Bab 2

“Kamu tahu sendiri pekerjaanku hanya sebagai buruh bangunan. Aku hanya menerima gaji harian sebesar seratus tiga puluh ribu saja."

"Di sakumu hanya sisa lima belas ribu saja? Cih!” hina Yuliana setelah ia mendapatkan uang tiga puluh ribu dari tas yang dibawa oleh Harry.

“Aku sudah membelikan makanan untuk anak kita, sisanya hanya lima belas ribu untuk ongkos aku pergi kerja besok," jelas Harry sambil memperlihatkan sebuah kantong berisi makanan.

"Seratus ribu sehari kau kira cukup untuk kebutuhan sehari-hari hah?" Yuliana sangat kesal. Ia mengepalkan tangannya dan melempar uang lima belas ribu itu ke wajah Harry. Yuliana kemudian mengambil paksa bungkusan makanan yang dipegang Harry dan membuang ke lantai.

Plak!

"Kamu …." Harry sangat kesal melihat perlakuan Yuliana yang ia anggap sangat keterlaluan. Untuk pertama kalinya selama pernikahan, Harry mendaratkan tamparan ke pipi Yuliana.

"Tampar! Ayo tampar lagi!" ucap Yuliana menantang Harry sambil memegang pipinya yang perih karena tamparan Harry.

“Ma-maaf, aku khilaf, Yul,” ucap Harry menyesal.

“Maaf? Kamu pikir dengan maaf, kita bisa kaya? Dengan maaf, kamu bisa membalikan semua keadaan? Aku menyesal menikah dengan pria miskin sepertimu!” teriak Yuliana tambah menghina Harry.

“Yul, jangan berbicara seperti itu. Aku mohon,” ujar Harry memohon ampun. Ia menyadari kesalahannya yang tidak terlalu berpendidikan sehingga ia hanya bisa menjadi buruh bangunan saja.

“Brengsek! Pria tidak berguna. Pria miskin. Seratus ribu yang kamu berikan itu kurang, bahkan tidak cukup untukku,” ucap Yuliana semakin menghina Harry.

"Cukup! Kau bilang seratus ribu kurang? Tiap hari aku pulang hanya dengan nasi dan sepotong dua potong tempe atau tahu dengan uang belanja seratus ribu.” Emosi Harry seketika naik. Ia mulai kehabisan kesabaran menghadapi istrinya itu. “Bahkan sekarang kamu melempar makanan yang akan kuberikan untuk anak kita, aku bahkan berpura-pura tidak tahu mengenai perbuatan-mu yang selalu bersenang-senang dengan teman-teman mu itu hah!" bentak Harry yang terbawa emosi.

"Jadi begitu?" Yuliana berkacak pinggang. "Aku malu dengan semua temanku, hidup mereka enak tanpa kekurangan apapun, pakaian mereka bagus, bisa makan dimanapun bahkan makanan mewah. Aku mau semua itu! Aku benci jadi orang miskin! Aku benci saat aku malu bertemu temanku dan menanyakan pekerjaan suamiku! Aku malu menjadi istrimu!” ucap Yuliana meluapkan segala rasa malunya selama ini.

“Dari mana kamu tahu bahwa mereka hidup dengan enak seperti itu?” lirih Harry.

“Aku melihat semua itu di status ponsel mereka. Mereka sangat bahagia dengan keluarga mereka, tidak sepertiku. Lusuh dan kumuh.” Yuliana menitikkan air matanya. Di dalam hatinya, ia sangat menyesal menikah dengan Harry yang saat itu menikahinya atas dasar cinta saja bukan atas dasar materi. Ia terlalu lugu menomorsatukan cinta di atas segalanya. Saat realita di depan mata, cinta bukanlah sesuatu yang bisa membahagiakannya terutama tanpa materi.

“Apakah karena semua itu sampai kamu tega menelantarkan anak kita sendiri," tanya Harry pelan. Ia sudah meredakan emosinya terhadap Yuliana. Ia pun merasa bersalah tidak bisa memberikan materi yang cukup untuk istrinya. Janjinya saat pernikahan untuk membahagiakan istrinya selamanya menjadi omong kosong belaka.

"Berisik! Aku ingin kita cerai!" teriak Yuliana sekuat tenaga. Ia mengepal lurus kedua tangannya di samping. Yuliana lalu masuk ke dalam kamar dan keluar membawa sebuah koper besar. Dengan isak tangis, Yuliana meninggalkan rumah itu sementara Harry hanya bisa terdiam menunduk membiarkan Yuliana pergi begitu saja.

Bruuak!

Suara pintu dibanting begitu keras.

Harry menangkupkan tangan di wajahnya, ia mengusap-usap rambutnya dan kemudian memukul dinding, merasa kesal karena Yuliana yang keras kepala selalu mementingkan dirinya sendiri. Seringkali Yuliana bepergian setelah ribut dengan dirinya, dan lalu kembali lagi kerumah setelah beberapa hari.

Kriiiiiet….

Suara pintu terbuka terlihat David keluar dari kamarnya mengambil kantong kresek yang sedikit robek terlantar di lantai, David melihat kantong plastik di lantai dengan nasi yang berhamburan.

"Ibu kemana Ayah? Kenapa tadi kalian bertengkar? Apa karena David yah?" lirih David dengan polos bertanya.

Harry menatap putra tunggal dan memberikan senyuman. "Kamu sudah makan Nak?" Mengalihkan pertanyaan David.

"Sudah, dan aku menyisakan untuk Ayah juga."

"Ayah mau mandi dulu, kamu buang saja makanan itu, nanti Ayah pergi belikan yang baru." Harry mengelus kepala anaknya sambil berjalan ke belakang berencana mandi terlebih dahulu.

"Lanjutkan belajarmu, Nak! Ayah akan menyusul mengawasimu setelah selesai membersihkan diri," ucap Harry

"Iya Ayah" jawab David penuh dengan semangat mendengar titah dari Ayahnya.

Sementara, "Besok cek itu akan aku cairkan, kali ini aku benar-benar akan meninggalkanmu Harry bersama anak itu, untung saja selama ini masih menyimpan uang yang kau berikan. Tentu saja itu adalah kewajibanmu sebagai suami memberi nafkah kepadaku dan terserah aku mau masak apa untuk kalian…" gerutu Yuliana disepanjang jalan dengan bahagia bercampur kesal karena mulai besok dia akan menjadi kaya raya, belum lagi dengan sisa pembayaran yang akan dilunasi oleh Rita.

"Tapi malam ini aku harus menginap dimana?" Mengingat ia sering terkena marah orang tuanya jika bermalam disana, apalagi dengan situasi seperti ini.

Bab 3

Yuliana mengeluarkan ponsel menghubungi seseorang yang bisa dimintai tolong, semua orang termasuk temannya dihubungi agar dia bisa menginap malam ini di salah satu tempat temannya.

Akan tetapi semua temannya tidak ada yang bisa membantu, alasan demi alasan ada saja dari ucapan teman-teman yang dihubungi Yuliana.

"Maaf Yul, kau tahu sendiri rumahku tidak memiliki kamar kosong untuk kamu tempati."

"Ayolah Rika, kan aku bisa tidur dikamar berdua denganmu." Yuliana merengek kepada temannya.

"Apa kau sudah gila! Suami dan Anakku mau bagaimana? Apalagi Hendra anakku masih bayi dan harus diawasi. Tidak tidak, kau cari penginapan saja!" Rika menutup percakapan secara tiba-tiba.

"Dasar! semuanya sama saja, susah sekali dimintai tolong, apa salahnya Suami dan Anaknya tidur di ruangan tamu untuk semalam." disepanjang jalan Yuliana mengumpat dengan ekspresi wajah kesal.

Yuliana berinisiatif menelpon Rita, Wanita paruh baya yang akan membeli anaknya.

"Nyonya, apa aku bisa meminta sisa uangnya malam ini? Dan aku ingin ketemuan denganmu malam ini, Tolong kamu persiapkan hotel untukku menginap malam ini, kalau tidak perjanjian kita batal!" ancam Yuliana kepada Rita melalui telepon

"Kau sekarang dimana? Apa kau bersama anak itu?"

"Aku tunggu anda di minimarket Indimariet di jalan Yos Sudarso, kita bicarakan ini nanti."

"Baiklah, kau tunggu disana" percakapan berakhir.

Yuliana tersenyum dan bergumam "kira-kira berapa uang yang akan diberikan Nyonya itu kepadaku nanti?" Sambil mengusap kedua telapak tangan.

*****

Di sebuah apartemen Rita yang sedang duduk bersandar di kursi, Ia langsung beranajak berdiri setelah mendapat telepon dari Yulianna. "Siapkan mobil!" Perintah Rita yang duduk dengan santainya.

"...." Pengawal hanya membungkukan badan.

"Tunggu!" Tiba-tiba Rita bersuara.

"Kenapa Nyonya?" Tanya pengawal itu.

"Sepertinya kau butuh sedikit hiburan, bagaimana jika ku tawarkan hal yang menyenangkan untukmu."

"Maaf Nyonya, Saya tidak mengerti maksud anda"

"Bersenang-senanglah nanti di Hotel, dan setelah itu! Kau tau maksudku bukan." Dengusnya dengan menunjukan foto Yuliana.

"Baik Nyonya." pengawal itu sudah paham dengan maksud Rita.

"Dan seperti biasa jangan meninggalkan jejak." Titahnya.

Rita berencana melenyapkan Yuliana karena merasa terhina oleh sikap Yuliana yang dianggap mengancamnya.

"Lama sekali j*lang itu."Yuliana merasa sedikit bosan telah lama menunggu Rita selama empat puluh tujuh menit. Dan kemudian kebosananan itu hilang karena Rita telah tiba di seberang jalan.

Rita yang membuka kaca mobil mengisyaratkan Yuliana agar menghampirinya.

"Masuk!" Perintah Rita ketika Yuli sudah didekatnya.

"Bagaimana apakah kau sudah membawa cek nya?" Tanya Yuliana girang.

"Ini cek sisa pembayaran…" Rita dengan santai memberikan melalui sela jari-jarinya

"Mana anak itu?" Tanya Rita.

"Kau bisa membawanya...dia ada dirumah." Jawab Yuliana dengan senyum lebar melihat cek itu tertulis satu milyar rupiah, membuat Yuliana kalut dan tidak sadar bahwa sebenarnya telah ditipu oleh Rita.

"Jalan…!" Perintah Rita kepada sopir pribadi sekaligus pengawalnya.

Sampailah mereka di Hotel berbintang lima yang megah dan sangat terkenal di kota itu. Rita yang tersenyum berkata

"Ini kunci hotel dan kau bisa langsung masuk." Jelasnya kepada Yuli sekaligus memberikan KeyCard.

Tanpa kecurigaan, Yuliana turun dari mobil. Ia bergegas masuk ke dalam Hotel dan segera ingin melihat dan mencari kamar hotel yang telah disewa untuknya. Ia sangat bahagia karena selama ini dirinya tidak pernah merasakan menginap di Hotel apalagi berbintang lima.

Yuliana sangat takjub dengan apa yang dilihatnya. Sungguh sebuah bangunan yang mewah. Melihat bangunan yang megah dan kokoh tersebut membuat dirinya berdesir kagum.

Rita tersenyum kecut memperhatikan Yuliana dan segera meninggalkan Wanita itu. "Kalian berdua silahkan menikmati hidangannya, jangan sampai membuat kecerobohan!" Tegas Rita kepada dua pengawalnya.

Dengan persiapan yang matang, Rita berencana akan naik taksi untuk menjemput David, sedangkan pengawalnya harus memarkirkan mobil mereka tanpa tertangkap kamera CCTV di sekitar.

"Manager Gin! Satu jam lagi CCTV hotel harus kau matikan! khusus untuk koridor kamar nomor 2077 jangan kau hidupkan jika anak buahku melewatinya, untuk arahan selanjutnya kau tunggu anak buahku yang menghubungimu nanti…" Rita berbicara di telepon dan kemudian mematikannya.

Jelas saja Rita ingin melenyapkan Yuliana tanpa meninggalkan jejak sedikitpun.

"Turunkan Aku disini! Dan kau Hon berhentikan satu taksi untukku!" Rita berbicara kepada salah satu pengawalnya.

"Nyonya tidak masalah bepergian ke rumah itu sendirian?" Tanya pengawalnya.

"Tidak masalah, biar aku urus untuk urusan begini. Kalian nanti akan aku hubungi setelah aku membereskan anak itu." Jawab Rita

"Dan segera pesankan tiket pesawat untuk mengantarkan anak itu...klien sudah menyewa orang untuk membawa anak itu besok" Rita melanjutkan pembicaraannya.

*****

"Sampai kapan kamu terus begini ...?" lirih Harry merasa sedih mengingat istrinya.

Harry berjalan sembari mengeringkan rambutnya dengan sehelai handuk kecil. Ia melihat meja makan hanya bersisa tempe dengan potongan kecil. Dirinya hanya dapat menghelakan nafas atas tingkah laku istrinya. Rasa heran selalu muncul acap kali melihat putranya harus makan dengan lauk yang tak layak dengan uang seratus ribu yang setiap hari ia berikan.

Seorang Ayah yang memandangi Anaknya selalu tidak pernah mengeluh, walaupun terkadang sedikit cengeng. Harry hanya bisa tersenyum kecil ketika melihat kepolosan anak satu-satunya itu.

"Anak Ayah sedang belajar apa?" Tanya Harry sambil mencium pipi putranya.

"Ini Yah, Matematika…."

"Coba Ayah lihat." Harry memperhatikan buku tulis milik anak kesayangannya.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED