Bab 2

JANJI SUCI

Akhirnya, hari yang selama ini aku impikan datang juga. Hidup semati bersama dengan pangeran yang aku cintai dalam ikatan tali suci pernikahan. Aku begitu bahagia sekali hari ini, bak Raja dan Ratu sehari semalam, aku meluapkan kegembiraanku dalam acara pernikahan.

Pernikahan hari ini sudah ku rancang 8 bulan setelah, Martin dan keluarganya datang untuk meminangku. Aku sudah memikirkan akan jadi seperti apa pernikahanku. Pernikahan bergaya modern dengan balutan tradisional dari keluarga kedua belah pihak.

Namun, itu hanya sebatas impian saja, karena pihak keluarga Martin menginginkan agar pernikahan ini menggunakan adat tradisional mereka. Aku berusaha melobby pihak orang tua Martin , agar menggunakan adat tradisional kedua belah pihak, jangan hanya satu pihak saja. Tapi sepertinya itu hanya sia-sia saja, karena orang tua Martin bersi-kukuh pernikahan ini berjalan menggunakan adat istiadat keluarga Martin. Kalau aku tidak menurutinya, maka tidak akan ada pernikahan.

Hatiku sedih sekali, karena pihak orang tua Martin seperti tidak menganggap keluargaku. Mereka hanya beranggapan bahwa adat-istiadat mereka lah yang terbaik. Mau tak mau, aku menuruti permintaan keluarga Martin. Dan kembali aku bertengkar dengan Mama, karena menurut Mama dan keluarga besarku, Keluarga Martin sudah merendahkan aku secara tidak langsung, dengan tidak menggunakan adat-istiadat keluargaku.

Ku sembunyikan rasa kekecewaanku terhadap keputusan yang diambil oleh orangtua Martin terutama Ibunya. Bahkan ibunya juga menginginkan agar dirinya lah yang merencanakan setiap detail dari pernikahan. Menurutnya hal ini dilakukan dengan alasan agar pernikahan dapat berjalan dengan baik.

Dan sekali lagi egoku berjalan, aku membiarkan pihak orangtua Martin yang merencanakan hingga tata pelaksanaannya. AKu tetap membela keluarga Martin ketimbang dengan keluargaku sendiri.

Aku mengtakan pada orang tua ku dan keluarga besar, bahwa ini adalah pernikahan anak terakhir, sehingga orang tua martin ingin merayakannya besar-besaran dalam adat-istiadat. Dan sangat berat hati juga, baik orang tuaku dan keluarga besarku juga menerima perkataan dari orang tua Martin.

Sudah banyak sekali hal-hal spele yang membuat hubungan aku dan mama semakin renggang. Tapi entah mengapa, Mama masih saja memiliki kesabaran yang seluas samudra dalam menghadapi perilaku aku yang selalu saja menentang dan mematahkan argument mama.

Acara pernikahan aku dengan martin dengan menggunakan adat-istiadat keluarganya berjalan mulus. Tak ada satu kekurangan apapun, baik dari segi makanan, maupun segi souvenir untuk para tamu.

Hari ini di gereja Katedral, aku sah menjadi istri dari Martin. Betapa bahagianya aku sudah menyandang status istri sah dari seorang laki-laki yang ku puja dan ku impikan. Namun, acara pernikahan ini masih belum selesai. Karena masih ada serangkaian upacara ritual dalam adat keluarga Martin. Dan upacara itu berlangsung hingga tengah malam.

Rasa kantukku sudah tak tertahankan saat keluarga Martin memberikan banyak petuah, mengenai bagaimana menjadi seorang istri yang baik di mata suami. Untuk mala mini kita lewati saja aktivitas malam pertama. Baik aku dan Martin sudah sama-sama lelah.

Keesokan harinya, kami berdua merencanakan untuk honeymoon ke raja ampat. Tempat wisata yang sedang digandrungi oleh para wisatawan, baik wisatawan local maupun wisatawan asing. Pemadangan ombak biru adalah pilihanku sebagai tujuan honeymoon kami.

Kami hanya bisa meluangkan waktu berdua sekitar satu minggu. Tak banyak yang kami lakukan di sana. Hanya saling mengenal karakter satu sama lain dengan membiasakan diri dan memahami karakter pasangan. Sederhana memang, tapi itu butuh satu kesabaran yang cukup menguras emosi.

Seperti kata orang tua bahwa, kelakuan dan sifat pasangan akan terlihat saat kita sudah menikah. Karena pada saat kita sedang menjalin hubungan untuk yang pertama kalinya, tentu saja hal baik yang di perlihatkan. Entah itu perhatiannya yang bagaikan seorang ayah atau ibu, mengerti akan kondisi yang sedang kita alami, bahkan saling melengkapi dan saling mengerti di saat salah satu dari kita tidak memiliki uang.

Satu hari saat aku sedang asyik menikmati bisikan deburan ombak, suamiku, Martin mengusulkan agar setelah pulang berlibur, kami berdua akan tinggal di rumah orang tuanya.

“Sayang, setelah liburan nanti, bagaimana kalau kita tinggal di rumah orang tuaku?” tanya Martin

“Lho memangnya kenapa?” tanyaku

“Sebentar lagi kan aku bertugas di luar daerah, aku takut kamu kesepian. Maka dari itu, kamu mau ya tinggal di rumah orang tua ku dan merawat mereka,” usul Martin

“Gimana juga kalau aku ikut denganmu, tinggal di luar daerah bersama kamu,” jawabku

“Lalu bagaimana dengan usaha makanan yang sedang kamu jalani saat ini? Nggak mungkin kan kalau kamu pergi meninggalkan usaha kamu begitu saja,” ucap Martin

“Memangnya kenapa sih, kalau aku mau hidup bersama dengan suamiku sendiri? Lagipula untuk usaha, kan ada anak buah yang mengurusi, aku hanya tinggal memantau saja,” jawabku.

“Iya, boleh saja, tapi kan tetap saja, aku harus bertanya lebih dahulu kepada pimpinanku, dan aku harus mempersiapkan segala sesuatu di rumah dinas sana. Jadi sebelum kamu pindah bersamaku,” pinta Martin

Mau tak mau, aku harus meruti apa yang dikatakan oleh suamiku. Pulag dari liburan berdua, dan sebelum Martin berangkat dinas di luar daerah untuk waktu yang sangat lama. Aku dan Martin tinggal di rumah orang tuanya.

Awalnya biasa saja, dan tampak berjalan dengan sempurna. Aku pikir mertuaku sangat baik sekali terhadapku. Mereka selalu perhatian padaku, terlebih para iparku yang juga selalu baik dan perhatian padaku.

Dua minggu berlalu, tiba saatnya Martin pergi menunaikan kewajibannya yakni dinas di luar daerah. Berat hati ini berpisah dan melakukan hubungan jarak jauh. Pikiranku kacau dan tak karuan. Takut kalau Martin di sana kesepian dan bermain api dengan wanita lain.

Pekerjaan Martin adalah seorang perwira angkatan Darat. Ia di tugaskan di luar daerah kecil daerah Sulawesi. Dan pekerjaannya inilah yang mengharuskan dirinya untuk selalu berpindah-pindah tempat tugas. Kadang di desa terpencil, dan kadang juga di tugaskan di kota besar. Semua itu tergantung dari permintaan pimpinannya.

Aku mencoba untuk bertahan kewarasanku dengan tidak memikirkan hal yang buruk tentang Martin di sana. Yang kupikirkan adalah, Martin sedang mencari nafkah dan menjalankan tugas kenegaraan.

Sebelum Martin pergi dinas, ia sudah menitipkan aku kepada orang tuanya agar selalu menjagaku layaknya aku adalah anak bungsunya. Mereka pun berjanji akan menjagaku seperti layaknya anak mereka.

Selama aku tinggal di rumah mertua, aku merasa seperti di penjara. Tidak bisa bebas berekspresi, dalam mengemukakan pendapat, tidak bisa leluasa dalam pekerjaan. Ada saja omongan buruk tentang diriku. Entah itu aku yang terlalu sibuk mengurus usahaku hingga aku tidak tahu waktu, tidak pernah menyukai masakan buatan mertua, hingga urusan uang pun juga di permasalahkan.

Aku mulai jenuh dengan semua perlakukan mereka kepadaku. Mereka selalu membuatku semakin terpojok dengan sindiran sindiran halus mereka. Seperti mereka menganggapku seorang Ratu yang selalu bangun siang, dan tak pernah bisa melakukan pekerjaan rumah tangga.

Lama kelamaan aku menjadi malas untuk tinggal satu atap dengan mertua dan para iparku. Aku menceritakan semua yang kualami pada suamiku. Namun setiap kali aku menceritakannya, Martin selalu saja membela keluarganya, bahkan tak hanya membela ataupun menenangkan aku, tapi juga Martin memaki ku dengan kata-kata yang kasar.

Hancur hati ini saat Martin memakiku dengan kata-kata kasar. Ingin rasanya aku tutup mulutnya dengan plastic hanya untuk merecdam rasa kesal kepada suamiku. Aku mulai berspekulasi kalau Martin sudah tidak sayang lagi denganku. Aku memutuskan untuk tinggal bersama dengan kedua orangtua ku sampai Martin datang lagi.

Tidak pernah aku melihat Martin semarah ini padaku, hingga ia mematikan saluran komunikasinya dan tak ingin berbicara padaku. Aku tahu, meskipun aku mengatakan bahwa aku pindah ke rumah orang tuaku pun, Martin akan tetap marah padaku.

Sehari setelah memutuskan untuk tinggal bersama kedua orangtuaku, Martin masih belum juga menghubungi. Kami berdua bertengkar hebat, karena aku juga bersih kuku dengan keinginan ku.

Langsung saja aku meminta bantun Pak Anton untuk melihat, apa yang di pikirkan oleh Martin, mengapa ia tega sekali padaku. Mendiamkan aku selama beberapa hari, hanya karena persoalan spele saja.

“pak Anton, aku boleh minta tolong nggak?” tanyaku lirih

“Ada apa mbak sekar?”

“Ini lho, aku sedang bertengkar dengan Martin, hanya karena aku sudah nggak kuat lagi tinggal satu atap dengan mertua dan iparku. Mereka selalu saja memojokkan dan menyindirku.”

“Lha terus mau nya mbak sekar bagaimana?”

“Ya aku maunya tinggal di rumah orag tua ku sampai Martin datang berlibur di sini, tapi dia malah nggak mau. Dia tahu nggak sih kalau aku tuh tertekan banget di sana. Dia tuh masih cinta nggak sih sama aku? Atau jangan-jangan dia sudah memiliki wanita lain!” seruku

“Jangan berpikir yang aneh-aneh mbak, sebentar tak lihat dulu ya mbak. Nanti mbak sekar bisa telfon saya lagi di jam 7 malam, habis isya,” pinta Pak Anton

Selama menunggu jawaban dari Pak Anton, hatiku masih saja gelisah, dan pikiranku tak menentu. Memikirkan bagaimana Martin, apa yang ia pikirkan dan tentu saja nasib pernikahanku.

Bagiku ini adalah ujian terberat dalam hidupku, berpisah sementara dengan sang Suami, terlebih lagi ada masalah yang belum terselesaikan ada lagi masalah baru yang datang.

Aku bingung apa yang harus kulakukan. Sempat ku berpikir untuk mengakhiri saja usaha yang sudah ku rintis sejak aku masih berpacaran dengan Martin. Namun, jika melihat keadaanku sekarang, dimana harga diriku seperti di injak-injak dan tak di anggap oleh mertua dan iparku sendiri, membuatku semakin ingin menunjukkan kalau aku bukanlah orang yang seperti mereka pikirkan.

Aku semakin penasaran terhadap hasil terawangan dari pak Anton. Sambil menunggu pak Anton yang akan memberikan jawaban, aku mencoba menguatk-utik layar ponselku. Mungkin saja suamiku, Martin akan memberi kabar padaku, entah itu hanya sekedar kata rindu, atau omelan seperti layaknya seorang anak kecil yang merajuk.

Bab 3

Berulang kali aku mengutak-atik layar ponsel dan mengintip pesan, masih belum ada tanda-tanda suamiku mengirimkan pesan untukku. Aku hampir saja gila, membayangkan bahwa suamiku sudah tidak cinta padaku lagi. Aku semakin sedih, dan tak nafus untuk makan bahkan tidur sekalipun.

Menunggu waktu hingga jam 7 malam itu terasa sangat lama, dan membuatku tak waras. Meleleh lah air mataku ini. Sudah ku tahan dari beberapa hari yang lalu, tapi sekarang sudah tak tertahankan. Aku menangis sejadi-jadinya di ruangan kantorku.

Pekerjaanku pun terbengkalai, lantaran aku terus saja memikirkan nasib suamiku yang tak kunjung memberikan kabar untukku. Apakah dia masih marah, atau ada marabahaya yang sedang ia hadapi.

Pukul 4 sore, yang biasanya aku masih enggan untuk pulang dan memilih untuk melayani customer ku dan menyiapkan segala jenis orderan dari pesanan transportasi online, kali ini aku memilih untuk pulang lebih awal.

“Lho Mba, kok kamu pulangnya cepet?” tanya Mama

“Iya tadi lagi banyak pelanggan, Alhamdulillah, jadinya sudah sold out,” jawabku berbohong kepada mama

“Terus itu mata kamu sembab, kenapa? Kamu habis berantem sama Martin?” tanya Mama

AKu tidak berani mengatakan mengenai masalah rumah tanggaku kepada orang tuaku, aku takut akan menjadi pikiran bagi mereka. Terlebih dari awal, mama sudah mengingatkan aku bahwa Martin bukanlah pria yang baik.

“Nggak tadi kelilipan aja, terus aku kucek-kucek gitu mata aku, jadinya nangis deh, perih banget soalnya,” jawabku berbohong lagi pada mama.

“Hmmm … yaudah, kalau ada masalah, kamu cerita aja sama mama, siapa tahu dengan kamu cerita sama mama, bisa mengurangi beban kamu,” bujuk Mama

“Iya Ma, udah ya aku mau mandi dulu, gerah banget abis dari jalanan yang berdebu,” kilahku.

Aku yakin, sebenarnya mama pasti penasaran, apa yang sebenarnya terjadi padaku.

Waktu sudah menunjukkan pukul 7 malam, tandanya, Pak Anton sudah bisa aku hubungi dan aku juga sudah bisa menanyakan perihal hasil terawangannya.

“Assalammu’alaikum,” sapaku melaui sambungan telfon

“Wa’alaikum salam, gimana Mbak Sekar?” tanya Pak Anton

“Ya nih pak,saya jadi nggak mood ngapa-ngapain, perasaannya jadi gelisah begitu,” ungkapku.

“Sebenarnya Mas Martin masih sayang kok sama Mbak Sekar, hanya saja, Mas Martin ini terlalu bnak di pengaruhi oleh keputusan ibunya istilahnya Ibunya terlalu banyak ikut campur gitu lah, Mbak sekar,” papar Mas Anton

“Terus kenapa dia masih belum mau telfon atau sekedar kirim pesan teks, apakah dia masih marah sama aku? Soalnya nomor ponselnya masih belum aktif!” ucapku sambil menahan tangis

“Oh kalau itu, Mas Martin sedang ada tugas di pelosok sih Mbak Sekar, kalau yang saya lihat ya. Jadi ini asli karena pekerjaan, bukan karena Mas Martin marah besar sekali sama Mbak Sekar. Mbak Sekar sabar saja nunggu kabar dari Mas Martin,” usul Pak Anton

Mendengar hasil terawangan Pak Anton setidaknya membuat hatiku menjadi lega sedikit. Setidaknya aku masih bisa tidur, untuk malam ini. AKu mengucapkan terima kasih kepada Pak Anton, yang sudah membantuku.

“Terima kasih banyak ya Pak Anton, udah bantuin nerawangi,” ucapku

“Iya Mbak, sama-sama. Oiya Mbak, sebelumnya saya nggak bisa lama-lama telefon sama mbaknya,” tutur Pak Anton

“Lho memangnya kenapa,Pak?” tanyaku

“Ini lagi mau bantuin istri saya, beresin rumah, kemarin waktu mbak coba hubungi saya kan nggak bisa toh, itu karena rumah saya sedang mengalami musibah kebanjiran,” tutur Pak Anton

“Ya Allah Pak, coba kirim nomor rekening bapak melalui pesan tertulis ya pak,” pintaku

“Iya Mbak sekar, terima kasih.”

Pembicaraanku dengan Pak Anton hanya berlangsung hingga 2 jam lamanya, dna ini rekor tercepat aku menghubungi Pak Anton. Biasanya kalau aku menghubungi Pak Anton, bisa sampai 5 jam lamanya.

Tapi kali ini aku tidak bisa berlama-lama. Aku juga harus memikirkan nasibnya yang tertimpa musibah. Aku sudah biasa memberikan uang kepada Pak Anton dengan mengirimkan uang dengan jumlah tertentu.

Bagiku itu tidak masalah dengan mengirimkan sejumlah uang kepada Pak Anton, sebab ia selalu membantuku dalam menerawang segala permasalahan yang sedang aku hadapi.

Kali ini aku mentransfer uang sejumlah 5 juta. Dan buatku degan mentransfer uang dengan jumlah itu, seperti sedang beramal saja. Aku hanya berharap agar usahaku lancer dan selalu banyak pembelinya.

Tak hanya sekali ini saja aku memberikan uang kepada Pak Anton, sejak aku mengenal Pak Anton, sudah 5x aku memberikan uang dengan jumlah yang tak sedikit. Terkadang dia yang meminta, dan terkadang juga aku yang sengaja memberikannya.

Kali ini Pak Anton dengan sedikit malu-malu meminta padaku uang dengan jumlah yang tak sedikit, yakni 5 juta. Alasannya adalah karena, untuk membayar uang sekolah anaknya yang ingin masuk sekolah Lanjutan Tingkat Pertama, dan membantunya dalam mengatasi musibah kebanjiran.

Usai mengirimkan uang kepada Pak Anton, aku memutuskan untuk keluar kamar, untuk makan malam. KU buka pintu kamarku, ternyata masih ada mama yang sedang asyik menonton tivi bersama dengan adik bungsuku.

“Eh mama, kirain udah tidur,” sapa ku

“Belum nih, masih ingin menonton,” jawab mama singkat

“Mama masak apa?” tanyaku

“Itu masak balado ati ampela sama tumis taoge,”jawab Mama

“Yaudah aku mau makan ah,” ucapku sambil melangkahkan kaki meuju ruang makan.

“Kamu kenapa sama Martin?” tanya Mama

“Nggak kenapa-napa kok,”jawabku dnegan santai

“Sekilas tadi mama dengar, kamu lagi tanya sama siapa tuh soal Martin?” tanya Mama.

“Oh itu, Pak Anton,” jawabku santai

“Pak Anton siapa?”

“Pak Anton yang dikenalin sama Bi’Inah, yang katanya bisa nerawang gitu lho Ma,” jawabku sambil mengunyah makanan.

“Kamu tuh lho ngapain sih nanya-nanya begitu, udah yakin saja sama takdir dari Gusti Allah. Toh kalo memang tidak berjodoh dengan Martin, masih ada banyak cowok lain yang satu agama juga, nggak usah takut lah!” Mama menasihatiku dengan logat jawanya yang kental.

Aku tidak bisa membalas perkataan mama karena, Martin adalah pilihanku sendiri, aku yang memaksa agar terjadinya pernikahan ini, serta aku juga yang memaksa kedua orangtua ku untuk menerima Martin sebagai Menantunya.

“Tapi … kayaknya kamu sudah jatuh cinta dengan Martin, yam au nggak mau, kamu harus menerima sifat dan sikapnya. Tapi jangan serta merta menerima dengan mentah-mentah ya Nduk. Kalau dia ada berbuat kasar sama kamu, kamu harus bisa melawannya, jangan mau kamu diinjak harga diri sebagai seorang istri.” Mama melanjutkan nasihatnya

“Sudah jangan terlalu di pikirkan, lebih baik kamu berdoa pada Tuhan, minta semoga rumah tanggamu selalu di berkahi dan di lindungi.”

“Iya …” jawabku seadanya.

“Oiya, memangnya kamu nggak apa-apa, kalau kamu tinggal di sini lagi? Bukannya Martin menginginkan kamu tinggal bersama mereka? Nanti kamu tinggal di sini malah jadi masalah,” ucap Mama

“Nggak kok ma, aku sudah minta izin sama Martin untuk tinggal di sini, aku di sana kurang cocok dengan masakannya.” Lagi-lagi aku berbohong pada Mama mengenai kepindahanku.

Aku hanya tak ingin membebani pikiran mama, jika aku mengatakan yang sejujurnya kalau aku tidak betah tinggal di sana, lantaran omonngan pedas dari mertua dan iparku.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab

Sekar

Bab 2
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED