Bab 2

"Mister..." Perawat menepuk pundak Steven.

Sedangkan pikiran Steven pada dua tahun silam.

“Lyn, aku berjanji apa pun yang terjadi kelak, aku tak akan meninggalkanmu,” janji Steven sambil merengkuh wanita yang baru dinikahi.

Sedangkan Lyn, dengan mesra melabuhkan satu ciuman di pipi Steven. Lyn sangat paham, lelaki yang dinikahinya ini bukan hanya untuk dirinya saja. Akan tetapi ia menerima itu karena sudah terlanjur mencintai dan terlebih lagi sudah ternodai. Sementara Steven menikahi Lyn karena besarnya nafsu yang tak bisa dikendalikan. Walaupun pada awalnya hanya ingin hubungan one night stand. Namun, setelahnya, Lyn terus mengejar ke mana pun Steven berada. Juga besarnya pengorbanan Lyn yang membuat lelaki ini menikahinya.

Posisi Lyn sebagai anak yatim piatu membuatnya tak banyak tuntutan dari keluarga. Sehingga Lyn tak dapat nasehat atau pun dukungan. Namun, setelah sebulan menikah Lyn baru merasakan rasa bersalah pada dirinya. Ia pun mulai meratapi kalau dirinya adalah wanita yang kurang beruntung dengan memutuskan memilih Steven. Padahal selain cantik, Lyn adalah seorang pet breeder terkenal di kotanya.

Pertemuannya di sebuah exhibition pencinta puppy membuat Lyn tak pernah melupakan senyuman dan tatapan mata biru Steven. “Hi,” ucap Steven pada Lyn yang sedang terpaku berdiri tepat di depannya. Agak kelagapan dan malu-malu Lyn menjawabnya, “He-hey!”

“Namumu Lyn Lyana ‘kan?” tanya Steven sambil menunjuk pada name tag yang terpasang pada bajunya sebalah kanannya. Lyn tersenyum, lalu mengulurkan tangannya & disambut sumringah oleh Steven, “Aku, Steven Alessio!”

Steven mulai melancarkan aksinya. “Puppy milikmu begitu energetic dan lucu, sudah lama kamu memeliharanya?” tutur Steven pura-pura mengerti tentang binatang. Padahal dia hanya sedang iseng mengitari lokasi. Sesungguhnya dialah kontraktor seluruh tempat dan menyangka bahwa Lyn adalah staff ‘Pet Shop’ yang sedang menjajakan hewan andalannya.

”Aku bukan hanya memelihara ini saja,” jelas  Lyn sambil mengusap Border Collie. Dia pun menunjuk pada semua hewan peliharaannya, “ Ini, itu dan semua!”

Steven melongo sambil mengerutkan keningnya. “Semua ini milikmu?”

Lyn tersenyum sambil mengangguk. Sedangkan Steven tak beraksi apa pun.

***

Sore harinya, setelah pameran berakhir. Steven kembali menghampiri Lyn yang sedang beres-beres. “Perlu bantuan?” tawar Steven sambil mengangkat kandang-kandang besi yang berisi puppies. Tangannya pun meraih keranjang-keranjang berisi binatang dan memasukan ke dalam minicab.

Setelah semuanya beres, sopir pribadi Lyn mengajak pulang, “Nona, ayo pulang!” sambil bergegas masuk mobil dan menstarternya. Baru saja mulut Lyn mau membuka, Steven menyela, “Pak, biarkan Nona ini saya yang antar…”

Seketika Lyn menoleh pada Steven dan mengerutkan keningnya.

Sementara Steven segera membuka mobilnya, lalu berkata, “Ayo Lyn, aku mau kamu menunjukan kota Fenghuang!”

Mendengar itu Lyn seperti tak ada pilihan, ia  pun segera menyuruh sopirnya untuk pergi, “Pak, pergilah ke workshop, nanti aku menyusul!”

Setelah itu, Lyn segera masuk ke dalam mobil Steven. Kemudian ia pun melajukan mobil BMW i8 dengan penuh percaya diri. Menjadi seorang pembisnis papan atas Steven cukup punya kendali dalam memilih life style agar tetap up to date.

Begitu pula dengan Lyn walapun dirinya hidup sebatangkara, akan tetapi cukup pintar memilih dengan siapa bergaul atau menerima kenalan baru. Lyn memang hanya memilih kalangan atas, karena menurutnya mereka adalah orang yang terdidik juga tidak akan bersikap norak apalagi bergossip. Sedangkan Steven menganggap Lyn hanya sebagai teman sesaat saja dan sepertinya mereka dua sudah salah berpersepsi.

Begitu mereka sampai pedesaan di kota kecil nan indah ini. Steven membuka pembicaraan, “Lyn, kamu tinggal di sini?” tanya Steven sambil menatap muka Lyn yang mulus.

Sebelum menjawab Lyn tersenyum, “Aku dibesarkan di Beijing. Di sini adalah tempat pengembangbiakan hewan peliharaanku!”

Steven memang tidak terlalu menyimak, ia pun memarkirkan mobilnya di sebuah tempat bersejarah ternama di kota ini. Ialah peninggalan dinasti Ming & Qing.

Lyn & Steven berjalan-jalan santai sambil menikmati pemandangan. Diselangi penjelasan dari Lyn akan beberapa tempat kuno. Dalam hitungan jam mereka sudah akrab seperti layaknya sepasang kekasih. Kini, tangan Steven pun sudah menggandeng jemari wanita Pet Breeder ini.

Beberapa saat mereka hening, karena disibukan pengambilan gambar oleh kamera handphone milik masing-masing.

Kemudian Lyn pun kembali berbicara, “Aku di sini tinggal bersama karyawanku, juga aku adalah orang tunggal yang tak memiliki saudara atau orang tua.”

Mendengar pernyataan itu Steven seperti mendapat lottery, inilah yang ia cari-cari. Wanita yang tak memiliki keluarga atau pun saudara. Merupakan akal licik dalam mengelabui wanita dengan kata-kata manis juga memberikan hadiah. Tentunya, setelah menikmati semua miliknya dengan cara yang tak manusiawi.

Steven kembali mengeluarkan jurusnya, “Lyn, kamu bisa temani aku hingga besok pagi? Aku ada meeting dan tidak memiliki teman.” Perkataan Steven yang spontan dan tanpa basa-basi adalah jurus jitu untuk mendapatkan simpati dari seorang gadis polos atau wanita mana pun. Dengan tegas Lyn menjawab, “Okey! Tapi, aku harus pulang dulu untuk mengganti pakaian.”

Seketika hati Steven bersorak. Namun bibirnya menyiratkan senyuman menawan yang membuat Lyn berbunga-bunga.

“Nanti, kita beli di boutique dekat tempat aku menginap, agar tidak terlalu menyita waktu." Ajak Steven dengan lembut.

Lyn menatap kedua pupil biru Steven, “Baiklah!” menandakan persetujuan.

Setelah makan dan berkeliling ke beberapa tempat. Mereka pun akhirnya kembali ke dalam mobil. Mobil pun Steven lajukan dengan cepat, kurang dari satu jam mereka pun sudah sampai di penginapan.

-Yi Hotel-

Lyn berdiri tegap di depan hotel mewah berbintang empat ini sambil tersenyum, 'Mimpi apa aku ini bisa menginap di hotel yang diminati banyak turis lokal dan international? Juga bersama seseorang pria gentlemen ini!' Lyn berbicara dalam senyap.

“Hey, kenapa terpaku di sana Lyn?” ujar Steven sambil menarik lembut lengannya.

Lyn agak terkejut, kemudian dengan segera mengikuti langkah Steven. Sambil meremas halus lengan Lyn, Steven menekan tombol 5 pada lift, adalah tujuan kamarnya. Di dalam lift, kedua mata birunya sudah begitu jeli memperhatikan per senti tubuh mungil Lyn, yang sesekali menelan ludah.

Tring!

Pintu lift pun terbuka, Steven belok kiri dan diikuti oleh Lyn dari belakang. Begitu sampai di kamar nomor 552, Steven mengeluarkan acces card, lalu menempelkannya pada compressor digital pintu.

Pintu terbuka. Namun Lyn masih terpaku di depan pintu. Sadar akan wanita yang baru dikenalnya tadi siang masih berdiri tegak di luar kamar. Steven menoleh, lalu tersenyum, “Hey, what happened ? Don’t you like the room?”

Lyn menjawab, “But…”

Steven mengerutkan kening dan alisnya. Cepat sekali menarik tangan Lyn sambil berucap pelan, “Please come in, kamar ini luas dan lihatlah view dari jendela….”

Dengan sedikit ragu bercampur bahagia Lyn pun masuk kamar. Lalu berjalan ke arah jendela. Tatapannyan ke arah pemandangan yang begitu sempurna. Sedangkan Steven berdiri di belakangnya, “Lyn, kamu suka?” bisiknya tepat di dekat telinga Lyn. Itu, membuat wanita cantik bertubuh mungil ini bergetar. Lalu, tangan Steven sudah melingkar di pinggangnya.

Lyn mulai mengelak serta dengan gesit menepis tangan Steven. Ternyata reaksi Lyn malah menggugah nafsu bejat Steven juga semakin beringas mencengkram Lyn.

Dari sini Lyn baru tersadar bahwa dirinya sedang masuk perangkap lelaki asing dan sudah siap menerkamnya. Dengan cepat Lyn lari menuju ke arah pintu.

Bab 3

Baru saja Lyn hendak meraih gagang pintu, Steven dengan cepat menangkap tubuh Lyn. “Kamu mau ke mana?” tanyanya bernada genit.

“Biarkan aku pulang,” Lyn memelas.

Mendengar itu, Steven membujuk, “Jangan takut, aku akan menjagamu.” Tangan Steven meremas jemari Lyn sambil meraih badannya sangat kencang hingga membuatnya jatuh ke dalam pelukannya.

-Flashback off-

“Tuan, cepat ikut aku!” gertak Nurse yang berdiri di depan pintu.

Dengan malas Steven pun beranjak dari duduknya. Lalu, ke luar dari kamar dan berjalan mengikuti kru ambulans yang sudah pergi terlebih dahulu.

Sesampainya di rumah sakit, suasana menjadi sangat riuh karena polisi sudah berjaga di sana. Ternyata setelah ambulans datang petugas rumah sakit bergegas memanggil polisi. Steven pun akhirnya dijaga ketat karena dialah satu-satunya orang terdekat Lyn juga saksi akan kematiannya.

Hampir lebih dari dua belas jam jenazah Lyn diperiksa dari ujung kaki hingga segala halnya. “Dia meninggal karena meminum racun!” ucap ahli forensik sangat meyakinkan.

“Tapi di lokasi tidak ada tanda-tanda tersebut,” kata polisi yang bertugas membersihkan kamar hotel.

“Kalau dilihat dari tangan, ada seseorang yang memaksa melakukannya!” lirihnya sambil memeriksa tangan Lyn yang membiru.

“Tidak! Bekas ini bukan kekerasan memaksa, melainkan karena hubungan intim yang kasar!” jelas penyidik kejadian perkara.

“Cepat, suruh team-mu memeriksa CCTV dan investigasi suaminya!” ujar komandan yang ikut menyelidiki keadaan jenazah.

-Setengah jam setelah Steven ke luar dari kamar-

Paula Cristian yang menginap di kamar 1230 ini melihat Steven ke luar dari kamar. “Oh, ternyata kamu menginap di sini juga?” ketusnya sambil mengabadikan photo Steven yang sedang berjalan.

“Kamu milikku!” ucapnya berbicara sendiri, sambil masih mengendap-endap pada dinding sebelah hingga setengah jam lamanya, bermaksud meyakinkan kalau Steven benar-benar telah pergi.

Setelah merasa aman, Paula pun melangkah ke arah housekeeping yang sedang bersih-bersih. “Permisi, aku disuruh Mister yang ada di kamar 1225, untuk melihat istrinya. Tetapi, dia malah membawa access cardnya!” katanya agak genit.

“Oh, Mister Steven?” jawab housekeeping. Sebelum betul-betul memberikannya, ia pun meminta photo Steven untuk meyakinkan mereka kenal satu sama lain. Paula dengan penuh percaya diri memperlihatkan yang dimintanya. Setelah melihat beberapa photo kebersamaan antara Steven dengan Paula, housekeeping pun segera memberikan access cardnya.

Paula dengan sumringah meraihnya. Lalu, menempelkan access card pada sensor pintu kamar 1225 tersebut, dimana Lyn sedang tertidur.

TEET!

Paula berjalan sangat pelan sekali, kendati dirinya memakai high heels yang sangat tinggi dan lancip. ‘Oh, rupanya kamu bersama perempuan di sini!’ ucapnya dalam senyap. Sepertinya Paula tidak tahu kalau yang tidur di atas tempat tidur adalah istri sah Steven.

Tangan Paulapun dengan cepat mengambil serbuk putih dari dalam tas kecilnya. Lalu, menaruhnya di dalam sapu tangan. “Kamu, wanita sialan! Cepat bangun!” gertaknya.

Gertakan itu membuat Lyn terbangun dari tidurnya. Kemudian ia pun segera menarik selimut lalu duduk. “Kamu siapa?” kagetnya agak ketakutan.

Paula membuka handphonenya, lalu memutar video adegan semalam yang telah dilakukannya dengan Steven. “Aku siapa?” desis Paula sinis.

Lyn mengambil handphone Paula, lalu memutar video beberapa kali. “Aku Lyn, istri Steven yang keempat!” ucapnya tegas. Kemudian beranjak dari tempat tidurnya.

“Hah? Istri?” kaget Paula, karena dia berpikir wanita ini sama sepertinya.

Lyn mengangguk sambil menatap bola mata Paula tajam. Baru saja Lyn hendak melangkah, Paula segera membekap mulut Lyn dengan sapu tangan tadi. Alhasil Lyn pun terpengap-pengap karena Paula membekapnya begitu kuat.

Ya, postur tubuh Paula yang tinggi, juga kekar tidaklah susah untuk mengalahkan Lyn yang mungil. Seketika tubuh Lyn, didorong oleh Paula ke arah tempat tidur hingga membuat Lyn terjatuh dan tidak berdaya. Tanpa menunggu lama, Paula kembali membekap Lyn dengan sapu tangan tersebut. “T-to-to…” Ucapan terbata-bata yang ke luar dari mulut Lyn bersamaan dengan meregang nyawanya.

Melihat keadaan Lyn seperti itu, Paula merasa puas. Dia pun tertawa keras, “Siapa pun kamu! Steven adalah milikku!” ujarnya. Lalu, tangannya menjorokan tubuh Lyn dengan kasar untuk meyakinkan kalau wanita yang ada di depannya itu sudah meninggal.

Tenang serta merasa tidak berdosa, Paula membetulkan posisi tubuh Lyn seperti sedang tertidur. Dia pun membersihkan sisa-sisa serbuk dan mengambil sapu tangannya. Sebelum ke luar, Paula pun sempat memeriksa tas kecil milik Lyn. “Kamu, ternyata benar-benar istri Steven!” ucapnya berbicara sendiri sambil memeriksa secarik photokopi akta pernikahan.

“Rest in peace!” akhir kata Paula sambil meraih access card. Kemudian memakai kaca mata hitam miliknya yang mewah itu. Dia pun ke luar dari kamar dan menutup pintunya dengan pelan. “Nih, terima kasih accessnya!” ucap Paula sambil memberikan selembar $100 pada housekeeping tadi.

Beberapa polisi ada di ruang CCTV, “Cepat putar ulang kejadian hari kemarin, dan siapa saja yang masuk ke kamar 1225!” titah polisi pada watchman.

“Wait, putar pelan-pelan!” ucap polisi yang melihat Paula masuk ke kamar. Di sana sangat jelas sekali bagaimana wajah Paula serta dialah orang yang terakhir ke luar dari kamar Lyn setelah Steven.

“Siapa wanita itu? Kenapa dia bisa masuk?” ucap Hamid Khan sebagai komandan polisi yang tiba-tiba datang.

“Anda siapa?” tanya team polisi yang keheranan melihat Hamid datang.

“Aku Hamid Khan, ditugaskan oleh pihak hotel untuk menangani kasus ini! Atau hotel ini akan tercoreng namanya karena tidak baik keamanannya.” Tegasnya sambil mengambil copy rekaman dari CCTV.

“Aku akan membawa ini, untuk diselidiki!” ujarnya sambil melangkah ke luar dari ruangan.

***

Hari kedua kematian Lyn masih menyisakan tanda tanya di kepala Steven, dia tidak menyangka karena ulahnya malam itu membuat istrinya meninggal. Sementara posisi Lyn hanya memiliki dirinya dan beberapa staff yang mengurus hewan ternaknya. Maka, kematiannya pun masih dirahasiakan. Kata maaf masih terucap di bibir, “Lyn, maafkan aku!”

Baru saja Steven beranjak dari tempat duduknya, tiba-tiba handponenya berdering. Dia pun dengan cepat mengangkatnya, “Hello!”

Di ujung telepon Hamid Khan menyahut, “Anda suaminya Lyn Lyana?”

Steven menjawab, “Betul! Anda siapa?”

“Cepat, ke kantorku! Ada beberapa hal yang wajib kamu ketahui!” tegasnya sambil memberikan informasi tentang dirinya serta alamatnya.

Setelah berpakaian Steven pun ke luar dari apartemennya, lalu pergi ke alamat yang diberikan, “Dimana alamat ini?” ucapnya sambil memutar-mutar stir mobilnya. Baru saja dia akan membelokan mobilnya ke arah selatan, matanya melihat tulisan ‘Specialist Agent’ yang terpampang jelas di sebelah timur. Steven pun memarkirkan mobilnya persis di depan gedung tersebut.

Kota Karachi yang panas membuat Steven berlari kecil, lalu masuk ke dalam lift yang sebelumnya diperiksa ketat.

Rupanya pihak dari management ‘Pearl Continental’ menyewa agent tersebut. Karena pemilik hotel adalah keturunan dari pejabat luar negara yang punya kendali dalam penyelidikan berbagai macam kriminal.

“Permisi, ruangan Mr. Hamid Khan dimana?” tanya Steven pada lelaki yang ke luar dari ruangan sebelah. Di dalam ini ternyata banyak sekali ruangan, itu membuat Steven kebingungan karena sama sekali tidak ada papan nama.

“Oh, belok kiri lalu ke kanan dan lurus!” ucapnya.

Walaupun belum yakin Steven mengangguk, lalu berjalan mengikuti petunjuk lelaki tadi. Begitu sampai….

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED