan dalam hati.
Aku memang seperti orang paling bodoh, diam tak bertindak. Untuk saat ini aku tak bisa berbuat apa-apa selain mengandalkan uang Mas Bayu yang kecil itu. Hinaan dan cemoohan dari tetangga dan saudara sudah biasa aku lalui.
"Hah, kamu Tiara mau saja hidup sabar dengan suami macam itu, mertuamu dan adiknya hidup enak dengan uang Suamimu. Lah, apa yang kamu dapat hanya kesengsaraan, sadar Tiara .... sadar." Itu yang selalu di ucapkan saudara-saudaraku. Hemm, sedih memang, tapi apa daya untuk saat ini aku belum bisa menghasilkan uang yang banyak.
***
"Kakak, adek, kita sekarang ke rumah Oma, yuk!" ajakku pada Rizki anak sulungku dan Bilar si bungsu.
"Ayo, Bu," sahut mereka berdua dengan kompak.
Wajah polos dan ceria mereka membuat hatiku tenang. Ah, memang benar mereka berdualah yang membuat aku mampu bertahan dengan Mas Bayu selama ini.
"Tapi ingat di rumah oma jangan bandel ya! Jangan terlalu minta ini-itu!" ancamku pada mereka berdua. Aku terkekeh geli melihat mereka cemberut dengan ancamanku tadi. Aku cubit pipi si sulung dan si bungsu gemas.
"Ah, biarin, Bu, kakak sama adek minta ini-itu juga, kan uang Ayah ada di Oma," jawab si sulung dengan polosnya.
"Husttt ... kakak nggak boleh ngomong kayak gitu, ah! Kakak kan masih kecil belum tahu apa-apa," ucapku kepada si sulung memberikan pengertian. Biarlah ini menjadi urusan orang tuanya.
"Hemm.. kata siapa kakak masih kecil? Nih otot Kakak besar," celotehnya, membuat aku semakin gemas sama si sulung. Apalagi pipinya yang putih mulus dan tembem kayak kue bapau.
"Iya.. iya oke jakak udah besar," sahutku
sambil aku cepat menggendong si bungsu dan meraih tangan si sulung untuk segera cepat mandi.
"Siappp ... lets go...!" Aku berteriak. Dengan ceria kami bertiga bersiap-siap pergi. Walaupun hidup kami susah, tapi aku tak mau menunjukan kesedihan di depan kedua anakku. Aku berusaha selalu menutupi semuanya. Ya, akulah Ibu idaman untuk kedua anakku. Mereka selalu mengidolakanku.
Katanya "nanti kalau kakak dan adek udah besar mau punya istri seperti Ibu, yang super sabar,"
Aku selalu tersanjung dengan kata-kata mereka.Ah, ada-ada saja mereka itu, hingga bisa membuat hatiku terhibur.
***
"Assalamualaikum ..." ucap anak- anakku dengan suara khas cempreng mereka.
"Eh, cucu-cucu Oma datang, sini sayang peluk Oma!" kelihatannya ibu mertuaku seperti menyayangi mereka, tapi entahlah.
Anak-anak tak mau jauh dari aku, walaupun sesekali ibu mertuaku menyuruh mereka untuk menonton televisi, tapi tetap mereka tidak mau.
"Tiara, ada apa kamu ke sini?" tanyanya dengan tatapan penuh curiga.
"Ah, tidak ada apa-apa, Bu, Tiara cuman pengen jenguk Ibu saja," jawabku untuk mengalihkan kecurigaan ibu mertuaku.
"Oh, dikirain mau minta uang lagi, kemarin sudah di kasih 500 ribu, segitu kan banyak?" ucapnya dengan nada suara meremehkan.
"Huh ... dasar mertua tak punya itungan, uang 500 ribu di anggap besar," gumamku berbisik pelan.
"Tiara, kamu barusan ngomong apa? Ibu ga budeg, loh."
"Oh ... eh ... nggak ngomong apa-apa kok, Bu. Cuman ngomong iya alhamdulilah uang 500 ribu besar mudah-mudahan sisa uang Mas Bayu banyak, supaya cepat kami bisa membeli rumah," sindirku halus, sebisa mungkin agar tidak menyinggung hati Ibu mertuaku.
"Hehh ... boro-boro kebeli sekarang sisanya juga sedikit. Uppsss..." Ibu mertuaku menutupi mulutnya dengan kedua tangannya.
"Maksud Ibu apa? Ngomong kayak gitu," tanyaku tak mengerti.
"Kamu ini Tiara, bawel amat sih, pengen tahu segala keuangan suamimu. Untung di kasih jatah juga," cerocosnya penuh amarah.
"Bukan begitu, Bu, kami kan di kasih jatah hanya sedikit oleh Mas Bayu, pasti sisanya masih besar?" ucapku, memberikan penjelasan kepada Ibu mertuaku.
"Udahlah Tiara, kamu jangan banyak tanya masalah uang! uang Bayu, Ibu pinjamkan ke Reno untuk membeli rumah, kasihan numpang di rumah mertuanya terus."
"Lah, Ibu kenapa nggak bilang dulu ke Tiara, setuju apa tidaknya Tiara, Bu?"
"Tiara, kamu ini kenapa sih pelit banget sama saudara juga? Ya, bantulah adik ipar kamu!"
"Iya Bu, masalah membantu Tiara mau-mau saja, tapi kan ini masalahnya Tiara juga belum punya rumah, uang jatah kami pun sedikit. Ya, Ibu seharusnya mendahulukan kami daripada Reno." Aku juga tak mau kalah dengan Ibu mertuaku. Dadaku bergemuruh tak karuan, hatiku panas ingin rasanya ingin mencakar wajah Ibu mertuaku, tapi itu hanya sebatas rasa emosiku saja.
"Ah sudah lah Tiara, Ibu capek ngomong sama kamu, nggak mau mengalah sama mertua."
"Terserah Ibu juga, Tiara nggak mau tahu, saatnya nanti Tiara mau membeli rumah uang itu harus ada!"
"Sebentar lagi Reno dan istrinya kesini, kamu ngomong langsung saja sama mereka, kalau kamu berani!" tantang Ibu mertuaku penuh emosi.
"Ok," jawabku singkat.
Tak lama menunggu datang juga itu orang. Dengan mesranya mereka bergandengan tangan. Seperti Romeo dan Juliet saja. Memamerkan kemesraan mereka. Apalagi Nela seperti anak bocah 5 tahun yang manjanya tak ada ampunnya. Mungkin dia ingin memamerkan kemesraannya padaku, bahwa dialah wanita yang paling beruntung di sayang suami yang segala keinginannya selalu terpenuhi. Ya, meskipun Reno harus pinjam sana-sini, termasuk membelikan rumah baru dengan hasil meminjam uang Mas Bayu.
"Tak apalah yang penting Nela senang," Mungkin itu pikirnya.
Tak seperti aku yang harus menunggu dan menunggu berapa lama lagi Mas Bayu akan merubah sifatnya.
"Bodoh ... bodoh ...," batinku sambil menepuk-nepuk kepalaku yang tak sakit.
"Eh, Mbak Tiara kenapa tuh kepalanya kok di tepuk-tepuk segala, sakit, ya? atau lagi ga punya duit?" ejek Nela, yang tak sadar jika uangkulah yang dia pakai makan selama ini, dan yang dia pinjam pula untuk membeli rumah barunya. Dasar Nela memang orang yang tak tahu malu dan tepatnya orang berwajah tembok. Itulah dia.
"Ah, nggak ini cuman puyeng dikit saja," jawabku, pura-pura berbohong.
"Pusing kenapa, yah?" Nada suaranya yang manja dan bibirnya yang maju mundur seperti mulut bebek, terlihat monyong. Membuatku geram dan dongkol padanya.
"Iya, ini aku lagi pusing, soalnya uangku habis nggak tahu kenapa?" sindirku sengaja untuk memancing Nela dan Reno, supaya mereka cepat membahas masalah pinjamannya itu.
Dengan ekspresinya yang kaget, Nela dan Reno celingak-celinguk ke arah Ibu Mertuaku sambil mengedip-ngedipkan matanya. Mungkin mereka kesal kenapa Ibu Mertuaku memberitahu masalah uang yang dipinjamnya itu.
"Lah, Mbak ini masalah uang yang terus di pertanyakan. Iya, itu uang saya pinjam dulu, Mbak, buat beli rumah. Saya kan, nggak enak numpang di rumah Mertua terus." Kini Reno yang ambil alih pembicaraan Nela.
"Kenapa kamu nggak ijin dulu ke Mbak? Malah sama Ibu minta izinnya. Itu kan uang Mbak, Ren," tegasku pada Reno.
"Apa saya tidak salah dengar, Mbak. Itu uang mas BAYUUUU, Mbak," teriaknya padaku, tak ada sedikitpun rasa hormatnya menghargaiku sebagai Kakak Iparnya.
"Sama saja itu juga uang, Mbak. Mas Bayu kan suami, Mbak, jadi aku yang lebih berhak atas uang itu, bukan kamu atau Ibu," hardikku penuh emosi. Bukannya minta maaf, malah sebaliknya dia yang terlebih dahulu memarahiku.
"Kata siapa yang lebih berhak itu Mbak? Yang lebih berhak itu kami keluarga Mas Bayu. Mas Bayu anak yang paling besar. Jadi mas Bayu harus menjadi kepala keluarga setelah Ayah meninggal," cerocosnya pula tak mau kalah.
"Astagfirullah ... yang pantas ngomong kepala keluarga itu aku dan anak-anak. Kamu sudah menikah dan seharusnya yang menjadi kepala keluargamu itu ya, kamu sendiri, bukannya Mas Bayu, mengerti!" Aku seperti orang gila membalas teriakan Reno.
Aku marah, apa keberadaanku dan anak-anak tak berartikah dalam kehidupan Mas Bayu? sehingga keluarganya lah yang lebih berhak menikmati hasil kerjanya.
"Lagian Reno adalah saudara satu- satunya Bayu dan dia juga sayang sama Reno. Bayu pasti tidak akan mempermasalahkan uang ini, mengerti kamu, Tiara?" Bela Ibu Mertuaku tanpa sedikit pun memperdulikan perasaan dan posisiku saat ini.
"Iya Mas Bayu, kan sayang kita, ya, Mas?" celoteh Nela seperti anak ingusan saja, membuat hatiku semakin muak terhadap mereka. Rasanya ingin sekali aku menonjok bibirnya yang monyong itu.
"Iya, tenang sayang, Mas Bayu tidak akan marah dan akan mengerti kok, kita juga berhak terhadap uangnya." Dengan santainya mereka meninggalkan aku yang berdiri mematung tanpa ekspresi. Sungguh tak bisa digambarkan dengan apapun hatiku saat ini seperti apa?
Aku berjongkok memeluk anak-anak erat. Aku tumpahkan semua air mataku di pelukan kedua anakku. Si sulung mengerti dengan kondisi seperti apa saat ini? si sulung mengusap pipiku pelan dan menciumiku berkali kali.
"Ayah nggak sayang kita ya, Bu? Kakak benci Ayah," lirih anakku pelan, seraya membisikkannya di telingaku.
Entah apa yang ada di pikiran anakku, dia membenci Ayahnya. Dia melihat pemandangan seperti apa ini? dia mendengar semua ucapan Oma dan Om nya. Ya, si sulung mengerti semuanya.
"Ayo, Bu, kita pulang saja! jangan mengemis di sini," ucapnya.
"Tak ada yang peduli dan membela Ibu saat ini. Percuma berteriak, menangis, menjerit pun, mereka tak akan peduli". Mungkin itulah yang ada dalam pikiran anak-anakku saat ini.
"Iya, Sayang ayo kita pulang!" ucapku. Tanpa basa-basi lagi aku dan anak-anak pergi tanpa berpamitan terlebih dahulu kepada mereka.
"Sayang anakku inilah perjalanan hidup kita, sampai kapan? entahlah, Mas bayu" lirihku pelan. Aku menangis, mengingat kejahatan hati Mas Bayu kepada kami.
Sungguh mulia hatimu Mas bertaruh nyawa di Negeri orang untuk membahagiakan Ibu dan adikmu, tapi aku dan anak-anak hanya bisa melihat kemewahan kalian dari angan kami saja . Dengan langkahku yang gontai, aku menggiring anak-anak keluar dari rumah Ibu Mertuaku yang bijaksana.
Selepas kepergian Tiara dan anak-anaknya, akhirnya aku bisa bernapas lega. Tak ada lagi yang menanyakan perihal uang Bayu anakku. Ya, tepatnya uangkulah, karena aku adalah Ibunya. Jadi akulah Ibunya yang harus pertama mencicipi uang hasil keringat anakku." Akulah mertua yang bijaksana, iya kan?"
Iya, aku adalah Ibu Mertua Yang bijaksana. Bagaimana tidak bijaksana? Aku mengatur keuangan anakku. Anakku Bayu kerja di luar Negeri di sebuah kapal barang milik Spanyol, dengan gaji yang lumayan cukup fantastik untuk aku nikmati. Aku menjatah menantuku yang sangat sabar 1 juta, dan itu pun untuk bulan ini aku sengaja memotong jatahnya menjadi 500 ribu, karena aku harus memberi makan Reno dan anak Istrinya. Aku tak mau jatahku juga berkurang dengan memberi makan Reno sekeluarga. Alhasil aku pakai saja uang Bayu. Toh, Bayu juga sayang sama aku dan Reno.
Dan aku sengaja meminjamkan uang Bayu ke Reno untuk membeli rumah barunya.
Ya, aku seorang Mertua yang bijaksana? Bisa mengatur semua keuangan Bayu. Aku mau semua anak-anakku mempunyai rumah sendiri. Malu, apa kata tetangga bila anakku masih numpang di rumah mertuanya? Perihal keinginan Bayu untuk mempunyai rumah sendiri, biarlah dia pakai uang bonus dari kaptennya. Hemmm, sungguh bijaksana kan?
"Ini uang 500 ribu harus cukup satu bulan!" Itulah kataku saat memberikan jatah bulanan kepada menantuku.
Aku berpikir biarlah menantuku menjadi seorang menantu yang hemat.Toh dia juga bisa menghasilkan uang sendiri. Menantuku sangat pintar, dengan kepintarannya dia bisa mencari uang sendiri tanpa meminta jatah yang lebih besar. Uh, sungguh sabar menantuku tak menuntut apapun. Dia sering menjadi guru les atau privat anak tetangganya. Ya, meskipun itu tak seberapa di banding gaji besar anakku, Bayu. Biarlah dia dan anak-anaknya belajar mandiri.
Ya, akulah Mertua yang bijaksana. Dengan memberi sedikit jatah menantuku, semakin besar pula uang di tabunganku. Aku sangat menyayangi menantuku Tiara, karena dia sangat sabar dengan jatahnya yang sedikit itu.
"Oh ... menantuku tak akan aku lepaskan kamu lari dari kehidupan Bayu. Akan aku pertahankan kamu menjadi menantuku, karena kamu wanita yang sabar, hemat dan mandiri," gumamku pelan, sambil aku cekikikan senang punya menantu yang bisa aku kendalikan.Ya, karena Aku Mertua yang bijaksana.
Sebentar lagi uang tabunganku akan terkumpul banyak dan Reno juga tak perlu kerja keras. I Love you Tiaraaaaaaaaa.
***
Setelah kejadian perdebetan di rumah Ibu Mertuaku. Aku sudah mengambil keputusan matang-matang. Aku akan menunggu dulu kepulangan mas Bayu, selepas itu, aku akan melakukan apa yang yang terbaik untukku. Percuma hidup dengan status bersuami tapi kehidupanku tak layak seperti orang yang mempunyai suami. Aku mulai mengambil semua tawaran les tetanggaku. Kebetulan Rijki anakku yang sulung termasuk anak yang pandai di sekolahnya, mungkin karena itu, dari mulut ke mulut semua temannya tahu kepandaian anakku. Alhasil anakku selalu mengatakan bahwa akulah yang selalu mengajarkan dan membingbingnya dalam pelajaran di sekolah.
"Ibuku sangat pintar sekali, Ibuku seperti ibu guru." Itulah celotehan si sulung kepada teman-temannya. Dari celotehan itulah, teman-temannya mulai tertarik untuk meminta aku sebagai guru privat mereka.
Memang dari hasil mengajar sebagai guru privat tak sebesar seperti gaji Mas Bayu, tapi alhamdulilah bisa mencukupi kebutuhan sehari-hari. Dan aku juga mulai menawarkan diri sebagai guru les komputer di tempat kursus lingkunganku. Mungkin karena kelihaianku dalam keterampilan di bidang komputer dan kesabaranku dalam membingbing anak-anak, aku diterima dan lolos sebagai guru les komputer. Senang dan aku ucapkan beribu-ribu syukur atas kemudahan pekerjaan yang aku jalani sekarang. Aku memulai segalanya, tanpa memikirkan pemberian jatah dari mas Bayu yang sangat terbilang kecil itu.
Semuanya akan menuai dari segala perbuatan yang kita lakukan, itulah yang selalu aku sematkan dalam hatiku sebagai kata-kata ikhlas yang aku jalani dalam kehidupanku ini.
***
Selepas aku pulang mengajar les komputer di sore hari, aku merebahkan tubuhku di atas kasur. Anak-anakku tak mengganggu, mereka menonton televisi kesukaannya. Mereka tahu Ibunya capek dan perlu istirahat. Ah, sungguh pengertiannya anak-anakku.
Drdt ... drdt ...
Tring ... Bunyi ponselku. Ku lihat, oh.. ternyata Mas Bayu mengirimiku pesan. Mungkin sekarang Mas Bayu sudah sandar dari perjalanan lautnya, dalam mengantarkan barang-barang ke beberapa Negara. Mas Bayu akan sandar 3 bulan sekali dan baru akan mengabariku. Dengan rasa malas aku melihat ponselku.
[Dek, gimana kabarnya?"]
["Anak-anak juga gimana kabarnya?"]
["Aku kangen kalian."]
["Dek, kok, gak di bales sih?"]
Ku pegang ponsel, tapi aku males untuk membalas semua chat dari Mas Bayu. Rasa sakit perlakuan keluarganya dan akan ketidak peduliannya, membuat aku lelah dalam ujung sabarku.
Namun akhirnya mau tidak mau aku terpaksa membalas chat dari Mas Bayu.
["Alhamdulillah baik Mas,"] balasku singkat.
["Syukurlah kalau kalian baik-baik saja, oh.. ya dek, sebentar lagi Mas pulang kira-kira 6 bulan lagi."]
["Ohh."]
["Kok, jawabnya gitu amat sih, dek. Apa gak kangen sama suamimu ini?"] balasnya tanpa ada rasa bersalah atau penasaran sedikit pun, kenapa aku membalas chatnya dengan sesingkat mungkin?
["Mas kan udah tahu kabar aku dan anak-anak, baik -baik saja. Apa yang harus ditanyakan lagi sih, Mas?"] sindirku dengan penuh emosi. Sampai jari-jariku pun bergerak tak karuan, menjadi luapan emosiku yang aku pendam selama ini.
["Jangan begitulah dek! Suamimu ini baru ada di daratan, apa tak sebaiknya kamu tanyakan dulu kabar suami ini?"] balasnya seperti orang bijak saja
["Iya maaf, Mas."]
["Dek, sebenarnya ada apa sih? Kok, kamu gak seperti Tiara yang dulu lagi, sekarang kamu kelihatannya ketus banget?"]
["Emang Mas tahu sekarang aku lagi ketus?"] gumamku tak peduli.
["Ya, iyalah, Dek, Mas tahu kamu sekarang lagi ketus, balas chat Mas mu ini juga kayak gitu, gak baiklah, Dek!"]
["Mas, pernah berpikir gak sama kamu? Apakah selama ini aku dan anak-anak, baik-baik saja?"] balasku tak mau kalah dengan gaya Mas Bayu yang seperti suami bijaksana saja.
["Apa maksudmu, Dek?"] balasnya seperti orang yang tidak tahu apa-apa, atau memang pura-pura tak ingin tahu saja.
[Mas, baik-baik kah keadaanku bersama anak-anak dengan uang satu juta bahkan 500 ribu sekalipun?"]
[Dek, kamu harus mengerti aku, memberimu satu juta dengan tujuanku agar cepat bisa memiliki rumah. Aku sengaja mentransfer ke rekening Ibuku, karena aku tahu Ibuku pasti menyimpannya dengan baik."]
["Mas disana kan tidak tahu apa yang dilakukan Ibumu disini? Aku bersama anak-anak hidup dengan penuh kesulitan, aku seringkali menerima jatah hanya 500ribu. Ibu ngasih makan Reno dan anak Istrinya dari uang kamu Mas, tapi aku tak pernah dipedulikan sama Ibumu,"] aduku sama Mas Bayu penuh panjang lebar.
Bahkan sebelum Mas Bayu membalas chatku, aku sudah mengirim pesan lagi.
["Bahkan Ibumu juga meminjamkan uangmu, sama Reno untuk membeli rumah tanpa memberitahuku terlebih dahulu."]
[Ah, masa sih, Dek, Ibuku bisa seperti itu. Aku tahu Ibuku sangat bijaksana."]
[Ah, terserahlah, Mas. Mau percaya atau tidak itu urusanmu."]
[Dek, jangan begitu sama orang tua, tidak baik!"]
Aku sengaja tak membalas chat Mas Bayu. Malas rasanya, pasti ujung-ujungnya dia akan selalu membela Ibunya dan tak akan menyadari jika selama ini dia telah dikendalikan oleh Ibunya.
[Hemm, Dek, ngomong-ngomong kamu disana bisa kerja kan? tolong bantu aku ya dek!"] Ihhh.. tak punya rasa malu sedikitpun Mas Bayu menanyakan itu padaku.
Ya Allah, kenapa Mas Bayu seperti ini? Sudah ngasih uang satu juta di bawah kata sedikit, menyuruhku pula untuk bekerja, benar-benar kelewatan banget.
Dan akupun tak memberitahukan, perihal aku sekarang sudah mendapatkan pekerjaan yang bisa menopang kehidupanku bersama anak-anak.
Sudahlah itu aku matikan saja ponselku, tak ada gunanya meladeni Mas Bayu. Akan aku tunggu kamu pulang saja Mas, lihat nanti! Kalau sudah waktunya, aku akan bersikap tegas mengambil keputusan, untuk kehidupanku selanjutnya bersama anak-anak.
***
Assalamu'alaikum ... tiba-tiba ada ketukan dan suara salam dari arah pintu.
Anak-anak lari menuju pintu depan.
"Waalaikumsalam," sahut anak -anakku kompak mengucapkan salam.
"Eh, Nenek, Wa Arman datang, kakak kangen." Peluk cium si sulung atas kedatangan kedua orang yang disayanginya itu. Sementara si bungsu hanya diam saja.
"Mana Ibumu, Nak? Gak kelihatan?" tanya Ibuku sambil melihat sana-sini mencari keberadaanku.
"Ada Nek, Ibu baru saja pulang mengajar les," jawab si sulung tanpa ragu, karena dia tahu aku sekarang lagi tidur.
"Sini, Nek, Uwa, masuk!"
"Iya, Uwa juga sudah capek dan haus seharian di bus ingin cepat-cepat istirahat dan juga mau makan," canda Kak Arman, membuat anak-anakku tertawa dan terlihat senang. Mungkin sekarang mereka berpikir akan ada yang menemani mereka saat aku bekerja.
Aku pun keluar dari kamar dan membenahi pakaianku yang kusut, karena aku belum sempat mengganti pakaian selepas tadi aku pulang mengajar.
"Eh, Ibu, Kak Arman kesini kok gak ngasih tahu Tiara dulu? Tiara kan bisa belanja dan masak dulu makanan kesukaan ibu," tanyaku sambil mencium tangan Ibu dan kak Arman penuh hormat.
"Ah, gak usah repot-repot lah Tiara! Ibu dan Kakak kesini hanya ingin memastikan keadaanmu dan anak-anakmu saja." Ada nada ketegasan dalam jawaban Kak Arman.
"Iya, Tiara, Ibu khawatir dengan keadaanmu dan anak-anak. Ibu tahu keadaan rumah tanggamu. Ibu kesal karena kamu terlalu sabar, Tiara!" Ibuku juga menimpali kata-kata kak Arman.
Ya, Ibu dan keluargaku tahu tentang sipat Mas Bayu dan Ibu Mertuaku. Semua keluargaku selalu menasehatiku agar melepaskan pernikahan ini.
"Toh, punya suami juga percuma, Tiara, kamu dan anak-anak hidup susah seperti ini." Itu yang selalu keluargaku ucapkan. Tapi entahlah aku hanya selalu bersikap sabar dan sabar menunggu Mas Bayu berubah demi anak-anak, yang pada kenyataannya dia sama saja seperti dulu.
"Sudahlah Bu, nanti kita bicarakan di dalam, sebaiknya Ibu dan kak Arman istirahat dulu! capekkan?" bujukku pada Ibu dan kak Arman. Bisa-bisa mereka menceramahiku di depan pintu sampai berjam-jam, kalau tidak segera aku hentikan pembicaraan ini.