Bab 2

Bab 02. Kecurangan

“Astaga, wanita seperti apa dia, sehingga suamiku mengeluarkan uang sebanyak ini  untuknya!” gumamnya tak percaya, sembari menatap total dari note tersebut.

Uang yang dihabiskan suaminya memang tidaklah main-main jumlahnya, membuat Raquel kembali dibuat geram atas tindakan sang suami yang menghamburkan uang untuk wanita lain. Dia lalu duduk sembari bersilang kaki menantikannya keluar dari kamar mandi.

Beberapa kali Raquel menggigit jari kukunya, dengan ekspresi siap mengeluarkan taring pada tindakan suaminya yang menghabiskan uang sebanyak itu.

Tidak lama pintu kamar mandi itupun terbuka dengan pelan, tatapan Raquel langsung menajam, tanganya masih menggenggam bukti transaksi hotel dan siap melempar kertas kecil itu.

Tanpa tahu kecurigaan sang istri, dia justru bertanya dengan lembut layaknya suami idaman.“Sayang, apa kamu masih belum tidur?”

Kata-kata manis yang keluar dari mulutnya terdengar sangat romantis. Akan tetapi tersimpan penuh kepalsuan. Setelah mengetahui kecurangan yang dilakukan suaminya membuat Raquel merasa jijik. Bahkan melihat dia bernafas pun terlihat sampah yang tidak bisa didaur ulang kembali.

Setelah mendengar perhatian kecil yang terdengar omong kosong. Raquel membulatkan kedua bola matanya dan  tidak mengindahkan ucapan yang keluar dari mulut sang suami. Justru sebaliknya Raquel melempar beberapa kertas kecil itu sambil berteriak lantang. “Maksud kamu apa? Menghabiskan uang sebanyak ini, Gege!”

Dia langsung memberi pertanyaan beruntun pada suaminya yang baru saja selesai mandi. Jelas wajah bahagia miliknya seketika meredup saat mendengar bentakan serta pertanyaan sang istri.

Ia cukup takut saat Raquel menemukan jejak dirinya yang sedang bermain dengan  wanita lain.

“Bagaimana dia bisa menemukan nota ini?” gumamnya bertanya dalam hati. Sehingga teriakan Raquel masih tak terdengar. Sebab, lamunan hampir menelan dirinya.

“Jawab aku? Apa sekarang kau ingin berniat curang?!” pekiknya kembali lantang.

Nada yang cukup keras membuatnya langsung tersentak kaget, ia berusaha memikirkan kata-kata indah untuk mengalihkan setiap pertanyaan istrinya.

“Itu bukan milikku, Raquel. Melainkan milik Ashura, teman kantorku,” jelasnya penuh kebohongan. Mata itu mulai mengembun, seolah-olah aktingnya cukup terlihat natural.

Sayangnya, Raquel masih tak percaya atas semua ucapan yang keluar dari bibir manisnya. Wanita itu kembali memperbaiki posisi duduknya, sedangkan suaminya terlihat berlutut, ia bersungguh-sungguh membuktikan diri bahwa bukti transaksi yang berserakan di lantai bukanlah miliknya.

“Kau yakin aku percaya?” Namun, Raquel justru bertanya dengan sinis padanya. Membuat suaminya beberapa kali menelan silvanya menatap netra Raquel yang terlihat marah. 

Mendengar hal tersebut membuatnya cukup gugup atas pertanyaan sang istri. Ia berusaha mencari berbagai alasan agar Raquel mempercayai dirinya. “Ak-aku bersumpah,” ucapnya sedikit gugup.

Sumpah yang diucapkan terdengar penuh kebohongan tentu saja membuat Raquel tertawa menatapnya kembali dengan tajam. Sarat wajah Raquel memerah ketika mendengar Gege bersumpah, padahal jelas bukti ketika ia bermain curang terlihat di depan matanya. 

“Berani sekali kamu bersumpah, sementara beberapa note tersebut jelas ada namamu!” pekiknya lantang sembari  mengambil kembali note yang dilempar Raquel padanya.

Wajah Gege seketika pucat ia tak lagi berkelit dan menunjukkan tabiat aslinya. Dengan cepat suami yang penuh perhatian tersebut seketika berubah kejam tidak memiliki perasaan. Dia dengan kasar menelisik rambutnya lalu berkacak pinggang sambil menyeringai. 

“Hah, kalau memang iya. Apa yang ingin kamu lakukan? Mau menggugat cerai dariku?” balasnya terdengar mengancam.

“Aku tidak takut!” Raquel menjawab dengan penuh tantangan. 

Balasan dari Raquel cukup membuat Gege terlihat gusar dan panik, tentu saja membuat dirinya merasa takut akan berpisah dengan wanita yang terlihat seperti tembok besi itu. Susah paya ia menahan Raquel untuk menikahinya, dan ketika membalas ingin bercerai membuat wajahnya naik pitam. 

Karena jika bercerai dari Raquel. Wanita tersebut tidak lagi menjadi bagian dari koleksinya. 

“Jangan harap kamu bisa bercerai, aku memiliki wanita lain hanya untuk sebuah pengganti, agar dia bisa melahirkan anak untuk kita, tanpa harus merusak  tubuhmu!” cetusnya mendekati Raquel. 

“Dasar pria gila. Jadi selama ini kau hanya menggapku sebagai koleksi yang masih bernilai. Kau benar-benar pria sampah yang tidak memiliki hati?!!” bentaknya. 

Kata-kata Gege sungguh diluar batas. Ketika memberitahukan alasan mengapa ia berselingkuh. Pria itu lebih lera mencari rahim penganti hanya untuk mempertahankan tubuh Raquel agar tetap indah, membuatnya seperti pria rendahan yang tidak memiliki perasaan. 

Sekuat tenaga Raquel memberontak ketika tangan besar itu mencengkeramnya kasar. 

“Haha. Gila? Kau pikir semua ini bukan tanpa sebab. Raquel Brons wanita yang selalu dipuji akan kecantikannya, selalu menjadi istri primadona bagi serigala lapar. Tentu saja membuatku puas, karena tubuh cantik ini hanya aku yang memilikinya!” tukasnya menyeringai menatap cabul Raquel. 

“Kau benar-benar sakit jiwa, Gege! Aku bahkan tidak memintamu melakukan ini, apa kau pikir setelah semua yang kau rencanakan. Kau berharap aku akan menerima anak itu!” bentaknya menghardiknya emosi.

“Ssst … suka atau tidak suka, anak itu akan menjadi anak kita,” ucapnya tak tahu malu. Sehingga membuat Raquel takut akan obsesi mengerikan dari suaminya. 

Lima tahun hidup bersama tanpa cinta. Namun, Raquel cukup setia dengan pernikahan tersebut. Meski pernikahan keduanya berdasarkan wasiat ayahnya sendiri.

Walaupun Gege sering kali menolak melihat dirinya hamil. Meski begitu Ia masih berpikir jika suatu saat nanti pikirannya akan berubah. Tetapi ketika ia sudah mengetahui pemikiran Gege tentang dirinya, sungguh membuatnya takut. 

“Aku tidak sudi?!” jawabnya dengan netra menajam. 

Mata Raquel kala menatapnya dengan penuh penghinaan. Seolah rasa benci meluap di udara yang dingin. Akan tetapi, pria itu  tak mengindahkan ucapannya dan langsung menyingkap gaun tidur yang dikenakan Raquel lalu menancapkan pusaka miliknya dengan keras.

Sontak membuatnya menjerit sakit, sekujur tubuh miliknya terasa panas. Seolah pakuk kecil menusuk setiap inci tubuhnya, tanpa belaian apapun membuat daerah sensitifnya berdenyut. “Lepaskan, ini sakit!” jeritnya memberontak berusaha mendorongnya. 

Dia memohon agar rasa sakit ketika bersetubuh dengan Gege berhenti menyakitkan. Sayangnya ia tak mendengar permohonan Raquel yang menitikan air mata. Justru sebaliknya dengan membabi buta ia menghentakan pinggulnya keras. 

Keesokan harinya wajah Raquel terlihat pucat. Sebab, perih di bawah sana masih terasa menyiksa. Ini bukan pertama kali ia mengalami iritasi ketika melakukan hal intim bersama Gege. Namun, terlalu menyakitkan bagi Raquel yang tak bisa menerima sentuhan Gege, karena ia masih terbayang dengan wanita yang telah menyentuh suaminya. 

Sementara Gege terlihat bersemangat sembari bersiul. Dia bahkan tak memperhatikan istrinya yang meringkuk dibawah selimut tebal sembari menahan sakit.

“Mulai sekarang, tutup matamu dan gunakan telingamu saja. Ini semua demi kebaikan kita bersama,” ucapnya membisikkan hal tersebut pada Raquel. 

Wanita itu hanya menahan tangis. Kedua tangannya mengepal penuh dendam. Amarah yang tak tersalurkan terasa sesak menyiksa batin yang semula terkoyak oleh suatu pengkhianatan. 

Rasanya dunia Raquel terlihat gelap. Saat tahu sang suami bermain dengan wanita lain, sangat menjijikan ketika milik suaminya menjelajahi milik orang lain memikirkannya saja sudah membuatnya mual. 

Gege pun berangkat kerja seperti biasa dengan wajah bahagia, seolah-olah yang terjadi malam itu hanyalah sebuah ilusi. 

Tubuh yang telah ditandai, cukup membuat Raquel merasa kotor dan terhina. Darahnya terasa mendidih di atas ubun-ubunnya. Dia berniat melaporkan hal tersebut pada petugas hukum. Namun, tersisa hanyalah sebuah keraguan. 

Tidak ada yang mampu ia lakukan. Sebab, hukum tidak akan pernah membiarkan dirinya untuk melanjutkan kasus tersebut, karena tindakan tersebut seperti tidak ada unsur pemaksaan. Ia akhirnya menyerah dan meraih ponsel miliknya berniat menghubungi akun anonim yang pernah memberinya lokasi hotel tempat suaminya tuju.

‘Apa kau bisa membantuku?’ tulisnya bertanya dan mengirimnya.

Tidak butuh waktu lama, pesan yang dikirim langsung mendapat balasan dari orang asing itu. 

‘Tentu saja aku bisa membantumu. Asal, ada harga,’ balasnya sangat cepat. 

Melihat balasan dari akun anonim membuat dahinya mengernyit penasaran tentang harga apa yang dimaksud oleh orang itu.

.

‘Harga …  apa yang kau inginkan?’

Bab 3

Bab 03. Rencana Awal

‘Harga …  apa yang kau inginkan?’

Setelah mengirim pesan tersebut, ia meraih handuk putih yang berserakan di lantai, lalu memakainya. Tidak lama notifikasi ponsel kembali berdering.

Dia menatap pesan yang masuk, terlihat foto suaminya baru saja berhenti di sebuah gang kecil sambil mengecup kening wanita lain. Tampak dibalik senyum manis foto itu terlihat menyakitkan bagi Raquel.

Orang asing yang memiliki akun anonim tadi tidak menjawab pertanyaan darinya. Ia malah mengirim foto suaminya yang sedang bersama dengan wanita.

‘Apa kau tidak ingin menentukan harga yang kau minta?’ tulisnya bertanya hal serupa. 

‘Apa saat ini kau berfikir aku menginginkan uang? Haha, tentu saja tidak. Aku akan menagih harga dari setiap informasi yang aku berikan padamu, setelah kau berhasil bercerai,’ balasanya. 

Raquel membaca semua yang tertulis di ponsel dan tidak lagi membalas apapun, ia justru mengernyit heran atas apa yang diinginkan orang tersebut darinya. 

Suara ketukan pintu membuat ia tersentak kaget, “Nyonya, ada seorang wanita muda yang ingin bertemu dengan anda,” ucap pelayan rumah.

Dengan cepat ia menjawab, “iya, bilang saja pada wanita itu, aku akan segera keluar,” balasnya dengan suara sedikit serak.

“Baik Nyonya.”

Raquel yang tak sadar masih berdiri didepan cermin menatap dirinya terlihat berantakan. Setiap inci tubuhnya masih tergambar jejak suaminya, membuat malam buruk yang ia habiskan seperti racun yang siap menghancurkan pikiranya.

Dia dengan emosi melempar sisir kayu yang ada di depannya. Sisir mahal itu menghancurkan cermin rias tersebut. Netra Raquel kala menatap dirinya di cermin sangat membuatnya jijik. Sebab, tubuhnya penuh dengan tanda merah yang terlihat menjijikan.

Setelah membersihkan diri Raquel bersiap untuk keluar menemui tamunya. Terlihat Jena sahabatnya duduk sambil menyeruput teh yang telah tersaji untuknya. Melihat sahabatnya turun dengan wajah cukup berantakan Jena bergegas menghampirinya dengan penuh tanda tanya. 

“Raquel, ada apa dengan tubuhmu?”

“Apa dia menyakitimu?” pertanyaan beruntun terus mengitari isi kepala Raquel,  rasa lelah dan sakit masih terasa menyiksa. 

Raquel menghela nafas, tampaknya dia tak ingin membahas apapun. Sehingga Jena tak lagi bertanya. Susana terasa dingin. Sebab, keduanya hanya duduk sembari diam membisu.

Beberapa kali Jena melirik wajah Raquel yang terlihat suram. Tak ada senyuman dibalik wajahnya yang cantik. Membuat dia sangat khawatir padanya. 

“Aku mau kamu cerita, jangan memendam sendiri, Raquel,” ujarnya lirih.

Tak terasa air mata Raquel mengembun saat Jena menawarkan diri sebagai sandaran. Perasaannya jelas hancur meskipun pernikahan keduanya tak memiliki cinta. Dia cukup bingung kenapa ia bisa sehancur itu sementara dia tidak pernah mencintai suaminya.

“Aku tidak pernah serakah, Jena. Memiliki pernikahan sempurna meskipun tidak ada cinta di dalamnya, aku masih bisa terlihat baik-baik saja, lalu kenapa dia menghianatiku jika memang dia sudah bosan pada pernikahan ini.” 

Bibir yang terkatup rapat kembali bersuara, menceritakan kekesalannya atas penghianatan yang dilakukan Gege suaminya.

“Ini bukan salahmu. Raquel, dari awal kamu hanya korban dari sebuah wasiat yang ditinggalkan ayahmu. Jika saat ini kamu menikahi pria yang mencintaimu tanpa memikirkan keuntungan apapun, mungkin saja akan berbeda hasilnya.”

“Tapi kenapa dia melakukan ini padaku, Jena. Jika pada akhirnya akan menduakan aku seperti ini.” Tanpa sadar Raquel berteriak meluapkan hatinya yang hancur.

Jena terdiam, kata-kata dari Raquel memang tak salah. Pernikahan keduanya terjadi karena sebuah balas budi karena ayah Raquel menyelamatkan perusahan milik Gege dari kebangkrutan, dan saat itulah hubungan keduanya terjalin. Sebelum sang ayah meninggal dia menyerahkan anak semata wayangnya pada Gege.

“Terus apa selanjutnya? Apa kamu akan tetap menyaksikan hal ini.” Jena kembali bertanya jalan apa yang akan dipilihnya 

“Aku tidak tau harus apa.”

“Bercerailah, aku akan mencari pengacara terbaik untuk kasusmu.” Solusi terbaik yang saat ini Jena pikirkan membuat Raquel terkejut.

“Tidak bisa, proses percerain tidak akan mudah bagiku. Lagi pula pengadilan tidak akan mengesahkan gugatan perceraian sepihak. Sebab, hukum tidak membiarkan istri menggugat suaminya, sebelum suaminya sendiri yang menggugat istrinya.” Jelasnya pada Jena.

Mendengar peraturan konyol tersebut lantas membuat Jena ikut dilema atas perhara yang melanda hati sahabatnya.

“Dasar konyol, bagaimana bisa peraturan itu disahkan begitu saja. Ohh, baiklah … apa selanjutnya?”

“Aku akan melakukan apa yang dia lakukan,” ucapnya memikirkan sebuah ide.

“Maksudnya, kamu ingin mencari pria lain?” 

Jena kembali mengernyit atas rencana yang dipikirkan sahabatnya itu. Sementara Raquel sendiri langsung mengangguk.

“Kalau tidak bisa menggugat cerai padanya. Aku ingin dia menggugat lebih dulu, dengan cara berselingkuh,” ujarnya serius.

Rencana yang diusulkan terdengar buruk. Namun, bisa dipastikan bahwa rencana tersebut benar-benar baik untuk dilakukan.

“Kamu yakin akan melakukan ini?” tanya Jena memastikan keputusan Raquel. Sebab, ia mungkin saja dicap sebagai istri yang tak setia.

Raquel mengangguk tanpa keraguan apapun atas keputusan yang akan ia lakukan.

“Aku yakin seratus persen, rencana ini pasti akan berhasil.”

“Baiklah aku percaya. Kita mulai dari sekarang, aku akan mencarikan seorang pria yang bersedia melakukan hal ini bersamamu, Raquel,” ucapnya tersenyum mengelus punggung tangan sahabatnya.

Malam minggu menjelang, terlihat Raquel mempersiapkan diri untuk mengikuti saran Jena. Kembali notifikasi ponselnya berbunyi. Seperti biasa sang suami tak pulang malam ini dengan alasan lembur.

Melihat pesan tersebut, hanya membuat sarat wajah Raquel terlihat suram. Dia berusaha untuk tidak memperdulikan kemana pergi suaminya.

Lalu netra biru itu kembali menatap cermin, dia pun mulai merias dirinya dengan cantik. Memilih dres yang elegan dan seksi. Cincin yang melingkar di jari manisnya ia lepas dan menyimpanya di laci.

Setelah selesai merias diri. Raquel pun turun, dan menghampiri mobil yang telah dipersiapkan Jena padanya. Tidak butuh satu jam, dia pun sampai di sebuah hotel mewah yang pernah ia tuju. 

Sedikit terkejut. Sebab, pertemuan keduanya bukankah di club malam yang katanya terkenal, lalu mengapa lokasinya berada di hotel. Pertanyaan tersebut cukup mengganggu pikirannya.

Akan tetapi, semua terlihat jelas, saat Jena baru saja keluar dari hotel. “Sorry beby, kamu menunggu lama,” ujarnya tersenyum tipis.

Raquel membalas senyuman itu dan mengatakan. “Apa ini tempatnya?”

“Tentu saja, memang kamu memikirkan tempat apa?” goda Jena tersenyum sambil mengedipkan satu matanya.

“Tapi ini….”

Ucapannya justru terpotong saat Jena menarik tangan Raquel  untuk segera masuk kedalam. “Ah, ayo. Jangan terlalu berpikir banyak. Kita kesini ‘kan bersenang-senang.”

Hotel mewah itu tidak hanya memiliki kamar suite room yang luas. Melainkan juga memiliki fasilitas lengkap seperti club malam yang terkenal di seluruh Asia. Mata Raquel terlihat takjub melihat seluruh area hotel.

Meskipun ini kedua kalinya ia menginjakkan kaki. Namun, saat itu ia terlalu terburu-buru untuk melihat lokasi hotel tersebut. Sebab itulah, Raquel dibuat takjub melihat keindahan hotel di depannya.

Setelah menikah dengan Gege, Raquel tidak pernah memiliki waktu untuk menghibur dirinya. Sebagian waktunya ia habiskan untuk membuat perusahan penerbit dari hasil yang pernah ia peroleh dari rumah. Tidak akan sebanding dengan harga yang akan ia habiskan satu malam untuk menginap di hotel mewah ini.

Walaupun begitu, entah mengapa suaminya sangat loyal pada wanita lain. Hotel mewah yang ia pijaki dua kali, hanya dikunjungi suaminya setiap hari bersama dengan wanita yang bukan dirinya.

Sementara itu terlihat tiga pemuda yang sedang mengamati keduanya dari kejauhan. 

“Jo, lihat dua wanita itu. Bukankah mereka berdua sangat cantik,” ucapnya tersenyum tipis menatap Raquel dan Jena.

“Haha, mulai lagi otak sangenya si Jo. Hey, bagaimana denganmu Aries?” 

“Apanya?”

“Jangan lihat ponsel terus. Lihatlah wanita cantik yang memiliki rambut hitam itu,” ujarnya memaksa sohibnya menoleh.

“Astaga, wanita itukan,” ucapnya tersentak kaget melihat Raquel.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED